"Misi apa?". Tanya pria berambut putih pada pria kekar di hadapannya.

"Terjadi anomali di selatan Okinawa. Muncul pulau misterius yang menyebabkan aura hitam hingga pemukiman. Para warga yang mencoba melakukan pengecekan dinyatakan hilang setelah satu hari. Identifikasinya kemungkinan ada kutukan kelas tinggi disana. Dan kebetulan saat ini para guru juga memiliki misi masing masing".

Pulau Okinawa cerah dan menawan seperti biasanya. Hanya saja di bagian selatan telah dipenuhi oleh kabut pekat yang mengganggu pemandangan dan perasangka. Gojo segera melayang di udara untuk mengecek pulau misterius dari atas. Ternyata, pulau itu telah di kelilingi kubah transparan dari teknik kutukan. Setelah dirasa cukup untuk observasi, gojo bersiap untuk meniadakan kubah. Namun sedikit perasaan aneh muncul. Firasatnya mengatakan, "jangan hancurkan kubahnya. Dekatilah".

Biasanya gojo jarang sekali untuk melibatkan firasat. Ia lebih berjalan kepada naluri. Sebab firasat adalah rasa yang ditimbulkan tanpa berdasar. Tiba tiba saja muncul. Sedangkan naluri adalah kemampuan yang telah terasah untuk mendeteksi adanya anomali. Singkatnya gojo adalah orang yang berjalan berdasarkan naluri dan akal rasional. Bukan firasat. Namun, kali ini tidak. Ia mengikuti firasatnya untuk mendekati kubah. Tangannya mulai untuk menyentuh kubah. Kemudian, untuk sesaat selanjutnya, ia terasa tersedot ke dalam.

Disinilah ia sekarang, pulau kecil yang hangat dengan langit biru. Gojo agak bingung. Ia tak mendeteksi adanya energi kutukan yang besar. Padahal energi kubah dari luar sangat terasa.

"Yo. Satoru".

Dari belakang ia mendengar suara yang tak asing baginya.

Ia berbalik.

"Suguru?. Apa yang kau lakukan?".

"Bermain? Membuat perangkap?".

"Permainanmu sangat bodoh hingga satu armada kapal telah menghilang". Cibir gojo dengan santai.

"Tentu. Dan kau tak akan mungkin bermain sampai tahap ini".

Di pantai pasir putih itu, mereka berbincang dalam jarak sepuluh meter. Tak ada yang ingin mendekat dan tak ada yang mencoba menjauh. Sejujurnya, melihat keadaan sahabat lamanya telah berubah sejauh ini membuat gojo merasa bersalah. Kenapa saat dulu ia tak menyadari krisis idealisme yang dialami Geto?. Gojo tau, dari semua orang, Geto adalah orang yang memiliki idealisme paling kuat. Ia ingin menjadi penyihir jujutsu guna melindungi masyarakat non penyihir. Namun, apa mau dikata. Ia mengalami guncangan pasca misi pengawalan Riko Amanai.

"Jika kau sudah selesai. Aku akan membuat tempat ini seperti sedia kala". Ucap Gojo sambil membuka penutup matanya. Rambut putih yang selalu mengarah naik jatuh hingga menutupi dahi.

"Kau masih sama seperti dulu. Mencolok dengan warna biru itu".

Geto berkata dengan ekspresi senyum palsu yang biasa ia gunakan setiap saat.

Gojo diam sesaat.

"Apa kau tidak lelah?". Lanjutnya.

Geto menggeleng.

"Bagaimana denganmu?. Bukankah menyelamatkan orang lebih lelah dibanding membinasakan orang sepertiku?".

"Aku rasa, aku bukan anak kecil lagi. Namun aku ingin merasa egois dengan idealisme yang kau anut".

Suasana menjadi lebih intim dengan percakapan yang tak sanggup tersampaikan di masa lalu. Entah apa rencana Geto membuat ini semua.

"Bukankah sikap naluriah manusia adalah egois. Itu bukan hal buruk". Jawab Geto yang tanpa sadar menatap mata biru laut itu dengan sendu.

"Bagaimana dengan kembali ke jalan yang kuyakini benar?". Gojo masih membujuknya setelah sekian lama setelah kejadian di depan kfc kala itu.

"Lalu bagaimana? Membiarkan diriku di eksekusi? Aku sudah terlalu jauh". Pria berambut panjang itu akan berbalik membelakangi Gojo hingga suara teriakan menghentikannya.

"Jangan membelakangiku lagi!".

Gojo tertawa kecil.

"Sesungguhnya aku senang karena tak ada bedanya kau yang dulu dan sekarang".

"Jalan kembali akan selalu tersedia. Cara penebusan akan selalu ada. Kata terlambat hanya untuk orang yang tak ingin berubah bukan?".

"Dunia berjalan memerlukan dua sisi. Hitam-putih. Siang-malam. Dan dalam keadaan ini, memang diperlukan untuk kau yang disisi sana dan aku yang disini. Aku berada di sisi berlawanan denganmu dan itu bukan kesalahan. Selama langit masih tetap biru, kita masih dalam bumi yang sama".

"Lantas mau apa kau membuat ini semua sialan!". Pria humoris beriris biru itu terpancing dengan perkataan sahabat lamanya. Pasalnya, tak terasa ada ancaman di sekitar sini.

"Kau hanya membual omong kosong. Membuat memori buruk tentang kita terlihat jelas!. Apa kau ingin ku eksekusi? Ha?".

Geto berbalik membelakangi sahabatnya bersiap meninggalkan.

"Rindu mungkin?".

Para warga ternyata telah di temukan di sebuah pulau lain dalam keadaan pingsan. Dan pada akhirnya, misi Gojo saat ini adalah pertemuan singkatnya untuk menyadari bahwa biru masih tetap ada meski tidak lagi sama.