Keadilan Hitam
Summary
Melindungi dibalik bayangan, menyerang dibalik bayangan, itulah mereka.
.
.
.
Disclaimer
Naruto dan KageJitsu dimiliki oleh pemiliknya masing-masing. Author hanya meminjam mereka demi kepentingan fanfic ini.
.
.
Genre
Utama: Romance
Selingan: Supernatural
.
.
Pairing
[Uzumaki Naruto x Seven Shades]
.
.
Pada bangunan ini, tepatnya dalam ruangan tertentu, terdapat banyak penjara dengan berbagai demi-human dan manusia dikurung di sini, dan cahaya hampir tiada karena begitu minimnya penerangan yang tersedia.
Tidak hanya itu, tempat ini juga merupakan tempat pedagang budak beroperasi, sehingga wajar apabila kondisi sekitarnya tampak suram.
Kemudian, pintu ruangan ini terbuka, dan beberapa orang masuk. Salah satu di antara mereka adalah seorang pria gemuk berpenampilan bangsawan.
Dia menyeringai lebar.
"Hoho, kau gak bohong kalau kalian punya budak-budak menarik di sini."
Pria di sampingnya tersenyum ramah.
"Tuan adalah salah satu pelanggan terbaik kami. Sudah pasti kami akan menunjukkan produk terbaik saja pada anda."
"Bagus, bagus, aku suka pemikiranmu."
Pria gemuk itu memperhatikan tujuh perempuan spesifik. Dia menunjuk mereka semua.
"Aku ingin tujuh perempuan itu. Sekarang juga."
Mereka melebarkan matanya.
Pedagang budak itu mengangguk.
"Pilihan bagus. Kami akan segera-"
"Yah, yah, lebih cepat sedikit, aku orangnya sibuk."
Dia terdiam lalu pergi dari ruangan ini.
Pria gemuk itu mendengus sebelum mengamati mereka dengan senyum menjijikkan.
"Jangan khawatir, setelah transaksi selesai, kalian akan kubuat 'bahagia' di kamarku, ihihi."
Ketakutan nampak di wajah mereka. Namun, tujuh perempuan ini sadar, kalau nasib mereka memang sudah buruk semenjak berada di tempat ini. Meski begitu, dalam pikiran mereka, mereka mengharapkan satu hal.
'Kumohon… siapa saja… tolong kami.'
Pintu ruangan ini terbuka. Seseorang masuk ke dalam.
Pria gemuk itu menoleh ke samping.
"Cih, lama sekali, kau mau uang atau-"
Dia tersentak, karena di hadapannya saat ini adalah sosok berpenampilan kelelawar, dan dapat dikatakan masuk kategori menakutkan.
"J-Jangan, kumohom ampuni aku-"
Mereka melihat kepala bangsawan itu berputar ke arah berlawanan. Mayat ini lalu dibawa beberapa orang dengan pakaian ninja.
Salah satu ninja berbicara pada sosok kelelawar itu.
"Tuan, area ini telah bersih."
"Bagus. Bebaskan tahanan lain dan bawa mereka ke tempat kelahiran mereka."
"Baik."
Kemudian, dia beralih pada tujuh perempuan itu, lalu mengatakan hal yang sangat ingin mereka dengar selama ini.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi… kalian aman sekarang."
Mereka menangis bahagia.
Pada momen ini, kesetiaan murni terlahir… dan itu dipersembahkan untuk kegelapan.
Siang hari tiba.
Pada kediaman megah ini, seorang pemuda berambut kuning tampak berjalan santai di lorong, dia mengenakan setelan mahal lengkap dengan gelang dan cincin emas. Pemuda ini tidak sendirian, karena di sisinya terdapat seorang maid yang selalu setia menemaninya.
Dia berhenti sejenak dan menengok keluar jendela.
"Cuaca hari ini cerah sekali. Tidakkah kau pikir begitu, Beta?"
"Itu benar sekali."
"Dan seperti biasa, kecantikan murnimu selalu membuatku terpesona setiap saat."
Beta hanya tersenyum.
"Kepuasanmu adalah kebahagiaan tersendiri bagiku, Naruto-sama."
Naruto terkekeh.
"Aku senang mendengarnya."
Mereka meneruskan perjalanan.
Sementara Naruto mengamati pemandangan di luar sana, Beta memperhatikan tuannya ini dengan ekspresi tenang, tapi dalam pikirannya...
'KYAA NARUTO-SAMA! PUJI AKU! PUJI AKU LAGI!'
...terbalik dari yang terlihat.
Lalu, keduanya memasuki ruang makan mewah, di mana arsitekturnya dibentuk oleh pengrajin terbaik di kerajaan. Belum cukup, furnitur yang terlihat di sini tak kalah menariknya, seperti lukisan dan vas bunga yang mengisi setiap sudut ruangan.
Namun, saat ini, Naruto kebingungan ketika menyadari ada pria asing mengisi salah satu kursi di meja makan. Dia berpakaian sedikit lusuh.
"Siapa kau?"
Pria itu tertawa gugup.
"S-Saya Ford, pemilik salah satu restoran kecil di ibukota Kerajaan Nevisa."
Naruto melirik ke arah maidnya itu.
"Beliau ada di sini sebab Naruto-sama menawarkan perjanjian kerja sama kepadanya," jelas Beta dengan nada patuh.
Naruto berkedip, lalu beralih ke arah pria itu dengan senyuman.
"Oh, benar, kemarin malam, bukan?"
Dia mengangguk. Ekspresinya tampak lega.
Naruto melebar senyumannya.
"Sebelum kita bicara, bagaimana kalau kita makan dulu?"
"Eh? A-Ah, itu gak perlu..."
Duduk di kursi lain, Naruto membunyikan lonceng, dan para pelayan datang membawa beberapa troli dengan nampan di atas itu. Mereka mulai menatap setiap makanan di meja. Namun, untuk beberapa alasan, ada satu nampan yang dibiarkan tertutup. Selesai, para pelayan mengambil langkah mundur, dan berbaris.
Naruto memperhatikan pelayan tertentu. Dia adalah kepala pelayan dengan penampilan seorang gadis berambut pirang panjang.
"Alpha, hidangan apa yang kita punya hari ini?" tanya Naruto.
Alpha mengangguk.
"Untuk appetizer, kami punya salad dengan potongan buah."
"Menarik. Bagaimana dengan hidangan utama?"
"Untuk main course, kami menghidangkan steak dengan tingkat kematangan medium-rare."
"Hmm, penutup?"
"Untuk dessert, kami menghidangkan softcake coklat dilengkapi dengan krim vanilla."
Naruto mengangguk.
"Kecuali Alpha dan Beta, sisanya kembali ke pekerjaan kalian masing-masing."
Para pelayan yang dibicarakan membungkuk lalu mulai pergi satu demi satu. Naruto mengalihkan pandangan kepada tamunya itu.
"Jangan sungkan, silakan dimakan."
"A-Ah, baiklah."
Pria itu dengan gugup mengiris daging menggunakan pisau dan melahap itu. Naruto dengan tenang ikut makan juga.
Alpha dan Beta terdiam sambil menunggu perintah berikutnya dari tuan mereka.
Keduanya selesai makan. Naruto tersenyum.
"Sekarang, kembali ke bisnis... Alpha?"
Alpha mendorong troli terakhir mendekati pria itu. Dia mengangkat penutup.
Pria itu tercengang dengan apa yang dilihatnya; yaitu tumpukan berlian dan koin emas.
"Ini standar kecil yang bisa kutawarkan. Apa cukup?" tanya Naruto.
"T-Tapi, tuan, bisnisku belum tentu bisa sukses ke depannya, dan juga ini terlalu..."
Naruto terkekeh.
"Oh, itu bukan masalah. Pembagiannya adalah 70% untukmu dan sisanya diserahkan saja kepada yayasan amal. Bukan keputusan yang buruk, bukan?"
Pria itu kebingungan.
"Kalau begitu, bukankah tuan tidak mendapatkan keuntungan apapun dari kesepakatan ini?"
Naruto mengangkat bahu.
"Aku sudah kaya, jadi lebih kaya lagi malah terasa merepotkan bagiku."
Dia sweatdrop.
"A-Aku mengerti." Dia menambahkan. "K-Kalau begitu, dengan sepenuh hati aku akan menerima kesepakatan ini."
Naruto menyengir.
"Keputusan yang bijak."
Setelah transaksi selesai, pria itu mohon pamit sebelum undur diri dari kediaman ini, dan Beta sempat mengantarnya sampai pintu depan. Sementara itu, Naruto melangkah di lorong, dia tidak sendirian karena kali ini di sisinya ada Alpha.
"Bagaimana situasinya?" tanya Naruto.
Nada bicaranya terdengar berbeda. Terasa tenang dan fokus.
Alpha dengan patuh membuka mulutnya.
"Setelah menelusuri beberapa sarang mereka, Zeta mendapatkan informasi kalau para vampir akan menyerang malam ini, tepatnya pada saat acara berlangsung."
"Pesta para bangsawan?"
"Tepat sekali."
Naruto mengangguk.
"Mereka sudah lama bersembunyi, tidak menampakkan diri, dan hasilnya kerajaan menganggap mereka cuma mitos, atau kasus terburuk, mengabaikan eksistensi mereka." Naruto menambahkan. "Tapi kita berbeda, malam ini, League of Shadow, Seven Shades dan Batman, akan menghentikan mereka, untuk sekali... dan selamanya."
Alpha tersenyum.
"Kami gak akan mengecewakanmu."
Naruto ikut tersenyum.
"Belum pernah, dan gak akan pernah."
Keduanya masuk ke dalam ruangan ini. Di sini, banyak karyawan yang sibuk berkeliaran, antara lain seperti menghitung anggaran, memeriksa persediaan barang, dan masih banyak lagi. Seorang gadis menawan menghampiri Naruto dan Alpha.
"Wah, Naruto-sama, Alpha-sama, maaf kalau tempat ini agak sediki-kyaa!"
Sebelum menyelesaikan kalimatnya, dia terlebih dulu jatuh, tapi Naruto dengan mudah menangkapnya. Dia terlihat malu, tapi di saat bersamaan, senang karena diselamatkan tuannya itu.
"Seperti biasa, kecerobohanmu perlu diperhatikan lagi, Gamma," tegur Alpha.
"Ehehe, mohon maafkan aku," sahut Gamma.
Naruto tersenyum tipis.
"Jika ada keputusan yang gak pernah kusesali, maka salah satunya adalah menyerahkan perusahaan ini kepadamu."
Gamma berseri.
"Kepuasanmu adalah kebahagiaan tersendiri bagiku." Gamma masih bicara. "Jadi, ada keperluan apa kalian kemari?"
"Pakaian, transportasi, dan undangan ke kastil," jawab Alpha.
Gamma ekspresinya serius.
"Malam ini, benar begitu?"
Alpha penasaran.
"Zeta memberitahumu?"
"Tidak, aku mengetahuinya dari Epsilon. Dua hari lalu dia sempat jadi tamu kehormatan di kediaman Tepes, dan 'gak sengaja' menemukan catatan terkait penyerangan yang akan dilakukan mereka."
Naruto ekspresinya serius.
"Ada kemungkinan kita akan menghadapi mereka dalam jumlah banyak. Jadi kita harus siaga."
Gamma membungkuk lalu menegakkan badan.
"Kami gak akan mengecewakanmu."
"Aku tahu itu."
Gamma menghampiri beberapa pegawainya. Dia tampak berbicara dengan mereka terkait permintaan tuannya itu.
"Alpha."
"Baik."
Paham, Alpha mendekati lemari tertentu, lalu menarik turun salah satu buku. Rak ini terbuka dan memperlihatkan sebuah lingkaran khusus.
"Untuk saat ini, kembali ke posisimu."
Alpha mengangguk.
"Semoga perjalananmu menyenangkan."
Naruto tersenyum.
Kemudian, dia masuk ke dalam lingkaran tersebut, dan meluncur turun.
Forbidden Forest.
Seperti namanya, hutan ini dirumorkan berbahaya, karena merupakan pusatnya hewan-hewan buas dan mengerikan. Setidaknya itu yang dipikirkan masyarakat luas, walau kenyataannya, hutan ini damai dan yang ada hanya binatang jinak.
Dibalik bebatuan besar, terdapat lingkaran khusus yang tersembunyi oleh semak-semak, dan seketika seseorang meluncur keluar dengan aman.
"Ugh, aku yang merancang itu, aku sendiri yang tersiksa karenanya."
Lelaki itu melakukan peregangan ringan. Merasa cukup, dia mulai berjalan ke arah air terjun, melompat dan melihat rahasia di dalamnya.
Ketimbang gua sederhana, apa yang dilihat Naruto adalah gua dengan peningkatan lebih tinggi berkat teknologi. Penerangan di sini berdasarkan kristal yang tertanam di lapisan batu, dan sedikit cahaya lampu, tapi mereka dipasang pada sudut yang terjangkau oleh aliran tenaga listrik.
Tidak hanya itu, fitur lain berupa jembatan, elevator, kendaraan spesifik, bahkan sejumlah barang high-tech juga tersedia di sini.
Tak berselang lama, dia memasuki salah satu lift, menunggu itu naik sebelum keluar dari sana. Naruto melangkah dengan tenang di atas jembatan ini.
Sambil berjalan, dia bisa melihat beberapa perempuan dengan kecantikan berbeda di bagian tengah jembatan, salah satunya memperhatikan informasi pada layar komputer raksasa.
"Eta, apa yang kau temukan?"
Eta beralih ke samping dan menatap tuannya itu. Eta berbicara.
"Kondisi cuaca, lingkungan, suhu dan waktu kejadian, semua itu telah kuprediksi khusus untuk mengatasi penyerangan malam ini."
"Jadi?"
"80%."
Naruto terangkat sebelah alisnya.
"Dan sisanya itu..."
"...korban jiwa yang akan mati sebelum kita datang, dan mereka yang gak mampu diselamatkan para ksatria."
Naruto terdiam.
"League of Shadow akan dikerahkan juga, jadi seharusnya kita bisa mengurangi korban berjatuhan."
Eta mengelus dagunya.
"Menurut perhitunganku, naik 5%."
Naruto mengangguk.
Suara lain terdengar. Itu terdengar seperti dua orang sedang bertengkar.
Mereka beralih ke samping.
"Delta! Berapa kali harus kubilang jangan otak-atik senjata di meja ini!"
"Tapi Delta bosan, nanodesu!"
Naruto sweatdrop.
Karena di depan lelaki itu, Zeta saat ini tampak sedang memegang sebuah sarung tangan hitam, dan berusaha menahan Delta yang mencoba mengambilnya.
"Delta, bisa tolong hentikan itu?" pinta Naruto.
Mungkin karena pertengkaran ini, keduanya baru menyadari kalau tuan mereka datang berkunjung, dan Delta yang bereaksi pertama.
"Boss!"
Delta melompat dan memeluk Naruto dengan antusias.
Naruto terkekeh.
"Ini bukan perlakuan buruk, tapi alangkah baiknya kita bicara secara wajah ke wajah."
Paham, dia melepaskan pelukannya, tapi ekspresi gadis itu masih antusias.
"Boss! Boss tahu gak, pas Delta dan Zeta nyusup ke markas penggemar darah itu kan, kami dapat pengakuan yang mengerikan tahu."
Naruto menyipitkan matanya.
"Zeta?"
Zeta tampak serius.
"Enggak cuma menyebarkan teror, mereka juga berencana mengubah banyak orang jadi seperti mereka."
Ekspresi lelaki itu mengeras. Dia beralih pada Eta.
Seakan paham, Eta meraih objek khusus di meja, dan menyerahkan itu pada Naruto. Naruto mengamati suntikan ini terdapat cairan hijau di dalamnya.
"Aku sudah menyiapkan lebih banyak penawar seperti ini. Jadi kita gak perlu cemas apabila mereka bertindak di luar batas," jelas Eta.
Naruto tersenyum simpul.
"Kerja bagus kalian bertiga." Naruto masih bicara. "Omong-omong, aku lihat beberapa peralatan baru di sini, ada yang keberatan menjelaskannya padaku?"
Zeta mengenakan sarung tangan itu.
"Dari segi penampilan, sarung tangan ini gak jauh berbeda dari yang biasa kita pakai." Zeta menambahkan. "Namun, jika kita melakukan ini..."
Dia mengepalkan lengannya lalu garis pada sela jarinya menyala biru.
"...maka setiap serangan fisik, bahkan normal, akan menghasilkan efek yang sangat menyakitkan bagi vampir. Terima kasih kepada materi khusus yang mampu menyimpan tenaga elektrik."
Naruto mengangguk.
"Vampir pada dasarnya alergi pada sesuatu yang mengingatkan mereka dengan kehidupan. Dan energi ini salah satunya."
Naruto mengamati sebuah bola kecil. Itu seukuran dengan bola tenis dan terdapat tombol merah di atasnya.
"Dan boleh aku tahu apa ini?"
"Oh, giliran Delta!"
Delta mengambil bola kecil itu. Eta mengenakan kacamata dan menyerahkan benda serupa pada Naruto dan Zeta.
"Sekilas ini keliatan bola biasa, tapi kalau tombol ini ditekan-ugya!"
Setelah menekan tombol, benda itu memancarkan cahaya, dan Delta terkena efek kilatnya.
"Bagi manusia normal, itu cuma akan mengakibatkan buram biasa. Tapi bagi makhluk khusus, itu akan sangat mengganggu penglihatan, dan juga pendengaran mereka.
"Dan master, untuk berjaga-jaga, sebagian Batarang milikmu kupasang chip dengan fitur serupa."
Naruto mengelus kepala Eta sambil tersenyum.
"Aku berterima kasih."
Eta memerah sedikit, tapi masih bisa mengangguk.
Ketiganya mendengar suara, beralih ke sumber, dan melihat Delta mendengkur di sisi jembatan.
Zeta menghela nafas.
"Master, Eta, aku pamit undur diri... untuk mengurus Delta."
Naruto tertawa kecil.
"Maaf karena selalu merepotkanmu, Zeta."
Zeta salah tingkah.
"J-Jika untuk master, sama sekali enggak."
Kemudian, dia menyeret Delta menuju lift, tidak lama pintu lift terbuka dan mereka naik ke permukaan. Naruto menyengir canggung ketika melihat itu.
"Mereka... sangat dekat sekali."
Eta menyeka air matanya. Dia tampak terharu saat ini.
"Benar, oleh karena itu, aku sering meminta bantuan mereka terkait beberapa proyekku," ujar Eta.
"Karena keterampilan mereka?" tanya Naruto.
"Bukan, karena seru saja ngeliat Zeta dan Delta bertengkar."
Naruto sweatdrop.
"Wah, begitu rupanya."
Naruto mengamati jam pada komputer.
"Aku akan ke lift. Teruskan kerja baikmu, Eta."
Eta mengangguk.
"V, v."
Naruto tersenyum tipis.
Suasana hening menyelimuti kamar tidur ini.
Kemudian, lapisan dinding terbuka, dan Naruto berjalan keluar dari sana. Naruto menarik turun salah satu buku sebelum dinding itu menutup lagi.
Menengok keluar jendela, dia memperhatikan sesuatu, lalu memutuskan untuk ke taman.
Naruto melihat seorang gadis tengah memainkan biola. Perempuan ini begitu terampil saat memainkannya.
"Seperti biasa, kau gak tertandingi jika menyangkut musik, Epsilon."
Epsilon berhenti bermain musik. Dia tersenyum kepada tuannya itu.
"Suatu kehormatan bisa dapat pujian tulusmu." Epsilon masih bicara. "Omong-omong, aku menerima undangan dan namaku terdaftar sebagai VIP. Karenanya aku berhak membawa setidaknya 1 pasangan."
"Hmm, pasangan dalam arti apa, Epsilon?"
Epsilon merasa malu.
"N-Naruto-sama, kumohon jangan goda aku."
Naruto terkekeh.
"Aku cuma bercanda." Naruto masih bicara. "Mengingat pekerjaanmu sebagai musisi, Alpha sudah memprediksi kau akan dapat perlakuan khusus dari kerajaan, dan aku senang ini sesuai dari yang kuharapkan."
Epsilon mengangguk.
"Oleh karena itu, hamba akan menyiapkan pakaian-"
"Ah, itu gak perlu, serahkan saja pada Gamma."
Gadis itu mengerutkan alis.
"Oh, soal transportasi-"
"Itu juga sudah Gamma atur."
"..."
Epsilon cemberut.
Naruto tertawa kecil.
"Aku tahu tujuanmu, dan sejujurnya, akan lebih baik kalau kau pergi ke kamarku saja setiap malam."
Semburat merah muda nampak di pipinya. Dia tampak gugup.
"K-Karena urusanku sudah selesai, hamba pamit undur diri."
"Ya."
Epsilon membungkuk sejenak lalu pergi ke arah lain. Naruto seorang diri di taman saat ini.
"..."
Naruto menghela nafas.
"Karena masih ada waktu luang, ada baiknya aku pergi berlatih," gumam Naruto.
Pemuda itu masuk ke dalam rumah.
.
.
.
Dalam kamar tidurnya, Naruto mengelap keringat menggunakan handuk kecil, dan dirinya baru selesai berlatih di arena latihan.
Tidak sengaja, dia memperhatikan foto tertentu, foto ini menunjukkan satu keluarga bahagia walau salah satu anggotanya diadopsi. Meski begitu, Keluarga Wayne memperlakukan anak ini dengan baik, dan penuh kasih sayang.
Namun, semua itu sirna, dalam satu malam.
"Ayah!"
"J-Jangan… jangan sentuh adikku!"
"Kak Bruce!"
Seakan belum cukup membunuh keduanya, mereka merobek baju Martha… dan melakukan hal buruk pada ibu angkatnya itu, tepat di hadapan dia yang masih kecil.
Walau polisi datang, mereka hanya melihat, seorang anak berambut kuning menangis di atas kolam darah mayat keluarganya.
"…"
Naruto mengepalkan tangannya.
Namun, dia menarik nafas, lalu membuangnya perlahan.
"Tenangkan diri, dan kalau itu belum cukup, fokuskan amarahmu… pada mereka yang layak menerimanya."
Perkataan Ra's al-Ghul terlintas di benak lelaki itu.
Naruto tersenyum tipis.
'Bahkan meski aku jauh dari duniaku, kalimatnya masih saja kuingat.'
Naruto mengamati foto ini sekali lagi.
"Ayah, Ibu, Kak Bruce… dunia kita telah aman dari para penjahat, karena populasi pahlawan, mereka yang berani ngambil langkah seharusnya, lebih banyak dari orang-orang semacam itu.
"Dan alasanku pergi ke dunia ini… karena aku berniat menyelamatkannya, sama seperti dunia kita dulu."
Ketukan pintu terdengar.
"Masuk."
Pintu ini terbuka. Gamma masuk bersama beberapa pelayan.
"Naruto-sama, mengenai pakaian pesta anda…"
Wajah gadis itu memerah, karena saat ini, dia bertelanjang dada usai latihan.
Naruto tersenyum.
"Jangan khawatir. Sebentar lagi aku akan ke sana."
"…y-ya, hamba akan menunggu di ruang ganti."
Gamma segera keluar dan menutup pintu.
Naruto tertawa kecil.
"Ada-ada saja."
Malam hari tiba.
Banyak orang berdatangan dan memenuhi aula kastil kerajaan. Hanya ada orang penting saja di sini.
"Apa aku terlihat aneh?"
"Tidak, kau terlihat cocok dengan pakaian ini, Naruto-sama."
Di antara tamu pesta, Naruto bersama Epsilon berjalan bersama, dan saling bergandengan tangan.
Naruto tersenyum tipis.
"Oh, aku lega kalau begitu."
Epsilon tertawa kecil.
Lalu, keduanya diberhentikan oleh beberapa orang, salah satunya pria dengan kulit sedikit pucat.
"Wah, Naruto-dono, Epsilon-dono, senang kita bisa berjumpa di sini."
Epsilon tersenyum.
"Suatu kehormatan juga bertemu denganmu, Lord Tepes."
Vlad Tepes tersenyum lebar.
"Harus kuakui, ini merupakan pesta yang menyenangkan, akan tetapi…"
Dia melirik ke arah lain. Naruto dan Epsilon mengikuti arah pandangannya.
Di sana, mereka melihat seorang bangsawan memarahi pelayan demi-human tertentu, dan kebanyakan orang mengabaikan hal ini.
"…mungkin untuk beberapa orang, acara ini merupakan… suatu penderitaan tersendiri, tidakkah kau pikir begitu?"
Naruto hanya tersenyum.
"Sayangnya aku cuma tertarik pada harta, wanita seksi, dan wanita seksi, seperti di sampingku ini."
Epsilon tersipu malu, walau kenyataannya, buah dadanya hasil operasi Eta.
Vlad terkekeh.
"Ah, maafkan aku dan filosofi konyolku kalau gitu." Vlad menambahkan. "Omong-omong, aku permisi undur diri, ada hal… yang harus kulakukan saat ini."
Keduanya mengangguk. Naruto dan Epsilon memperhatikan pria pucat itu pergi ke suatu arah.
Kemudian, mereka berdua melangkah lagi, tapi ekspresi keduanya tampak serius.
"Epsilon."
"Dimengerti, akan segera saya siapkan mantra pemanggilannya."
Naruto mengangguk. Dia melihat Epsilon pergi ke suatu tempat.
Dalam diam, lelaki itu memperbaiki letak dasinya, dan memperhatikan kondisi sekitar dengan ekspresi tenang.
Kemudian, seorang pelayan datang menawarkan minuman pada Naruto, yang langsung diterima olehnya. Pelayan itu berbisik tanpa sepengetahuan orang banyak.
"Epsilon-sama telah menyiapkan lingkaran pemanggilan, dan mantranya akan aktif apabila invasi telah dilakukan."
Naruto tersenyum tipis.
"Bagus, bersikaplah seperti biasa."
"Baik."
Pelayan itu pergi menghampiri tamu lain.
Tidak berselang lama.
Keluarga kerajaan datang dan duduk pada kursi mereka. Seketika suasana menjadi hening.
Sang raja berdeham.
"Pertama-tama mari kita mulai dengan pengumuman sederhana, kalau anakku, pangeran kalian, resmi bertunangan dengan putri dari kerajaan tetangga."
Para tamu bertepuk tangan secara meriah.
Sang raja tersenyum, lalu mengangkat gelas yang berisikan minuman.
"Dan pengumuman pentingnya, mari kita bersulang atas hari terbentuknya kerajaan kita ini, dan menghormati leluhur kita!"
Seluruh tamu mengangkat gelas mereka.
"Bersulang untuk kerajaan!"
Mereka semua minum. Sang raja beserta ratu dan anaknya hanya bisa tersenyum saat melihat ini.
Tawa mendadak terdengar.
Semua orang beralih ke sumber suara, dan mereka melihat Vlad yang tertawa.
Sang raja kebingungan.
"Sahabatku, ada gerangan apa ini?"
Tanpa sepengetahuan orang banyak, Naruto memutar badan, lalu melangkah jauh dari kerumunan. Ekspresi wajah lelaki itu tampak serius.
Vlad tersenyum.
"Maafkan aku, yang mulia, tapi kurasa ada sedikit kesalahpahaman di sini."
"Apa maksudmu?"
Vlad melangkah santai ke arah anggota keluarga kerajaan. Namun, seketika dia dikelilingi para ksatria, lengkap dengan pedang terhunus.
Vlad tidak berkedip.
"Maksudku adalah… semenjak awal kerajaan ini adalah kerajaan busuk." Vlad masih bicara. "Menghormati leluhur? Bagaimana bisa aku melakukan itu..."
Kemudian, iris mata Vlad berubah menjadi merah darah, dan taring tumbuh di sela mulutnya. Semua orang di sini terkejut dan takut ketika melihat itu.
"…ketika semenjak awal, leluhur kalian lah yang membunuh semua keluargaku!"
Vlad membanting tinjunya ke bawah, menghasilkan gelombang kejut yang menerbangkan para ksatria dan tamu-tamu lain. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang menabrak kaca dan terlempar keluar.
"V-Vampir?!"
"Lari!"
"Selamatkan nyawa kita!"
Banyak tamu langsung bergegas keluar, sehingga di ruangan aula, hanya ada anggota keluarga kerajaan dan Vlad saja.
Vlad beralih ke arah mereka, sementara sang raja langsung menghunus pedang, dan berdiri membelakangi anak dan istrinya yang ketakutan. Walau terlihat pemberani, dia tak jauh berbeda, yaitu sama takutnya saat ini.
Sang raja vampir menyeringai tipis.
"Aku akan sangat menikmati ini."
Dengan langkah santai, dia menghampiri penguasa kerajaan ini, dan tanpa ragu mendekatkan diri pada bilah pedang tersebut.
"Rraaah!"
Sang raja menusukkan pedangnya sampai menembus perut Vlad. Namun, Vlad hanya tersenyum dan nampak tidak kesakitan, lalu tertawa kecil.
"Geli sedikit."
Vlad langsung mencengkeram leher pemimpin kerajaan itu. Sang raja memberontak dan berusaha melepaskan diri, tapi tekanan yang kuat membuatnya kewalahan.
Anak dan istrinya panik.
"Ayah!"
"Suamiku!"
Vlad melirik ke arah mereka.
"Mungkin akan lebih baik aku ubah keluargamu dulu. Benar begitu, Yang Mulia?"
Sang raja tercengang.
"T-Tidak!"
Kemudian, seseorang dengan jubah turun dari langit-langit, menendang wajah Vlad sampai membuatnya bergerak mundur dan melepaskan sang raja. Orang berjubah ini berdiri di antara keluarga kerajaan dan Vlad.
Sang raja terkejut.
"K-Kau… Batman?"
Batman.
Semua orang di kerajaan tahu siapa dia. Sosok yang tanpa ampun menghukum kriminal, tapi di satu sisi, selalu menolong orang-orang tak bersalah di setiap kesempatan.
Banyak orang membencinya, tapi ada juga orang yang menyukainya.
Namun, satu hal pasti, opini sang raja tentang dia naik karena hal ini.
"K-Kebetulan, Batman, keluargaku dan orang-orang di luar sana-"
"Jangan khawatir, League of Shadow dan Seven Shades akan mengurusnya," kata Batman, pandangannya tak pernah lepas dari makhluk ini.
Kemudian, sebagian ninja datang dari pintu berbeda dan membawa kabur anggota kerajaan, sementara salah satu di antaranya adalah seorang perempuan menawan yang memberikan tanda pada Batman.
Dia mengirim anggukan. Epsilon paham lalu pergi bersama yang lain.
Kini hanya tersisa Dark Knight dan Lord of Death di sini.
"…"
"…"
Vlad menyeringai.
.
.
.
Kekacauan.
Itulah yang terjadi pada halaman kerajaan saat ini. Banyak tamu berlarian dari kejaran vampir yang datang dari udara. Beberapa tertangkap, langsung mati, atau diubah melalui gigitan.
"Tolong!"
"Siapa saja!"
"Aku gak ingin mati!"
Salah satu orang tidak sengaja menabrak ksatria, ekspresi wanita itu langsung berubah cerah.
"T-Tuan ksatria, kumohon…"
Ksatria itu memutar wajah, dan memperlihatkan taring dan iris mata merah.
"…t-tidak. Jangan!"
Kepala wanita itu menggelinding di tanah.
Namun, di saat keadaan semakin kacau, sebagian orang yang masih hidup melihat 'sesuatu' melesat cepat di udara dan menembak para vampir yang terbang dengan peluru listrik khusus. Alhasil, monster-monster itu terkena efek kejut sebelum jatuh dan tidak mampu bergerak lagi.
Kemudian, 'sesuatu' yang diketahui adalah Batwing, tampak menembakkan kapsul ke atas kastil, dan itu berisikan kostum kelelawar khusus. Lalu, bagian sisi Batwing tampak terbuka dan sejumlah orang turun, atribut mereka serba hitam dan khas ninja. Hanya ada satu yang berbeda, dan suaranya terdengar feminim.
"Menyebar!"
"Siap, Alpha-sama!"
Sementara mereka sibuk menyerang, atau mengembalikan korban yang telah tergigit menjadi manusia, Alpha meninju tanah lalu barrier khusus tercipta. Orang-orang yang menyadari hal ini langsung berlari melewati barrier. Bahkan ketika ada vampir berusaha mendekati barrier, itu membuatnya terlempar dan hangus.
Tidak sampai sini, Batmobile dan Batcycle tiba, dan tidak sengaja menabrak kumpulan vampir.
Beta melepas helm lalu turun, sementara Zeta dan Delta, keduanya melompat keluar saat sisi Batmobile terbuka. Alpha memberikan perintah.
"Fokus selamatkan warga yang terinfeksi!"
Mereka bertiga mengangguk.
"Baik!"
"Dimengerti!"
"Delta paham, nanodesu!"
Kemudian, ketiganya pergi menyerang sisa vampir yang tersisa, dan di saat bersamaan menyelamatkan orang dengan memberikan penawar.
"Bagus, sisanya…"
Dari kejauhan, Alpha melihat anggota League of Shadow lain melompat keluar dari jendela kerajaan, itu berarti mantra Epsilon telah bekerja dengan baik. Bahkan dia bisa melihat sang raja dan keluarganya berhasil di selamatkan.
Tak lama, Epsilon mendatangi Alpha, dan membiarkan ninja lain membawa orang-orang yang terselamatkan memasuki barrier.
"Apa sudah semua?"
"Ya, Alpha-sama."
Alpha puas sebelum teringat sesuatu.
"Berarti yang ada di dalam…"
Epsilon mengangguk.
"Benar, Master dan Dracula sedang bertarung saat ini."
.
.
.
"Ternyata rumor itu benar. Ada kelelawar lain di negeri ini."
Batman terdiam sejenak.
"Vlad Tepes… bukan, Dracula, apa aku salah?"
Dracula tertawa kecil.
"Dracula lebih baik, teman satu duniaku."
"Kurasa kau sedikit salah paham."
Mereka berjalan mengitari satu sama lain.
"Oh, sama sekali enggak. Aku cukup optimis dengan masa depan, kau tahu," kata Dracula.
Batman tidak mengatakan apapun. Tangan kanannya berada tepat di sabuknya.
Dracula terkekeh.
"Dinginnya, tapi cepat atau lambat, kau akan bergabung dengan kami..."
Mata raja vampir ini menyala merah.
"…dan itu terjadi sekarang!"
Batman melempar beberapa batarang ke arah Dracula, tapi makhluk pengisap darah itu berubah menjadi asap, kemudian muncul di hadapan Batman dengan cakar terayun. Batman mengelak dan melakukan counter dengan gesit. Pertukaran serangan dekat terjadi di antara mereka.
"Kau seharusnya tahu kalau fisikku lebih unggul darimu, tapi kau malah menantangku secara dekat?! Menggelikan!"
Dracula menendang perut Batman sehingga menyebabkan dia terlempar ke udara. Namun, Batman menembakkan grapple gun pada langit-langit, membuatnya mampu berayun dan melancarkan tendangan ke arah Dracula. Dracula menangkap kaki Batman sebelum melempar dia ke sembarang arah hingga menabrak dinding.
Mendengus, penguasa malam itu mendekati Batman, yang berusaha bangkit.
"Kenapa kau tetap bersikeras mempertahankan kemanusiaanmu, ketika itu cuma menghambat dirimu jadi kelelawar sesungguhnya? Jawab aku, Batman. Jawab aku!"
Batman menekan tombol di antara sela jarinya.
"Ini."
Dracula kebingungan saat beberapa batarang tadi menancap di bahunya.
"Apa yang-ARGGGGHH!"
Ledakan cahaya terjadi, karena terkena efeknya, otomatis Dracula mengalami rasa sakit luar biasa pada pendengaran dan penglihatannya.
Batman ekspresinya tenang.
'Mengingat egonya, aku sudah menduga dia akan membiarkan kami terlihat unggul saat pertarungan jarak dekat, dan dengan begitu memberiku peluang untuk meletakkan perangkat penarik sinyal batarang pada tubuhnya.'
"M-Mataku! Telingaku! Sakiiit!"
Di tengah jeritannya, Dracula menyadari Batman langsung mendekat, dan menerima tinju keras di perutnya. Sensasi kejut menyebar ke seluruh permukaan badan Dracula dan itu menyebabkan tubuhnya kaku sesaat.
Walau demikian dia masih bisa bicara.
"K-Kau, semua yang terjadi sebelumnya, itu cuma tipuan untuk mengelabuhi-"
Batman menendang wajah Dracula yang membuatnya bergerak mundur.
Dracula berusaha menggunakan kekuatannya, tapi saat menyadari kalau itu dipengaruhi oleh mentalnya, dia mulai panik.
"T-Tidak, konsep kematian gak berlaku padaku, jadi kenapa-"
Batman memukul Dracula.
"I am Vengeance!"
Batman menendang Dracula.
"I am the Night!"
Dracula hampir jatuh, tapi berusaha berdiri tegak, dan melihat Batman melompat ke arahnya.
"I am..."
Batman meninju wajah Dracula.
"…Batman!"
Efek kejut yang terjadi membuat sang raja vampir kehilangan keseimbangan dan menghantam takhta sampai rusak.
Setelah mendarat, Batman mendekati Dracula, dan melihat kondisi tubuhnya kering dan mulai tercium bau. Batman sempat menengok sekitar dan menyadari cahaya matahari mulai terlihat.
Dracula berusaha menatap Batman, tapi ketimbang pandangan benci, hanya tawa lemah datang dari mulutnya.
"Dikalahkan oleh Batman… heh, bukan cara lenyap yang terburuk."
Kemudian, seluruh tubuhnya terbakar, dan hanya menyisakan debu yang terbawa angin.
"…"
Batman mencopot helm-nya, memperlihatkan Naruto yang menatap tenang lokasi mayat Dracula tadi.
"Aku harap… kau kembali bersama keluargamu dengan tenang di sana."
END
A/N: Helloooo reader-san sekalian, gimana oneshot kali ini? Menyenangkan? Membosankan? Letakkan komentar kalian di tempat seharusnya :D
Sebenarnya fic ini author cross up juga di watty, yang membedakan ya versi ini gak ada adegan pelengkap seperti yg versi watty :)
Untuk versi Batuto (wkwk :v) ini jelas gak seperti Batman klasik dengan no killing rule, karena ya, author pengennya gini sih, hehe :)
Terakhir...
Sampai jumpa di fanfic one-shot berikutnya :D
{Racemoon: Sign-out}
