Special Chapter:

Masa lalu dan awal mula iblis melakukan kontak pertama kali dengan dunia Jujutsu pada 12 tahun yang lalu. Serta asal-usul tentang siapa sebenarnya Naruto.

.

.

.

Hanya ada tatapan kosong yang menyiratkan kesedihan mendalam pada wajah Diehauser Belial. Adik sepupunya yang sudah ia anggap seperti adik kandung sendiri telah pergi untuk selama-lamanya.

Dia hanya menatap kosong pada gelas minuman yang sama sekali masih penuh. Para pengunjung yang berada di bar itu memberikan pandangan penuh penasaran padanya. Bisik-bisik pun mulai terdengar.

"Sepertinya dia sedang patah hati"

"Ya seperti itulah anak muda jaman sekarang"

"Aku berharap yang terbaik untuknya"

Diehauser dapat mendengar semuanya meskipun berupa bisikan. Statusnya sebagai iblis membuatnya dianugrahi panca indra yang lebih baik dibanding manusia normal. Pewaris klan Belial itu sama sekali tak memperdulikan bisikan dari para manusia pengunjung bar itu. Dalam pikirannya hanya ada sosok sang adik sepupu, Cleria Belial yang kini sudah tiada.

Penyebab kematian Cleria adalah karena ia diam-diam menjalin hubungan kekasih dengan seorang Exorcist gereja Kuoh town bernama Yaegaki Masaomi. Adalah hal yang tabu sekaligus terlarang bagi kedua individu yang berasal dari dua pihak yang berlawanan untuk menjalin hubungan cinta seperti itu.

Zekram Bael, salah satu devil generasi pertama yang memiliki pengaruh yang lebih besar daripada The 4 Great Satan memutuskan untuk mengeksekusi Cleria secara rahasia. Begitu juga dengan pihak gereja yang mengeksekusi Masaomi.

Dan pada akhirnya fakta yang sebenarnya tentang kematian Cleria tidak pernah terungkap pada devils society. Yang mengetahuinya hanyalah Zekram, pihak gereja, dan beberapa anggota Great King Faction, fraksi yang didirikan oleh klan Bael yang bertujuan untuk meningkatkan pengaruh mereka, karena mereka berempati dengan politik Underworld berdasarkan aristokrasi iblis tradisional seperti kemurnian darah iblis dan kelanjutan masyarakat bangsawan iblis.

.

"Sepertinya kau sedang punya masalah, anak muda" suara seorang wanita mengalihkan perhatian Diehauser. Suara itu berasal dari seorang wanita yukata yang duduk di sebelah, rambut pendek sebahu berwarna hitam, mata berwarna hitam serta bekas luka jahitan horizontal di dahinya.

"Ah, aku tidak apa-apa, Obaa-san. Hanya masalah kecil saja" Diehauser mencoba menyangkal, namun matanya mengatakan semuanya.

"Aku bisa melihat semuanya melalui sorot matamu. Kenapa kau tidak bercerita pada wanita ini? Siapa tahu aku bisa membantumu. Wanita yang penuh dengan pengalaman hidup sepertiku akan selalu menjadi tempat belajar bagi anak muda sepertimu" balas si wanita.

Diehauser sempat terdiam untuk beberapa saat. Apa yang dikatakan oleh wanita ini ada benarnya juga.

"Umm, baiklah. Tapi, tidak disini. Karena ini adalah masalah yang cukup serius" balas Diehauser.

"Silahkan saja, aku tidak keberatan. Sebelumnya, perkenalkan namaku Kaori. Siapa namamu, anak muda?" Si wanita dengan bekas luka jahitan a.k.a Kaori memperkenalkan dirinya.

"Namaku Diehauser. Yah, dilihat dari namaku aku bukan orang Jepang. Aku datang kesini untuk berlibur" Diehauser pun memperkenalkan diri. Tentu saja dia tidak memberitahu identitasnya sebagai iblis murni dari Mekai.

Keluar dari bar, Diehauser menuntun Kaori menuju sebuah taman yang sepi dan tenang dikarenakan sudah tengah malam. Sama sekali tak ada orang atau apapun disana.

"Nah, sekarang katakan apa masalahmu, Diehauser?" Tanya Kaori, duduk di bangku taman bersama pewaris klan Belial tersebut.

"Aku sedang memikirkan tentang adik sepupuku yang telah tiada. Namanya adalah Cleria. Meskipun hanya sepupu, tapi ia sudah kuanggap seperti adikku sendiri" Diehauser mulai bercerita seraya menunduk menatap tanah.

"Kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidup huh? Itu adalah masalah yang sering dialami banyak orang. Dan harus kuakui itu cukup menyakitkan. " balas Kaori.

"Cleria, dia dibunuh karena diam-diam menjalin hubungan dengan seseorang yang seharusnya bukan untuk her. Aku tahu ini terdengar konyol, tapi kenapa dia harus mati? Kenapa mereka tidak melarangnya saja?" Diehauser melanjutkan ceritanya. Sementara Kaori hanya diam untuk mencerna dan mempelajari cerita yang dialami oleh Diehauser. Dia tahu bahwa pewaris klan Belial itu sedang mencoba bercerita tanpa memberitahu identitas sebenarnya dari Cleria.

"Menjalin hubungan dengan seseorang yang seharusnya bukan untuknya. Maksudmu dari segi kasta, ras, atau yang lain?" Tanya Kaori.

"Kau bisa menganggapnya seperti itu," balasnya singkat.

Kaori sudah mendapatkan garis besarnya. Intinya Cleria dibunuh karena menjalin hubungan cinta dengan seorang pria yang tidak setara atau sama dengannya. Dalam hal ini, dia sudah mengetahui identitas asli Diehauser serta Cleria yang merupakan devil berdarah murni.

"Begitu ya? Sungguh tragis. Baiklah, ini sedikit bantuan dariku. Diehauser, apakah kau mau bertemu dengan adik sepupumu itu lagi?" Pertanyaan Kaori sontak membuat Diehauser terkejut hingga berdiri dari duduknya. Tatapan tak percaya dan waspada ia tunjukkan pada wanita itu.

"Apa maksudmu?!" Diehauser merasa ada yang tidak beres. Apakah wanita ini sudah mengetahui siapa dirinya sejak awal? Dan sengaja membawanya ke dalam percakapan seperti ini?

"Perhatikan baik-baik" Kaori menunjuk seekor burung hantu yang sedang hinggap di sebuah dahan pohon.

WOOSHHH

BRAKKK

Burung hantu itu tiba-tiba terjatuh seperti ada yang menariknya dan menabrak tanah dengan keras hingga hancur berkeping-keping.

Pewaris klan Belial itu melebarkan matanya menyaksikan apa yang ditunjukkan oleh Kaori. Dia berpikir apakah Kaori ini adalah musuh atau sesuatu yang buruk lainnya.

"Siapa kau sebenarnya?!" Diehauser merapal lingkaran sihir, bersiap untuk menyerang Kaori. Namun wanita itu sama sekali tak bergeming.

"Kubilang perhatikan baik-baik" ujarnha tanpa melepaskan tatapan dari burung hantu yang he tembak tadi.

SYUUUTT

Keanehan tersaji di depan mata kepala Diehauser. Burung hantu yang tadinya hancur itu tiba-tiba utuh kembali seperti semula lalu bergerak dan terbang kembali ke dahan pohon seperti tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

"A-Apa?!" Meskipun sudah sering kali melihat proses reinkarnasi menjadi iblis, Diehauser tetap terkejut melihat burung hantu itu hidup kembali.

"Itu adalah salah satu kemampuanku. Bagaimana? Kau ingin bertemu dengan adik sepupumu itu bukan? Aku bisa menghidupkannya kembali, tentunya harus melalui beberapa tahap. Tidak instan seperti burung hantu itu" Kaori memberikan penawaran yang sulit ditolak oleh Diehauser. Di sisi lain, pewaris klan Belial itu masih merasa aneh dan waspada terhadap Kaori yang tiba-tiba datang padanya lalu menawarkan untuk menghidupkan kembali Cleria.

"Aku tahu ini tidak gratis bukan? Katakan, apa maumu sebagai gantinya?" Diehauser menatapnya dengan tajam.

"Sudah kuduga kau akan menanyakan hal itu. Kurasa ini cukup mudah bagi seorang iblis sepertimu. Aku ingin kau membawakanku seorang gadis bernama Amanai Riko. Dia tinggal di kota Tokyo" persyaratan yang diungkapkan Kaori sedikit membingungkan Diehauser.

"Seorang gadis? Memangnya ada apa dengan gadis itu?" Pewaris klan Belial itu penasaran.

"Sayangnya aku tidak bisa memberitahu lebih detail soal itu. Meskipun begitu aku berani jamin bahwa tidak akan mudah bagimu untuk membawanya" jawaban wanita itu membuat Diehauser merasa sedikit tertantang.

"Memangnya apa yang akan kuhadapi? Apakah gadis itu dilindungi oleh seseorang yang kuat?" dia menyeringai tipis.

"Kau akan mengetahuinya begitu kau merasakannya sendiri" usai mengatakan itu, Kaori bangkit dari duduknya lalu berjalan pergi meninggalkan park itu. Menyisakan Diehauser sendirian.

Dan pada akhirnya, Diehauser menyetujui penawaran Kaori untuk pergi ke kota Tokyo untuk membawa Amanai Riko padanya. Ia melakukan semua itu demi satu tujuan: adik sepupu kesayangannya, Cleria Belial.

Disclaimer: Naruto, Highschool DxD, Jujutsu Kaisen, dan lain-lain bukan punya saya.

Genre: Adventure, Supranatural, Fantasy

Rate: M

Warning: NonShinobi!Naru, Sorcerer!Naru, Typo, ancur, gaje, dan lain-pain.

.

.

.


The Lost Soul Aside


.

.

.

Dari kota Kuoh, setting berpindah ke ibukota Jepang. Dimana segala sesuatu yang berhubungan dengan negara berjuluk Negeri Matahari Terbit itu terpusat di kota ini. Termasuk aktivitas supranatural yang dijalankan oleh Komunitas Penyihir Jujutsu

Namun fokus cerita kita bukanlah pada mereka, melainkan pada seorang pria berambut hitam, mengenakan sweater abu-abu yang sedang berdiri di depan pintu ruangan rumah susun sederhana bertingkat 2. Pria itu mengangkat tangannya berniat untuk mengetuk pintu, namun ada keraguan padanya. Tapi dia memutuskan untuk tetap mengetuk.

KNOCK

KNOCK

"Tunggu sebentar" terdengar suara seorang wanita dari dalam. Begitu pintunya dibuka, terlihat seorang wanita berambut merah panjang dengan apron memasak.

"Umm...hai...Kushina..." pria itu menyapa.

"Toji? Ada apa kau kemari? Ayo, masuklah" si wanita berambut merah a.k.a Kushina mempersilahkannya untuk masuk.

.

[Author's note: sebelum itu, aku hanya ingin mengatakan bahwa Toji disini agak sedikit OOC. Jadi, maafkan aku jika terlihat cringe :) ]

.

"Ah, tidak perlu. Aku...tidak lama juga disini. Aku...ingin...menawarkan sesuatu padamu" balas Toji.

Kushina memicingkan mata melihat pria yang sudah ia kenal luar dalam itu malah menjadi nervous. Tak seperti Toji yang ia kenal biasanya.

"Sesuatu? Apa itu?" Kushina penasaran. "Umm...begini, aku mendapat pekerjaan dengan bayaran yang cukup banyak. Selain itu, kau sudah banyak membantuku, jadi aku berpikir untuk sekalian mengajakmu-"

"Tidak, terima kasih" Kushina memotong perkataannya. Toji seketika terdiam.

Sebelum lanjut, mari kita berkenalan dulu dengan dua orang ini. Pria berambut hitam bernama Fushiguro Toji, atau dulunya bernama Zenin Toji. Diaadalah anggota klan Zenin yang ditendang keluar karena terlahir tanpa energi kutukan. Klan Zenin adalah klan penyihir yang sangat sensitif dan selektif terhadap their anggota, terutama mereka yang berasal dari garis keturunan utama. Toji yang lahir tanpa energi kutukan dianggap cacat sehingga ditendang keluar. Lalu, sesuai yang ia katakan di atas, ia adalah ayah dari Megumi. Setelah keluar dari klan Zenin, dia menikah dengan seorang wanita yang bukan dari kalangan penyihir dan memakai marga istrinya.

Kedua, wanita berambut merah bernama Zenin Kushina. Dia juga anggota klan Zenin sama seperti Toji. Nasibnya juga serupa, yakni sama-sama meninggalkan dan keluar dari klan. Penyebabnya adalah Kushina menjalin hubungan dan hamil oleh seorang pria yang bukan berasal dari klan penyihir. Oleh karena itu suaminya dibunuh, tapi Kushina diberikan kesempatan sekali lagi untuk bersama klan. Mereka memberikan kesempatan untuknya karena dia adalah salah satu bakat terbaik milik klan Zenin. Namun Kushina menolak mentah-mentah dan lebih memilih untuk keluar dari klan. Hidup sendiri menjadi orang tua tunggal untuk membesarkan her putra, Naruto.

Jadi, bisa dibilang Kushina dan Toji adalah sepupu dalam klan Zenin. Begitu juga dengan putra mereka. Hanya saja baik Naruto dan Megumi tidak tahu bahwa sebenarnya mereka adalah relative. Hanya segelintir orang yang mengetahuinya, termasuk Gojo Satoru. Bahkan para petinggi Jujutsu pun tidak tahu soal ini.

Baiklah, mari kita lanjutkan ceritanya.

.

"Toji, dengar baik-baik. Aku sudah meninggalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan Jujutsu. Yang kuinginkan saat ini adalah hidup layaknya masyarakat normal bersama putraku" Kushina menunjukkan wajah serius.

Sementara itu, Toji sudah menduga bahwa Kushina akan menolak. Dia pengangguran, kerja serabutan, terkadang ia juga berjudi. Meskipun begitu, ia tetap ingin membalas budi pada Kushina yang selama ini telah banyak membantunya. Seperti urusan mengurus bayi.

"Ah, aku mengerti..." Toji membuang muka, menatap ke arah lain.

"Sudahlah, tidak perlu seperti itu. Jika kau ingin melakukannya, lakukan saja sendiri. Tidak perlu mengajakku. Aku membantumu karena kita adalah keluarga. Sesama keluarga harus saling membantu bukan? Ngomong-ngomong, kau sendiri ada disini. Lalu bagaimana dengan Megumi?" Tanya Kushina.

"Huh? Hmm...? Siapa itu?" Jawaban Toji hanya membuat Kushina menghela nafas. Dia tahu bahwa Toji kesulitan untuk mengingat nama seseorang, bahkan putranya sendiri.

"Itu nama putramu, dasar idiot" Kushina mencoba untuk tidak memukul kepalanya.

"Ahh, aku baru mengingatnya. Maaf Kushina, aku tidak bisa mengingat namanya. Dia baik-baik saja. Ada temanku yang menjaganya di rumah. Bagaimana dengan Haruto?" Toji bertanya balik.

"Haruto? Siapa lagi itu?" Sekarang giliran Kushina yang bingung.

"Apa? Bukankah itu nama putramu?" Toji seperti melakukan hal yang sama.

"Namanya Naruto, Toji. Na-ru-to. Astaga, dia sedang tidur siang usai bermain sejak pagi." Kushina mencoba untuk tetap tenang dan kepala dingin karena kebiasaan Toji. Dia menatap ke ruang tamu dimana Naruto kecil sedang tertidur di karpet bulu.

"Aku harap Megumi bisa berteman baik dengannya ketika mereka dewasa nanti." Ujar Toji tersenyum ringan, sudah merasa lebih santai.

"Aku juga harap begitu" Kushina pun tersenyum melihat putranya yang tertidur dengan tenang dan damai.

"Sekali lagi terima kasih telah membantuku selama ini, Kushina. Aku tidak tahu harus membalas budi dengan apa" Toji menunduk sekali lagi.

"Ayolah, jangan dipikirkan. Aku ikhlas membantumu. Yang terpenting Megumi bisa tumbuh dengan sehat dan kuat. Aku sangat mengerti posisimu karena aku juga merasakannya. Lagipula dia juga keponakanku kan?" Kushina sama sekali tak merasa direpotkan oleh Toji. Karena dia tahu rasanya harus membesarkan anak sendiri.

Toji pamit undur diri dari flat Kushina untuk pulang ke rumahnya yang berada jauh di pinggiran Tokyo.

.

.

.


The Lost Soul Aside


.

.

.

Dari rumah susun bertingkat dua yang ditempati Kushina, setting berpindah lagi menuju Akademi Jujutsu Tokyo. Tepatnya di ruang kelas murid tahun kedua dimana Satoru dan Suguru sedang melakukan meeting dengan guru mereka, Masamichi Yaga yang saat itu belum menjabat sebagai kepala sekolah.

"Dengar ini baik-baik. Misi ini adalah tanggung jawab yang besar. Ini adalah misi langsung dari Tengen-sama." Yaga membuka percakapan.

"Apa itu, Sensei?" Tanya Satoru dengan raut wajah ogah-ogahan. Misi dari pilar terpenting dalam dunia Jujutsu tentu bukanlah sesuatu yang main-main.

"Dia telah menemukan Wadah Plasma Bintang yang sempurna. Misi kalian adalah mengawal dan menemani gadis tersebut lalu menghapus jejaknya kemudian membiarkannya bergabung dengan Master Tengen" balas Yaga seraya menggambar ilustrasi di papan tulis.

"Apakah kita akan mulai mereset ulang teknik terkutuk Tengen-sama?" Tanya Suguru.

"Ya, itu benar. Dengan begitu kestabilan yang melindungi kedua Akademi Jujutsu di Kyoto dan Tokyo serta kekuatan teknik pelindung dan Tobari dari para asisten manager akan tetap terjaga. Tanpa teknik milik Tengen-sama, keamanan dan menjalankan misi akan jadi lebih sulit. Atau yang lebih buruk daripada itu, Tengen-sama akan menjadi musuh bagi umat manusia" Yaga menjawab sembari menjelaskan dengan menggambar ilustrasi.

"Oleh karena itu, Tengen-sama akan berganti wadah setiap 500 tahun sekali dan menulis ulang informasi genetik dalam tubuhnya. Jika tubuhnya diperbarui, maka teknik terkutuknya pun ikut diperbarui juga dan menjadi lebih kuat" Suguru menambahkan.

"Aku mengerti. Tidak apa-apa jika dia berubah menjadi Metal Greymon. Tapi kita tidak bisa membiarkannya menjadi Skull Greymon. Jadi, kita harus memulai ulang dari Koromon" Satoru menyimpulkan berdasarkan konsep evolusi Digimon. Lebih mudah untuk dipahami.

"Umm, ya... kau bisa menganggapnya seperti itu" Suguru memilih untuk mengiyakan saja.

Intinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas yang terjadi di kedua Akademi Jujutsu serta pembasmian roh terkutuk dan lain-lain semuanya berpusat dan diatur oleh Tengen-sama. Dia adalah otak dari dunia Jujutsu itu sendiri. Jika dia tidak berganti tubuh, maka dunia Jujutsu akan menjadi lemah.

"Lokasi dari gadis itu sudah bocor. Ada dua organisasi yang memburunya. Pertama, organisasi pengguna kutukan yang bertujuan untuk mengambil alih dunia Jujutsu saat ini dengan membuat Tengen-sama kehilangan akal sehat, yaitu Grup Q" Yaga menunjukkan sebuah gambar melalui laptopnya: sekelompok orang berpakaian putih ala militer lengkap dengan jubah dan topi komando.

"Mereka lebih mirip seperti tentara jadi-jadian" Suguru terkekeh.

"Aku lebih suka menyebutnya sebagai orang yang melakukan cosplay di event-event otaku" celetuk Satoru.

Yaga menghela nafas melihat tingkah muridnya yang terkesan meremehkan musuh dalam misi ini. Ia paham bahwa Satoru dan Suguru adalah penyihir terkuat di generasi saat sekarang.

"Yang kedua, Kelompok Agama Bintang. Yang lebih dikenal sebagai Organisasi Pembuluh Waktu. Tujuan mereka masih belum diketahui secara pasti. Tapi aku bisa memastikan ini ada hubungannya dengan Tengen-sama" Yaga menutup penjelasannya dengan gambar kertas ungu yang dipenuhi bercak tinta putih.

"Permisi, Sensei. Target kita ini adalah seorang gadis bukan? Kenapa kita tidak mengajak seorang wanita untuk membantu? Sesama wanita pasti akan lebih mudah dalam pendekatan untuk saling mengerti. Kau tahu itu kan?" Satoru menyahut. Apa yang dikatakan oleh pewaris klan Gojo itu memang benar; Girls talk.

"Shoko belum siap untuk misi sepenting ini. Selain itu, Utahime sudah kembali ke Kyoto. Mei-Mei pasti akan meminta bayaran yang tinggi. Sebenarnya, ada satu orang lagi yang benar-benar cocok untuk misi ini" pernyataan Yaga membuat Satoru dan Suguru penasaran.

"Huh? Siapa?" Ujar mereka serentak.

"Kalian sangat mengenalnya. Hanya saja aku ragu jika dia akan menerimanya, karena dia sudah pensiun dan meninggalkan dunia Jujutsu" pernyataan Yaga malah membuat penyihir terkuat itu jadi penasaran.

.

Beralih ke hiruk pikuk kota Tokyo. Dimana kerumunan manusia memadati berbagai fasilitas publik seperti halte bus, stasiun kereta, zebra cross, pusat perbelanjaan, dan lain-lain. Tidak heran jika ibukota negara Jepang ini dijuluki sebagai salah satu kota metropolitan tersibuk di dunia.

Fokus cerita tertuju pada salah satu stasiun kereta tersibuk di Tokyo, yakni Stasiun Shibuya. Dimana sekelompok orang baru saja turun dari shinkansen. Mereka adalah Diehauser bersama para peeragenya.

.

(Author notes: untuk nama-nama serta kemampuan peerage Diehauser, saya mengambilnya dari DxD Fanon yang artinya adalah karangan fan. Credit untuk ShatteredRose23, karena di novelnya sendiri tak ada informasi satupun tentang mereka)

.

"Jadi, ini kota Tokyo. Tak kusangka ternyata sebesar ini" ujar seorang wanita berambut putih dan bermata silver yang merupakan Queen dari Diehauser.

Diana Marbas, iblis berdarah murni dari klan Marbas yang kini telah musnah akibat Civil War. Dia menjadi queen Diehauser agar mendapatkan kekuatan politik dan menghidupkan nama klan Marbas di Underworld. Kemampuannya adalah mampu memanggil roh dari makhluk yang sudah pernah ia bunuh dan membuatnya bertarung di sisinya. Selain itu ia juga menguasai teknik khas klannya yaitu api putih serta petir putih.

"Sebenarnya apa tujuan kita Diehauser-sama? Kenapa kita harus jauh-jauh datang ke Tokyo?" Tanya seorang gadis berambut coklat sebahu dan bermata hitam. Dia adalah Rook dari Diehauser.

Namanya Elizabeth Cimerius. Sama seperti Diana, klannya juga musnah akibat Civil War. Kemampuannya adalah ia memiliki kekuatan fisik yang luar biasa serta teknik milik klannya yaitu berubah menjadi banteng dan kuda dengan kekuatan yang sesuai dengan jenis hewan yang ia gunakan.

"Kita akan mencari seorang gadis. Gadis ini bukanlah gadis biasa. Dia adalah...kunci agar Cleria bisa hidup kembali" balas Diehauser datar. Pernyataan tersebut membuat para peeragenya terkaget.

"Tapi, Diehauser-sama. Apakah anda yakin soal ini? Bisa saja anda telah dijebak" ujar seorang gadis berambut ungu dengan warna mata yang sama. Posisinya dalam Belial Household adalah Bishop.

Namnha Circe, iblis reinkarnasi yang merupakan keturunan dari penyihir kuno dari mitologi Yunani yang memiliki nama yang sama. Kemapuannya adalah ia mampu mengubah lawannya menjadi hewan buas. Hanya saja itu berlaku jika lawannya memiliki tingkat kekuatan yang lebih rendah daripada dirinha. Selain itu ia juga menguasai sihir elemen seperti api, es, dan tanah.

"Apa maksudmu, Circe? Apakah kau meragukan Diehauser-sama? Aku sangat yakin dia tidak akan terjebak semudah itu" sahut seorang pria berambut hitam, warna mata yang sama, serta mengenakan jubah yang juga memiliki warna yang sama. Dia adalah Knight dalam barisan peerage Diehauser.

Edward, keturunan dari Edward The Black Prince yang merupakan putra sulung dari Raja Inggris, Edward III dan Philippa of Hanault. Kemampuannya sebagai seorang knight tentu saja kemampuan berpedang yang hebat dan kecepatan yang luar biasa. Selain itu pedangnya juga memiliki kemampuan untuk menciptakan kabut.

"Aku telah menyaksikan dan memikirkannya berulang kali. Wanita memang bisa menghidupkan kembali Cleria. Dan tentu saja aku tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Aku...masih tidak rela atas kematiannya" balas Diehauser dengan lirih.

Peeragenya yang mendengar perkataan King mereka hanya bisa terdiam. Karena mereka sudah tahu seperti apa hubungan antara Diehauser dan Cleria. Dan tentu saja mereka akan menuruti dan mengikuti apapun perintahnya.

"Ahh, umm... Diehauser-sama Disana ada kedai es krim, bagaimana kalau kita istirahat dulu sebentar?" seorang gadis berambut hijau dan bermata hijau gelap mencoba mendinginkan suasana.

Namnha adalah Janet. Dia adalah seorang Pawn yang merupakan keturunan pahlawan dalam mitologi Yunana, Orion, seorang pemburu yang hebat. Dia bergabung dalam peerage Diehauser agar bisa berpartisipasi dalam Rating Game. Dia bertarung menggunakan busur dan anak panah.

Jadi, Diehauser datang ke Tokyo dengan membawa masing-masing 1 untuk Queen, Rook, Bishop, Knight, dan Pawn. Sepertinya dia terlalu optimis bisa menyelesaikannya sehingga tak membawa semua peerage-nya.

"Hmm, baiklah. Kita baru saja sampai. Kebetulan aku juga agak haus. Ayo"

.

.

.

The Lost Soul Aside

.

.

.

"Bwa...bwa...bwa..."

"Siapa jagoan kecil mama? Hmmm...?"

Kembali lagi ke tempat Kushina, dimana ia sedang bermain bersama Naruto kecil yang tertawa lucu karena ibunya yang tak henti-hentinya menunjukkan betapa besar kasih sayang seorang ibu padanya.

Mereka hidup di sebuah rumah susun betingkat dua yang terletak di kawasan industri kota Tokyo. Jauh dari Akademi Jujutsu dan kediaman klan Zenin. Karena masa lalunya yang buruk, Kushina memutuskan untuk menjauh dari dua tempat tersebut.

DING DONG

Bel pintu tiba-tiba berbunyi. Kushina bertanya-tanya siapa lagi yang berkunjung. Apakah itu Toji lagi? Namun, begitu ia mendekati pintu, kemampuan sensor energi terkutuknya tiba-tiba aktif dan mendeteksi dua jenis energi terkutuk yang besar dan tidak biasa. Dan ia sangat mengenal siapa mereka.

"Kushina-senpai, apa kau di dalam?" Satoru mencoba memanggilnya untuk keluar.

"Ada sesuatu yang penting yang ingin kami bicarakan padamu" Suguru menambahkan.

STAB

BREAK

"Huh?!" Mereka mendapat respon berupa dua buah rantai yang menembus pintu dan mencoba melilit tubuh mereka. Beruntung Suguru lebih dulu menghindar ke belakang, sementara Satoru menggunakan pertahanan absolutnya.

SRING

"Rantai ini lagi?!" Satoru melebarkan matanya karena rantai itu mampu menembus Mugen sehingga ia terlilit oleh rantai itu. Bukan hanya dia, si pengguna roh terkutuk pun sama kagetnya.

"Satoru, Suguru...apa yang kalian lakukan disini?" keluar dari pintu, Kushina memberikan glare pada mereka dengan rambutnya yang berkibar. Pemandangan tersebut membuat penyihir muda itu menelan ludah karena auranya yang terasa menyeramkan.

"Kami...kami ingin membicarakan sesuatu denganmu. Sensei yang menyuruh kami" balas Suguru.

Kushina sempat terdiam sambil menundukkan wajahnya. Bersiap untuk menjawab. Apapun itu, ia sudah lama tidak melakukan kontak dengan Jujutsu society.

"Ayolah, aku hanya bercanda! Hahahaha! Kena kalian!" Ia tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengerjai juniornya. Satoru dan Suguru sweatdrop, tak menyangka mereka akan jatuh dalam trik Kushina.

.

Pembicaraan berlanjut ke dalam flat. Kushina sedang berada di dapur, membuatkan teh untuk mereka. Suguru duduk dengan tenang di sofa, sementara Satoru sibuk bermain dengan Naruto kecil.

"Coba tebak dimana bola itu?" Satoru menunjukkan kedua tangannya yang terkepal, yang mana di salah satu tangannya itu ada bola yang dimaksud.

"Bwah!" Naruto menepuk-nepuk tangan kanan Satoru. Dan memang benar, ada bola kecil berwarna merah di sana.

"Yosh yosh! Anak pintar!"

Kushina tersenyum hangat memandangi bagaimana putranya bermain dengan pengguna Rikugan itu. "Kau sudah cocok menjadi seorang ayah, Satoru"

"Menjadi seorang ayah? Aku saja tidak punya pacar, bagaimana aku bisa menikah?" balasnya dengan cemberut.

"Kenapa kau tidak mencari saja" Hmm, Bukankah kau cukup dekat dengan Utahime?" ia menggodanya lagi.

"Utahime? Siapa yang mau dengan gadis lemah sepertinya? Tidak sesuai dengan diriku yang kuat ini. " Pewaris klan Gojo itu masih sempatnya menyombongkan dirinya.

Di sisi lain, Suguru hanya menghela nafas melihat tingkah laku sahabatnya yang terlampau sombong itu. Ia memakluminya.

"Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan padaku?" Kushina menghidangkan teh untuk mereka.

"Ini misi langsung dari Tengen-sama. Ia akan mereset ulang tekniknya dengan berganti tubuh. Wadah Plasma Bintang yang cocok sudah ditemukan, dan kami ditugaskan untuk mengawal dan membawanya ke Tengen-sama" balas Suguru sambil menyeruput teh.

"Lalu apa hubungannya denganku?" Tanya Kushina.

"Target kita adalah seorang gadis muda, senpai. Jadi, kami pikir akan lebih efektif jika kami mengajak seorang wanita berpengalaman sepertimu untuk melakukan pendekatan dan berbicara dengannya. Karena yang kutahu, sesama wanita itu akan mudah untuk saling mengerti" ujar Satoru sambil menggendong Naruto kecil.

"Begitu ya? Aku mengerti. Ini bukan misi sembarangan. Tapi, satu hal yang perlu kalian tahu, Satoru, Suguru. Kupikir aku sudah pernah mengatakan ini..." Kushina menjeda. Mereka hanya terdiam menunggu her melanjutkan her perkataan.

.

.

.

"Aku sudah pensiun sebagai Penyihir Jujutsu. Aku juga sudah lama meninggalkan apapun yang berhubungan dengan dunia Jujutsu. Dan sekarang aku ingin hidup dengan normal bersama putraku. Kupikir itu sudah sangat jelas. Jadi, maaf...aku tidak bisa membantu kalian"

.

The Lost Soul Aside

.

To Be Continued

.

So yeah, chapter 4. Chapter khusus yang membahas apa yang terjadi 12 tahun yang lalu. Tapi chapter ini dan selanjutnya tidak akan terlalu menyoroti Gojo, Riko, Geto, dan yang lain seperti di manga dan anime.