Jaring Permata

Summary

Lelaki itu digigit laba-laba dan menjadi pahlawan. Berikutnya? Dia punya kekasih yang sama hebatnya.

.

.

.

Disclaimer

Naruto dan Oshi no Ko dimiliki oleh pemiliknya masing-masing. Author hanya meminjam mereka demi kepentingan fanfic ini.

.

.

Genre

Utama: Romance

Selingan: -

.

.

Pairing

[Naruto Uzumaki x Ruby Hoshino]

.

.

Malam hari.

Sekelompok pria mencurigakan tampak berusaha membobol mesin ATM. Beberapa di antara mereka melirik satu sama lain dengan gugup.

"Hey, apa ini baik-baik saja? Maksudku, jika orang itu datang..."

"Y-Ya, kita berempat dan dia cuma sendirian, kita pasti bisa menang mengandalkan jumlah. B-Benarkan, Boss?"

Pria di tengah yang tampak paling besar dan sangar hanya tertawa.

"Jangan khawatir. Bukan kita saja yang melakukan kejahatan. Pasti dia sibuk dengan penjahat lain selain kita saat ini."

Anggota yang lain langsung tenang mendengar perkataan boss mereka.

Setelah berhasil mendapatkan banyak uang, mereka berusaha keluar dari sini, tapi alangkah terkejutnya ketika mereka menyadari gagang pintu keluar telah diselimuti jaring.

"Kalau aku jadi kalian, aku lebih memilih jadi penjaga toko elektronik. Sedikit membosankan, tapi hey, setidaknya ada tontonan gratis setiap harinya."

Mereka terkejut lalu menengok ke arah suara.

Di atas sana, seseorang dengan kostum motif laba-laba berwarna merah-biru terlihat bersantai, bersantai yang dimaksud adalah menyandarkan punggungnya pada langit-langit tanpa khawatir jatuh.

Mereka langsung waspada.

"Spider-man!"

Seperti namanya, pahlawan ini mempunyai kemampuan khusus laba-laba pada umumnya, tapi dengan tingkat yang lebih tinggi. Dia telah melakukan banyak aksi yang membuatnya dibenci penjahat, tapi disukai warga dan para polisi.

Spider-man melambaikan tangan.

"Hai semuanya."

Mereka mengarahkan senjata api kepadanya.

"Waduh."

Suara tembakan terjadi.

Dengan santai, Spider-man melompat ke sana-kemari sambil menghindari setiap peluru yang ada, kemudian menembakkan jaring ke pergelangan tangan dan kaki mereka. Aksinya itu membuat para penjahat ini tergeletak tak berdaya di lantai.

Spider-man mendarat dengan aman, menembakkan jaring ke suatu arah dan menarik sebuah tas, mengambil ponsel dan menghubungi polisi. Dia meletakkan ponsel ke dalam tas setelah selesai.

"Baik semuanya, polisi sedang dalam perjalanan kemari, kalian ada pertanyaan sebelum aku pergi mengurus cucian?"

"T-Tolong lepaskan jaring di tanganku ini," mohon salah satu penjahat.

"Uhuh, maaf teman, tapi sebanyak apapun aku ingin melakukannya..."

"B-Bukan, aku gak peduli kau menangkapku lagi nanti, tapi setidaknya kabulkan permintaanku ini. Ketiakku gatal, ini menyakitkan, auhuhuhuhu."

"..."

Spider-man mengacungkan ibu jarinya.

"Tunggu 3 jam dan masalahmu akan beres, bye!"

Kemudian, Spider-man melompat keluar jendela, menembakkan jaring dan berayun di tengah kota.

.

.

.

Dalam rumah ini, seorang gadis pirang dengan iris mata ruby terlihat membantu kakaknya di ruang makan, yakni menata meja untuk makan malam.

"Ah, Ruby, bisa kau panggil Aqua kemari?"

"Siap laksanakan, Ai-Nee."

Ruby lenyap disertai hembusan angin.

Tidak lama kemudian.

Ruby kembali ke dapur dengan membawa saudara laki-lakinya itu.

Saat mereka berdua memperhatikan dia, Aqua tampak membuka mulut dan berniat memakan pisang, tapi kemudian mulutnya tertutup rapat.

"Sekarang apalagi?" tanya Aqua.

Nada bicaranya terdengar kesal.

Ai berseri lalu menunjuk sebuah kaleng sarden di meja makan.

"Bisa kau panaskan itu? Sebentar?"

Menghela nafas, dia mengamati objek yang dimaksud, kemudian matanya memancarkan laser merah yang memanaskan kaleng ikan itu.

"Sudah. Ada lagi?"

"Itu saja, makasih banyak, Aqua."

Aqua menggerutu saat kembali ke kamarnya di lantai atas.

Ruby mengamati kepergian saudaranya itu.

"Dia suka sekali kesal akhir-akhir ini."

Ai berpikir sejenak.

"Mungkin itu karena kita sering memintanya ngelakuin hal aneh dengan kekuatannya."

"Oh, kau benar."

Setelah menata meja, keduanya menyajikan aneka makanan di meja, aroma harum menyelimuti ruangan ini.

Ruby dan Ai merasa puas dengan diri mereka sendiri.

Mengamati jam dinding, dia mengerutkan alis, kemudian beralih pada adik perempuannya itu.

"Kau sudah mengerjakan pekerjaan rumah yang dipinta Professor X?"

Ruby berkedip, sekali, dua kali.

"Err, masih ada dua hari sebelum masuk sekolah jadi..."

Ai matanya menyipit dengan tangan disilangkan.

"...nanti kukerjakan."

"Memang seharusnya itu."

Bunyi bel terdengar.

"Ah, biar aku saja!"

Ruby segera pergi ke pintu depan, meninggalkan Ai yang menggeleng saat melihat tingkah lakunya.

Saat membuka pintu, Naruto berdiri di hadapan gadis itu dengan pakaian kasual, lalu menyengir.

"Apa aku telat?"

Ruby berseri.

"Enggak juga, masuklah."

"Permisi."

Naruto masuk ke dalam dan mengikuti Ruby. Dia melihat Ai saat tiba di ruang makan.

Ai tersenyum tipis.

"Ah, Naruto, untung kau gak datang telat. Kami baru saja mau makan malam sekarang," kata Ai.

"Nasib baik kalau gitu," balas Naruto.

Tidak berselang lama.

Aqua datang ke ruang makan ini. Dia memperhatikan kehadiran Naruto.

"Oh, Naruto, apa kabar... kejahatan apalagi malam ini?" tanya Aqua.

"Kebanyakan merampok uang," jawab Naruto.

"Huh, keren."

"Dan lucu."

Ai menggeleng.

"Dah, kita membahas hal itu nanti saja, sekarang waktunya acara makan malam keluarga."

Naruto berkedip.

"Err, tapi secara teknis, aku orang luar."

"Kau sudah kami anggap sebagai keluarga. Terlebih lagi, cepat atau lambat Ruby juga akan ganti marganya menjadi Uzumaki, benarkan, Ruby?"

Ruby merona.

"A-Ai-Nee, itu gak lucu tau!"

Aqua menyeringai tipis ke arah saudara perempuannya itu.

"Tapi kau menginginkan itu, bukan?"

Ruby semakin merah wajahnya.

Ai dan Aqua tertawa kecil. Naruto hanya menyengir lebar sebagai responnya.

Setelah duduk, mereka berempat makan malam dengan tenang, tidak jarang diwarnai dengan tawa dan kehangatan. Selesai makan, Ruby dan Ai mencuci piring, sedangkan para pria berbincang satu sama lain.

"Kudengar kau mengambil tawaran Dr. Strange untuk mendalami seni mistis, apa itu benar?"

Aqua mengamati kedua saudaranya itu, kemudian beralih pada Naruto.

"Aku sudah cukup kuat, tapi entah ancaman apa yang akan kita hadapi nanti, memperluas kemungkinan bertahan hidup dengan mempelajari hal baru bukan sesuatu yang aneh kupikir."

Naruto menggaruk pipinya.

"Mengenai itu, Mr. Stark tertarik dengan rancangan kostum khusus yang kubuat, dan dengan teknologi peninggalan Celestial yang kita dapat usai perang sebelumnya... yah, kau pasti paham maksudku."

Aqua mengangguk.

"Dunia semakin gila, jadi kita harus bersiap dengan apapun."

"Dan jika ada hari di mana para penjahat punya cuti satu hari saja, maka semuanya akan jadi lebih sempurna."

Aqua mengerutkan alis.

"Kau tahu aku gak keberatan membantumu, bukan?"

Naruto berseri.

"Nah, aku bisa menangani mereka, jangan khawatir."

Mengangkat bahu, dia keluar dari ruang makan, kemudian menaiki tangga. Mungkin Aqua berniat masuk ke dalam tidurnya.

Naruto meringis.

Ruby cemas saat menyadari hal ini.

"Naruto, kau baik-baik saja?"

"Y-Ya, bukan masalah, ini cuma indra laba-labaku menangkap reaksi bahaya dari tengah kota."

Selesai menata peralatan lain, Ai melirik ke arah lelaki itu, kemudian mengelus dagunya.

"Huh, kurasa ini efek dari terkena serangan salah satu dari keenam batu tersebut, ketimbang memberikan kerusakan itu malah meningkatkan kemampuanmu yang lain."

Naruto tertawa canggung.

"Um, mungkin aku harus segera pergi, dan makasih atas makan malamnya."

Ai tersenyum simpul kemudian beralih ke arah Ruby.

"Ruby, bisa tolong antarkan Naruto ke depan?"

Ruby mengangguk.

Lalu, mereka berdua berjalan hingga sampai keluar Kediaman Hoshino. Naruto mengeluarkan simbol laba-laba mekanik dari tas, menekan objek tersebut ke dadanya, kemudian setelan kostum khas miliknya langsung menyelimuti seluruh permukaan tubuhnya.

Ruby teringat sesuatu.

"Um, Naruto."

"Ya, Ruby?"

"Aku tahu aku sering mengatakan ini padamu, tapi... terima kasih banyak, karena telah menolong kami waktu itu."

Naruto memahami yang dibicarakan kekasihnya itu.

Alasan mengapa ketiga saudara ini mempunyai kekuatan, itu karena mereka dulu pernah dijual orang tua mereka demi melunasi hutang, kemudian dijadikan bahan eksperimen oleh organisasi berbahaya.

Dari sekian banyak subjek, hanya mereka bertiga yang selamat dan berhasil bertahan, sementara korban lain tidak terlalu beruntung nasibnya.

Kekuatan yang didapat ketiganya berbeda-beda, seperti Ruby mampu berlari cepat, Ai dengan mengendalikan magnet, dan Aqua yang bisa terbang dan mempunyai penglihatan panas. Namun, ada satu kekuatan sama yang dimiliki mereka, yaitu kemampuan regenerasi yang mampu menangani kasus langka seperti larutan asam atau cairan radio-aktif.

Kembali ke topik sebelumnya, beruntung para Avengers berhasil menemukan tempat organisasi berbahaya ini, dan saat itu Naruto ikut bergabung walau statusnya yang tergolong anggota paling muda.

Melewati pertarungan yang ada, Naruto yang menyelamatkan ketiga saudara itu dan membawa mereka ke tempat aman, sehingga mereka bisa hidup nyaman sampai sekarang.

"Nah, dan aku juga akan sering mengatakan ini... sama-sama, sampai kau puas dengarnya juga boleh," canda Naruto.

Ruby merasa terhibur, lalu mendapat ide yang membuatnya sedikit gugup.

"N-Naruto, bisa kau perlihatkan wajahmu?"

Mengangguk, dia menekan sisi tertentu dari lambang laba-laba, kemudian wajahnya terlihat.

"Sudah, memangnya untuk..."

Ruby mencium bibir kekasihnya itu sebelum menarik wajahnya lagi.

Naruto berkedip.

"...oke, menaikkan mood sekali itu."

Ruby tersenyum manis.

"Hehe, semangat memberantas kejahatannya... Spider-man."

Naruto menyengir.

Menekan simbol laba-laba, Spider-man berlari ke suatu arah lalu melompat, menembakkan jaring lalu berayun di antara bangunan kota.

"WOOHOOO! AKU PUNYA KEKASIH YANG TERBAIK DI SELURUH DUNIA!"

Ruby tertawa geli saat mendengarnya

"Ada-ada saja."

END

A/N: Helloooo reader-san sekalian! Gimana one-shot kali ini? Membosankan? Menyenangkan? Letakkan komentar kalian di tempat yang seharusnya :D

Sebenarnya fic ini juga cross up di akun watty, dan kalau kalian ingin baca adegan lengkapnya, cek akun watty author aka Racemoon_0_ dengan judul yang sama di Just a Oneshot V :D

Terakhir…

Sampai jumpa di fanfic one-shot berikutnya :D

{Racemoon: Sign-out}