Hong's POV

WDZA

by: Odeee_

Istana Kristal tidak lagi memiliki kilauan keemasan.

Hong menatap lukisan besar yang menempel di dinding, wajah tersenyum itu sangat lugu.

Tuan kecilnya tersenyum dengan cerah, duduk dipangkuan kakaknya.

Raja Naga tidak suka tersenyum, tetapi dia tersenyum dengan cerah saat adiknya duduk dipahanya dan membuat lukisan itu.

Raja Naga sungguh tidak tersentuh, bahkan untuk berbicara dengannya terasa seperti mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Hampir tidak ada kesempatan untuk bertemu atau berbicara dengannya.

Namun saat Tuan kecil Nara kembali ke Istana Kristal, Hong mulai merasa seperti dia melihat Raja Naga setiap hari.

Raja Naga terlihat seperti bayangan adiknya, mengikuti kemanapun adiknya pergi.

Hong ingin tau dan mencoba lebih memperhatikan Tuan kecil, karena sepertinya Raja Naga sangat menyayanginya hingga terlihat seperti dia akan merelakan hidupnya untuk adiknya.

Hong hanya memerlukan waktu satu bulan untuk menjadi sangat menyukai Tuan kecilnya.

Nara adalah anak yang lembut dan penyayang. Meskipun dia sangat cerewet, tetapi dia selalu memikirkan perasaannya yang hanya seorang penjaga Istana.

Anak itu bermain bersamanya, berbagi makanan bersamanya dan terkadang menemaninya membersihkan Istana.

Hong sangat menyukai bersama Nara.

Ribuan tahun hidupnya dia lalui dengan berdiri di dalam Istana Kristal untuk menjaga Istana ini. Membersihkan saat pemilik Istana sedang pergi dan kembali berdiri menjaga Istana saat pemilik datang.

Dia tidak tahu bagaimana dia lahir dan siapa keluarganya. Namun Nara datang untuk menawarkan kebersamaan.

Perlahan dia mulai memiliki aktivitas lain, diseret oleh Tuan kecilnya kemanapun dia membawanya bermain.

Ribuan tahun hidupnya yang monoton perlahan mulai berwarna dan dia mulai sering tertawa.

Namun sampai saat ini Tuan kecilnya tidak juga kembali.

Raja Iblis mengatakan jika Nara melakukan penghancuran diri saat mengetahui jika kakaknya telah tiada.

Hong menjatuhkan dirinya ke lantai, menangis saat dia mulai berlutut, bibirnya tidak berhenti mengucapkan doa untuk kesembuhan Tuan kecilnya.

Namun bahkan setelah puluhan tahun berlalu Tuan kecil masih tidak kembali.

Hingga saat itu, sekali lagi Istana Kristal bergetar.

Hong merasa seperti hatinya hancur menjadi kepingan-kepingan kecil yang tidak akan pernah bisa di susun lagi.

Tuan kecilnya sudah tidak ada lagi.

Dia berenang membelah danau selatan, berhari-hari di dalam air hingga kakinya terasa akan patah, tangannya terasa akan hancur. Hong masih berenang dan terus berenang tanpa henti selama dua bulan untuk mencapai sungai Dhole.

"Wahai Tuan sungai Dhole, tolong ambil nyawaku dan biarkan aku terlahir kembali di sebelah Tuan kecilku."

Sungai itu mulai bergemuruh, saat suara seorang pria datang dari dalamnya, "Mengapa kepiting kecil sepertimu berani menggangguku?"

"Maafkan saya Tuan, tetapi saya datang untuk menyerahkan nyawa saya."

Suara itu terdengar sarkas, "Nyawamu bahkan tidak berharga."

Hong menunduk menatap sungai dengan bibir mengkerut. Memperhatikan dirinya melalui pantulan air sungai dengan senyuman pahit.

"Saya bukan siapa-siapa, saya tidak memiliki energi sihir yang kuat, tetapi saya akan menyerahkan apapun yang anda minta."

Suara itu mulai tertawa dan sungai mulai bergemuruh semakin keras, "Lalu aku akan memakan ingatanmu, kau memiliki ingatan yang bagus itu akan membantuku."

Hong terdiam, menatap kosong pada pantulan dirinya di atas air.

Dia tidak memiliki apapun yang berhubungan dengan Tuan kecilnya selain ingatan yang bisa dia ingat bersama Tuan kecilnya.

Seolah air sungai itu mampu menerobos ke dalam ingatannya, satu persatu ingatannya muncul di atas permukaan air.

Itu adalah Nara yang menanam jamur.

Nara yang menyanyi.

"Hong! Hong! Dengar, aku memiliki lagu baru! Hechan mengajarkannya padaku!"

Saat itu Hong duduk bersila dengan Tuan kecilnya bernyanyi di depannya. Dia menggoyangkan kepala dan bertepuk tangan.

Meskipun lagu itu terdengar seperti lagu yang berasal dari rumah bordil.

Nara yang kelelahan menunggu kakaknya dan tertidur disebelahnya.

Bisakah dia merelakan ingatan itu?

Hong melihat sebuah tetesan air jatuh ke permukaan sungai dan ingatan yang muncul di atas air itu menghilang. Hingga dia menyadari jika tetesan air itu adalah air matanya.

"Asalkan saya... bisa kembali menjaga Tuan kecil."

Suara itu kembali bergemuruh, kali ini tertawa dengan senang.

.

.

.

Hong berdiri di depan sebuah rumah besar, dengan seragam berwarna hitam yang menempel di tubuhnya dengan rapi.

Saat itu pintu rumah didorong terbuka, seorang anak kecil yang tampak berusia 4 hingga 5 tahun keluar dari dalam rumah dengan seragam sekolah dan ransel kecil dipunggungnya.

"Nah sayang, ini adalah pak Han, karena Nara sudah mulai sekolah hari ini, dia akan menjaga Nara mulai sekarang."

Anak itu tidak mengatakan apapun tetapi menatapnya dalam diam.

Hong, yang kini menjadi Han Dohyun menunduk untuk memberi salam, "Salam Tuan kecil."

Saat dia mengangkat kepalanya dia melihat majikan barunya masih terdiam dengan mata berkaca-kaca, hingga anak itu mulai tersenyum dan air mata jatuh dari dalam matanya.

Hong tampak panik, apa yang harus dia lakukan? Ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan Tuan kecilnya dan hari pertama dia mulai bekerja tetapi dia telah membuat majikan kecilnya menangis.

"T-tuan Nara...?"

Anak itu memanggilnya, "...Hong."

Hong membulatkan matanya, dia menatap Ibu dari anak itu dan menatap anak itu, kemudian menunjuk dirinya sendiri, "S-saya?"

Anak itu mengangguk, "Mhm."

"Tapi nama saya adalah Han Dohyun Tuan kecil."

Anak itu mengerutkan bibirnya sebelum mulai menangis dengan terisak, dia berkata dengan terisak, "Hong... aku... masih akan memanggilmu.. Hong."

Hong sangat panik, dia mengangguk, "Baik, Tuan kecil berhenti menangis dan panggil saya apapun yang Tuan kecil mau."

Anak itu mengangguk saat dia mulai mengusap air matanya, tetapi isakannya tidak berhenti.

Hong merasa seperti hatinya ditusuk oleh pedang tajam saat dia menyaksikan majikan barunya menangis.

Mengapa dia merasa dadanya begitu sakit?

Dia baru saja bertemu dengan majikannya ini, tetapi mengapa dadanya sangat sakit saat melihatnya menangis?