Penyihir & Petapa
Summary
Karena dunianya telah damai, Naruto berpindah ke dimensi lain demi memenuhi impian tersendiri, dan suatu ketika bertemu dengan kandidat pasangan hidupnya.
.
.
.
Disclaimer
Naruto dan King Propose dimiliki oleh pemiliknya masing-masing. Author hanya meminjam mereka demi kepentingan fanfic ini.
.
.
Genre
Utama: Romance
Selingan: -
.
.
Pairing
[Uzumaki Naruto x Saika Kuozaki]
.
.
Pada dimensi buatan ini, seorang gadis berpenampilan menawan nampak menghadapi serbuan monster, mulai dari wyvern, griffin, dan masih banyak lagi. Dia tampak fokus dan tenang dalam menghadapi mereka semua.
"Haaah!"
Gadis itu memutar sebuah tongkat di tangannya, aneka serangan elemental api tercipta dari ketiadaan, dan langsung menghanguskan banyak monster dalam sekejap.
Dia hanya tersenyum saat melihat jumlah makhluk yang tersisa.
"Bagus, seharusnya ini akan selesai bentar lagi."
Secara mengejutkan, portal mendadak muncul, dan seorang lelaki berambut putih mengenakan pakaian unik jatuh dari sana.
Gadis itu terkejut.
Namun, 'penyusup' atau bukan, dia tidak mungkin membiarkan orang itu tewas di hadapannya.
"Tunggu! Aku akan selamatkan…"
Dia berhenti jatuh sebelum melayang di udara.
"...kamu?"
Seakan terkejut, dia lenyap sebelum muncul di samping gadis itu, dan mengayunkan tongkat hitam pada beberapa monster yang mendekat. Mereka musnah tanpa sisa ketika bersentuhan fisik dengan senjata itu.
"Fuuh, tadi itu hampir saja." Dia menambahkan. "Kau baik-baik saja? Maaf kemunculanku membuatmu kaget, tapi aku berani bersumpah kalau aku gak ada niat buruk saat kemari. Kau bisa pegang kata-kataku."
Gadis itu mengamati orang ini dalam diam.
"…"
"Uh, hello?"
"Kau… melindungiku?"
Lelaki itu berkedip.
"Huh? Oh, tentu saja, dimana saja dan kapan saja, membantu adalah hal wajar, bukan? Hehe," katanya sambil cengengesan.
Dia tersenyum ke arahnya.
"Sudah kuputuskan."
"Eh? Keputusan apa?"
Gadis itu memegang tangan orang ini. Dia masih tersenyum tapi sekarang terdapat rona pink tipis di pipinya.
"Kau, aku, mari kita menikah."
Lelaki itu mengangguk.
"Oh, boleh."
.
.
.
"Eh? EHHHHHHHHHHHHHHHH?!"
Line-Break
Ojoshi adalah nama kota ini. Kota yang dikenal sebagai salah satu kota modern dengan banyaknya gedung pencakar langit.
Saat ini, tepatnya pagi hari, terdapat banyak sekali warga pergi beraktivitas. Sebagian di antara mereka adalah para siswa atau pekerja biasa.
Sementara itu pada rumah ini, seorang gadis tampak memasak di dapur. Dia mengenakan apron berwarna jingga dan puas saat mencoba masakannya.
"Um, kuahnya sudah siap."
Gadis ini mematikan kompor sebelum menata meja makan. Terdapat olahan ikan, sup miso, dan tentunya nasi.
Selesai, dia meninggalkan ruangan sebelum menaiki tangga, lalu memasuki kamar ini.
Gadis itu melihat seorang lelaki (yang masih) tertidur pulas di tempat tidur. Kemudian, secara perlahan, dia naik ke kasur dan mengamati wajah orang ini.
"Bangunlah, ini sudah pagi, suamiku."
Kelopak mata lelaki ini terbuka. Dia berkedip selama beberapa saat lalu melihat wajah cantik istrinya.
"O-Oh, selamat pagi, Saika-chan."
Mereka adalah Naruto Uzumaki dan Saika Uzumaki (Kuozaki). Sepasang pasutri muda (yang terkenal) di kalangan para penyihir.
Namun, meski marganya Uzumaki, kenyataannya Naruto adalah reinkarnasi dari Otsutsuki terkuat (yang namanya) lenyap dari sejarah. Naruto mengetahui hal ini saat dirinya sekarat ketika menghadapi Kaguya, bersama Sasuke dan Menma(adiknya), sementara mereka berdua merupakan reinkarnasi Indra dan Ashura.
Meski awalnya panik, Naruto diberitahu kalau 'kehidupan pertamanya' itu hanya menginginkan kedamaian dan kesetaraan, tapi hal ini juga (yang membuatnya) terbunuh oleh seisi klan Otsutsuki karena mereka tidak menyukai ide dan takut terhadap kemampuannya.
Setelah itu, 'kehidupan pertamanya' ini menyerahkan chakra, pengetahuan, kekuatannya pada Naruto, dengan tujuan menyelamatkan hidupnya. Singkat cerita, Kaguya berhasil dikalahkan, walau selanjutnya Naruto langsung menghajar Sasuke dan Menma agar mencegah mereka berdua melakukan hal konyol lagi.
Kedamaian memang terjadi. Akan tetapi, Naruto memutuskan untuk mengembara ke dimensi lain, karena impiannya adalah berpetualang bebas. Tentunya sebelum pergi, dia berpamitan dengan semua temannya dulu.
Setelah mengunjungi banyak dunia, Naruto tidak menduga kalau dirinya akan menemukan pasangannya di dimensi ini, itu dalam wujud [World Strongest Witch] alias Saika Kuozaki.
Saika tersenyum manis.
"Fufu, pagi juga, Naruto-kun."
Naruto salah tingkah ketika melihat senyuman itu.
Sejujurnya, dia masih tidak menyangka kalau perempuan hebat ini adalah istrinya, tapi pernikahan mereka terjadi karena hal sederhana.
Sebagai [World King], Saika mendedikasikan hidupnya demi kedamaian, dan pada dasarnya dia memang menyayangi dunia ini. Namun, ada momen tertentu di mana Saika juga menginginkan perasaan kasih sayang khusus untuknya, dan untuk memenuhi itu dia membaca novel romansa jika ada waktu luang.
Lalu, dia bertemu dengan lelaki ini, dan sisanya berkembang menjadi seperti sekarang.
"Jadi… jam berapa sekarang? Sebagai pemilik [Void Garden], kita gak boleh telat ke sekolah, bukan?"
Saika masih tersenyum. Iris mata unik gadis itu bersinar sedikit.
Naruto memerah wajahnya. Dia tahu persis keinginan istrinya ini.
"Y-Ya, terserah."
Kemudian, dia mencium istrinya itu, yang dibalas tanpa ragu. Mereka selesai dalam waktu singkat.
"Itu cukup?"
"Yup, sangat cukup."
Naruto turun dari kasur. Mereka berjalan keluar dari kamar tidur mereka.
"Kau seharusnya membiarkanku mandi dulu, dattebayo," kata Naruto.
"Tapi kau 'kan sudah mandi, jadi seharusnya bukan masalah," jawab Saika.
Naruto berkedip.
Kemudian, dia menyadari kalau pakaian tidurnya telah berganti dengan pakaian rapi, dan aroma harum juga tercium dari badannya. Dia juga memperhatikan kalau Saika telah mengubah pakaiannya sendiri ke arah lebih formal.
"…jika pengikutmu tahu kalau kemampuan pengubah duniamu digunakan seperti ini, mereka pasti menangis."
Saika hanya berseri dan tidak mengatakan apapun.
Tiba di bawah, keduanya memasuki ruang makan sebelum duduk berhadapan, lalu menepuk tangan masing-masing dan bicara.
"Selamat makan!" seru mereka.
Naruto dan Saika makan dalam momen kenyamanan.
"Suamiku, aa.."
Membuka mulutnya, dia membiarkan istrinya ini menyuapinya, dan mengunyah secara perlahan.
Saika penasaran.
"Bagaimana rasa ikannya? Aku mengubah sedikit dari bumbu yang kita gunakan dua hari lalu."
Naruto tersenyum gugup.
"Lebih enak, tapi kalau bisa kurangi takaran garamnya."
"Hmm, aku mengerti."
Mereka selesai makan dan mencuci piring.
Selesai, keduanya berjalan keluar dari rumah ini, lalu mengunci pintu sebelum melangkah di trotoar.
Seorang nenek tidak sengaja melihat mereka. Dia tampak bersama seorang anak kecil mengenakan
"Ah, Naruto-kun dan Saika-chan rupanya, selamat pagi."
""Selamat pagi juga, Kasumi-san.""
Bagi orang-orang normal, keduanya tidak lebih dari sekedar pasangan muda dengan sikap baik, walau kenyataannya lebih jauh daripada itu.
Nenek itu tersenyum.
"Cuaca pagi ini cerah sekali ya." Nenek itu menambahkan. "Kalau gitu kami pamit undur diri. Jaga diri kalian baik-baik."
"Ah, sebelum pergi…"
Dia berlutut di hadapan anak itu dan membuka telapak tangannya. Anak kecil itu tersenyum lebar ketika melihat objek tersebut.
Saika berseri.
"…mau permen?"
"Mau!"
Sebelum pergi, anak kecil itu sempat melambaikan tangan, yang tentunya dibalas oleh mereka dengan perlakuan serupa.
"Ayo."
"Um."
Naruto dan Saika meneruskan perjalanan. Tujuan mereka adalah salah satu sekolah pelatihan penyihir di Jepang aka [Void Garden].
"…"
"…"
"Senyuman… dan kebahagiaan orang-orang itu, yang membuatmu menyayangi dunia ini, benar?" tanya Naruto.
"Semacam itu," jawab Saika.
Naruto tersenyum.
"Aku pernah selamatkan banyak dunia sebelumnya, dan karena aku sudah lama tinggal dunia ini, aku juga akan ikut bantu menjaganya."
Saika ikut tersenyum.
"Aku tahu, dan aku senang dengan itu."
Naruto terkekeh sementara Saika tertawa kecil.
Tak berselang lama.
Mereka tiba di [Void Garden]. Itu adalah satu tempat pelatihan penyihir di Jepang. Kebetulan Naruto dan Saika mempunyai peran khusus di sekolah ini.
Bagi orang-orang biasa, sekolah ini hanya sekolah normal, dan itu berkat penghalang tak kasat mata yang membuat mereka berpikir demikian.
Keduanya melewati gerbang sekolah ini dan banyak orang memperhatikan mereka. Beberapa orang lalu menyapa.
"Selamat pagi, Naruto-sama, Saika-sama."
""Pagi.""
"Sage-sama, mohon tunjukkan keagunganmu lagi pada kami hari ini juga."
Naruto (sweatdrop).
"Y-Yeah, tentu saja."
Saika menahan tawanya.
Kemudian, keduanya berjalan di lorong, beberapa kali naik tangga, dan tiba di depan sebuah pintu khusus.
Saika mengamati suaminya itu dengan senyuman.
"Siap memulai hari, Wakil Kepala sekolah?"
Naruto menyengir lebar.
"Setelah kau, Kepala Sekolah."
Saika tertawa kecil.
"Dimengerti."
Mereka berdua memasuki ruangan ini.
END
A/N: Helloooo reader-san sekalian. Gimana one-shot kali ini? Membosankan? Menyenangkan? Letakkan komentar kalian di tempat seharusnya :D
Oh yeah, oneshot kali ini sedikit spesial karena yang nulis King Propose juga penulis favorit author, mantap wkwk :D
Dan seperti biasa, fic one-shot ini juga cross up di akun watty, tentunya yang versi watty ada sedikit tambahan tentunya :D
Terakhir…
Sampai jumpa di fanfic one-shot berikutnya :D
{Racemoon: Sign-out}
