Disclaimer : All of these characters belongs to Masashi kishimoto i do not own any of them. but the story is mine.

Summary : mencintai seseorang secara berlebihan itu sangat merepotkan. ingin memiliki orang tersebut secara utuh, tanpa memikirkan perasaan orang itu sendiri. sangat egois.


Seorang gadis terbangun disebuah ranjang. Gelap, itulah hal pertama yang ia sadari. Matanya bergerak kesana kemari mencoba untuk mencari tau dimanakah ia berada sekarang. Ini adalah sebuah kamar, sangat jelas. Hanya saja, penerangan sangat minim disini. Kamar ini asing.. ia tak mengenal kamar ini. Ini dimana? Kamar ini milik siapa? Ada banyak pertanyaan dibenak gadis itu. Saat ia mencoba untuk duduk, ia menyadari bahwa kedua tangan dan kakinya terikat! Sontak gadis itu menjerit sekencangnya dan memberontak mencoba untuk melepaskan diri. Ia berteriak memohon untuk dilepaskan.

"Tolong! Siapapun! Lepaskan aku! Aku mohon, lepaskan aku. Aku tidak tau apa yang kalian mau. Aku mohon, aku ingin pulang..." ia terisak diakhir kalimatnya, suaranya memelan, ia menangis. Panik, bingung, takut. Semua perasaan itu tercampur aduk didalam kepalanya sekarang. Bayangan-bayangan akan dibunuh oleh seseorangpun tak luput dari pikirannya. Ia berpikir, siapa kemungkinan yang akan tega melakukan ini padanya. Tapi ia selalu memiliki hubungan baik dengan orang-orang sekitarnya, bagaimana ia bisa memiliki musuh. Ia menangis semakin keras sambil tetap berteriak berharap seseorang akan datang dan melepaskannya.

.

.

.

Terdengar suara pintu yang didorong, seseorang masuk kedalam kamar yang gadis itu terikat diranjangnya. Seseorang itu berbadan tinggi, sepertinya ia adalah seorang pria. Tidak terlalu jelas karena kamar bercahaya remang-remang. Gadis itu lantas berteriak kepada sosok itu untuk dilepaskan. Ia menangis sambil terus memohon dilepaskan sambil tubuhnya tetap memberontak. Sosok itu berjalan mendekat, gadis itu sangat takut tapi ia tetap berusaha untuk melepaskan diri meski itu terlihat mustahil. Ikatannya terlalu kuat, ia tak punya cukup tenaga dan ide untuk melepaskannya sendiri. Sakit, itulah yang ia rasakan di kedua tangan dan kakinya yang terikat.

"A-aku mohon, lepaskanlah aku. Aku berjanji tak akan m-menceritakannya pada siapapun, aku berjanji tidak akan lapor polisi.." suaranya bergetar, ia sangat takut saat ini.

Sosok itu hanya diam. Wajahnya tidak kelihatan, kamar ini terlalu gelap untuk melihatnya dengan jelas. Ia diam tak menjawab. Duduk ditepi ranjang, tangannya bergerak menuju wajah gadis itu, merapikan rambutnya yang berantakan dan basah oleh keringat dan air mata gadis itu. Ia menyibak rambut gadis itu kebelakang, memperlihatkan raut ketakutan yang sangat kentara diwajahnya yang tersorot sedikit dari cahaya lampu tidur disebelah ranjang. Tubuhnya gemetar, ia tak sanggup bersuara lagi. Napasnya memburu, matanya mencoba untuk melihat wajah pria yang ada didepannya saat ini. Tapi sulit, ia membelakangi cahaya. Pria itu bangkit, menuju saklar lampu dan sedetik kemudian, kamar itu terang. Gadis itu sontak menutup matanya, cahayanya terlalu silau, lalu ia membuka matanya secara perlahan untuk membiasakan matanya dengan cahaya lampu yang terang ini.

sekarang ia dapat melihat wajah pria itu dengan jelas. Wajahnya tidak menyeramkan, hanya terlihat kaku. Gadis itu akui, bahkan pria itu terlihat...tampan. tapi tetap saja, pria ini adalah penculik! Ia tak boleh lengah.

"S-siapa kau? Mengapa aku ada disini. Ini kamarmu, kan?" Dengan terbata ia mencoba untuk bertanya pada pria yang masih berdiri tak jauh dari ranjang itu.

"Apa kesalahan yang a-aku perbuat kepadamu? Aku bahkan ti-tidak mengenalmu." Gadis itu masih berusaha untuk berbicara, tapi pria itu tetap diam. Tak berselang lama, ia kembali mendekat kearah gadis itu yang segera membuat gadis itu waspada. Ia menarik kursi dari meja disebelah ranjang, ia pun duduk disana.

"Tenanglah, aku tak akan menyakitimu. Tapi tolong jangan berteriak lagi, itu sangat berisik." Ia bersuara pada akhirnya.

Gadis itu terkesiap, pria ini berbicara dengan lembut. Apakah dia tipe penculik yang tidak kasar? Ah apapun itu, perbuatannya tetaplah buruk.

"Mengapa kau lakukan ini terhadapku? Apa salahku? Tolong lepaskan aku, aku takut. Aku mau pulang" gadis itu kembali memohon, dengan suara yang pelan.

"Aku akan melepaskan ikatanmu, tapi tidak sekarang. Dan maaf, aku belum bisa memulangkanmu. Kau harus tetap disini." Pria itu berkata tegas, seolah tak mau ada bantahan.

Gadis itu terdiam, ia memikirkan cara bagaimana agar pria ini mau melepaskannya. Ia terlihat seperti pria baik, tapi mengapa ia melakukan ini padanya, menculiknya seperti ini.

"Aku akan bawakan air dan makanan untukmu, kau pasti sangat butuh air. Dari tadi kau berteriak." Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.

"Tunggu! Lepaskan ikatanku dulu.." gadis itu sekali lagi meminta pria itu untuk melepaskan ikatannya.

Pria itu hanya berhenti tapi tak berbalik, ia tetap berjalan keluar kamar namun tak menutup pintunya.

Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Ah, rupanya kamar ini ada dilantai atas. Setidaknya gadis itu memiliki gambaran posisi kamar yang sedang ia tempati saat ini.

.

.

.

Pria itu kembali dengan nampan berisi air dan roti.

"Aku akan menyuapimu, ayo buka mulutmu." Titah pria itu setelah ia sampai dan duduk dikursi tadi.

"Aku akan melakukannya sendiri, tolong lepaskan tanganku." Gadis itu berpikir bahwa jika pria itu melepaskan tangannya, setidaknya ia bisa melawan.

"Buka mulutmu." Pria itu tak peduli akan ucapan gadis itu, ia menyodorkan air minum didepan mulutnya. Gadis itupun mengalah, toh ia memang sangat haus dari tadi berteriak kencang. Ia meneguk air itu dengan rakus. Ia sangat haus. Tapi, segera muncul pikiran bahwa air itu diracuni. Ia pun segera menyemburkan air tersebut mengenai wajah pria itu. Pria itu kaget, meletakkan gelas dimeja, mengambil tissue dan mengeringkan wajahnya.

"Apa-apaan kau. Mengapa kau menyemburku!" Nada pria itu terdengar jengkel.

Gadis itu dengan terbata langsung menjawab, "kau mau membunuhku dengan memasukkan racun kedalam air itu kan! Aku tak akan minum air itu!" Gadis itu membuang muka, mengarahkan pandangannya kearah lain.

Pria itu menarik napas dalam, lalu berkata, "Hinata, aku tak mungkin meracunimu. Ayo minum."

'Apa???? Dia tau namaku???' Gadis itu, -Hinata tersentak dalam hati.

"B-bagaimana kau tau namaku???" Tanyanya dengan sangat penasaran dan takut.

"Tidak penting, yang pasti aku tak memasukkan apapun kedalam air ini. Aku tak akan menyakitimu. Percayalah." Nada bicaranya melembut, Hinata pun akhirnya pasrah dan minum air tersebut. Lalu menerima suapan roti dari pria itu.

.

.

.

"Aku Toneri. kau bisa panggil aku dengan namaku itu. Aku tak akan menyakitimu. Percayalah." Ucap pria berkulit putih pucat itu sembari membuka pintu dan hendak keluar dari kamar itu.

'Tak akan menyakitiku apanya, huh dia telah membuat tangan dan kakiku memar karena tali sialan ini. Dia menculikku. Apakah ini tidak sama dengan menyakitiku, huh' hati Hinata berbicara, tidak terima akan perkataan Toneri.

"Ayolah, buka ikatanku, setidaknya satu tangan." Hinata masih berusaha memohon agar ikatannya dilepaskan.

Pria itu hanya diam diambang pintu, tak berbalik sedikitpun.

"Bagaimana kalau, a-aku merasa gatal dibagian tubuhku yang lain, aku harus menggaruknya,kan..." Hinata berkata dengan pelan. Pria itu tersenyum mendengar penjelasan dari Hinata. Masuk akal juga, pikirnya.

Ia berbalik, dan membuka ikatan di tangan kanan Hinata.

Hinata mengucapkan terimakasih, meskipun sebenarnya tak perlu bersikap ramah pada seorang penculik, kan.

Toneri bangkit dan menuju keluar untuk kedua kalinya. Namun Hinata lagi-lagi menahannya dengan memanggilnya kembali. "B-bagaimana kalau aku ingin ke kamar kecil?" Cicitnya.

Toneri berbalik dan tersenyum singkat lalu berkata bahwa ia tak akan menutup pintu kamar itu, dan memberitahukan bahwa kamarnya ada tepat di samping kamar ini.

"Aku juga tak akan menutup pintu kamarku, jadi berteriaklah untuk memanggilku. Aku akan membantumu untuk kekamar kecil. aku pasti akan mendengar suaramu." Ia bergegas meninggalkan Hinata sendirian disana.

"Tunggu.." suara Hinata tertahan, pria itu tetap melanjutkan langkah kakinya menuju luar kamar. Sepertinya ia kebawah untuk mengembalikan nampan yang ia bawa tadi.

.

.

.

Hinata masih kebingungan akan semua yang terjadi. Ia mencoba untuk mengingat apa yang terlah terjadi. Yang ia ingat, harusnya ia masih berada di pesta ulang tahun sahabatnya, Ino. Tapi mengapa ia berakhir disini, di ruangan asing milik seorang pria aneh bernama Toneri yang secara misterius mengetahui namanya. Sebenarnya, siapa Toneri, apa motif pria itu menculiknya. Hinata pusing memikirkan itu semua, sekarang ia sangat mengantuk. Ia pun tenggelam akan pikiran-pikirannya. Hingga ia tanpa sadar tertidur diatas ranjang diruangan asing itu. Biarlah ia beristirahat, ia lelah dengan semua ini. Ia terlalu bingung akan kejadian ini. Biarlah ia akan menghadapi ini keesokan harinya dengan perasaan yang lebih baik, sehingga ia dapat berpikir dan bertindak lebih baik juga.

''Selamat tidur Hinata, semoga tidurmu nyenyak''. Ucap Toneri pelan diambang pintu sembari menekan tombol off pada saklar lampu dikamar yang ditempati oleh Hinata.

.

.

.

-Bersambung-

ummmmmmmmm hi minna~ maafkan kalau jelek ya, semoga kalian tertarik untuk baca kelanjutannya 3