Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Date A Live: Koushi Tachibana
.
.
.
Pairing: Naruto x Kurumi
Genre: fantasy, supernatural, romance, scifi
Rating: M
Setting: Alternate Universe (AU)
.
.
.
Phenogram
By Hikayasa Hikari
.
.
.
Chapter 4. Tinggal sementara
.
.
.
Kurumi dan Kurenai yang tiarap di lantai, melihat ledakan besar di hadapan masing-masing. Mata mereka membesar karena Naruto tidak mengalami apa-apa saat ledakan menghantam tubuh Naruto. Entah apa yang terjadi. Hal itu menimbulkan pertanyaan di benak Kurumi dan Kurenai.
Gadis berambut putih yang menembak Naruto dengan meriam cahaya, turut membulatkan mata. Dia kaget ketika Naruto tetap berdiri tegap, tak jauh darinya. Kemudian Naruto mengeluarkan pedangnya dari ketiadaan.
"Phenogram!" seru Naruto menghentakkan ujung bilah pedang ke lantai. Cahaya berputar, menyebar dari bilah pedang hingga ke lantai. Membentuk cabang-cabang yang menyerupai akar merambat, bergerak cepat menuju gadis berambut putih.
Cahaya yang bercabang berhasil mencapai kaki gadis berambut putih. Prinsip kerjanya sama dengan granat, yang mampu meledak jika bersentuhan dengan sesuatu.
Ledakan besar terjadi di hadapan Naruto. Menimbulkan gelombang kejut yang sangat kuat. Mementalkan semua yang ada di dekatnya kecuali Naruto, Kurumi, dan Kurenai.
Sunyi. Menyisakan asap hitam tebal di pusat dentuman tadi. Tapi, gadis berambut putih tadi, sempat kabur sebelum ledakan terjadi. Dia terbang dengan menggunakan jet yang terpasang di punggungnya.
"Apa sudah berakhir?" tanya Kurumi mengangkat kepala untuk melihat keadaan di sekelilingnya.
"Sudah hancur begini," jawab Kurenai ternganga karena rumahnya benar-benar sudah runtuh sebagian. Duduk bersimpuh. Lesu.
"Maaf, aku sudah menyebabkan kekacauan ini. Tapi, aku harus melindungi kalian dari gadis Exorcist tadi," sahut Naruto tersenyum, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "aku akan mengganti rugi untuk perbaikan rumah ini."
"Kau tidak perlu mengganti rugi, Uzumaki-san. Karena aku bisa memperbaiki rumah ini dengan asuransi." Kurenai tersenyum.
"Asuransi?" Naruto sedikit membesarkan mata.
"Ya." Kurenai mengangguk.
Naruto terpaku, lalu menghela napas. Bersyukur karena masalah yang menderanya sesaat, langsung lepas dari dirinya.
"Kalau begitu, kau pulanglah, Uzumaki-san," kata Kurumi perlahan berdiri.
"Kau mengusirku?" Naruto melirik Kurumi. Netranya melebar lagi.
"Tidak. Hanya saja, aku tidak butuh bantuanmu lagi."
"Hei, aku sudah menolongmu. Tapi, kau malah memperlakukan aku begini."
"Benar, Rumi-chan, kau tidak boleh begitu," sela Kurenai berjalan mendekati Kurumi, "berterima kasihlah pada Uzumaki-san."
"Terima kasih."
Kurumi bermuka datar. Memandang Naruto dengan tatapan tajam. Sejujurnya, dia tidak ingin membuat orang-orang di sekitarnya, celaka oleh dirinya. Sebab itu, dia bersikap dingin terhadap Naruto.
"Apapun yang terjadi, aku akan tetap di sini, untuk menjagamu, Rumi-chan," ucap Naruto bertampang serius.
"Kau tidak pulang juga?" tanya Kurumi meraih kayu-kayu yang berserakan di lantai.
"Tidak."
"Pulanglah."
"Tidak. Rumah kalian sudah hancur begini. Bagaimana kalau kalian tinggal saja sementara di tempatku?"
Kurumi menjeling Naruto. Tatapannya datar. Naruto tersenyum, menunggu jawaban darinya.
"Kami mau tinggal di tempatmu, Uzumaki-san," ucap Kurenai tersenyum.
"Hah? Oka-san?" Kurumi tercengang.
"Baiklah. Persiapkan semua barang yang ingin kalian bawa. Aku tunggu," balas Naruto tersenyum.
.
.
.
Origami tiba di puncak gedung. Dia mendarat tanpa menyentuh lantai. Menyebabkannya terjatuh dan wajahnya menghempas lantai. Mengejutkan dua temannya.
"Origami!" seru Tohka dan Kotori yang sejak tadi duduk di lantai, berlari menghampiri Origami.
Origami tidak bisa menggerakkan kakinya karena terluka parah. Sepatu besi yang melindungi kakinya, sempat terkena ledakan akibat dari serangan Naruto tadi. Ledakan memang menghancurkan sepatu itu, tetapi berdampak juga dengan kakinya karena efek dari radiasi ledakan.
"Sepatumu rusak, Origami," tutur Kotori bermuka cemas saat melihat percikan listrik kedap-kedip muncul di sepatu Origami, "apa yang terjadi padamu?"
"La ... laki-laki berambut pirang yang disebut Tohka, melindungi gadis bermata iblis itu lagi," sahut Origami tergagap.
"Hah? Dia masih ada di dekat gadis bermata iblis itu?" tanya Tohka tercengang.
"Ya. Saat dia menggunakan pedangnya, dia menyebutkan Phenogram."
"Phenogram?" Tohka dan Kotori melebarkan mata.
"Aku lepas sepatumu dulu, Origami. Tahan, ya?"
Kotori menekan tombol yang ada di bagian atas sepatu Origami -- tombol off dan on yang berfungsi untuk membuka dan menutup sepatu mekanik. Sepatu terbuka dan melebar sehingga Kotori bisa melepaskannya dari kaki Origami.
Origami merasa sakit luar biasa pada kakinya saat Kotori menarik resleting sepatu bots ke bawah. Luka-luka bakar melepuh terlihat dari betis hingga jari-jari kaki Origami seperti daging sapi yang masak setengah matang.
"Lukamu parah, Origami," kata Tohka melebarkan mata, "kami harus membawamu kembali ke Ratatorsk."
"Ta ... tapi, bagaimana dengan misi kita?" tanya Origami bermuka kusut.
"Biar aku dan Kotori yang menyelesaikannya."
"Ya. Yang penting, kau harus mendapatkan perawatan dulu," sela Kotori langsung mengangkat badan Origami. Dibantu oleh Tohka.
Kotori dan Tohka merangkul pinggang Origami dari dua sisi. Mereka terbang dengan jet masing-masing, pergi ke markas besar.
.
.
.
Naruto, Kurumi, dan Kurenai tiba di kuil yang tidak terpakai di ujung perumahan, dekat hutan. Mereka membawa tas masing-masing. Berdiri di depan pintu kuil. Terpana dengan keadaan sekitar yang sunyi kecuali Naruto.
Kuil itu memiliki halaman yang cukup luas. Banyak pohon Sakura dan pohon rindang lain yang menghiasi di sekitarnya. Ada gapura dengan pagar merah yang mengelilinginya.
"Selamat datang di tempatku," ucap Naruto tersenyum, membuka pintu kuil dengan kunci karena pintu digembok sejak tadi pagi, "kalian bisa menempati satu kamar yang kosong karena ada dua kamar di sini."
"Tunggu!" seru Kurumi menukikkan alis. Naruto dan Kurenai yang ingi masuk, tidak jadi melangkah.
"Ada apa, Rumi-chan?" tanya Kurenai mengerutkan kening.
"Apa tidak masalah jika aku masuk ke sana?" Kurumi balik bertanya, menunjuk ke pintu.
"Tidak masalah. Kau itu manusia setengah iblis, tentu bisa masuk ke kuil ini. Lain ceritanya jika kau masuk ke gereja."
Naruto yang menjawab, tersenyum. Membuka pintu berdaun dua selebar mungkin agar dua tamunya bisa bebas masuk. Kemudian membantu mengangkat dua koper kecil milik Kurumi dan Kurenai. Naruto langsung berjalan masuk.
"Ayo, Rumi-chan!" ajak Kurenai menarik Kurumi masuk. Menemukan ruangan utama yang sangat luas dengan sedikit perabotan.
Naruto membuka sepatu dan meninggalkannya di luar. Dia berjalan dengan kaos kaki, menyeret koper-koper yang beroda menuju kamar. Menimbulkan suara sedikit ribut akibat pergerakan roda koper-koper.
Kurumi dan Kurenai memperhatikan keadaan yang cukup sunyi. Interior ruangan itu serba putih dan biru. Tidak ada sarang laba-laba yang biasanya menghiasi di berbagai sudut atau debu yang menyelimuti semua ruangan. Bersih dan rapi.
"Sepertinya Uzumaki-san selalu membersihkan tempat ini," kata Kurenai tersenyum.
"Itu benar. Aku tidak suka dengan kotor, akan selalu ingin bersih," balas Naruto berjalan mendekati Kurenai.
"Itu bagus, Uzumaki-san."
"Ya. Aku sudah mempersiapkan semua keperluan untuk tidur. Lalu, jika kalian ingin mandi, kamar mandi ada di ujung sana."
Naruto menunjuk ke arah yang dimaksud. Kurumi dan Kurenai melihat ke arah yang dimaksud.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Chapter 4 up. Terima kasih.
Dari Hikayasa Hikari.
Jumat, 6 Januari 2023
