SetsunaZ1 2.0 Present
Disclaimer :
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Chapter 8 :
Kerajaan Airia memiliki 3 pangeran yang menjadi 3 pilar penopang kerajaan tersebut. Namikaze Naruto, Michael Angel dan juga Gilgamesh, Tiga pilar yang menjaga kerajaan tersebut. Namun, Siapakah yang dinobatkan menjadi putra mahkota di antara ketiga putra tersebut? Jawabannya Tidak ada!
Walaupun ketiga pangeran tersebut adalah anak dari raja namun tidak serta merta membuat salah satunya dapat menduduki tahta raja. Menjadi Duke tidak serta merta membuat ketiga pangeran tersebut dapat mengambil hak suksesi atas tahta raja. Tidak ada yang tahu alasannya namun saat ini diriku tahu.
Para Hassan yang mengambil sumpah setia untuk melayaniku, Ku perintahkan untuk melakukan penyidikan dan yang ku temukan di dalam kegelapan kerajaan ini adalah sesuatu yang tidak seharusnya dipublikasikan. Politik yang korup, Perdagangan manusia, Rasisme, Kesenjangan antara 'Si Kaya' dan 'Si Miskin', juga fakta yang sangat mengejutkan sampai di telingaku.
Fakta yang mengatakan bahwa, Permaisuri Elizabeth Phoenix, Ratu dari Kerajaan Airia, Melakukan pembunuhan terhadap seorang wanita yang dapat ku panggil ibu, Ibunda Lily Angel. Tidak ada yang tahu akan hal tersebut bahkan untuk putra-putrinya sekalipun menerima kenyataan bahwa ibunda mereka meninggal dengan tenang tanpa penyesalan di dunia ini.
Ratu Elizabeth Phoenix, Wanita licik dari keluarga Phoenix yang melakukan berbagai cara agar anaknya menjadi putra mahkota dan dengan begitu, Dirinya dapat mengendalikan kerajaan ini dari balik layar. Tidak ada yang salah dari sudut pandangku, Karena manusia hanyalah makhluk yang diciptakan dengan emosi dan lubang pada hati mereka yang tidak akan pernah terpuaskan terlepas dari salah atau tidaknya cara yang mereka gunakan.
Mungkin saat ini aku masih lemah untuk melawan orang-orang yang ada dibelakang keluarga Phoenix namun tetap saja sudah menjadi tugas ku untuk menegakkan keadilan dengan caraku. Dengan atau tanpa bantuan dari saudara-saudara ku, Aku akan tetap melakukannya.
Bait demi bait kata yang tertuang pada buku kecil itu sangat ambisius terlepas dari wajah penulisnya yang menunjukkan amarah yang sangat besar. Bagaikan api yang akan membakar apapun dihadapannya!
Pandangannya teralihkan dari buku harian menuju sebuah figura foto. Bukan sebuah hasil cetakan dari kertas melainkan dari Memory Magic Cristal yang menampung beberapa orang di dalamnya. Wajah orang-orang itu tampak tersenyum bahagia dan diantara senyuman itu, Terdapat seorang anak berambut kuning yang tersenyum cerah layaknya mentari pagi.
"Elizabeth Phoenix..." Ucapnya. Suara itu tampak penuh akan kemarahan bahkan suara gemeletuk gigi terdengar dengan keras di dalam kamar pribadi pemuda itu, Tangannya gempalnya mengepal dan tampak kapalan tercetak di telapak tangannya sebagai hasil kerja kerasnya. "... Aku bersumpah, Demi apapun itu, Tuhan, Dewa, Iblis, Naga, Atau apapun jenis kepercayaan di dunia ini. Aku akan membalaskan perlakuan yang diterima ibunda dan juga ibunda Lily ratusan kali lipat dari apa yang telah kau perbuat."
[Useless]
Hari ini adalah hari yang cerah dan sedikit pekerjaan yang Naruto kerjakan karena roda ekonomi sudah mulai berjalan, Dibantu dengan keamanan yang mulai membaik dan juga tidak ada lagi perwakilan dari suatu desa mengeluh karena kurangnya bahan pangan untuk kehidupan mereka. Dan karena hal itulah Naruto memutuskan untuk bermain ke desa dibawah kaki gunung Alborz untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan pada desa tersebut.
Selama diperjalanan beberapa orang menyapa dengan senyum di wajahnya dan hanya melihat itu saja membuat Naruto senang. Senang bahwa hasil kerja kerasnya terbayarkan dengan melihat senyuman orang-orang, Senang karena tidak ada lagi anak-anak yang mengalami kelaparan sepertinya dan senang bahwa tidak ada lagi orang-orang yang ketakutan dalam hidup mereka.
'Sialan, Bukankah sudah ku katakan kalau aku dapat menjaga diriku sendiri.' Namun pikirannya berkemelut. Dari jauh dan juga dari balik kegelapan gang-gang kecil, Dapat Naruto rasakan kalau beberapa orang sedang mengawasinya. Dirinya bukanlah seorang Wizard yang memfokuskan sihir pendeteksi dan juga para Hassan bukanlah orang-orang yang ditakuti jika pengawasan mereka dapat dengan mudah diketahui.
Lalu apa jawabannya?
Pengalaman! Guru terbesar dalam hidup adalah pengalaman dan Naruto sudah merasakannya beberapa kali. Dirinya sendiri tidak tau bagaimana ia memiliki indra yang sangat tajam namun dirinya yakin kalau semua itu berkat pengalaman buruk yang ia alami di medan perang. Alhasil ketajaman indra miliknya menembus titik tertinggi yang dapat manusia gapai hingga disini ia dapat merasakan keberadaan para Hassan. Dirinya sendiri tau jika itu bukanlah salah satu dari 18 Petinggi Hassassin. Karena para Elder memiliki kemampuan yang tidak dapat digapai para Hassassin biasa.
'Risih rasanya jika di awasi dari kejauhan dan seperti merasakan kalau Sniper mengincar kepala ku namun tetap saja, Itu adalah rasa tanggung jawab mereka karena memberikan sumpah setianya.' Pikirnya, Walaupun apa yang ia katakan benar, Menurutnya, Tapi tetap saja Naruto berpura-pura tidak mengetahui keberadaan mereka. Ada aturan yang sangat ketat bagi para Hassan dan yang paling terkenal adalah Kegagalan seorang Hassansin dalam menjalankan tugas berarti sebuah kematian bagi dirinya. Dan dirinya tentu saja tidak ingin mengalami penurunan Jumblah tentara yang dapat ia gunakan sebagai sarana spionase.
Langkah kuda yang ringan membuat Naruto menikmati pemandangan sejuk berupa hamparan rumput dan beberapa pohon rindang dimana beberapa pedagang keliling beristirahat dan karena ketenarannya, Mereka menyapa Naruto yang merupakan bangsawan di wilayah ini. Hingga tak terasa pada tengah hari, Naruto sudah sampai di desa tujuannya. Desa itu berada di bawah kepemimpinan Viscountess Catina namun tidak ada seorang bangsawan dari strata Baron yang mengawasi desa tersebut.
Dapat ia lihat kalau desa itu menjadi lebih baik namun beberapa orang terlihat murung di beberapa gang-gang kecil. Tatapan itu, Naruto tau artinya, Keputusasaan! Apa yang membuat mereka semua dapat mengeluarkan pandangan seperti itu. Dan saat ia sampai di sebuah ruang kosong di tengah desa, Taman desa, Dapat ia lihat beberapa orang mengenakan armor yang terlihat tengah bersiap untuk menjalankan tugas. Dan dapat ia lihat salah satunya, Seorang pemuda berambut hitam berpadu sempurna dengan bahunya yang kokoh dan dipinggangnya tersemat sebuah pedang yang berbalut kulit binatang sebagai sarung pedang tersebut.
"Ikki?" Merasa ada yang memanggil namanya, Ikki mengalihkan pandangannya ke segala arah dan dapat ia temukan orang tersebut. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Naruto yang sedang berada di atas kudanya dengan ekspresi bertanya-tanya di wajahnya.
"Naruto-sama..." Ucapnya yang langsung pergi menuju Naruto dan langsung mengambil sikap ksatria, Dimana ia menundukkan kepalanya dihadapan Naruto.
"Kenapa kau dan juga regu mu ada disini?" Tanya Naruto dan Ikki langsung menjawab, "Kami diperintahkan Arthuria-sama untuk melawan kelompok bandit yang menurut laporan warga desa ini berada di dekat pegunungan. Menurut laporan ada sekitar 50 orang bandit dan juga 2 orang penyihir, Maka kami diperintahkan Arthuria-sama sebagai orang yang bertanggung jawab selain anda untuk melenyapkan gangguan tersebut."
Mendengar itu membuat Naruto sedikit kesal karena masih saja ada gangguan di dalam wilayahnya, Terlebih wilayah ini adalah bekas wilayah Count Lumine yang beberapa waktu lalu ia eksekusi, Dan karena kekosongan wilayah ini maka besar kemungkinan bahwa bandit akan tumbuh menjadi lebih besar.
"Lantas dimana pasukan penjaga dan juga Ksatria dari wilayah ini." Tanya Naruto dan Ikki hanya bisa diam karenanya. "Wilayah ini seharusnya memiliki Ksatria dan beberapa prajurit yang melindungi wilayah ini namun ia tidak dapat melihatnya semenjak memasuki wilayah ini.
"Na.. Naruto-sama, Maafkan saya! Sebenarnya para bandit tersebut adalah Ksatria dan juga prajurit Count Lumine. Entah karena apa, Namun mereka membelot semenjak eksekusi Count Lumine." Mendengar itu amarah Naruto mencapai puncaknya. Menurut apa yang ia baca tentang sejarah dunia ini, Sumpah seorang ksatria dibagi menjadi dua. Sumpah untuk melayani bangsawan yang ia layani dan juga sumpah untuk melayani suatu wilayah tertentu bahkan jika ia melayani seorang bangsawan, Ksatria tersebut akan lebih mementingkan kesejahteraan wilayah yang ia awasi.
'Namun seharusnya tidak seperti ini... Keturunan Count Lumine masih hidup dan berada di bawah pengawasan gereja dan juga wilayah ini masih ada jadi seharusnya mereka bisa menjaganya.'
Terlebih saat ini keadaan pasukan yang dibawa Ikki tampak kelelahan. Dirinya tidak melihat satupun kuda yang menemani perjalanan mereka dan dapat ia pastikan kalau semua prajurit berjalan dengan kakinya untuk mencapai wilayah ini. Setengah setengah hari untuk mencapai wilayah ini dan seharian penuh untuk mencapai wilayah ini dengan berjalan kaki, Terlebih armor yang dikenakan oleh prajurit maupun ksatria sangat berat hingga memakan stamina yang lebih besar daripada biasanya.
"Kalian baru saja tiba?"
"Ya tuan, Kami tiba beberapa saat sebelum kedatangan anda kemari." Jawab Ikki dan menimbang apa yang Naruto pikirkan maka jawabannya, "Beristirahatlah... Serahkan sisanya kepadaku. Selama sebulan ini kalian sudah membersihkan wilayah ini dan aku sangat berterimakasih, Jadi beristirahatlah dan anggap saja kalian sedang cuti untuk hari ini."
Naruto sendiri sadar jika dirinya memiliki kekurangan berupa mobilitas karena beban tubuhnya. Walaupun sudah melakukan latihan keras selama sebulan belakangan, tidak membuat tubuh Naruto berada di ukuran tubuh ideal namun dibalik kekurangan ada sebuah kelebihan. Dirinya adalah seorang penyihir, Yang mana penyihir adalah sebuah eksistensi tersendiri di dunia ini.
Mana adalah inti dari semua makhluk hidup bahkan seorang ksatria memiliki mana yang dapat mereka gunakan dalam kehidupannya namun penyihir sangat berbeda. Mereka adalah orang-orang terpilih yang sangat dicintai Mana itu sendiri hingga dapat membuat keajaiban dari kekosongan. Dan di dunia ini penyihir dibagi dalam beberapa jenis,
Pertama, Witch, Ini adalah jenis penyihir yang dapat mengendalikan mana dalam tubuh mereka yang merupakan mana kosong atau dengan kata lain Non-Element. Terkadang mereka dapat membalikkan sebuah hukum dalam dunia ini seperti hukum Gravitasi sebagai salah satu tingkat tertingginya dan beberapa di antara mereka melakukan penelitian dalam bidang Alchemy.
Kedua adalah Sorcerrer, Tipe Elemental dari seorang penyihir. Para Sorcerrer hanya diberkahi salah satu dari 5 elemen utama dalam kehidupan. Yah, Ambil saja contoh Pyromancer yang menjadi spesialis sihir api atau dalam kasus paling jarang terjadi adalah Necromancer yang mendapatkan berkah kematian.
Dan terakhir adalah Wizard, Penyihir yang paling jarang ada, Dengan perbandingan 1 : 100.000 dan penyihir yang sangat di puja sekaligus di takuti. Penyihir yang dapat menggunakan semua Element yang ada selama ia ingin mempelajarinya, Alchemy juga dapat ia pelajari dan jika saja mereka ingin maka sebuah kerajaan dapat berada di genggaman mereka, sebagai seseorang yang mengendalikan dari bayangan. Dan Naruto adalah salah satu dari mereka, Itu juga alasan mengapa dirinya menjadi pemimpin dari wilayah ini yang terlihat sangat berdekatan dengan Abbys.
"Ta-Tapi Naruto-sama!" Kekhawatiran tampak di wajah Ikki namun Naruto seketika langsung menyangkalnya.
"Ikki, Kita sudah tumbuh bersama sejak kecil. Kau tau kemampuan yang ku miliki begitu juga kau. Kita sudah sama-sama tumbuh selayaknya saudara, Jadi seharusnya kau tahu batasanku..." Ucapnya, Dirinya sendiri sangat senang karena Ikki memperdulikannya. Dalam kehidupan sebelumnya sendiri dirinya tidak pernah merasakan perhatian dari semua rekannya saat bertugas bahkan untuk Sara sekalipun, Semua orang di tuntut untuk profesional dalam pekerjaan mereka. Jadi mendapatkan perhatian seperti ini adalah sesuatu yang asing bagi Naruto, Dan karena itulah dirinya sendiri tidak dapat mengekspresikan apa yang ia rasakan saat ini. "... Jadi, Dimana lokasinya?"
"Menurut informasi yang saya dapatkan dari penduduk sekitar dan seorang pemburu di desa ini, Markas bandit itu ada di suatu gua di sisi timur pegunungan Alborz." Ucap Ikki dan dengan segera Naruto langsung berangkat tanpa memperdulikan Ikki yang sedang terbengong di tempat.
Suara tapak kuda yang berlari dengan kecepatan tinggi terdengar di sepanjang jalan setapak menuju hutan. Angin yang berhembus di sela-sela pepohonan membuat suasana di sekitarnya bertambah tenang namun sesuatu yang damai dapat menipu dan mengumpulkan indra manusia. Karena lokasi ini adalah lokasi yang sangat strategis untuk melakukan aksi penghadangan bagi beberapa pedagang, Terlebih jalur ini menghubungkan wilayah Viscountess Catina dan bekas wilayah Count Lumine.
Merasa sudah dekat dengan lokasi para bandit, Naruto turun dari kudanya dan mulai bersiap. Pemuda itu melepas jubah kebesarannya sebagai seorang pangeran dan hanya mengenakan pakaian berupa kemeja putih berbalut dengan jas berwarna hitam, Mengencangkan sarung tangan dan beberapa hal yang akan mengganggunya dalam penyerangan, Tak lupa mengikat tali kekang kuda pada pohon untuk berjaga-jaga jika kuda miliknya kabur meninggalkan dia disini.
'Baiklah...' Pikirannya seketika menjadi fokus seperti ia akan menjalani sebuah peperangan. Sorot matanya yang terkadang menunjukkan kehangatan tiba-tiba menjadi sangat datar dan juga tajam dan dengan sebuah helaan nafas ringan, Pemuda itu melompat ke arah dahan salah satu pohon di dekatnya. Dari pohon satu, Ia melompat menuju pohon lain dan terus begitu sampai akhirnya ia berada tepat di depan sebuah gua.
Dirinya hanya memandangi pintu gua tersebut dengan salah satu tangan berpegangan pada batang pohon untuk menjaga keseimbangan. Dan disinilah dirinya, Untuk pertama kalinya dalam kehidupan ini, Ia akan memasuki pertarungan kembali.
Bandit, Perompak, Penjahat, Terorist dan segala macam komplotan bersenjata yang menyebabkan keresahan dalam ruang lingkup masyarakat telah ia binasakan dalam kehidupan sebelumnya. Sebagai salah satu dari Peace Keeper, Dirinya sudah memiliki banyak pengalaman dalam menumpas bandit. Brazilian Rain Forest, Indo-Pasific Pirates, Dan masih banyak lagi kasus yang ia ikuti dalam kehidupannya.
Dan kali ini, Dapat ia lihat jika bandit-bandit ini termasuk beberapa profesional di dunia ini. Ksatria dan juga Prajurit yang menbelot menjadi bandit dapat ia lihat berlalu-lalang di depan pintu gua dengan sebuah kain yang menutupi wajah mereka dan juga Light Armor yang melindungi tubuhnya.
'Dua orang menjaga pintu masuk dan pastinya sisanya ada di dalam gua tersebut. Melihat kondisi gua maka senjata yang cocok adalah...'
Aliran mana mulai terbentuk di hadapannya saat Naruto mengibaskan tangannya. Sebuah belati yang tampak sedikit melengkung mulai terbentuk dihadapannya. Mata pisau yang mengkilap dapat dipastikan dengan ketajamannya dan juga gagang yang tampak sangat kokoh saat berada di dalam genggaman tangannya. '... Kukri, Cocok untuk bertarung di dalam gua. Walau seharusnya aku membuat pedang pendek tapi setidaknya cukup.' Pikirnya saat pedar kebiruan terlihat menyelimuti Kukri dari gagangnya.
Pada dasarnya, Mana adalah suatu energi yang sangat fleksibel karena mengikuti keinginan pemiliknya. Selayaknya seseorang yang menumpang hidup di tempat tinggal temannya, Ia akan melakukan apapun yang diperintahkan, Kira-kira seperti itulah penggambarannya. Belum lagi dengan ingatan 'Namikaze Naruto' membuat dirinya dipermudah dalam mengendalikan peredaran mana tersebut.
Shuuuuuttt... Huuu...
Dengan sekali tarikan nafas, hawa keberadaannya mulai sedikit demi sedikit menghilang. Tehnik ini adalah teknik yang ia ciptakan secara kebetulan saat perencanaan yang sudah dipersiapkan tidak terkendali. Tehnik yang mengharuskan seseorang untuk menyebarkan hawa keberadaannya ke sekitar mengandalkan pernapasan yang membuat peredaran darah semakin melambat, Dengan kata lain sebuah Tehnik yang dapat membunuh penggunanya sendiri.
Detak jantungnya melemah, Peredaran darah menuju seluruh tubuh melambat namun berbanding terbalik dengan kinerja tubuh yang ditingkatkan. Dan kelemahan Tehnik ini adalah serangan kejut yang akan berefek dengan pompa jantung yang tiba-tiba menjadi cepat dan membawa darah keseluruh tubuh menjadi lebih cepat daripada seharusnya, Membuat pecahnya pembuluh darah dan hilangnya kerja jantung ataupun otak. Maka dari itu tehnik ini dikatakan sebagai tehnik berbahaya dan dirinya juga tidak pernah mengajarkan tehnik ini pada siapapun. Dan saat orang-orang yang menyadari keberadaannya saat melakukan pembunuhan pertama, Orang-orang itu mengatakan, Under Shadow.
Tap...
Naruto melompat dari pohon menuju pohon yang berada tepat di atas pintu gua. Dirinya harus fokus dalam serangan pertamanya, Jika ia gagal dan dirinya mengalami kejutan singkat maka artinya sama saja dengan kematian, Terlebih tehnik ini juga memakan stamina yang sangat besar sebagai bayaran dari kerja tubuh yang berlebih dan entah karena takdir atau apa, Dirinya memiliki 'Timbunan energi berlebih' di tubuhnya.
Dengan perlahan dirinya turun dari pohon tersebut, Hawa keberadaannya tidak terasa sama sekali sampai-sampai para penjaga menjadi sangat lengah. Dan kemudian...
Jelb...
Kukri yang berada digenggaman Naruto bersarang pada batok kepala penjaga tersebut.
"Huh! Penyu-" jlebb..
Dengan cepat Naruto menarik Kukri miliknya dan menusukkannya tepat di tenggorokan prajurit tersebut hingga membuatnya tewas seketika. 'Kau dapat menjadi seseorang yang sangat ditakuti jika kau mengetahui titik lemah setiap makhluk hidup' adalah apa yang selalu dipercaya Naruto mau dimanapun dirinya berada.
Langkah kakinya kini membawa pemuda itu memasuki gua tersebut. Fokus adalah hal yang utama karena dirinya sadar walaupun ia datang dengan niat baik sekalipun yang ia dapatkan hanyalah pedang yang terhunus ke arahnya.
Gua itu tampak seperti gua yang terbentuk secara alami dan saat ia sampai dibagian tengahnya dapat ia lihat jika beberapa penjaga sedang beristirahat. Mereka semua duduk di atas batu batu gua yang sudah dibentuk sedemikian rupa hingga dapat di duduki. Mereka semua duduk tanpa mengetahui kalau seorang penyusup berhasil memasuki markas mereka.
Boommm! Booooommm!
Ledakan demi ledakan terdengar setelah Naruto melempari sihir api hingga membunuh beberapa penjaga yang tidak menyadarinya. Sekarang sekitar dua puluh prajurit sedang berlari ke arahnya dengan pedang panjang dan beberapa membawa tombak namun saat mereka menebaskan pedang tersebut, Bilah pedang terhalang langit-langit gua hingga membuat tebasan mereka sangat lemah dan dengan begitu mempermudah Naruto.
"Haaa..." Terjangan kaki dari arah depannya tidak membuat pemuda itu gentar melainkan ia menggerakkan sedikit tubuhnya ke samping dan setelahnya ia menunduk guna menempatkan bahunya tepat ke arah selangkangan.
Bugh...
Bagaikan seorang pegulat profesional, Naruto membanting prajurit tersebut tanpa halangan. Tak sampai situ Naruto juga menghujamkan Kukri miliknya tepat pada leher prajurit tersebut hingga membuatnya tewas seketika. Ekspresi ya tidak berubah sedikitpun, Dingin dan juga datar, Seakan-akan dirinya adalah seorang pembunuh berdarah dingin yang tidak pernah melibatkan perasaan dalam menjalankan tugasnya.
"Bajingan!"
Seorang prajurit datang menuju ke arahnya dengan pedang yang siap untuk di tebaskan namun saat pedang tersebut terayunkan ke bawah, Tiba-tiba pedang tersebut menabrak batu di langit-langit gua. Dan dengan kesempatan tersebut, Naruto menusukkan Kukri miliknya menuju rahang bawah prajurit tersebut.
"[Fire Bolt]"
Bwush... Swush... Boom... Boom... Boom!
Dengan sepatah kata beberapa nyala api terbentuk dengan sendirinya. Nyala api itu semakin lama semakin bertambah besar dan dengan sebuah gerakan ringan yang dibuat menggunakan lengannya, Api-api itu melesat dan meledak saat menabrak sesuatu. Bau mayat gosong dan juga beberapa perlengkapan yang terbuat dari kayu hangus di makan api yang Naruto bentuk dari sihir.
"Sialannnnn! Siapa yang berani menyerang tempat ini hah! Tidak tau kah kau kalau kami berada di bawah perlindungan Duke Namikaze?" Seseorang yang bertubuh gempal keluar dari bagian belakang gua dengan penuh amarah. Pembuluh darah di pelipisnya tampak menebal dan juga wajahnya memerah saat mengetahui kalau markasnya di serang seseorang tidak di kenal, Namun saat melihat si penyerang wajahnya menjadi pucat pasi.
"Hoo... Begitukah?" Ujar si penyerang yang tak lain dan tak bukan adalah Naruto. Pemuda itu hanya diam mematung dengan ekspresi kosong dan juga sebuah senyum di wajahnya, Belum lagi dengan cipratan darah di wajah pemuda tersebut membuatnya terlihat seperti seorang psikopat gila yang membunuh apapun demi kesenangan semata.
Tap... Tap... Tap...
Langkahnya sangat ringan namun karena kekosongan di gua tersebut membuat langkah pemuda itu tampak sangat berat. Pria gempal tadi hanya bisa diam membisu di tempatnya berdiri dengan air yang tampak mengalir melalui celananya.
"Maafkan saya, Naruto-sama!" Ucap lantang pria tersebut yang langsung bersujud dihadapan Naruto dan memohon ampun pada pemuda itu. Dirinya sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ini, Bukankah Duke Namikaze Naruto saat ini baru saja sadar dari koma nya? Dan bukankah seharusnya ia masih menjalani perawatan dari beberapa dokter istana? Tapi kenapa sekarang pemimpin dari wilayah ini berada tepat dihadapannya!
"Aku akan memaafkan dirimu tapi beritahu aku, Siapa yang dalang dibalik ini semua?" Tanya Pemuda itu dan pria gempal itu hanya tersenyum dalam hati yang tertutup ekspresi ketakutannya.
"Tuan, Ini semua adalah rencana dari Fraksi Ratu Elizabeth Phoenix! Beliau menginginkan citra buruk dari wilayah anda. Dan dengan melakukan penjualan budak dari wilayah anda, Maka rencana Ratu akan berhasil yaitu membawa putranya, Raiser Phoenix-sama menjadi raja selanjutnya." Ucap Pria itu, Bagaimanapun caranya ia harus hidup! Tak peduli apapun bahkan jika harus membeberkan rahasia dari Ratu, Jika saja ia hidup maka ia bisa melanjutkan bisnisnya dimanapun yang ia inginkan. Asalkan ia hidup hari ini, Maka dirinya dapat membalas apa yang ia terima di kemudian hari.
"Tunjukkan dimana para tawanan!" Mendengar ucapan keras Naruto membuat pria itu tampak terkejut bukan main. Hanya dengan mendengar suara pemuda itu, Membuat dirinya sangat ketakutan seakan dirinya saat ini sedang berada di genggaman seekor monster yang siap melahap dirinya.
"B-Baik Tuan."
Langkah kaki kedua manusia itu terdengar di sepanjang koridor gua yang sangat sepi tanpa adanya satupun penjaga. Namun mau bagaimana keadaannya, Kewaspadaan tak dapat lepas dari diri pemuda itu hingga ia sampai di depan pintu penjara. "Buka" Ucapnya, Dan saat pintu itu terbuka dapat Naruto lihat belasan gadis berpakaian lusuh terduduk dengan pandangan kosong yang melekat di wajah mereka. Mereka semua adalah budak yang dipersiapkan untuk menjadi boneka bangsawan di Kerajaan ini ataupun kerajaan tetangga.
'Keserakahan manusia tidak akan pernah terpuaskan.' Sudah cukup baginya tentang semua Perbudakan di dunia ini. Karena setiap makhluk hidup memiliki hak untuk hidup bebas, Merdeka tanpa adanya aturan yang mengekang dan kali ini dirinya yang akan menjadi pionir dalam kasus ini. Terkadang dengan mimpi yang besar, Seseorang harus memulai dari langkah yang kecil dan Naruto harus memulai dari wilayahnya terlebih dahulu. Kebusukan yang ada di dalam wilahahnya hanya akan menjadi penyakit yang akan memperburuk citra dirinya terhadap pandangan dunia dan dirinya tidak ingin itu terjadi, setidaknya belum, Belum sampai saat ia menjadi seseorang yang sangat disegani dan dihormati entah musuh ataupun rakyatnya sendiri.
"Kalian semua sudah be..."
"Tuanku, Terima kasih sudah membebaskan hamba! Hamba, Siluca Meletes, Penyihir dari Tower of Excanium, siap melayani anda!"
Tiba-tiba suasana di dalam sel penjara itu menjadi sangat canggung, Bahkan untuk pria yang dapat disebut sebagai penjual budak hanya dapat terdiam mendengar itu semua. Siapa yang tidak terkejut saat tahu jika seseorang yang mana merupakan penyihir, Yang merupakan orang-orang yang dicintai mana, Terjebak di dalam penjara dan hampir terjual sebagai budak? Terlebih ia mengambil sumpah setia di dalam penjara dimana merupakan tempat yang sangat tidak etis untuk suatu upacara sakral? Terlebih Tower of Excanium adalah akademi penyihir terbesar di benua barat yang sudah diakui selama berabad-abad.
"Aku... tidak tertarik." Ucap pemuda itu saat ia melihat gadis penyihir dihadapannya. "Kenapa? Kau tidak terima jika sumpah setia mu tidak ku terima? Pikirkan dulu kemampuan yang kau miliki hingga kau bisa ditangkap dan terancam dijual sebagai budak. Namun untuk sekarang kau sudah bebas, Pergilah dari tempat ini dan cari tuan yang baru untuk kau layani."
"Sebelum aku pergi, Aku mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkanku namun lihat saja! Suatu hari, Aku akan mencarimu setelah mendapatkan kontrak dengan pemimpin wilayah ini." Ujar gadis itu, Dan kemudian dirinya pergi berlari keluar tanpa permisi. Beberapa gadis yang sadar dengan situasi mereka, Berusaha pergi dari gua tersebut meninggalkan Naruto, Si pedagang budak dan juga seorang gadis. Seorang gadis yang hanya mengenakan kain lusuh yang menutupi dada dan juga pinggulnya hingga menampakkan kulit mulusnya yang berwarna putih, Sedang duduk bersandar di dinding penjara dengan pandangan mata yang kosong.
"Hei, Kenapa kau tidak keluar? Kau sudah bebas." Ucap Naruto seraya mendekati gadis itu namun tanpa disangka gadis itu memberontak dan menjauhi Naruto seakan-akan ia ketakutan. Melihat itu Naruto memandangnya miris lalu berkata, "Tak apa, Kau sudah aman. Kau sudah aman karena aku adalah penguasa dari wilayah ini. Kau sudah aman, Aku akan melindungimu dari siapapun jadi tenanglah."
Ucapan Naruto yang sangat halus membuat gadis itu menjadi tenang dan perlahan tangan pemuda itu yang mulai mendekatinya perlawanan yang diberikan. Elusan kepala yang Naruto berikan membuat hadis itu menjadi tenang dan rasa aman dapat ia rasakan.
Sreet...
Tanpa diduga tangan Naruto yang sedaritadi mengelus kepalanya di tarik gadis itu hingga membuat Naruto sendiri kaget karenanya. Tangis gadis itu pecah dan juga kata 'Terima kasih' tak pernah henti lepas dari mulutnya dan Naruto pun tidak lelah mengelus kepalanya gadis itu di dalam dekapan tubuh gempalnya. 'Entah apa yang dilakukan gadis ini hingga selamat sampai sekarang.'
Kerah dari jubah kebangsawanan Naruto di tarik gadis itu dan membenamkan wajahnya di dada pemuda itu. Tangisan haru pecah dan juga kata terima kasih tidak lelah di ucapkan sedangkan Naruto, Pemuda itu tidak lelah untuk mengelus kepala gadis di hadapannya.
'Aku tidak tau pelecehan macam apa yang diterima gadis ini.' Pikirnya saat itu juga karena bukan sekali duakali dirinya menemui masalah seperti ini. Penugasan dirinya di Far East semasa hidup di bumi, Membuat dirinya melihat banyaknya perempuan yang rela menjual tubuh mereka hanya untuk keperluan sehari-hari akibat perang. Dirinya sudah melihat itu semua dan tidak mengagetkan baginya jika mendapatkan reaksi seperti ini dari gadis tersebut. "Baiklah, Sekarang kita pulang."
"Terima kasih, Naruto-sama! Kau memang seseorang yang sangat mulia karena mengampuni diriku ini." Ucap pria itu dan Naruto hanya tersenyum sebagai balasan atas perkataan tersebut.
Mereka bertiga berjalan menuju pintu keluar gua. Seorang gadis yang saat ini sangat ketakutan yang selalu menempel pada Naruto, Pria gendut yang merupakan pedagang budak dan juga Naruto sudah sampai di pintu gua. Namun tiba-tiba, Sebuah kobaran api menyala dengan liar di telapak tangan Naruto yang ia arahkan ke arah pedagang budak tersebut.
"Tuan?"
"Aku sudah memaafkan mu, bukan? Tapi aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak akan membunuhmu! Sekarang matilah!" Dengan begitu, Kobaran api tersebut membakar si pedagang budak. Teriakan nanar terdengar dari pria itu dan juga Naruto tidak menggubris permohonan pria tersebut. Dan begitulah, Markas pedagang budak di kaki pegunungan Alborz dimusnahkan dalam sehari.
To Be Continue
Author's Note :
Yoo... Apa kabar kalian semua? Sudah mendapatkan stock minyak goreng untuk membuat takjil ramadhan?
Baiklah, Di chapter kali ini ada sebuah rombakan yang sangat besar di chapter kali ini. Tidak ada yang spesial dan seperti biasa hanya keampasan yang ada di dalam diri saya ini.
Yahh, Saya mohon maaf karena lambatnya saya untuk melakukan update dalam Fic ini. Saya minta kemakluman kalian karena saya sendiri harus membantu keluarga sebagai anak pertama. Yah, Kira-kira seperti itulah.
Saya sendiri akan terus melanjutkan Fic ini tanpa adanya pensiun seperti kemarin. Yah, Saya meminta kalian untuk meninggalkan jejak kalian bagi yang sudah membaca. Gak harus 'Lanjut Thor', Kalian tinggalkan saya sudah senang
Jadi jangan lupa untuk review yah, Tod! Gk lama cok, Kali aja cuma 1 menit! REVIEW YAH TOD! BIAR GW TAMBAH SEMANGAT (Emote Batu)
Well, Goodbye and See ya On the Next Chap
FI. BijiGabriel
