Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Date A Live: Koushi Tachibana
.
.
.
Pairing: Naruto x Kurumi
Genre: fantasy, supernatural, romance, scifi
Rating: M
Setting: Alternate Universe (AU)
.
.
.
Phenogram
By Hikayasa Hikari
.
.
.
Chapter 5. Tentang Phenogram
.
.
.
Naruto tersenyum usai menunjukkan letak kamar mandi. Dia menurunkan tangan kanan. Meletakkan tangan di sisi tubuhnya.
"Hari sudah malam. Kalian segeralah beristirahat," ucap Naruto menatap wajah Kurumi dan Kurenai bergantian, "aku mau pergi ke kamarku. Permisi."
Kurumi dan Kurenai saling menatap. Mereka bersyukur memiliki tempat tinggal sementara sebelum rumah mereka dibangun lagi. Kemudian senyum terukir di wajah Kurumi.
"Oka-san, aku capek sekali. Ingin mandi dan tidur," ujar Kurumi bermuka kusut.
"Ya. Oka-san juga," balas Kurenai tersenyum.
"Kita mandi sama-sama. Bagaimana?"
"Boleh."
"Ayo!"
Kurumi meraih tangan Kurenai. Menarik Kurenai menuju kamar. Sementara Naruto yang ada di kamarnya sendiri, masih berpakaian sekolah, sedang memperhatikan telapak tangan kanannya. Ada simbol menyerupai salib di telapak tangannya.
Tanda apa ini? Siapa diriku yang sebenarnya?
Naruto bermonolog. Berusaha mengingat siapa dirinya, tetapi hanya memori tentang pertemuannya dengan seorang pria yang telah membangunkannya di suatu tempat.
.
.
.
"Hei, bangunlah, nak," kata pria berambut hitam duduk di samping ranjang. Memegang tangan Naruto yang terletak di luar selimut.
"Si ... siapa kau?" tanya Naruto mengerjapkan mata beberapa kali agar pandangannya jelas, tetapi wajah pria yang ada di hadapannya ini, tidak tampak karena terselimuti kegelapan.
"Panggil saja aku, Oji-san," jawab pria misterius itu, tersenyum, "aku ingin meminta pertolonganmu."
"Pertolongan apa?"
"Tolong, lindungilah gadis yang bernama Tokisaki Kurumi ini."
Pria itu menyodorkan selembar foto yang menampilkan sosok Kurumi berpakaian sekolah. Naruto yang belum bisa bangkit dari tempat tidur, berhasil menggapai foto itu.
"Kurumi tinggal di Suna sekarang. Dia diasuh oleh wanita yang bernama Yuhi Kurenai. Dia adalah manusia setengah iblis, yang diketahui memiliki mata iblis di mata kirinya. Mata yang dipercaya, bisa membahayakan dunia manusia," jelas pria itu lagi, bernada datar, "organisasi Exorcist yang bernama Ratatorsk, mengetahui tentang Kurumi, berencana ingin membunuh Kurumi. Karena itu, mereka mengirim beberapa agen rahasia untuk mencari keberadaan Kurumi."
"Begitu, ya?" tanya Naruto menyipitkan mata, "lalu apa yang harus kulakukan agar bisa menolong Kurumi?"
"Kau harus ikut aku ke Suna. Kemudian aku akan mendaftarkan kau masuk ke sekolah yang sama dengan Kurumi. Untuk urusan tempat tinggal, kau bisa menempati kuil yang tidak terpakai di dekat rumah Kurumi. Bagaimana?"
"Aku setuju."
"Baiklah. Untuk sekarang, kau harus beristirahat dulu."
"Ya."
Naruto mengangguk. Penglihatannya mulai jelas sehingga bisa menatap foto yang dipegangnya.
"Kurumi ... dia gadis seperti apa, ya?" tanya Naruto. Senyum tipis terpatri di mukanya yang pucat.
.
.
.
Naruto termenung hingga menyadari ponselnya berdering. Ponsel yang diberikan sang paman misterius. Kemudian dia menyambar ponsel yang ada di meja berkaki rendah, karena duduk di dekat meja.
Ada nama 'Oji-san' beserta nomor telepon yang tertera di layar handphone milik Naruto. Laki-laki remaja berambut pirang itu, mengetuk tombol hijau untuk menjawab telepon.
"Halo," kata Naruto usai menempelkan ponsel ke telinga kanannya.
"Halo, Naruto-san," sahut Oji-san di seberang sana.
"Oji-san, untung kau meneleponku, padahal aku berencana ingin mencarimu karena kau tiba-tiba hilang begitu saja saat aku baru masuk sekolah di sini."
"Maaf. Aku harus pergi untuk menyelesaikan urusan yang penting."
"Lalu, mengapa kau meneleponku?"
"Apa kau sudah menjaga Kurumi sesuai apa yang kuminta?"
"Ya. Hari ini, orang-orang Exorcist itu benar-benar datang, sesuai apa yang kau katakan waktu itu. Mereka telah mengetahui keberadaan Kurumi di sini. Lalu Kurumi dan ibu angkatnya, kuajak tinggal di sini bersamaku karena rumah mereka telah hancur akibat perbuatan orang-orang Exorcist itu."
Oji-san yang sedang menelepon Naruto, duduk di batang pohon rindang, di depan kuil. Dia tersenyum saat Naruto menceritakan awal kedatangan Tohka dan Origami. Hatinya lega karena Kurumi selamat.
"Aku akan tetap waspada terhadap gadis-gadis Exorcist itu, dan melindungi Kurumi serta ibu angkatnya dengan seluruh kekuatanku," sambung Naruto menukikkan alis.
"Itu bagus. Tidak sia-sia, aku menugasmu untuk melakukan misi ini," sahut Oji-san tetap tersenyum.
"Oh iya, Oji-san ada di mana?"
"Di depan kuil."
"Hah? Jangan pergi tiba-tiba lagi! Aku keluar sekarang untuk menemuimu!"
"Maaf, aku harus pergi lagi."
"Hei, tunggu!"
Suara Oji-san menghilang, tergantikan bunyi nyaring yang panjang. Cukup memekakkan telinga Naruto.
"Dasar, pria tua yang aneh!" gerutu Naruto. Bertampang sewot.
.
.
.
Origami terbaring di tempat tidur. Berpakaian kasual. Barusan gadis perawat selesai membalut luka bakar di kedua kaki Origami, dengan perban. Kemudian gadis perawat itu keluar dari ruang kesehatan yang berada di markas Ratatorsk.
Tohka dan Kotori berdiri di sisi kanan ranjang. Menatap Origami dengan perasaan sedih karena Origami tidak bisa ikut lagi dengan mereka untuk menjalani misi.
"Kata dokter, Origami tidak akan bisa berjalan hingga beberapa bulan ke depannya," ujar wanita berambut krem yang diikat dua, masuk ke bangsal.
Tohka dan Kotori melihat wanita itu. Mereka membulatkan mata.
"Eh? Origami tidak bisa berjalan?" tanya Tohka tercengang.
"Apa itu benar, Jenderal Tsunade?" Kotori juga bertanya. Menganga.
Senju Tsunade, menghentikan langkahnya di sisi kiri ranjang milik Origami. Memperhatikan Origami yang sudah tertidur karena dibius. Tsunade beralih memandang kedua gadis yang ada di depannya itu.
"Ya, Tohka, Kotori. Luka bakar yang didapatkan Origami bukanlah luka sembarangan, tetapi luka yang disebabkan Phenogram," tutur Tsunade mengangguk.
"Benar! Phenogram! Origami menyebut itu tadi!" seru Tohka. Matanya berbinar-binar.
"Phenogram adalah bagian dari kekuatan sihir cahaya yang paling tinggi. Orang yang memilikinya dulu adalah Ootsutsuki Kaguya, pendiri organisasi ini."
Tohka dan Kotori membulatkan mata sempurna. Hati mereka seolah terkejut mengetahui kebenaran itu dari Tsunade. Kemudian mereka tetap diam, mendengarkan ucapan Tsunade yang selanjutnya.
"Saat Kaguya meninggal, pedang miliknya yang memiliki kekuatan Phenogram, juga tiba-tiba menghilang. Orang-orang Exorcist yang bernafsu mendapatkan pedang itu, akhirnya memilih untuk berdamai agar tidak saling bertarung lagi," sambung Tsunade melipat tangan di bawah dadanya, "melihat kenyataan sekarang, aku yakin pedang itu sudah memilih laki-laki yang menjadi pelindung gadis bermata iblis, untuk menjadi tuannya."
"Oh, begitu," tukas Tohka manggut-manggut.
"Berarti kita tidak akan bisa membunuh gadis bermata iblis itu selagi ada laki-laki itu ... jadi, apa yang harus kami lakukan sekarang, Jenderal?" tanya Kotori memegang dagu dengan tangan kanannya.
"Kalian harus memisahkan mereka."
"Caranya?" Tohka dan Kotori bertanya kompak. Alis mereka naik.
"Aku tahu caranya," sela gadis berambut indigo terang, tiba-tiba sudah berdiri di samping Tsunade. Sehingga perhatian semua orang tertuju padanya.
.
.
.
Kurumi keluar dari kamar, pagi itu. Mendapati Kurenai dan Naruto yang duduk di dekat meja berkaki rendah, di ruang tamu yang bersatu dengan ruang tengah dan dapur. Mereka sedang menikmati sarapan kecuali Kurumi.
"Kurumi! Selamat pagi!" seru Naruto tersenyum lebar, melambaikan tangan, "ayo, sarapan sama-sama!"
"Ya. Uzumaki-san yang sudah mempersiapkan semua ini," balas Kurenai usai meminum teh hangat.
Kurumi mengangguk, berjalan dengan kaki telanjang. Duduk di samping Kurenai, melihat beberapa hidangan tersaji di meja.
"Kau tidak perlu repot mempersiapkan semua ini, Uzumaki-san. Aku dan ibuku bisa sarapan di luar saja," timpal Kurumi menatap datar Naruto.
"Apa yang kau katakan, Rumi-chan?" tanya Kurenai menyinggung bahu Kurumi dengan bahunya, "bicaramu tidak sopan."
"Maaf, Oka-san. Aku tidak mau merepotkan orang lain."
"Tapi, Uzumaki-san sudah bersedia menjadi pengawalmu."
"Aku tidak butuh pengawal!"
"Rumi-chan!"
Kurenai berteriak saat Kurumi langsung bangkit dan berlari menuju pintu. Kurumi cepat memakai kaos kaki dan sepatu. Naruto yang melihatnya, buru-buru bangkit dan sempat menyambar kotak bekal dari meja.
"Kurumi, tunggu!" seru Naruto berlari mengejar Kurumi. Langsung memakai sepatu yang terletak di pojok pintu, karena sudah memakai kaos kaki, "Kurenai-oba-san, kami pergi dulu!"
Kurenai melongo saat melihat kepergian Naruto dan Kurumi. Tapi, senyum terpatri di wajahnya yang berseri-seri.
Kurumi menjeling Naruto yang berhasil sampai di sisi kanannya. "Mengapa kau mengikutiku?"
Naruto tersenyum, mengulurkan kotak bekal. "Ini sarapan untukmu."
"Tidak perlu."
"Kau harus sarapan agar berkonsentrasi belajar hari ini."
"Jangan pernah memperhatikan aku!"
Kurumi menghentikan langkah, melototi Naruto. Alisnya menukik. Wajahnya garang. Ekspresinya membuat Naruto terpaku.
Sunyi. Pohon-pohon yang ada di sekitar halaman kuil, bergemerisik pelan. Ada orang yang bermantel hitam dengan tudung menutupi kepalanya, mengamati Naruto dan Kurumi dari puncak pohon. Entah siapa dia.
"Mengapa kau selalu memarahiku? Padahal aku sudah berusaha menolongmu," kata Naruto meredupkan mata.
"Aku tidak suka ditolong," tukas Kurumi membuang muka, "karena itu, jangan pernah melindungi aku lagi."
"Aku tetap akan melindungimu."
"Kau keras kepala, ya?"
"Kau juga keras kepala."
"Huh!"
Kurumi berlari. Naruto terperanjat, buru-buru mengejar Kurumi. Panik sekali.
"Kurumi!" panggil Naruto berlari secepat kilat.
Naruto dan Kurumi saling kejar-kejaran di jalanan perumahan warga. Beberapa orang yang lewat, berhenti berjalan, memilih melihat mereka.
"Kurumi! Tunggu!" teriak Naruto. Kecepatan larinya luar biasa sehingga bisa mencapai Kurumi beberapa detik saja.
Kurumi kaget karena tangannya ditangkap oleh Naruto ketika berlari. Matanya membesar. Dirinya tertarik ke pelukan Naruto. Nyaris jatuh ke parit besar, di tepi jalan.
"Jangan pernah mencoba kabur dariku," bisik Naruto ke telinga Kurumi karena mendekap Kurumi dari belakang, "aku akan tetap ada di sampingmu, walaupun apa yang terjadi."
Wajah Kurumi seolah memerah karena kedua tangan Naruto membelit perutnya. Jantungnya berdetak kencang. Perlahan emosinya naik ke ubun-ubun. Alisnya menukik.
Kurumi menginjak kaki Naruto sekuat tenaga. Dirinya sudah muak karena kehadiran Naruto akan mempersulit pergerakannya. Tapi, Naruto tidak merasakan sakit sehingga biasa saja saat Kurumi menginjak kakinya.
Entah apa yang terjadi. Naruto diam, menyebabkan perasaan penasaran muncul di benak Kurumi. Gadis berambut hitam itu berusaha melepaskan kedua tangan Naruto dari dirinya, tetapi justru Naruto memperkuat pelukan.
"Uzumaki-san, menyingkirlah dari diriku!" pekik Kurumi. Suaranya sangat keras, seolah menggetarkan bumi.
Naruto melepaskan Kurumi, tetapi malah menggendong Kurumi dengan gaya bridal. Kurumi membelalakkan mata. Mukanya kembali merebus. Kini kemarahan yang bercampur malu, meledak di jiwanya.
"Uzumaki-san! Kau menyebalkan!" sembur Kurumi. Suaranya lebih keras dari sebelumnya.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Chapter 5 up. Terima kasih.
Tertanda, Hikayasa Hikari
Sabtu, 7 Januari 2023
