Kurosaki Masaki terbangun dari ketidak sadarannya dengan terkejut. Ia melihat sekitar dan langsung mengenali tempat ia berada… ia berada di rumahnya—lebih tepatnya ruang klinik rumahnya.
ia sedikit memijat kepalanya, mencoba untuk mengingat apa yang terjadi sebelum ia tak sadarkan diri; sebelumnya ia pergi ke dojo untuk menjemput putra-nya dan hari itu sedang hujan, mereka pulang sambil menyusuri pinggir sungai kota, kemudian Ichi—
Ichigo!
Langsung saja, ia beranjak dari ranjangnya, pandangannya buram akibat sakit kepala yang tiba-tiba ia rasakan. Ia tidak mendengar suara seseorang hingga kedua tangannya menuntunnya kembali untuk duduk dipinggir ranjang.
"—aki, kau bisa mendengarku?", suara seseorang kini ia dapat mendengarnya dengan jelas.
Ia membuka kedua matanya—tak sadar jika ia memejamkan kedua matanya sedari tadi—pandangannya perlahan mulai jelas dan raut wajah khawatir seorang pria adalah hal yang ia lihat.
"I-Isshin?",
"ya? Ada apa? Kau butuh sesuatu?",
Sedikit gemetar, ia meraih kedua tangan suaminya dan menggenggamnya cukup erat.
"I-Isshin, I-Ichigo? Dimana Ichigo? Apa ia baik-baik saja?",
Pria itu melepas genggamannya untuk memeluk tubuh gemetar Masaki.
"Ichigo baik-baik saja, ia berada di kamarnya…", ucapnya sambil mengusap pelan punggung istrinya.
"kau ingin melihatnya?", ia mengangguk tanpa suara dan Isshin menuntun Masaki menuju kamar putra mereka yang berada di lantai 2.
Pintu kamar terbuka, Masaki menghela nafas lega dengan sedikit air mata membasahi kedua pipinya. Perlahan, ia mendekati kasur putranya yang saat ini sedang tertidur lelap, ada plester kecil berada di keningnya.
"oh Ichigo…", bisiknya dan ia mengecup kening putranya.
Diluar jendela, ada sosok yang menatap mereka bertiga dengan tatapan sendu, sebelum akhirnya ia menghilang dalam bayangan.
--• D•C •--
Satu minggu berlalu sejak kejadian tersebut. Ichigo baik-baik saja dan saat ini ia sedang bermain dengan kedua adik-nya bersama Isshin.
Masaki berkutat di dapur menyiapkan makan malam. Ia berhenti sejenak saat merasakan kehadiran seseorang.
Terasa asing, namun familiar secara bersamaan.
Ia menjeda sementara kegiatannya, menoleh ke sekitar untuk mencari keberadaan orang tersebut.
.. ia menemukannya.
Sosok tersebut berada di luar jendela, menatap Isshin dan ketiga anaknya yang sedang bermain sesuatu di depan TV.
Mereka tidak menyadari atau melihat sosok tersebut, Masaki menyimpulkan jika sosok tersebut adalah pluses (hantu).
Ia melanjutkan kegiatannya yang sebentar lagi selesai, kemudian meminta tolong Isshin untuk menyajikan makan malam. Ichigo dengan bersemangat ingin membantu ayahnya membuat Masaki tersenyum melihat tingkah putra kesayangannya tersebut.
Melihat keduanya sedang menyajikan makan malam, Masaki pergi keluar sebentar dengan alasan membuang sampah.
Sambil membawa kantong sampah, ia melangkah keluar rumah. Membuang kantong tersebut ke tempatnya, ia langsung pergi menuju sosok misterius yang masih diam ditempat.
"siapa dan apa maumu?", Masaki langsung bertanya dengan suara pelan dan tegas.
Sosok tersebut terlihat tidak terkejut, wanita itu sedikit mengernyit karena tidak bisa melihat dengan jelas rupanya.
Ia mengenakan jubah dengan tudung yang menutupi kepalanya, wajahnya tersembunyi dalam bayangan tudung meski cahaya dari jendela sedikit menerangi sosoknya.
"..katakan padaku, nona Kurosaki, apakah anda mempercayai perjalanan waktu?",
Masaki sedikit bingung dengan pertanyaan yang terlontar dari sosok tersebut yang tidak menoleh ke arahnya.
"aku mempercayai banyak hal, termasuk perjalanan waktu meski kebanyakan orang berpendapat hal tersebut cukup mustahil..", ia menatap waspada pada sosok tersebut.
"..mengapa kau menanyakan hal tersebut?",
Meski tidak bisa melihat dengan jelas, ia merasa kalau sosok tersebut tersenyum.
"kepercayaan anda tentang perjalanan waktu, setidaknya bisa membuat saya untuk jujur..",
"apa maksud—",
"kaa-saaann~!! Ayo kita makan malam~!!", suara cukup nyaring dari Ichigo membuat Masaki tersentak.
"kita bisa berbincang di lain waktu—", sosok tersebut menoleh ke arah Masaki.
"—saya tidak ingin mengganggu makan malam keluarga anda",
Kedua mata Masaki melebar saat ia melihat rupa sosok tersebut. Rambut oranye yang sangat ia kenali dalam sekali lihat, iris cokelat terlihat cerah meski terselimuti kelelahan dan beban yang dipikulnya.
Ia hendak untuk bersuara, namun sosok tersebut menghilang begitu saja.
--• D•C •--
Selang beberapa hari, sosok tersebut kembali muncul.
Ichigo, Karin dan Yuzu sedang tidur siang. Masaki dan Isshin sedang istirahat setelah menangani beberapa pasien yang datang ke klinik mereka.
Wanita itu melihat sosok bertudung yang berada di sudut ruangan, hanya melihat dan tidak ingin mengganggu.
"mendekatlah", sahut Masaki kepada sosok tersebut.
Isshin hanya diam, menunggu Masaki untuk berbicara kepada sosok yang sempat diceritakan istrinya beberapa hari yang lalu. Ia tidak bisa melihat pluses atau hollow karena kekuatannya yang tersegel saat ia menyelamatkan Masaki dulu.
Sosok bertudung itu akhirnya mendekat dan duduk di salah satu bangku kosong.
Masaki dan sosok itu duduk saling berhadapan, dan sebuah senyuman terpatri pada wajah wanita tersebut.
"kau ingin bercerita?",
Sosok tersebut membuka tudungnya, senyuman di wajah Masaki terkesan sedih dengan kedua matanya yang perlahan terlihat berkaca-kaca.
Sosok tersebut adalah seorang pemuda, dengan rambut oranye yang cukup panjang, iris cokelat yang terlihat lelah dengan kantung hitam dibawahnya, pipinya yang tirus dan pucat, ia sangat mengenali sosok tersebut meski dalam wujud dewasanya.
"Ichigo…",
Isshin yang duduk disebelahnya cukup terkejut mendengar Masaki menyebut nama anak mereka, ia ingin bersuara namun tetap memilih untuk diam.
Iris kecokelatan tersebut melihat Isshin sejenak, dan kembali menatap Masaki.
"hai, ibu… apa ibu, menceritakannya kepada ayah?", wanita itu mengangguk pelan dan tangannya hendak bergerak untuk menyentuh wajah pemuda tersebut.
"aku hanyalah roh, ibu.. aku tidak bisa disentuh..", raut kesedihan terpancar pada wajah Masaki.
"apa yang terjadi padamu, nak?",
Masaki melihat Ichigo yang terdiam, seolah ingin menceritakan banyak hal namun tidak bisa.
Menghela napas, Ichigo mulai bercerita.
"banyak hal yang terjadi… aku.. tidak bisa mengatakannya karena… aku tidak ingin mengubah.. hal yang akan terjadi nanti..", Ichigo menaruh kedua tangannya di atas meja dan bergerak memainkan kedua jemari tangannya.. gestur kegelisahan.
Masaki mengatakan ulang ucapan Ichigo kepada Isshin dengan berbisik.
"di waktuku, ibu adalah segalanya, dunia keluarga kami.. saat aku sembilan tahun, ibu terbunuh oleh hollow karena.. aku tidak bisa membedakan mana yang manusia.. mana yang pluses.. bahkan aku tidak tahu apa itu hollow—",
Kedua pasangan Kurosaki sedikit tersentak.
"—sepanjang hidupku… aku selalu menyalahkan diriku.. meski berulang kali, ayah mengatakan kalau itu bukan salahku.. hingga akhirnya, aku diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu", iris kecokelatan itu terlihat berkaca-kaca namun enggan untuk menitikkan air matanya.
"… setidaknya, diriku saat ini.. bisa memiliki keluarga yang lengkap.. Yuzu dan Karin bisa mengisi kenangan mereka dengan ibu sebanyak apapun.. ayah bisa menjadi ayah yang sebenarnya—",
"ayah yang sebenarnya?", potong Masaki bingung.
Ichigo mendengus pelan dan tersenyum kecil yang terkesan.. jahil?
"setelah kepergian ibu, ayah mencoba mengisi posisi ibu.. dan hasilnya, cukup buruk karena ayah begitu payah",
Isshin mengusap tengkuknya kikuk setelah mendengar ucapan Ichigo yang di ucapkan ulang oleh Masaki.
"ayahmu bisa segalanya.. kecuali dalam hal memasak dan mencuci pakaian, nak",
"hei…", kedua ibu dan anak itu terkekeh pelan saat Isshin mengeluh protes.
".. aku ingin, ibu hidup lebih lama dan menjalaninya dengan baik..", ia melihat tangannya yang mulai memudar transparan.
"kurasa sudah waktunya..",
"secepat itu?", Masaki tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya karena ia ingin berbicara lebih lama bersamanya.
"perjalanan waktu memang cukup mustahil, aku tidak bisa berlama-lama.. karena kondisiku juga…",
Masaki menatap tubuh Ichigo yang tertutupi jubah. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada putranya namun ia merasakan perasaan yang tak mengenakan.
Ichigo hanya tersenyum melihat raut wajah ibunya yang seolah mencoba untuk mengetahui kondisinya.
"aku sekarat, bu.. dan melakukan perjalanan waktu ini mempercepat kematianku", wanita itu tersentak dan Ichigo melihat jelas raut wajahnya yang memancarkan kecemasan dan kesedihan.
Isshin hanya bisa menggenggam erat tangan Masaki, sekedar ingin mencoba menenangkan dirinya.
"live well and grow old, mom.. jangan bersedih, karena aku masih ada disisimu.. jika bisa, tolong ceritakan yang sebenarnya kepada diriku dan si kembar, setidaknya mereka bisa mempersiapkan diri jika waktunya sudah tiba",
Tangan transparan tersebut mencoba menyentuh tangan Masaki, namun tangannya menembus, tidak bisa menyentuh tangan kurus tersebut.
Tidak bisa merasakan kehangatan tangan ibunya.
"…aku tidak ingin, diriku, keluargaku.. merasakan apa yang kurasakan.. semoga, dengan aku kembali ke waktu ini.. meski hanya sekedar memperingati saja.. setidaknya bisa merubah beberapa hal.. meski hanya sedikit..",
Perlahan, dirinya mulai memudar, bersamaan dengan partikel cahaya yang keluar dari tubuhnya, mengurai tubuh sekaratnya.
"aku menyayangimu.. ibu..",
Ucap terakhir Ichigo dengan lirih sebelum dirinya menghilang sepenuhnya, bersamaan dengan air mata Masaki yang membasahi kedua pipinya.
--• D•C •--
Waktu terus berjalan.
Anak-anak keluarga Kurosaki tumbuh sehat dan ceria.
Ichigo, tumbuh menjadi remaja yang kuat namun berwajah galak.. karena sering di ejek karena warna rambutnya yang tidak biasa.
Ia sudah muak mendengar gunjingan dari orang-orang sekitar tentang warna rambutnya dan dirinya yang selalu di sebut mama-boy.. hanya karena ia sangat dekat dengan ibunya.
Mendengar keluhan anaknya, Isshin memutuskan untuk melatih dirinya.. dengan serangan kejutan.. setiap ada kesempatan.
…tentu saja, Masaki memprotes saran suaminya. Namun Ichigo meyakinkan dirinya, ia ingin menjadi kuat dan ia ingin menjadi sosok dari arti namanya; 'dia yang melindungi', 'pelindung nomor satu'.
Yuzu dan Karin, si kembar tumbuh menjadi anak-anak yang bertolak belakang; si sulung yang lembut dan si bungsu yang keras.
Yuzu yang sangat menyukai memasak, Karin yang sangat menyukai sepak bola. Yuzu yang sangat mirip dengan ibunya, Karin yang sangat mirip dengan ayahnya.
Anak-anak Kurosaki juga tumbuh memiliki kekuatan dari kedua orang tuanya.. lebih tepatnya Ichigo dan Karin, mereka bisa melihat pluses (hantu) sedangkan Yuzu hanya bisa merasakan kehadiran mereka saja.
Masaki dan Isshin, sejak kepergian Ichigo dari masa depan (linimasa yang berbeda), mereka berdiskusi tentang apa yang harus mereka lakukan, apa yang harus mereka katakan kepada putra dan kedua putrinya.
Dan mereka memutuskan, pertama-tama.. mereka akan menjelaskan tentang kekuatan yang mereka miliki terlebih dahulu.
Dan waktu untuk menjelaskan hal tersebut semakin dekat, saat Ichigo mulai berinteraksi dengan seorang shinigami yang datang ke dunia manusia.
"kurasa, sudah waktunya..", ucap Masaki.
Mereka menyadari gerak-gerik aneh dari Ichigo sejak shinigami perempuan itu memberinya kekuatan. Dari gelagat putranya, ia ingin bercerita apa yang ia alami namun tidak tahu harus bagaimana dan ia memutuskan untuk merahasiakan.
Karin mulai merasa curiga dengan tingkah kakaknya yang terkesan aneh, namun tidak tahu bagaimana untuk menjelaskannya.
"kau benar.. aku akan menghubungi Urahara untuk meminta saran dan sebagainya, kau bisa jelaskan kepada mereka terlebih dahulu?", wanita itu mengangguk dan pria itu meninggalkan dirinya.
Masaki menghela napasnya pelan..
Mungkin dengan ini, anak-anaknya bisa menjaga diri..
Mungkin dengan ini, Ichigo dari masa depan bisa beristirahat dengan tenang..
Fin.
