'Nak, Apa yang kau pikirkan tentang orang yang membangun keluarga?'
Hari itu aku sedang berada di pemakaman. Pemakaman yang dikhususkan untuk prajurit yang meninggal dalam misi. Di depan makam dengan nisan bertuliskan nama Uzumaki Menma yang merupakan saudara ku. Di sampingku ada seorang wanita paruh baya yang dapat ku panggil ibu, Sosok yang sangat menyayangiku dan orang yang memungutku dari medan perang.
"Entahlah, Aku tidak tahu. Mungkin saja Mereka tidak ingin mati dalam kesendirian, Aku sadar saat melihat Menma." Jawabku seadanya dan apa yang dilakukan ibu setelah mendengar jawaban yang ku berikan hanya menghela nafasnya. Helaan nafas yang sangat berat seakan-akan mengatakan kalau dirinya sudah lelah dengan semua yang terjadi dalam hidupnya.
"Apa yang kau katakan tidak salah, Naruto." Ucapnya lalu berjalan mendekati nisan dan mengusap nisan itu seakan-akan mengusap kepala Menma dengan penuh kasih sayang. Sungguh! Apakah ini yang dinamakan dengan kasih ibu sepanjang masa? "Suami dan anak ku meninggal saat menjalankan tugas yang mereka emban. Aku sudah kehilangan orang-orang yang berharga bagiku namun aku cukup beruntung karena kau masih disini bersama denganku, Nak. Ikatan manusia akan selalu terhubung apapun yang terjadi bahkan jika kematian memisahkan dan lagi tidak ada yang lebih membahagiakan jika dibandingkan dengan kebersamaan bersama dengan keluarga itu sendiri."
Aku yang mendengar itu sedikit melirik ke arah ibu yang masih bersimpuh di depan nisan Menma. Oh tuhan, Wajahnya sangat damai saat kata-kata yang ia keluarkan selesai. Senyuman halus disertai beberapa kerutan di wajahnya yang menjadi penanda waktu membuat ibu semakin tampak lelah. Aku tahu ini berat baginya karena sudah dua tahun sejak Menma pergi meninggalkan kami berdua. Karena hari ini aku mendapatkan cuti dan diberikan izin untuk pulang, Aku mengambil inisiatif untuk pergi mengunjungi makam Menma dan juga Ayah.
"Naruto.." Aku masih ingat hari itu, seperti baru kemarin. Ibu melihatmu dengan senyum halus di wajahnya. Rambut merahnya yang sangat indah di bawah sinar matahari seakan menusuk mataku.
"Kau harus menikah dan membangun keluarga mu sendiri, Nak. Lakukan yang terbaik untuk menjaga mereka apapun yang terjadi bahkan jika mengorbankan nyawa mu sendiri." Ucapnya dengan senyuman yang terpatri di wajahnya. Aku hanya menghela nafas dan kemudian memandang langit berkawan hingga cahaya putih menusuk mata ku. Walau hanya sekedar berucap tanpa alasan apapun, Aku tau kalau ibu memberikan sebuah misi terakhir darinya namun apa yang bisa aku lakukan?
SetsunaZ1 2.0 Present
Disclaimer :
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Chapter 6 : My sister and my brother
Abbys Crack, Sebuah bencana yang terjadi sejak puluhan tahun yang lalu di Benua ini. Pada suatu hari, Sebuah retakan muncul di Tenggara benua dan dari retakan tersebut keluar sebuah energi yang sangat aneh. Tampak seperti 'Mana' namun berbeda dengan yang biasa para Magician gunakan karena energi ini memiliki sifat yang merusak dan terkesan menjadi sebuah bencana.
Beberapa tahun berlalu dan karena tidak adanya tindakan yang diambil para penguasa membuat energi tersebut mencemari semua lingkungan. Hutan-hutan menjadi kering dan kehilangan warna hijaunya, Udara tercemar karena energi tersebut dan penyerangan monster yang menjadi lebih kuat merebak bagaikan arus sungai yang terlampau deras.
Setelahnya sebuah aliansi yang terdiri dari 15 Kerajaan memasuki pertempuran berkepanjangan selama 20 tahun lamanya. Namun, Perang tersebut tidak menghasilkan kemenangan dan harapan yang diberikan orang-orang hanya menjadi sebuah harapan. Krisis pangan karena udara yang buruk, Santunan untuk para tentara yang gugur dan lagi pedagang yang memanfaatkan kesempatan untuk membuat diri mereka menjadi lebih kaya. Dan bagaikan cahaya yang menyinari daratan setelah badai menerpa, Orang itu muncul. Seorang ksatria yang sangat hebat mengambil kepercayaan rakyat dan menggantikan para raja untuk membantai Beast. Bersama dengan seribu orang yang selalu setia disisinya, Ksatria itu terus melakukan perlawanan dan segala upaya yang ia punya hingga akhirnya berhasil memukul mundur pasukan Magic Beast kearah Abbys. Sebagai penghormatan dari Kingdom Alliance, Ksatria itu mendapatkan semua jarahan. Bangkai Magic Beast, Beast Cristal, dan yang paling penting tanah yang sebelumnya diduduki Magic Beast dari Abbys.
Walaupun terjadi pertentangan dari beberapa pihak dan kalangan, Terlebih kalangan bangsawan yang hanya mengincar keuntungan tidak membuat Ksatria itu berkecil hati. Namun dengan bangga, Ia mengatakan kalau dirinya berserta pasukannya berhak mendapatkan bayaran atas apa yang sudah mereka kerjakan. Namun karena krisis ekonomi dikarenakan perang berkepanjangan akhirnya semua orang sepakat untuk memberikan tanah tersebut sebagai kompensasi atas kerja keras ksatria itu. Dengan dukungan Rakyat dan juga bantuan dari Kaisar Romanova, Lahirlah kerajaan Aerial. Kerajaan yang Makmur dengan orang-orang yang mencintai kedamaian.
Dan begitulah ceritanya, Cerita tentang seorang Ksatria yang mengambil alih tampuk kepemimpinan demi alasan kemanusiaan. Nama ksatria itu adalah Vasco Strada, Seorang ksatria yang sangat hebat pada masanya. Namun, Sekarang ksatria itu tidak lebih daripada seonggok tulang belulang yang berada di dalam kuburan dan meninggalkan Kerajaan dengan membiarkan 3 anak tertuanya bertugas sebagai pelindung membiarkan tahta kosong tanpa adanya seorangpun yang menduduki kursi tersebut.
"Hufft... Lagi-lagi aku menulis catatan harian." Ucap seorang pemuda berambut kuning dengan tubuh yang lumayan gempal. Pemuda itu terpaku pada buku yang terletak tepat di depannya dan mengalihkan pandangannya mengingat apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya.
"Tidak ada seharipun aku bisa bersantai seperti ini di bumi. Sebagai seorang perwira keseharian yang ku jalani sangat padat dan terkadang akupun tidak dapat tidur namun sekarang aku merasakan suatu anugerah yang tidak pernah dapat ku rasakan di kehidupanku sebelumnya." Sudah sebulan dirinya terperangkap di tubuh ini dan menjalani keseharian yang lumayan santai namun tetap saja diwarnai tugasnya sebagai seorang Lord. Namun jika ditanyakan sebuah penyesalan, Pemuda itu memiliki satu yaitu amanat dari seorang 'Ibu' untuk menikah dan membangun keluarganya sendiri.
'Maafkan aku, Bu. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu untuk menikahi seorang perempuan dan membangun sebuah keluarga, Terlebih aku meninggalkanmu sendirian. Tapi untuk kali ini maafkan diriku karena aku tidak bisa menikah dalam waktu dekat. Tidak sebelum aku melihat sebuah senyum terpatri di wajah semua orang yang melayaniku.' Pikirnya dengan wajah yang penuh dengan ambisi namun tersirat kesedihan yang terlihat dari sorot matanya. Kesedihan saat meninggalkan seseorang yang dikasihi dalam kesendirian.
Satu bulan dirinya berada di dunia ini semenjak terkonfirmasi meninggal karena kecelakaan. Dan seperti yang ia katakan dalam waktu empat puluh hari, Ia berhasil membuat ekonomi di wilayah ini stabil. Bukan hal yang mudah untuk membangkitkan sebuah Negara, Anggap saja begitu, Yang hampir runtuh dan membuat ekonomi menjadi stabil. Puluhan bahkan ratusan kali ia harus memutar kepalanya dan memeras otaknya sampai kering hingga dirinya sendiri lupa untuk beristirahat. Namun, Usaha tidak pernah mengkhianati hasil karena sekarang ia sudah mulai memetik hasil yang ia inginkan.
Pemuda itu, Naruto, Bangkit dari kursinya dan berjalan keluar ruang kerjanya. Beberapa Maid menyapa dan ia juga balas menyapa dengan mengeluarkan senyumannya. Citra Naruto sebagai Lord di wilayahnya sudah membaik bahkan di dalam Mansion ini.
Walaupun tubuhnya terbilang gempal dengan kisaran berat badan seratus kilogram lebih dan banyaknya gumpalan lemak tak membuat Naruto kehilangan kharismanya. Karena dari gaya dia berjalanpun sudah menunjukkan status sebagai seorang bangsawan. Tegap, Pandangan lurus ke depan dengan dagu yang tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah membuat kharismanya keluar.
Dan sekarang dirinya sudah berjalan ke arah kandang kuda yang terletak tak jauh dari mansion miliknya. Mengambil kuda dan pergi menghiraukan teriakan maid dan juga pengawal yang bertugas di mansion tersebut.
Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah tempat yang sekarang menjadi pabrik pengolahan getah dari pohon swarda yang selama sebulan ini dikumpulkan para buruh. Karet merupakan komoditi yang lumayan diperlukan bahkan di bumi. Dan dengan semua informasi dan juga hal-hal yang ia pelajari dulu, Dirinya ingin membawa manfaat dari getah karet ke dunia ini.
'Pengolahan Lateks tidak mudah karena memerlukan waktu yang sangat panjang, Terlebih lagi proses penggumpalan karet memerlukan asam format dan karena ini adalah dunia lain maka aku memerlukan tiga hari untuk memikirkan apa yang harus ku lakukan. Namun diriku berterima kasih pada buku yang ku baca sebelum memasuki akademi militer tentang bahan-bahan kimia.' Koagulasi atau penggumpalan merupakan salah satu proses yang berperan penting dalam pengolahan Lateks. Lateks yang berasal dari berbagai tempat akan dicampurkan dalam satu tempat dan dengan proses koagulan, Maka percampuran bahan-bahan tersebut akan terjadi.
'Dan yang membuat lama adalah sulitnya mencari asam format. Namun karena informasi yang ku dapatkan dari seorang pedagang tentang sengat dari Venomous Bee yang mengandung racun yang dapat membuat seseorang menjadi kaku membuat diriku sadar. Asam format atau biasa disebut asam semut, Senyawa alami yang berada di sengat semut ataupun lebah yang sangat penting dalam sintesis kimia. Dan dengan begitu aku membeli semua racun tersebut dengan harapan kalau proses sintesis tersebut dapat terjadi.'
Dan disinilah dirinya, Di sebuah mansion bekas seorang pedagang yang di jual karena merasa sudah tidak ada gunanya lagi berbisnis di wilayah ini. Sekarang mansion tersebut sudah beralih fungsi menjadi pabrik pengolahan lateks atas perintah Naruto.
"Selamat datang, Lord Naruto." Ucap salah seorang pekerja yang melihatnya memasuki pabrik dan seketika semua orang berhenti bekerja untuk menyapa Naruto.
"Kerja bagus, lanjutkan kerja kalian." Ucap Naruto dengan senyum di wajahnya. Sebenarnya hari ini bukanlah jadwal inspeksi kerja namun karena semua dokumen yang harus ia urus sudah selesai maka tidak masalah untuk pergi ke pabrik ini.
Dapat ia lihat kalau mansion ini dapat menampung peralatan-peralatan yang dibuat para Crafter yang bekerja diwilayahnya. Sebuah alat yang terlihat seperti Guilottine berada di pinggir ruangan untuk memotong blok karet, Sebuah alat yang terdiri dari dua tabung batu yang berguna untuk memipihkan lateks mentah dan sebuah alat yang digunakan untuk membentuk lateks menjadi bentuk yang diinginkan.
'Untuk saat ini, Tidak ada yang salah. Yah, Aku harus berterima kasih pada para Crafter yang berhasil membuat alat-alat yang ku mau.' Pikirnya saat melihat banyaknya selang karet yang dibawa para pekerja menuju ruangan penyimpanan. Mereka dengan bangga menyimpan hasil keringat mereka untuk dipasarkan pada kemudian hari walaupun itu merupakan tugas Naruto sebagai penguasa namun tetap saja semua pekerja bangga karena ikut ambil bagian dalam membangun wilayah ini dari Nol untuk kedua kalinya.
"Lanjutkan kerja keras kalian, Aku akan pergi." Mendengar itu membuat semua orang menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah Naruto. Dan karena semangat yang mereka tunjukkan sangat tinggi sampai-sampai membuat Naruto berfikir, 'Walaupun semua peralatan yang ada di pabrik ini masih menggunakan tenaga manusia namun mereka masih bisa bereaksi seperti itu.' Dan pergi meninggalkan pabrik lateks.
Count Nara's Territory, South East from Namikaze's Territory
Tenggara, Hamparan hutan terlihat mulai mengalami pengembangan untuk membuka lahan pertanian namun sesuai dengan perintah petinggi wilayah ini, Duke Namikaze, Tidak semua pohon mengalami pemaprasan. Pohon-pohon yang sudah tua dan cukup umur untuk menjadi bahan bangunan ataupun kayu bakar ditebang dan pohon-pohon muda menjadi tempat berteduh dan area hijau di tengah-tengah lahan pertanian.
Beberapa orang terlihat sibuk mencungkil akar yang tertinggal dan beberapa orang mulai mencangkul tanah untuk dijadikan lahan bertani. Karena latar dunia yang Naruto tempat berada di abad pertengahan kalender bumi, Maka komoditas pertanian yang paling diminati adalah gandum. Dan karena gandum menjadi bagian penting dari konsumsi sehari-hari sebagian besar manusia, Maka terlintas dipikirannya untuk memproduksi tepung gandum yang berkualitas.
'Yah, Bukan karena keserakahan namun setelah melihat tepung yang digunakan untuk membuat roti kemarin, Diriku sedikit tidak nafsu karenanya.' Kemarin, Naruto dengan sengaja bermain ke dapur untuk melihat juru masak membuat roti dan memberikan masukan untuk membuat berbagai jenis roti yang ada di bumi. Namun setelah melihat tepung gandum yang menjadi bahan pokoknya, Dirinya sedikit enggan untuk memakan roti lagi. Tepung yang kotor, Ada beberapa gumpalan dan dari itu semua terlihat kalau pengolahan tepung di dunia ini masih sangat tertinggal.
'Dengan menggunakan pengetahuan yang ku miliki dan berkah dari dewa, Maka tepung berkualitas akan beredar di pasaran. Menjual dengan harga tinggi di daerah luar dan menjual dengan harga murah di daerah ku, Menaikan ekonomi dan juga menaikan moral rakyat. Dua burung dalam satu batu.' Pikirannya melayang entah kemana sebelum akhirnya ia sadar jika seorang pemuda seumuran dengannya sedang ikut mencangkul tanah bersama dengan pekerja harian.
"Ehh... Shikamaru?" Gumam Naruto namun dirinya sendiri tidak menyangka jika orang yang namanya ia sebut mendengarnya.
"Oh itu kau, Naruto? Apa kabar?" Tanya pemuda itu yang tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Naruto dengan senyum di wajahnya. Pakaiannya kotor dan lusuh seperti kebanyakan orang di lahan pertanian tersebut dan keringat membasahi tubuhnya namun tidak menutup senyum diwajahnya saat menyapa seorang teman yang sudah lama tidak ia lihat.
"Hup..." Naruto yang sadar kalau pemuda itu adalah Shikamaru, Temannya, Turun dari kuda yang ia tunggangi dan mendekatinya. "... Jika kau bertanya kabar ku maka dapat ku jawab kalau kabar ku baik. Lalu mengapa kau ikut membuka lahan disini?"
"Tidak ada yang spesial. Kau tau? Orang tua menyebalkan itu membuatku mengerjakan ini karena perintah langsung dari orang yang menyusahkan, Sial." Ucapnya dan orang yang menjadi target sindirian tersebut hanya bisa tertawa. Shikamaru adalah temannya dan ia sangat mengerti sikap mereka satu per satu tanpa terkecuali bahkan untuk orang yang memiliki wajah tembok tanpa ekspresi dimana dia harus menebak perasaannya.
"Begitulah... Ngomong-ngomong tubuh mu mengusut." Ucap pemuda itu dan Naruto hanya bisa diam dengan wajah memerah. Jika di bumi mungkin dapat disebut dengan Body Shaming dan itu terlalu Abbusive untuk Mental Health Naruto. Namun apa yang dikatakan sahabatnya itu ada benarnya, Latihan rutin yang setiap hari ia lakukan sedikit berefek pada tubuhnya yang mulai menyusut.
"Lanjutkan kerja keras mu, Sobat. Aku masih ada beberapa tempat yang harus ku periksa." Mendengar itu, Shikamaru hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan pekerjaannya membiarkan Naruto berjalan menuju selatan, Tempat berkuasanya Count Yamanaka.
Earl Alucard, The Demon Hunter, Seorang bangsawan yang sepanjang hidupnya terus menerus membunuh Magic Beast ataupun Demonkin sebagai tugasnya. Ayahnya adalah Count Drakula, Seorang Demonkin yang mencintai kedamaian dan memilih hidup bersama dengan manusia hingga akhirnya memilih menikahi seorang manusia dan melahirkan Alucard Von Dracuila.
Namun, Karena suatu insiden, Ayahnya memilih berpisah dengan sang ibu dan karena itulah pada suatu malam, Demonkin menyerang kediamannya hingga membuat sang ibu terbunuh hanya untuk melindunginya dan karena itulah garis darah yang ia warisi dari Count Drakula terbangun. Semenjak hari itu, Alucard bersumpah untuk memburu Demonkin dan juga Magic Beast yang berkeliaran demi kebaikan semua manusia.
Dan sekarang, Tersiar kabar kalau seorang Alucard merindukan seseorang. Untuk pertama kalinya, Seorang Alucard yang begitu terobsesi dengan Magic Beast dan juga Demonkin merindukan seorang wanita dan karenanya beberapa ucapan selamat ia dapat dari rekan-rekan sesama bangsawan. Namun dirinya sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi, Mungkin saja desas desus tersebut belum sampai ke telinganya.
"Gabriel, Uriel, Apakah kalian sudah siap?" Tanya Alucard yang sedikit berteriak dari lantai bawah kediamannya. Dan suara jawaban yang sama kerasnya juga terdengar dari lantai atas sebagai jawaban. Mungkin bagi sebagian besar orang, Tingkah laku seperti itu tidak cocok bagi seorang bangsawan. Namun bagi Alucard peraturan seperti itu tidak berlaku karena sebuah doktrin yang ia tanamkan pada kedua Muridnya.
'Lakukan apapun yang kalian inginkan selama kalian senang melakukannya.' Dengan doktrin tersebut, Terkadang Gabriel maupun Uriel melupakan peranan mereka sebagai seorang bangsawan ataupun seorang ksatria. Setidaknya selama bersama dengan Alucard, Mereka berdua bisa menjadi diri mereka sendiri.
"Kami sudah siap, Master." Mendengar suara itu membuat Alucard mengalihkan pandangannya kearah tangga. Dapat ia lihat dua orang dengan rambut Soft-Yellow sedang menuruni tangga.
The Kingdom Treasure, Deadly Swordman, Genius, dan beberapa julukan yang orang-orang berikan saat mereka berdua bersama. Entah dalam acara formal ataupun non-formal, Entah itu sebagai bangsawan ataupun sebagai Prajurit. Mereka berdua memiliki julukannya sendiri. Dan siapa Alucard hingga ia tidak menganggap mereka berdua dengan semua julukan yang diberikan kerajaan ini? Persetan dengan julukan ataupun status. Baginya, Kepercayaan dan juga kehormatan harus didapatkan dengan kerja keras tanpa mewarisi dari latar belakang keluarga dan sekarang Naruto sudah mendapatkan kepercayaannya.
Dirinya sendiri tersenyum melihat Gabriel maupun Uriel. Bocah berusia sepuluh tahun yang berada dibawah bimbingannya sekarang menjadi pemuda-pemudi yang penuh dengan kebanggaan.
Gabriel terlihat menggunakan sebuah dress sederhana berwarna putih bukan gaun kebesaran yang biasanya digunakan kalangan bangsawan. Rambutnya ia sanggup dan membiarkan leher jenjangnya terlihat dan terlihat hanya memakai kalung dan cincin saja sebagai perhiasan. Tampilan yang sederhana tanpa banyaknya perhiasan yang mencolok seperti toko emas berjalan.
Begitu juga dengan seorang pemuda disampingnya. Uriel menggunakan setelan jas berwarna putih yang cocok dengan karakternya. Santai dan juga terlihat sangat berwibawa pada saat yang bersamaan juga cocok dengan rambutnya yang memiliki warna Soft-yellow dan entah kenapa hampir semua keluarga Tenshi memiliki warna yang sama. Dan jangan lupakan sebuah pedang yang tersemat dipinggangnya karena pedang Gabriel berada di dalam cincin yang ia kenakan.
"Baiklah, Kita akan berangkat dan kumohon jangan membuat Lord Naruto menjadi terbebani atas permintaan konyol kalian. Kalian pasti tau kenapa aku mengingatkan kalian, kan?" Tanya Alucard, Dirinya sendiri tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat pertemuan para bangsawan beberapa minggu yang lalu. Naruto terlihat segar dan bugar tanpa ada perawatan apapun dari dokter maupun tabib, Seharusnya mustahil untuk seorang manusia masih hidup setelah meminum racun berbahaya seperti Crimson Scorpion dan hidup dengan sehat tanpa adanya kekurangan apapun. Entahlah, Hanya tuhan yang tahu hal tersebut.
"K-Kami juga sudah tahu, Master! Michael Nii-sama juga berkali-kali mengingatkan kami. Aku hanya ingin melihat keadaan Naruto Nii-sama setelah ia sadar." Ucap Gabriel dan Alucard yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala. Namun tanpa disadari siapapun, Sebuah senyum tipis menghiasi wajah pria itu. Sebuah kebahagiaan tersendiri untuknya melihat kehangatan sebuah keluarga yang tidak bisa ia dapatkan terlebih jika berbicara tentang hubungan antara Tenshi dan juga Uzumaki.
Berbagai jawaban dan juga pertanyaan yang akan di diskusikan bersama dengan Naruto terus terpikir dibenaknya saat berjalan menuju halaman mansion. Halaman yang lumayan luas dan juga indah dengan beberapa tanaman hias yang menyegarkan mata dan tepat disana, Sebuah kereta kuda terparkir lengkap dengan kusir dan juga dua orang ksatria yang akan mengawal keberangkatan mereka.
'Sebentar lagi aku bertemu dengan Naruto Nii-sama!'
Yamanaka's Family Territory In The South of Nara's Family Territory
Wilayah keluarga Yamanaka terlihat lebih cantik dengan bunga-bunga yang bermekaran di beberapa area. Bukan hanya sedekar bunga biasa namun bunga yang menjadi bahan baku dari pembuatan Potion yang dapat menyembuhkan luka.
'Count Yamanaka berhasil mengembangkan Crimson Bloom di wilayah ini. Yah, Ku harap keputusanku untuk menumbuhkan tanaman itu berhasil karena dari informasi yang ku ketahui tanaman itu menyerap energi negatif di sekelilingnya. Terlebih wilayah ini juga bekas medan perang yang pastinya memiliki banyak energi negatif jadi kecil kemungkinannya tidak tumbuh.'
Crimson Bloom, Mungkin di bumi tanaman ini bernama mawar? Yah seperti itulah yang dipikirkan Naruto saat pertama kali melihat bentuk dan juga ciri-cirinya. Kelopak yang indah dengan duri-duri beracun yang melindunginya hampir sama dengan mawar kecuali pada bagian duri yang memiliki racun. Crimson Bloom bukan hanya tanaman hias melainkan sebuah herbal yang menjadi bahan baku utama dari Potion yang beredar dipasaran dan sangat susah untuk didapatkan.
Banyaknya peminat dan juga sedikitnya barang yang beredar dipasaran membuat bunga yang satu ini memiliki harga yang sangat tinggi di pasar benua Barat. Dengan memanfaatkan hal tersebut beberapa pedagang mengadakan Aliansi dagang dan membuat sebuah tim ekspedisi untuk melakukan perjalanan menuju benua timur dan akhirnya membuat para pedagang berjaya dengan berhasil membawa pulang Crimson Bloom dari ekspedisi mereka.
Namun, Karena mendengar peluang bisnis Naruto mencoba menumbuhkan Crimson Bloom di wilayahnya. Pada awalnya beberapa orang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Naruto bahkan untuk Fugaku dan juga Arashi yang merupakan orang terdekat dari pemuda itu. Tindakan gila dengan resiko yang sangat besar dan juga investasi yang tidak mungkin akan tumbuh terlebih mereka tidak tau benih dari Crimson Bloom tapi Naruto membungkam mereka semua.
Dari pengetahuan yang ia dapatkan tentang dunia ini, Cara pengembangan Crimson Bloom adalah dengan stek sama seperti umbi kayu yang berasal dari bumi dan itu berarti hanya menancapkan batang pada tanah akan menumbuhkan tanaman tersebut. Semua orang yang mempertanyakan tindakan yang dirinya ambil merasa malu dan berjanji bahwa itu adalah kali terakhirnya mereka mempertanyakan tindakan Naruto.
"Semua legal dalam perang dan cinta, Itulah yang selalu dikatakan orang-orang di bumi. Sekarang aku sedang mengibarkan bendera perang terhadap aliansi pedagang dari seluruh kerajaan karena tindakan yang ku ambil..." Ucapnya saat melihat batang-batang Crimson Bloom yang ia tanam mulai tumbuh. Wilayahnya merupakan wilayah yang paling dekat dengan Abbys Crack dan jangan salahkan dirinya jika memanfaatkan semua hal baik yang dapat ia terima demi selesainya misi yang ia dapat. "... Persetan! Selama wilayah ini menjadi lebih maju dan berkembang dengan sebagaimana mestinya maka aku tidak akan gentar."
Sekarang dirinya berjalan kearah Barat menuju pusat wilayahnya. Tidak ada yang harus ia khawatirkan karena dirinya juga sudah memberi perintah menggunakan pupuk kandang untuk membuat tanah menjadi subur walau ia harus mendengarkan keluhan tentang bau busuk dari kotoran hewan ternak dari para petani.
Jalanan di kota menjadi semakin hidup semenjak ia sadar dan menghukum para bangsawan yang melakukan tindakan korupsi. Sekarang keamanan di seluruh wilayah sudah terjamin, Namun tidak menutup kemungkinan adanya bandit-bandit yang masih bersembunyi untuk menunggu para prajurit lengah.
'Yah, Aku harus mengucapkan terima kasih pada Ikki dan memberikan bonus pada anak buahnya atas kerja keras mereka selama 40 hari terakhir. Untung saja Ikki bisa memobilisasi para prajurit jika tidak, Aku tidak tau apakah kota-kota akan menjadi lebih hidup seperti terakhir kali yang ku ingat. Dan lagi, Drake Corps mulai menunjukkan perkembangannya dan rakyat juga antusias untuk mengikuti perekrutan. Paman Arashi, Paman Fugaku, Aku harap kalian bisa terus menjadi instruktur bagi para rekrutan baru sampai aku menemukan seseorang yang sanggup menggantikan kalian.'
Wajahnya kembali menjadi sendu saat mengingat kondisi orang-orang yang dengan setia berdiam diwilayahnya dan menunggu tindakan yang akan ia ambil. Tidak dapat dipungkiri jika hatinya sendiri juga sakit karena dirinya juga pernah berada di bawah dan merasakan kesengsaraan orang-orang yang ditinggalkan pemimpinnya. Mencetak senyuman di wajah setiap orang yang tinggal di wilayahnya adalah tugas yang paling mulia baginya.
Naif? Memang!
Idealis? Apa salahnya?
Apa salahnya menjadi Naif dan menjadi Idealis di usia 17 tahun? Setidaknya dirinya sudah merasakan dan mengalami apa yang namanya kesusahan dunia. Dirinya tidak ingin lagi melihat anak-anak merasakan ketakutan dan me jerit meminta makan karena kekurangan makanan.
'Beberapa mansion tidak berguna sudah di jual pada para pedagang dan karenanya pengeluaran wilayah ini dapat di tutupi. Aku juga sudah menjual beberapa barang tidak berguna yang di koleksi para bangsawan korup. Perhiasan, Lukisan dan beberapa vas, Kenapa mereka harus mengoleksi barang-barang tersebut?'
'Ngomong-ngomong, Anak bangsawan ku kirim ke rumah penampungan ataupun gereja untuk mendapatkan arahan. Karena umur mereka masih sangat belia maka tidak susah menanamkan pemikiran yang baik untuk mereka. Dosa orangtua tidak dapat diturunkan pada anak namun tetap saja tidak menutup kemungkinan kalau anak-anak bangsawan yang beranjak dewasa membalas dendam.'
'Pengembangan pendidikan gratis bagi rakyat juga sudah berjalan. Sialan, Walaupun ini menguras kantongku lebih banyak daripada biasanya tapi lihat sisi jangka panjangnya. Anak-anak akan tumbuh dewasa lalu bekerja dan akan membayarkan pajak dengan segenap hati. Belum lagi karena standar pendidikan antara rakyat biasa dan bangsawan dijadikan satu tanpa memandang status maka tidak menutup kemungkinan kalau mereka akan menaruh namaku di hati kecil mereka.'
Yah sekarang dirinya sedang merasakan apa yang sudah ia tanam. Hasil manis yang akan ia dapatkan atas kerja kerasnya walau hanya berupa senyuman sederhana, Dirinya sudah merasa cukup. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada itu semua.
'Seharusnya aku membawa Arthuria bersamaku dalam perjalanan kali ini.' Pikirnya. Perjalanan ini sangat sepi hanya ada suara angin yang terdengar di sepanjang jalan, Jika bersama dengan seseorang setidaknya siapapun itu dirinya akan mendapatkan teman untuk mengobrol. Kemarin dirinya menugaskan Arthuria untuk berkeliling wilayah Namikaze dan juga semua wilayah bangsawan yang melayaninya dan karenanya, Naruto tidak membangunkan gadis itu.
Naruto yang berkeliling mengenakan pakaian kerjanya berupa kemeja bercampur jas berwarna hitam membuatnya terlihat sangat tampan dijalanan. Dan sekarang tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah wilayah pelatihan prajurit dan juga barak pusat yang berada di barat wilayah Count Yamanaka.
'Mungkin besok aku harus pergi ke kota pelabuhan Viscount Catina dan desa yang dipimpin Baron Sieg.' Pikirnya dan melanjutkan jalan menuju Barat, Tepat dipusat kekuasaannya.
*Skip Time*
Perjalanan dari wilayah Count Yamanaka tidak ada yang spesial. Hanya kekosongan yang menemaninya dan sedikit bernyanyi mengingat di kehidupan sebelumnya, Ia sangat senang dengan musik. Bersenandung ria di sepanjang jalan menikmati kehidupan yang ia rasakan saat ini dan tanpa terasa sudah sampai di wilayahnya sendiri.
Wilayah yang pada awalnya sepi seperti kota mati sekarang menjadi lebih hidup. Toko roti yang mulai membuka kembali usahanya, Para petani yang menjual hasil kebun dan juga beberapa prajurit yang berpatroli di sepanjang jalan dapat ia lihat. Beberapa orang saling bercengkrama dan tertawa saat saling jumpa, Anak-anak bermain tanpa merasakan ketakutan dan berteriak kelaparan dan tidak ada lagi orangtua yang menguburkan anaknya dengan hati yang terluka. Dan itu semua menjadi bukti kalau dirinya sudah berhasil membuat wilayah ini menjadi normal seperti sedia kala dan membuktikan ucapannya pada hari itu.
"Naruto-sama!" Naruto yang termenung tiba-tiba tersadar karena suara seorang anak kecil yang memanggil namanya penuh dengan kekaguman. Beberapa orang yang sadar dengan datangnya Naruto ke distrik perdagangan langsung mendekati Naruto dengan beberapa barang yang mereka bawa untuk di jual.
"Naruto-sama, Ambillah roti ini. Roti ini ku buat menggunakan tepung yang bagus, Tidak seperti roti-roti kebanyakan dan aku juga baru saja mengangkatnya dari panggangan."
"Naruto-sama, Kumohon ambilah sayuran ini. Karena anda yang memberitahu semua pengurus unthk menggunakan kotoran hewan ternak, Semua tanah menjadi subur dan sayuran yang dipanen terasa sangat segar daripada hasil panen sebelumnya."
Mendapatkan apresiasi seperti ini menguat Naruto kebingungan. Dirinya tidak menyangka kalau orang-orang akan memberikan sanjungan dan juga hadiah setelah apa yang ia lakukan beberapa tahun yang lalu. Memainkan opini publik memang salah satu permainan sehari-hari seorang pemimpin dalam mengurus wilayahnya namun dirinya tidak menyangka bahwa akan seperti ini hasilnya. Seakan-akan semua orang melupakan kesalahannya pada masa lalu dan mencoba untuk mempercayai kalau Naruto tidak bersalah.
"Daripada memberikannya kepadaku bukankah sebaiknya menjualnya agar kalian menikmati hasilnya juga?" Tanya Naruto, Pemuda itu tidak habis pikir namun jawaban yang diberikan salah satu orang di kios dagang membuatnya menutup mulutnya rapat-rapat.
"Bukankah itu terlalu kecil untuk anda? Anda sudah memperbaiki wilayah ini, Memberikan pendidikan tanpa biaya, dan juga menjamin keamanan kami dengan prajurit-prajurit yang berpatroli setiap hari di semua wilayah..." Ucap pria itu dengan senyum di wajahnya, Lalu ia melanjutkan, "... Anak ku juga mengikuti seleksi Drake Corps yang anda buat setelah pengumuman rekrutmen dan rakyat biasa boleh ikut mengabdi pada anda."
"Itu Benar, Tuanku. Kami melakukan semua ini bukan semata-mata membalas kebaikan anda tapi karena kami ingin anda merasakan apa yang sudah anda berikan kepada kami..." Ucap seorang lagi. Pria itu adalah seorang pedagang yang memang tidak meninggalkan wilayah ini mau separah apapun itu, Seorang Pria baik yang menurunkan harga jual barang tanpa memikirkan keuntungan. "... Kebaikan akan selalu dibalas dengan kebaikan, Tuan. Bukan begitu?"
Orang-orang bersorak dengan penuh suka cita. Namun selama disitu ada cahaya maka kegelapan akan selalu ada dan dimana ada suka maka disitu ada duka. Naruto tau fakta tersebut karena apapun yang ia lakukan, Kedua hal tersebut tidak akan pernah berubah selama manusia masih ada.
Di sebuah gang terlihat sesuatu sedang mengais sampah. Ekornya melambai kesana kemari karena senang bahwa dirinya menemukan sesuatu untuk dimakan. Tidak ada yang tahu tentang keberadaan sosok tersebut dan tidak ada yang peduli pada sosok tersebut. Dan akhirnya sosok itu menghilang dalam gang tersebut menuju ke arah hutan dan semua yang dilakukan sosok itu terlihat dengan jelas di mata Naruto.
'Sialan!' Dirinya tidak menyangka masih ada saja orang yang tidak mendapatkan kebahagiaan. Melihat sosok itu mengais makanan dari tempat sampah membuat hatinya seakan teriris bilah tajam membuatnya mengingat masa lalu yang tidak mau ia ingat lagi.
Setelah berpamitan dengan penduduk dan mengucapkan terima kasih atas pemberian mereka semua, Langkah kaki Naruto membuat dirinya mengikuti sosok itu. Memasuki hutan dengan kuda yang ia tubrub tuntun dan ditangannya yang lain ada hadiah dari semua orang yang ia terima. Saat sampai disebuah gubuk kumuh yang terbuat dari kayu-kayu lapuk sorot matanya berubah menjadi sendu. Gubuk itu tidak dapat menjamin keselamatan penghuninya seakan-akan gubuk itu dapat runtuh kapan saja.
Mengaitkan tali kekang kuda pada sebuah batang poton dan berjalan mendekati gubuk itu dengan langkah kaki yang sangat senyap. Bangunan itu sangat buruk dan banyak celah-celah di antara dinding kayunya. Dirinya tidak dapat membayangkan bagaimana 'Sesuatu' yang ia lihat sebelumnya melewati malam yang dingin dengan semua celah di dinding gubuk ini.
Mencoba mengintip melalui celah itu menjadi keputusan yang salah bagi Naruto. Matanya melebar karena terkejut dengan apa yang ia lihat! Seorang anak kecil, Berusia 10 atau 12 tahun menckbq memberikan makanan yang ia kais dari tempat sampah pada seorang wanita. Anak itu terlihat memiliki ekor dan telinga yang terlihat mirip dengan serigala begitu juga sosok dewasa dihadapannya.
"Ibu, Kumohon makanlah ini." Ucapan yang sarat akan kesengsaraan menusuk telinga pemuda itu. Sampah! Itu adalah sampah! Kenapa orang-orang wilayah ini tidak menyadari keberadaan mereka dan menolongnya? Dirinya sudah tidak tahan! Tidak ada lagi orang-orang yang harus menderita karena ulahnya.
Brak...
Pintu masuk bangunan itu terbuka dengan paksa dan membuat bangunan itu bergetar. Melihat Naruto yang berdiri di depan pintu masuk membuat bocah sedikit waspada dan mencoba melindungi sosok dibelakangnya dengan sebuah belati. Namun tiba-tiba tangan gadis itu bergetar dengan air mata yang terbendung di pelupuk matanya. di tangannya namun walaupun begitu tampak air mata yang masih terbendung di pelupuk matanya.
"Kumohon, Jangan sakiti ibu ku!" Ucap bocah itu dengan suara paraunya dan hal itu berhasil membuat Naruto terluka. Pakaian yang lusuh, Kotoran dan juga debu menempel di wajahnya dan juga bau yang menyengat di gubuk ini membuat Naruto sadar kalau wanita itu jatuh sakit karena penyakit yang disebabkan bakteri.
"Tenanglah, Aku hanya ingin membantu jadi turunkan belati itu. Percayalah padaku." Ucap Naruto seraya dirinya berjalan mendekati ibu dari bocah itu. Tatapan prihatin Naruto keluarkan saat melihat 'makanan' yang di pungut dari tempat sampah tadi dan menendangnya hingga makanan tersebut tercecer di lantai.
"Apa yang kau lakukan! Itu adalah makanan untuk ibu! Ibu sud-mpph..."
Ucapan gadis kecil itu terhenti saat merasakan sesuatu yang lembut, harum, dan juga terasa sedikit manis memasuki indra penciumannya. Tanpa banyak omong gadis itu melihat ke arah mulutnya dan sebuah roti yang sangat besar memanjakan matanya.
'Ini bukanlah sampah yang biasa aku makan! Rasa ini...' Air mata mengalir dengan deras saat anak itu terus menerus memakan roti dengan senyuman di wajahnya dan Naruto juga mengulas senyum di wajahnya. Itu juga mengingatkannya saat Mayor Kushina, Ibunya, memberikan Chocolate Bar saat pertama kali bertemu dengannya.
Kedua tangannya mencoba mendudukkan wanita dewasa itu dan saat dirinya memegang bagian pundak, Suhu hangat yang menyengat telapak tangannya membuat Naruto sedikit terkejut.
'Sudah ku duga.'
Tanpa banyak bertanya Naruto mencoba untuk membopong wanita itu dan membawanya menuju kediamannya. Semua yang ia lakukan semata-mata hanya karena rasa bersalah atas semua kesalahan yang ia lakukan sebelumnya. Namun sayangnya, Naruto tidak mengetahui kenyataan kalau Beastman adalah budak. Bukan budak secara personal melainkan seluruh ras dan peraturan ini sudah mengalah di seluruh kerajaan yang tersebar di benua ini. Semua karena anggapan kalau Beastman adalah keturunan monster dari Abbys Crack yang berhasil di usir dari tanah ini.
Namikaze's Mansion
Di mansion seorang gadis berambut kuning baru saja terbangun dari tidurnya beberapa saat yang lalu. Dirinya sendiri tidak menyangka jika tuan yang ia layani sudah menyelesaikan semua tugas yang harus ia kerjakan. Dan setelah bertanya pada penjaga, Dirinya tahu kalau Naruto pergi berjalan-jalan setelah mengambil kuda dari kandangnya.
Beberapa saat kemudian, Dirinya mendapatkan kabar kalau Count Alucard sudah sampai bersama dengan Gabriel dan juga Uriel. Untuk Count Alucard dirinya sudah tau kalau pria tersebut memiliki urusan yang harus dibahas namun Gabriel dan Uriel? Mungkin hanya akan mengganggu seperti terakhir kalinya.
Krieet...
Suara pintu yang terbuka membuat Arthuria mengalihkan pandangannya. Tiga orang yang terdiri dari dua laki-laki dan juga seorang perempuan memasuki ruangan tersebut. Ruangan yang menjadi ruang kerja dari Naruto. Gadis itu langsung berlari saat melihat Arthuria yang sedang duduk merapihkan meja kerja Naruto.
"Arthuria Nee-sama, Katakan padaku dimana Nii-sama?!"
Dapat Arthuria lihat sorot mata penuh kekhawatiran terukir dengan jelas di wajah gadis berambut Soft-yellow itu. Namun seketika Arthuria mengabaikan gadis tersebut karena sudah terbiasa dengan tingkah lakunya. Gabriel, Dirinya sudah mengenal gadis itu semenjak mengikuti Kushina dan karenanya dirinya pun tahu jikalau Gabriel selalu menyayangi Naruto.
Arthuria lalu mengalihkan pandangannya pada seorang pemuda yang sedang memikat keningnya. Wajah pemuda itu terlihat sangat kesulitan dengan tingkah kakaknya dan melihat itu membuat Arthuria mengulas senyum di wajah cantiknya. Pemuda itu adalah Uriel, Dirinya sudah lama tidak bertemu dengannya dan dirinya juga tidak menyangka jika sekarang bocah paling berisik sudah tumbuh menjadi seorang ksatria yang gagah dan penuh wibawa.
"Maafkan aku, Gabriel. Namun semenjak pagi hari Lord Naruto sudah tidak berada di mansion ini dan aku juga tidak tau diman..."
Brak...
"Arthuria! Siapkan sebuah kamar sekarang! Seseorang perlu bantuan dan perintahkan Touwa untuk membawakan air hangat dengan kain kain bersih, Segera!"
Sebelum Arthuria menyelesaikan ucapannya, Seseorang membuka pintu dengan paksa hingga membuat seorang terkejut karenanya. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Naruto namun ekspresi Arthuria seketika mengeras saat melihat seorang Beastman yang Naruto bawa dipundaknya. Apakah Naruto bermaksud menolong Beastman tersebut?
"Naruto-sama, Apakah anda lupa jika seluruh ras Beastman adalah budak?"
TBC
Author's Note
Hai semua, Apa kabar? Ku harap sehat dan kita semua dijauhkan dari Omicron, Amin!
Baik, Mari bahas review kalian.
For Labut : Yah, Memang kenyataan kalau akun lama saya tidak dapat di akses namun bukan masalah lupa password atau apa namun karena handphone yang saya gunakan hilang entah kemana.
For Labut : Saya tidak merasa ada yang janggal di Chapter 2 ataupun chapter 3 karena dari chapter 1-10 tidak akan ada yang berubah kecuali Typo dan beberapa bagian yang saya buat menjadi lebih jelas dari versi awal. Dan untuk urusan Word, Ayolah untuk chapter 5 kemarin saya sudah menambah Word yang pada awalnya hanya berjumlah sekitar 4800Word menjadi 5800+! Dan kali ini di Chapter 6 berjumlah 5300+ (Tanpa memasukkan Author Notes)
For Unlimited List Works : Terima kasih sudah mendukung saya dan memang kenyataannya akun lama saya tidak bisa digunakan. Account Recovery? Mungkin akan saya pikirkan jika tidak menggunakan persyaratan Gmail.
Dan untuk kalian semua Reader maupun Silent Reader yang tidak meninggalkan Review : SAYA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH KARENA SUDAH MENYAMBUT SAYA! DUKUNGAN KALIAN SEMUA MENJADI BOOSTER BAGI SAYA UNTUK MELANJUTKAN STORY INI.
Dan maaf karena terasa lama untuk update story ini, Karena kesibukan di Real Life terlalu banyak. Namun saya tetap udahan untuk menyicil Word guna melanjutkan kelanjutan story ini.
Dan haruskah saya membuat Facebook pribadi untuk akun SETSUNAZ1 agar kalian bisa melihat ilustrasi yang akan saya gunakan kedepannya?
Silahkan Review dan tinggalkan jejak
Salam, SetsunaZ1
