Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Date A Live: Koushi Tachibana
.
.
.
Pairing: Naruto x Kurumi
Genre: fantasy, supernatural, romance, scifi
Rating: M
Setting: Alternate Universe (AU)
.
.
.
Phenogram
By Hikayasa Hikari
.
.
.
Chapter 6. Anak baru lagi
.
.
.
"Uzumaki-san! Turunkan aku!" teriak Kurumi saat Naruto menggendongnya dari depan -- bridal style.
"Aku tidak akan menurunkanmu," balas Naruto bermuka datar, berjalan melewati jalan yang dilalui beberapa orang.
"Turunkan aku!"
"Aku akan menurunkanmu, asal kau bersedia menerimaku sebagai pelindungmu."
"Aaah, baiklah."
Kurumi menghela napas karena tidak mau semua orang menyaksikan dirinya yang digendong seperti putri kerajaan. Wajahnya kusut seiring senyuman terukir di wajah Naruto. Kemudian Naruto menurunkan dirinya.
"Aku senang kau menerimaku menjadi pelindungmu. Jadi, aku akan mengikuti kemanapun kau pergi, termasuk ke toilet sekaligus," kata Naruto memegang bahu kiri Kurumi.
"Apa? Kau mau mengintipku saat di toilet nanti?" tanya Kurumi menepis tangan Naruto dari bahunya. Melototi Naruto.
"Bu ... bukan begitu. Aku menunggu di luar saat kau masuk ke toilet."
"Huh! Dasar!"
"Hei, jangan marah."
"Kau yang membuatku marah!"
"Maaf."
"Tidak!"
"Kurumi!"
"Jangan sok akrab memanggilku begitu!"
Naruto dan Kurumi berdebat di sepanjang jalan. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka, melongo karena mendengar suara mereka yang sungguh memekakkan telinga.
Naruto dan Kurumi tiba juga di sekolah. Mereka diam, berjalan beriringan saat di koridor. Sedikit orang yang ditemui oleh mereka hingga masuk ke kelas.
Kelas sunyi. Hanya ada Naruto dan Kurumi sebab waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Mereka meletakkan tas dan duduk di dekat meja masing-masing.
"Kurumi," panggil Naruto menopang dagunya dengan kedua tangannya yang tertahan di meja.
"Kau tetap memanggilku begitu?" tanya Kurumi menoleh ke arah Naruto.
"Aku ingin mengenalmu lebih dekat, makanya aku memanggilmu begitu. Ya, kau juga harus memanggilku Naruto sekarang."
Kurumi diam, memperhatikan Naruto saksama. Dia mengembus napas untuk menenangkan hatinya yang kerepotan karena harus bersama Naruto. Lantas menurunkan kepala.
"Kau pemaksa sekali. Ya, aku akan memanggilmu Naruto," ucap Kurumi memejamkan sejenak.
Naruto tersenyum. "Aku senang karena kita mulai dekat sekarang."
"Kalau begitu, apa aku juga boleh tahu siapa dirimu yang sebenarnya?
Kurumi menukikkan alis. Matanya menajam. Jantungnya berdebar keras. Perasaan penasaran menguasai jiwanya. Perkataannya tadi membuat mata Naruto membulat sempurna.
Lengang. Giliran Naruto yang diam, sedangkan Kurumi menanti jawabannya. Naruto menunduk, memperhatikan telapak tangannya. Alisnya juga menukik.
Apa aku beritahu saja semuanya pada Kurumi? Batin Naruto.
Naruto mengepalkan tangannya. Memejamkan mata. Pikirannya berputar untuk menentukan yang terbaik.
"Ya, sudah, aku tidak memaksamu," kata Kurumi berdiri dari kursi.
Naruto tersentak, buru-buru berdiri. "Hei, kau mau kemana?"
"Mau pergi ke kantin."
"Pasti kau lapar, 'kan?"
"Ya."
"Kalau begitu, makanlah ini."
Naruto mengeluarkan kotak bekal tadi yang sempat ditolak oleh Kurumi. Berjalan santai menghampiri Kurumi. Mengulurkan kotak bekal itu pada Kurumi.
Kurumi menatap kotak bekal itu, lalu menyambarnya. Dia memutar badannya untuk menyembunyikan mukanya yang seolah memerah. Perasaan malu menguasai hatinya.
"Terima kasih," ujar Kurumi tersenyum. Membuka tutup kotak bekal. Menemukan empat potong sandwich sayur-sayuran isi sosis. Lantas memakan satu sandwich untuk mengganjal perutnya yang sudah tidak nyaman.
Naruto juga tersenyum. Hatinya melonjak bahagia karena Kurumi mau memakan makanan buatannya. Tetap berdiri di belakang Kurumi.
"Oh ya, aku akan memberitahu siapa aku yang sebenarnya padamu selagi tidak ada orang selain kita di sini," ungkap Naruto bertampang serius.
"Katakan dengan jujur," sahut Kurumi menjeling Naruto.
"Sebenarnya ... aku tidak tahu siapa aku yang sebenarnya."
"Hah? Maksudnya? Kau hilang ingatan?"
"Ya. Aku tidak mengingat apapun selain aku terbangun di tempat orang yang menolongku. Aku memanggil orang itu, Oji-san."
Naruto duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi Kurumi. Sementara Kurumi duduk lagi di dekat meja miliknya. Memilih mendengarkan cerita Naruto sambil makan.
"Oji-san itu, selalu mengenakan topeng kucing dan mantel yang menutupi kepalanya. Karena itu, aku tidak pernah tahu bagaimana rupanya," sambung Naruto tetap berekspresi serius, "begitu aku bangun, dia malah menyuruhku untuk menemuimu. Aku yang belum tahu apa-apa, menyanggupi permintaannya. Lalu dia memberikan foto dirimu padaku agar aku bisa tahu wajahmu seperti apa."
Mata Kurumi melebar tatkala Naruto memperlihatkan foto dirinya. Tercengang. Berhenti mengunyah sesaat.
"Pantas, kau memperhatikan aku terus sejak kau masuk ke kelas ini pertama kali. Kupikir kau itu orang jahat yang akan mengincarku," ucap Kurumi bermuka sewot. Baru bisa berbicara setelah menelan makanan.
"Aku memperhatikanmu agar aku tidak kehilangan jejakmu. Ya, dari Oji-san itulah, aku mengetahui segala hal tentangmu," balas Naruto tersenyum.
"Memangnya Oji-san itu mengetahui aku sedetail begitu darimana?" Kurumi mengerutkan kening.
"Aku tidak tahu."
"Pasti dia juga mengetahui siapa orang tuaku yang sebenarnya."
"Mungkin."
"Aku ingin bertemu dengannya! Apa kau bisa mempertemukan aku dengannya?"
"Hah? Soal itu, mungkin tidak bisa."
"Mengapa?"
Kurumi menukikkan alis. Berparas serius. Kedua tangannya terkepal. Naruto hanya menghela napas, sedikit menunduk.
Naruto menunjuk ponselnya. "Aku punya nomor teleponnya, tetapi dia tidak pernah mengangkat telepon atau membaca pesan dariku. Jadi..."
"Beritahu nomornya, biar aku yang meneleponnya," potong Kurumi. Suaranya mengeras.
"Hah? Iya. Ini."
Naruto mengatakan nomor telepon Oji-san dan Kurumi mencatatnya di buku kontak. Kemudian Kurumi mencoba menelepon Oji-san itu. Tapi, Oji-san tidak menjawab panggilannya.
Kurumi tidak pantang menyerah. Tetap mencoba untuk menghubungi Oji-san. Namun, usahanya selalu gagal hingga beberapa orang datang dan memasuki kelas.
"Selamat pagi!" seru Kiba mengangkat tangan, tersenyum lebar. Dia berjalan mendekati Naruto bersama teman-teman lain.
"Selamat pagi," balas Naruto tersenyum.
"Wah, apa aku tidak salah lihat ini?" Kau malah duduk di dekat Kurumi-san, Naruto," tanya Kiba melingkari pundak Naruto dari belakang.
"Aku sudah berteman dengan Kurumi. Benar, 'kan?"
Naruto melemparkan senyum pada Kurumi. Mukanya berseri-seri. Membuat Kurumi terpaku, lalu tersenyum.
"Ya. Aku sudah berteman dengan Naruto," tutur Kurumi memakan sisa-sisa sandwich-nya.
"Wah, aku pikir kalian benar-benar berpacaran!" seru Kiba melebarkan mata.
"Bagaimana mungkin aku dan Naruto bisa berpacaran secepat itu? Naruto saja baru bersekolah selama seminggu ini."
"Oh, ya, benar juga. Tapi, kalian cocok jadi pasangan. Benar, 'kan, teman-teman?"
"Benar!" teriak beberapa lelaki lainnya. Suara mereka keras sekali.
"Aaah, apa-apaan kalian itu?" Kurumi mendesah pelan, memasukkan kotak bekal ke laci meja. Bergegas bangkit dan berjalan cepat.
"Kurumi, tunggu!" Naruto terperanjat karena Kurumi meninggalkannya. Buru-buru berlari menyusul Kurumi.
Kurumi menengok ke belakang. Naruto berhasil mendahului dirinya. Mereka berjalan pelan di sekitar orang-orang yang berkumpul di koridor.
"Kau mau kemana?" tanya Naruto mengerutkan kening. Berjalan mundur.
"Mau membeli minuman di kantin," jawab Kurumi bertampang serius.
"Oh, ya, sudah."
Naruto meraih tangan Kurumi. Gadis berambut hitam itu, terkesiap saat Naruto menariknya. Mereka melangkah lebih cepat ke kantin.
Ada gadis berambut indigo terang yang mengamati Naruto dan Kurumi dari kejauhan tadi. Dia berdiri di kelas yang sama dengan Naruto dan Kurumi. Memegang kedua tali tas yang tergantung di punggungnya.
"Hei, siapa itu?" tanya Kiba menunjuk gadis berambut indigo terang, duduk di dekat mejanya. Semua mata tertuju pada gadis itu.
"Aku baru melihatnya. Apa dia itu anak baru?" Shikamaru berdiri di samping meja Kiba.
"Anak baru itu. Dia masuk ke kelas kita," timpal laki-laki berambut hitam model bob, melebarkan mata.
Gadis berambut indigo terang berjalan masuk ke kelas Naruto. Dia melemparkan senyum menawan sehingga semua pemuda terpesona. Berhenti di depan kelas.
.
.
.
Tiga gadis lain mendarat di atas gedung yang ada di kota Suna. Mereka berpakaian serba putih-merah, menyerupai suster gereja. Bersenjatakan teknologi canggih.
"Kabarnya, pihak Ratatorsk sudah menemukan gadis bermata iblis itu. Aku mengetahuinya setelah membuntuti Origami, agen andalan dari tim A," ucap gadis berambut cokelat terang, menoleh ke arah gadis yang sangat mirip dengannya.
"Benarkah itu?" tanya gadis berambut cokelat terang satu lagi, mengerutkan kening.
"Ya."
"Tapi, tujuan kita bukanlah memburu gadis bermata iblis itu, bukan?" tanya gadis berambut biru, turut mengernyitkan dahi.
"Ya. Kita harus mencari dia yang telah kabur dari markas kita," jawab gadis berambut terang cokelat berparas datar meskipun apa yang terjadi.
Ketiga gadis itu mengangguk, lantas terbang dengan menggunakan jet. Mereka pergi lagi untuk mencari dia. Entah dia siapa. Tidak ada yang tahu.
Pria bertopeng kucing dan mantel hitam menutupi kepalanya mendadak muncul di atas gedung, tempat tiga gadis Exorcist mendarat tadi. Memandang ke langit, arah kepergian gadis-gadis Exorcist. Matanya menyipit di balik topeng.
"Mereka adalah Akatsuki, organisasi yang bertentangan dengan Ratatorsk," ungkap Oji-san seraya mengambil sesuatu dari kantong mantelnya. Sesuatu yang ternyata adalah ponsel. "Eh? Nomor siapa ini yang menghubungiku beberapa kali?"
Oji-san mengerutkan kening. Mencoba menelepon nomor yang memanggilnya sejak pagi tadi. Nomor itu terhubung dengan Kurumi.
Kurumi sedang mengerjakan soal Matematika yang diberikan guru, merasakan gawainya bergetar di saku blazer-nya. Dia berhenti menulis, mengecek ponselnya. Matanya melebar.
Oji-san itu meneleponku, batin Kurumi.
Untung guru sedang keluar dari kelas. Kurumi memanfaatkan kesempatan itu untuk menjawab panggilan Oji-san.
"Ha ... halo," kata Kurumi sedikit gugup.
"Halo, ini siapa?" tanya Oji-san di seberang sana.
"Aku Tokisaki Kurumi."
Oji-san membesarkan mata. Badannya bergetar pelan. Senyum tipis terukir di wajahnya.
"Oh, Tokisaki-san, kau pasti mengetahui nomorku dari Naruto, 'kan?" tanya Oji-san tetap tersenyum.
"Ya, Oji-san," jawab Kurumi mengangguk, "Oji-san ada di mana?"
"Ada di tengah kota."
"Aku ingin bertemu denganmu setelah pulang sekolah."
"Eh?"
Oji-san membulatkan mata lagi. Kemudian dia mematikan telepon. Membuat Kurumi terperanjat.
"Oji-san! Tunggu! Jangan matikan teleponnya!" seru Kurumi, tidak menyadari semua mata tertuju padanya karena suaranya yang sangat keras.
"Kurumi, apa yang terjadi?" tanya gadis yang ada di depan Kurumi, mengerutkan kening.
"Hah, ti ... tidak ada apa-apa," jawab Kurumi tersenyum canggung, menurunkan handphone-nya.
"Pasti Oji-san tidak mau bertemu dengan Kurumi," bisik Naruto bertampang kusut, "aku sudah menduganya bakal seperti ini."
Gadis berambut indigo terang yang diketahui bernama Izayoi Miku, duduk di belakang, satu barisan dengan Kurumi. Selalu memperhatikan Kurumi sejak diperkenalkan guru di depan kelas. Gelagatnya itu mengundang Naruto curiga.
Anak baru itu ... mengapa dia selalu memandang Kurumi sampai sebegitunya?
Naruto bermonolog. Tidak pernah lepas untuk mengawasi Kurumi.
.
.
.
Bersambung
.
.
.
A/N:
Chapter 6 up.
Terima kasih.
Tertanda, Hikayasa Hikari.
Jumat, 27 Januari 2023
