Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Date A Live: Koushi Tachibana

.

.

.

Phenogram

By Hikayasa Hikari

.

.

.

Chapter 8. Dua fakta yang terungkap

.

.

.

Entah siapa gadis kembar berambut cokelat yang berpakaian menyerupai suster gereja dan bersenjata canggih itu. Mereka berdampingan, berjarak tak jauh dari Naruto serta Kurumi yang memeluk Miku. Salah satu dari gadis kembar itu -- gadis bermuka ceria -- tetap menunjuk Naruto.

"Siapa kalian?" tanya Naruto menukikkan alis.

"Kami Exorcist dari organisasi Akatsuki," jawab gadis yang menunjuk Naruto tadi, tersenyum.

"Or ... Organisasi Akatsuki?" tanya Kurumi membulatkan mata sempurna.

"Itu organisasi yang bermusuhan dengan Ratatorsk," jawab Naruto menoleh ke arah Kurumi, "sebaiknya kau diam di sini dulu, Kurumi. Biar aku yang menghadapi mereka."

Naruto maju perlahan mendekati dua gadis kembar itu. Tangan kanannya terangkat ke udara, mengambil pedang yang tersimpan di ketiadaan. Pedang itu bercahaya putih saat tergenggam kuat di tangannya.

"Karena perbuatan kalian, semua orang yang ada di sini menjadi korban!" bentak Naruto dengan nada tinggi, "aku tidak akan memaafkan kalian! Phenogram!"

Naruto menancapkan ujung pedangnya sekuat tenaga sehingga menciptakan keretakan besar bercabang di tanah. Cahaya dari bilah pedang berputar, mengalir deras ke tanah dan menyebar luas bagai akar pohon. Cahaya yang bercabang itu meluncur ke arah dua gadis kembar tadi.

Dua gadis kembar membelalakkan mata, lantas terbang dengan jetpack yang terpasang di punggung. Mereka berpencar, mengerahkan dua senjata yang mirip meriam besar di dua tangan masing-masing untuk menghalau serangan dari Naruto. Bola-bola cahaya melebihi ukuran bola basket, dilepaskan dari moncong meriam.

Bola-bola cahaya menerjang cahaya yang menyerupai akar itu, bertabrakan antara satu sama lain sehingga menciptakan ledakan besar di udara. Menimbulkan gelombang kejut yang cukup kencang. Menghempaskan apa saja yang dilalui.

Naruto bisa bertahan dalam terjangan angin kencang yang bercampur dengan debu, melindungi wajah dengan kedua tangannya. Sementara Kurumi yang duduk, berusaha mendekap Miku lebih kuat agar tidak diseret angin.

Ledakan tidak terjadi satu kali saja, tetapi beberapa kali. Dua gadis kembar berusaha menghancurkan akar-akar cahaya yang terus mengejar. Mereka bersikukuh untuk tetap menyerang Naruto.

"Yuzuru, apa yang harus kita lakukan sekarang? Tidak mungkin kita harus menghancurkan Phenogram ini terus-menerus dengan senjata kita ini! Kita bisa kehabisan manna!" seru Yamai Kaguya lewat headphone yang terpasang di kepalanya. Suaranya terkesan panik.

"Kita harus sebisa mungkin menghindar. Ingat apa yang dikatakan Jenderal," balas Yamai Kaguya bermuka serius.

"Tapi..."

"Kita laksanakan rencana yang kita susun tadi."

"Baiklah!"

Yuzuru mengangguk. Kemudian dia berbisik lewat headphone. Entah apa yang direncanakannya bersama saudarinya. Lantas dua gadis kembar itu saling menembakkan bola cahaya ke langit.

Ledakan-ledakan mulai menghilang seiring serangan akar-akar cahaya mereda. Asap yang ditimbulkan setiap ledakan perlahan lenyap.

Mata Naruto tetap tajam bak elang ke segala arah. Memastikan pergerakan musuh yang mungkin akan muncul entah darimana.

Tiba-tiba, bola cahaya lain datang dari belakang, mengincar Kurumi. Gerakannya sangat cepat. Tapi, untung, Naruto cepat menyadari hal itu, langsung berlari kencang untuk menghalau serangan itu.

"Kurumi!" teriak Naruto. Suaranya keras seiring dirinya mendorong Kurumi dan Miku ke kiri.

Serangan bola cahaya melewati Naruto dan kedua gadis itu. Bola cahaya itu meledak saat bertabrakan dengan dinding yang masih utuh. Dentuman keras menghujam dinding itu hingga berkeping-keping. Gelombang kejut kembali terjadi, menyebar dan menghantam apa saja yang dilaluinya.

Naruto yang mengurung Kurumi dan Miku dengan kedua lengannya, menyadari pedang miliknya terlepas darinya. Matanya membesar ketika Yuzuru menggenggam pedang menyerupai pedang anggar itu.

"Hei, kembalikan pedangku itu!" jerit Naruto. Matanya melotot.

"Aku tidak akan mengembalikan pedang ini," sahut Yuzuru bertampang datar.

"Kembalikan!" Naruto berteriak lebih keras.

"Kerja yang bagus, Yuzuru," sela gadis berambut biru pendek yang berpakaian sama dengan gadis kembar bersaudara itu, berjalan mendekati Naruto. Dia yang menembak Kurumi tadi.

"Ya, Kapten Konan." Yuzuru menoleh ke arah Konan.

Yuzuru dan Kaguya sudah menginjak tanah lagi. Yuzuru berada di kiri, sedangkan Kaguya di kanan. Sementara Konan di depan Naruto. Jika dilihat dari atas, mereka membentuk formasi segitiga.

"Uzumaki Naruto, kau yang sudah kabur dari organisasi, harus kembali pulang bersama kami," tutur Konan bertampang serius, menunjuk Naruto.

"Mengapa aku harus kembali pulang bersama kalian?" tanya Naruto menukikkan alis.

"Karena kau salah satu uji coba yang berhasil kabur dari laboratorium organisasi."

"Hah? Apa?"

Naruto dan Kurumi membulatkan mata sempurna. Tercengang. Penasaran dengan 'uji coba' yang dituturkan oleh Konan.

"Kau pasti penasaran dengan uji coba yang kumaksud. Itu karena kau bukanlah manusia biasa, Uzumaki-san. Kau itu manusia setengah iblis!" ungkap Konan menukikkan alis.

Kebenaran yang mengejutkan. Naruto dan Kurumi kembali membesarkan mata. Fakta itu seolah menampar pipi Naruto dengan kuat. Menyebabkan tubuh Naruto tidak bergerak bagai dikunci.

"Kau terlahir dari ibu manusia, Ootsutsuki Kaguya, dan ayah iblis, Namikaze Minato. Hal itu diketahui oleh pemimpin Akatsuki sekarang, Terumi Mei, sahabat Kaguya-sama. Karena itu, kau diasingkan dari wilayah organisasi dan dirawat di laboratorium khusus organisasi," lanjut Konan menyipitkan mata, "kau kabur dan membunuh semua penghuni laboratorium! Kau itu buronan, Uzumaki-san!"

Naruto jatuh berlutut, memegang kepalanya yang terasa amat sakit dengan kedua tangannya. Kepalanya tertunduk dalam. Matanya melotot. Badannya bergetar hebat.

"Cukup! Aku tidak mau mendengarnya lagi!" hardik Naruto keras sekali, "aku tidak mengingat apapun! Hanya ingat kejadian yang berlangsung sejak aku terbangun di tempat itu!"

Naruto berteriak keras. Menghantamkan kedua tangannya ke tanah. Menggetarkan tanah sangat kuat bagai dilanda gempa bumi. Sehingga siapapun yang menginjak tanah, akan jatuh karena ulahnya.

Simbol menyerupai salib transparan yang ada di telapak tangan kanan Naruto, bercahaya putih terang. Kekuatan iblis akan bangkit saat Naruto sangat marah tidak terkendalikan. Karena itu, simbol itu dibuat oleh seseorang ketika Naruto baru lahir agar kekuatan cahaya sepenuhnya menguasai tubuh Naruto.

"Phenogram!" seru Naruto. Matanya membesar. Wajahnya mengeras.

Pedang yang juga diberi nama Phenogram, merespon panggilan Naruto. Ada simbol menyerupai salib transparan di bawah gagangnya, bercahaya putih terang memutar hingga membungkus dirinya. Yuzuru terkejut, didorong kuat oleh cahaya yang merambat bagai lidah api, dari pedang itu.

Ledakan besar menghujam tubuh Yuzuru yang dilengkapi amor perang. Efeknya membuat amor itu hancur berkeping-keping. Yuzuru juga tak sadarkan diri setelah berguling beberapa meter saat mendarat.

Naruto bangkit berdiri, bersama pedang yang kembali di tangan kanannya. Kepalanya tetap tertunduk. Rambut dan pakaiannya berkibar-kibar pelan karena angin yang mendadak muncul.

"Phenogram!" Naruto kembali meneriakkan mantra yang sama. Kali ini, pedang diangkat tinggi melebihi atas kepalanya. Cahaya menguar besar dan bercabang bagai akar pohon. Jumlahnya sangat banyak, tidak terhitungkan.

Silau sekali. Bahkan Konan dan Kaguya mundur karena tidak bisa menahan silau cahaya dari Phenogram. Mereka terpaksa kabur dulu daripada dikikis habis oleh sihir cahaya yang sudah terlampau besar.

Konan terbang duluan. Disusul oleh Kaguya yang membawa Yuzuru. Mereka menghilang di balik awan, bertepatan muncul seorang pria bertopeng kucing dan bermantel hitam entah darimana, langsung menggenggam tangan Naruto yang memegang pedang.

"Tahan, Naruto! Jangan gunakan kekuatan tertinggi itu di sini! Kau bisa menghancurkan tempat ini dan bahkan satu negara!" bujuk pria bertopeng kucing itu, bersuara tegas.

"Oji-san," tukas Naruto. Suaranya pelan.

Naruto perlahan menurunkan pedangnya. Cahaya yang mengakar banyak dari ujung mata pedang, turut hilang. Naruto mengangkat kepalanya untuk melihat pria itu.

"Untung aku datang tepat pada waktunya. Aaah." Oji-san menghela napas. Matanya langsung membulat sempurna ketika ujung pedang mengarah ke mukanya.

"Kau pasti tahu siapa aku yang sebenarnya, 'kan?" Naruto menukikkan alis.

"Ya, tentu aku tahu."

"Aku ini manusia setengah iblis yang lahir dari ibu manusia dan ayah iblis, 'kan?"

"Hah? Dari mana kau tahu hal itu?"

"Aku tahu dari Exorcist Akatsuki yang menyerangku barusan."

"Oh, sudah ketahuan, ya? Apa boleh buat."

Oji-san menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia bersikap santai dan tidak takut saat ujung pedang Naruto tetap tertancap ke wajahnya.

Naruto tetap menukikkan alis. "sebenarnya kau itu siapa?"

Oji-san diam, menyadari Kurumi yang menatapnya dari tadi. Senyuman terukir di wajahnya. Kemudian menyingkirkan pedang Naruto dari mukanya.

Oji-san pelan-pelan membuka tudung mantel. "Aku ... Sebenarnya..."

Naruto tetap menukikkan mata. Jantungnya berdebar kencang ketika Oji-san juga membuka topeng. Perasaan penasaran yang telah mengganggu hatinya, ingin mengetahui wajah asli Oji-san, akhirnya terkuak juga.

Oji-san tersenyum. Dia adalah pria berambut hitam panjang dan bermata merah. Wajah aslinya sungguh mengejutkan Naruto dan Kurumi.

"Mata merah?" tanya Kurumi membesarkan mata, "apa kau itu iblis, Oji-san?"

Oji-san melirik Kurumi. "Ya. Namaku Uchiha Madara. Aku berasal dari dunia bawah."

Naruto mengerutkan kening. "Dunia bawah itu apa?"

Uchiha Madara menatap Naruto. "Dunia bawah adalah dunia tempat tinggal para iblis. Dunia yang beriklim sangat panas dan ketinggalan zaman."

"Ketinggalan zaman?" tanya Naruto dan Kurumi bersamaan.

"Ya. Kehidupan kami jauh lebih sengsara dibanding kalian, manusia. Karena tidak ada sumber daya yang memadai untuk mencukupi kehidupan kami. Yang ada cuma gunung berapi, gurun pasir, kaktus, dan bebatuan."

Madara menatap langit yang cerah, penuh dengan awan-awan berbentuk macam-macam. Matanya menyipit. Entah apa yang dipikirkannya.

"Kami berharap bisa memiliki kehidupan seperti manusia. Karena itu, sebagian di antara kami pergi ke dunia manusia untuk mengambil sumber daya yang bisa meningkatkan kehidupan kami. Tapi, ada beberapa di antara kami, malah jatuh cinta dan menikah dengan manusia," lanjut Madara menjeling Kurumi. Raut mukanya sedih.

"Maaf, Oji-san, apa kau tahu tentang orang tuaku?" tanya Kurumi bertampang kusut.

Madara diam, memandang Kurumi lama sekali. Mulutnya hendak berkata, tetapi tidak jadi ketika muncul suara orang-orang dan helikopter yang mendekat. Lantas dia memakai topeng dan tudung mantelnya lagi.

"Oh ya, aku harus pergi dulu!" Madara langsung menghilang secepat kedipan mata. Entah kemana perginya.

"Hei, tunggu! Kau belum memberitahu siapa orang tuaku!" teriak Kurumi. Matanya melebar.

"Dasar, dia selalu seenaknya muncul dan pergi begitu saja," omel Naruto berwajah sewot. Pedangnya sudah hilang sebelum petugas pemadam kebakaran, tentara, dan petugas kesehatan datang menghampirinya serta teman-temannya.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Halo, semuanya. Saya kembali lagi di cerita ini. Kali ini, ceritanya cukup panjang di chapter ini. Bagaimana dengan kelanjutan ceritanya? Apa seru atau membosankan? Berikan pendapatmu di komentar ya?

Dari Hikayasa Hikari

Kamis, 13 Juli 2023