Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Date A Live: Koushi Tachibana

.

.

.

Pairing: Naruto x Kurumi

Genre: fantasy, supernatural, romance, scifi

Rating: M

Setting: Alternate Universe (AU)

.

.

.

Phenogram

By Hikayasa Hikari

.

.

.

Chapter 7. Dia melindungi

.

.

.

Miku mendekati Kurumi saat istirahat tiba. Dia tersenyum dan mengulurkan tangan pada Kurumi. Naruto yang berjalan menghampiri Kurumi, menyipitkan mata.

"Aku Izayoi Miku, ingin berteman denganmu. Itu kalau kau tidak keberatan," kata Miku tetap tersenyum, berdiri di dekat meja Kurumi.

"Aku tidak keberatan," balas Kurumi turut tersenyum, menyambut tangan Miku, "namaku Tokisaki Kurumi. Salam kenal. Senang bertemu denganmu."

"Salam kenal dan aku juga senang bertemu denganmu."

"Karena kau sudah menjadi teman Kurumi, kau juga harus menjadi temanku, Izayoi-san," sela Naruto bertampang serius, menghadap Miku.

"Eh? Kau siapa?"

"Dia Uzumaki Naruto, temanku. Dia juga anak baru di kelas, baru pindah seminggu yang lalu," sahut Kurumi tersenyum, melirik Naruto.

"Oh. Salam kenal untukmu, Uzumaki-san."

Miku membungkukkan badan untuk memberi hormat pada Naruto. Saat membungkuk, ekspresi wajahnya berubah sinis. Sementara Naruto juga membungkuk, merasakan perasaan tidak enak dengan kehadiran Miku yang masuk ke lingkaran pertemanannya dengan Kurumi.

"Oh iya, aku mau pergi ke kantin, tentu kalian harus ikut denganku," ajak Kurumi bangkit dari kursi, menatap Naruto dan Miku bergantian.

"Ya, ayo!" seru Miku tersenyum lebar, meraih tangan Kurumi.

Kurumi dan Miku bergandengan tangan. Mereka menyusul orang-orang yang sudah keluar duluan dari kelas. Naruto mengikuti mereka dari belakang, tetap memperhatikan Miku saksama.

Koridor cukup ramai karena masih banyak orang yang lalu-lalang. Suara orang-orang yang bersahut-sahutan, menyemarakkan suasana siang hangat ini. Mereka tidak terlalu memperhatikan Naruto, Kurumi, dan Miku.

"Tokisaki-san, apa aku boleh berkunjung ke rumahmu sepulang sekolah nanti?" tanya Miku tiba-tiba yang cukup mengagetkan Naruto dan Kurumi. Tersenyum.

Kurumi membelalakkan mata, lalu mengerling Naruto yang sudah tiba di sisi kanannya. "Eh? Ah, bo ... boleh saja. Tapi..."

Naruto menyela dan tersenyum di balik bahu kanan Kurumi. "Saat ini, Kurumi tinggal bersamaku karena rumahnya sedang direnovasi."

"Aaah! Kalian tinggal bersama?"

Miku berteriak sangat keras sehingga mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya. Otomatis sudut pandang tertuju pada Naruto dan Kurumi. Kepanikan melanda jiwa Kurumi.

"Wah, mereka tinggal bersama!"

"Apa mereka berpacaran, ya?"

"Mereka memang cocok."

"Eh? Naruto dan Kurumi tinggal bersama?"

Ucapan demi ucapan meluncur dari mulut orang-orang, terutama beberapa penghuni kelas III-C, terkejut dengan perkataan Miku tadi. Mereka yang berniat ingin pergi ke kantin atau ke tempat lain, tidak jadi pergi. Menfokuskan diri untuk membicarakan permasalahan Naruto dan Kurumi.

"Ah, maaf, aku sudah membeberkan semuanya di depan banyak orang begini," ucap Miku bermuka kusut.

"Ti ... tidak apa-apa," balas Kurumi tersenyum.

"Kalau begitu, kita pergi saja dari sini!" ajak Naruto meraih tangan Kurumi. Berlari cepat menembus keramaian. Meninggalkan Miku yang terperanjat.

"Hei, tunggu aku!" pekik Miku ikut berlari mengejar Naruto dan Kurumi. Bertampang panik.

Naruto dan Kurumi tetap berlari di sepanjang koridor. Mendahului beberapa orang yang berjalan searah dengan mereka. Sesekali Kurumi menengok ke belakang. Memastikan Miku mengikutinya dan Naruto.

"Naruto, kita berlari terlalu cepat. Miku jadi ketinggalan, 'kan?" ujar Kurumi berwajah cemas.

"Biarkan saja dia ketinggalan," sahut Naruto bermuka datar.

"Mengapa kau bilang begitu?"

Naruto berbelok dan memasuki lorong sempit yang sepi. Kurumi mengernyitkan dahi saat Naruto menyeretnya masuk ke ruang yang luas dan remang. Ruangan itu tidak terkunci saat Naruto membukanya.

Naruto menutup pintu dan menghela napas. Perasaannya yang semula berdetak sangat kencang karena semua orang memandangnya dengan aneh, perlahan lega. Punggungnya bersandar pada pintu bercat cokelat usang.

"Hei, mengapa kau mengajak ke tempat sunyi ini?" tanya Kurumi menukikkan alis, "awas saja jika kau berbuat macam-macam padaku!"

"Ssst, jangan berbicara keras begitu," jawab Naruto menempelkan telunjuk di bibirnya.

"Huh, terus apa maumu?"

"Aku minta kau harus berhati-hati pada Izayoi-san."

"Mengapa begitu?"

"Aku takut dia mata-mata dari gadis-gadis yang memburumu itu."

"Kau curiga sekali."

"Tentu saja. Aku harus memastikan kau tetap selamat sampai aku berhasil menuntaskan permasalahanmu ini."

Naruto memegang kedua bahu Kurumi. Wajahnya serius. Matanya menajam, seolah berkilat. Berusaha membius hati Kurumi agar lebih dekat dengannya.

"Aku mengerti. Tapi, wajahmu itu terlalu dekat dengan wajahku!" omel Kurumi mendorong muka Naruto dengan telapak tangan kanannya. "Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan!"

"Maaf," tukas Naruto mundur beberapa langkah.

"Kalau begitu, aku mau keluar! Mau makan ke kantin!"

Kurumi meraih gagang pintu besi itu, tiba-tiba tersentak karena Naruto memegang tangannya. Dia menoleh ke arah Naruto. Mengerutkan kening.

"Apa kau memang berniat mengajak Izayoi-san ke tempat kita tinggal itu?" tanya Naruto. Giliran dia menukikkan alis.

"Ya," jawab Kurumi mengangguk.

"Itu sama saja menunjukkan tempat persembunyianmu, 'kan?"

"Soal itu..."

Kurumi diam, berpikir keras. Dia menunduk. Naruto menatap sisi kanan wajahnya, tetap menukikkan alis.

Tiba-tiba, getaran sangat kuat menimpa tempat Naruto dan Kurumi berada. Entah apa yang terjadi. Itu berlangsung beberapa kali disertai suara ledakan besar.

"Apa itu?" tanya Kurumi membesarkan mata.

"Apa mereka datang lagi?" Naruto balik bertanya, melebarkan mata.

"E ... Exorcist!"

Naruto dan Kurumi keluar. Mereka melihat di ujung lorong yang gaduh. Banyak orang berlarian, terlihat ketakutan.

"Cepat!"

"Ada penyerangan!"

"Kita harus bersembunyi di mana?"

"Tunggu!"

Naruto dan Kurumi berlari menuju koridor yang kacau. Mereka berhenti di antara koridor yang membentuk huruf T. Muncul sinar putih yang menyerupai komet, meluncur ke arah mereka. Bertepatan Miku datang menghampiri mereka.

"Tokisaki-san, Uzumaki-san, awas!" seru Miku melompat dan menerjang Naruto serta Kurumi.

Sinar putih yang dilepaskan dari kedua gadis kembar, menghancurkan jendela kaca dan dinding hingga berhamburan tak berbentuk. Menimbulkan ledakan besar saat sinar putih melintas lurus di atas Naruto, Kurumi, dan Miku yang tiarap.

Puing-puing bangunan dari hasil ledakan, menimpa banyak orang yang belum sempat keluar dari gedung sekolah. Mengakibatkan orang-orang terluka parah, pingsan, dan bahkan ada yang tewas.

"Ka ... kalian tidak apa-apa?" tanya Miku yang berada di atas kaki Naruto dan Kurumi. Mereka terjebak dalam puing-puing beton yang membentuk pilar tidak beraturan. Mengelilingi mereka bagai pagar.

"Ka ... kami tidak apa-apa," jawab Kurumi gelagapan dan duduk bersama Naruto dan Miku, "bagaimana denganmu, Izayoi-san? Kau tidak terluka, 'kan?"

"Tidak. Ta ... tapi ... ukh..."

Miku mengeluh kesakitan karena mengingat kejadian yang sudah berlangsung sangat cepat. Kepalanya sempat terbentur kayu tebal yang jatuh dari atas. Mencetak luka parah di puncak kepalanya. Sehingga darah merah segar muncrat dari sela-sela poninya.

Miku oleng ke depan, tak sadarkan diri. Dia ditangkap oleh Kurumi yang berubah menjadi pelukan. Bersamaan tumpukan beton yang mengelilinginya dan kedua temannya, terangkat oleh dua orang dengan menggunakan tangan mekanik cukup besar.

"Akhirnya kita menemukannya," kata gadis berambut cokelat, berwajah datar, membuang beberapa beton ke sembarangan arah.

"Uzu ... Uzumaki Naruto," ungkap gadis berambut cokelat satu lagi, menunjuk Naruto.

Naruto dan Kurumi membulatkan mata sempurna. Mereka tidak tahu mengapa gadis kembar itu mengincar Naruto, bukan Kurumi. Tapi, tindakan mereka yang seenaknya, sudah menimbulkan korban jiwa.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Chapter 7 up.

Wah, sudah lama saya nggak menulis karena sibuk menjadi komikus di webtoon. Ya, saya senang menggambar komik dan anime selain menulis fanfiction ini. Oh ya, maaf jika saya lama menunda menulis cerita ini. Semoga kalian tetap setia membaca cerita ini sampai tamat.

Karena udah lama nggak nulis, saya hampir melupakan cara nulis. Tapi, untunglah masih bisa sehingga bisa melanjutkan cerita ini. Terima kasih sudah membaca cerita ini.

Tertanda, Hikayasa Hikari.

Rabu, 24 Mei 2023