Bibir itu mengerucut, sang empu memandang pria di hadapannya. Kesal kala keinginannya tak dapat terpenuhi.

Bergerak maju, ia mendorong sang lawan tiba-tiba. Tak sampai jatuh, hanya membuat sang lawan memundurkan badan dan harus bertumpu pada kedua tangan. Dengan cekatan pakaian yang dikenakan ia angkat, mempertontonkan kedua puting merah muda ke dunia. Puting yang tenggelam dan belum mengeras.

Itu tak akan lama, batin Nagi dalam hati.

Mendekatkan wajah, tak menggubris omelan sahabatnya itu. Nagi memfokuskan diri pada misi kali ini.

Dikecupnya puting sebelah kanan, mempertemukan ibu jari dengan puting sebelah kiri. Mengecup, menggoda, menggerayangi hingga kedua puting itu mengeras. Telinganya disapa oleh erangan sebagai latar belakang musik.

'Tak berubah, masih tetap merdu seperti sebelumnya.'

Kedua netranya bergulir ke atas, menatap ekspresi yang terpahat pada paras rupawan. Rona merah menjadi pewarna utama disana, dengan bibir ranum yang perlahan membengkak karena digigiti oleh pemiliknya sendiri. Iris ungu yang tak pernah gagal menarik fokus dunianya disembunyikan dalam kelopak mata yang tertutup rapat.

"Reo, buka.." ujarnya singkat

Dan seakan terhipnotis, pria yang selalu ada di sampingnya itu membuka kedua kelopak matanya. Selalu paham dengan apa yang seorang Nagi Seishirou inginkan tanpa perlu pemalas itu berucap banyak kata.

Memandang sayu, Reo mengerang saat Nagi kembali memfokuskan diri kepada putingnya. Mengulum dan menjilatinya bergantian, meninggalkan bercak kemerahan di sekitarnya.

Kedua putingnya kini mengeras, aerola membengkak dengan air liur membasahi area tersebut. Namun walau begitu, sang pemalas tak henti menghisap.

"Sei, tak akan keluahhh.." Reo mendongakkan kepalanya saat Nagi menghisap kuat, "Sei..Sei..tak akan keluar..mmh..aku laki-laki.."

Menggeleng, Nagi menukikkan kedu alisnya keukeuh, "Sei mau susu."

Kenapa dengan pria ini hari ini? Tiba-tiba menghampiri Reo dan mendorongnya ke tembok, tak berhenti disitu pria yang sempat menyakiti hatinya ini membuka pakaian yang Reo kenakan dan mulai mempermainkan putingnya.

Reo bahkan tak tahu mengapa Nagi menghampirinya dengan mood yang sedang jelek.

Dan dia tak mungkin menolak pria berambut putih tersebut, apalagi menghentikannya. Sedikitnya Reo rindu dengan sang bayi raksasa ini. Semenjak keduanya sempat berpisah, Nagi tak menghabiskan seluruh waktunya dengan sang konglomerat. Membaginya dengan pria pendek aneh bernama Isagi Yoichi.

Reo tak suka. Reo cemburu. Reo ingin Naginya.

Tapi apa daya, ia sadar diri bahwa status yang disandang hanyalah sebatas sahabat. Reo bahkan tak yakin Nagi masih mengganggapnya sahabat setelah pertengkaran mereka.

"Ahh!" Lamunannya terpotong, nafasnya tercekat

Melirik ke bawah, didapati tangan berbalut sarung tanga hitam mengusap kejantanannya dari luar. Bergerak dengan nakal hingga berhasil masuk ke dalam celana yang ia tengah kenakan. Tak berhenti, tangan jahil itu menerobos masuk ke dalam celana dalamnya, memainkan langsung ujung kepala penisnya yang ia sadari sudah basah kuyup oleh precum.

"Reo, susu."

Dan tangan itu mengepal, menggenggam bergerak naik turun dengan cepat. Ritme yang berantakan berhasil membuat Reo tak dapat berpikir. Bahkan hanya nama lawannya yang dapat keluar beriringan dengan desahan.

Penisnya dipermainkan, tapi bukan berarti kedua putingnya terlupakan. Kini cumbuan dijatuhkan kepada puting sebelah kiri, puting kanannya dicubit membuatnya tak karuan. Terus dan terus diberikan afeksi, dijamah dengan tak tahu diri.

"Kkh!"

Tak sanggup lagi menahan, Mikage Reo berakhir dengan mencapai klimaksnya di tengah lorong. Membasahi sarung tangan hitam milik sahabatnya dengan sperma kental yang sudah lama tak ia keluarkan.

Nafas tersengal-sengal, kelopak matanya basah oleh setitik air mata yang keluar.

"Susu Reo."

Dan dengan tak senonohnya, Nagi Seishirou berucap, menjilat cairan kental pada telapak tangan hinga bersih.