GANYU SUPREMACY! URRAAAAGH!
Eksistensinya terikat dengan pedang yang jika ia melakukan tujuannya, akan menghancurkan seluruh dunia sekejap setelah tugasnya selesai.
Dia adalah yang pertama dari Chosen Thirteen Champions, dipilih oleh Champion Sword untuk menggunakannya alih-alih menemani sang pemegang.
Namun, sebagai gantinya dia adalah sang pengorbanan, dia akan menjadi orang yang memberikan "Pukulan Akhir" kepada sang [Antagonis] dan mengatur ulang dunia yang dia kenal dan cintai, dan kemudian... Dibuang ke dalam Void, tempat di mana tidak ada yang ada, seperti sampah yang tidak berguna.
Hidupnya telah ditentukan oleh "Sistem" dan sudah ditentukan sebelumnya sejak sebelum penciptaannya.
Dia adalah satu dari beberapa yang mengetahui "Kebenaran" Akan dunia nya, dan sangat menderita karena pengetahuannya, karena dengan setiap kemenangan dalam pertarungannya ketakutan dan keraguan menggerogoti hatinya yang bagaikan kaca.
Dia mencoba segala hal untuk membendung ataupun menyingkirkan akan penderitaannya tentang pengetahuan itu, baik itu dengan melupakannya ataupun mencari kasih di pelukan hangat seorang wanita.
Maka dari itulah, di hari ini sendiri... "Klimaks" ceritanya mencapai puncaknya, momen yang dimana setiap pilihannya akan menentukan nasib segalanya...
...
...
...
..
.
...Akan segera mencapai kesimpulannya.
Year - 503. A.H
Location - Ground Zero
Dia tidak pernah merasakan kekuatan seperti ini; Kekuatan yang luar biasa dan di luar imajinasinya yang paling liar, bahkan Dark Magician tidak pernah sampai sekuat ini, bahkan Fase Ketiga hanya bisa digambarkan sebagai menjengkelkan bagaikan semut.
Tapi ini... Ini terlalu berlebihan, bahkan untuk dia yang memegang Champion Blade, meski diberdayakan oleh dua belas champion.
Benar-benar mimpi buruk di antara mimpi buruk.
Tubuhnya terasa seperti telah berubah menjadi batu; dia tidak bisa menggerakkan otot saat makhluk itu berdiam diri tidak jauh didepannya, dia berposisi seperti di awal mereka pertama kali bertemu di medan perang, mata kuningnya yang tidak mempunyai pupil bersinar terang menatapnya dengan tatapan yang bisa digambarkan dengan... Kekecewaan dan...Kekalahan?
Pikirannya pasti berhalusinasi di bawah tekanan konstan. Dia tidak bisa bergerak, rasa sakit dimana tulang-tulangnya hampir remuk dan luka di sekujur tubuhnya menghalangi proses untuk pemulihan.
Lalu ada kehadirannya - garis putih melengkung di dahi. Dia mengenali simbolnya... Omega, kenangnya dari Sohee, dia pernah mengatakan itu adalah huruf terakhir dari alphabet yang melambangkan akhir.
Akhir yang Hebat.
Gelar yang pas, pikirnya lemah. Akan tetapi dengan semua ini, dia tidak merasa takut.
Mungkin itu karena dia tidak merasa rugi. Semua orang yang dia peduli nanti kasihi telah mati; dihancurkan oleh kekuatan luar biasa makhluk itu. Genangan darah menutupi tanah, membentuk sungai akan fondasi bumi ini, langit bersimbah dengan warna merah delima yang memberikan kesan akan hari akhir.
Ratusan akan ribuan mayat tergeletak diam atau terbakar di atas tanah, Manusia, Demons, Vampir, Teatan, Elves, Androids, dan bahkan Invaders itu tersendiri.
Dengan kekuatan indranya dia masih bisa merasakan sisa energi dari beberapa orang yang paling berharga; dia bisa merasakan hidup mereka memudar saat kematian mereka tenggelam ke dalam kesadarannya.
Dia adalah satu-satunya yang tersisa. Semua orang telah binasa; dia telah gagal menyelamatkan salah satu dari mereka-
"...Seluruh perang ini tidak ada artinya"
-Dan seketika membangunkan sesuatu yang membara di dalam hatinya.
Menggertakkan giginya, sampai hampir mematahkan gerahamnya dia perlahan mengangkat dirinya dari tanah, matanya yang sebelumnya penuh akan kalahkan dan redup, sekarang memegang api kemarahan yang membakar seluruh jiwanya.
"Kau... Beraninya kau, setelah pengorbanan semua orang... Rekan-rekanku... Dan keluargaku... Dan kau menyebutnya itu tidak berarti!?" Dia berteriak dengan penuh amarah terhadap sang 'Juru Penyelamat'.
Mencengkeram gagang Champion Blade dengan erat, dia menggunakan senjata itu sebagai penopang dan berdiri untuk memelototi sang penyelamat para [Invaders] sekaligus pemimpin ras penjajah itu, tangan kirinya menggenggam udara, dan arus mulai berkumpul di sekitar ujung jarinya.
Petir berderak dan mulai membentuk bentuk pedang, dan dia menggenggam bentuk gagangnya dan itu langsung terwujud menjadi pedang claymore.
"Sumpahku sebagai sang Penjaga telah ku buang..." Raime berjalan satu langkah, lalu langkah kedua, dan langkah ketiga. Hingga akhirnya dia berjalan ke arah sang Savior dengan langkah yang penuh dengan amarah di setiap hentakan kaki.
"...Jika aku adalah prajurit yang membawa kematian di setiap langkah—"
Dengan Libera sekarang ditangan kirinya berserta Champion Sword di tangan kanan, sang Penjaga terakhir kini berhadapan langsung dengan sang 'juru penyelamat' para Invaders.
—MAKA AKU, AKAN MENGHANCURKANMU TANPA SISA SEDIKITPUN!!!"
Dengan raungan yang keras, Raime melompat ke udara dengan kedua senjatanya di atasnya dalam posisi untuk menghempaskan—
...
..
.
Ditempat lain, disebuah tebing tinggi yang disekelilingnya terdapat hutan lebat, seorang pemuda berambut pirang tampak mengibaskan sebuah pedang yang ada ditangannya dari lendir-lendir slime yang telah menyangkut, pakaiannya yang berbasis armor medieval berwarna keabuan terlihat menunjukkan retakan di banyak bagian dan terlihat ada sedikit karatan di besi tersebut, iris hijau muda bagaikan permata itu melihat jauh ke arah berlawanan dari dirinya.
Aliran listrik berdecik dari sisa-sisa tubuh slimes yang telah dia musnahkan, bau ozon bercampur gosong memenuhi udara dengan aroma yang menyengat.
Selesai membersihkan senjatanya, pemuda itu menyarungkan kembali pedangnya dan melepas helmet nya, dia memegang erat benda itu, di matanya saat ini dia dapat melihat jauh di depan sana ada sebuah tembok besar yang sangat tinggi berdiri memutar, kemungkinan didalamnya terdapat sebuah desa atau kota.
Semilir angin menerpanya, membuat rambut jabriknya berkibar pelan, dia mendongak melihat ke arah langit yang cerah, iris hijau mudanya tampak kusam dan menyimpan berbagai kelelahan seperti telah kehilangan banyak hal dan hanya ingin untuk beristirahat.
"WAAH!"
Pemuda itu melirik ke samping dan mendapati seorang
Paimon has a petite body, giving her the look of a fairy. She has thick white hair cropped just above her shoulders, dark purple eyes, and light skin. In some official art, the tip of one of her front hair locks fades to black.
She wears a long-sleeved white jumper and a night-blue cape flecked with stars, and white stockings with white boots. Rose-gold embroidery and shapes are attached to her jumper, boots, and sleeves.
Tap..Tap..
Langkah kaki dibelakangnya membuat pemuda pirang itu sedikit menoleh ke belakang, dan tepat beberapa meter dibelakangnya ada seorang wanita berambut merah panjang yang diikat, dia memakai jaket hitam yang sedikit terbuka sehingga memperlihatkan dada dengan kaos putih dan juga celana hitam.
"Sekitar 4 kilometer lagi kita akan sampai di Mondstadt." Ucap wanita berambut merah ltu kepada sang pemuda, sambil berjalan mendekat dia terlihat tidak peduli dengan bekas dan bercak sisa slimes di sekitar.
"Ya" Raime menjawab seadanya sambil melirik dari sudut matanya, wanita yang dia baru dia kenal dengan nama Diluc Ragnvindr tersebut.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan." Wanita itu— Diluc, menangkap lirikannya dan memicingkan matanya ke pemuda itu.
Ketahuan basah, Raime mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, dia menggaruk sisi belakang kepalanya karena merasa canggung dalam situasi yang dia pikir sedikit awkward.
"T- Tidak apa-apa, aku hanya teringat akan salah satu rekanku... err..." Dia menggaruk pipinya sambil terdiam di akhir kalimatnya, tidak tau harus melanjutkannya dengan apa, dan ini cuma menambah rasa curiga Diluc terhadapnya.
"Hoh, kalau begitu katakan. Seperti apa 'Rekan' mu ini sehingga hanya dengan melihatku kau bisa teringat akan dia?" Kata Diluc sambil menyilangkan tangan di bawah dadanya.
Raime terdiam seribu kata, wajahnya mematung setelah pertanyaan itu dilontarkan kearahnya, pikirannya terngiang akan sebuah waktu yang lama tentang rekannya.
Dia yang terselimuti api membara dan mengendalikan bagaikan arus air, menggunakan elemen tersebut untuk menyembuhkan orang-orang yang dia lindungi, dan juga untuk membakar habis para musuh yang menghalangi tujuannya.
Sang Dewi Perang, Plitvice.
Merasakan tatapan Diluc yang penuh akan pertanyaan, Raime hanya mendesah kecil dan berbalik badan, moodnya menurun terbukti dengan wajahnya yang sedikit mendingin.
"...Sudahlah, apa yang terjadi di masa lalu.. Biarlah terlupakan."
Berbalik arah, Raime berjalan terlebih dulu meninggalkan Diluc dengan suara sepatu bot logam berat berderak melintasi lapangan hijau subur menemani sang Penjaga di setiap langkahnya menuju kota kebebasan, Diluc hanya menatap nya belakang punggungnya dengan diam dan tatapan yang sulit dimengerti, sebelum dia pun berjalan untuk menyusul Raime.
Komen, Review, Dan Overall.
Lalu juga, apa bahasanya/perkataannya terlalu kaku? Alur tergesa-gesa? Dan terakhir, first impression/kesan pertama?
Ini penting lowh, jgn cuman bilang up thor, up thor. Aku lebih kebanyakan make inggris dan juga ini pertama kalinya aku make bahasa indo buat nulis cerita makanya aku perlu kritik ama saran.
