Chapter 2 : RESAH
.
.
.
Malam itu adalah perayaan ulang tahun Ino, sahabat baik Hinata. Mereka berpesta dan bersenang-senang disebuah club malam yang sengaja disewa oleh Ino untuk merayakan hari bertambahnya usianya itu. Pesta berjalan seru dan menyenangkan.
Para tamu dan Ino sendiri terhanyut akan riuhnya pesta malam itu. Tak lupa minuman memabukkan telah mengambil sebagian kesadaran mereka. Menggoyangkan badan kesana dan kemari diiringi dentuman musik yang keras. Mereka berjoget dengan asyiknya.
"Ino, kau lihat Hinata? Ini sudah hampir sejam sejak terakhir kali dia pamit untuk ke toilet." Seorang pemuda berambut hitam jabrik berbicara dengan nada agak keras kepada si empunya pesta ini yang sedang asyik minum dan mengobrol dengan seorang pria bertindik di meja bar.
"Oh? Tidak. Aku tak melihatnya. Sudahlah, tak perlu khawatir begitu. Mungkin saja dia dijemput oleh pacarnya yang overprotective itu. Kau seperti tidak mengenalnya saja. Menjemput Hinata seenaknya tanpa sepengetahuan kita seperti biasanya." Balas Ino sambil mengibaskan tangan didepan wajahnya. Ino tersenyum saat melihat ekspresi tak suka dari pria didepannya ini. Sebenarnya ia tau bahwa pria ini menaruh hati pada sahabatnya itu.
"Kuharap begitu. Soalnya tiba-tiba saja dia menghilang. Ya, aku tak bisa mengeluh kalau Sasuke memang datang menjemputnya." Ia kini duduk disamping Ino. Pria yang sedari tadi menemani Ino mengobrol pun sudah tak nampak lagi dimana batang hidungnya. Ino tak ambil pusing, toh ia tak begitu mengenal pria itu, sejujurnya.
Sasuke, nama pria yang menjadi kekasih Hinata ini memang tipe pria yang protective. Ia tak sungkan untuk menunjukkan ekspresi tak suka didepan teman-teman Hinata saat mereka bersama. Ia sangat menyayangi Hinata dan rela melakukan apapun untuknya. Tapi tetap saja, ia tak suka bila Hinata terlalu menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Apalagi mereka sering party ke club malam, seperti saat ini. Ia tak mau Hinata menjadi gadis yang liar. Ditambah, ia sudah menangkap gelagat salah seorang teman pria Hinata yang terlihat berlebihan saat bersamanya. Ia tau pria itu menyukai kekasihnya.
"Bersenang-senanglah Obito! Lihat disana banyak gadis cantik yang sedang menatapmu!" Ino tersenyum geli saat mengatakan itu. Pandangannya mengarah pada sekumpulan gadis yang terlihat saling berbisik sambil terus memperhatikan Obito yang duduk disampingnya.
"Aku akan pulang, kepalaku sedikit pusing. Mungkin aku minum terlalu banyak." Obito tidak berbohong saat mengatakan kepalanya pusing. Tapi ia bohong soal minum. Ia hanya minum sedikit saja. Karena ia tak berencana untuk mabuk agar bisa mengantarkan Hinata pulang nantinya. Tapi Hinata tidak ada. Jadilah ia pamit pada Ino untuk pulang duluan.
Ino menatap kepergian Obito sambil terus menyesap beernya. Ia tau Obito pasti sangat mencemaskan Hinata. Sebenarnya tak perlu, karena sudah pasti Hinata pulang bersama pacarnya. Tidak mungkin Hinata pulang sendiri, kan.
.
.
.
.
Obito segera menuju parkiran untuk segera pulang. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan ia mencoba untuk menghubungi Hinata. Ia gelisah karena biasanya, Hinata akan memberi kabar saat pacarnya datang menjemput tiba-tiba. Sasuke, pacarnya itu sangat tidak suka padanya. Terlihat dari bagaimana cara ia menatap Obito. Saat Hinata berkumpul dengan teman-temannya, kadang Sasuke tiba-tiba muncul dan mengajak Hinata pergi dengan banyak alasan. Teman-teman Hinata yang sudah paham pun biasanya hanya maklum. Terkadang, Sasuke menjemput secara diam-diam. Entah saat Hinata terpisah dari temannya, atau saat teman-temannya terlalu asyik tanpa menyadari Hinata yang telah meninggalkan mereka. Tapi biasanya Hinata akan memberikan pesan singkat pada teman-temannya itu bahwa ia telah pergi bersama Sasuke.
Tapi malam ini berbeda. Tak ada kabar apapun dari Hinata. Berulang kali mencoba menghubungi gadis itu, tapi ponselnya tidak aktif. Ia membanting stir dan menambah kecepatan laju mobilnya. Saat memasuki perumahan tempat ia tinggal, ia mencoba kembali menghubungi Hinata. Tapi nihil, ponselnya tak kunjung aktif. Ia mencoba untuk berpikir positif. Mungkin Hinata sudah tidur, ini sudah sangat larut. Bahkan lewat tengah malam. Sesampainya didepan rumah, ia turun untuk membuka gerbangnya. Ya, Obito tinggal sendirian sejak 6 tahun lalu. Ia merasa lebih leluasa dan tenang tinggal sendiri. Soal kebersihan rumah, ia menyewa jasa ART yang akan datang 3 kali dalam seminggu.
Tak butuh waktu lama untuk masuk dan memarkirkan mobilnya. Ia segera mandi dan bersiap untuk istirahat. Saat didalam kamar, ia gelisah diatas ranjangnya. Tak bisa tidur sama sekali. Sudah berupaya untuk memejamkan mata, tapi tak kunjung tertidur. Ia pun bangkit dan mengusap wajahnya kasar. Bagaimanapun, ia masih merasa gundah perihal Hinata yang tak bisa dihubungi sama sekali.
Ia meraih ponsel dari atas nakas disebelah ranjang dan segera menulis pesan untuk Hinata, tapi sepertinya Hinata masih Offline. Ia berpikir Hinata pasti sudah tidur. Tapi dalam hati ia masih berharap setidaknya Hinata membaca pesannya.
Ia meletakkan kembali ponselnya dan berbaring. Pikirannya melayang. 5 tahun lalu, ia masih berkuliah semester 4. Ia bekerja part time disebuah toko buku tak jauh dari kampusnya. meski berasal dari keluarga tajir, Obito tak malu untuk melakukan part time di toko buku seperti ini, sebenarnya orang tua Obito melarang, tapi obito bilang ia ingin mencari pengalaman sebagai penjaga toko buku meski hanya sebagai part timer.
Hari-harinya biasa saja sampai ia bertemu dengan Hinata. Saat itu Hinata masih SMA. Ia ingat pertama kali ia melihat Hinata saat gadis itu membeli sebuah novel romantis disana. Hinata yang cantik dan terlihat malu-malu sangat manis dimatanya. Hyuuga Hinata, nama itu terlihat di seragam SMA yang dikenakannya, 'oh jadi gadis ini berasal dari keluarga Hyuuga' batin Obito. Sejak saat itu, Hinata sering berkunjung untuk sekedar melihat-lihat novel terbaru atau membelinya. Genrenya selalu sama, novel romantis. Entah sejak kapan ia berani untuk membuka obrolan dengan Hinata, sekedar berbasa basi untuk bertanya sekolah dimana, apakah ada genre novel lain yang Hinata sukai selain novel romantis. Hinata saat itu menjawab dengan tersipu. Lama-kelamaan mereka jadi dekat. Dari sekedar merekomendasikan novel terbaru, sampai mereka menjadi teman. Puncaknya, saat Hinata ternyata akan berkuliah di kampus yang sama dengan Obito. Ia sangat senang sekali mendengarnya. Mereka menjadi lebih akrab dan sering menghabiskan waktu bersama. Tapi Hinata hanya menganggap Obito sebagai sahabat dan kakak baginya. Sedangkan Obito menganggap Hinata lebih dari itu. Tapi Obito tidak kecewa, karena ia masih bisa berada disisi Hinata meskipun hanya sebagai teman baiknya. sampai suatu hari Hinata bercerita bahwa ada seorang pria yang berhasil mencuri hatinya. Pria itu bukan Obito, melainkan Sasuke yang saat ini menjadi kekasihnya. Sasuke adalah seorang fotografer profesional yang cukup terkenal. dan Sasuke adalah sepupu jauh Obito. hal itulah yang membuatnya jadi jauh lebih kesal.
Senyum dibibir Obito memudar ketika ia mengingat bagaimana antusiasnya Hinata bercerita tentang Sasuke pada saat itu.
"Sial, aku sangat mengkhawatirkan Hinata sekarang."
Obito duduk dan menyambar kembali ponselnya untuk menghubungi Hinata. Masih tidak aktif . Obito tak dapat berpikir dengan tenang. Hatinya resah. Ia harus segera tau apakah sekarang Hinata baik-baik saja. Haruskah ia menghubungi Sasuke...
.
.
.
.
Mobil Obito melaju kencang menuju kediaman Hinata. Ia telah menimang-nimang apakah ia harus bertanya langsung pada Sasuke. Tapi ia mengurungkan niatnya. Ia pikir, ia harus memastikan langsung kerumah Hinata. Jadilah sekarang ia terburu-buru untuk segera sampai disana.
Gelap. Rumah Hinata terlihat sangat gelap dan sepi. Tak ada tanda-tanda penghuninya disana. Obito masih berusaha untuk memastikan. Ia berkali-kali memencet bel rumah itu. Tapi nihil, tak ada tanda-tanda gadis Hyuuga itu akan keluar. Ia tau, ini sangat tidak sopan bertamu kerumah seorang gadis yang tinggal sendirian di pukul 3 dinihari seperti ini. Persetan! Obito hanya mengkhawatirkan Hinata. Tidak salah, kan? Perasaannya tidak enak. Ia harus segera memastikan bahwa Hinata ada dirumah. Itu saja.
Kembali ia mencoba menghubungi Hinata. Tak ada hasil.
"Shit! Kamu benar ada dirumah tidak sih, Hinata." Obito mengumpat dengan keras. Ia mencoba untuk tenang dan berpikir bahwa Hinata mungkin sedang bersama Sasuke. Sial, sebenarnya memikirkan mereka yang sedang bersama membuat hatinya sakit. Tapi, mereka adalah sepasang kekasih.
Obito mencoba untuk tenang. Ia kembali melajukan mobilnya untuk pulang.
Sesampainya dirumah, ia bergegas masuk kamar dan mencoba tidur secepatnya. Ia akan kembali memeriksa rumah Hinata keesokan hari sepulangnya ia bekerja. Ia harap Hinata baik-baik saja meskipun itu harus bersama Sasuke.
.
.
.
-BERSAMBUNG-
.
.
hi minna~ aku sepertinya akan sangat rajin untuk upload cerita ini karena ide-idenya sedang menari-nari dikepalaku hehe. silakan di review ya minna~ arigatou
