SetsunaZ1 Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Ini adalah sebuah kisah seorang pemuda yang bertugas membuat wilayah yang ia pimpin maju dalam segala hal. Aku tidak akan melakukan kesalahan kedua!
...
[Let's start]
...
Latest Chapter :
"Aku sudah memaafkan mu, bukan? Tapi aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak akan membunuhmu! Sekarang matilah!" Dengan begitu, Kobaran api tersebut membakar si pedagang budak. Teriakan nanar terdengar dari pria itu dan juga Naruto tidak menggubris permohonan pria tersebut. Dan begitulah, Markas pedagang budak di kaki pegunungan Alborz dimusnahkan dalam sehari.
...
...
Chapter 9 : Girl, Love and The Trainee
Pembasmian bandit yang merupakan Ksatria dan juga prajurit dari wilayah ini berjalan dengan lancar dan tanpa adanya luka pada tubuh Naruto. Dirinya sendiri tidak tahu jika ada seorang pedagang budak yang beroperasi di wilayahnya dan Naruto juga tidak menyangka jikalau orang-orang di wilayahnya mengalami tindak penculikan.
Saat ini dirinya berjalan dengan seorang gadis yang Naruto selamatkan. Dirinya sendiri tidak tahu identitas dari gadis itu namun jika melihat dari ciri fisik gadis itu maka dirinya bukanlah seseorang dari kalangan bawah, Itu terlihat dari kulit yang halus tanpa cacat sedikitpun. Minimal gadis itu adalah seseorang dari keluarga pedagang yang karena persaingan dagang, Dirinya diculik dan dijual sebagai budak namun dirinya sendiri tidak terlalu ambil pusing karena gadis itu berada di dalam wilayahnya maka tugasnya adalah menjamin keamanan dari gadis itu.
Bugh..
Suara sesuatu terjatuh membuat Naruto tersadar dari lamunannya dan saat ia membalikkan tubuhnya, Gadis itu tersungkur dan memegangi kakinya. Naruto sendiri tidak tahu menahu kenapa gadis itu tersungkur dan tidak ambil pusing tentang kakinya. Dirinya memilih untuk menundukkan tubuhnya dan memberikan punggungnya untuk gadis tersebut seraya berkata, "Naiklah, Kita harus keluar dari hutan ini sekarang."
"..." Gadis itu tak bersuara menanggapi perkataan Naruto dan dengan bersusah payah akhirnya ia bisa berpegangan pada pundak pemuda tambun itu. Entah apa yang ada dipikiran orang-orang saat ini jika melihat seorang Namikaze Naruto yang merupakan penguasa tertinggi dan juga kepala dari semua bangsawan di wilayah ini, Memberikan punggungnya pada seorang gadis yang tidak diketahui asal usulnya. Namun bagi Naruto, Dirinya tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang. Selama apa yang ia lakukan benar, Maka ia akan terus melakukannya. Seseorang dengan kasih sayang yang sangat besar namun selalu menyangkal hal tersebut.
Perjalanan dilalui tanpa adanya percakapan antara kedua insan tersebut, Tak ada yang memulai dan juga tak ada yang berinisiatif untuk memulai suatu obrolan. Naruto yang merasakan sakit pada kakinya, Dimana ia harus membawa beban tambahan saat membawa tubuhnya saja sudah susah dan seorang gadis yang merasa tidak enak atas perlakuan yang diberikan pemuda tersebut.
"Tuan?" Suara yang penuh akan rasa penasaran itu berasal dari seorang pemuda berambut hitam yang dengan setia menunggu Naruto keluar dari dalam hutan. Ikki, Ksatria yang di didik dan dibesarkan dalam kasih sayang seorang Kushina Uzumaki, Seseorang yang dapat Naruto panggil saudara walau tidak sedarah.
"Ohh Ayolah! Aku sudah memberikan perintah untuk istirahat, bukan? Jadi bersikaplah seperti biasa!" Ucap Naruto dengan penuh rasa kesal dan Ikki yang sadar akan hal tersebut hanya bisa terkekeh dan tersenyum. Itulah mereka berdua saat tidak berada dalam waktu kerja. Berinteraksi layaknya teman dan juga keluarga yang penuh akan canda tawa, Walau terkadang keduanya akan bertengkar karena saling berbeda pendapat.
"Naruto, Siapa dia?" Tanya Ikki yang sedari tadi perhatiannya terarah pada seseorang yang berada di pundak Naruto dan itu membuat Ikki merasa sesuatu yang tidak dapat ia mengerti. Pada satu sisi, Ia sangat mengagumi paras gadis itu namun dirinya sendiri tidak tau apa yang ia rasakan saat ini. Dan itu tidak lepas dari pandangan Naruto.
Dapat Naruto lihat jika sesuatu muncul di mata sahabatnya itu. Sesuatu yang ia tahu karena dirinya juga pernah merasakannya dalam kehidupan sebelumnya. Cinta pada pandangan pertama, Terdengar lucu namun itulah adanya dan karena dirinya sendiri tahu hal tersebut, Sebuah ide terlintas dibenaknya.
"Ah.. Dia adalah budak yang ku selamatkan dari para bandit. Aku tidak habis pikir kalau bukan hanya Demi-human saja yang mendapatkan cap sebagai budak namun sesama manusia juga..." Ucap Naruto kala ia menundukkan tubuhnya dan membuat gadis itu turun dari punggungnya. "... Aku tidak tahu siapa dirinya, Bahkan kami saja tidak mengobrol diperjalanan. Nah... Karena kau sudah disini, Ku serahkan tanggungjawab menjaga gadis ini kepadamu. Hitung-hitung untuk mengurus kehidupanmu."
"Hah?"
"Kau tahu kan kalau aku sudah ada Arthuria yang menjadi Asisten ku dan mengurus keperluanku saat ini, Jadi aku ingin kau menjaga gadis ini dan sebagai bayarannya gadis ini akan mengurus kehidupanmu." Ucap Naruto namun Ikki terus membantah dan terjadi sebuah perdebatan yang tidak akan ada ujungnya. Perdebatan keduanya sangat gaduh hingga membuat beberapa warga desa keluar dari gerbang desa hingga menjadi tontonan orang-orang, Hingga akhirnya perdebatan itu terhenti kala gadis tersebut angkat bicara,"Terima kasih karena sudah menyelamatkanku dan aku akan menuruti keinginanmu, Tuan." Ucapnya.
"Yah, Sama-sama dan kumohon urus sahabatku ini. Dia sangat susah untuk memakan sayuran hijau dan ia juga sangat malas mencuci pakaiannya..."
"Hei, Aku rajin mencuci pakaian kerjaku!" Ucap Ikki namun Naruto berpura-pura tidak mendengarnya dan melanjutkan ucapannya pada gadis itu.
"...Jadi kumohon urus dia. Dia sudah seperti keluarga bagiku." Ucap Naruto dengan senyuman di wajahnya. Senyuman yang sangat cerah seakan-akan mengatakan pada dunia bahwa ia akan selalu tersenyum apapun yang terjadi esok hari. Dan gadis tersebut yang melihat senyumannya hanya dapat terdiam.
'Kapan terakhir kali aku dapat tersenyum?'
'Kapan terakhir kali aku merasakan rasa aman ini?'
'Kapan terakhir kali aku dapat merasakan kehangatan keluarga?'
Pikiran gadis itu melayang entah kemana dan tanpa disadari air mata jatuh dengan sendirinya. Tangis tanpa suara yang membuat gadis itu terlihat sangat menyedihkan. Namun seketika sebuah senyum mengembang di wajahnya yang penuh dengan debu dan juga kotoran, "Pasti, Saya akan mengurus Ikki-sama dengan sebaik-baiknya."
'Mungkin, Aku dapat merasakan kebahagiaan di tempat ini dan tidak membuka jati diriku yang sebenarnya.' Pikir gadis itu yang sedang mencoba untuk bangkit dengan berpengangan pada bahu Naruto.
"Naruto-sama, Ikki-Taichou, Maaf mengganggu namun seorang pembawa pesan datang dari kediaman Namikaze. Pesannya mengatakan jikalau Ratu Elizabeth Phoenix, Akan mengunjungi wilayah Namikaze dalam beberapa hari kedepan." Mendengar itu senyuman pada wajah Naruto menghilang seketika dan Mana mengamuk mencemari udara.
"Elizabeth Phoenix!" Ucap Pemuda itu dengan wajah yang sangat menyeramkan. Untuk pertama kalinya, Bagi semua orang yang merasakan kehangatan seorang Namikaze Naruto, Mereka merasakan perasaan yang sangat menakutkan saat melihat matanya. Mata yang penuh akan amarah yang akan menenggelamkan targetnya dalam penyesalan tanpa dasar.
Elizabeth Phoenix, Siapa yang tidak kenal dengan dirinya. Wanita yang menjadi satu-satunya ratu dari kerajaan ini, Orang yang berkuasa atas tahta dan orang yang mengendalikan dewan kerajaan dari dalam bayangan. Semenjak Raja pertama, Vasco 'Airia' Strada, Berbaring sakit hingga dirinya meninggal dunia wanita itulah yang mengendalikan kerajaan. Wanita bangsawan biasa yang berasal dari keluarga Marquess Phoenix yang pada awalnya hanyalah selir raja berubah menjadi ratu.
Dan saat ini wanita itu sedang dalam perjalanan menuju wilayah Namikaze. Semenjak rumor yang mengatakan kalau bisnis di wilayah tersebut berkembang dengan pesat sampai dapat menutupi semua hutang pajak, Dirinya ingin mengetahui bisnis tersebut dan juga berambisi untuk menguasainya. Jika terjadi perlawanan maka ia akan menggunakan dewan sebagai ujung tombak rencananya. Tidak ada yang tidak dapat ia miliki di dunia kerajaan ini, Semuanya adalah miliknya.
"Elizabeth Phoenix!" Dan mendengar pesan yang mengatakan bahwa Ratu akan berkunjung ke wilayah ini membuat Naruto murka. Tubuh yang ia tempati saat ini pernah berada di dalam masa-masa kritis dan bukannya memberikan sebuah bantuan dengan mengirimkan Tabib istana yang ia dapati adalah penekanan atas pajak yang tertunggak. "Apa pesan itu asli?"
"Be-Benar tuan, Pesan i-itu asli karena memiliki segel Dewan Ke-Kerajaan." Ucap Prajurit yang membawakan isi pesan tersebut berbicara dengan penuh rasa takut hingga membuat dirinya sendiri gemetaran dan ucapannya terbata-bata. Demi apapun itu, Dirinya tidak pernah melihat seorang Namikaze Naruto mengeluarkan ekspresi wajah seperti itu.
"Kapan tepatnya Ratu akan tiba?" Tanya Naruto dan Prajurit itu menjawab, "Menurut perkiraan, Rombongan Ratu Elizabeth Phoenix akan tiba lusa esok. Surat itu tiba dengan burung pembawa su-"
"Cukup, Tidak ada yang perlu diberitahu lagi. Rombongan Ratu akan tiba pada besok lusa." Ucap Naruto dengan tegas dan kemudian ia kembali berkata, "Ikki, Perintahkan sebagian prajurit yang berada dibawah komando mu untuk menjaga desa ini dan sebagian lagi mundur menuju wilayah Namikaze. Dan katakan pada Arthuria ataupun Gabriel, Katakan kepada mereka untuk tidak mencariku karena aku ingin sendirian saat ini. Paham?"
"Ya, Naruto-sama!" Dan dengan begitu, Ikki, Gadis budak dan juga sebagian dari pasukan yang Ikki bawa bersamanya memutuskan untuk mundur dari desa tersebut dalam waktu setengah jam. Sedangkan Naruto, Pemuda itu saat ini sedang berada di hutan dekat dengan markas bandit yang ia habisi sebelumnya.
Hening dan hening...
Inilah apa yang aku butuhkan sekarang. Sebuah ketenangan adalah apa yang ku butuhkan setelah mendengar hal yang paling aku hindari untuk saat ini. Namun tidak ku sangka jika Bajingan itu, Elizabeth Phoenix, Akan berkunjung ke wilayah ku yang mana merupakan wilayah yang sangat menjijikan bagi bangsawan di Ibukota.
Apa yang ia inginkan dari wilayah ini? Wilayah mati yang sangat susah untuk dikembangkan dan berada di area paling berbahaya bagi manusia, Abbys Crack's Border. Area yang sangat dihindari bahkan untuk beberapa Adventurer dari Adventurer Guild walaupun memiliki monster yang mana materialnya memiliki harga yang sangat bagus di pasaran. Namun karena monster di area ini sangat agresif hanya beberapa Adventurer Veteran yang mencoba menantang Abbysal Dungeon.
Jadi, Apa yang ingin ia dapati? Apa yang sangat berharga di tanah ini sampai dirinya repot-repot datang kemari? Sesuatu yang sangat penting bagi kerajaan ini hingga ia berkeinginan untuk mengendalikannya?
Crimson Bloom! Itu dia! Kedatangan bajingan Phoenix itu kemari hanya untuk menguasai pemasukan dari wilayah ini. Hak pembudidayaan Crimson Bloom akan menjadi pemasukan terbesar bagi kerajaan ini dan jika aku menolak, Maka dirinya akan membujuk Dewan untuk mengambil alih Hak Pembudidayaan beratas namakan kepentingan rakyat. Dan tidak menutup kemungkinan, Jika dewan mengesahkan pengambilan hak budidaya atas nama kerajaan maka lacur tua itu akan memberikan hak kuasanya pada salah satu dari anak-anaknya.
Atau, Kedatangannya kemari untuk memperdebatkan keputusanku untuk menghapuskan sistem Perbudakan di wilayah ini? Tentunya, Dengan pemikiran yang sudah mengakar di benua ini membuat orang itu akan menentang keputusannya. Namun, Mengingat kalau Jual-Beli budak merupakan salah satu pemasukan kerajaan maka beberapa bangsawan yang berdiri bersama dengan ratu juga tidak akan diam saat pemasukan mereka terputus dan kasus terburuknya, Mereka semua akan mengerahkan pedang mereka pada wilayah ini.
Sial... Kenapa disaat aku sedang merasakan sebuah kedamaian walaupun hanya untuk sesaat, Datang sebuah masalah lagi!
"CURSE ARM!"
Aku memanggilnya. Salah satu dari beberapa orang yang mendapatkan gelar dalam Hassassin dan karenanya, Asap mengepul dari tempat yang tidak diketahui. Asap itu membumbung tinggi hingga membentuk suatu siluet manusia dan berakhir dengan munculnya sesosok makhluk yang seketika berlutut dihadapanku. Curse Arm, Sebuah Code Name yang kuberikan sebagai hadiah atas sumpah setia yang diberikan kepadaku dan ku rasa dirinya juga senang.
"Curse Arm, Pergilah dan selidiki apa saja kejahatan yang dilakukan Elizabeth Phoenix. Mulai penyidikan dari gua itu, Carilah hal-hal yang tampak mencurigakan dan teruskan sampai kau menemukan hal-hal yang aneh. Teruskan saja! Utamakan keselamatan mu."
Dan dengan begitu, Curse Arm mulai menghilang, Bergabung dengan bayangan kegelapan. Kenapa salah seorang Hassassin menjadi bawahanku? Simple saja, Sebuah ideologi yang dianut para Hassan dan mereka semua terpaksa mengikuti perkembangan Zaman, Tak terkecuali Curse Arm.
Jika ini ada sangkut pautnya dengan kubu ratu saat ini, Maka tidak ada alasan bagiku untuk mempercepat rencana yang sudah ku susun. Tidak ada untungnya berdiri bersama dengan kerajaan busuk yang sudah rusak luar dan dalamnya.
"Hahhh... Lelahnyaaaa!" Ucap seorang pemuda yang saat ini sedang duduk di kursi kerjanya. Disamping pemuda itu terdapat seorang gadis cantik yang selalu setia berdiri di samping pemuda itu dengan beberapa kertas yang ia bawa di tangannya.
"Maafkan saya, Naruto-sama! Seharusnya saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan yang anda berikan pada saya namun saya sendiri tidak menyangka jika akan ada pekerjaan tambahan." Ucap Gadis itu yang saat ini sedang menunjukkan wajah masam. Gadis itu sendiri tidak menyangka jika akan kedatangan pekerjaan tambahan berupa beberapa laporan yang harus ia pilah dan harus ia selesaikan sebelum tuannya, Naruto, Datang ke ruang kerjanya.
"Tak apa... Santai saja, Kau sudah melakukan yang terbaik jadi mari kita selesaikan pekerjaan ini." Mendengar itu, Gadis tersebut langsung tersenyum cerah. Dirinya sendiri tidak menyangka jika tuannya saat ini semakin bertambah dewasa dan tidak mengedepankan emosi pribadinya. Apa yang terjadi jika ibu dari pemuda itu masih hidup dan melihat perubahan sikap Naruto yang saat Ini, Entahlah namun gadis itu tahu jika wanita itu akan sangat bangga kepada anaknya ini.
"Naruto-sama, Ada laporan dari Viscountess Catina. Beliau meminta pertolongan anda karena ada dua orang ibu yang berebut seorang anak, Keduanya tidak ingin mengalah dan karenanya Viscountess Catina dibuat pusing." Ucap Gadis itu yang sedang membaca tulisan yang ada pada secarik kertas di tangannya. Sedangkan Naruto yang mendengar penuturan dari asistennya itu hanya bisa memijit pangkal hidungnya.
'Kau pikir ini cerita tentang King Solomon dan juga kerajaan Yerusalem, hah?' Pikirnya saat itu dan kemudian ia langsung mengambil keputusan dan berkata, "Ambil bayi tersebut, Perintahkan salah seorang prajurit untuk membagi dua bayi tersebut dengan pedangnya, Dan salah seorang di antara kedua wanita itu rela mengorbankan nyawa nya demi anak tersebut, Maka ialah ibunya."
"Tapi bagaimana anda tahu akan hal tersebut, My Lord?" Tanya gadis itu dan Naruto yang mendengarnya hanya tersenyum. Memang benar jika dunia ini memiliki kemiripan dengan bumi namun tidak harus memiliki kesamaan yang mirip dengan bumi juga. Dan karena itulah Naruto yakin dengan jawaban yang ia berikan.
"Seorang ibu sangat mencintai anaknya, Arthuria. Mereka rela mengandung selama 9 bulan dan bertaruh nyawa hanya demi melahirkan anaknya. Tidak ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya dan juga tidak seorangpun dapat memisahkan seorang ibu dengan anaknya bahkan akupun tidak dapat memisahkannya." Ucap Naruto dan dengan begitu Arthuria menulis jawaban atas masalah yang menimpa Viscountess Catina saat ini.
"Berikutnya ada pesan yang dibawakan seorang petani, Tuan. Petani itu adalah perwakilan dari semua petani yang ada di dekat perbatasan dengan Abbys. Akhir-akhir ini polusi udara dari Abbys membuat tumbuhan sulit untuk tumbuh dan karenanya panen hanya mendapatkan hasil yang sedikit. Jadi mereka meminta untuk mengurangi pajak hasil panen kali ini dan akan membayarnya sepadan di panen selanjutnya."
"Arthuria, Bagaimana dengan lumbung di setiap wilayah bangsawan?" Tanya Naruto dan Arthuria dengan sigap menjawab pertanyaan tersebut, "Lumbung di masing-masing wilayah bangsawan yang berada di bawah kepemimpinan anda, Dan juga lumbung di wilayah ini hampir penuh tuan. Dan dengan itu kita siap bertahan di musim dingin."
"Begitu... Kah?" Gumam Naruto saat mendengar laporan Arthuria tentang lumbung pangan di dalam wilayahnya. Dirinya tidak menyangka jika pembukaan lahan akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup rakyatnya dan karena itulah dia memutuskan, "Bebaskan seluruh pajak hasil panen kali ini, Lalu kirimkan 2% dari total isi lumbung pangan di wilayah kita menuju Selatan. Laksanakan."
"Yes, My Lord."
"Semua sudah selesai..." Ucap Arthuria dan Naruto akhirnya dapat menghela nafasnya dan bersandar panda kursi kerjanya. Melihat itu Arthuria hanya dapat tersenyum saat kedua tangannya dengan cekatan membereskan lembaran demi lembaran kertas kerja. "Ahh...Aku hampir lupa tentang ini."
"Hm? Tentang apa, Art-chan?" Tanya Naruto dan Arthuria yang mendengar itu langsung memasang ekspresi serius di wajahnya, "Apa kamu sudah mendengar tentang kedatangan Ratu ke wilayah ini, Naru?" Tanya gadis itu dan dengan begitu juga ekspresi di wajah Naruto pun ikut berubah.
"Biarkan saja jika ia ingin berkunjung untuk melihat perkembangan wilayah ini..." Ucap Naruto yang membuat Arthuria bernafas lega mendengarnya namun seketika wajah gadis itu berubah menjadi ketakutan saat melihat pemuda itu, "Namun jika ia berani mengusik wilayah ini, Maka jangan salahkan aku jika sebuah perang sipil pecah."
"Naruto-sama! Anda tidak bisa bertindak gegabah seperti itu! Keluarga Phoenix..."
"Aku tau, Pemimpin keluarga Phoenix saat ini adalah salah satu dari 10 anggota dewan kerajaan namun Arthuria, Kita tidak bisa membiarkan mereka semua menginjak-injak wilayah kita. Kita sudah memberikan segala usaha kita untuk wilayah ini, Aku tidak bisa melanggar janji ku hanya demi kepentingan pribadi sebuah kelompok. Maafkan aku, Aku akan mengorbankan nyawa ku jika demi wilayah ini karena aku tidak bisa mengkhianati orang-orang yang sudah menaruh harapannya padaku." Ucap Naruto dengan ekspresi sedih di wajahnya.
Benar, Kenapa dirinya bisa lupa. Naruto adalah pemimpin dari wilayah ini dan orang-orang menaruh harapan yang besar padanya. Dirinya selalu tertawa dan selalu bersikap lembut pada semua bawahannya namun Naruto tidak pernah sekalipun mengatakan kalau ia lelah dengan semua tanggung jawab ini.
Kenapa dirinya tidak sadar jika pundak Naruto sangat rapuh untuk memikul semua tanggungjawab itu. Dirinya tidak menyadarinya bahkan untuk seseorang yang sangat mengenal pemuda itu. Kebersamaan yang mereka buat dari kecil bahkan tidak dapat membuat Arthuria sadar jika pemuda itu lelah dengan semua beban itu.
Grep...
Tangan yang halus bagaikan sutra itu menampuk wajah Naruto setelah ia berjalan mendekatinya. Membawa wajah itu ke dalam dekapannya dan mengeluh surai yang memiliki warna sama dengannya. "Menangislah, Aku tau kau lelah dan cobalah untuk istirahat walau hanya sesaat." Ucapnya dan dapat ia rasakan jika lengan Naruto mulai mendekap dirinya dan rasa basah dia dapati di bahunya.
'Walaupun kau adalah orang paling kuat di dunia ini, Aku akan tetap menjadi sandaran dan tempat mu untuk pulang. Karena aku mencintaimu.'
Dan begitulah, Sore hari berbalut dengan hujan rintik-rintik menghiasi keduanya. Seseorang yang memiliki tanggungjawab yang teramat besar di pundaknya dan seorang sahabat yang akan selalu ada untuk temannya walaupun harus membohongi perasaannya.
Keesokan harinya, Suasana di Namikaze's Mansion sangat penuh dengan keributan. Bukan karena apa, Namun semua itu dimulai dari seseorang yang merupakan pecinta makanan manis dan seorang kakak yang tidak ingin memanjakan adiknya.
Pagi itu, Naruto yang tertidur di dekapan Arthuria tidak dapat berkata apa-apa. Dirinya sangat asing dengan cinta seorang gadis bahkan untuk operator yang selalu membantu dirinya di bumi, Sara, Hanya ia lamar tanpa adanya ajakan kencan sebelum ia tewas tentunya. Sekarang, Seorang gadis dengan paras cantik tampak menaruh perasaan kepadanya namun dirinya sendiri tidak dapat menjawab perasaan tersebut.
Di dunia ini, Naruto tahu jika hubungan antara seorang Lord dengan Knight adalah hal yang jarang terjadi. Belum lagi opini publik tentang hubungan di antara mereka yang akan menjadi sesuatu yang menghebohkan namun dirinya tidak ingin ambil pusing untuk saat ini.
Dan saat itulah, Dirinya memikirkan suatu kudapan yang ia sempat makan saat pagi hari. Makanan manis yang dapat ia campurkan dengan roti yang akan menambahkan kesan nikmat bagi siapapun, Selai. Karena wilayahnya juga mulai memanen hasil pertanian berupa buah-buahan maka tidak salah jika ia mengambil sebagian untuk memasaknya. Namun itu semua hancur saat seorang gadis dengan paras jelita menghancurkan pagi harinya yang indah.
"Aku masih mau Selai itu!"
"Tidak! Kau sudah cukup untuk memakannya pagi ini!"
Perdebatan keduanya yang dimulai dengan antusiasme seorang adik atas makanan yang dibuat kakaknya tiba-tiba berubah menjadi sebuah bencana. Tidak ada seorangpun yang berani memisahkan keduanya, Bahkan Arthuria hanya diam menikmati roti berlapis selagi yang Naruto siapkan untuk dirinya sembari menikmati drama dihadapannya.
"Diam! Atau aku akan membuang semua selai ini dan tidak akan pernah membuatnya! Tunggulah Tea Time dan kau dapat memakannya lagi, Gabriel!" Ucap Tegas Naruto disertai dengan ancaman dan Gabriel yang mendengar itu hanya bisa diam. Di satu sisi dirinya menginginkan selai itu lagi dan lagi bahkan jika bisa, Dirinya ingin selai tersebut hanya untuk dirinya sendiri. Namun, Saat ini kakaknya sudah sangat marah dan dirinya sendiri tidak dapat menggunakan segala tipu daya untuk kakaknya yang satu ini, Karena ia tahu bahwa sifat keras kepala yang ia dapati adalah turunan dari Naruto.
"Baiklah..." Melihat itu Naruto sedikit menghela nafasnya dengan kasar, Gabriel adalah orang yang terkenal atas keras kepala namun dirinya tak kalah terkenal dari Gabriel. Namun untuk kali ini saja, Naruto menurunkan egonya, "... Mungkin tidak apa untuk memakan seporsi lagi?"
Begitulah, Pagi hari di kediaman Namikaze. Dan sekarang Naruto sedang berada di ruang kerjanya bertemu dengan seorang pemuda yang memiliki paras yang sangat tampan dan terlihat sangat mirip dengannya. Pemuda itu dengan setia menunggu pemimpin dari wilayah ini yang pada dasarnya adalah kakak dari ibu yang berbeda, Namikaze Naruto.
"Jadi, Ada apa Uriel?" Tanya Naruto pada Uriel yang saat ini sedang berdiri dihadapannya. Naruto sendiri tidak paham atas alasan kedatangan Uriel menuju wilayah ini selain menemani Gabriel yang merupakan versi lain dari Naruto. Uriel yang mendengar pertanyaan Naruto lantas berkata, "Ada sesuatu yang harus saya katakan kepada anda, Duke Namikaze."
"Lanjutkan."
"Kedatangan saya kemari selain untuk menjenguk anda bersama dengan kakak saya adalah untuk menyampaikan pesan dari Duke Tenshi. Pesan ini mengatakan bahwa anda harus waspada terhadap pergerakan Dravga Kingdom yang makin hari makin meresahkan karena doktrin aneh mereka yang mengatakan bahwa 'Semua wanita harus memuaskan semua hasrat pria' dan tidak mungkin kalau akan terjadi agresi dari Kerajaan tersebut terhadap wilayah anda yang sedang melemah." Ucapnya dan Naruto yang mendengar itupun tidak mengeluarkan ekspresi terkejut diwajahnya. Dalam beberapa rapat tentang progress pelatihan prajurit baru dan Naruto bersama Marquess Uzumaki dan juga Marquess Uchiha selalu membicarakan tentang pergerakan Dvarga Kingdom dan karenanya dirinya tidak terlalu terkejut.
"Sudah? Hanya itu yang ingin Duke Tenshi sampaikan?" Tanya Naruto dan Uriel yang mendengar itu hanya bisa diam. "Aku dan juga beberapa pengikutku sudah membicarakan dan mengantisipasi pergerakan dari Dvarga. Kami semua sudah siap untuk berperang mengingat wilayah ini adalah wilayah central yang mana jika kami kehilangan wilayah ini, Maka Airia akan runtuh..." Terdiam, Uriel terdiam mendengar hal itu. Dirinya tahu jika di wilayah ini tidak ada orang-orang terpilih yang diberikan tugas untuk mengawasi wilayah lain namun dirinya tidak menyangka jika informasi yang ia bawa sudah diketahui terlebih Naruto sudah mengantisipasi terjadinya agresi. "... Asal kau tahu, Uriel. Tanpa menunggu Airia runtuh, Airia sudah runtuh."
"Apa maksud anda berkata demikian, Duke Namikaze! Apakah anda tahu jika apa yang anda ucapkan termasuk ke dalam upaya pemberontakan terhadap kerajaan?" Tanya Uriel dengan nada bicara yang naik namun dirinya tidak sampai kehilangan sopan-santun karena mau bagaimanapun hubungan keluarga diantara mereka, Naruto saat ini adalah pemimpin dari wilayah ini dan tidak menutup kemungkinan kalau dirinya akan menjadi tahanan wilayah jika bertindak gegabah.
"Kau tidak tahu apapun, Uriel. Kau dan juga pasukan dibawah kekuasaanmu hanya mencari informasi demi kejayaan Airia namun kau tidak tau apa Airia sesungguhnya..." Ucap Naruto dengan santai dan kemudian ia bangkit dari duduknya. "Yahh... Sesekali coba kau cari sesuatu di dalam kegelapan kerajaan tercintamu, Uriel. Aku berikan salah satunya sebagai tukar informasi yang kau berikan..." Ucapnya yang sedang mengenakan jubah bangsawannya. Narito yang melihat pantulan wajah Uriel di kaca jendela hanya bisa tersenyum kecil karena sudah mendapatkan perhatian pemuda itu. Dan saat posisi Naruto sejajar dengan Uriel, Pemuda itu membisikkan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang bahkan dapat membuat seseorang yang berada di bawah pelatihan seorang Earl Alucard dan seseorang yang memegang gelar sebagai salah seorang Great Knight, Terkejut.
"Jangan bertanya kepada ku tentang benar atau tidaknya hal tersebut. Bukankah sudah ku katakan kepada mu kalau kau harus menggali kegelapan Airia, Pemimpin Chivalryc Angel?" Ucapnya dan kemudian ia pergi meninggalkan Uriel dengan wajah penuh rasa ketakutan seperti seseorang yang sedang melihat hantu.
Sesaat sesudah pertemuan diplomasi antara utusan dari Duchy Tenshi, Saat ini Naruto sedang berjalan menuju ke arah wilayah Count Yamanaka. Pemimpin saat ini, Inoichi Yamanaka, Mengajukan permohonan untuk bertemu di kediaman miliknya guna membahas tentang lajur penjualan Crimson Bloom yang mereka budidayakan di wilayah ini.
"Suatu kehormatan bagi saya untuk melihat anda datang dan mengunjungi kediaman saya, My Lord." Ucap Pria berumur 40-an itu dan Naruto yang mendengar itu hanya memilih menganggukkan kepalanya dan diam sembari berjalan menuju ruang pertemuan dari Mansion Yamanaka.
"Jadi, Apa yang ingin anda sampaikan kepada saya Count?" Tanya pemuda itu dan dengan pertanyaan itu, Naruto berhasil untuk membuat seorang Inoichi Yamanaka langsung menyampaikan maksud dari undangan yang ia kirimkan.
"Tuan, Kami sudah melakukan apa yang anda perintahkan kepada kami. Persediaan di gudang penyimpanan sudah mulai menggunung dan juga permintaan terhadap Crimson Bloom semakin banyak. Apakah anda tidak ingin mengeluarkan persediaan yang di simpan di gudang penyimpanan, Tuan? Dengan begitu, Bukankah kita akan mendapatkan kembali modal yang sudah kita tanam sebagai modal awal untuk bisnis ini?..." Mendengar itu Naruto hanya menyunggingkan senyum di wajahnya. Di dunia ini memang terbelakang dalam beberapa hal dibandingkan dengan Bumi, Tempatnya berada. Namun dirinya sendiri tidak menyangka jika keterbelakangan dunia ini bahkan sangat buruk, Mungkin inilah alasan kenapa roda ekonomi berputar dengan lamban. "... Sekiranya hanya itu saja yang ingin saya sampaikan kepada anda. Jadi, Apa yang akan anda lakukan sebagai pemimpin bisnis ini?"
"Apakah anda tahu kalau anda masih kurang pengalaman, Count Yamanaka?" Ucap pemuda itu dan karenanya Inoichi menjadi sangat kesal mendengar hal tersebut. Namun dirinya saat ini sedang berhadapan dengan pemimpin wilayah ini dan tuan yang ia layani, Jadi dirinya tidak bisa gegabah walau harga dirinya berontak ingin menyangkal hal tersebut.
"Maafkan aku, My Lord. Namun mengingat pengalaman saya sebagai pedagang sebelum terbentuknya kerajaan ini dan juga di angkatnya saya sebagai Count dibawah kepemimpinan mending ibu anda, Seharusnya dengan pengalaman tersebut saya tidaklah seperti yang anda bicarakan."
Lagi-lagi Naruto tersenyum mendengar hal tersebut, Dirinya hanya diam lalu mengeluarkan empat koin yang mana merupakan mata uang tetap di benua barat. 1 koin emas dengan 3 koin perak diletakkan pemuda itu di atas meja dan Naruto mulai berbicara, "Jadi, Anggap saya koin emas ini sebagai Crimson Bloom dan koin perak sebagai konsumen. Dengan sedikitnya barang yang tersedia di pasaran bukankah mereka akan berebutan untuk mendapatkannya dan bersedia untuk membayar berapapun harga yang kita sediakan?"
Kemudian, Naruto membalikkan keadaan tersebut namun menambahkan beberapa koin emas dan juga perak di atas meja, "Lalu jika koin perak ini adalah Crimson Bloom dan koin emas ini konsumen kita, Karena terlalu banyak persediaan yang tersedia di pasaran, Orang-orang akan memiliki ketertarikan yang sedikit terhadap barang yang kita tawarkan karena banyaknya persediaan yang sudah mereka kumpulkan..." Ucapnya dan karenanya Naruto tersenyum saat melihat ekspresi wajah yang dikeluarkan oleh Count Yamanaka. Ekspresi wajah yang saking berpadu dalam satu kesatuan, Perpaduan antara terkejut, kesal, marah dan juga sedih dapat Naruto lihat di dalam wajah pria berusia 40 tahun itu.
"Kita tidak berbisnis hanya untuk mendapatkan hasil yang kecil dengan investasi yang besar, Tapi kita berbisnis untuk mendapatkan hasil yang besar dengan modal yang kecil. Aku tidak marah atas tindakan anda karena saya tahu anda melakukan ini semua demi mendapatkan apa yang anda tanam, Namun bersabarlah sedikit untuk mendapatkan hasil yang matang."
"Jadi, Itu kah alasan anda melarang kami untuk mengeluarkan seluruh hasil panen Crimson Bloom saat panen kemarin?"
"Tepat! Itulah tujuanku! Kita tahu semua orang yang ada di benua ini berani mengambil resiko untuk membeli Crimson Bloom yang tidak segar dari benua timur dengan harga seratus keping emas untuk satu kotak peti. Coba bayangkan, Jika mereka berani mengambil resiko dengan membeli barang yang tidak segar dengan harga seratus keping emas, Apa mereka tidak berani untuk mengambil barang yang lebih segar dengan membayar harga dua kali lipat dari harga yang seharusnya?" Ucap Naruto yang disertai dengan sebuah senyuman di wajahnya. Senyuman yang sangat lebar bahkan seorang Inoichi Yamanaka, Seorang pedagang dengan banyak pengalaman yang sudah menemui banyaknya orang dan sudah bisa mengendalikan emosinya sendiri, Ketakutan saat melihatnya. Sebuah senyum layaknya iblis serakah yang akan menelan semua kekayaan yang dimiliki semua orang.
Namun,
"Kenapa harus dua kali lipat kalau kita bisa menaikan harga sampai tiga kali lipat, Tuan!"
Inoichi adalah seorang pedagang sebelum ia menjadi bangsawan dan karenanya keserakahaan akan untung yang besar adalah sifat bawaannya. Dan begitulah, Diskusi antara dua iblis yang melambangkan keserakahaan terjadi. Keserakahaan yang akan membuat wilayah yang di pimpin oleh Naruto menjadi wilayah yang sangat makmur dan dipenuhi dengan suka cita.
"Jadi, Sudah seberapa jauh perkembangan mereka semua dalam satu bulan ini?"
Setelah perundingan dengan Count Yamanaka, Naruto mumutuskan untuk pergi menuju camp pelatihan pasukan keamanan. Sudah satu bulan berlalu semenjak Naruto dan juga dua keluarga Marquess bekerjasama untuk membentuk suatu kesatuan keamanan dan saat ini dirinya sudah melihat perkembangan yang cukup memuaskan. Orang-orang yang semangat dalam pelatihannya memasuki pendengar pemuda itu, Baru keringat menyengat dimana-mana dan juga suara pedang saking berpadu sempurna dengan suara perisai yang memblokirnya.
"Walaupun baru sebulan berlalu semenjak mereka semua mengajukan permohonan untuk menjadi pasukan keamanan, Belum ada tanda-tanda mereka menyerah dan memutuskan untuk berhenti." Ucap seorang pria berambut merah yang saat ini sedang berdiri di samping kanan Naruto. Pria itu hanya tersenyum saat mengatakan hal demikian dan berbeda dengan pria yang ada di samping kiri Naruto, "Apa yang Arashi-Dono katakan adalah kebenaran, Tuan. Dari 400 orang yang mendaftarkan diri mereka, Tidak ada seorangpun yang mengeluh kalau mereka lelah dan memutuskan untuk berhenti dan dari 400 pendaftar, 80 orang di antaranya adalah Demi-Human. Walaupun ada diskriminasi terhadap mereka, Namun dengan kekuatan fisik bawaan Demi-Human sudah cukup membuat mereka semua bertahan di camp ini."
Pada dasarnya, Naruto memberi perintah untuk membiarkan ras Demi-Human jika ada yang mendaftarkan diri mereka. Karenanya, Naruto tidak menyangka jika 20% rekrutmen di dalamnya akan di isi oleh mereka semua. Selain Demi-Human dapat Naruto lihat jika ada beberapa orang yang merupakan temannya di dunia ini. Sebut saja Menma Uzumaki, Sepupunya, Dirinya sendiri tidak menyangka jika orang seperti Menma membuang gelar bangsawannya dan memilih membangun reputasinya sebagai pasukan keamanan dan bukan hanya Menma, Uchiha Sasuke, Hyuga Neji dan beberapa temannya ada disini.
'Mungkin saja aku dapat membuat swbuah regu pribadi bergerak di bawah bayangan. Aku akan meminta King Hassan untuk membiarkan mereka berlatih di bawah pelatihannya. Sungguh! Aku iri dengan Chivalryc Angel milik Uriel.' Pikirnya saat melihat teman-temannya ada di barisan rekrutmen yang sedang berlatih sebelum ia melihat seorang Demi-Human yang menyamar sebagai seorang pria dan bertarung dengan sangat hebat. Gerakan yang cepat, Akurasi yang sangat presisi, Ketenangannya dalam pertarungan dan juga saat ia mempermainkan lawan yang lebih lemah darinya membuat Demi-Human itu terlihat selayaknya seekor Magic Beast.
Tanpa di sadari Naruto, Fugaku melihat apa yang sedang menjadi pengamatan pemuda itu. Seorang gadis Demi-Human yang berkelahi dengan seseorang bertubuh tinggi dan juga besar membuat Fugaku mengeluarkan seringainya. Sungguh, Dirinya ingin melihat langsung bagaimana Naruto, Yang mana seorang penyihir bertarung dengan anak-anak yang ia latih saat ini dengan tangan kosong.
"Semuanya!" Teriakan Fugaku membuat semua orang mengalihkan pandangan dan fokus mereka pada pria tersebut. Semua orang berhenti dan langsung berlari kemudian berbaris dalam sebuah formasi. "Hari ini, Kita kedatangan Duke Namikaze! Kedatangannya hari ini adalah ingin melihat perkembangan kalian dalam sebulan ini dengan menantang salah satu dari kalian dalam pertarungan tangan kosong. Jadi, Siapa di antara kalian yang ingin menantangnya?"
Tanpa aba-aba ataupun perundingan terlebih dahulu, Fugaku mengadakan tes pertarungan melawan pemimpin wilayah ini. Walaupun lancang namun setidaknya Naruto paham dengan maksud Fugaku bertindak demikian. Naruto harus menunjukkan bahwa ia kuat dan karena ia kuat ia dapat ditakuti, Namun dirinya tidak ingin ditakuti pelayannya. Ia ingin sesuatu yang lebih baik dari rasa takut yaitu rasa Hormat! Dan karenanya Naruto tahu apa yang harus ia lakukan.
'Provokasi, Praktik dan pembelajaran, kemudian Motivasi. Kombinasi classic semasa diriku ada dalam kesatuan.' Pikirnya saat itu dan karenanya Naruto berjalan maju dengan wajah ekspresi sombong di wajahnya.
"Kalian adalah bajingan tidak tahu diri! Apa ini semua yang ingin kalian berikan pada wilayah ini, Hah!" Ucap Naruto dan dapat ia lihat kalau tatapan emosi di wajah semua orang makin membara, Amarah! Itu adalah Amarah! Dan karenanya Naruto tersenyum di dalam dirinya sendiri, "Apa? Kalian tidak terima? Wilayah ini sudah memberikan kesejahteraan bagi keluarga kalian dan ini semua yang kalian berikan! Tak berguna! Hah? Kau anak bangsawan? AKU TIDAK PEDULI! Semenjak kalian semua mengikuti program ini, Kalian adalah sampah!"
"Namun..." Pemuda itu tidak berdiam disana, Dia berjalan seraya melepas jubah bangsawan yang ia kenakan dan melipatnya. Ia melepas manset pada kemeja panjangnya yang berwarna putih dan menggulungnya sebatas siku, "... Aku akan membuat kalian para sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai layaknya permata. Jadi..." Naruto menjeda kata-kata dari mulutnya, Lalu menetapkan kaki kanannya di depan dan menegapkan tubuhnya. Dengan wajah yang serius ia berbicara, "... Siapa yang ingin maju duluan."
Beberapa detik tidak ada yang maju untuk menantang dirinya dan Naruto sendiri sudah menduga hal tersebut. Walaupun dikatakan untuk bertarung dalam pertarungan tangan kosong namun tidak menutup kemungkinan kalau dirinya akan menggunakan sihir Body Strenght. Sihir bukan hanya soal menembakkan api ataupun angin namun ada beberapa sihir yang dapat memperkuat sesuatu dan salah satunya adalah tubuh, Walaupun tubuh Naruto gempa namun dengan Body Strenght, Naruto dapat bergerak dengan leluasa karena bantuan sihir tersebut. Dan sialnya, Karena kejeniusan dirinya yang terkenal akan kejeniusannya dalam sihir, Naruto hanya bisa menunggu dengan tidak pasti siapa yang akan ia lawan, Bahkan sepupu dan juga sahabatnya saja enggan untuk bertarung dengannya.
"Kau! Maju kemari." Ucapnya saat menunjuk seorang pria dengan tubuh berotot dan juga tampang yang sangar selayaknya preman pasar. Pria itu hanya diam lalu menghela nafasnya lelah dan berucap, "Maafkan aku tuan, Namun sepertinya jika saya melawan anda ada kemungkinan jika tubuh anda akan terluka."
"Tak apa! Majulah, Aku akan menunjukkan padamu cara bertarung ku." Mendengar ucapan itu, Pria tersebut hanya diam lalu keluar dari barisan. Tubuhnya sangat tinggi di bandingkan Naruto dan juga ototnya sangat terlatih, Itu adalah otot yang di dapatkan dari pekerjaan kasar.
"Semuanya! Perhatikan dan pelajari!" Ucap Naruto dan sesaat kemudian pria itu berlari ke arah Naruto dengan tangan kanan yang terkepal. Namun..
Bugh... Bugh... Buagh...
Gerakan Naruto sangat cepat hingga membuat semua orang tidak dapat berkata apa-apa saat melihat lawannya saat ini sedang terkapar di tanah dalam keadaan pingsan. "Cara tercepat menang dalam sebuah pertarungan adalah menemukan titik lemah dari lawan. Ahh... Haruskah kita naik ke arena itu?"
Semua orang hanya bisa diam melihat apa yang sedang terjadi saat ini. Gerakan itu sangat cepat, di mulai dari memukul sisi samping lulut lalu meninjau perut dan kemudian membanting kepala dari musuhnya ke tanah hingga membuat lawannya pingsan di tempat. Tehnik yang sangat hebat dan karenanya mereka semua percaya kalau apa yang Naruto katakan adalah kebenaran, Bahwa dirinya bisa membuat sampah memiliki nilai setara dengan permata.
Kemudian di tengah kebingungan itu, Seseorang mengangkat tangannya ke atas dengan wajah siap untuk bertarung. Seorang gadis dengan rambut putih yang agak acak-acakan dengan telinga dan ekor serigala mengangkat tangannya dengan wajah serius.
"Mo-Mohon ajari saya juga jika anda berkenan, Tuan!"
Orang-orang bertanya kenapa pemuda itu ingin melawan Naruto walaupun sudah tahu bagaimana hasilnya. Dan daripada menjadi target pukulan Naruto lebih baik untuk mengamati dari sini dengan tubuh yang baik-baik saja. Dan Naruto yang melihat itu hanya bisa memandang gadis Demi-Human yang sedang menyamar itu dengan tatapan kagum.
"Siapa namamu?" Tanya Naruto dan pemuda itu menjawab, "Nama saya Axcel, Tuan. Dan alasan saya disini adalah untuk mengabdikan diriku sebagai pasukan demi wilayah ini atas bayaran yang anda berikan demi kesetaraan kami para Demi-Human."
"Axcel,Kah? Bagus! Aku suka dengan pemuda bersemangat sepertimu. Memang kita semua sebagai kaum muda harus hidup dengan penuh semangat seperti ini." Ucap Arashi, Dirinya sendiri cukup terkejut dengan perkembangan pemuda itu dalam sebulan terakhir. Pemuda itu cepat belajar dan selalu mengintrospeksi dirinya sendiri jika membuat kesalahan, Dirinya sendiri yakin jika dalam satu atau dua tahun, Pemuda itu akan menjadi seorang Ksatria yang berada di bawah kepemimpinan salah satu bangsawan di wilayah ini dan Arashi sendiri menginginkan pemuda itu.
Namun jika berbicara tentang potensi, Naruto melebihi batas kemampuan kaum muda saat ini. Kejeniusan dalam sihir, Kecakapan tentang tata negara dan juga kehebatan dalam diplomasi, Dirinya sendiri tidak akan pernah tahu seberapa besar potensi Naruto saat ini dan jika di ibaratkan potensi Axcel adalah Danau maka potensi Naruto adalah lautan atau mungkin samudra?, Entahlah dirinya tidak tahu namun potensi keponakannya itu tidak akan pernah habis.
Namun apakah potensi yang belum matang milik Axcel dapat melawan potensi Naruto yang memiliki usia sama dengannya? Kesampingkan masalah kekuatan fisik yang dapat Naruto tutupi dengan Body Strenght namun Fast Casting Magic milik Naruto yang dapat mempersingkat aktifasi mantra sihir dengan memangkas kata-kata yang tidak perlu dan membuat formula sihir baru adalah masalahnya. Belum lagi Multi Casting Magic miliknya yang sangat menyusahkan lawan karena pemuda itu dapat menguat puluhan lingkaran sihir pada waktu yang bersamaan.
"Kumohon Uzumaki-Dono, Jangan memandangku dengan wajah seperti itu. Dan tenang saja, Aku sedari tadi tidak menggunakan Body Strenght bahkan aku tidak akan menggunakan sihir. Aku hanya menggunakan kemampuan yang ku miliki seutuhnya tanpa menggunakan Mana sedikitpun."
Mendengar ucapan Naruto beberapa orang terkejut, Ralat bukan beberapa orang melainkan semua orang terkejut. Jika melawan sesama manusia tanpa menggunakan Body Strenght dapat mereka maklumi namun melawan Demi-Human tanpa Body Strenght? Itu adalah bunuh diri! Siapapun tahu jika Demi-Human memiliki kelebihan pada fisik mereka dan karenanya semua orang mempertanyakan keputusan tersebut dan menganggapnya sebagai tindakan konyol.
Mengiraukan bisikan dari semua orang, Naruto dengan bangganya berjalan ke arah arena sparing. Arena tersebut terlihat lumayan luas dengan ukuran 20 x 10 meter dan terbuat dari batu alam lalu di setiap sudut terdapat pilar yang terlihat terukir dengan Rune sihir yang dapat membuat kubah pelindung jika ada pertarungan di dalam arena.
"Baiklah..." Seorang pria memasuki arena dan mulai berjalan ke arah kedua pemuda tersebut. "... Saya, Uzumaki Arashi, Akan menjadi wasit dalam pertandingan kali ini. Pertandingan ini hanyalah pertarungan persahabatan dan saya akan menghentikan pertarungan setelah saya rasa cukup. Lalu apakah kedua belah pihak sudah siap?"
Naruto yang sudah siap menganggukkan kepalanya begitu juga Axcel yang sudah mulai mengambil ancang-ancang layaknya seekor serigala yang siap untuk menerkam mangsanya. Naruto juga begitu, Pelatihan dan juga porsi makan yang terkendali membuat pengaruh besar dalam penurunan berat badannya. Belum lagi dengan menyiksa diri sendiri dalam porsi pelatihan yang berat dan makanan dengan rasa pahit, Akhirnya ia mendapatkan berat badan yang lumayan yaitu 80Kg.
"Baiklah, kalau kalian sudah siap!" Arashi yang melihat kedua pemuda itu saling berhadapan dengan wajah yang sangat serius menghela nafasnya sebentar. Dirinya akan melihat potensi tersembunyi dari Naruto dalam sebuah pertarungan dan karenanya dirinya sendiri tidak sabar. "Mulai!"
Swush...
Axcel yang sedari tadi sudah siap dengan ancang-ancangnya melesat dengan sangat cepat. Jarak sepuluh meter di antara mereka berdua tidak menghambat pemuda itu dan hanya membutuhkan waktu 3 detik untuk sampai di hadapan Naruto. Tubuh Demi-Human yang pada dasarnya memiliki kesamaan dengan Magic Beast membuatnya melampaui batas tubuh manusia. Namun saat sudah sampai dihadapan Naruto semua orang terdiam.
Buaghh...
Suara pukulan yang sangat keras terdengar di arena tersebut! Bukan karena Ecxel yang berhasil mendaratkan pukulan pada wajah Naruto namun kebalikannya, Naruto lah yang berhasil mendaratkan pukulan pada rahang bawah Axcel hingga membuat pemuda itu terjengkang kebelakang.
"Ingat! Dalam pertarungan tangan kosong, Manusia memiliki beberapa titik lemah yang dapat menyebabkan luka yang sangat fatal. Seperti yang kalian lihat, Aku memukul rahang bawah Axcel dan hasilnya ia hampir pingsan, Bukan?" Tanya Naruto saat ia melihat Axcel yang baru saja bangkit yang sebelumnya ia sudah terkapar di tanah. Pemuda itu hanya diam dengan nafas tersengal dan mengusap dagunya yang tampak memerah.
"Itu adalah pelajaran pertama untukmu, Axcel-Kun. Jangan tergesa-gesa dalam melakukan penyerangan karena kau tidak tahu kekuatan dari lawanmu, Walaupun hasrat mu sebagai Demi-Human membuatmu ingin melakukan serangan pertama ada kalanya kamu harus menunggu saat yang tepat untuk melakukan penyerangan." Ucap Naruto dan Axcel yang mendengar itu tiba-tiba tersenyum. Sebelum melawan Naruto, Axcel selalu merasakan kekecewaan besar atas manusia yang sudah melakukan Perbudakan pada Demi-Human namun semenjak ia melawan Naruto yang ia dapati bukanlah rasa takut melainkan rasa hormat kepada pemuda itu. "Jadi, Ingin bertarung lagi?"
"Hmpph... Tentu saja!"
Swush... Grep... Bugh.. Bugh...
Axcel yang menjawab Naruto dengan senyuman di wajahnya langsung berlari ke arah pemuda itu dan berpegang pada kerah pakaian Naruto dan memberikan serangan lutut pada perut bagian sampingnya Namun Naruto tidak tinggal diam. Pemuda itu melakukan perlawanan agar lengan Axcel terlepas dari pakaiannya dengan menyerang wajah Axcel.
'Sial!' Pikir Axcel saat cengkraman pada pakaian Naruto terlepas. Namun tak hanya disitu saja, Naruto memukul dada dan juga ulu hati Axcel menggunakan gaya seorang petinju hingga membuat pemuda itu sedikit mundur dari hadapan Naruto.
"Serangan mu lumayan bagus, Namun itu tidak cukup untuk melawan seseorang yang lebih kuat darimu. Itu hanyalah cengkraman biasa tanpa adanya perlawanan dan dapat dengan mudah di lepas, Jadi pelajari kuncian yang bagus untukmu, Axcel-Kun." Ucapnya dan Axcel yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya. 'Sebuah kuncian yang juga memberikan perlawanan? Baik! Aku paham.'
Swushh.. Grep.. Sat.. Set.. Sat.. Set.. Brughh..
Dengan kecepatan yang semakin cepat Axcel sudah berlari ke arah Naruto dan kemudian ia melompat dengan memberikan kuncian pada kepala Naruto. Naruto yang sadar akan hal tersebut tidak mau ambil diam dan memberikan perlawanan bahkan untuk Axcel yang sudah mendengarkan saran Naruto, Pemuda itu belajar lebih cepat dari yang dipikirkan dan memberikan perlawanan dengan kakinya. Kaki Axcel dan kaki Naruto terus bergerak agar tidak terkena serangan tersebut karena Naruto paham jika ia terkena kuncian itu mungkin ia akan terjatuh dan saat ia terjatuh maka tamatlah dirinya.
Kuncian dan juga tarian kaki tidak dapat dihindari dan suara 'Tap' terdengar di seluruh arena. Semua orang yang menonton itu tampak terdiam dan mempelajari apa yang sedang mereka lihat dan untuk kedua pemimpin proyek ini tampak terkejut, Keduanya terkejut karena ada seseorang yang dapat terus berkembang secara Real-Time dalam pasukan mereka. Dan di antara semua orang yang ada, Naruto lah yang saat ini sedang kesulitan karena beban tubuhnya yang berat menyulitkan dirinya sendiri untuk menyamai pergerakan kaki Axcel. Namun ia mendapati jika Axcel lengah dan mengendurkan kuncinya, Tak ingin mengecewakan kesempatan tersebut Naruto lantas menarik tangan Axcel dan membuat pemuda itu terjengkang hingga Naruto dapat dengan mudah membantingnya.
"Sekali lagi?" Tanya Naruto dan Axcel yang terkapar di lantai arena hanya diam dan menjawab, "SEKALI LAGI, TUAN!" Saat ia mulai berdiri dan mengambil Fighting stance yang sebelumnya Naruto gunakan. Ancang-ancang seorang petinju bahkan dipelajari pemuda itu dalam waktu singkat dan Naruto yang melihatnya sedikit terkejut.
Swush.. Tap... Tap... Tap... Tap... Tap...
Axcel maju dan mulai meninju dalam garis lurus namun Naruto menangkis serangan itu dengan mudah. Tinju kearah wajah, Dada, Perut, Kembali ke wajah dapat Naruto tangkis dengan mudahnya dan pada serangan terakhir Naruto mencengkram lengan Axcel. Axcel yang tidak dapat mendapatkan lengannya kembali mencoba melawan namun Naruto juga mendapatkan lengannya hingga kedua lengannya berada di dalam genggaman Naruto dan saling bersilangan.
Srut... Buaghhh...
Menekuk lengan Axcel yang saling bersilangan sangat mudah bagi Naruto hingga sekarang lengan tersebut membentuk tanda 'Plus'. Merasa pergerakannya terkunci Axcel tidak tinggal diam, Namun saat dirinya ingin menyerang menggunakan lututnya Naruto sudah mendorong tubuhnya hingga mundur beberapa langkah sebelum ia menguatkan otot lengannya. Namun Naruto yang tahu akan hal tersebut mengepalkan tinjunya dan memukul wajah Axcel hingga salah satu giginya lepas.
Axcel yang mendapatkan kendali tubuhnya lagi langsung mengarahkan tinjunya pada wajah Naruto guna membalas serangan sebelumnya. Namun Naruto yang selalu waspada dengan mudah menangkis serangan tersebut dan mengarahkan tinju ke arah leher Axcel. Tak tinggal diam, Naruto memberikan tendangan tinggi pada Axcel dan tepat mengenai samping wajahnya.
"Kenapa aku memukul leher dibandingkan wajah? Jawabannya sederhana! Nafas. Kalian tahu? Setiap makhluk hidup selalu bernafas dan leher adalah jalur masuk udara namun jika saluran tersebut terhambat maka..." Pemuda itu menjeda ucapannya dan mengalihkan pandangannya pada Axcel yang sedang tengkurap memegangi lehernya "... Kalian akan kesulitan untuk bernafas. Jika kalian dalam sebuah peperangan, Maka kalian sudah dipastikan menang jika menyerang menusuk leher musuh kalian."
"Baik, Aku rasa cukup disini saja..." Arashi yang sedaritadi hanya diam di pinggiran arena akhirnya ikut andil dalam pertarungan tersebut saat melihat Axcel terbatuk akibat serangan Naruto. "Axcel, Kau tak apa?" Tanya Arashi dan Axcel tidak dapat menjawab namun dari pandangannya ia seakan berkata "Tolong aku."
"Sasuke, Menma! Bawa Axcel ke pusat pengobatan dan biarkan dia beristirahat selama tiga hari. Dan Axcel, Jika kau sudah sehat kembali, Temui aku di ruangan ku. Paham?" Kata-kata yang Naruto ucapkan saat ini bukanlah sebagai seorang pemuda seumuran mereka namun sebagai seorang Duke Namikaze. Menma dan Sasuke yang saat itu ada di antara para penonton langsung tersadar dan pergi menaiki arena setelah Naruto memerintahkan mereka berdua dan dapat mereka lihat kondisi Axcel saat ini yang tertutup debu bahkan rambut silvernya terlihat sangat lusuh namun diantara itu semua, Di antara rasa sakit yang di deritanya, Axcel tersenyum. Dirinya mendapatkan hal yang sangat pahit yaitu kekalahan namun dilain sisi ia mendapatkan hal yang sangat manis yaitu pengalaman dan pembelajaran.
'Aku akan terus berkembang sampai aku dapat melindungi wilayah ini, Duke!'
Dan begitulah, Akhir dari seorang petarung yang akan menjadi salah satu dari 'The Four Hunteress' yang akan bekerja di bawah perintah Naruto. Salah satu dari beberapa hal yang akan di takuti dan disegani wilayah lain terhadap Duchy Namikaze.
To Be Continue
Hufft... Finally, I Did It!
Oi Tod, Apa kabar? Sehat? Ya gw harap kalian semua sehat. Gimana puasanya yang muslim? Lancar? Gw harap lancar dan lu gk liat Lewd di tengah hari yah Tod!
Baiklah pada chapter kali ini saya ingin menjelaskan bahwa ada beberapa Original Name yang gw buat, Sebagai contoh Catina dan juga Axcel. Tapi itu Cuma untuk beberapa chapter kedepan aja gw pake dan ada sebuah Codename yang bakalan gw kasih ke beberapa orang atas Event tertentu. Misalnya seperti penyera -Upss- hampir keceplosan,
Yahh setidaknya gw udah berusaha semaksimal mungkin untuk chapter kali ini. Dan ada beberapa perubahan yang mencolok sebagai contoh si Gadis budak yang gw kasih scene, Lalu Arthuria Secret Love dan juga Fighting Scene di Camp. Dan maaf nih ye, Gw gk terlalu bisa buat adegan fight jadi gw harap kalian nyambung dengan semua yang gw tulis.
Yah, Apa lagi yang harus gw bahas?
Ahh.. Menurut kalian, Lebih baik mana nih? Versi awal atau versi Remastered dari Useless? Yah, Gw juga gk terlalu merhatiin soalnya sama-sama dibuat dengan tujuan untuk menghibur kalian semua, Para Reader.
Jadi Tod, Selama kalian semua senang! Gw juga senang untuk terus menulis!
Well, Keknya gk ada lagi bacotan yang perlu gw sampein dah :D
Dah cukup itu aja, Gw ucapin terima kasih untuk kalian semua yang sudah mampir dan mau capek-capek ngetik review! Tapi gw harap kalian terus ngirim review!
JANGAN LUPA REVIEW TOD!
