Jeongguk's POV 01

WDZA

by: Odeee

Seluruh pemandangan hanya terlihat gelap, setiap kali dia berkedip hanya kegelapan yang terlihat.

Jeongguk tidak tau dimana dia berada dan kapan dia terbangun. Ingatannya berakhir saat dimana dia terjatuh oleh api yang melalap dirinya. Dan ingatan tentang kekasihnya yang menangis dengan berlumuran darahnya.

"Apa yang terjadi?" Jungkook menatap ke sekitar, hanya ada kegelapan, "Dimana ini? Dimana Taehyung?"

Dia mencoba meraba-raba, namun tidak ada yang dapat di sentuh selain udara kosong.

"Katakan dimana ini?" Dia mulai merasa kewalahan, keringat membasahi dahinya, "Dimana adikku? Nara ada dimana?"

"Aku sungguh tidak menyangka Raja Naga akan terbunuh."

Sebuah suara datang entah darimana di dalam kegelapan. Tidak memiliki wujub, tetapi suara itu terus berbicara.

"Aku berpikir kau akan menjadi immortal."

Jeongguk mendengarkan, tidak mengatakan apapun.

"Sudah seratus tahun."

Jeongguk mengerutkan dahinya.

"Sudah seratus tahun kau tertidur disini, nama-nama yang kau sebutkan tadi mungkin sudah tidak ada lagi."

"...Apa?"

Seratus tahun?

Waktu telah berlalu seratus tahun setelah kematiannya?

"Wahai Raja Naga, aku bertanya padamu, apakah kau ingin terlahir kembali?"

Jeongguk terdiam, apakah dia ingin terlahir kembali?

Bagaimana dia akan terlahir kembali?

Apakah dia masih akan menjadi ras Naga?

Pada akhirnya dia menjawab, "Aku ... tidak tau."

"Manusia pada dasarnya akan terlahir kembali."

Seolah memahaminya, suara itu mematahkan keraguannya.

Manusia akan terlahir kembali. Sudah seratus tahun berlalu. Taehyung adalah manusia.

Lalu Taehyung mungkin akan terlahir kembali.

Dia masih memikirkannya saat dia berkata, "Aku ... ingin terlahir kembali."

"Maka kau akan terlahir kembali dari sebuah telur dan menunggu menetas 500 tahun lagi, sama seperti sebelumnya."

Jeongguk terdiam beberapa saat, sebelum dengan ragu-ragu berkata, "Aku ... tidak bisakah aku menjadi .. manusia?"

"Kau ingin menjadi manusia?"

Jeongguk mengangguk, "...ya."

"Apa kau yakin?"

Kali ini dia mengangguk dengan penuh keyakinan, "Aku yakin."

"Maka kau harus menempuh ujian kehidupan sebagai manusia. Jika kau berhasil melewati ujian itu tanpa melakukan bunuh diri maka kau akan lolos, dan kau bisa terlahir kembali menjadi manusia."

Jeongguk mengerutkan keningnya, "Bunuh diri?"

Kenapa dia harus bunuh diri?

"Kau akan menempuh ujian itu dalam sekali kehidupan, yang akan berlangsung sejak kau baru lahir hingga kau mati."

"Jika kau mengakhiri hidupmu sebelum waktu ujiannya berakhir maka kau akan gagal. Kau tidak akan bisa terlahir kembali menjadi manusia."

"Ya, aku bisa."

Lagipula untuk apa dia bunuh diri.

.

.

.

Saat itu, dia menangis dan menangis. Tidak berhenti menangis.

Tubuhnya sangat kecil, tangannya sangat kecil, kakinya juga sangat kecil, seluruh anggota tubuhnya sangat kecil. Dia tidak bisa mengatakan apapun selain menangis dan berteriak, dia kehilangan kemampuannya berbicara.

Dia juga tidak bisa bergerak dengan bebas, dia tidak bisa bangun sendiri, tidak bisa membalikkan badannya sendiri.

Dia menjadi bayi mungil yang baru saja lahir kedunia.

Bayi mungil yang lugu, tanpa ingatan apapun.

Bayi bayu lahir yang rapuh, tidak mengenal apapun tentang dunia.

Bayi kecil yang telah melupakan segalanya, bayi kecil yang terlihat seperti kertas putih.

Dia telah melupakan semuanya. Bahkan melupakan janjinya pada suara yang membuatnya melalui ujian ini.

.

.

.

Sepuluh tahun berlalu setelah kelahirannya, dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang sehat dan pekerja keras.

Tumbuh besar dari keluarga penebang kayu.

Setiap harinya membantu ayahnya pergi ke hutan untuk mencari kayu, memotongnya menjadi kayu bakar lalu membawanya ke pasar untuk di jual.

Meskipun dia membawa kayu sangat banyak hingga tubuh kecilnya kelelahan, dia hanya mendapatkan upah yang cukup untuknya dan orangtuanya makan selama dua hari.

Dia di beri nama Jungkook. Dari keluarga dengan status rendah, dari keluarga miskin.

Keluarga rendah yang harus selalu menunduk pada keluarga bangsawan.

"Jungkook, ayo pergi sebelum para bangsawan itu datang."

"Ya, ayah!"

Suaranya sangat merdu, sangat kekanakan dan sangat cerah.

Dia tumbuh menjadi pribadi yang ceria, selalu bersemangat dan anak kecil yang sangat menurut pada orangtuanya. Bayangan anak yang sangat dibanggakan oleh kedua orangtuanya.

"Ayah, apa kita akan makan kentang lagi untuk makan malam?"

Jungkook duduk di atas gerobak kosong yang sebelumnya dipenuhi kayu bakar, ayahnya menarik gerobak itu dengan senyuman diwajahnya.

"Ya, ayah baru saja mendapatkan kentang dari bibi Sima, apa kau tidak menyukainya?"

Jungkook menggeleng, "Aku suka! Sangat menyukainya!"

Ayahnya melembutkan senyumnya, "Ya, ayo suruh ibumu untuk memasak kentang!"

"Yeyyy!"

Mereka memiliki gubuk di tengah hutan, jauh dari pemukiman warga, jauh dari pasar, namun mereka merasa sangat senang dan merasa sangat nyaman. Mereka berpikir jika tinggal di gubuk mereka saat ini adalah pilihan terbaik, tidak akan ada bangsawan yang datang ke tengah hutan seperti ini.

"Ibu! Ibu! Ibu! Aku dan Ayah pulang!"

Jungkook melompat dari gerobak kayunya, berlari ke dalam gubuk kayunya dengan sekantung kentang ditangannya.

Dengan semangat berteriak, "Ibu! Ayo masak kentang!"

Uhhuk ... Uhhukk ...

Suara batuk terdengar tepat saat dia membuka pintu kayu gubuknya.

Ibunya sudah lama sakit, batuk yang tidak sembuh-sembuh. Batuk yang semakin lama semakin parah.

Mereka tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, mereka bahkan harus menghemat untuk biaya makan sehari-hari.

Setiap kali dia dan ayahnya pergi ke hutan, dia akan berburu tanaman obat untuk ibunya. Namun obat-obatan liar yang dia temui tidak banyak membantu.

"Ibu..." Jungkook meletakkan kentangnya di atas meja kayu kecil, kemudian mendekat ke arah ibunya, membantunya berdiri, "Ibu tidak usah memasak, biar aku dan ayah yang memasak."

Ibunya melingkarkan tangannya di leher Jungkook yang kecil, dia menutup mulutnya dengan sapu tangan yang sudah menguning kotor, "Apa kalian tidak lelah? Biar ibu saja."

Jungkook menggeleng, "Tidak lelah sama sekali, aku ini kan sangat kuat!"

Dia melebarkan senyumnya, berusaha meyakinkan ibunya.

"Kau istirahat saja, biar aku dan Jungkook yang memasak makan malam."

Ayahnya baru masuk ke rumahnya setelah meletakkan gerobak kayunya. Dia mengambil alih istrinya dari anaknya, dan menuntunnya kembali ke kamarnya.

"Ayah, aku akan mencuci kentangnya!" Jungkook berteriak.

"Ya nak, tolong ya." Ayahnya balas berteriak dari dalam kamarnya.

.

.

.

Pagi itu ibunya terbaring lemah di kamarnya, penyakitnya semakin parah dan tidak ada obat untuknya.

Jungkook bukan orang yang mudah menangis, tapi pagi ini dia menangis diam-diam. Dia mengumpulkan tanaman obat sambil menangis saat ayahnya tengah menebang pohon.

Dia tidak dapat menghentikan tangisannya, hingga wajahnya basah. Dia berlari dari sudut ke sudut hutan untuk mencari tanaman obat, matanya tidak bisa berhenti menangis.

Hingga akhirnya dia jatuh berlutut, menunduk hingga dahinya membentur tanah, menangis hingga bahunya bergetar.

"Wahai Dewa, Budha ... Aku berdoa padamu ... tolong sembuhkan ibuku ... Aku memohon padamu ..."

Dia menangis dan menangis, memeluk tanaman obat yang telah dia kumpulkan.

"Aku akan menjadi anak yang patuh ... aku akan menjaga ibuku ... Aku memohon padamu, tolong buat agar obat ini dapat menyembuhkan ibuku ... Aku tidak bisa hidup tanpa ibuku .. aku sungguh ... memohon padamu."

Saat itu ayahnya berada tidak jauh di belakangnya, menatap dengan sedih punggung kecil putranya yang bergetar, menatap kepala putranya yang menunduk ke tanah.

.

.

.

"Ayah, apa kita masih memiliki kentang dirumah?"

Jungkook mendorong gerobak yang penuh dengan kayu dari belakang sementara ayahnya menariknya dari depan. Mereka akan membawa kayu bakar ini ke pasar untuk dijual.

"Hm .. ayah ingat itu masih tersisa tiga kentang semalam, tapi saat ayah bangun itu sisa dua setengah kentang." Ayahnya meliriknya melalui sudut matanya, dia memiliki senyum diwajahnya.

Jungkook tertawa dengan canggung, "Maaf ayah, aku memakannya setengah."

Ayahnya tertawa dengan lembut, "Kau bisa menghabiskannya jika kau lapar, kenapa hanya makan setengah saja? Apa itu cukup?"

Jungkook mengangguk, "Ya, itu cukup!"

"Kau harus makan yang banyak, kau sedang dalam masa pertumbuhan." Ayahnya menatap lurus ke jalan di depannya, menarik gerobak dengan sepenuh energinya, "Kau baru saja berusia 10 tahun bukan, kau harus makan yang banyak."

"Tapi aku sudah sangat penuh energi ayah!"

"Hahaha .. yaya, putra ayah sangat kuat!"

"Ayah, apa kita bisa membeli kentang sedikit saja dan belikan obat untuk ibu?"

"Hm, lalu itu tidak akan cukup untuk makan malam."

"Aku hanya akan makan sedikit ayah, aku tidak terlalu lapar."

Ayahnya menurunkan tatapannya, memaksakan senyumnya saat dia mengangguk, "Ya, ayo lakukan, ayah juga tidak lapar."

Putra kecilnya, Jungkook tumbuh menjadi anak yang sangat dewasa dalam pemikiran hingga ayahnya takut akan pikirannya.

Putra kecilnya makan sangat banyak, dia mampu menghabiskan 5 kentang rebus sekali makan.

Putranya yang diam-diam pergi ke dapur untuk makan karena lapar.

Saat ini mengatakan akan makan sedikit, dan mengatakan tidak terlalu lapar.

.

.

.

Malam mulai menunjukkan dirinya, namun kayu bakarnya masih tersisa.

Ayahnya menjaga gerobak kayu ditempat dia berjualan, menunggu pembeli datang. Sementara Jungkook berlarian kesana kemari membawa kayu bakar yang diikat dipunggungnya, mencari pembeli.

Dia berkata jika dia ingin melakukannya agar kayu bakarnya cepat terjual. Dan mereka akan segera membeli obat untuk ibunya dan pulang.

"Bibi, apa kau mau membeli kayu bakarku?"

"Maaf nak, aku sudah memiliki cukup dirumah."

"Baik, bibi."

Dia berlarian ke sudut pasar lainnya lagi.

"Bibi, apa kau mau membeli kayu bakarku?"

"Maaf nak, bibi tidak punya uang lagi."

"Baik, bibi."

Kemudian dia berlari ke arah sebuah rumah warga yang kebetulan pintunya terbuka.

"Selamat malam! Aku menawarkan kayu bakar!"

Tidak ada suara yang menjawab.

Dia berteriak sekali lagi, "Selamat malam! Aku menjual kayu bakar!"

"Aku tidak membutuhkannya!"

Suara seorang perempuan berteriak dari dalam.

"Baik bibi!"

Dia berlari keluar rumah itu, kemudian kembali menawarkan ke dalam sebuah rumah dengan pagar kayu.

"Selamat malam! Aku menawarkan kayu bakar!"

Tidak ada jawaban dari pemilik rumah.

"Selamat malam! Aku menjual kayu bakar!"

Saat itu dia mendengar suara langkah kaki mendekat dari arah rumah. Jungkook sangat senang. Dia bahkan siap menunjukkan senyuman terbaiknya.

"Selamat ma..."

Byuurrr...

Wajahnya disiram oleh air dingin hingga dia kehilangan kata-katanya. Seluruh wajahnya kedinginan dan pakaiannya semua basah kuyup, dia merasa hawa dingin perlahan menusuk ke dalam tulangnya dengan cepat.

"Pergi! Aku tidak butuh kayu bakarmu! Menganggu saja! Dasar anak sialan!"

Jungkook mengangguk bahkan menunduk hingga kepalanya hampir menyentuh tanah, "Maafkan aku bibi."

Dia segera berlari keluar halaman rumah itu.

Tidak hanya pakaiannya yang basah, namun juga kayu bakar yang dia bawa.

Jungkook bergetar di seluruh tubuhnya, bibirnya memucat dan itu bergetar saat dia berbicara, "Hhhh... kayu... ini hhh... tidak bisa... dijual lagi..."

Dia pergi menemui ayahnya ke tempat ayahnya berjualan. Berlari memutar-mutar agar pakaiannya kering. Mengabaikan perasaan dingin menusuk setiap kali dia berlari, setiap kali angin menabraknya.

"Ayah! Ayah!"

Ayahnya bangkit dari duduknya saat dia melihat putranya berlari ke arahnya.

"Ayah, maaf aku tidak dapat menjual satupun, hehe..."

Ayahnya menatapnya, kemudian melembutkan suaranya, "Tidak apa-apa, kemarilah, apa kau lelah?"

Jungkook mendekat, meletakkan kayu bakar yang dia bawa kembali ke dalam gerobak. Dia melihat gerobak itu masih memiliki beberapa kayu bakar, dia merasa hatinya jatuh. Namun segera tersenyum.

"Ayah, apa kita pulang saja?"

"Ya, kita lanjutkan besok lagi ya?"

Jungkook mengangguk, "Ya, ibu mungkin sedang menunggu kita."

Kali ini Jungkook tidak lagi naik ke atas gerobak seperti biasanya. Gerobak itu masih memiliki banyak kayu bakar yang tersisa. Dia juga tidak mendorongnya dari belakang, ayahnya menyuruhnya untuk tetap berada dalam pandangannya.

"Ayah, kali ini kita gagal lagi membeli obat untuk ibu."

"Tidak apa, bukankah kita bisa membelinya besok?" Ayahnya meliriknya, "Bukankah kau sudah memetik obat-obatan di hutan?"

Jungkook mengangguk, menurunkan pandangannya dengan sedih, "Aku tidak tau apakah obat ini bekerja."

Ayahnya berusaha untuk menghiburnya, "Ibumu bisa bertahan sampai sekarang itu berkat obat-obatan yang kau petik di hutan."

Jungkook melirik ayahnya, melihat ayahnya tersenyum padanya dia juga mulai mengembangkan senyumnya, "Ya, tanaman obat itu juga sudah cukup kan ayah?"

"Cukup, tentu saja. Bukankah putra hebat ayah yang menemukannya?"

"Iya!" Dia mengangguk dengan semangat.

Jungkook mengatakan banyak hal dalam perjalanannya kembali ke gubuknya, sesekali membuat ayahnya tertawa dan membuat ayahnya menggeleng.

Saat itu dia melihat gubuknya tampak gelap, tidak ada penerangan sama sekali hingga terlihat seperti gubuk berhantu. Hanya ada sinar samar bulan yang menerangi.

"Ayah, sepertinya ibu tidak bisa bangun untuk menyalakan api." Jungkook melihat gubuknya dengan khawatir, kemudian berlari, "Ayah, aku akan menyalakan api!"

Dia berlari ke arah rumahnya, meninggalkan ayahnya di belakang yang masih menarik gerobak kayunya.

"Ibu! Ibu! Aku dan ayah pulang!"

Jungkook meraba-raba halaman rumahnya yang gelap, berusaha meraih pintu kayu rumahnya dengan hati-hati. Di dalam rumahnya bahkan jauh lebih gelap tanpa penerangan sama sekali.

Jungkook menghapal jalan menuju dapurnya, lagipula rumahnya sangat kecil, itu memudahkannya untuk pergi ke dapurnya. Dia mengambil lilin dan mulai menyalakannya.

Pergi ke setiap sudut rumah untuk meletakkan lilin agar rumahnya memiliki cukup penerangan.

"Ibu?"

Dia mengetuk kamar ibunya sebelum mendorong pintunya.

Jungkook terdiam, tangannya dengan kuat menggenggam lilin yang dia pegang, tidak ingin menjatuhkannya atau rumahnya akan terbakar.

"Ibu?" Dia memanggil lagi.

"Ibu?!"

"Ibuuuu!"

Dia melihat ibunya tidur terlentang di lantai dingin dengan darah dari bibirnya.

Ayahnya berlari ke dalam rumahnya saat dia mendengar teriakan Jungkook.

"Nak, ada apa?"

Namun saat dia melihatnya, dia segera jatuh berlutut. Istrinya tidak lagi bernyawa, dan anaknya tengah menangis memeluk jasad ibunya. Putranya yang kuat dan tidak pernah mengeluh saat ini tengah menangis terisak memeluk ibunya. Perasaan hancur mulai menerobos hatinya.

"Ibu..."

Jungkook menangis dan menangis, tersedu-sedu tidak terlihat akan berhenti.

"Ibu... jangan tinggalkan kami... bu..."

Ayahnya mendekat, menarik putranya yang terisak, membawanya ke dalam pelukannya. Mengusap kepalanya dengan lembut untuk menenangkannya.

"Maafkan ayah, ayah bukan ayah yang baik."

Jungkook masih menangis dan menangis, dia terisak dalam pelukannya ayahnya. Dunianya seolah runtuh, dia merasa jantungnya telah jatuh, dia bahkan perlahan mulai merasa pusing hingga kesulitan bernapas.

Dia bahkan tidak dapat menahan matanya untuk tetap terbuka.

"Nak?!"

Ayahnya meraih wajahnya, menggoyangkan badannya dengan keras, "Nak, berhenti menangis, atur napasmu! Nak?!"

"Nak dengarkan ayah! Apa kau juga ingin meninggalkan ayah?!"

Samar-samar Jungkook mendengar tangisan ayahnya saat kesadarannya nyaris menghilang, dia mulai mengatur napasnya, perlahan demi perlahan hingga dia mendapatkan kembali kesadarannya.

Dia membuka matanya, ayahnya menatapnya dengan air mata di wajahnya yang menangis. Segera dia dibawa ke dalam pelukan ayahnya. Ayah menangis semakin kencang.

"Syukurlah, syukurlah. Terimakasih Tuhanku."

Jungkook membalas pelukan ayahnya, memeluknya dengan erat. Tangisannya tidak dapat di tahan lagi, kali ini dia menangis diam-diam.

Malam itu juga dia bersama ayahnya mengubur ibunya.

Dia mengeluarkan semua kayu bakar dari dalam gerobak ayahnya, melihat ayahnya meletakkan jenasah ibunya ke dalam gerobak.

Mereka pergi ke dalam hutan untuk mengubur jenasahnya.

Jungkook memeluk cangkul di lengannya, mengikuti ayahnya di sampingnya yang tengah menarik gerobak. Dia menahan dirinya untuk tidak menangis, namun air matanya masih akan jatuh setiap saat dan dia terisak dalam diam.

Tidak ada siapapun. Hanya ada dia dan ayahnya.

Jungkook menjaga jenasah ibunya saat ayahnya sedang menggali kuburan untuk ibunya.

Ayahnya melakukannya sendirian, menggali lubang yang dalam. Mereka hanya memiliki satu cangkul.

Jungkook kembali menangis, dia tidak dapat menahan tangisannya meskipun dia berusaha. Itu membuat ayahnya menoleh ke arahnya beberapa kali, hanya untuk memastikan anaknya tidak mengalami sesak napas seperti sebelumnya.

Dia dan ayahnya bersujud di depan makam ibunya yang baru saja selesai. Mengirimkan beribu doa untuk ibunya, tidak beranjak hingga pagi datang.

Tidak ada rasa mengantuk sama sekali meskipun matanya kelelahan karena menangis dan kelelah karena terus terbuka.

Ayahnya ada di sebelahnya, juga tampak sepertinya.

.

.

.

Satu bulan setelah kepergian ibunya, Jungkook merasa jika ayahnya mulai tampak melemah.

Ayahnya selalu terlihat kelelahan. Ayahnya bekerja dua kali lebih keras dari sebelumnya. Dia akan membeli sayuran dan daging untuknya, memasaknya dengan penuh ke hati-hatian.

Uang yang dihasilkannya dari menjual kayu bakar hanya cukup untuk membeli sedikit sayuran dan daging, sangat sedikit hingga hanya cukup untuk sekali makan.

Ayahnya memasak untuknya, tetapi tidak pernah mau memakannya. Dia hanya akan memakan kentang, meninggalkan semua daging dan sayuran untuk Jungkook.

"Ayah, aku tidak mau makan daging lagi."

"Apa kau tidak menyukainya?"

"Ya, aku tidak suka itu berlemak dan berminyak."

"Lalu apa kau ingin yang lain?"

"Aku mau kentang saja."

"Tapi kau harus makan yang bergizi nak."

"Ayah, aku sudah tumbuh dengan baik dan aku juga kuat!"

Ayahnya melembutkan wajahnya, dia meraih kepala putranya dan mengusapnya dengan lembut, "Ya, putra ayah sangat kuat."

.

.

.

Pagi itu ayahnya pergi ke tengah hutan tanpa membangunkannya.

Kadang ayahnya akan mencari kayu bakar pagi-pagi sekali, lalu membelahnya dan membawanya ke pasar. Jika kayu itu sudah habis, dia akan mulai pergi ke rumah orang yang memerlukan jasanya untuk memotong daging.

Jungkook membuka matanya, rumahnya terlihat sangat sepi. Tidak ada suara apapun dari ayahnya. Dia mengerutkan wajahnya dengan sedih.

Dia segera bangkit dari tidurnya, pergi ke kamar mandi dengan kilat membasuh wajahnya. Kemudian dengan buru-buru berlari ke dalam hutan.

Kenapa ayah tidak mau membawaku?

Aku juga bisa melakukan semuanya.

Jungkook berlari menyusuri hutan, untuk menemukan ayahnya. Saat dia menemukan tanaman obat yang biasa dia petik untuk ibunya dia mulai merasa semakin sedih.

Ibunya sudah tidak ada lagi.

"Ayah! Ayah!"

Dia berlarian kesana kemari menembus hutan, namun tidak menemukan ayahnya. Bahkan tidak terdengar suaranya sama sekali.

"Ayah! Ayah! Ayah!"

Dia menghentikan langkahnya, terengah-engah mengatur napasnya. Dia merasa jika matanya memanas, air mata berusaha keluar dari dalam matanya.

Dengan cepat dia mengusap matanya.

Dan kembali berlari untuk menemukan ayahnya.

Dia tidak menemukan ayahnya dimanapun di dalam hutan, memutuskan untuk pergi ke pasar. Berpikir jika ayahnya mungkin sudah berjualan di pasar.

"Bibi, apa kau melihat ayahku?"

"Tidak nak Jungkook."

"Paman apa kau melihat ayahku?"

"Paman tidak melihatnya."

Jungkook berlari dari satu penjual ke penjual lainnya untuk bertanya tentang ayahnya. Tapi tidak ada yang melihatnya.

"Bibi, apa bibi melihat ayahku?"

"Ya, bibi melihat ayahmu membawa kayu bakar sebelumnya."

Jungkook membulatkan matanya dengan senang, dia kembali bersemangat, "Dimana ayahku?"

"Dia pergi ke arah sana." Bibi itu menunjuk ke belakangnya.

"Terimakasih bibi!"

Jungkook segera berbalik dan berlarian dengan senang hati, arah yang ditunjukkan adalah arah rumah salah satu bangsawan yang menggunakan jasa ayahnya untuk memotong daging.

Ayahnya mungkin sedang memotong daging disana.

Saat itu di depannya terlihat sekumpulan orang tengah mengelilingi sesuatu, Jungkook dengan tubuh kecilnya tidak dapat melihat apapun.

Kumpulan orang itu sangat penuh hingga dia memutuskan untuk mengabaikannya dan pergi menemui ayahnya segera.

Dia melihat seseorang yang dia kenal di depan rumah bangsawan itu, segera mendekat untuk menyapanya, "Paman! Selamat pagi!"

"Selamat pagi nak, apa kau mencari ayahmu?"

"Ya, dimana ayahku?

"Ayahmu baru saja kembali, dia berkata akan pulang setelah membawa sebungkus daging untukmu."

"Wah!" Jungkook memekik dengan senang, "Baiklah paman, aku akan pulang dulu."

"Ya, hati-hati nak."

Jungkook kembali berbalik, kali ini pergi ke rumahnya di dalam hutan.

Dia melihat kumpulan orang itu menjadi semakin ramai. Dia merasa sangat penasaran, pada dasarnya selalu penasaran pada hal-hal seperti ini.

"Permisi paman, ada apa disana?"

"Ah, itu ada seorang putra bangsawan tengah mengobati pasien secara gratis."

"Putra bangsawan?"

"Ya, anak itu sangat baik, dia bahkan tidak membedakan kami yang orang rendahan."

Jungkook semakin penasaran, dia berusaha menyelinap diantara kerumunan orang, memanfaatkan tubuh kecilnya.

"Maaf, permisi.."

Namun kerumunan sangat padat, dia hanya mampu mengintipnya dari dalam kerumunan.

Dia melihat seorang laki-laki yang tampak seumuran dengannya, menggunakan pakaian putih mewah, seorang bangsawan. Bangsawan itu tengah memegang pergelangan tangan seorang rakyat rendahan tanpa terlihat risih.

Jungkook memperhatikannya, tidak tau mengapa merasa pernah melihatnya. Bahkan lebih dari itu, dia merasa cukup.. dekat.

Jungkook menggeleng dengan cepat, dia berbalik dan segera meninggalkan kerumunan.

Dia harus menemui ayahnya.

Dia berlari dengan melompat-lompat, tampak dalam suasana hati yang baik setelah melihat laki-laki bangsawan itu.

Saat itu dia melihat gerobak kayu ayahnya berada di depan rumahnya. Dia segera berlari ke arah rumahnya, dengan senang berteriak.

"Ayah! Ayah! Aku pulang!"

"Ayah! Ayah!"

Bahkan setelah dia sampai di halaman rumahnya, masih tidak ada jawaban dari ayahnya.

Dia mendorong pintu rumahnya terbuka, mengintip saat dia memanggil, "Ayah?"

Dia merasakan perasaan yang akrab, seperti pernah mengalami ini sebelumnya. Jantungnya berdetak sangat cepat, dia merasakan tubuhnya memanas dan dingin silih berganti.

"Ayah? Aku pulang."

"Ayah?"

Dia pergi ke seluruh ruangan yang ada di rumahnya tapi tidak menemukan ayahnya dimanapun. Segera dia berlari keluar rumahnya.

"Ayah?!"

Dia memanggil dan memanggil.

Ayahnya tidak ada dimanapun. Namun gerobaknya ada di rumahnya.

Jungkook sangat kebingungan, matanya bergetar menatap sekitar untuk menemukan ayahnya. Tapi tidak ada bayangan ayahnya sama sekali.

Dia memikirkannya dan memikirkannya, hingga tanpa sadar kakinya berlari ke tengah hutan. Dia berlari dan berlari, nyaris terjatuh beberapa kali.

Dia menyadarinya, jika kakinya membawanya ke tengah hutan, ke tempat makam ibunya.

"Ayah!"

"Ayah!"

Hingga dia melihat samar-samar seseorang terbaring lima langkah di depan makam ibunya.

Jungkook merasa hatinya jatuh.

Dia sangat mengenali pakaian itu.

"Ayah!!"

Jungkook berlari mendekat ke arah ayahnya yang terbaring ditanah, menjatuhkan lututnya dan menarik ayahnya ke pangkuannya.

"Ayah?"

Dia menepuk-nepuk wajah ayahnya. Tapi tidak mendapat reaksi apapun dari ayahnya.

Dia menekan jarinya pada pergelangan tangan ayahnya, tidak merasakan denyutan apapun.

Dia menempelkan telinganya pada dada ayahnya, tidak mendengar apapun.

Tidak ada detak jantung.

Tidak dapat mendengar apapun.

"...Ayah??"

Dia memanggil lagi dan lagi, pandangannya mulai kabur. Dia merasa dadanya sangat sakit hingga kesulitan bernapas.

Dia mulai menangis.

"Ayah ... ayah bangun."

Dia menepuk-nepuk wajah ayahnya lagi, "Ayah, aku mohon."

"Ayah, aku hanya memiliki ayah..."

Tidak mendapat reaksi dari ayahnya, dia menangis terisak. Membawa tubuh ayahnya ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat dan menangis dengan kencang.

"Dewa .. Budha .. Jangan ambil ayahku..."

"Aku ... akan melakukan apapun... biarkan ayahku kembali... Aku memohon padamu... "

Dia menangis dan menangis, air mata tidak berhenti mengalir dari matanya. Membasahi wajahnya, membuat dadanya terasa sesak. Kepalanya terasa pusing, dan pandangannya sangat kabur.

"Ayah... aku tidak apa hanya makan kentang saja... ayah aku mohon... aku tidak memiliki siapapun lagi..."

Dia menangis dan menangis, hingga tidak dapat mengatakan apapun lagi.

.

.

.

Ayahnya mungkin menyadari jika tubuhnya akan tumbang, dia pergi ke makam ibunya, memaksakan dirinya berjalan terseok-seok. Agar putranya tidak kesusahan membawanya kemari sendirian.

Jungkook terisak saat dia mulai menggali kuburan untuk ayahnya, di sebelah makam ibunya.

Dia akan mengusap air matanya dengan lengannya saat dia merasakan pandangannya mulai kabur. Kemudian kembali menggali sedikit demi sedikit.

Tubuhnya yang kecil dengan kekuatan anak berusia sepuluh tahun, dia hampir mematahkan tangannya untuk menggali kuburan.

Dia tidak dapat menghentikan air matanya agar tidak jatuh, dia juga tidak dapat menahan bibirnya untuk tidak bergetar akan tangisannya yang tertahan.

Jungkook menyeret tubuh ayahnya ke arah kuburan yang telah dia gali. Tidak ingin mendorong tubuh ayahnya ke dalam kuburan, dia melompat ke dalam kuburan itu dan menarik pelan-pelan tubuh ayahnya.

Dia naik kembali setelah meletakkan tubuh ayahnya, menatapnya dengan perasaan hancur. Berharap jika dia yang ada di dalam sana dan bukan ayahnya.

Dia menatapnya cukup lama hingga dengan rasa sakit yang menyayat hati mulai mengubur tubuh ayahnya.

Hatinya sangat sakit.

Dia bahkan tidak dapat mempertahankan kakinya untuk tetap berdiri.

Jungkook melihat kuburan orang tuanya bersebelahan, pergi ke tengah-tengah merebahkan dirinya disana. Tidur di tengah-tengah makam keduanya.

Dia tidak lagi memikirkan apapun. Tidak lagi memperdulikan apapun.

Dia tidak akan perduli jika dia akan mati dalam keadaan seperti ini.

Dia tidak akan mampu hidup tanpa kedua orangtuanya.