SetsunaZ1 Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Ini adalah sebuah kisah seorang pemuda yang bertugas membuat wilayah yang ia pimpin maju dalam segala hal. Aku tidak akan melakukan kesalahan kedua!
...
[Let's start]
...
Chapter 10 :
Namaku adalah Uzumaki Naruto, Letnan muda yang meninggal di bumi karena kecelakaan dan mengalami reinkarnasi ke dalam tubuh baru di dunia lain. Dunia yang lumayan gila dengan banyaknya konflik kemanusiaan, Intrik dan juga pengetahuan yang setara dengan zaman pertengahan di bumi, Terlebih dunia ini juga memiliki sesuatu yang bernama sihir. Dengan tubuh baru yang memiliki nama dan marga keluarga yang sama dengan mending ibu angkat ku di bumi, Aku menjelma menjadi seorang pangeran yang menjabat strata bangsawan berangkat Duke di ujung kerajaan. Tentunya dengan obesitas yang mengganggu mobilitas sehari-hari.
Sedikit demi sedikit diriku mulai beradaptasi dengan kehidupan baru ku. Tentunya sebagai seorang perwira dalam kemiliteran membuat diriku mau tak mau dipaksa menjadi pribadi yang praktis dan juga tegas dalam menjalani kehidupanku dan karenanya beberapa Maid terlihat sedikit segan melayaniku. Belum lagi dengan tugas sebagai seorang Lord yang mengepalai berbagai strata kebangsawanan membuat diriku harus menjadi seseorang yang harus memperhatikan sekelilingku.
Korupsi, Masalah keamanan daerah dan berbagai masalah yang terjadi di wilayah ini menumpuk bagaikan pekerjaan rumah seorang anak kecil yang harus di selesaikan. Tugas-tugas yang harus ku selesaikan sebagaimana perananku sebagai seorang Lord yang harus tampak bertanggungjawab di mata para dewan bajingan kerajaan. Dan karenanya aku sudah membangun beberapa program dengan kerjasama antara rakyat dan juga bangsawan,
Military Recruitment, Program perekrutan masyarakat untuk ambil bagian dalam menjadi penjaga wilayah ini. Bukan hanya sekedar penjaga saja namun mereka juga dilatih untuk menjadi pasukan cadangan yang akan dikirim menuju Medan perang jika suatu saat akan terjadi perang. Walaupun di Kerajaan lain juga menang memiliki Military Recruitment versi mereka sendiri yang hanya mengambil orang-orang berkualitas, Aku mengambil semua orang yang memiliki keinginan untuk bertahan di pelatihan yang keras ini. Terlebih dengan mengajarkan Close Quarter Combat yang sangat ku kuasai, Aku yakin kalau mereka akan setara dengan orang-orang terpilih.
Economy, Pada awalnya ekonomi di daerah ini sedikit miris bahkan untuk dilihat dengan mata telanjang tanpa adanya analis sekalipun. Semua karena Uzumaki Naruto versi dunia ini menutup matanya sebagai pemimpin dan untungnya aku memperbaiki ekonomi di wilayah ini, Setidaknya sudah masuk taraf cukup untuk saat ini. Aku dan para bangsawan memberikan investasi yang sangat besar dan karenanya dalam beberapa bulan ekonomi wilayah ini mulai bangkit dari keterpurukannya.
Membuka lahan dengan menebang pohon menggunakan sistem tebang pilih dan reboisasi, Kami sudah berhasil menutup kekurangan konsumsi untuk wilayah ini bahkan membuka eksport untuk ke wilayah lain dan dengan begitu kami berhasil mendapati investasi yang kami tanam dari hasil penjualan. Budidaya Crimson Bloom juga mendapati titik terang dan aku sendiri kesusahan untuk menjaga kesegaran bunga itu dan berakhir dengan membusuk di dalam gudang, Mungkin membuatnya menjadi pupuk organik akn lebih berguna.
Kemudian kegelapan kerajaan ini lebih gelap daripada yang terlihat di luar. Intrik dan semua hal yang sangat mirip dengan bumi abad ke-20 tampak eksis di Kerajaan yang ada di dunia ini. Dan kegelapan kerajaan ini tak lepas dari campur tangan seseorang. Seseorang yang saat ini mengeluarkan senyum menjijikan di wajahnya yang duduk tepat di hadapanku.
Lady Phoenix, Seorang wanita licik yang menurut para Hassan meracuni ibu ku guna mendapatkan pijakan yang kokoh sebagai pondasinya melangkah di Kerajaan ini. Melakukan berbagai cara agar dirinya dapat menguasai kerajaan ini di tangannya dan membiarkan anak keduanya menaiki tahta, Karena anak tertua nya memilih menjadi kepala keluarga Phoenix dalam beberapa tahun kedepan.
Pada awalnya, Wanita ini bukanlah seseorang yang memiliki fondasi yang bagus. Seorang wanita biasa tanpa adanya 'Mana' yang mendiami tubuhnya dan seorang bangsawan yang harus menerima kenyataan bahwa dirinya hanya akan menjadi alat diplomasi dalam pernikahan politik. Namun semua itu berubah saat mendiang Vasco Airia Strada tertarik kepadanya dan mengajukan lamaran pada wanita itu dan dengan begitu, Dirinya berhasil lepas dari kekangan keluarga Phoenix dan melancarkan rencananya dari dalam kerajaan.
Cih, Melihatnya saja membuatku ingin meludahi wajah wanita itu. Senyum menjijikan dan juga penuh optimisme yang mengatakan bahwa ia akan mendapatkan apa yang ia mau bagaimanapun caranya. Kau tau? Aku sudah melihat itu ratusan kali bahkan semasa aku hidup, Senyuman yang sarat akan banyaknya rencana yang sangat solid untuk menguasai ekonomi wilayah ini. Aku tidak atau apa yang ia rencanakan namun aku sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi kedepannya dan aku tentunya tidak ingin kalau kantung emas masa depanku menjadi milik orang lain.
"Sebelumnya, Uhukk.. Maafkan aku karena tidak menyambut anda Uhukk... Kenapa ibunda ratu sibuk-sibuk datang ke wilayah ini?" Aku bertanya kepada wanita itu dan dapat ku lihat kalau dirinya mengeluarkan senyum penuh keagoranan di wajahnya.
"Aku tidak tahu kalau kau akan bangun kembali dari tidur panjang mu, Naruto. Aku juga sangat terkesan dengan perubahan besar-besaran pada wilayah ini, Tak ku sangka kalau wilayah yang tampak seperti kandang babi sekarang menjadi wilayah yang sangat indah. Aku yakin ibu mu akan bangga di kehidupan abadinya." Ya! Dan kau yang mengirim ibu ku menuju tidur abadinya. Lalu apa? Kau ingin memancing amarah ku? Tidak semudah itu, Mental anak ini adalah mental seorang pejuang yang sudah keluar-masuk berbagai pertempuran. Jangan hanya karena perang psikis saja membuat diriku hancur! Aku sudah mengalami hal-hal yang lebih parah daripada ini dan aku masih bertahan.
"Maafkan aku jika hasil kerja ku tidak memenuhi ekspetasi yang anda inginkan. Namun aku masih memiliki banyak urusan di sela-sela keseharian sebagai seorang Lord, Salah satunya adalah mencari kebenaran tentang 'Rubah' yang sudah menggigit ibu ku dan mengirimnya menuju tidur abadi." Dapat ku lihat perubahan konstan pada ekspresi wanita itu karena ucapanku. Hahahaha... Bukankah itu lucu saat kau melihat seseorang yang terkejut atas sikap bodoh mu? Wajah yang penuh kemenangan saat ini terlihat sedikit tercekat dan bergetar walau dapat tertutupi dengan sikap bangsawannya. Tidak ada yang salah atas ucapanku karena aku sendiri memang mengarahkan kata-kata ku pada wanita itu.
"Kau! Apa kau menuduh ratu sebagai rubah yang membunuh Ibu mu, Hah?!" Wah wah... Aku tak menduga kalau akan terjadi seperti ini. Memang menurut kabar yang simpang siur mengatakan kalau tempramen dari anak kedua Ratu Phoenix memang tidak dapat dikendalikan namun aku tidak menyangka jika semudah ini memancingnya.
"Maafkan aku Uhukk... Aku tidak menuduh beliau namun bukankah dengan sikap mu ini dapat mengindikasikan kalau Ratu memang melakukannya?" Aku pun sedikit membuka penyamaranku dan berdiri dengan tenang dari sofa yang ku duduki. Aku berjalan menuju kearah Ikki yang saat ini menjadi pengawalku dan berucap, "Katakan padaku, Bukankah lucu jika sebuah rumor menyebar di dalam Kerajaan tentang seseorang yang membunuh saingannya demi memenuhi ambisi semata?"
Aku membalikkan wajah ku dan dapat ku lihat kalau wajah ibu dan anak itu sama-sama memerah. Entah karena marah atau apa, Namun dapat ku tahu kalau mereka tidak dapat bergerak saat ini. Rencana yang mereka susun hancur saat mereka mengetahui clue yang kuberikan.
Aku pun tersenyum dengan sangat lebar saat melihatnya dan berkata, "Kalian tahu? Aku sudah memprediksi yang akan terjadi kedepannya! Bukan berarti aku memiliki kemampuan untuk melihat masa depan namun intuisiku lebih tajam dari siapapun. Sejak awal bukan aku yang menari di genggaman tangan kalian namun sebaliknya. KALIANLAH YANG MENARI DI GENGGAMAN TANGAN KU!"
"Sialan! Fire Magic : Spinning Arrow!"
Tanpa di duga sebuah api melesat kearah ku. Api itu berwarna merah kekuningan dan berputar layaknya tornado yang bergerak secara horizontal. Sihir yang mungkin termasuk kedalam Magic Tier-2 yang dapat membunuh manusia biasa namun...
Slash...
Sihir itu tiba-tiba terbelah dengan sendirinya dan seorang pemuda yang dengan gagahnya berdiri dihadapanku. Armor tipis berwarna hitam dan juga sebuah pedang berwarna hitam berpadu senada dengan warna rambutnya membuat pemuda itu tampak seperti seorang Dead Knight yang sering ku temui dalam beberapa Novel fiksi.
Ikki menatap datar wajah Raiser yang hanya diam tanpa bergeming di tempatnya. "Tak ku sangka kalau anda berani melakukan tindak kekerasan terhadap Royalti. Dan karenanya, Raiser Phoenix, Menurut Airia Great Book, Melakukan penyerangan terhadap seorang bangsawan di atas gelar Marquess, Maka hukumannya diserahkan kepada bangsawan tersebut."
"Dan kemudian, Menurut wewenang The First Strada, Melakukan tindak penyerangan terhadap anggota Royal Family, Hukuman yang diberikan adalah Hukuman mati."
Ikki kembali menatap kearahku dan dengan aku yang mengatakan 'Laksanakan', Pemuda itu langsung melesat dari tempatnya. Ikki bukanlah seorang Ksatria yang menyerang dengan kekuatan layaknya Arthuria namun seorang Ksatria yang melatih kecepatannya. Dia dapat mengakselerasi tubuhnya sesuai keinginannya hingga batas tubuh manusia dan itulah alasan dia dapat menghilang dalam sekejap dari pandangan setiap orang.
"Arrrrggghhh...!"
Saat itu Raiser menjerit kala bilah pedang Ikki menebas bahu kanan Ikki hingga membuat lengan Raiser terlepas dari tubuhnya. Seonggok daging tergeletak di lantai, Darah menyebur kemana-mana, dan teriakan histeris seorang wanita memenuhi ruangan.
"Hentikan! Apa yang sudah kau lakukan, hah?" Elizabeth, Wanita itu hanya dapat berteriak dengan histeris saat ini dan menggertak kearah ku. "Hentikan ini! Duke Namikaze, Ksatria anda sudah menyerang anggota Royal Family! Hentikan atau aku akan mengadukan ini pada Dewan Kerajaan!"
"Pfft... Hahahaha!" Sial, Ini sangat lucu. "Tahukah anda, Ratu?"
Aku berjalan ke arah sudut ruangan dimana sebuah meja berada. Di atas meja itu terletak sebuah vas bunga yang mana ada sebuah kristal di atasnya. Kristal unik berwarna biru keunguan, Permata yang ditemukan salah satu bawahan ku dan yang membuat unik adalah dia dapat merekam beberapa kejadian hanya dengan mengalirkan Mana dalam beberapa saat. "Silahkan saja jika anda ingin melaporkanku pada Dewan Kerajaan. Namun aku memiliki ini..."
Aku mengalirkan mana milik ku pada kristal tersebut dan secara ajaib sebuah proyeksi hologram mulai tampak. Proyeksi itu menunjukkan tindakan Raiser yang menyerangku menggunakan sihir miliknya. "Kau pasti paham akan diriku semasa kecil dulu, kan?"
"Aku sangat suka belajar karena aku selalu ingin tahu apa yang tidak aku tahu dan karenanya aku mempelajari sejarah semua keluarga di Kerajaan ini. Keluarga Phoenix, Dari dulu terkenal akan keserakahan dan juga Arogansi mereka yang bangga atas regenerasi super mereka." Aku tersenyum dengan lepas dan menatap wajah Ratu yang tidak bisa apa-apa di hadapan rencana ku. "Karena keserakahan kalian, Aku tahu bahwa kalian datang hanya untuk menguasai pemasukan wilayah ini. Lalu pada siapa kalian akan menyerahkan hak atas tanah ini? Tentu jawabannya Raiser. Dan karena Raiser terkenal akan kearoganannya, Maka aku sengaja memancing amarahnya untuk menyerangku."
"Bukankah sudah ku katakan sebelumnya kalau kalian sedang bermain di tanganku saat ini?" Kata-kata yang ku keluarkan sangatlah ringan tanpa beban di dalamnya. Tentu saja itu hanya berlaku untuk diriku bukan kepada Ratu ataupun Raiser yang hanya bisa terdiam dengan keringat yang membasahi dahi mereka.
Aku menapakkan kaki ku mendekati Ratu yang sedang berlutut mencoba untuk menenangkan anaknya yang bersimpuh di lantai memegangi bahunya. Saat jarak kami terpaut satu langkah lagi, Aku berhenti dan menyamakan tinggi ku dengan mereka berdua dan berkata, "Blessing of Phoenix adalah berkah yang kalian dapatkan dari salah satu Heavenly Beast. Berkah yang membuat keturunan didalam keluarga Phoenix dapat meregenerasi luka yang mereka dapat mau separah apapun luka mereka, Namun aku mempelajari sesuatu! Berkah itu tidaklah sempurna, Setiap kali kalian meregenerasi luka Mana kalian akan dikorbankan. Lalu bagaimana jika aku memerintahkan Ikki untuk menyerang Raiser terus menerus tanpa henti?"
"Kalian sudah tahu jawabannya, kan? Jadi, Pergilah dari wilayah ini dan jangan pernah menunjukkan wajah kalian dihadapanku, Paham?"
Walaupun terlihat enggan namun Ratu dan Raiser hanya bisa menundukkan kepala mereka tanpa memberikan gertakan sekalipun. Mereka sudah kalah bahkan sebelum berperang jadi untuk apa mereka melanjutkan konfrontasi jika mereka tidak ada kesempatan untuk menang?
Mereka berdua berjalan dengan Ratu yang mencoba membopong tubuh Raiser yang mulai beregenerasi. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya hanya sebuah tatapan malu yang keluar dari sorot matanya. Hingga...
"..."
Karena ucapanku yang tidak dapat ia dengar, Sorot mata itu berubah. Wanita itu terkejut dengan apa yang keluar dari mulut ku hingga wajahnya tidak dapat terlihat lagi dikarenakan pintu sudah tertutup.
Anak itu, Apa dia sudah tahu?
Aku, Elizabeth Phoenix, Saat ini sedang dalam suasana hati yang tidak dapat dikatakan baik-baik saja. Semua yang ku rencakan hancur berantakan dan bagaimana anak itu tahu jika kedatangan ku adalah untuk mengambil alih pemasukan wilayahnya mengatasnamakan kepentingan kerajaan?
Rencana yang sudah ku susun dalam beberapa minggu terakhir hancur berantakan. Semua dikarenakan rumor sialan itu! Rumor yang mengatakan kalau Tower mendapatkan pasokan Crimson Bloom dengan harga 2x lipat dari harga pasaran namun dengan kualitas yang lebih baik dari Wilayah Namikaze.
Jika! Jika saja aku berhasil menjalankan rencanaku maka ladang emas yang menghasilkan puluhan ribu keping emas dalam setiap transaksi akan masuk kedalam kantungku! Apa dia tidak tahu jika aku sudah menghabiskan 10.000 keping emas untuk menyuap 5 dari 10 dewan kerajaan? Dan bagaimana seorang pemuda berusia 17 tahun, Yang baru sadar dari kondisi kritis dalam beberapa bulan terakhir bisa merencakan semua itu seorang diri?
Dan lagi, Apa maksud kata-kata terakhirnya?
"Ingat ini, Bayangan sedang menggali jauh di dalam kegelapan!"
Apa maksudnya? Bukankah bayangan dan kegelapan selalu hidup berdampingan? Tidak! Aku yakin bukan itu! Ada sesuatu yang sangat besar sedang direncakannya dan aku yakin itu akan menghancurkan fondasi yang sudah ku bangun selama ini.
"Atau mungkin para Hassan memberikan kesetiaannya kepada anak itu?"
"Apa yang kau gumamkan, Bu! Setidaknya bantu aku sekarang!"
Aku tersadar saat mendengar suara itu, Suara dari anak kedua ku yang sedang menahan amarah dan rasa sakitnya, "Para Hassan tidak akan meninggalkan daerah mereka. Mereka bukan orang-orang yang mudah untuk menjadi pengikut seseorang hanya karena orang itu adalah seorang pemimpin. Bahkan untuk ukuran Raja Strada pun, Mereka tidak akan melayaninya jika mereka tidak mau."
Apa yang dikatakan Raiser ada benarnya. Hassansin, Sebuah kesatuan pembunuh paling berbahaya yang ada di benua ini. Berisi orang-orang dengan kemampuan asasinasi yang sangat hebat terlebih 18 Grandmaster dan juga King Hassan tidak dapat diremehkan untuk seukuran kelompok yang hanya melakukan pembunuhan dan juga menyebarkan luas agama mereka.
Bahkan King Strada saja hanya bisa meminta pertolongan kepada kelompok tersebut dan tidak dapat sumpah setia mereka untuk melayani kerajaan. Semua itu karena pandangan antara baik dan buruk yang dianut King Strada dan juga King Hassan sangat bertolak belakang dan sangat tidak mungkin mereka memberikan kesetiaannya untuk melayani keturunan Kushina sekalipun benteng Alamut ada di dalam wilayah anaknya.
"Bu! Izinkan aku memimpin Red Phoenix Infantry untuk menyerang wilayah ini. Sungguh! Aku tidak terima karena mereka sudah menghina diriku!" Ucap Raiser kala itu dan untuk ku yang mendengarnya hanya bisa terkejut.
Red Phoenix adalah Infantry yang dimiliki Phoenix Family. Pasukan paling kuat yang kami miliki namun itu juga belum cukup untuk menaklukkan wilayah ini. Wilayah ini adalah wilayah yang sangat kuat dan bukan tanpa alasan King Strada meninggalkan wilayah ini kepada Naruto. Semua itu karena para Royalis yang mengikuti Kushina dan diteruskan pada anak sematawayang nya. Monster-monster berwujud manusia yang kekuatannya sangat mengerikan dari rumor dan juga cerita yang terdengar, Saat peperangan memperebutkan wilayah ini dari Abbys, Orang-orang di wilayah Namikaze mempunyai peran yang sangat besar dalam perang.
"Kau tidak bisa menyerang wilayah ini, Raiser. Paman mu memang mencintai mu namun dengan dirimu yang membawa Red Phoenix Infantry ke wilayah ini yang kau dapat bukanlah kemenangan melainkan tumpukan mayat pasukan mu." Ucap ku dan Raiser yang mendengarnya hanya bisa menatapku dengan wajah tidak percaya. "Mengesampingkan keikutsertaan para Hassan, Tetap saja kau tidak bisa meremehkan wilayah ini."
"Earl Alucard, Pria itu dapat dengan mudah memenangkan peperangan karena dirinya dapat menggunakan Blood Magic. Medan perang yang memiliki darah yang sangat banyak dapat menjadi panggung yang megah untuk dirinya sendiri bersinar."
"Baron Sieg, Rumor mengatakan kalau ia adalah Inkarnasi dari Dragon Slayer terdahulu namun itu masih sekedar rumor. Dan yang menjadi momok menakutkan dari dirinya adalah kemampuannya untuk terus beregenasi seperti keluarga Phoenix."
"Viscountess Catina Roseline, Anak satu-satunya dari Viscount Roseline dan juga Kakak angkat Namikaze Naruto, Gadis itu tidak akan tinggal diam saat kau mengarahkan pedang mu kepada adiknya. Blue Rose, Pasukan Cavalery miliknya sangat ditakuti bahkan Red Phoenix milik kita akan kalah jika beradu kekutan dengan pasukan miliknya."
"Belum lagi Earl Yamanaka, Earl Nara dan juga Earl Akimichi tidak akan tinggal diam. Pasukan mereka sangat hebat dalam kerja sama kelompok dan masuk jajaran 10 pasukan ditakuti di benua ini. Tidak ada yang dapat menandingi kerjasama mereka bertiga."
"Marquess Uzumaki dan Marquess Uchiha, Mereka berdua adalah kerabat terdekat Naruto. Ibu nya adalah adik dari Marquess Uzumaki dan sahabat dari Marquess Uchiha, Kebersamaan mereka selalu erat dan tidak akan dapat dihancurkan. Lalu jangan lupakan hubungan Naruto dengan Angel Family, Michael dan juga Ketiga adiknya. juga Bahkan Uther Pendragon tidak akan tinggal diam jika kau menyerangnya. Tidak akan ada yang tersisa jika kau bergerak dengan tergesa-gesa, Semua ada waktunya dan kita hanya tinggal menunggu saja."
Pada saat itu Naruto tidak tahu jika ada 2 ancaman yang bersiap mengarahkan pasukannya kepada wilayah yang ia cintai. Dvarga yang mencoba untuk menaklukkan Airia untuk menjadikan para wanita sebagai pemuas nafsu pria dan Phoenix Family yang menuntut balas atas penghinaan Raiser.
Brughh...
"Hah... Melelahkan berpura-pura menjadi lemah, Sialan!"
"Naruto-sama, Harap jaga ucapan anda. Bagaimana jika ada seseorang yang menyebarkan rumor tidak sedap tentang sikap anda yang tidak sebagaimana bangsawan bersikap."
Aku Ikki, Saat ini hanya dapat mengusap kepala melihat tingkah laku dari teman sekaligus seseorang yang ku layani dalam kehidupanku sebagai seorang Ksatria. Namikaze Naruto, Teman ku, Saat ini hanya bisa mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya saat mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
Diriku sendiri tidak dapat menyangka jika rencana yang Naruto jalankan bisa dapat berjalan sebagaimana mestinya dan semua yang lakukan semata-mata untuk mempertahankan wilayah ini. Dirinya adalah seorang Realis namun dilain sisi terkadang ia menjadi naif dan berubah menjadi Idealis. Sungguh! Suatu kehormatan bisa bertugas sebagai seorang Ksatria yang melayaninya.
"Terima kasih, Ikki. Karena mu wajahku tidak hangus terbakar." Ucapnya dengan senyum di wajahnya. Dirinya sendiri pasti tidak menduga jika Raiser akan bertindak dengan melemparkan sihir ke arah Naruto. Dan benar seperti yang ia katakan, Jika aku tidak refleks dan menebas sihir itu menjadi dua maka wajah Naruto mungkin akan hangus.
Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala ku sebagai respon jawaban yang ku berikan kepadanya. Dirinya sendiri terlihat sangat lelah dan selalu memaksakan dirinya untuk mengurus wilayah ini, Naruto dan juga Arthuria, Mereka berdua adalah sosok yang sangat ku cintai sebagai seorang keluarga. Tidak dapat dipungkiri tanpa adanya mereka berdua, Aku mungkin akan terus menjadi seseorang yang tidak dapat mengekspresikan diriku sendiri.
"Hei Ikki, Kau ingat saat kita pertama bertemu dulu?" Tanya-Nya padaku dan akupun hanya bisa terdiam dan kemudian berkata, "Boleh saya duduk bersama dengan anda, My Lord?"
"Ayolah, Tugas mu saat ini sudah selesai bukan? Santai saja, Kita ini keluarga." Jawabnya dengan santai dan akupun hanya bisa termenung. Keluarga yah? Untuk seseorang yang bahkan tidak memiliki hubungan darah denganku mengakui diriku sebagai keluarganya berbanding terbalik dengan keluarga kandungku yang hanya mengejar kekuatan semata.
"Kalau tidak salah pertemuan kita saat itu ada di wilayah Earl Yamanaka..."
7 Tahun lalu saat malam hari, Salju pertama ditahun ini turun. Aku yang saat itu berusia 8 tahun hanya bisa diam menunggu ajal di pinggiran jalan agar aku sendiri tidak mati kedinginan. Anak berusia 8 tahun yang dibuang keluarganya hanya karena tidak memiliki kapasitas 'Mana' yang cukup menunggu ajal di gang sempit dalam kegelapan layaknya seekor kucing yang menunggu kematian menjemputnya.
Entah apa yang ku pikirkan saat itu dan memutuskan untuk kabur dari rumah, Namun yang pasti adalah aku sudah tidak kuat. Setiap hari fisik dan juga psikis yang ku miliki terus menerus dihancurkan, Sedikit demi sedikit, Hingga tidak ada lagi yang dapat ku pertahankan. Benteng yang buat antara diriku dan keluargaku hancur begitu saja saat aku tahu kalau orangtua ku sendiri berusaha untuk membuangku dengan alasan malu memiliki anak sepertiku.
Jika begitu kenapa aku harus lahir ke dunia ini?
Kenapa aku harus merasakan semua yang kurasakan?
Dan bahkan, Aku lupa kapan terakhir kalinya aku tersenyum.
Anak tertua dari kepala keluarga Kurogane, Salah satu dari 3 Magic Swordman Family di benua ini, Hidup sebagai aib keluarga. Beban yang diberikan kepadaku sangatlah berat bahkan untuk dipukul seorang bayi yang baru bernafas di dunia ini. Aku selalu mencoba untuk memenuhi ekspetasi yang mereka harapkan pada diriku namun apa yang aku dapat?
Bukan penghargaan namun sebuah penghinaan.
Perlahan orang-orang menjauhi diriku. Orangtua ku, Para Maid, Para Knight, Dan bahkan orang yang berharga bagiku, Adik ku sendiri menjauh karena aturan dari keluarga itu.
Dan karena hari itu sedang turun salju, Aku sangat bahagia. Aku bahagia jikalau aku tidak ditemukan saat aku mati terkubur salju. Hingga saat kegelapan mulai membawaku untuk tinggal bersama nya, Seseorang mencoba untuk menarik ku.
Seseorang yang seumuran denganku berlari dan memukul kepala ku sampai aku sadar. Ia tidak peduli dengan rasa sakit yang aku rasakan akibat perbuatannya, Ia hanya ingin aku tetap sadar dan tidak menutup mata ku. Di sela-sela perlakuan anak itu terhadap diriku, Anak itu berkata, "Kau tidak apa-apa, kan?"
"Kau tidak perlu tidak disini, Disini dingin! Aku bahkan tidak bisa menggendong mu jika kau tiba-tiba tertidur disini. Aku mempunyai rumah yang sangat besar! Ibu ku adalah pemimpin wilayah ini dan aku yakin kalau ia akan senang jika aku membawa temanku ke rumah kami..."
Aku hanya bisa terdiam mendengar itu dan anak itu berlari ke arah seorang wanita berambut merah dengan senyum yang sangat cantik di wajahnya. Beberapa kali anak itu menarik pakaian ibunya dan mencoba untuk membujuk wanita itu namun tanpa ku duga, Wanita itu hanya tersenyum dan mengelus pucuk kepalanya dengan halus.
Sungguh aku iri kepadanya. Apa yang ku lakukan selalu saja kurang dimata kedua orangtua ku namun melihat sikap ibu anak itu dan kehangatan yang diberikan kepadanya, Menbuat diriku iri. Iri karena aku tidak pernah mendapatkan hal yang sama persis dengan anak itu.
"Namikaze Naruto, Itu namaku! Nama mu?" Anak itu berlari ke arahku dan mengulurkan tangannya mengajak ku untuk berkenalan. Dan aku hanya bisa menjawab dengan menggunakan nama ku sendiri tanpa adanya nama keluarga, "Ikki, Nama ku Ikki."
Seusai kami berkenalan, Ibu dari anda berjalan kearah ku. Dia mensejajarkan tinggi dengan diriku dan tanpa diduga tangannya terangkat hingga membuat trauma yang ku alami bangkit. Trauma atas perlakuan orang-orang kepada ku hingga diriku refleks menutup mata. Namun bukan sebuah pukulan yang ku terima melainkan sebuah usapan dikepalaku seraya berkata, "Yosh... Yoshh... Tidak perlu takut, Ikki-kun. Kamu sudah berjuang keras untuk sampai akhir." Mendengarnya aku hanya bisa diam dan menikmati usapan tangannya pada kepala hingga tanpa ku sadari perasaan hangat yang sangat asing memasuki hati kecil ku.
"Anda dan Okaa-sama membawaku ke mansion ini tanpa mengetahui identitas ku yang sebenarnya..."
Orang-orang di mansion ini langsung berlarian dengan panik untuk mempersiapkan air hangat, Bahkan untuk seorang pak tua yang menjadi Kepala pelayan di mansion ini berlarian tunggang langgang mempersiapkan kamar untuk diriku. Orang-orang disana tertawa saat aku makan dengan lahap bahkan saat beberapa makanan terjatuh menuju lantai. Mereka tertawa karena tingkah laku ku.
Namun pada suatu hari, Kala aku berjalan bersama dengan anda menuju lapangan dimana para ksatria berlatih, Seseorang menarik minatku. Seorang gadis yang seumuran dengan kami berdua sedang berlatih dan terkadang juga mendengarkan bimbingan dari seorang pria berambut merah seperti Kushina Okaa-sama.
"Itu adalah pertemuan awal ku dengan Art."
Kekalahan pertama ku sebagai seorang Ksatria adalah saat melawan Arthuria. Gadis itu sangat hebat dalam bermain pedang. Kekuatan, Kecepatan, Tehnik, Semua itu ia miliki layaknya sebuah berlian yang terus menerus dipoles. Melihat bakat yang sangat gemilang seperti itu membuat diriku sendiri ragu akan bakatku namun pria berambut merah itu datang kepada ku dan mengatakan sesuatu yang sangat berpengaruh pada hidup ku, "Kau dan dirinya berbeda, Nak. Jika dirinya adalah berlian yang sedang dibentuk maka kau adalah seonggok besi di sudut gudang. Namun bukan berarti besi itu tidak berguna! Kemarilah dan aku akan membuat besi itu menjadi besi paling tajam di dunia."
Semenjak hari itu aku mulai mengetahui arti dari kehangatan sebuah keluarga. Seorang ibu yang mencintai anaknya, Seorang saudara yang bermain dan tertawa bersama, Seseorang yang bisa marah ataupun menangis untuk diriku dan sebuah tempat untuk ku pulang. Hingga tanpa ku sadari, Semenjak pengangkatanku menjadi Ksatria, Seluruh wilayah Namikaze adalah keluarga ku.
"Dan aku bersumpah! Walaupun tubuh ku harus berdarah-darah, Tulang-tulang ku patah dan semua otot ku robek, Aku akan mengabdikan tubuhku untuk wilayah ini. Karena kalianlah satu-satunya keluargaku." Ucapku dengan air mata yang mengalir dengan sendirinya. Aku sendiri tidak sadar namun aku dapat kulihat kalau Naruto hanya diam dengan wajah mengejek ku.
Buaghh...
"SIALAN KAU NARUTO!"
BUAGHH...
"KENAPA KAU MEMUKULKU, HAH?"
Tanpa sadar aku memukul Naruto tepat di wajahnya dan Naruto juga memukulki dengan tinjunya. Inilah kami, Kami selalu bertengkar walau hanya karena masalah kecil dan kami selalu menikmatinya. Yahh... Setidaknya sebelum Arthuria datang karena semenjak kepergian Kushina Okaa-sama, Dia adalah orang yang selalu memperhatikan kami dengan kasih sayang layaknya seorang ibu.
Keesokan harinya, Laporan pengembangan wilayah dari masing-masing bangsawan mulai menumpuk di atas meja Naruto. Setidaknya, Untuk sekarang, Tidak ada lagi Naruto mendapatkan laporan tentang daerah kumuh yang menjadi sarang kejahatan karena ia percaya orang-orang yang menjadi bawahan sekaligus mentornya, Walau harus meminta bantuan daripada pemasukan masing-masing wilayah untuk melakukan pembangunan karena 94% Pemasukan dari wilayahnya ia jadikan investasi jangka panjang.
'Hmm... Sepuluh sekolah sudah di dirikan di beberapa wilayah. Yah, Sesuai permintaanku untuk memberikan pendidikan gratis kepada siapapun.'
Sepuluh sekolah sudah tersebar di beberapa daerah dan salah satunya ada di daerah kekuasaan Naruto. Walaupun sebelumnya mendapatkan penolakan mentah-mentah dari para bangsawan namun Naruto berhasil meyakinkan mereka semua bahwa pendidikan itu penting bagi setiap orang apalagi anak-anak yang menjadi pilar masa depan menggantikan generasi tua, Belum lagi mereka semua sangat paham tentang sifat keras kepala Naruto yang diwarisi dari ibunya.
Naruto kemudian mengambil satu berkas setelah memeriksa berkas sebelumnya dan kali ini ia tersenyum disertai dengusan kecil saat melihatnya. 'Akhirnya! Wilayah ini memiliki pasukan yang memadai untuk bertahan di peperangan. 10.000 pasukan yang terdiri dari,..'
'4.000 Pasukan Infantry, 3.000 Pasukan Cavalery, 800 Pasukan yang setara dengan seorang Knight, 2.000 Archer dan 1.200 Mage. Itu semua belum termasuk 3.000 pasukan yang berjaga di dalam wilayah sebagai pasukan keamanan. Masing-masing dari mereka dilatih dibawah para bangsawan ambil contoh saja Pasukan Infantry yang dilatih Marquess Uzumaki dan juga 3 Keluarga Earl, Lalu Para Archer dan juga Mage yang dilatih Marquess Uchiha dan juga Viscountess Catina, Dan Cavalery yang dilatih Baron Sieg.'
'Dan permasalahan kali ini, Aku harus menyisihkan pendapatan untuk membuat perlengkapan bagi 13.000 Orang yang bertugas di wilayah ini. Belum lagi membuat beberapa peralatan khusus untuk para Loyalis ku. Hufft...' Pikirnya, Karena apa yang ia pikirkan adalah sebagian dari fakta. Walaupun dirinya sangat pintar dalam beberapa bidang namun ia masih harus memikirkan beberapa permasalahan yang akan datang.
Battle Gear, Sebuah perlengkapan yang terdiri dari set armor dan juga senjata yang harus ia siapkan untuk semua tentara. Belum lagi, Ia harus mempersiapkan beberapa peralatan unik untuk mengapresiasi kinerja pasukannya. Belum lagi dirinya masih harus mengandalkan peralatan perang dari luar wilayah dengan kata lain, Ia harus melakukan Import dikarenakan kekurangan untuk memenuhi kebutuhan wilayahnya.
Naruto yang melihat dokumen itu hanya tersenyum lalu menandai kalau dokumen itu sudah ia selesaikan namun untuk pengajuan dana guna membeli Battle Gear tidak ia setujui karena, 'Potensi Blacksmith di wilayah ini sangat bagus dan akan sia-sia jika tidak di manfaatkan.'
Dulu sekali, Selain melakukan tugasnya sebagai alat negara, Ada satu hal yang Naruto sukai selain bermain wanita yaitu wisata. Ia senang sekali berkeliling dunia dan ia adalah orang yang memiliki catatan buruk dimana ia selalu bolos kerja hanya untuk memenuhi hasratnya sendiri. Namun dikarenakan ia merupakan aset yang sangat penting, Kemiliteran tidak memberikan pemberhentian secara paksa kepada dirinya.
Dan karena itulah, Dirinya tahu jika kualitas Blacksmith di wilayah ini dapat bersaing dengan wilayah besar seperti Kekaisaran dan tentunya ia harus menggelontorkan dana yang lumayan besar sebagai investasi awal.
Dirinya mulai menulis beberapa hal di atas sebuah kertas dan memanggil salah seorang penjaga ruangan yang berjaga di luar, "Berikan surat ini kepada Earl Yamanaka." Dan dengan begitu penjaga tersebut pergi meninggalkan ruangan dan Naruto sendirian sebelum seorang Maid masuk membawa makanan ringan dan juga teh hangat.
Naruto yang melihat itu hanya tersenyum kepada gadis didepannya. Ia mengingat masa lalu saat ia masih di bumi saat melihat Touwa namun itu semua berbeda, Jika Touwa masih tersenyum walau kehilangan orangtuanya, Naruto berbeda. Ia adalah seseorang yang dingin, Ia melihat dunia ini sebagai neraka yang akan memangsa apapun kedalam jurang keputusasaan.
Mengambil teh yang Touwa hidangkan dan Naruto beranjak dari tempat duduknya mendekati jendela yang ada di sisi ruangan hanya untuk menikmati dan mensyukuri hidup yang sudah ia terima saat ini. Dirinya tidak ada prasangka buruk kepada tuhan, Ia hanya berterimakasih pada kesempatan kedua yang diberikannya, Setidaknya untuk saat ini ia ingin menikmati kehidupan santai yang diberikan kepadanya. Seketika otaknya bekerja kembali,
'Count Alucard saat ini sedang berada di masa bebas tugas sebagai bangsawan dan tinggal menunggu dirinya melepas jabatan sebagai seorang bangsawan. Aku tahu siapa dirinya hanya dari matanya saja. Ia adalah seekor monster yang dibelenggu rantai di wilayah ini, Kerinduannya pada pertarungan akan menjadi-jadi dan mungkin akan terjadi pemberontakan maka dari itu akan membebaskan dirinya dari tugas dan menjadi instruktur lapangan para rekrutmen untuk mendapatkan pengalaman tempur.'
Dirinya sendiri sadar jika Count Alucard adalah seseorang yang sangat cinta pada peperangan sama seperti dirinya. Sensasi yang dirasakan antara hidup dam mati, Otot-otot yang rusak dan juga darah yang membasahi wajah, Dirinya tahu akan itu semua dan karena itulah ia membebaskan Alucard dari tugasnya. Bahkan karena hal tersebut, Alucard berterimakasih kepada dirinya dan menerima tugas yang diberikan dengan senang hati.
'Dengan sinergi yang dihasilkan antara Uzumaki's Swordmanship yang terkenal karena pergerakan tidak beraturan, Lalu pelatihan tempur dari Alucard yang terkenal tidak ampun kepada siapapun maka akan tercipta sebuah unit yang sangat berbahaya. Setidaknya aku tidak ingin wilayah ini diremehkan oleh siapapun bahkan Royal Family sekalipun.'
Dirinya selalu berterimakasih kepada loyalisnya walaupun tidak ia sampaikan melalui lidahnya namun ia menyampaikan melalui pekerjaannya. Walau dirinya tidak mengembalikan semua kekayaan yang ia minta untuk membantu dirinya, Namun suatu saat nanti, Saat ekonomi di wilayah ini sudah membaik dan memasuki taraf cukup menurut dirinya, Ia akan mengembalikan semua itu.
Senyuman yang sangat menyeramkan keluar dari wajah Naruto saat ia memikirkan hal-hal yang akan datang secepatnya. Pasukan yang kuat, Income dari wilayah ini dan lagi kehidupan damai yang akan ia rasakan membuat dirinya sangat senang. Tentunya, Senyuman itu mengusik satu-satunya orang yang sedang bersama dengan dirinya di dalam ruangan tersebut.
"Naruto-sama, Seringai di wajah anda sangat menakutkan." Mendengar itu seketika Naruto tersadar dan memandang Touwa yang berdiri ketakutan dengan nampan di dadanya. Naruto dengan cepat tersenyum manis ke arah Touwa dan berkata, "Maafkan aku jika diriku membuatmu ketakutan."
"Tidak apa, Naruto-sama. Dan saya takjub dengan metode menyiksa yang anda lakukan beberapa bulan terakhir, Lihatlah anda sudah berubah menjadi Naruto-sama yang dulu." Mendengar Touwa yang berkata demikian membuat Naruto seketika mengalihkan pandangannya.
Tubuhnya yang dulu sangat penuh dengan gumpalan lemak sekarang hanya berisi otot yang terbilang cukup untuk anak seusianya. Tubuhnya saatnya berbobot 60Kg, Mengingat massa otot seorang pria lebih besar daripada perempuan, Maka itu adalah berat badan ideal yang dapat ia capai saat ini. Setidaknya, Ia dapat bergerak dengan nyaman dan juga tidak mengeluh lelah saat ia berolahraga.
"Hiraukan masalah itu, Sekarang..."
Brakk...
"Maafkan atas ketidaksopanan hamba, My Lord. Seorang Wizard dari Tower of Excanium datang mengunjungi anda. Dirinya mendengar jikalau anda tidak memiliki seorang Wizard disisi anda dan mengajukan permohonan guna membuat Kontrak dengan anda."
Sesaat sebelum Naruto dan Touwa mulai berbicara dengan santai, Arthuria datang dengan tergesa-gesa hingga membanting pintu ruangan tersebut. Dirinya membawa kabar jikalau ada seorang Wizard yang meminta pembuatan kontrak dengan dirinya dan Naruto yang mendengar itu hanya diam dengan wajah mengeras. Bukan karena dirinya marah atau apa, Namun ia sedang mencoba untuk mengingat 'Tower of Excanium' di dalam ingatannya.
"Sebelum aku pergi, Aku mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkanku namun lihat saja! Suatu hari, Aku akan mencarimu setelah mendapatkan kontrak dengan pemimpin wilayah ini."
Mengingat kata-kata yang dikeluarkan sang Wizard membuat Naruto teringat akan dirinya. Gadis cantik yang memiliki warna rambut yang sama dengan dirinya. Gadis bodoh yang mengaku sebagai seorang Wizard namun dapat ditawan kawanan bandit dan nyaris dijual sebagai budak, dan gadis yang sudah bertidak tidak sopan kepada dirinya. Mengingat itu semua Naruto menyeringai kembali, Seringai jahat yang penuh dengan rencana busuk hingga membuat Arthuria dan Touwa berkeringat dingin karenanya.
"Arthuria, Tolong kau panggilkan Menma kemari dan katakan kepadanya untuk mengenakan pakaian bangsawan." Mendengar itu Arthuria dan Touwa pun mengeluarkan keringat di dahi mereka. Karena mereka berdua tahu jika Naruto dan Menma sangat mirip yang membedakan hanyalah warna rambutnya saja.
'Apa yang sudah Wizard itu lakukan sampai membuat Naruto berencana untuk mengerjainya.'
Namaku adalah Siluca Meletez, Seorang Frist Class Wizard yang dilatih langsung oleh The Ten Elder of Excanium. Aku termasuk jajaran para jenius yang mewakili benua ini dikarenakan 'Mana Blessing' dan juga menguasai 5 Elemental Magic. Aku selalu dielu-elukan sebagai orang yang memiliki masa depan cerah hingga beberapa bangsawan dari Kekaisaran memintaku untuk melayaninya. Namun aku menolak mereka semua.
Kenapa? Apa alasannya?
Mereka semua tidak memenuhi ekspetasiku sebagai seorang Wizard. Aku adalah seseorang dari kalangan bawah yang diterima dengan baik di masyarakat dan karenanya aku ingin seseorang yang memiliki masa lalu sama sepertiku. Seseorang yang mendaki dan selalu bekerja keras hingga menjadi dirinya yang sekarang ini hingga pilihanku jatuh kepada Duke Namikaze.
Seseorang yang memiliki kecerdasan yang mungkin ada diatasku namun ia selalu tidak puas dengan itu semua. Ia selalu belajar dan menutupi kekurangan dirinya sampai ia yakin bahwa kekurangannya sudah ditutupi.
Namun siapa sangka, Orang sepertiku bisa terjebak dalam perangkap bandit dan nyaris terjual sebagai budak sebelum seseorang menyelamatkanku. Dan karena merasa hutang budi, Juga karena melihat jika ia adalah seseorang yang pantas ku layani, Aku mengajukan sumpah setia ku kepadanya namun apa yang ia katakan kepadaku?
"Aku tidak tertarik."
Apakah dirinya tahu jikalau sumpah seorang penyihir adalah sesuatu yang sakral? Sumpah mereka akan terukir di dunia ini dan tidak akan dapat diubah hingga tuan mereka tewas bahkan jikalau tuan mereka tewas, Seorang penyihir tidak dapat melayani tuan yang lain. Berbeda dengan seorang Ksatria.
Dan saat ini aku sudah berada di dalam Mansion milik Duke Namikaze. Sungguh, Selama 2 Bulan terakhir aku sengaja tidak langsung kemari dan memilih untuk berjalan-jalan untuk melihat wilayah ini dan apa yang aku rasakan? Sebuah kedamaian. Pepohonan yang rindang di pinggiran jalan, Pemandangan yang menyejukkan saat melihat gandum menguning dan hembusan angin yang seakan-akan menyambut kedatanganku. Semua itu ada di wilayah yang berbatasan langsung dengan Abbys adalah sesuatu yang tidak dapat diduga siapapun.
"Masuk!" Aku yang berjalan melamun seketika tersadar saat Maid yang mengantarku sudah mengetuk pintu dan dapat ku dengar jika seseorang berkata dengan lantang dari balik pintu ini.
Aku pun berjalan masuk dan dapat kulihat beberapa orang ada di dalam ruangan itu. Mereka semua ada tiga orang, 2 Laki-laki dan 1 Perempuan. Mereka semua menatap wajahku dengan wajah yang sangat serius disertai aura kebangsawanan yang khas.
Seorang pemuda dengan rambut berwarna merah duduk di tengah-tengah ruangan. Dirinya mengenakan pakaian bangsawan yang menambah karisma khas untuk dirinya. Sorot mata berwarna keunguan itu sangat dalam dan tampak seperti rumor yang mengatakan kalau Mendiang Uzumaki Kushina juga memiliki warna mata yang sama. Dan kenapa wajah ku memanas saat menatap wajahnya? Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Oi kendalikan dirimu, Siluca! Dia adalah seorang Duke, Seorang bangsawan yang bahkan raja tidak memiliki kuasa di daerahnya sekalipun.
Seorang gadis berambut kuning berasa tepat di kanan Duke Namikaze. Gadis itu sangat cantik hingga diriku merasa rendah dihadapan kecantikannya, Kecantikan yang ia miliki bagaikan Dewi cahaya, Theia-sama, Yang menurut kepercayaannya sangat cantik. Ia mengenakan Armor putih dengan corak garis biru yang menutupi seluruh tubuhnya dan ia juga mengenakan sebuah jubah kebesaran berwarna biru yang amat cocok dengan dirinya.
Aku pun mengalihkan pandanganku dan dapat ku lihat seorang pemuda berambut kuning yang sangat gagah. Tubuh yang tinggi, Mata yang tajam, Hidung yang mancung dan juga rahang yang kokoh itu mengingatkan diriku pada Gideon-sama, Sang dewa pelindung. Dan rasanya aku pernah bertemu dengan pemuda itu namun dimana... Ahh...
"Kau! Kau si gendut yang waktu itu, kan? Kau yang menyelamatkan dan menolak sumpah setia ku!" Aku yang kesal langsung berkata dengan intonasi yang sedikit tinggi dan yang paling hina adalah satu jari ku yang menunjuk kearah wajah pemuda tersebut. Namun yang tidak ku duga bukanlah reaksi dari Duke Namikaze melainkan gadis berambut kuning yang mulai menarik pedangnya.
"Maaf atas ketidaksopanan hamba, Namun bawahan anda mencela janji setia seorang penyihir dan karenanya amarah hamba memuncak saat bertemu dengan dirinya." Ucapku dan sepertinya Lord Namikaze juga mengerti apa yang aku rasakan karena ia adalah seorang Wizard juga. Berbeda dengan Knight yang akan menempa diri saat sumpah setia mereka ditolak, Maka Penyihir akan mengutuk orang tersebut sampai dirinya tiada. Namun kenapa suasana ruangan ini sangat hening?
"Pffft... HAHAHAHAHHA!"
"Eh..."
"Kau sudah puas, Saudaraku?"
"Eh..."
"Tentu saja, Menma! Aku puas dengan ini semua."
"Eh..."
"Hahaha.. Haha.. Ha... Maafkan aku."
Aku tidak dapat berkata apapun saat orang yang kupikir Duke Namikaze berdiri dari kursinya dan digantikan orang yang sudah ku hina sebelumnya. Ia hanya tersenyum saat melihat wajahku yang kebingungan dan kemudian aku tambah terkejut saat ia mulai berbicara.
"Mari kita mulai pertemuan ini! Aku, Duke Namikaze Naruto, Pemimpin dari wilayah ini, menyambut kedatangan Siluca Meletez."
Jadi, Selama ini...
Orang yang ku hina dan orang yang akan ku layani adalah orang yang sama? Orang yang aku katai kalau dirinya gendut dan wajahnya mirip dengan babi adalah orang yang akan ku layani saat ini.
KEBODOHAN APALAGI YANG SUDAH KAU PERBUAT, SILUCA!
To Be Continue
Author's Note!
Yo, Apa kabar kalian semua? Sehat? Ku harap demikian. Ya hanya itu saja, Tidak lebih! Saya hanya ingin mengatakan terima kasih kepada kalian yang mendukung saya dalam membuat karya ini.
Dan akhir kata,
JANGAN LUPA REVIEW, TOD!
