Black or White
Rated : M
Genre : Crime, Friendship, Romance, Drama
Warning : Typo, OOC
Disclaimer : Masashi Kishimoto (Naruto), Highschool DxD (Ichie Ishibumi)
Naruto dan Sasuke tiba di sekolah setelah beberapa menit menaiki bis, mereka segera berjalan menuju kelas karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Setibanya di kelas Sasuke sudah di sambut oleh seorang gadis bersurai soft pink yang tak lain adalah kekasih pria bergaya rambut mirip pantat ayam.
"Tumben sekali baru tiba" seru si gadis pinky pada pemuda raven.
Bukannya menjawab si Uchiha muda malah memberikan kode agar Sakura bertanya pada teman pirang yang datang bersamanya.
Mengalihkan pandangannya dari Sasuke, Sakura melihat pada Naruto yang baru saja menguap.
"Jika kau bertanya alasannya maka itu pasti karena orang itu, dia mengajakku bermain game sampai pukul empat pagi. Sudah yah aku mau melanjutkan tidur yang tertunda" sambil melipir pergi melewati Sakura, Naruto menghampiri bangku tempatnya duduk yang terletak di baris paling belakang. Di sama juga sudah terdapat seorang laki-laki lain yang rupanya juga tengah tertidur, memiliki potongan rambut seperti buah nanas dia bisa pulas dengan tangan di gunakan sebagai bantal.
Tak mau membuang waktu Naruto juga ikut melakukan hal serupa dan ingin segera tidur.
Mendapatkan jawaban yang sudah cukup memuaskan Sakura hanya menggelengkan kepala, memang kalau sudah menyangkut persaingan antara Sasuke dan Naruto maka tak ada habisnya meskipun itu hanya hal sepele.
Sakura menyusul Sasuke yang sudah duduk di kursinya, pria berparas rupawan itu tengah duduk bersandar dengan mata terpejam. Sepertinya dia juga merasakan kantuk sama seperti Naruto, Sakura duduk perlahan di samping si Uchiha dan mencoba agar tak menimbulkan suara supaya tak mengganggu.
"Bangunkan aku saat ada guru" tanpa membuka matanya Sasuke berucap yang dijawab anggukan.
Beberapa menit berselang bel berbunyi namun guru yang akan mengajar belum tiba, bahkan saat lebih dari dua puluh menit sejak tanda di mulainya jam pelajaran sang guru baru datang. Itupun dia hanya memberikan tugas pada murid-muridnya mencatat setelah itu dia pergi lagi meninggalkan kelas.
.
.
Sesudah melewati beberapa jam pelajaran akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba yakni jam makan siang, Naruto yang sudah cukup pama tertidur dan melewatkan pelajaran pun kini sudah lebih segar dan bersemangat karena perutnya sudah terasa keroncongan. Begitupun teman sebangkunya Shikamaru, walaupun wajahnya kelihatan suntuk tapi itu sudah menjadi bawaanya sejak dulu.
Keempat orang yaitu Sasuke, Sakura, Naruto dan Shikamaru berjalan menuju arah kantin guna mengambil makan siang yang sudah di sediakan oleh pihak sekolah.
Dalam perjalanan Sakura asik mengobrol dengan Sasuke walaupun lebih terkesan satu arah karena lelaki Uchiha itu tak banyak buka suara dan hanya sekedar menanggapi dengan gumaman tak jelas, sementara Shikamaru dan Naruto juga tak jauh berbeda.
Ketika memasuki area kantin yang luas dengan deretan bangku untuk menampung para murid yang ingin mengisi perut di sana tampak keadaannya sudah mulai ramai. Bangku-bangku cukup banyak terisi baik itu oleh siswa maupun siswi berbagai tingkatan.
Namun di salah satu bangku tampaknya sedikit ada keributan, seorang siswi berambut cokelat tampak menunduk dan di dekatnya ada tiga orang murid laki-laki. Salah satu diantara ketiga murid laki-laki itu tampak mempunyai gaya rambut seperti di serial captain tsubasa hanya saja bedanya ia berwajah cabul.
"Ayolah!, sepulang sekolah nanti kita pergi ke tempat waktu itu. Kali ini aku berjanji tidak akan kasar bagaimana?" dengan nada bicara menjengkelkan dia mengajak si murid perempuan.
"Tolong jauhi aku Hyoudou-san" suara agak bergetar keluar dari bibir murid perempuan tersebut, selain itu dia juga memeluk tubuhnya sendiri dan mencoba menghindari tangan lelaki yang dari tadi mencoba menyentuhnya.
"Ckck... Apa kau tidak percaya?, bukankah kita teman masa kecil?. Aku berjanji memperlakukanmu dengan lebih baik apa kau dengar?" sepertinya si lelaki mulai kesal juga karena dari tadi dirinya di tolak.
Dari arah belakangan ketiga murid laki-laki itu Sasuke dan yang lain mendekat karena memang mereka harus lewat sana. Secara sengaja begitu tepat di belakang punggung lelaki yang di panggil Hyoudou tadi Sakura menabrakkan bahunya dan berhasil membuat orang itu bergeser.
Tak terima dengan hal barusan dia langsung melihat siapa pelakunya, empat orang tadi berjalan sudah beberapa langkah sebelum kemudian dengan nada suara agak lantang dia memanggil Sasuke dan kawan-kawan yang membuat keempatnya berhenti melangkah dan membalikkan tubuh mereka.
"Ups maafkan aku, sepertinya barusan diriku sengaja menabrak punggumu. Apakah sakit?" nada ejekan terlontar dari bibir Sakura sambil dia juga berekspresi menghina.
Karena kesal si Hyoudou meninggalkan wanita bersurai cokelat tadi dan mendekati Sakura diikuti oleh dua temannya mengekor di belakang. Suasana kantin yang tadi biasa-biasa saja langsung terasa menegangkan, murid-murid yang tadinya tengah menikmati makanan kini menunda sebentar kegiatan mereka dan ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya apalagi salah satu yang terlibat adalah si lelaki berambut cokelat bernama lengkap Hyoudou Issei. Dia sebenarnya adalah murid biasa yang berlagak seperti berandalan hanya karena merupakan putra dari salah satu donatur sekolah, status itulah yang membuatnya bertingkah seenaknya bahkan dia beberapa kali bebas dari skorsing dengan statusnya tersebut.
"Sepertinya kau ingin mencari masalah denganku" Issei mencoba mengintimidasi Sakura namun tampaknya tak berhasil, malah gadis bersurai merah jambu tersebut seperti menahan tawa kala Issei menekan nada bicaranya.
"Mencari masalah denganmu?, untuk apa melakukan hal itu?. Apa kau tidak sadar bahwa selama ini justru kaulah yang banyak membuat masalah pada orang lain dan semua orang juga sudah tahu siapa dirimu. Seorang murid bodoh yang sok berkuasa" hinaan kembali dilancarkan Sakura pada Issei.
Panas dengan semua yang dilontarkan Sakura akhirnya membuat Issei emosi, dia mengepalkan tangan dan rahangnya mengeras.
"Apa?, kau kesal?. Ingin memukulku? Ayo lakukanlah bukankah kau selalu melakukan itu meskipun pada perempuan?" sepertinya Sakura sangat suka memprovokasi pria di hadapannya.
Sebenarnya Issei sangat ingin saat ini melayangkan tangan pada wanita yang dari tadi mempermalukan dan mengolok-oloknya namun dia berpikir dua kali karena selain saat ini banyak orang lain juga di sekitar gadis tersebut ada seorang Uchiha Sasuke yang merupakan anak dari kepala kepolisian dan tidak bagus jika dia terlibat masalah dengan si pemuda raven.
"Kau beruntung saat ini sedang ada dia, kalau tidak sudah kuhajar wajahmu" beo Issei sambil menatap tajam Sakura dan beranjak pergi namun satu ejekan lagi Sakura sukses membuat Issei akhirnya meledak.
"Ternyata dirimu memang pengecut".
Dengan gerakan cepat Issei berbalik dan sudah melayangkan tinju pada wajah Sakura namun belum sempat mendaratkan kepalan tangannya di wajah cantik si gadis pink dia terlebih dahulu merasakan sesuatu yang keras menghantam pipinya dengan kuat bahkan sampai membuat Issei jatuh tersungkur ke arah belakang. Mencoba mengetahui apa yang terjadi Issei melihat ternyata Sasuke sudah berdiri di depan Sakura dengan sebelah tangan mengepal tanda bahwa baru saja melakukan pukulan pada Issei. Memegangi pipinya yang terasa sakit pria bersurai cokelat itu bangkit berdiri dengan di bantu oleh kedua temannya.
"Lain kali jaga mulut si jalang itu. Ayo kita pergi! Matsuda, Motohama" ajak Issei pada dua temannya dan segera meninggalkan kantin.
Selepas perginya Issei dari kantin dan suasana kembali nyaman para murid melanjutkan makan mereka, semuanya sangat puas saat barusan menyaksikan bagaimana wajah dari orang yang mereka benci di hantam dengan kuat oleh si Uchiha.
"Irina... Apa kau baik-baik saja?" seorang gadis berambut biru datang menghampiri siswi yang tadi di ganggu oleh Issei dan segera memeluknya.
"Ya, aku tak apa".
Sakura tersenyum senang kala teman dari Irina yang ia ketahui bernama Xenovia datang dan menemani gadis cokelat itu, segera setelahnya dia dan ketiga lainnya pergi untuk mengambil makanan karena waktu istirahat mereka sudah terbuang sia-sia akibat berkonfrontasi dengan Issei.
.
.
"Hey Sakura, bukankah si Hyoudo itu belum lama ini di skors oleh sekolah?" tanya Naruto pada wanita yang sudah cukup lama ia kenal.
"Memang... Tapi seperti kau tidak tahu saja. Orang tuanya itu salah satu donatur sekolah maka tak heran ia hanya mendapatkan sangsi ringan" Sakura sangat malas mengingat bagaimana pihak sekolah hanya memberikan masa skorsing singkat pada Issei yang notabenenya melakukan tindakan yang sangat tidak bisa di toleransi yakni melakukan pelecehan pada siswi bernama Irina di sebuah tempat karaoke dan itu bukan pertama kalinya dia melakukan pelecehan pada seorang siswi tapi sudah ke sekian kalinya namun tetap tak ada tindakan tegas yang di ambil oleh sekolah seperti mengeluarkannya dari sana.
Naruto mangut-mangut mengerti, dia berdiri dari posisi duduknya lalu pergi ke arah mejanya di baris paling belakang bersama Shikamaru.
Setelah dari kantin tadi memang mereka langsung kembali ke kelas dan kini sebentar lagi bel akan berbunyi.
.
Di waktu pulang sekolah Naruto tengah membereskan peralatan belajarnya sebelum kemudian suara panggilan dari Sasuke menginterupsi.
"Dobe jangan lupa datang malam ini dan jangan terlambat" ucap si Uchiha yang langsung di mengerti oleh Naruto.
"Tentu," timpal si pirang melirik sekilas pada sahabatnya.
Sasuke segera pergi setelah mendapat jawaban Naruto, dia akan pergi menemani Sakura yang katanya mau membeli peralatan sekolah yang baru. Sedangkan kini di kelas hanya menyisakan Shikamaru dan Naruto berdua.
Shikamaru bangkit berdiri dari posisi duduknya, sebelum pergi tangannya merogoh saku celana guna mengambil sesuatu lalu meletakkannya di atas meja. Naruto mengambil benda tersebut dan memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa.
Usai semua telah dimasukkan ke dalam tas barulah Naruto pergi meninggalkan ruang kelas untuk segera melakukan kerja sambilannya. Belum jauh melewati gerbang sekolah dia berpapasan dengan seorang murid berambut cokelat dan berwajah berengsek. Naruto tak mengindahkan orang yang barusan berpapasan dengannya hingga ia tak sadar kini pria cokelat itu sedang memperhatikannya.
"Bukankah dia salah satu yang bersama si wanita jalang tadi?. Ahhh tapi apa peduliku" pria berambut cokelat itu melanjutkan perjalanannya setelah memperhatikan Naruto sebentar.
.
Butuh beberapa waktu Naruto berjalan kaki sampai akhirnya ia tiba di sebuah tempat yang terdapat beberapa mobil box yang terparkir.
"Akhirnya tiba juga, ayo kita harus segera mengantarkan paket-paket ini" seorang pria berusia tiga puluhan awal menyambut Naruto di dekat sebuah mobil berwarna putih.
"Ok, tunggu sebentar aku ganti baju dulu" Naruto menimpali dan segera melipir menuju tempat berganti baju, beberapa saat berselang dia sudah mengenakan seragam berwarna biru muda dengan topi berwarna senada menutupi kepala pirangnya.
"Mari kita segera antar semuanya".
Pria itu dan Naruto menaiki mobil dan segera meninggalkan tempat tersebut yang rupanya mereka adalah karyawan dari sebuah perusahaan pengiriman barang, namun jabatan Naruto hanya sebagai pekerja paruh waktu. Si pirang yang duduk di samping kursi kemudi membaca kertas yang berisi alamat tujuan dari barang-barang yang harus diantar.
Barang pertama diantarkan pada sebuah rumah dan begitu pula dengan yang lainnya, mobil terus melaju dan berhenti ketika sudah sampai tujuan. Untungnya kotak-kotak paket yang di kirim memiliki ukuran kecil dan sedang sehingga paling berat pun bisa di angkut oleh keduanya tanpa kesusahan.
Pengantaran barang terus berlangsung hingga kini hanya tersisa beberapa bungkusan paket saja yang perlu di antar, langit biru cerah kini sudah mulai terganti dengan indahnya semburat jingga di cakrawala menandakan sudah cukup lama mereka menjalankan pekerjaan guna menghasilkan lembaran uang.
"Kiriman berikutnya ke sini ya?" Naruto memperhatikan kertas yang di sana terdapat sebuah alamat plus dengan nama penerima paketnya.
"Yup, tenang saja walaupun di sana tertulis lantai 17 tapi kita hanya perlu titipkan di pos security" sambil menoleh ke arah si pemuda pirang orang itu memberitahukan bahwa paketnya tak perlu di antar ke lantai atas, karena ini bukan pertama kali mereka mengantarkan ke tempat tersebut dengan nama yang sama.
"Aku penasaran kenapa orang ini tidak pernah mau kita mengantarkan paketnya sampai ke atas?" dengan agak penasaran Naruto bertanya.
"Dari yang kudengar dari security katanya orang ini hanya datang menjelang malam hari saja jadi kalaupun kita mengantar ke atas maka tak akan ada orang" jelas pria itu sambil menghentikan mobilnya di depan pos security.
Naruto menganggukkan kepala mengerti, dia melepaskan sabuk pengaman lalu turun dari mobil guna mengambil paket di dalam box mobil. Dia mengambil sebuah kotak kardus berbentuk persegi panjang dengan diameter 40x60cm. Lelaki pirang itu menyerahkannya pada security dan meminta tanda tangan sebagai bukti penerimaan paket.
Mobil kembali bergerak pergi dari sana dan berniat pulang ke tempat asal, untuk sisa paket mereka mengantarkannya sekalian karena searah dengan jalan pulang.
.
.
Lelaki bersurai pirang yang tadi menjadi pengantar paket itu kini tampak sedang duduk bersantai di sebuah bangku taman sambil di temani sekaleng soda dingin di tangannya. Seragam berwarna biru mudanya tergeletak di samping tubuhnya berdampingan dengan tas ransel yang ia gunakan untuk bersekolah.
Tubuhnya yang cukup tinggi tampak atletis karena kini tubuh bagian atasnya hanya dilapisi sebuah baju kaos tipis berwarna hitam yang cukup ketat.
Hembusan sepoi-sepoi angin yang menerpa tubuhnya membuat ia tersenyum kecil lalu memejamkan mata mencoba meresapi salah satu hal paling nikmat di kala sedang berkeringat. Rambut pirangnya bergoyang pelan seirama dengan tiupan angin, walaupun singkat tapi rasanya sudah cukup menyegarkan bagi Naruto.
Ketika pria pirang itu ingin pergi dari sana secara tak sengaja ekor matanya menangkap seorang gadis kecil kira-kira rentang usia 4 tahunan seperti kebingungan. Raut wajahnya menujukan tampaknya ia cukup asing dengan taman tersebut.
Sempat menoleh ke kiri dan kanan guna mencari apakah gadis kecil tersebut ada yang menemani atau tidak, menemukan fakta bahwa di sana hanya ada dirinya dan si gadis kecil Naruto memutuskan menghampirinya.
Begitu mendekati gadis kecil itu Naruto sempat dibuat takjub dengan bagaimana sosoknya, wajahnya terpahat indah dengan bola mata besar berwarna biru, pipi yang gembil dan tampak empuk jika di cubit, hidung mungil yang mancung juga jangan lupakan rambutnya yang cukup panjang untuk ukuran anak seusianya.
Melihat kedatangan Naruto terlihat gadis kecil itu menaruh rasa waspada, mungkin hadil didikan orang tuanya tentang bagaimana menghadapi orang asing.
Naruto menyadari betul bahwa anak di depannya memasang kecurigaan dan waspada alan dirinya maka daripada itu si pemuda blonde tidak boleh bersikap mencurigakan.
"Jangan takut adik kecil, aku bukan orang jahat tapi melainkan hanya murid SMA biasa. Oh iya namaku Uzumaki Naruto" entah kenapa hal itulah yang adi di kepala Naruto dan langsung meluncur begitu saja dengan memberitahukan bahwa dia masih murid sekolah agar si gadis kecil tak takut padanya.
Masih terus waspada gadis kecil itu sepertinya tak mempercayai begitu saja apa yang di bilang Naruto, maka agar semakin memperkuat perkataannya Naruto berjongkok dan membuka tas serta mengeluarkan buku dari dalam tas ranselnya.
Diperlihatkan buku paket pelajaran tampaknya si gadis kecil percaya walaupun tak menurunkan kewaspadaan pada Naruto, harus diakui sepertinya gadis kecil itu cukup pintar untuk anak-anak seusianya.
"Dilihat dari caramu melihat area sekitar tampaknya kau baru pertama kali datang ke sini ya? Dan juga sepertinya kau sedang tersesat?" Naruto bertanya sambil kembali memasukkan bukunya ke dalam ransel namun si gadis kecil tak menjawab.
Keduanya tak terlibat lagi dalam obrolan dan hanya saling diam beberapa saat sampai akhirnya suara lembut keluar dari gadis kecil di depan Naruto.
"Paman... Apa kau bisa membantuku menemukan mamaku?".
Panggilan dari si gadis kecil pada Naruto yang menyebutnya dengan paman sempat membuat si pirang sweatdrop, pasalnya ia barulah berumur delapan belas tahun tapi sudah di panggil paman. Apa wajahnya memang setua itu?.
Tersenyum kecil pada si gadis imut, Naruto menyampirkan ranselnya di punggung. "Apa kau tahu nama jalan tempatmu tinggal?". Jujur saja walaupun terkesan konyol menanyakan nama wilayah tempat tinggal si gadis kecil tapi siapa tahu saja bocah itu mengetahuinya, iya kan?.
Gadis kecil itu menggelengkan kepala, tapi ia mengingat sesuatu. "Kami tinggal di lantai tiga apartemen".
Sebuah petunjuk yang sama sekali tak membantu apalagi di sana cukup banyak bertebaran tempat tinggal jenis apartemen bahkan Naruto juga tinggal di sana jadi akan cukup sulit mencari rumah si gadis kecil.
"Um... Apa di dekat apartemennya ada mini market atau semacamnya?" Naruto kembali bertanya agar bisa lebih gampang mencari dan gadis kecil itu kembali menggelengkan kepalanya. Naruto mengangguk dan segera mencoret daftar apartemen yang di dekatnya terdapat mini market termasuk apartemen tempatnya tinggal.
Satu pertanyaan terakhir diajukan oleh Naruto pada si gadis kecil, "kalau begitu tadi kau datang dari arah mana?". Walaupun tak mengharapkan bocah perempuan itu akan menjawab tapi meskipun penuh keragu-raguan gadis tersebut menunjuk ke satu arah yakni menuju ke selatan dari tempat keduanya berada.
"Kalau begitu mari aku antar pulang" Naruto mengajak anak kecil tersebut pergi untuk mengantarkannya pulang.
Di jalan Naruto terus mencoba mengajak anak kecil tersebut berbicara, pada awalnya hanya jawaban singkat yang di terima namun karena si pirang adalah tipe orang yang gampang dekat dengan siapun maka dalam waktu singkat dia berhasil mengambil kepercayaan gadis kecil itu hingga mau menjawab dan berbicara padanya. Bahkan kini Naruto sudah tahu nama dari anak tersebut yaitu Hana, tapi dia hanya menyebutkan nama kecilnya saja tanpa nama keluarganya.
.
Berjalan beberapa lama dan Naruto baru menyadari bahwa anak kecil yang kini di melangkah di sampingnya ternyata tersesat cukup jauh walaupun Naruto belum tahu apakah benar dia mengantar anak itu ke tempat yang tepat tapi sebuah suara setengah berteriak memanggil nama bocah di sampingnya.
"Hana-chan..." seorang wanita berusia dua puluhan berlari kecil menghampiri mereka.
Wajah si gadis kecil tampak sumringah melihat orang yang berlari ke arahnya, bahkan dia juga ikut berlari hingga saat sudah dekat segera bocah itu masuk ke dalam pelukan hangat wanita dewasa tersebut. Naruto yang melihat keduanya tersenyum singkat sebelum kembali berekspresi biasa.
Masih memeluk bocah perempuan tersebut akhirnya wanita itu tersadar dengan sosok pirang yang tak jauh dari posisinya, sepertinya ialah yang sudah mengantarkan si bocah perempuan.
"Terima kasih sudah mengantar Hana, jika kau berkenan aku ingin mentraktir mu" wanita itu menundukkan badan sebentar lalu kembali berdiri tegap seraya mengajak Naruto untuk di traktir.
"A-ah tidak usah, aku harus segera pulang soalnya. Kalau begitu Hana-chan aku pulang dulu" Naruto segera berpamitan karena memang dia sudah berhasil mengantarkan bocah itu kembali ke pelukan ibunya.
"Hati-hati paman~" gadis kecil itu melambaikan tangan dan membuat Naruto segera pergi.
Menghilang di bali belokan akhirnya kedua orang bergender perempuan berbeda umur itu juga ikut pergi.
.
.
.
TBC
