Chapter 3 : Pengakuan (part I)

.

.

.

.

Pagi itu, Hinata terbangun dalam keadaan masih terikat kecuali tangan kanannya. pegal dan sakit ia rasakan di sekitar area tubuhnya khususnya dibagian yang terikat. ia dapat melihat kulitnya yang membiru dan sedikit lecet disana. Hinata menangis, ia sangat takut. ia pikir semua ini hanya mimpi. tapi ini nyata! ia tak menyangka bahwa ia akan berakhir disini. ditempat asing dengan orang aneh yang mengurungnya. "kau sudah bangun?." Toneri menghampiri Hinata dengan membawa nampan berisi air putih, susu dan roti panggang. Hinata yang melihatnya langsung menunduk takut. sesekali ia meringis kesakitan. tubuhnya lemas. "astaga, maafkan aku Hinata. apa aku terlalu kuat mengikatmu. akan aku lepaskan dan obati lukamu. aku tak akan menyakitimu kecuali kau melawan." Toneri meletakkan nampan tersebut diatas nakas dan mulai membuka simpul tali ditangan dan kaki Hinata. miris, keadaan Hinata saat ini sangat menyedihkan. matanya sembab, rambutnya berantakan. tangan dan kaki memar dan sebagian terluka oleh ikatan tali yang kencang. Hinata hanya bisa meringis kesakitan saat Toneri dengan telaten membersihkan luka itu dan membalutnya dengan perban. ia menatap Hinata dengan pandangan teduh. "kau bisa bergerak? aku akan menyiapkan pakaian ganti untukmu setelah ini. kau terlihat berantakan." Toneri menyodorkan air putih untuk Hinata minum. Ia menyuapi Hinata dengan roti panggang yang ia bawa. setelah selesai, ia meminumkan susu untuk Hinata dan segera keluar dari sana. tak lupa ia menutup dan mengunci pintu kamar itu. "oh tuhan! apa yang akan terjadi padaku?" Hinata lagi-lagi tak kuasa menahan tangisnya. ia duduk dengan menekuk lutut dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Papa.. Mama... Sasuke-kun.. aku takut.." lirihnya disela-sela tangisnya. Sasuke yang sedang memainkan ponselnya bersin secara tiba-tiba. ia sedang dalam perjalanan menuju rumah Hinata karena gadis itu tak dapat dihubungi sejak semalam. terakhir kali mereka berbicara adalah sesaat setelah ia mengantarkan Hinata ke acara ulang tahun sahabatnya, Yamanaka ino. disisi lain, Toneri kembali kedalam kamar yang ditempati Hinata dengan beberapa helai baju kasual beserta dengan pakaian dalam untuk Hinata pakai. "aku pikir ukurannya akan pas untukmu. aku telah menyiapkan ini semua sebelum membawamu kemari." Toneri berkata dengan lembut sambil tersenyum kearah Hinata. "apa kau gila? kau sengaja menculikku ya!" Hinata berteriak kesal. "diamlah, dan ganti bajumu. aku akan keluar. kalau kau tak mau mengganti bajumu, biar aku yang melakukannya." Toneri menatap Hinata datar. Hinata yang mendengar itu refleks menutupkan kedua tangan ke dadanya dan berteriak "D-dasar pria pucat mesum! keluar kau!" Toneri tersenyum geli lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu dan membiarkan Hinata menyelesaikan urusannya. sesaat sebelum ia menutup pintu, ia mengatakan bahwa ia juga menyiapkan beberapa skincare dan kosmetik dilaci nakas untuk Hinata gunakan. "apa-apaan pria ini. dia bahkan menyiapkan semua keperluanku. apa ia berencana untuk menahanku selamanya disini? ini tak akan kubiarkan." Hinata berpikir keras bagaimana caranya ia dapat meloloskan diri dari sini.

Ia sangat gerah kalau boleh jujur. ia pun perlahan bangkit untuk turun dari tempat tidur dan mulai mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dibawakan Toneri. "bahkan ukuran pakaian dalam ini pas. aku sangat merinding. apakah dia seorang stalker..." Hinata begidik memikirkan itu setelahnya, ia membuka laci nakas dan melihat ada banyak skincare disana. ia mulai membersihkan wajah dengan susu pembersih dan yang lainnya. "lumayan segar, tapi aku perlu gosok gigi dan mandi." Hinata bermonolog sambil bercermin. "ouch" ia tak sengaja membenturkan kakinya yang luka ke kaki kursi. 'oh tuhan ini sangat sakit' batinnya menjerit.

ia kembali duduk diam diatas kasur. sibuk memikirkan cara agar bisa mengelabui pria aneh itu. seakan teringat akan hal penting, ia terlonjak dan mencari keberadaan ponselnya. ia mencari kesudut ruangan sampai kebawah ranjang tapi tak ada hasil. bahkan ia tak dapat menemukan dimana tas dan sepatunya.

"Toneri!"

"hey! orang aneh! kau menyembunyikan ponsel dan tasku ya?! cepat kembalikan!" ia berteriak dengan keras berharap Toneri akan datang membawakan benda berharganya itu. sepatu itu adalah hadiah ulang tahun dari sahabatnya, Ino. ia sangat menjaga sepatu itu dengan baik karena itu adalah pemberian dari orang yang disayanginya. sedangkan tas itu ia dapat dari mamanya. tidak boleh hilang ataupun rusak. ia sangat jarang bisa bertemu orangtuanya karena mereka tinggal diluar negeri. benda apapun yang mereka beri akan Hinata jaga dengan baik. ia tak mau kehilangan benda itu. "Toneri tolong berikan benda-bendaku!" Hinata kembali berteriak sambil memukul-mukul pintu namun Toneri tak kunjung datang. ia lelah berteriak dengan tak ada hasil. ia pun terduduk dikursi samping ranjang sambil melamun. ia sudah memeriksa jendela. tapi dikunci. ia menenggelamkan wajah dikedua telapak tangannya sampai ia mendengar suara langkah kaki mendekat kearah kamarnya.

Toneri, orang itu masuk dengan membawa sebuah keranjang kosong. "sudah selesai ganti bajunya? kenapa harus berteriak sih. aku kan sedang menyiapkan makan siang untuk kita. mana baju kotormu? masukkan kedalam keranjang ini. akan aku cuci nanti." Toneri menyodorkan keranjang itu pada Hinata. gadis itu hanya diam menerima keranjang itu dan mulai memasukkan baju kotornya kedalam. ia tak peduli akan apa yang dilakukan pria sakit ini. "aku mau ponsel, tas dan sepatuku." katanya seraya menyerahkan keranjang berisi pakaian kotornya pada Toneri.

Pria itu menyerngitkan dahinya. "mengapa kau meminta benda itu? tentu saja aku tak akan menyerahkannya terutama ponselmu" responnya santai. "k-kau jahat sekali. sebenarnya apa tujuanmu membawa dan menahanku disini?" suara Hinata sedikit bergetar ketika mengatakannya. ia kesal bercampur sedih mendengar penuturan pria itu. matanya mulai berkaca-kaca. "hey, jangan menangis. aku tak bermaksud jahat. aku hanya tak mau kau mengadu pada orang-orang." ia mendekati Hinata dan menghapus jejak air disudut mata gadis itu. "jangan sentuh aku." Hinata menepis kasar tangan Toneri yang ada diwajahnya. ia menahan perih ditangannya sendiri ketika pergelangan tangannya bersentuhan dengan tangan pria itu. Toneri mundur dan menatap Hinata dengan pandangan yang sulit diartikan. ia menarik napas dan duduk berlutut dihadapan Hinata yang menangis diatas kursi. "maafkan aku, aku tak bisa menahan lebih lama. aku ingin kau berada disisiku. aku sangat mencintaimu, Hinata.." Pria itu berkata dengan lembut. ia mencoba untuk menggapai tangan Hinata tapi ia menarik tangannya menjauh dari jangkauan pria itu. "kau gila ya? aku bahkan tak mengenal dirimu." Hinata melotot kearah pria itu. Ia tak menyangka akan apa yang didengarnya. "kau mungkin tak mengenalku, tapi aku sangat mengenalmu. kita belajar di kampus yang sama. bahkan kita sering berada dikelas yang sama pula. aku memang sengaja untuk tak kelihatan menonjol. aku ingin mengawasimu dengan diam dan tenang.." Hinata terdiam mendengarkan penjelasan dari Toneri. "tapi semua berubah ketika kulihat kau mulai dekat dan berpacaran dengan Sasuke. aku tak masalah dengan Obito karena aku tau kau tidak memiliki perasaan apapun padanya. aku cemburu, jujur saja. sudah 2 tahun kau menjalin hubungan dengannya. kau tak tau betapa licik dan jahatnya dia, kan Hinata?" pria itu mendongakkan kepalanya untuk menatap Hinata. "apa-apaan tuduhanmu itu! kau yang licik dan jahat! jangan katakan apapun tentang Sasuke-kun, orang gila!" Hinata geram. ia tak dapat menahan amarahnya lagi. pria ini benar-benar sakit jiwa, batinnya. Pengakuan yang diucapkan pria itu terdengar gila baginya. Ditambah, dia mengatakan hal-hal buruk tentang pacarnya. "cukup Hinata! jangan membelanya didepanku! Dia tak pantas! " pria itu membentaknya. Hinata terkejut , ia tak menyangka Toneri akan berteriak padanya. ia membuang muka dan matanya berkaca-kaca. oh sial, ia benci dirinya yang begitu lemah dan cengeng. terdengar isakan kecil dari bibirnya. Toneri terkesiap, ia juga tak menyangka akan membentak gadis itu. "Hinata, maaf.. maafkan aku. aku tak bermaksud untuk-" perkataannya terputus saat Hinata mengangkat tangan kanannya pertanda agar Toneri berhenti bicara. Hinata bangkit dan berjalan menuju ranjang. nyeri ditangan dan kakinya masih terasa tapi tak ia pedulikan. ia merebahkan tubuhnya memunggungi Toneri. ia kesal dengan sifat lemahnya ini. cengeng. bagaimana ia bisa kabur kalau dia saja selemah ini.

Toneri bangkit untuk berdiri. menatap punggung Hinata, ia berkata "aku akan memberikan ponsel dan barang-barangmu yang lain kalau kau bersikap baik dan menurut padaku."

'apa katanya? menurut? dia pikir dia siapa bisa mengaturku begitu' batin Hinata. tak mendengar respon dari gadis itu, Toneri pun melangkah keluar kamar. "tunggu!" panggil Hinata. Toneri berhenti dan berbalik "apa kau akan menepati janjimu?" tanya Hinata hati-hati. "tentu saja." Toneri tersenyum "aku akan bawakan makan siang untukmu sebentar lagi." lanjutnya. lalu meninggalkan Hinata yang duduk menatap pria itu. "selalu dikunci, memangnya aku tahanan." gerutu Hinata saat pria itu telah keluar dengan tak lupa mengunci pintu kamarnya. "baiklah, aku akan menurutinya demi mendapatkan barang-barangku kembali. tapi... dia tak memintaku yang aneh-aneh kan.." Hinata menepuk jidatnya. 'habislah aku..!' batin Hinata menjerit.

.

.

.

Obito yang sedang berada di kantor tak dapat fokus sama sekali karena ia masih mengkhawatirkan Hinata. tapi ia selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa Hinata aman bersama Sasuke.

'ting...' ponsel Obito berbunyi tanda pesan baru telah masuk.

ternyata itu dari Sasuke.. tapi, tunggu! mengapa ia menanyakan Hinata padanya. apa yang terjadi..

untungnya ia telah menyelesaikan pekerjaannya hari ini sehingga ia bisa pulang lebih awal. ia bergegas untuk pergi meninggalkan kantor menuju rumah Hinata. Sebelumnya ia meminta Sasuke untuk menunggunya dirumahnya. Sasuke telah lebih dulu berada disana untuk mengecek keadaan Hinata. Namun ia mendapati rumahnya kosong sehingga membuatnya bertanya pada Obito yang merupakan salah satu orang terdekat Hinata.

.

.

.

Nihil, tak ada hasil apapun. Sasuke menolak untuk lapor polisi. alasannya, ia tak mau membuat keluarga Hinata khawatir. ya.. masuk akal sih. Obito pun tak mau orangtua Hinata yang ada diluar negeri sampai mendengar berita ini. akhirnya mereka berdua kembali kerumah Obito untuk melanjutkan diskusi mengenai pencarian Hinata. Ino mengirimi Obito pesan yang memberitahunya bahwa Sasuke menanyakan tentang Hinata. ia meminta Ino untuk tenang dan berjanji akan segera menemukannya. ia sendiri pun tak yakin karena tak memiliki petunjuk apapun.

"hey sialan! kalau sampai Aku tau kau terlibat akan hilangnya Hinata, Aku tak akan segan-segan untuk mencelakai mu meskipun kau adalah keluargaku! ingat itu!" Sasuke menunjuk-nunjuk wajah Obito. "tenanglah bodoh! Aku juga bingung kenapa Hinata tiba-tiba menghilang. dan apa kau gila menuduhku yang macam-macam! mana mungkin aku menyembunyikan Hinata." balas Obito tak terima akan tuduhan tak berdasar Sasuke. mereka telah menghubungi teman-teman Hinata untuk menanyakan perihal keberadaan gadis itu. tapi mereka tak memberitahukan mereka bahwa Hinata menghilang sejak semalam.

Tak membuahkan hasil, Sasuke tampak frustasi, tak jauh beda dengan Obito yang bolak balik mencoba untuk menghubungi ponsel Hinata yang tak kunjung aktif. "Aku akan pulang. tak ada gunanya untuk tetap berdiam diri disini. mari saling memberi kabar terbaru kalau salah satu dari kita mendapat informasi yang berarti." Sasuke bangkit dari sofa dan pamit untuk pulang. "okay." sahut Obito singkat. "Hinata, kau dimana... aku khawatir. kau baik-baik saja, kan.." gumam Obito tak lama setelah kepergian Sasuke.

Hinata tak pernah menghilang tanpa kabar sama sekali seperti ini sebelumnya. Mereka, khususnya dirinya sendiri, benar-benar mengkhawatirkan keadaan Hinata sekarang.

Sasuke melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kediaman Obito. ia kembali mengecek keadaan rumah Hinata . masih tetap sama, kosong. ia pun mengirim beberapa pesan pada Hinata berharap gadis bersurai indigo itu akan membaca dan segera meresponnya.

'sayang.. kamu dimana, apa kamu baik-baik saja..' batin Sasuke lirih

disaat yang sama, Ino juga mengirim pesan padanya. Ino meminta maaf telah lalai menjaga Hinata. Sasuke menenangkan Ino yang seakan menyalahkan dirinya sendiri dan berjanji untuk segera menemukan Hinata. Ia sejenak berpikir... 'sialan, kenapa tak terpikirkan olehku untuk mengecek CCTV di club itu! akibat terlalu panik aku sampai tak dapat berpikir' Sasuke mengumpat dalam hati lalu ia segera meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.

Tak berselang lama, ia meninggalkan kediaman Hinata menuju rumahnya sendiri.

Ino yang masih pusing akibat pengaruh alkohol semalam pun berharap agar Hinata segera ditemukan atau setidaknya memberi kabar pada mereka. Hinata yang menghilang secara tiba-tiba ini sangat membuat mereka terpukul. Mereka bertiga sangat menyayangi Hinata. Mereka berharap semoga ada titik terang untuk mencari keberadaan Hinata. Sangat khawatir, itulah yang mereka rasakan saat ini.

.

.

-BERSAMBUNG-