Your Back
Diluc x Jean from Genshin Impact
NSFW
kindly remind you must at least 21 yo to read this fanfic
fanfic ini ditulis oleh orang yang jarang banget nulis, nggak dilakukan beta test, dan just for fun writing
—
Malam itu cuaca kurang bersahabat, hujan disertai petir yang menggelegar beriringan. Dari gorden jendela yang terbuka, di kejauhan, Diluc melihat seseorang yang amat dikenalinya berkuda mendekati Dawn Winery.
Hanya ada satu aspek yang Diluc tentang mengenai perempuan itu. Ia selalu memaksakan diri dan bekerja terlalu keras, hingga lupa dengan batasan diri.
Selang beberapa menit Diluc turun ke ruang utama dan mendapati perempuan itu sedang dibantu oleh salah satu pelayan untuk melepas luaran pakaiannya yang kuyup.
"Kalian istirahat lebih awal saja."
Pelayan yang baru saja tiba meletakan handuk yang baru diambilnya di meja lalu undur diri bersama pelayan lainnya.
"Sepertinya aku bertamu terlalu malam," perempuan itu berkata dengan kikuk sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Diluc menarik tangannya yang dingin lalu menuntun ke lantai atas menuju kamar pribadinya, "Lebih baik kamu mandi dulu."
"Aku akan menyiapkan pakaian ganti." Pemilik Dawn Winery itu mendorong bahu si perempuan pelan hingga masuk ke kamar mandinya. Ia lalu membuka lemarinya, mencari pakaian yang sesuai untuk juniornya. Di lemari bagian bawah, ia menemukan pakaian tidur berbahan satin warna mint pucat yang sudah tidak pernah dipakai selama sekitar satu tahun. Itu adalah kepunyaan Jean, iya, Jean yang sedang mandi di kamar mandi pribadinya.
—
Seingat Jean, hanya saat remaja ia tidur di ruang tamu Dawn Winery. Sisanya, saat ia masih bocah dan setelah ulang tahunnya yang ke dua puluh satu, ia selalu tidur di kamar utama Master Diluc. Dan malam ini, setelah setahun tidak berkunjung ke Dawn Winery, Jean kembali berada di kamar sang master di malam hari.
Sejak DIluc meninggalkan Knight of Favonius, kunjungan Jean ke Dawn Winery tidak pernah benar-benar disengaja, selalu karena terdesak oleh pekerjaan. Seperti malam ini, meski jarak Windwail Highland ke kota tidak seberapa jauh, dengan kondisi cuaca malam ini yang cukup mengkhawatirkan, berkunjung ke tempat ini adalah keputusan yang sangat bijak.
Jean keluar dengan pakaian tidur mint pucat bertali tipis, tangannya sibuk mengeringkan rambut dengan handuk.
"Makanlah, aku membuat sup krim jamur." ucap Diluc yang sedang duduk di kursi sebrang ranjang, kemudian ia lanjut membaca buku.
"Terima kasih," Jean duduk di kursi sebelah Diluc, "bagaimana denganmu?"
"Aku sudah makan malam."
Perempuan itu ber-oh ria, lalu memakan sup krim jamur. Sensasi hangat segera menyergap tubuhnya. Jean yakin, ini bukan hanya karena rempah hangat yang bercampur dalam bumbu sup, tapi karena Diluc lah yang membuatnya.
Dalam keheningan itu, Jean tersenyum, lalu Diluc menatapnya dengan tanda tanya.
Jean melebarkan senyumnya, "Sudah lama sejak terakhir aku memakan sesuatu buatan Anda, Sir."
Lawan bicara Jean hanya menanggapinya dengan seruputan pada teh peppermint-nya yang hangat, dan lagi-lagi kembali fokus pada bukunya.
Mereka tidak terlalu suka berbicara ini-itu. Mereka menikmati keheningan yang tercipta. Mereka cukup tahu satu sama lain. Seperti Diluc yang tidak merasa perlu bertanya alasan kunjungan Jean saat ini, atau Jean yang tahu mengapa Diluc tidak menyajikan wine hangat berempah saat cuaca dingin begini. Karena hal paling penting adalah keberadaan mereka ada untuk satu sama lain di momen tersebut.
Saat itu Jean makan dengan sangat tenang. Menikmati sup krimnya, tehnya, dan suasana tentram tanpa dikejar-kejar oleh pekerjaan. Setengah jam pun berlalu, Jean menguap pelan. Ini sudah lewat sepuluh menit dari tengah malam, ditambah energinya yang terkuras dalam perjalanan, benar-benar membuatnya cepat mengantuk.
"Ayo tidur." ajak Diluc sambil menuntun Jean ke ranjangnya.
Lelaki itu mematikan lampu utama dan lampu samping ranjang, yang tersisa hanya sedikit penerangan dari jendela. Suasana tidur yang sama-sama mereka sukai. Suara hujan di luar menambah rasa nyaman luar biasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Jean berbaring di sisi ranjang kiri ranjang, sisi biasanya ia tidur di kamar utama Dawn Winery. Diluc beringsut ke samping Jean dan menyelimuti tubuh mereka.
Tidak berapa lama Jean berbalik ke arah Diluc, memeluk lelaki itu, lalu dibalas oleh pelukan yang lebih erat. Sebuah pelukan penuh rasa rindu. Diluc mengatur kembali posisi tidur mereka, sehingga Jean tidur di lengan kirinya. Sebelum terlelap, Diluc mengecup puncak kepala Jean.
—
Suara gelegar petir membangunkan Diluc, matanya mengerjap beberapa kali, lalu benar-benar terbuka. Perempuan yang sebelumnya ada dalam dekapnya bergeser menjauhi beberapa senti, ia sedang terlelap dengan tenang memunggunginya. Selimut mereka tersingkap sebatas pinggang. Lelaki bersurai merah itu memutar badannya dan menatap punggung si perempuan.
Punggung kuat yang tidak hanya menanggung tanggung jawab pribadi. Dia yang selalu tegar dengan apa pun masalahnya. Perempuan yang selalu jadi andalan banyak orang.
Malam itu pakaian yang dikenakan Jean adalah pakaian tidur one piece mint pucat tanpa lengan bertali spageti. Pakaian yang selalu ada di kamar Diluc di Dawn Winery, karena hubungan mereka tidak pernah sesederhana itu.
Punggung terbuka itu disentuh oleh tangan kanan Diluc, ia mengusapnya pelan hingga ke pinggang. Masih dalam tidurnya, Jean menggeliat pelan, Diluc bergeser mendekati.
"... Master Diluc." Jean bergumam serak.
Lelaki itu merespon dengan usapan pada punggung Jean dengan lebih halus dan pelan secara berulang. Kemudian lelaki itu menarik tali spageti di bahu kanan Jean sehingga area usapan punggung telanjangnya lebih luas.
Tubuh Jean tersentak pelan.
Hanya Diluc yang tahu bahwa punggung kuat Jean merupakan titik lemahnya juga. Diluc meneruskan aksinya, kini tangan kanannya melingkar di pinggang Jean, mengusap perut secara memutar, menariknya ke bagian atas, lalu mengusap tulang selangka Jean yang menonjol.
Sementara tangan kirinya menarik tali spageti di bahu kiri Jean hingga terlepas, dan menampilkan punggung telanjang yang menggoda. Diluc mengecup bahu kanan Jean berulang kali, tangan kirinya mengusap punggung Jean, dan tangan kanannya menggenggam tangan Jean.
Pemimpin perempuan yang cukup tegas dan sangat kuat itu selalu berubah jadi perempuan manis submisif di ranjang Master Dawn Winery. Diluc menyukai hal ini, dan Jean tidak mampu menyangkalnya.
Jean menutupi bagian dadanya ketika Diluc hendak menyentuhnya. Namun, keadaannya masih di antara, ia masih sangat mengantuk tapi cukup sadar dengan hal yang sedang dilakukan Diluc. Juga, tenaga Diluc jauh lebih besar. Jadi tindakan Jean ini sangat tidak berarti.
Eratan tangan Jean pada Diluc menguat setiap kali titik paling lemahnya diserang. Jean pun menggigit bibir dan mendesahkan nama Diluc untuk menahan sensasi sentuhan sang master wine.
"Jean," panggilnya.
"Sir…"
"Kamu tahu…"
"Yeah, aku juga merindukanmu." ucap Jean melengkapi kalimat Diluc.
Si pirang itu membalikkan badannya, lalu memeluk Diluc dengan erat. Si rambut merah membalasnya jauh lebih erat. Di malam yang hujan berpetir, mereka saling mencurahkan rasa rindu.
—
Fanfic ini terinspirasi dari sebuah canon event di RL, dengan penambahan bumbu di sana-sini agar lebih smutty. Juga ditulis sebagai sarana latihan biar tulisan gak kaku banget.
Di post juga di AO3 dengan pen name Luzielle. Kebetulan udah jarang banget nonton anime, dan lagi seneng main Genshin. Udah lama banget nggak nulis, sekalinya nulis malah NSFW. Jadi, pasti kalian nemuin beberapa kalimat kaku ato kurang enak. Please let me know, ini sangat diperlukan buat improvement saya.
Membutuhkan setidaknya 1-2 chapter lagi untuk menyelesaikan adegan anu fanfic ini. Perlu dilanjut gak, ya? Hehe.
