SetsunaZ1 2.0 Present

Disclaimer :

Naruto ©Masashi Kishimoto

HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi

Chapter 7 : Equality

Perbudakan adalah sebuah tindakan antara dua belah pihak yang salah satunya kehilangan haknya. Beberapa Perbudakan pernah tertulis di sejarah manusia di bumi dan itu juga ada di catatan tertua manusia yang tertuang dalam Code of Hammurabi dalam kisah Epic of Gilgamesh. Perbudakan pada saat itu mengakar bagaikan kebudayaan dan merujuk pada suatu lembaga yang berdiri sendiri dan merupakan hal yang umum bagi bangsa-bangsa kuno seperti Sumeria, Mesir kuno, Akkadia dan beberapa suku yang ada pada zaman tersebut.

Kemudian pada Peperangan Bizantium-Utsmaniyah dan juga peperangan Utsmaniyah di Eropa mengakibatkan pengambilan sejumlah besar budak dari agama kristiani. Kemudian perbudakan menjadi hal umum di sebagian besar negara Eropa, Inggris, Arab, Spanyol dan juga beberapa negara kecil di Afrika memiliki peran besar dalam perdagangan budak atlantik.

Kemudian adakah perbudakan di zaman modern setelah perang dunia kedua? Jawabannya ada! Pada Perang Saudara Sudan Kedua yang terjadi dari 1983 sampai tahun 2005 menjadikan warga sipil sebagai budak meskipun pada akhirnya di kriminalisasi pada tahun 2007 dan sekitar 600.000 orang tak memandang gender menjadi korban tak terkecuali anak-anak.

"Naruto-sama, Apakah anda lupa jika seluruh ras Beastman adalah budak?" Itu adalah pertanyaan yang teramat konyol dan baru kali ini ia mendengar hal tersebut. Pertanyaan yang teramat berat keluar dari mulut teman masa kecilnya itu. Bukan hanya perorangan ataupun kelompok yang menjadi budak melainkan suatu ras! Dirinya sendiri tidak dapat berfikir berapa banyak orang yang menderita karena pemikiran konyol di dunia ini.

"Arthuria?"

"Mungkin anda lupa namun semenjak Great Abbys War seluruh kerajaan di Benua ini setuju untuk menjadikan ras Beastman sebagai budak. Apakah anda lupa?" Tanya Arthuria. Wajah gadis itu terlihat datar dan juga kata-kata yang dikeluarkannya terkesan dingin untuk Naruto.

"Apa maksudmu! Apakah kamu tidak berfikir kalau mereka juga sama-sama hidup di dunia ini. Lagipula siapa orang bodoh yang mengeluarkan wewenang ini, Hah? Katakan padaku!" Wajah Naruto terlihat sangat merah karena menahan amarah yang sedang ia rasakan. Belum lagi melihat wajah Arthuria dihadapannya membuat Naruto sangat marah saat ini.

"Mereka adalah keturunan Magic Beast dari Abbys! Apakah anda tidak berfikir kalau mereka sudah sepantasnya menjadi budak karena kekalahan dalam perang?" Tanya Arthuria yang tidak kalah sengit dengan Naruto dan seketika tensi ruangan itu menjadi sangat berat. Walaupun keberadaan Gabriel dan juga Uriel sebagai tamu tidak mereka hiraukan karena amarah yang ada di dalam diri keduanya.

"Lalu bagaimana jika kita semua kalah dalam perang tersebut? Apa yang terjadi jika Vasco Strada tidak muncul pada hari itu! Kerajaan, Bangsawan dan apapun yang ada di benua ini akan menghilang dan menjadikan benua Barat sebagai benua iblis! Jangan karena leluhur mereka melakukan sebuah kesalahan bukan berarti keturunannya harus menanggungnya!" Ucap Tegas Naruto yang semakin menjadi jadi. Tidak ada yang berniat melerai mereka berdua bahkan untuk anak Beastman yang Naruto selamatkan sedang bersembunyi di balik tubuh pemuda itu.

"Tapi tetap saja!"

Sreet... Prank...

Setelah mendengar perkataan Arthuria, Emosi Naruto meledak dan dengan tiba-tiba mencabut pedang yang ada dipinggang Uriel dan membantingnya ke lantai tepat dihadapan Arthuria.

"Jika keturunan menanggung kesalahan yang disebabkan leluhurnya itu benar. Ambil perang itu dan bunuh anak-anak bangsawan yang ada di gereja! Aku mencabut keputusanku atas anak-anak itu." Mendengar itu membuat Arthuria terkejut atas perintah tersebut. Membunuh anak-anak dan juga bayi akan mengotori harga dirinya sebagai seorang Ksatria!

"Tapi..."

"Kau tidak sanggup? Harga dirimu sebagai seorang ksatria mengatakan kalau itu semua salah, kan? Sama dengan diriku! Harga diriku sebagai seorang Ksatria, Sebagai seorang Magician dan sebagai Lord, Mengatakan kalau semua ini salah! Pemikiran terbelakang yang terjadi di seluruh benua ini harus diubah!" Ucapnya. Naruto saat ini sangat marah dengan apa yang terjadi. Dirinya sendiri tidak tahu jika perbudakan adalah hal yang lumrah di dunia ini dan karenanya tatanan di dunia ini harus ia ubah.

"Naruto-sama..." Suara halus seseorang memasuki pendengaran pemuda itu dan saat ia menolehkan kepalanya, Seorang maid berambut biru sedang memegang sebuah nampan dengan mangkuk yang berisi air hangat dan handuk bersih di sebelah handuk tersebut. Nafasnya tersengal dan itu tidak lepas dari pandangan Naruto hingga ia bisa sedikit tenang dan akhirnya tersenyum saat berjalan mendekati gadis itu.

"Terima kasih, Touwa..." Ucapnya seraya mengelus pucuk kepalanya dan untuk gadis tersebut, Elusan itu seakan melepaskan semua lelah yang ia rasakan. "... Aku minta maaf tapi bisakah kau urus wanita itu dan anaknya juga sekaligus?" Tanya Naruto dan Touwa hanya menganggukkan kepalanya dan pergi menuju kamar kosong di mansion tersebut.

Menolehkan kepalanya ke arah rombongan tamu dan kemudian ia berkata, "Gabriel, Uriel, Adik-adik ku. Terima kasih karena sudah menjenguk ku. Kalian pasti lelah, bukan? Istirahatlah dan besok kita bisa berbincang setelah sekian lama. Earl Alucard juga istirahatlah, Aku yakin anda lelah karena perjalanan panjang."

Mendengar itu membuat mereka semua paham jika Naruto merasa tidak enak dengan apa yang terjadi tadi dan semacam pesan tersirat untuk meminta maaf karena kesalahannya. Paham akan hal tersebut, Mereka bertiga undur diri dan berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan Earl Alucard yang mengambil inisiatif untuk menggendong Demi-human yang sebelumnya Naruto bawa.

Sekarang di ruangan itu hanya ada Naruto dan Arthuria. Keduanya hanya diam tanpa memandang satu sama lain seakan-akan batin keduanya melakukan kontak satu sama lain.

Puk...

Merasakan sesuatu menepuk pucuk kepalanya, Arthuria sedikit mendongak dan yang ia dapati adalah wajah Naruto yang sedang tersenyum kearahnya. "Kau tidak perlu menyesali tindakanmu, Arthuria. Aku tidak kecewa ataupun marah kepadamu, Aku hanya marah kepada Kingdom alliance yang membuat peraturan seperti ini dan kecewa kepada seluruh manusia yang memiliki pemikiran terbelakang." Ucapnya seraya mendekap tubuh Arthuria di dalam tubuh tambunnya. Kehangatan yang Naruto berikan akhirnya dapat melelehkan dinginnya sikap temannya itu sampai isakan kecil terdengar dan tangisan penyesalan pecah membasahi pakaian yang ia kenakan. Pada saat itu Naruto sadar jika temannya ini, Hanyalah seorang gadis biasa yang masih bisa menangis karena kesalahan kecil yang ia buat. Dirinya juga tidak merasa aneh karena dalam keluarga Pendragon, Keluarga yang menjunjung tinggi kode etik seorang ksatira, Apa yang Arthuria lakukan sebelumnya adalah 'Tabu' dan mencoreng kebanggaan setiap Ksatria yang ada di benua ini.

"Hei Hei... Tidak perlu menangis, Arthuria. Sudah sewajarnya kau merah dengan apa yang kulakukan, Namun untuk kali ini biarkan diriku egois, Hanya untuk kali ini. Aku bersumpah akan menghapuskan rantai perbudakan di wilayah ini..." Ucap Naruto, Suaranya sangat halus dan penuh dengan kasih sayang saat mengatakan kata-kata tersebut kepada Arthuria. Namun tidak ada yang mengetahui jika wajah yang ia keluarkan saat ini sangat amat menyeramkan. Wajah seseorang yang memiliki ambisi kuat, Wajah seseorang yang akan melakukan apapun yang menurutnya benar dan Wajah seseorang yang terlihat penuh dengan kelicikan atas semua rencana yang akan ia lakukan. Bagaikan jurang yang tidak akan pernah terlihat dasarnya dan saat kau menatap jurang tersebut, Jurang itu akan menatap mu kembali. "... Aku akan melakukannya walaupun menjadi musuh Kekaisaran bahkan dunia sekalipun."

"Tidak di bumi, Tidak juga di dunia ini. Perbudakan pasti akan selalu ada tidak peduli masanya."

Setelah berbaikan dengan Arthuria dan menyerahkan tugasnya kepada Arthuria, Saat ini Naruto sedang berjalan ke arah timur laut, Dekat dengan Marquess Uchiha Territory. Di sana terdapat sebuah wilayah seorang bangsawan dibawah kepemimpinannya, Wilayah seseorang yang dapat ia sebut kakak karena merupakan anak asuh ibunya yang juga menjaganya sedari kecil.

Perjalanan yang lumayan panjang karena memakan waktu setengah hari dan ia sampai saat matahari hampir terbenam. Sunset kemerahan terlihat sangat indah di tempat tersebut karena hampir semua wilayah tersebut berbatasan dengan Soaring Sea.

"Anda sudah sampai, My Lord?"

Suara itu adalah suara seorang gadis berusia 20-an yang datang menyambut dirinya di depan pintu masion yang ia tempati. Gadis cantik dengan rambut putih yang menjuntai hingga bokongnya. Gadis itu mengenakan gaun yang senada dengan warna rambutnya yang menambah kecantikannya.

"Kau tidak perlu menyambutku, Catina Onee-sama." Ujarnya. Catina Roseline, Viscountess yang berkuasa atas wilayah yang ia singgahi saat ini. Wilayah ini tidak ada yang spesial selain pemasukan dari para nelayan yang merupakan penduduk di wilayah ini. Tidak ada yang lain kecuali memperdayakan hasil laut untuk menghidupi keluarga mereka.

"Masuklah, Kau pasti lelah. Bersihkan tubuhmu lalu kita makan malam, Biar aku yang memasak untuk adik kecil ku ini fufufu~" Ucapnya di akhiri dengan cekikikan khas yang membuat wajah Naruto sedikit memerah karena sedikit malu dengan apa yang dilakukan gadis itu. Jujur saja, Dari apa yang ia ingat, Namikaze Naruto selalu manja kepada gadis ini dan karenanya Naruto jijik pada dirinya sendiri.

"Kak, Setelah makan malam ada hal yang ingin ku diskusikan." Ucapnya dan Catina yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan tersebut. Naruto yang melihat itu hanya diam dan membawa kuda miliknya ke arah kandang lalu berjalan masuk ke arah mansion melewati pintu belakang.

Setelah beristirahat sejanak, Mandi dan kemudian makan malam, Naruto saat ini bersama Catina di dalam ruang kerja Viscountess tersebut. Cahaya dari lampu temaram menemani keduanya yang sedang berdiskusi.

"Jadi, Dari penjelasanmu, Dapat kusimpulakan bahwa kau ingin menjadikan wilayah ini menjadi pelabuhan perdagangan antar benua?" Tanya Catina dan Naruto hanya menganggukkan kepalanya. Dari apa yang sejarah katakan, Terdapat sebuah kerajaan yang sangat ditakuti karena menjadi pelabuhan perdagangan antar benua di bumi. Bukan karena takut kehilangan lokasi jual-belinamun karena kekuatan militer mereka yang sangat ditakuti di atas lautan.

"Benar, Dengan menjadikan wilayah ini sebagai sebuah pelabuhan dagang maka tidak menutup kemungkinan kalau pajak yang dikumpulkan akan sangat membantu wilayah ini lebih maju. Lalu dampak untuk rakyat di wilayah ini, Mereka dapat melakukan transaksi dari apa yang mereka peroleh dari laut, Makanan laut untuk para pelaku yang berlabuh, Kerajinan tangan sebagai oleh-oleh dan mungkin menjadi pekerja bongkar-muat barang di pelabuhan, Dengan begitu roda perekonomian akan tetap berjalan." Mendengar itu, Catina menjadi lebih bersemangat dan Naruto dapat melihat itu semua. Catina bukanlah orang yang menjadi semangat hanya karena mendengar uang namun semangat untuk melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati, Semakin banyak pekerjaan semakin ia senang, Dengan kata lain dia adalah seorang Workaholic.

"Tapi dengan banyaknya orang yang melakukan tindakan jual-beli bukankah tidak menutup kemungkinan adanya bajak laut?" Tanya Catina yang saat ini sedang kebingungan. Ini adalah kali pertama untuk dirinya mempelajari ilmu tentang pengembangan wilayah dengan menggerakkan sektor kemaritiman, Tentu saja dirinya harus memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi dan bajak laut tidak salah satunya. Pembajakan pada kapal pedagang sering terjadi bahkan di bumi yang sudah menginjak masa Modern, Dan Naruto sudah memikirkan apa yang harus ia lakukan.

"Mudah saja, Gunakan anggaran wilayah untuk membuat angkatan laut. Angkatan bersenjata yang bergerak dilautan, Lalu menjamin keselamatan pedagang yang berjarak 300mil dari garis pantai kita, Dan terakhir sisihkan dana wilayah untuk situasi genting. Tidak sulit dan cukup mudah, kan?" Ucapnya dan Catina sendiri tidak dapat menutup mulutnya karena tidak menyangka jika Naruto sudah menjadi lebih pintar daripada sebelumnya. Mungkin kata pintar bukan kata yang tepat tapi adiknya ini sudah menjadi seorang pemimpin yang matang dan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Meninggalkan kedua saudara itu yang saling bercakap-cakap, Sekarang di mansion Namikaze sedang terjadi keributan. Bukan karena apapun melainkan karena hilangnya anak Demi-human dari kamarnya.

"Bagaimana Ikki?" Saat ini Arthuria sedang menyelidiki bersama dengan temannya yang sudah dilatih sejak kecil untuk menjadi pengawal Naruto, Ikki Kurogane, Sedang bersama dengannya.

"Maafkan aku..." Ucapnya dengan berat,"... Aku sudah mencari ke seluruh mansion ini dan tidak ada tanda-tanda yang aneh. Penculikan ataupun pembunuhan terhadap anak itu tidak dapat ku temui. Jujur saja, Arthuria, Aku dibuat kebingungan." Mendengar itu Arthuria tidak dapat berkata apa-apa. Memang benar jika kemampuan pelacakan Ikki memang tidak dapat diandalkan namun tetap saja, Seharusnya tidak susah untuk mencari keberadaan anak itu.

Semenjak kepergian Naruto petang tadi, Arthuria berusaha untuk memperbaiki kesalahan yang ia perbuat namun tiba-tiba Touwa yang diperintahkan untuk merawat Demi-human yang dibawa Naruto memberitahu kalau anak itu hilang entah kemana. Dengan sigap dirinya beraksi dengan cepat dan memerintahkan para ksatria untuk mencari keberadaan anak itu hingga malam semakin larut dan hasilnya Nihil. Tidak ada jejak sama sekali dan jika itu merupakan tindakan penculikan maka anak itu harusnya memberontak dan memberikan perlawanan namun ini tampaknya tidak seperti itu.

'Sebenarnya apa yang terjadi?' Arthuria yang kebingungan mencoba menenangkan pikirannya dan menoleh ke arah langit-langit. Namun seketika matanya membelalak karena tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat. Ia melihat seorang anak perempuan dengan ekor dan telinga seringala berwarna abu-abu sedang berdiri di pojok atas ruangan layaknya seekor predator yang sedang menunggu mangsanya lengah.

Anak itu tetap diam saat matanya bertemu dengan mata Arthuria. Ekornya bergerak kesana kemari seakan-akan mencoba mempermainkan mangsanya dan di mulut anak itu bertengger sebilah belati yang terlihat tumpul namun tidak menutup kemungkinan kalau dapat menyebabkan kematian jika belati itu mengenai organ vital tubuh manusia.

'Apa-apaan anak ini?'

Pagi menyingsing dari arah timur dan saat para pelayan dari Mansion Roseline belum terbangun dan menyapa dunia, Seorang pemuda sudah sibuk dengan latihan paginya yaitu mengitari Mansion Roseline. Keringat membasahi tubuhnya yang gempal, Nafasnya tak karuan karena beban yang diterima tubuhnya sangat besar dan lagi itu sangat menyiksa.

'Tidak pernah sekalipun aku tersiksa seperti ini dalam lari pagi.' Pikirnya saat berlari. Tidak ada yang spesial pagi hari itu dan semua berjalan sebagaimana mestinya walau beberapa pelayan yang bangun sedikit terkejut dengan penampilan Naruto yang menurut rumor beredar adalah seorang pemuda yang malas namun sekarang mereka percaya dengan desas desus dari Namikaze's Mansion yang mengatakan bahwa Naruto sudah mulai berubah.

Setelahnya Naruto melakukan upacara pagi yang sakral, Tentunya tanpa Maid yang membersihkan tubuhnya, Semua ia lakukan sendiri. Melakukan apapun sendiri adalah sebuah cara bagi seorang Naruto untuk tetap hidup dimanapun ia berada, Apalagi pamornya sebagai seorang pemimpin yang rusak akan berakibat pada dirinya sendiri yang menjadi target pembunuhan.

Setelah bersih-bersih pagi dan mengenakan pakaian bamgdawannya, Naruto serapan bersama Catina. Tidak ada yang spesial pada sarapan kali itu, Catina juga tidak membahas apa yang Naruto sampaikan semalam dan sudah memberikan tugas pada beberapa orang kepercayaannya untuk melakukan survei demi memuluskan rencana mereka berdua.

Dan saat ini Naruto sedang berada dalam perjalanan menuju suatu benteng yang berada di atas puncak gunung. Walau hari sudah mulai beranjak siang namun dirinya tetap saja kedinginan saat melewati hutan yang berada di kaki gunung tepat benteng itu berada. Beberapa bayangan hitam mengawasinya dari dalam kegelapan dan suasana mencekam membuat dirinya ketakutan saat menunggangi kudanya.

Kemana tujuan Naruto sampai-sampai dirinya sendiri merasa ketakutan? Jawabannya adalah tempat dimana orang-orang yang paling setia di sisi ibunya berada. Gunung Alborz yang memiliki pohon menjulang tinggi di kaki gunung membuat cahaya matahari kesulitan untuk menembusnya. Wilayah yang berada di Tenggara Viscountess Catina, Suatu tempat sunyi yang membuat siapapun merasakan kedamaian sejati saat berada di dalam hutan tersebut.

Beberapa saat kemudian akhirnya ia sampai di gerbang sebuah benteng. Benteng itu tidaklah kecil namun juga tidak besar hingga dapat menampung sebuah kota di dalamnya, Hanya perkampungan kecil yang menjadi base dari kelompok yang ditakuti dalam sejarah benua Barat. Markas dari orang-orang yang memiliki kecintaan yang buta pada tuhan yang mereka sembah dengan menghalalkan segala macam cara demi membunuh orang-orang yang lalai akan tugas mereka.

Bwushh...

Saat ia membuka gerbang benteng aliran angin menerpa wajahnya dan menerjang rambut kuning yang ia miliki. Seakan-akan penghuni kegelapan dalam benteng itu tidak suka akan kedatangan Naruto. Hassan adalah kelompok pembunuh yang sangat ditakuti karena metode yang mereka gunakan jauh dari kata manusiawi dan...

'Keyakinan yang buta pada tahun yang mereka sembah adalah masalah utamanya.'

Naruto sendiri tahu jika Hassan hanya memuja satu tuhan dan mereka semua tidak dapat membiarkan agama lain yang bersimpangan dengan keyakinan mereka. Maka dari itu, Vasco Strada, Raja sebelumnya, Memberikan benteng ini sebagai area khusus para Hassan memuja tuhan mereka. Dengan kata lain, Peraturan yang berjalan disini adalah peraturan yang mereka patuhi.

Dan saat ini, Dihadapan pangeran muda itu, Puluhan bahkan ratusan orang dengan pakaian berwarna hitam lengkap dengan semacam topeng untuk menutupi identitas mereka menghadang jalannya. Keadaan sekitar sangat sunyi karena suasana tiba-tiba menjadi mencekam. Ringkihan kuda dan juga kayu yang termakan api adalah suara yang dapat didengar dan kemudian terbawa angin.

"Hufft..." Pangeran itu menghela nafasnya dan kemudian mengeluarkan sebuah pedang yang berada di saddle kuda tepat di sampingnya. 'Aku tidak ingin melakukan ini tapi...'

"Hentikan!"

Deg...

Saat langkah kaki dan juga mentalnya sudah siap untuk menumpahkan darah di dalam benteng ini, Suara seseorang menghentikannya. Suara itu sangat berat dan juga tekanan yang datang bersama dengan suara tersebut sampai membuat Naruto terdiam ditempat. Seakan-akan itu adalah perintah absolut dari seseorang dengan kekuatan yang dapat mengendalikan kematian.

"Ada keperluan apa sampai-sampai pemimpin dari Duchy Namikaze datang ke benteng ini." Suara berat khas pria tua mulai terdengar di ikuti suara tapak kaki dan dari dalam kegelapan bangunan paling besar di benteng tersebut, Api berwarna biru terlihat berkobar. Tekanan yang dikeluarkan sosok itu tidak main-main seakan-akan membuat seseorang dapat melihat kematian paling menyakitkan yang akan mereka alami jika mencari masalah dengan sosok tersebut.

Disana, Tepat di pintu masuk, Sesosok manusia yang mengenakan topeng tengkorak sedang berdiri menatap dirinya. Tubuhnya yang tinggi terlihat sangat gagah dengan beberapa armor yang melindungi tubuhnya di balik jubah hitam itu. Pedang besar yang sosok itu bawa seakan-akan sudah mencicipi darah dari ribuan makhluk yang menjadi korbannya. Raja para Assassin, Hassan-I-Sabbah, Bertemu dengan Namikaze Naruto.

Keduanya hanya diam dan tidak ada yang mencoba untuk mengalah. Namun sosok itu hanya mendengus lalu mengajak Naruto masuk setelah ia berkata, "Ikuti aku.". Mendapat respon seperti itu dari pemimpin para Hassan membuat Naruto sedikit was was karena dari apa yang ia pelajari bahwa dunia ini semacam dimensi alternatif dari Bumi bahkan para Hassan pun ada di dunia ini. Dan karena itulah dirinya sendiri was was, Karena yang ia tahu bahwa para Hassan adalah kelompok yang sangat kejam dan tidak manusiawi.

Mengikuti Hassan-I-Sabbah, Naruto memasuki sebuah ruangan yang sangat besar dengan sebuah kursi yang berada di ruangan tersebut. Ruang tahta, Ini adalah ruangan tempat dimana Hassan-I-Sabbah memerintah sebagai King Hassan, Raja para Hassassin.

"Jadi ada keperluan apa sampai kau datang kemari?" Tanya King Hassan saat ia sudah duduk di tahta miliknya. Raja itu dapat melihat apa yang tidak dilihat orang lain dan memiliki telinga dimana-mana maka dari itu kebohongan tidak akan berguna dihadapannya. Terlebih lagi, King Hassan tidak menyukai kebohongan bahkan ia akan membunuh bawahannya sendiri jika diketahui berdusta.

"Kedatanganku kemari tidak bermaksud untuk mengganggu anda ataupun para Hassan. Kebijaksanaan anda sudah terdengar hampir keseluruhan benua barat maka dari itu saya datang kemari untuk meminta pendapat dan juga arahan dari anda..." Ucapnya dan karena ucapan tersebut juga King Hassan menunjukkan ketertarikan kepadanya. Tidak ada yang dapat Naruto lakukan untuk saat ini bahkan jika ia memulai konfrontasi sekalipun maka kematian akan menjadi akhirnya, Maka dari itu ia hanya bisa diam di bawah tekanan dari sosok King Hassan.

"Menghapuskan perbudakan Beastman yang sudah terjadi selama setengah abad di benua ini..." Ucap King Hassan dan dengan kehendaknya api biru muncul entah dari mana. Api itu sangat tenang dan berkobar dengan pelan di hadapan Naruto namun dengan kehendak King Hassan, Api itu mulai membentuk makhluk hidup. "... Beastman sudah ada bahkan sebelum pecahnya Abbys di wilayah ini. Mereka adalah penduduk asli di wilayah ini namun karena pencemaran Dark Mana dari Abbys harus membuat mereka bermigrasi menuju Romanova Empire."

"Dan Karena perang berkepanjangan membuat orang-orang melakukan penuduhan pada Beastman dan mulai menganggap Beastman sebagai keturunan monster Abbys. Jadi itulah kenyataannya?" Tanya Naruto yang sadar akan maksud yang coba di sampaikan King Hassan. Jadi selama ini mereka tinggal di kampung halaman ras yang mereka anggap budak? Mengetahui fakta tersebut mau tidak mau membuat Naruto menggertakkan giginya.

"Rasa takut akan membuat semua manusia kehilangan akal mereka dan karena hal tersebutlah pola pikir masyarakat benua barat berubah. Dan kau, Bangsawan dari salah satu kerajaan terkuat di benua barat, Mengatakan akan menghapuskan perbudakan Beastman?" Mendengar itu membuat Naruto menjadi sangat kesal. Dirinya diremehkan dan lagi kenapa orang yang terkenal akan kebijaksanaan yang dimilikinya bertindak seperti ini. Jujur saja, Kecewa rasanya saat realita berbeda dengan ekspetasi yang dimiliki.

"Seharusnya sebagai pemimpin kau tidak hanya melihat apa yang ada di depanmu! Lihatlah apa yang ada dibelakangmu! Apa yang harus kau lindungi!" Mendengar ucapan pedas tersebut, Akhirnya Naruto tersadar. Dirinya saat ini sangat lemah untuk menantang dunia dan tidak menutup kemungkinan kalau semua kerajaan akan mengarahkan pedang mereka ke arah wilayahnya.

"Tapi... Bukankah sebagai pemimpin aku harus melindungi rakyatku! Dan Beastman juga adalah rakyatku!" Walau terdengar naif namun Naruto mengerti apa yang ja inginkan. Tidak peduli apapun yang akan terjadi dirinya harus memenuhi ucapan yang ia keluarkan dari mulutnya.

"Namun apa kau yakin dapat melindungi mereka semua? Jangankan melindungi ratusan rakyat yang masih berada di wilayah yang kau pimpin, Melindungi dirimu sendiri saja kau tidak akan bisa karena banyak tokoh dengan kekuatan yang tidak dapat kau bayangkan menunggumu, Nak. Kau memerintah dengan cinta dan rakyatmu menghirmatimu, Namun cinta juga akan menjadi pedang bermata dua saat musuh melihatmu sebagai mangsa yang empuk karena mereka melihat sisi lembut yang kau miliki."

Apa yang dikatakan King Hassan kepada Naruto benar adanya. Bahkan saat seekor anjing diberi makan dan dicintai oleh majikannya, Ada kalanya anjing tersebut dapat bertindak semena-mena karena sikap lembut majikannya, Begitu juga dengan apa yang akan terjadi pada Naruto. Sikap lembutnya dalam memerintah akan menjadi pedang bermata dua dan membawa kehancuran kepada rakyatnya.

Tak seorangpun ingin menjadi budak! Bahkan untuk makhluk dengan ras yang berbeda sekalipun. Pembayaran upeti, Perlakuan yang semena-mena dan hanya dianggap sebagai salah satu kesalahan dunia akan menjadi suatu penyesalan sepanjang hidup makhluk tersebut. Bahkan Naruto sendiri menyesal menjadi budak untuk negaranya dan karenanya ia sudah mengambil nyawa dari ribuan manusia saat diutus ke medan perang dan karenanya itu adalah penyesalan terbesar di hatinya.

"Ingat ini, Nak..."

"...Kemungkinan berarti harapan dan saat kau memberikan harapan kepada orang-orang yang berputus asa maka mereka akan memberontak melawan nasib mereka..."

Apa yang dikatakan King Hassan dapat membuat Naruto menutup mulutnya rapat-rapat. Dari kata-kata itu saja dirinya dapat paham jika wilayahnya akan terbagi atas dua atau tiga kubu jika dirinya bertindak seperti pemimpin dengan pemikiran idealis. Menjadi seorang pemimpin yang tegas dan miliki pemikiran Realistis adalah apa yang harus ia ambil untuk membenahi wilayah ini dan semua itu harus dimulai dari dirinya sendiri.

"Lalu, Apakah anda memiliki saran untuk saya?" Tanya Naruto, Selama ini dirinya menikmati apa yang ia bisa dan melupakan jati dirinya sendiri sebagai seseorang dari Kesatuan Militer Amerika. Tegas, Lugas, Dan juga tidak metolelir apapun dengan berdasarkan pada pemikiran yang tajam dan juga memprediksi apa yang akan terjadi kedepannya. Jika ia ingin mewujudkan impian semua orang, Ia harus kembali menjadi Naruto yang dulu, Ia harus menjadi 'Letnan Uzumaki Naruto' dan bukan 'Duke Namikaze Naruto'.

"Pertama, Asah kembali kemampuanmu. Seorang Lord dibagi menjadi dua jenis, Lord yang ditakuti musuhnya dan Lord yang dihormati penduduknya. Kau tidak perlu rasa takut untuk memerintah rakyatmu karena kau sudah dapat rasa hormat dari mereka namun untuk musuh mu, Kau harus menggunakan rasa takut dan dari semua itu, Mempermalukan musuhmu adalah jalan paling kejam dari sebuah pembunuhan." Ucapan King Hassan dapat Naruto tangkap dengan cermat dan jujur saja, Naruto sendiri sedikit kesal karena harus menyaring dan juga menemukan makna tersembunyi dari pada yang diucapkan orang dihadapannya ini.

"Aku selalu mengawasimu, Keturunan dari Uzumaki Kushina. Semenjak kau lahir bahkan sampai hari ini, Aku selalu mengawasimu. Semua yang kau lakukan semenjak kau sadar dari keadaan hidup dan mati, Membawa wilayah ini ke masa jaya. Bahkan beberapa tahun kedepan, Wilayah ini akan lebih berjaya dari masa pemerintahan ibu mu karena semua yang telah kau lakukan. Dan karenanya..." Tiba-tiba King Hassan bangkit dari Tahtanya dan berjalan mendekati Naruto. Kali ini tekanan yang ia rasakan menghilang dan kegelapan ruangan tersebut akhirnya sirna kala obor-obor dengan api biru menerangi kegelapan.

Dihadapan Naruto, Ratusan Hassan menundukkan kepalanya dan memberikan jalan untuk King Hassan berada dihadapan Naruto. King Hassan, Salah satu dari 10 Momok menakutkan di benua barat, Menundukkan tubuhnya dan bertumpu pada satu kaki dengan pedang yang ia persembahkan kepada Naruto.

"Aku, Hassan-I-Sabbah, Raja dari semua Hassassin, Memberikan sumpah setia ku kepada anda, Duke Namikaze Naruto. Kami bersiap untuk menjadi bayangan anda dan melindungi wilayah ini dari balik bayangan"

To Be Continue