just a pass midnight anxiety turn to something i wanna write. i know it's a loooong time since the last publish. so let me pay it *sigh*
still, it's gonna be really quick for you to read. still, i hope you enjoy.
Naruto: Masashi Kishimoto's / Alternate Universe as always
.
.
.
Malam selalu menjadi musuh, entah mengapa.
Mungkin memang salahku, yang selalu terjaga di waktu yang keliru sejak belia.
Tak apa, tak apa, memang aku yang salah.
Aku akan selalu terjaga dan membiarkan kegelisahan itu menyengati lengan, jemari, punggung, jantung. Sebut semua saja anggota tubuh. Menyatukannya menjadi satu dua irama sesak. Sulit bernafas dan menggunakan otak dengan benar.
Pernah aku meminta sekali saja aku terbunuh karena ini. Tapi tak kunjung terkabul. Mungkin ada benarnya tak terkabul, karena esoknya aku masih ingin menghirup aroma subuh yang wangi sebelum lalu terpejam.
Kombinasi tak wajar yang makin memburuk setelah aku menemukan Sasuke Uchiha yang aku percaya sebagai masa depan, penenang, pengindah dan penyembuh.
Aku tak akan menyalahkan Sasuke jika selalu ia berakhir meninggalkanku dalam riuh kepalaku sendiri.
Yang sebenarnya tak perlu.
Aku akan selalu terjaga, dan dia akan selalu meninggalkanku.
"Sakura, hei.
Maaf, aku ketiduran.
Masih pakai seragam kerja."
Nyatanya, aku memang masih terjaga. Dan ia beringsut lantaran atribut yang ia pakai menyulitkannya tetap lelap, lalu bangun, membalas pesanku yang terkulai sejak 3 jam lalu, dan selanjutnya akan selalu sama.
"Oke, ayo ganti bajumu dulu, bersihkan badanmu. Selamat kembali tidur, ya."
Aku akan selalu memakai kata-kata pengertian yang kubisa.
Kemungkinannya adalah ia tak akan langsung membalas pesan lagi untuk segera mandi, gosok gigi, menaruh kaus kakinya dengan benar ke lubang sepatu, melempar kemeja, ikat pinggang dan celana bahannya ke lantai dengan asal. Aku masih setia di radar, menunggu.
"Maaf, sekali lagi aku meninggalkanmu tidur duluan."
Balasnya kemudian.
Aku tak lantas gegas membalas. Lalu ia akan menambahi lagi kata-kata seperti;
"Kamu belum tidur? Masih mau melakukan apa?"
Aku masih tak mau cepat membalas.
"Ayo cepat tidur.
Selamat malam,
Semoga mimpimu indah."
Kubaca baris akhir itu dengan helaan napas sinis.
Pada dasarnya, mutlak menjadi siksaan bagiku menemukan kenyataan bahwa aku selalu menunggu kabarnya. Tapi mutlak juga, untukku, untuk selalu memberi supresi pada fakta bahwa ia adalah matahari dan aku bulan. Mimpi buruk, jangan berkati aku dengan semoga mimpiku indah.
Dan akhirnya memang aku tak mau membalas pesannya.
Membuatnya berpikir bahwa aku tertidur kemudian adalah pilihan paling bijak yang menjadi titik damai untuk berdua.
Menjadi siang dan menjadi malam adalah kutukan. Aku akan selalu terjaga, dan ia akan tetap pada siklus tubuhnya yang tepat waktu.
Untuk itu, malam akan selalu menjadi musuh.
Mungkin memang salahku, yang selalu terjaga di waktu yang keliru sejak belia.
Tak apa, tak apa, memang aku yang salah.
.
.
.
//
