Chapter 4 : Pengakuan (part II)
.
.
.
Toneri, pria bersurai putih indah itu sedang duduk termenung di dalam kamarnya. ia senang akhirnya Hinata berada didekatnya. Namun di sisi lain ia khawatir Hinata akan membencinya karena ia telah membawa paksa Hinata kerumahnya. Ia sedikit kecewa bahwa Hinata sama sekali tak mengenalinya. Tapi tak apa, itu semua terbayar oleh eksistensi Hinata di dekatnya sekarang. Tersenyum, Toneri bangkit untuk berjalan menuju kamar Hinata(kamar yang ditempati Hinata saat ini). Ini masih sore, ia penasaran akan apa yang dilakukan Hinata seorang diri di kamar.
Hinata menoleh lemah saat Toneri membuka pintu kamar itu. Ia terlihat pucat dan lesu. "Hinata.. kau baik-baik saja?" Tanya Toneri khawatir. 'Apa matamu buta huh pria aneh sialan!!' tentu aku tak baik-baik saja!!' Hinata mengumpat dalam hati.
"Aku sangat b-bosan." ingin sekali ia mengutarakan isi hatinya saat ini. tapi pada akhirnya yang keluar dari bibir mungilnya berbeda dari yang dipikirkannya.
Toneri tersenyum kecil lalu mendekati Hinata yang duduk di dekat jendela. Memandangi halaman luas milik Toneri. "Aku akan membawamu keluar rumah. sepertinya Hinataku ini butuh udara segar."
'Hinataku katanya? aku hanya milik Sasuke-kun!' batin Hinata tak terima.
Hinata tampak ragu saat pria itu menjulurkan tangan kanannya. Tapi ia sangat butuh untuk keluar dari ruangan ini sekarang. sudah 3 hari ia terkurung di kamar ini. Setidaknya ini akan sedikit mengusir rasa bosan yang menjalarinya. Akhirnya ia menerima uluran tangan Toneri dan segera bangkit. Lukanya sudah sedikit membaik. Hanya terdapat sedikit memar dibekas ikatan kemarin.
"Apa kau bisa berjalan?" Tanya Toneri lembut yang membuat Hinata semakin penasaran akan apa yang dirasakan pria ini sebenarnya. "Bisa. T-tapi pelan-pelan." Balas Hinata seraya membuang muka. Ia masih tak sudi untuk ditatap lama-lama oleh Toneri.
Mereka menuruni anak tangga perlahan-lahan karena kaki Hinata masih terasa sakit. Sesekali Toneri menyanggah tubuh lemah Hinata yang seperti akan kehilangan keseimbangan. 'kalau kakiku tak lecet seperti ini, aku tak akan mau ia menyentuhku seperti itu. maafkan aku Sasuke-kun'
Sesampainya mereka diluar rumah, udara sejuk langsung menerpa wajah Hinata. Ia menghirup udara itu dengan mata terpejam. Merasakan sensasi dingin tapi menyegarkan. Halaman rumah Toneri memang sangat luas. Disana juga ditumbuhi oleh beberapa pohon yang rindang dan juga bunga-bunga yang berwarna-warni. Di tengahnya ada kolam ikan kecil yang menyejukkan mata. "Kau tinggal sendirian disini?" Hinata bertanya tapi tak memandang Toneri sama sekali melainkan kearah kolam ikan tersebut.
"Ya, dan kau juga kan, Hinata? meskipun baru setahun kau tinggal sendiri. Apakah kau tak kesepian?" Balas Toneri sambil memandang Hinata yang sedang asyik memandangi kolam ikan di depan mereka. Saat ini mereka tengah duduk dibawah sebuah pohon yang berada dekat dengan kolam. Memang ada beberapa kursi taman yang sengaja diletakkan dibawah pohon oleh Toneri.
"Aku tak merasa kesepian sama sekali karena aku memiliki Sasuke-kun dan teman-temanku yang sangat peduli padaku. Kalau kau? sudah kutebak kau pasti sangat kesepian sampai-sampai kau menculikku seperti ini untuk menemanimu." Jawab Hinata mendecih sambil menatap Toneri tajam. Toneri tersenyum lalu mengangguk.
"Kau benar, Hinata. Aku kesepian. orangtuaku telah bercerai sejak aku SMP. Mereka tak memperdulikan aku. Mereka pikir aku hanya akan bahagia dengan uang mereka. Mereka dulu sering bertengkar hebat sebelum akhirnya berpisah. Aku memilih untuk tinggal sendiri saat mereka telah resmi bercerai. Jangan salah sangka, Rumah ini adalah milikku sendiri. Bukan dari harta orangtuaku, Ya meskipun sekarang aku menjalankan perusahaan ayahku.." Toneri tampak menerawang jauh saat menjelaskan masa lalunya pada Hinata.
Hinata terdiam. Ia merasa sedikit simpati pada pria ini. Meskipun dia aneh dan jahat ternyata ia memiliki sisi kelam dikehidupannya. Hinata memandangi pria disampingnya ini dengan tatapan sendu. "Dulu, aku tinggal disalah satu apartment milik Ayahku. tapi setelah aku beranjak dewasa, Ayahku menawarkan aku untuk menggantikan posisinya di salah satu perusahaan miliknya. Akupun mulai belajar bagaimana cara memimpin perusahaan dengan benar. Saat itu aku masih SMA, Sampai akhirnya aku bisa melakukannya dengan baik dan membeli rumah ini." Lanjutnya sambil tersenyum dan menoleh pada Hinata yang sedang menatapnya. "Tapi semua yang aku miliki benar-benar terasa hampa. Aku kesepian. Sampai aku menemukanmu. Aku merasa kehidupanku yang penuh akan kejenuhan ini memiliki harapan. Meski aku tak terang-terangan menunjukkannya padamu. pertama kali aku melihatmu adalah saat kita sedang ospek di kampus. Kau terlihat sangat manis dan sangat peduli dengan orang sekitarmu. Aku sangat ingat waktu itu aku sangat kelelahan karena senior menghukumku untuk push up 100 kali dibawah terik matahari." Toneri tertawa kecil mengenang masa lalunya. "Kau datang dengan wajah khawatirmu dan memberikan aku sebotol air. Kau juga mengelap keringatku dengan sapu tanganmu saat itu. Disaat orang lain mengacuhkanku, Kau justru menolong dan mengkhawatirkan aku. Sejak saat itu, aku merasa bahwa kau adalah malaikat yang datang dikehidupanku." Toneri menatap Hinata yang terlihat sedang berpikir. "Apa aku pernah menolongmu? Aku tak mengingatnya sama sekali." Hinata berkata pelan. "Tak apa, tak mungkin untukmu mengingat semua kejadian yang telah berlalu." Balas Toneri sambil mencoba untuk meraih tangan Hinata. "Kau mau apa?" Hinata menyadari hal itu dan menjauhkan tangannya dari Toneri. mendekapkan kedua tangannya didadanya. "Apa aku boleh menggenggam tanganmu?" Toneri meminta izin pada Hinata.
'Oh ayolah Hinata, ingatlah ia akan mengembalikan barang-barangmu kalau kau bersikap baik padanya!' Batin Hinata. Ia tampak sedang berpikir dan pada akhirnya dengan sedikit ragu, ia mengangguk. "Kau boleh menggenggam tanganku. tapi jangan lama-lama!"
Toneri tersenyum lebar mendengar ucapan Hinata. Tak berlama-lama ia segera meraih tangan Hinata dan menggenggamnya erat seolah tak ingin melepaskannya. Hinata merasakan kehangatan yang menjalar dari tangan pria itu. Sejujurnya ia merasa kasihan pada Toneri. Tapi, apa yang dilakukan Toneri bukanlah hal yang benar. Menculik seseorang adalah tindakan kriminal.
Langit mulai gelap, Toneri mengajak Hinata untuk kembali masuk ke dalam rumah. Rumah Toneri ini termasuk berada di daerah terpencil, karena Hinata sedari tadi tak melihat adanya rumah-rumah lain disekitar sini. 'ini akan sulit' Batinnya.
.
.
.
Sasuke dan Obito kini sedang berbicara pada 3 orang detektif swasta. Mereka sedang membicarakan perihal Hinata yang tak kunjung mendapat titik terang. Mereka telah memeriksa CCTV dan mereka memang melihat Hinata dibawa oleh seseorang dengan berpakaian serba hitam dengan topi, kacamata dan masker. sulit untuk mengidentifikasi identitasnya. Rekaman CCTV itu terbatas di area-area tertentu. Sepertinya penculik ini sudah pernah memeriksa Club malam itu sebelumnya sehingga ia dapat lolos dari beberapa CCTVnya.
"Kami akan berusaha sekerasnya untuk menemukan Nona Hinata, Tuan." Seorang detektif dengan tubuh kekar berkata sebelum akhirnya ia berdiri disusul oleh kedua rekannya. "Kami telah membayar kalian dengan sangat mahal. jangan kecewakan kami!" Sasuke menekankan kata-katanya. Para detektif itu mengangguk dan akhirnya pergi meninggalkan dua pria Uchiha itu.
"Kalau begini caranya, Hinata akan sulit ditemukan. Kita tak boleh menyerah, Sasuke." Obito beranjak dari kursi dan menepuk pundak Sasuke yang masih duduk diam di kursinya. "Aku akan pulang. Pekerjaanku menumpuk di kantor. Segera kabari aku kalau ada apa-apa." Obito berjalan keluar rumah Sasuke. Ia meninggalkan Sasuke sendiri yang tengah mengerang frustasi. 3 hari Hinata telah menghilang. dan sudah 2 hari ini mereka menyewa para detektif swasta tadi. Namun masih tak membuahkan hasil yang berarti. Mereka memang berhasil mengecek CCTV Club malam itu, tapi masih buntu untuk mencari jejaknya. Jangankan wajah pelakunya, Ujung rambut pun tak kelihatan.
.
.
.
Ino sedang menikmati makan malam bersama orangtuanya saat tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada yang menelepon. "Ino, tak sopan sekali kau mengaktifkan ponsel saat kita sedang makan bersama. Kau ini tak berubah juga ya nak." Tegur Inoichi, Ayah ino. "Maaf Pa, siapa tau ada kabar penting. Ino izin angkat telponnya bentar ya Pa, Ma." Ino beranjak dari kursi dan berjalan menjauh dari meja makan. Ia tampak tersenyum saat melihat nama penelepon di layar ponselnya. Tak lama kemudian ia kembali ke meja makan dan melanjutkan acara makan malam keluarganya yang sempat tertunda tadi.
"Ma, Papa mana?" Tanya ino pada ibunya yang sedang menonton televisi tanpa ayahnya. Mereka telah selesai makan sejam yang lalu. "Papa ada urusan mendadak tuh tadi barusan keluar." Jawab Yuri, ibu Ino sambil menatap lembut putri satu-satunya ini. "Kenapa, sayang?" lanjutnya.
"Ino mau keluar sebentar, Ma." Balas Ino sambil tersenyum ke ibunya. "Baiklah, jangan pulang larut malam loh! kamu ini anak perempuan kalau keluar malam tuh dikurangi Ino! saat acara ulang tahunmu pun kau tidak pulang kerumah. Sebenarnya kau merayakannya dimana?."
"Ah, Mama... kok malah bahas itu sih. Ino pergi sebentar, janji kok. lagian ini masih jam 8 Ma, masih sore." Ino tertawa kecil lalu mencium pipi Ibunya. Yuri melemparkan bantal sofa pada Ino yang langsung berlari kecil menjauh dari Ibunya sambil tertawa. "Sore apanya!" Ibunya berteriak pada Ino.
Ia pun berjalan keluar rumah saat ibunya bertanya, "Mau bertemu dengan Hinata-chan ya sayang?"
Ino yang berjalan menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat Ibunya. "Ah, benar Ma. Aku akan bertemu dengannya." Ino menggaruk lehernya yang tak gatal lalu melanjutkan langkahnya untuk keluar rumah.
'Maaf ma, Ino terpaksa berbohong. Ino tak bisa memberitahukan masalah Hinata pada Mama untuk saat ini. Ino tak ingin Mama dan Papa Khawatir.' Batin Ino tak tega berbohong pada Ibunya.
.
.
.
Ino berjalan masuk kedalam sebuah cafe aesthetic yang mewah. Disana ia bertemu dengan seorang pria yang telah menunggunya.
"Hi~ Lama ya nunggunya? Maaf ya sayang.. tadi aku siap-siap dulu." Sapa ino pada pria yang tengah duduk di salah satu meja pelanggan disana.
"Aku baru sampai." Jawabnya singkat sambil tersenyum. Ino membalas senyumannya lalu duduk berhadapan dengan pria itu. Merekapun memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan. Namun Ino hanya memesan minuman dingin, dikarenakan ia telah makan malam bersama kedua orangtuanya tadi. Setelahnya mereka tampak berbincang sambil sesekali tertawa kecil, Namun tak jarang mereka menampakkan ekspresi serius di wajah mereka. Dua pasangan itu terlihat menikmati saat kebersamaan mereka saat ini.
Di lain sisi, Obito yang tengah mengerjakan pekerjaan kantor di rumahnya pun sesekali mengecek ponsel untuk melihat apakah ada pesan dari Hinata. Meskipun ia tau bahwa ia akan segera mengetahui kalau Hinata menghubunginya karena ia memasang ringtone tapi tetap saja ia gatal untuk melihat sendiri ke layar ponsel pintarnya tersebut.
Ia membuang napas kasar sesaat setelah ia selesai dengan pekerjaannya. Pandangannya menerawang, Pikirannya melayang. Hinata. Hanya ada nama Hinata dalam benaknya saat ini. Ia gusar, lalu meraih ponselnya lalu mengetik nama Sasuke untuk menelponnya.
'Ada apa sialan' Jawab Sasuke di seberang sana
"Tak bisakah kau sopan sedikit. Sudahlah, tak penting. Bagaimana kabar Hinata? sudah ada kejelasan?" Balas Obito tenang.
'Kita baru bertemu beberapa jam yang lalu. Dan lagi, detektif-detektif itu belum menghubungiku sejak pertemuan tadi. Aku kan sudah bilang kalau aku akan segera menghubungimu kalau aku mendapatkan kabar dari mereka. Kekasih Hinata adalah aku, Bukan kau. Berhenti mengkhawatirkan Pacarku secara berlebihan Obito! Aku terganggu!' Sasuke memutus panggilan secara sepihak. Obito menggenggam erat ponselnya sambil menggeram. 'Bocah sial!' Umpat obito dalam hati. Ia menghembuskan napas kasar. Ia harus bertindak sendiri. Tak bisa mengharapkan Sasuke. Karena Sasuke sendiri tak terlihat senang untuk bekerjasama dengannya. Ia kembali menghubungi seseorang yang ia yakin dapat membantunya saat ini.
.
.
.
.
Toneri dan Hinata baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Toneri cukup pandai memasak, Masakannya cukup enak. Hinata selalu menghabiskan makanan yang disuguhkan oleh Toneri. Toneri merasa senang melihat Hinata makan dengan lahap. Hinata menawarkan diri untuk mencuci piring bekas makan mereka. Selama ini Toneri yang selalu melakukannya. Hinata selama beberapa hari ini hanya terkurung di kamarnya, makan pun dikamar. kecuali mandi, Ia akan menggunakan Kamar mandi yang berada di kamar Toneri. Tapi hari ini berbeda, Toneri mulai mengizinkan Hinata untuk Keluar rumah. Bahkan sekarang ia benar-benar boleh untuk bebas berkeliaran disekitar area dalam rumah. Seperti misalnya, Makan di ruang makan yang perdana ia lalukan selama ia berada di sini. Untuk keluar rumah, Toneri bilang akan mengizinkan Hinata untuk keluar tapi harus bersama dengannya. Toneri tak membiarkan Hinata keluar rumah sendirian. Toneri selalu mengunci pintu dan jendela akses untuk keluar dari rumah ini untuk jaga-jaga agar Hinata tidak kabur.
Hinata telah kembali ke kamarnya. Toneri pun sama, ia ada dikamarnya mengerjakan sesuatu. mungkin pekerjaan kantornya..? entahlah. Ia telah mengambil cuti selama 5 hari dan ia benar-benar kewalahan untuk mengerjakan pekerjaan mendadak dari sekretarisnya selama 2 hari ini.
Selesai dengan pekerjaannya, Toneri memutuskan untuk melihat Hinata yang sedang berada di dalam kamarnya. Hinata sedang membaca sebuah buku saat Toneri masuk. Hinata tak merasa kaget karena 3 hari ini, Toneri selalu melakukan itu. Masuk secara tiba-tiba seperti sekarang ini. Tapi saat Hinata hendak tidur, ia biasanya akan mengunci kamarnya dari dalam agar Toneri tak bisa leluasa untuk memasuki kamarnya.
"Sedang baca apa, Hinata?" Toneri berbasa basi yang langsung dijawab Hinata "Hanya membaca buku yang kau tinggalkan disini." Entah perasaan Toneri saja atau bukan, Hinata malam ini tampak sangat cantik. Bibir merah muda alami, kulit putih bersih, mata beriris bulan yang memikat, Lekukan tubuh yang seksi... Hasrat alami Toneri muncul. Ia bedehem sebelum ia memutuskan untuk semakin mendekat kearah Hinata yang membaca di ranjangnya.
Toneri mendekati Hinata lalu duduk di tepi ranjang. Hinata menyingkirkan buku yang ada dihadapannya untuk melihat Toneri. "Kau mau apa?" Tanya Hinata was-was. Toneri hanya diam lalu dengan cepat ia menubruk Tubuh Hinata hingga ia terbaring ke ranjang. Hinata panik, Tubuh Toneri yang cukup berat menindih tubuhnya saat ini. Jantungnya berdegup kencang. Ia memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi kepada dirinya. Toneri masih terdiam sambil tangan kirinya mengunci kedua tangan Hinata diatas kepalanya. Sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk membelai pipi halus Hinata. Toneri menatap lama mata Hinata lalu pandangannya turun ke hidung mancungnya, lalu ke bibir ranumnya. "Apa yang akan kau lakukan, brengsek!" Maki Hinata. Tapi Toneri tak memperdulikannya. Ia mengecup sekilas pipi Hinata lalu bibirnya. Ia hanya mengecup bibirnya singkat. Namun setelahnya ia menginginkan lebih dari sekedar kecupan. Ia mulai menciumi wajah hinata, dan mencium bibir Hinata lembut. Hinata tak membalas ciuman Toneri. Ia bahkan menitikkan air mata, Namun ia berusaha untuk menerima ini karena ia berharap Toneri akan mengembalikan barang-barangnya. Ia akan segera mengabari Sasuke saat ia mendapatkan ponselnya kembali. Lama kelamaan ciuman Toneri menjadi kasar dan menuntut. Mau tak mau Hinata membalas ciuman itu. Sampai keduanya kehabisan napas dan saling melepaskan tautan bibir mereka. Toneri bangkit dan melepaskan Hinata. Hinata bangkit dan mencoba untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya. "K-kenapa kau tiba-tiba menciumku! tanpa izin pula." Hinata merasa sangat kesal pada pria didepannya ini. "Maaf, kau terlihat sangat cantik malam ini." Balas Toneri yang segera berjalan menjauh dari Hinata. Ia keluar kamar dan menguncinya dari luar. Kembali ke kamarnya, Ia tersenyum karena pada akhirnya ia dapat merasakan bibir dari orang yang ia sangat cintai.
.
.
.
-BERSAMBUNG-
