Sona, putri dari klan iblis Sitri itu sangat yakin bahwa dua manusia yang baru saja membasmi dua roh terkutuk tadi bukanlah manusia biasa. Ia memicingkan matanya begitu mendengar dan mengetahui identitas mereka sebagai Penyihir Jujutsu.

"Penyihir Jujutsu? Apa itu? Aku tidak pernah mendengarnya?" Sona menuntut penjelasan. Pikirannya yang cerdas dan punya rasa ingin tahu yang tinggi memicunya untuk menggali informasi lebih dalam.

Takuma menatap Naruto dengan tatapan seolah-olah berkata, 'Apakah kita harus memberitahu mereka?'. Di sisi lain, Naruto pun paham maksud dari tatapan pria bertopeng ski itu.

"Kami adalah sebuah komunitas penyihir yang berbasis di Tokyo dan Kyoto. Tapi selama ini kami menutup diri dari publik dan beroperasi dibalik bayangan. Operasi yang kami maksud adalah hal yang baru saja kalian saksikan tadi, membasmi roh terkutuk" penjelasan Naruto membuat Sona menaikkan sebelah alisnya. Ia telah mendapatkan informasi pertama, ia ingin lebih.

"Roh terkutuk? Maksudmu makhluk aneh tadi adalah roh terkutuk?" Tanya Sona lagi.

"Ya, itu benar. Mereka terlahir dari emosi dan perasaan negatif manusia, seperti marah, sedih, takut, dan emosi negatif yang lain. Semakin kuat emosi dan perasaan negatif itu, semakin kuat pula roh terkutuk." Balas Naruto.

"Tapi, bagaimana makhluk itu bisa ada di kota ini? Selama ini kami belum pernah melihatnya" ujar satu-satunya lelaki di kelompok tersebut, Genshirou Saji.

"Seperti yang kukatakan tadi, mereka terlahir dari berbagai macam emosi dan perasaan negatif manusia. Atau kemungkinan yang kedua, ada yang sengaja melepaskannya disini. Tapi itu jarang terjadi dan hanya bisa dilakukan oleh pengguna kutukan, atau penyihir Jujutsu yang jahat" balas Naruto.

Setidaknya itulah yang ia pikirkan saat ini. Jumlah dan kekuatan roh terkutuk tergantung pada seberapa banyak jumlah manusia yang tinggal di suatu tempat.

"Kau belum menjawab tentang apa tujuan kalian kemari" tanya Sona lagi.

"Ah, aku hampir lupa. Kami ditugaskan untuk mencari sebuah benda yang merupakan objek terkutuk. Untuk lebih detailnya aku tidak bisa memberitahumu karena itu adalah rahasia dari komunitas Jujutsu" Naruto menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 11 malam.

"Sepertinya kami harus segera pergi. Kami baru saja sampai di Kuoh dan belum sempat istirahat. Mungkin kita akan bertemu lagi besok. Ayo, Takuma-san" lanjutnya.

"Sampai jumpa!" Takuma melambaikan tangan pada mereka lalu pergi dari gedung terbengkalai itu bersama Naruto. Meninggalkan Sona dan kelompoknya yang masih terjebak dalam kebingungan dan keingintahuan atas apa yang baru saja terjadi.

"Sekarang bagaimana, Kaichou?" Tanya Tsubaki.

"Aku akan melaporkan ini pada Rias. Jika dilihat-lihat mereka cukup berbahaya, tapi aku tidak merasakan adanya kesan permusuhan atau hal buruk apapun dari mereka. Sebaiknya kalian segera pulang, kita harus mempersiapkan segalanya untuk mengawal Pertemuan 3 Fraksi besok" titah sang iblis murni Klan Sitri. Mereka semua mengangguk mematuhi perintah sang King.

"Baik, Kaichou!"

.

.

.

The Lost Soul Aside

.

.

.

Akhirnya Naruto dan Takuma bisa istirahat dengan tenang setelah menemukan rumah susun yang dimaksud oleh Nanami. Rumah susun itu dulunya pernah ditempati oleh mata-mata Nanami yang telah merekam aktivitas iblis liar yang Naruto lihat sebelumnya. Ruangan dari setiap rumah susun itu cukup sederhana namun luas. Memiliki 2 kamar tidur serta ruang tamu, dapur, kamar mandi serta balkon.

Jam telah menunjukkan pukul 12 malam tepat, tapi Naruto belum juga tidur. Ia hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Ia benar-benar tidak bisa tidur.

"Hahhh...ayolah. Aku tidak ingin mengacaukan jam tidurku lagi" Naruto bergumam, mencoba memejamkan mata dan masuk ke mode tidur. Ia berusaha keras untuk itu dan akhirnya bisa.

.

Namun, selang beberapa menit kemudian kedua matanya terbuka dan ia mendapati dirinya berada di sebuah tanah lapang dengan jutaan pedang yang menancap serta roda-roda mekanik yang melayang di udara. Raut terkejut tercetak jelas di wajah Naruto saat menyadari bahwa ia sudah tak berada di kasur.

"Apa...Apa ini?" Naruto bertanya-tanya.

WOOSHH

Dan dalam sekejap mata, ia kembali ke tempat dimana seharusnya ia berada sekarang: kamar tidur yang tenang serta kasur yang empuk. Nafasnya tersengal-sengal dibarengi dengan keringat yang bercucuran.

"Tadi itu...apa?" Naruto butuh jawaban. Apakah yang ia alami beberapa saat yang lalu itu adalah mimpi atau kenyataan?

.

.

.

Disclaimer: Naruto, Highschool DxD, Jujutsu Kaisen, dan lain-lain bukan punya saya.

Genre: Aksi, Petualangan, Supranatural.

Rate : M

Warning : Non-Shinobi Naruto, banyak typo, gado-gado, dan lain-lain.

.

.

.

"Apa yang menganggumu, Sona? Kau terlihat tidak fokus"

Iblis cantik berkacamata itu sempat terdiam untuk beberapa saat usai mendengarkan pertanyaan sahabat sekaligus rivalnya, Rias Gremory. Putri dari klan Iblis Gremory yang merupakan salah satu dari pilar iblis di Underworld selain klan Sitri.

"Aku kepikiran tentang apa yang terjadi semalam" Sona menjawab sambil menggerakkan bidak caturnya.

"Semalam? Memangnya apa yang terjadi? Bukankah giliran OSIS untuk membasmi iblis liar dalam satu minggu ini?" Tanya gadis berambut merah panjang itu.

"Ya, itu benar. Tapi yang menjadi masalahnya adalah setelah kami berhasil membasmi iblis liar itu. Tiba-tiba saja muncul dua makhluk aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bentuknya sangat berbeda dari iblis liar. Tapi yang lebih mengejutkannya lagi, kami sama sekali tidak bisa membasminya" pernyataan Sona membuat Rias menaikkan alisnya tanda penasaran.

"Lalu apa yang terjadi?" Rias makin kepo, ia sudah tidak peduli pada permainan catur yang sedang mereka mainkan.

"Tak ada angin tak ada hujan, kami kedatangan dua tamu tak diundang. Mereka membunuh makhluk aneh itu dalam sekejap mata. Mereka terlihat sepantaran dengan kami" balas Sona.

"Tamu tak diundang? Siapa mereka?" Rias semakin tenggelam dalam rasa penasaran. Ia ingin tahu lebih dalam.

"Mereka bernama Naruto dan Takuma. Mereka bilang mereka adalah penyihir Jujutsu, sebuah asosiasi penyihir yang berasal dari Tokyo dan Kyoto. Tujuan mereka datang kesini adalah untuk mencari sesuatu yang berhubungan dengan asosiasi mereka. Hanya saja, mereka enggan memberi tahu apa itu"

"Tokyo dan Kyoto? Aku juga sama sekali belum pernah mendengar itu. Yang kutahu eksistensi supranatural yang berkuasa di Kyoto adalah Fraksi Youkai" ujar Rias.

"Aku juga berpikiran yang sama. Mereka juga mengatakan bahwa mereka menutup diri dari publik dan beroperasi dalam bayangan, yaitu membasmi makhluk aneh yang mereka sebut roh terkutuk" Sona mengambil secarik kertas dan pensil untuk menggambar roh terkutuk yang ia dan kelompoknya lihat semalam.

"Roh terkutuk? Bentuknya benar-benar aneh dan mengerikan. Lalu, dimana mereka berdua sekarang?" Tanya Rias usai melihat gambar roh terkutuk yang dibuat Sona.

"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti mereka belum pergi karena benda yang mereka cari ada di kota ini" balas Sona, sembari menggerakkan bidak caturnya. "Checkmate" ia menyeringai tipis.

"Huh?! Astaga! Aku kalah lagi!"

.

The Lost Soul Aside

Hari pertama setelah tiba di kota Kuoh, Naruto dan Takuma langsung menjalankan misinya untuk mencari jari-jari Sukuna yang tersembunyi di kota ini. Berbekal kemampuan sensor energi kutukan milik Naruto yang diatas rata-rata, mereka yakin mampu menemukannya dengan cepat.

"Hoi Naruto-san, apa kau merasa ada yang aneh dengan anak-anak berseragam sekolah yang semalam? Jujur saja aku merasa ada yang sedikit mengangguku saat berada di dekat mereka" Takuma membuka percakapan sembari berjalan di trotoar.

"Ya, aku juga sama. Itu berasal dari energi asing yang kurasakan waktu itu. Mungkin ini terdengar gila bagimu, tapi...mereka bukan manusia" jawaban pemuda berambut pirang itu sedikit mengejutkan si pemuda berkupluk.

"Bukan...manusia? Apa maksudnya?" Takuma butuh penjelasan.

"Sensorku bisa membedakan aura yang dimiliki oleh manusia biasa atau non-penyihir, penyihir Jujutsu, dan roh terkutuk. Dan bisa kupastikan mereka tidak masuk dalam salah satu dari tiga itu" balas Naruto.

"Kalau bukan manusia, lalu apa?"

"Entahlah, mungkin kita akan menemukan jawabannya jika bertemu dengan mereka lagi."

Mereka terus berjalan menyusuri jalanan hingga Naruto tiba-tiba berhenti di depan Gerbang Torii yang terhubung dengan jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan.

Penyihir berambut pirang itu menatap Gerbang Torii sejenak lalu beralih menatap ke dalam hutan dengan penuh arti.

"Ada apa Naruto-san? Apa kau mendeteksi energi terkutuk dari jari itu?" Takuma pun ikut berhenti.

"Tidak. Aku hanya ingin melakukan rutinitasku seperti biasa, yaitu berdoa di kuil. Apa kau tidak keberatan jika harus menunggu sebentar, Takuma-san?" Ujar Naruto.

"Ternyata kau orang yang religius. Baiklah, silahkan saja. Aku tidak keberatan" Takuma tersenyum tipis.

"Terima kasih" Naruto tersenyum balik lalu berjalan menyusuri jalan setapak itu untuk masuk ke dalam hutan.

Di dalam hutan itu terdapat sebuah kuil yamg cukup besar dan terawat dengan baik. Suasananya terlihat sepi dan tenang karena tidak banyak pengunjung yang datang di hari kerja seperti ini. Peribadatan penganut ajaran Shinto adalah beribadah/berdoa hanya ketika mereka menginginkan sesuatu (kesehatan, kelancaran pekerjaan, lulus ujian, dsb). Bukan seperti agama lain yang beribadah/berdoa dengan mengagung-agungkan Tuhannya.

Sebelum berdoa, Naruto memasuki area kuil dengan bersuci terlebih dahulu, kemudian melakukan Ojigi (menunduk hormat),memasukkan uang koin kedalam kotak, membunyikan lonceng, menepuk tangan 2x, baru kemudian mereka berdoa, dan Ojigi lagi.

'Semoga misiku kali ini berjalan lancar dan aku bisa pulang ke Tokyo dengan selamat' itulah isi doanya.

Selesai dengan urusannya di kuil, Naruto bergegas kembali ke jalan untuk melanjutkan misinya bersama Takuma.

Akan tetapi, tepat setelah ia keluar dari area kuil ia merasakan pancaran energi terkutuk yang cukup besar yang datang dari dalam hutan di belakang kuil. Tanpa pikir panjang, Naruto bergerak cepat memutari kuil itu dan berlari masuk ke dalam hutan.

'Semakin dekat' sambil berlari ia terus menggunakan kemampuan sensornya untuk mendeteksi dimana pancaran energi terkutuk itu. Hingga sampailah ia di sebuah kuil kecil yang terbengkalai dan rusak. Ia melihat sebuah peti di dalam kuil itu.

"Ini dia! Akhirnya ketemu!" Begitu dibuka, isi dari peti itu adalah 3 buah benda berbentuk batangan yang terbungkus kain putih dengan aksara Kanji. Itulah benda yang ia cari selama ini, jari-jari milik Sang Raja Kutukan, Ryomen Sukuna.

"Yosh, aku harus segera pergi dari sini. Karena menurut para petinggi, pancaran energi kutukan dari jari ini menarik perhatian roh terkutuk meskipun di siang hari."

Ia melalui jalan yang sama untuk kembali ke jalanan. Namun ada seseorang yang terlihat sedang menyapu area pintu masuk dari kuil tersebut. Dia adalah seorang gadis berpakaian Miko berambut biru gelap panjang serta mata berwarna ungu.

"Ara, ternyata ada pengunjung ya? Maaf aku tidak sempat menyambut. Aku sedang sibuk mengerjakan sesuatu di tempat lain" ujar gadis Miko itu.

"Tidak apa-apa, aku juga tidak terlalu berlama-lama disini. Setelah ini aku akan pulang" balas Naruto dengan ramah.

"Baiklah, terima kasih atas kunjungannya. Silahkan datang lagi" gadis Miko itu melambaikan tangan pada Naruto yang melangkah keluar dari area kuil.

Merasa sudah agak jauh, Naruto mengaktifkan lagi mode sensornya untuk mendeteksi apa yang terpancar dari gadis Miko itu. Pertama kali ia bertatap muka dengannya, Naruto langsung bisa merasakan ada sesuatu yang aneh dari si gadis Miko.

'Aku merasakan dua aura aneh yang saling bercampur aduk darinya. Salah satu dari aura itu sama persis dengan yang dimiliki oleh kelompok berseragam sekolah semalam' batinnya.

Dan setelah itu Naruto bergegas kembali ke jalanan dimana Takuma sedang duduk di sambil mengemut permen.

.

"Kau sudah selesai, Naruto-san?" Tanya Takuma.

"Ya. Bukan hanya itu, aku juga berhasil menemukan 3 buah jari" Naruto menunjukkan 3 bungkusan kain itu.

"Wah, keren! Kemampuan sensormu benar-benar menakjubkan! Tapi, apa hanya itu saja?"

"Sepertinya tidak. Paling tidak minimal ada 5 jari yang terkumpul dan tersimpan di satu tempat. Sisanya mungkin ada di kota Tokyo dan kota-kota lainnya. Itulah yang dikatakan oleh para petinggi padaku"balas Naruto.

"Aku mengerti. Kalau begitu kita tinggal mencari dua sisanya. Pasti ada di sekitar sini" ujar Takuma.

"Kuharap juga begitu. Ayo kita cari tempat untuk makan siang"

The Lost Soul Aside

Latar tempat beralih ke sebuah cafe berkesan modern yang ramai dikunjungi banyak orang. Nampak di salah satu meja yang ditempati oleh dua orang berpakaian biksu yang sedang menikmati sepiring pancake dan segelas kopi dan teh.

Mereka berdua sama sekali tidak memperdulikan para pengunjung di dalam cafe itu yang memandang mereka dengan tatapan aneh. Mereka berpikir biksu macam apa yang nongkrong di cafe?

"Hmm? Oh, sepertinya ada yang berhasil menemukan 3 jari yang kusembunyikan di hutan itu" ujar pria berambut hitam panjang dengan jahitan horizontal di dahinya a.k.a Geto Suguru.

"Apakah itu pertanda buruk bagimu?" Tanya lawan bicaranya yang berupa seorang wanita berambut bob putih dengan bercak merah di belakang a.k.a Uraume.

"Pertanda buruk? Tentu saja tidak. Dengan diambilnya 3 jari itu menandakan bahwa permainannya akan segera dimulai. Begitu jari keempat ditemukan, sebuab roh terkutuk tingkat spesial yang membawa jari kelima akan muncul dan mengikuti kemana jari-jari itu pergi" ujar Suguru sembari menyeruput kopinya.

"Permainanmu terlalu ribet dan bertele-tele. Aku sudah tidak sabar menanti kebangkitan Sukuna-sama sepenuhnya" Uraume menatap Suguru dengan tajam.

"Bersabarlah sedikit. Saat ini beberapa jari yang lain ada di pihak Akademi Jujutsu serta ada yang tersebar di kota Tokyo. Lebih baik kita ikuti dan nikmati saja secara perlahan, jika terlalu terburu-buru pasti tidak akan terasa menyenangkan. Bukankah begitu, Uraume-san?" Suguru menyeringai tipis.

"Terserah kau saja. Yang terpenting Sukuna-sama kembali bangkit sepenuhnya ke dunia ini"

.

Dari kota Kuoh latar tempat berpindah menuju kota Tokyo, lebih tepatnya ke Sekolah Jujutsu Tokyo. Tempat dimana para penyihir Jujutsu menimba ilmu untuk menjadi penyihir hebat di masa depan sekaligus menjadi pilar penting bagi dunia Jujutsu.

Sang Penyihir Jujutsu Terkuat Masa Kini a.k.a Gojo Satoru terlihat sedang berjalan bersama salah satu sahabatnya, siapa lagi kalau bukan si pekerja kantoran yang keseringan lembur a.k.a Nanami Kento.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang? Apakah kau akan menyembunyikan Itadori-kun yang hidup kembali?" Tanya Nanami.

"Tentu saja. Aku tidak ingin para orang tua bau tanah itu mengomel lagi padaku. Yah, cepat atau lambat mereka pasti akan mengetahuinya" balas Satoru.

"Kuharap kau akan paham atas apa yang kau lakukan"

"Ayolah, Nanamin. Jangan khawatir. Semuanya dalam kendaliku. Ngomong-ngomong, dimana Naruto? Aku tidak melihatnya sejak kemarin dan hari ini?" Pertanyaan pria berambut silver itu membuat Nanami menghentikan langkahnya.

"Hmm? Ada apa, Nanamin?" Satoru menatap pria bersetelan jas itu dengan tatapan bingung.

"Naruto mendapat misi keluar kota. Kira-kira tepat setelah para petinggi menetapkan eksekusi Itadori-kun sebagai wadah Sukuna, para petinggi menugaskannya untuk mencari jari-jari yang berada diluar Tokyo. Ia berangkat tadi malam, selain itu Ino-kun juga ikut untuk menemaninya" jawaban Nanami membuat penyihir terkuat itu menghela nafas antara kesal dan pasrah.

"Hahhh...sudah kuduga orang-orang tua bau tanah itu selalu bertindak yang tidak sesuai dengan kuinginkan. Kemana mereka pergi?" Tanya Satoru.

"Kota Kuoh. Kota dimana adanya eksistensi supranatural selain roh terkutuk. Kau masih ingat tentang pria bersayap seperti kelelawar yang kau lawan 12 tahun lalu itu kan?" Ujar Nanami.

Timeline 12 tahun yang lalu merujuk pada sesuatu yang cukup berarti bagi seorang Gojo Satoru. Saat dimana ia menjalankan sebuah misi yang sangat penting karena menyangkut keseimbangan dunia Jujutsu serta dunia secara keseluruhan, serta saat dimana ia kehilangan sahabat satu-satunya karena perbedaan ideologi.

"Tepat setelah aku membunuh Fushiguro Toji, sekelompok makhluk bersayap kelelawar muncul dan menyerangku. Ya, aku masih ingat. Ada orang yang dengan bodohnya membanggakan dirinya sendiri dan menantangku sebelum akhirnya kabur sebagai pengecut. Jadi eksistensi mereka benar-benar ada ya? Apa kau memberitahu para petinggi soal ini?" Raut wajah Satoru berubah menjadi serius.

"Tidak, aku tidak memberitahu mereka. Kita tidak tahu masalah macam apa yang akan dihadapi oleh Naruto dan Ino selain mencari jari-jari Sukuna. Sebaiknya kau menyusul mereka untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja" Nanami menyarankan.

"Aku mengerti. Kalau begitu, Yuji kuserahkan padamu. Setelah itu aku berencana menyusul Yuuta ke Afrika"

"Baiklah" Mereka berdua saling berjabat tangan. "Wah! Nanamin memang keren! Sangat bisa diandalkan!" Dan Satoru kembali ke mode bobroknya.

"Aku menyesal melakukan ini" tanpa ragu-ragu Nanami menginjak kaki Satoru yang belum sempat mengaktifkan Mugen.

"Aww!!! Kenapa kau menginjak kakiku?!" Penyihir terkuat meringis kesakitan.

"Itu karena kau menyebalkan"

The Lost Soul Aside

Sore menjelang malam di kota Kuoh. Petualangan Naruto dan Takuma untuk mencari jari Sukuna terus berlanjut. Mereka telah berkeliling ke berbagai sudut dan tempat yang memiliki aktivias roh dan energi kutukan seperti gedung terbengkalai, kolong jembatan, hutan, rumah sakit, dan tempat-tempat horor lainnya.

Namun, pencarian mereka selama kurang lebih 5 jam sama sekali tidak membuahkan hasil. Mereka hanya berhasil menemukan 3 buah jari yang ditemukan oleh Naruto di belakang kuil di dalam hutan tadi pagi.

"Bagaimana ini, Naruto-san? Kita sudah berjam-jam berkeliling, tapi sama sekali tak ada tanda-tanda keberadaan jari yang tersisa" Takuma mengeluh dengan wajah bosannya.

"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi, Takuma-san. Aku tidak pernah menonaktifkan sensorku, dan sekarang aku mulai kelelahan" balas Naruto dengan keringat yang mengalir di pelipisnya.

"Jangan memaksakan dirimu. Lebih baik kita pulang dan istirahat. Kita lanjutkan besok saja" Takuma menyarankan.

"Tidak apa-apa. Aku masih sanggup. Kalau kau mau kau bisa kembali duluan. Aku akan menyusul jika sudah malam" balas Naruto.

"Baiklah, hati-hati Naruto-san. Jaga dirimu baik-baik" Takuma pergi meninggalkan Naruto di jalanan kota untuk pulang ke tempat penginapan mereka.

Dan setelahnya tinggal Naruto sendiri yang melakukan pencarian. Rasa lelah mulai menggerogotinya tapi ia tidak ingin menyerah begitu saja. Ia mengemban tanggung jawab yang begitu besar sebagai Penyihir Jujutsu karena misi yang ia jalani ini berhubungan dengan keseimbangan dan takdir dunia.

Untuk itu ia memilih untuk beristirahat sejenak di sebuah bangku taman sambil menikmati sekaleng minuman dari Vending Machine yang tersedia di seluruh jalanan. Sambil meneguk minumannya ia terus berkonsentrasi dan memfokuskan sensornya hingga mencapai titik tertinggi, sampai keduanya matanya terpejam karena saking fokusnya.

"Huh?!" Dan berhasil, ia berhasil mendeteksi pancaran energi terkutuk dari jari Sukuna yang begitu tipis dan pasif. Tanpa ba-bi-bu ia beranjak dari duduknya lalu berlari secepat mungkin menuju lokasi terdeteksinya pancaran energi terkutuk tersebut.

Tempat yang ia datangi adalah sebuah komplek akademi bergaya Eropa abad pertengahan yang berdiri di kota Kuoh. Akademi Kuoh, sebuah SMA yang dulunya adalah SMA khusus perempuan namun sekarang berubah menjadi SMA untuk umum setelah klan iblis Gremory menjadi investor dan melakukan renovasi besar-besaran, serta akademi dimana kedua putri dari klan Gremory dan Sitri bersekolah.

Situasi yang sudah sepi dan tenang menjadi keuntungan tersendiri bagi Naruto untuk mencari jari tersebut. Sekarang sudah hampir malam, sudah pasti tidak ada murid lagi di akademi itu. Untuk itu ia masuk melompati tembok karena pintu gerbangnya dikunci.

"Dimana? Dimana?" Ia terus berjalan sembari terus memakai sensor untuk memandunya. Kemampuan sensor energi terkutuk membawanya ke belakang gudang dimana terdapat sebuah batang kayu menancap di tanah terlilit oleh perban yang penuh dengan noda darah.

"Akhirnya, aku menemukan jari keempat! Sekarang tinggal 1 jari lagi!" Naruto menggali tanah di sekitar batang kayu yang menancap itu dan menemukan sebuah bungkusan perban yang dipastikan adalah jari Sukuna.

"Yosh, sekarang tinggal pergi dari sini dan kembali ke penginapan"

SYUUUU

Namun, keanehan terjadi begitu Naruto ingin akan keluar dari akademi itu. Sebuah kubah berwarna merah gelap tiba-tiba membungkus seluruh area akademi itu. Pemandangan tersebut menimbulkan tanda tanya baginya.

'Apa ini? Tobari? Bukan, tapi mekanismenya hampir mirip. Apakah ada seseorang yang sengaja menjebakku disini?' Batin Naruto. Ia mendapatkan jawabannya begitu melihat sekumpulan makhluk bersayap kelelawar, gagak dan merpati terbang di atas melintasi gedung-gedung akademi. Tempat yang mereka tuju adalah sebuah bangunan tua yang terletak jauh di belakang akademi.

"Makhluk apa itu?" Naruto bertanya-tanya. Sekarang ia terjebak di dalam akademi itu. Bagaimana ia bisa keluar? Selain itu, ia juga penasaran tentang makhluk-makhluk berbeda jenis sayap tersebut.

Maka dari itu, ia memutuskan untuk mengikuti kemana perginya mereka. Begitu ia sampai, ia melihat sebuah bangunan tua bertingkat dua yang dijaga ketat oleh makhluk-makhluk berbeda jenis sayap tadi.

"Mereka semua memiliki 3 jenis energi dan aura yang berbeda-beda. Bisa kuperkirakan tingkat ancaman mereka ada di tingkat 3" gumam Naruto sambil memantau dari balik pohon. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menonton saja, maka dari itu ia mencoba meminta bantuan.

"Huh? Tidak ada sinyal?" Ia mengerutkan keningnya melihat tak ada indikator sinyal di ponselnya. Pandangannya tertuju pada kubah merah yang menyelimuti akademi ini.

"Begitu ya? Aku mengerti. Kubah ini memiliki mekanisme yang sama dengan Tobari, seluruh jaringan komunikasi akan mati begitu berada di dalamnya" ujarnya, lalu menatap ke gedung tua itu.

"Aku bisa saja menghancurkannya, tapi itu akan membuatku ketahuan. Apa lebih baik aku menunggu saja sampai kubahnya diangkat?" Naruto menghela nafas, dihadapkan pada pilihan yang sulit.

.

The Lost Soul Aside

.

Beralih ke dalam bangunan tua itu. Dimana sedang diadakannya rapat antara 3 fraksi besar dari Injil, yaitu Iblis, Malaikat, dan Malaikat Jatuh mengenai penyerangan yang dilakukan oleh salah satu malaikat jatuh berpangkat Cadre bernama Kokabiel kepada iblis dari klan Gremory dan Sitri.

"Demikian, laporan dari saya. Sekian, terima kasih," Rias menutup laporannya.

"Terima kasih atas laporannya, Rias-san. Sekarang aku ingin bertanya padamu, Sona-san. Apakah yang dikatakan oleh Rias-san tadi adalah benar?," tanya Michael, pemimpin Fraksi Malaikat yang berpangkat Seraph.

"Saya, Sona Sitri menyatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Rias tadi adalah benar dan fakta," jawab Sona tanpa keraguan.

"Baiklah, terima kasih Rias, Sona. Cukup untuk laporannya," tutur Sirzechs, lalu menatap Azazel, pemimpin Fraksi Malaikat Jatuh yang berpangkat Gubernur Jendral.

"Sekarang, mari kita dengarkan tanggapan dari anda, Azazel-dono," lanjutnya. Seluruh pasang mata seketika mengarah pada Azazel.

"Si brengsek itu tidak terima saat aku menarik mundur pasukan saat Great War dahulu. Jadi, dia memutuskan untuk memulai perang lagi untuk ia selesaikan sendiri," jawaban Azazel cukup masuk akal. Terlihat dari reaksi para peserta rapat yang mengangguk-angguk.

"Intinya, ini semua adalah keinginannya sendiri?," tanya Michael.

"Ya, aku bahkan sudah mengingatkannya jika dia tetap bersikeras, maka nyawanya yang akan jadi taruhan. Sekarang dia sudah lenyap, dan akhirnya aku bisa beristirahat di kota ini," jawab Azazel lagi.

"Tolong tetap pada topik pembahasan rapat," tegur sang Maou Lucifer.

"Sebelumnya aku sudah mengirim Hakuryuukou untuk menangkapnya Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan bukan?," jawaban Azazel sedikit memancing emosi.

"Ahahaha. Baiklah, mari kita menuju topik pembahasan kita selanjutnya. Mengenai perjanjian perdamaian antara 3 Fraksi. Bagaimana tanggapan anda sekalian?," tanya Michael, mencoba mencairkan situasi.

"Hmm. Aku setuju. Sudah saatnya kita mengakhiri perseteruan ini," ucap sang Maou Lucifer.

"Aku juga setuju. Jujur saja aku sudah lelah dengan semua ini. Yang kuinginkan hanyalah hidup dengan tenang tanpa ada senjata atau sihir yang senantiasa memburu," timpal Azazel.

"Baiklah. Selanjutnya bagaimana dengan Sekiryuutei dan Hakuryuukou? Apa pendapat kalian?," tanya Michael lagi.

"Asalkan aku bisa bertarung dengan orang yang kuat," ujar pemuda berambut silver a.k.a Vali.

"Kau bisa menantang seseorang untuk bertarung tanpa harus berperang," balas Azazel.

"Bagaimana denganmu Sekiryuutei?," seketika semua pandangan tertuju pada Issei, menunggu jawaban darinya.

"A-Ah, ano...aku tidak begitu paham soal ini. Aku baru beberapa hari menjadi iblis. Jadi, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan," ucap Issei dengan senyum canggungnya.

"Hah, sederhananya begini, jika ada perang, kau tidak akan bisa meremas payudara sesukamu. Jika ada perdamaian, maka kau bisa meremas payudara sepuasnya sampai kau mati," celetuk Azazel, membuat Issei terbengong laku menunjukkan senyum mesumnya.

"Perdamaian! Aku ingin perdamaian saja! Hidup perdamaian!," sontak saja seluruh pasang mata dibuat sweatdrop begitu mendengar deklarasi yang memalukan dari Issei.

SYIUUU

Suatu keanehan terjadi. Dimana ruangan sekitar mereka terselimuti oleh lapisan berwarna ungu, yang membuat Sona, Tsubaki, Akeno, dan Asia diam tak bergerak.

"Apa yang terjadi?," Kiba bertanya-tanya, sekaligus penasaran kenapa pedang Holy-Demonic miliknya tiba-tiba berada pada genggamannya. Hal yang sama juga terjadi pada Xenovia dan Irina.

"Ada yang menghentikan waktu," ucap Michael.

"Ada sesuatu yang terjadi pada bocah vampir itu. Kami para pemimpin tidak terpengaruh karena kekuatan kami yang besar," sahut Azazel.

"Aku dan Sekiryuutei terlindungi oleh Sacred Gear kami," ujar Vali.

SRING

SRING

SRING

Mereka melihat keluar jendela dan menyaksikan pemandangan banyak sosok berjubah berdatangan dari lingkaran sihir yang banyak.

"Siapa mereka?!," Irina bertanya-tanya, begitu juga yang lainnya.

"Tidak salah lagi, dari pakaian mereka adalah penyihir," jawab Azazel. Para penyihir itu kemudian mulai menyerang para iblis, malaikat, malaikat jatuh yang berjaga diluar gedung.

"Kita harus segera menghentikan mereka," ucap Sirzechs.

"Aku akan pergi menyelamatkan Gasper dan Koneko!," Rias mencoba mengaktifkan lingkaran sihirnya, namun tidak bisa.

"Huh? Kenapa tidak bisa?," Rias bingung.

"Mereka juga menghalangi sihir teleportasi kita," jawab Grayfia.

"Aku tahu, aku akan bertukar tempat dengan bidak Rook-ku yang belum terpakai," ujar Rias.

"Benar juga. Grayfia, tolong bantu Rias. Issei juga harus ikut bersamanya untuk menyelamatkan Gasper dan Koneko," titah sag Maou Lucifer pada istrinya.

"Hai' Lucifer-sama,"

SRING

Rias dan Issei menghilang dalam lingkaran sihir dan kemudian muncul sebuah bidak Rook yang Rias maksud.

.

"Bagaimana denganmu Vali?," Azazel pun demikian.

"Kau sudah tahu jawabanku," pemuda berambut silver itu terbang keluar dengan armor putih menyelimuti tubuhnya. Tanpa ba-bi-bu ia menggunakan kekuatannya untuk menghabisi para penyihir yang keluar dari lingkaran-lingkaran sihir itu.

"Kita juga harus membantu mereka!," seru Kiba.

"Ya!/Ayo!," Xenovia dan Irina juga keluar dari gedung. Turut melakukan hal yang sama, yaitu membasmi para penyihir yang menyerang pertemuan 3 Fraksi.

.

DHUARRR

Begitu mereka keluar, tiba-tiba serangan terjadi di dalam ruangan tersebut dan meledakkannya. Untung saja para pemimpin 3 fraksi sempat membuat pelindung.

"Itu tadi hampir saja," ucap Michael.

"Kali ini apalagi?," Azazel bertanya-tanya.

Begitu asap memudar, mereka melihat sosok wanita berkulit coklat, rambut berwarna coklat serta berkacamata berada di tengah-tengah mereka.

"Katerea Leviathan. Keturunan asli dari Maou Leviathan," desis Sirzechs dengan tajam.

"Huh, para pemimpin fraksi membuat pelindung bersama-sama. Benar-benar menjijikkan" nada sarkas terlontar dari mulut Katerea.

"Katerea? Kenapa kau melakukan ini?," Serafall menuntut penjelasan.

"Kenapa katamu? Sudah jelas untuk merebut tahta Maou Leviathan darimu. Tahta Maou hanya bisa diduduki oleh kami sebagai keturunan aslinya! Dan sekarang, kami akan mengambilnya kembali!," Katerea tampak marah mendengar pertanyaan sang Maou Leviathan.

"Old Satan ya? Aku mengerti. Kalau begitu, izinkan aku untuk melawanmu. Sekaligus aku ingin mencoba sesuatu, Sacred Gear buatanku sendiri, Downfall Dragon Spear!" Azazel menunjukkan sebuah tombak emas kecil yang menyinari seluruh tubuhnya.

.

Sementara itu, Naruto juga dibuat kaget atas lingkaran sihir yang muncul di atas akademi itu. Ia tambah terkejut lagi melihat banyaknya penyihir berjubah yang keluar dari sana dan menyerang makhluk-makhluk bersayap yang menjaga gedung tua itu.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Naruto bertanya-tanya. Tujuannya hanya untuk mencari jari Sukuna, bukan untuk terlibat dalam konflik orang lain.

Perhatiannya teralihkan oleh dua sosok yang sedang bertarung di udara. Mereka adalah Katerea dan Azazel yang sedang terbungkus dalam armor berwarna emas.

"Aku masih belum paham atas semua ini. Tapi, jika perkataan Nanami-san benar, itu berarti ada eksistensi supranatural lain diluar dunia Jujutsu. Sekarang aku menyaksikannya sendiri" Naruto menyaksikan mereka berdua bertarung dengan sengit, hingga Katerea terpojok dan . . .

BOOMM

Wanita keturunan asli dari Leviathan itu mati karena sihir bom bunuh dirinya yang berniat mati bersama Azazel, tapi pemimpin Fraksi Malaikat Jatuh itu berhasil selamat dengan cara memotong tangannya sendiri.

Ia terus menonton dari tempat persembunyiannya, hingga Azazel ditubruk oleh seseorang berarmor putih a.k.a Vali yang membelot dari 3 Fraksi.

BRAKKK

"Ughh...! Akhirnya kau membuka kedokmu yang sebenarnya, Vali," tutur Azazel.

"Maaf Azazel. Tapi sisi yang ini lebih menyenangkan,"balasnya.

"Begitu ya? Sayang sekali. Terpaksa perdamaian yang kita buat harus tertunda,"

"Maksudnya, Vali adalah pengkhianat?!" Issei tak percaya dengan apa yang ia saksikan.

Sementara itu Maou Lucifer, Leviathan, serta Michael menatap Azazel dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka bertanya-tanya apakah Azazel sudah tahu akan pengkhianatan Vali dari awal dan memilih untuk tidak memberitahu mereka?

"Aku mendapat informasi dari mata-mataku tentang sebuah organisasi teroris yang di dalamnya berisi orang-orang kuat dari latar belakang yang berbeda. Apakah kau salah satu dari mereka?," Azazel berniat memastikan.

"Benar. Khaos Brigade, itulah namanya. Pemimpin kami adalah Ophis, The Ouroboros Dragon, Sang Ketidakbatasan. Tujuan organisasi kami adalah mencari kekuatan, hanya kekuatan,"balas Vali yang meninggalkan reaksi terkejut pada wajah para pemimpin fraksi mendengar fakta bahwa organisasi teroris ini dipimpin oleh Ophis.

"Hmm tepat sesuai informasi. Pertanyaan terakhir, apa tujuanmu juga sama dengan Katerea? Mengambil yang seharusnya adalah milikmu?," pertanyaan Azazel membuat Sirzechs dan Serafall bingung.

"Tunggu dulu Azazel. Apa maksudnya dengan itu?," Sang Maou Lucifer menuntut penjelasan.

"Tidak. Aku sama sekali tidak tertarik dengan itu. Dan untuk pertanyaanmu tadi, nama lengkapku adalah Vali Lucifer..."pernyataan dari Vali mengejutkan semuanya kecuali Azazel.

"L-Lucifer?"

"Tidak mungkin!,"

"Benar. Aku adalah keturunan asli dari Lucifer. Aku terlahir dari rahim ibu seorang manusia. Hasilnya, aku iblis setengah manusia,"lanjutnya.

"Iblis setengah manusia? Jadi itu sebabnya kami tidak bisa menemukanmu dimanapun," ujar Sirzechs.

"Hyoudo Issei. Sungguh ini takdir yang benar-benar ironis. Aku yang merupakan keturunan Lucifer ditakdirkan untuk menjadi Hakuryuukou, sementara kau yang merupakan Sekiryuutei hanyalah manusia biasa yang kini menjadi iblis reinkarnasi. Sungguh perbedaan yang ironis bukan?,"Issei tentu saja geram atas pernyataan memancing emosi dari Vali.

"Dengan kondisimu saat ini, kau tidak pantas menjadi rivalku." Lanjutnya, seraya terbang ke atas sambil mengibarkan sayap birunya.

[Half Dimension]

SYUUUTT

Gedung tua tempat pertemuan itu perlahan mengalami distorsi dan mengalami penyusutan. Pemandangan tersebut menimbulkan tanda tanya bagi pihak 3 Fraksi.

"A-apa yang terjadi?"

"Vali menggunakan salah satu sihirnya, ia mampu membagi dan mengubah ukuran objek apapun menjadi setengah" Azazel selaku orang yang paling mengenali Vali secara luar dalam memberikan penjelasan.

"Ummm...maksudnya?" Issei tak mengerti. Maklum saja ia masih terhitung baru dan masih mentah di dunia Supranatural.

"Sederhananya begini, ia mampu membuat ukuran payudara ketuamu yang tercinta itu menjadi setengah"

Kalimat "Menjadi Setengah" itu membuat Issei sempat terbengong untuk beberapa saat, sebelum akhirnya naik pitam dengan kekuatannya yang meningkat lebih besar dari yang sebelumnya.

"Sialan kau Vali! Tidak akan kubiarkan kau melakukan itu!" Ia kembali terbalut dalam armor merah khas Sekiryuutei lalu menerjang Vali sambil menusukkan sebuah pedang ke arah perutnya.

STAB

"Sekarang, Ddraig!"

[Transfer]

Issei melakukan transfer energi ke tubuh Vali hingga kelebihan muatan dan berujung pada hancurnya armor putih Hakuryuukou miliknya.

BREAK

"Ughhh...aku tidak menyangkanya. Harus kuakui kau cerdik juga" Vali menyeringai.

"Jangan remehkan aku!" Balas Issei.

Iblis setengah manusia keturunan Lucifer itu terkekeh sembari membersihkan debun yang menempel di pakaiannya. Darahnya mendidih seiring dengan semangatnya yang gila akan pertarungan.

"Huh, baiklah. Tapi, apa kau yakin bisa menahan yang satu ini?" Vali mengangkat tangan kirinya ke atas sambil mengibarkan sayap birunya.

"Aku...adalah yang akan bangkit..." ia mengucapkan semacam mantra.

"Vali, hentikan! Kondisimu tidak memungkinkan untuk menggunakannya!" Albion, Sang Kaisar Naga Putih mengingatkan sang partner melalui sayap birunya yang berkedip-kedip.

"Aku adalah Naga Langit yang kehilangan semua prinsip supremasi..."

"Vali! Kubilang hentikan!"

"Aku iri pada yang terbatas-"

.

BRAKKK

Vali harus menghentikan mantranya karena kubah yang menyelimuti Akademi Kuoh tiba-tiba hancur, tapi mereka semua yang ada disitu sama sekali tidak tahu siapa atau apa yang menghancurkannya.

"A-apa yang terjadi?" Rias bertanya-tanya dengan wajah bingungnya, mewakili para peerage-nya yang juga sama.

"Barrier-nya hancur?" Begitu juga Sona.

"Sepertinya ada yang menyusup" sahut Michael.

"Tetap waspada, bisa saja itu adalah komplotan Katerea yang lain" Sirzhechs mengingatkan.

SYUUTT

BRAKKK

"Aaaarghhh...!" Mereka semua dikejutkan oleh Vali yang tiba-tiba terpental secara misterius dan menabrak pepohonan.

"Apa yang terjadi?" Serafall semakin bingung.

"Awas!" Azazel buru-buru menciptakan sihir pelindung dari sebuah tembakan sihir.

BOOMMM

Berutung Azazel sempat menahannya. Saat debu mulai memudar, mereka melihat sosok makhluk aneh berkulit pucat, bertubuh atletis, serta mata yang asimetris.

"Makhluk apa itu?"

"Iblis liar? Tapi, tekanan energinya sangat besar sekali! Lebih besar dibanding yang pernah kita hadapi sebelumnya!"

Para iblis sontak siap siaga saat melihat makhluk tersebut yang merupakan roh terkutuk tingkat spesial yang membawa jari Sukuna dalam tubuhnya. Ia datang dan memaksa masuk ke akademi karena merasakan pancaran energi kutukan dari jari-jari lain yang ada pada Naruto.

Roh terkutuk itu sempat melihat kesana kemari, tatapannya tertuju pada sebuah pepohonan di dekat gedung klub ORC. Ia menembakkan energi kutukannya dari mulut.

SYUUT

"Gawat!" Tempat persembunyian Naruto ketahuan oleh roh terkutuk tersebut. Ia buru-buru lari dan menghindar dengan keluar dari sana.

BOOMMM

Seluruh anggota 3 Fraksi yang baru saja menyetujui kesepakatan perdamaian dan kerja dibuat terkejut karena ternyata ada seseorang yang bersembunyi disana sejak awal. Terutama Sona dan anggota OSIS yang mengenal Naruto di malam itu.

"Siapa itu?"

"Seorang pria? Manusia?"

"Naruto-san? Apa yang ia lakukan disini?" Begitulah kira-kira reaksi mereka melihat penyihir Jujutsu bersurai pirang itu terpaksa keluar dari persembunyiannya.

"Sepertinya aku ketahuan ya? Yah, mau bagaimana lagi? Ada sesuatu yang harus kuambil, dan itu ada di hadapanku saat ini" ujar Naruto menatap roh terkutuk itu dengan seringai tipis.

.

"Tunggu dulu, kau mengenalnya Sona?" Tanya Rias.

"Ya. Dialah penyihir yang kumaksud. Tapi sepertinya ia tidak datang bersama rekannya" balas Sona.

'D-Dia...bukannya yang tadi pagi mengunjungi kuilku?' disisi lain Akeno juga terkejut melihat kehadiran sosok pemuda yang ia lihat tadi pagi saat berkunjung ke kuilnya untuk berdoa.

"Penyihir macam apa dia, So-tan? Kami para pemimpin bahkan tidak bisa merasakan hawa kehadirannya sejak tadi" Serafall menuntut penjelasan.

"Aku juga masih belum tahu, Onee-sama. Tapi yang jelas, lebih baik kita mengamatinya terlebih dahulu" balas Sona sembari membenarkan letak kacamatanya.

.

Kembali ke Naruto yang saat ini sedang berhadapan dengan roh terkutuk pengangkut jari Sukuna. Sesuai dugaannya, roh terkutuk yang ada di hadapannya saat ini adalah tingkat spesial, ditambah ia memiliki luapan energi terkutuk yang luar biasa dalam tubuhnya. Ia bisa memastikan energi kutukan tersebut berasal dari jari Sang Raja Kutukan itu sendiri.

"Benar-benar kekuatan yang berbahaya. Tidak heran jika para petinggi menetapkannya sebagai objek terkutuk tingkat spesial dan ingin dimusnahkan" Naruto bergumam, seraya menggunakan teknik kutukannya, yaitu menciptakan berbagai jenis senjata tajam entah itu pedang, pisau, belati, tombak, kapak, dan lain-lain.

WUSHHH

Roh pengangkut jari melesat dengan kecepatan yang luar biasa. Tapi Naruto masih bisa melihat pergerakannya, ia merespon dengan melemparkan beberapa pisau dan belati dengan kecepatan yang tak kalah cepat.

BREAKKK

"Tch! Sudah kuduga tidak akan semudah itu!" Ia mendecak kesal melihat pisau dan belatinya hancur berkeping-keping saat berbenturan dengan kulit si roh terkutuk.

SYUUUTT

BRAKKK

Naruto menghindari serangan roh pengangkut jari yang hanya mengenai tanah. Ia melompat sambil berbalik untuk melakukan serangan balasan, tapi ternyata si roh pengangkut jari melakukan serangan lanjutan dengan menggunakan mulutnya lagi.

"Gawat!" Naruto buru-buru menciptakan sebuah sabit dan rantai a.k.a Kusarigama lalu melemparkannya ke sebuah dahan pohon untuk menariknya agar menjauh dari jalur lintasan serangan tersebut.

BOOMMM

Serangan roh pengangkut jari hanya mengenai sebuah bangunan akademi, tapi kerusakan yang ditimbulkan cukup parah.

'Hahhh, ini akan sulit. Aku tidak ingin berlama-lama disini. Tapi, bagaimana caranya aku mengakhirinya dengan cepat? Haruskah aku menggunakan Kanshou dan Bakuya? Namun, memakai kedua pedang itu memakan banyak energi kutukan, kecuali jika aku memiliki energi yang melimpah seperti Gojo-sensei atau Yuuta-senpai' Naruto berpikir keras, lawannya adalah roh terkutuk tingkat spesial sementara ia tingkat 2.

Dalam kasus seperti ini biasanya seorang penyihir akan menghadapi roh terkutuk yang sama dengan tingkatannya. Tapi saat ini tidak ada penyihir tingkat spesial yang ikut, hanya ada dirinya dan Takuma yang merupakan penyihir tingkat 2.

"Hmmm, sepertinya kau terlihat kesulitan ya, Naruto..."

.

Yah, setidaknya untuk saat ini.

"Hah?! G-Gojo-sensei?!" Penyihir berambut pirang itu melebarkan kedua mata biru safirnya melihat keberadaan Sang Penyihir Jujutsu Terkuat ada di hadapannya saat ini.

Bukan hanya Naruto, para makhluk 3 Fraksi juga ikut terkejut melihat kehadiran seorang pria berambut putih yang mengenakan penutup mata muncul tiba-tiba seperti hantu.

"Siapa lagi itu?!"

"Aku bahkan tidak bisa merasakan kedatangannya!"

Serafall dan Michael masih terjebak dalam keterkejutannya. Sirzechs dan Azazel pun sama, hanya saja tidak blak-blakan seperti mereka berdua.

"Hoi Sirzechs...pria itu...dia memiliki tekanan energi yang berada di level yang berbeda...bahkan jauh lebih tinggi dibanding aku" ujar Azazel dengan analisanya.

"Kurasa...lebih daripada itu. Dan jujur saja, ini pertama kalinya aku dibuat merinding" balasnya dengan raut wajah serius, tidak menunjukkan tanda-tanda bercanda atau apapun.

"Huh?! B-benarkah? itu artinya...pria bertutup mata itu lebih kuat darimu, Onii-sama?" Rias bertanya dengan penuh keterkejutan Sepanjang hidupnya baru kali ini ia melihat sang kakak menunjukkan wajah seperti itu, ditambah perkataan 'dibuat merinding'

"Entahlah, Rias. Aku juga tidak yakin pada diriku sendiri" Sang Maou Lucifer menjawab dengan kalimat yang ambigu.

.

Kembali ke sisi Naruto dan Satoru. Pertemuan antara penyihir tingkat 2 dan tingkat spesial ini terjadi dikarenakan Satoru ingin mengunjungi dan memeriksa keadaan Naruto yang sedang menjalankan misi mencari jari-jari Sukuna. Persis dengan apa yang dilakukan oleh ketiga muridnya di Tokyo.

Oleh karena itu, ia naik Shinkansen dari Tokyo ke Kuoh dan baru saja tiba beberapa saat yang lalu. Begitu ia keluar dari stasiun, ia merasakan adanya berbagai macam pancaran energi sihir dan di antaranya adalah energi kutukan yang berasal dari Naruto dan roh pengangkut jari Sukuna.

"Katanya kau bersama Takuma, dimana dia?" Tanya Satoru.

"Umm...kurasa dia sedang istirahat di tempat kami menginap" jawab Naruto.

"Ah, jadi begitu. Lalu, bagaimana dengan jari-jarinya?"

"Aku sudah mendapatkan 4, tapi jari yang kelima berada di tubuh roh terkutuk itu" Naruto menunjuk si roh pengangkut jari yang berdiri tak jauh dari tempat mereka.

"Hmm, aku mengerti. Kalau begitu aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Kau duduk diam dan nonton saja-"

WUSSHHH

Roh pengangkut jari tiba-tiba muncul di belakang Satoru dengan cakarnya yang siap merobek tubuhnya kapan saja.

"Di belakangmu!" Naruto menjerit mengingatkan.

"Astaga, setidaknya beri aku kesempatan mengobrol dengan muridku. Yah, apa boleh buat. Sesuai janjiku, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat" Satoru mengangkat jari telunjuknya ke arah roh pengangkut jari.

[Jutsushiki Hanten: Aka]

SYUUUTTT

BOOMMMM

Hal mengejutkan kembali tersaji di mata para penonton dimana roh terkutuk itu tiba-tiba terpental sangat cepat hingga menghancurkan tembok bangunan akademi. Ia terkena sebuah bola kecil berwarna merah yang diluncurkan dari ujung jari telunjuk Satoru. Bola merah itu memiliki kekuatan yang mampu mendorong apapun hingga hancur.

"Apa-apaan itu?"

"Itu...mirip seperti punya Sir-tan"

Kali ini Azazel dan Serafall tidak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka.

"Siapa...sebenarnya pria itu?" Sementara Sirzechs hanya terjebak dalam rasa penasaran.

.

.

.

The Lost Soul Aside

.

To Be Continued

.

Akhirnya bisa update, sebelumnya mohon maaf jika terasa slow up karena kesibukan di dunia nyata. Jadi, mohon dimaklumi.