Seorang remaja berambut oranye panjang dengan ikatan low ponytail melangkah tanpa suara di sebuah lorong panjang tanpa ada siapapun di sekitarnya. Ia mengenakan hoodie biru pucat yang tertutupi shihakusho—seragam para shinigami—dan sebilah zanpakutou berada di punggungnya.
Ia menyusuri tempat sepi tersebut untuk menuju ke sebuah ruangan yang ingin ia datangi, untuk melihat—ah tidak, untuk menjemput seseorang.
Dengan hati-hati, ia tiba ke ruangan yang ia tuju, sebuah ruangan yang cukup luas dengan pilar raksasa mengitari luar ruangan tersebut, sebuah tirai raksasa berwarna violet tergantung, memayungi sebuah kristal besar di bawahnya.
Iris cokelat hazel itu menatap kristal yang tergantung dengan beberapa tali mengikatnya, kemudian mendekatinya untuk melihat jelas benda berkilau tersebut.
"akhirnya ketemu..", ucapnya pelan dengan perasaan lega. Ia menyentuh kristal besar tersebut, melihat sosok yang terlelap di dalamnya, sosok yang ia cari selama ini, sosok yang ia ingin bawa pulang kerumah.
Sosok tersebut seorang pria, memiliki rambut oranye yang sangat panjang melingkari—menutupi—tubuh polosnya, terdapat garis-garis biru yang menyala pada sisi kanan tubuhnya, garis hitam berada di wajah kirinya turun hingga kebagian dadanya yang memiliki lingkaran tepat ditengah dan garis menyilangi dadanya.
"sudah sepuluh tahun.. aku, ibu, bibi Karin dan bibi Yuzu, kakek, dan lainnya merindukanmu, ayah…", gumamnya dan tangannya yang sedari tadi menyentuh kristal tersebut mulai mencengkram, garis retakan dengan cepat terlihat pada kristal yang mengurungi sosok yang dipanggil ayah oleh remaja tersebut.
Suara pecah dan jatuhnya puing-puing kristal menggema di ruangan sepi tersebut. Dengan sigap, remaja tersebut langsung menangkap tubuh pria yang terbebas dari kurungan kristal.
"ayah, kau sangat ringan sekali…", gumamnya lirih sambil memeluk erat sosok pria tersebut. Manik cokelat hazel-nya melirik dengan sedih akan kondisi pria yang sangat berbeda dengan ingatannya dulu… dimana pria ini, dulunya begitu sehat dan kuat, kini bagaikan mayat, pucat, ringkih… dan terlihat mungil.
Ia membaringkan sejenak tubuh pria itu, melepas kosode—bagian atas kimono—miliknya untuk menutupi tubuh polos pria yang belum terbangun dari 'tidur'-nya.
"apa yang kau lakukan disini, Kurosaki Kazui?", suara seseorang menggema di ruangan yang sepi, namun remaja itu tidak menoleh sama sekali.
Kazui, nama remaja tersebut tetap sibuk memakaikan pakaian pada tubuh pria tersebut, sama sekali tidak peduli dengan hadirnya sosok seorang pria besar berkumis dan janggut tebal tanpa rambut yang mulai mendekatinya.
"ku sarankan untuk menjauh dari Reio jika kau tidak ingin terjadi suatu hal yang buruk", ucap pria itu yang kini tepat berada di belakang Kazui.
"tidak akan terjadi sesuatu, dan—", Kazui langsung menggendong tubuh ringkih yang kini sudah tertutupi kosode miliknya ala bridal style, kemudian menoleh ke arah pria besar tersebut dengan tatapan datar dan dingin.
"—aku kemari untuk menjemput ayahku", lanjutnya dan hendak meninggalkan ruangan tersebut.
Sebuah tangan menghalangi langkahnya.
"kau tahu, aku tidak bisa membiarkan kau membawa tubuh Kurosaki Ichigo, ayahmu, meninggalkan tempat ini", ucap pria itu.
"jika kau berbicara tentang kestabilan tiga dunia—", kedua mata cokelat hazel tersebut perlahan berubah menjadi hitam bermanik emas dan menatap tajam penuh kebencian kepada pria besar yang ada dihadapannya. "—persetan dengan semua itu!",
Hyosube Ichibe, nama pria besar tersebut merasakan aura disekitarnya berubah menjadi berat, hawa panas yang menyengat dan perasaan sesak yang teramat sangat.
Bulir keringat mulai membasahi keningnya, namun Ichibe tetap tenang dan menatap Kazui yang masih menatapnya dengan tajam.
"Reio, Kurosaki Ichigo, sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan tiga dunia yang sempat goyah akibat perang 22 tahun yang lalu, dan 10 tahun yang lalu ia bersedia untuk menggantikan posisi yang sudah ditinggalkan Reio sebelumnya—",
"Ayah menolak, namun kalian, para petinggi yang memaksa bahkan mengancam ayahku untuk menempatkan posisi tersebut…", potong Kazui.
Kedua manik gelap itu masih ada, tekanan spiritual dan hawa panas menyesakkan perlahan semakin terasa hingga disekitar mereka mulai bergetar.
"aku sudah tahu semuanya… ayahku, setelah perang terakhir usai, ia ingin kembali hidup normal bersama keluarganya, teman-temannya, meski tetap melakukan tugasnya sebagai Shinigami pengganti di kesehariannya—",
Ichibe melihat aura gelap menguar dari tubuh Kazui bersamaan dengan tekanan spritualnya yang semakin memberat.
"—namun kalian, terutama Central 46 sialan itu, kalian merasa takut, merasa terancam akan sosok ayahku… kalian takut dan terancam dengan kekuatan ayahku, yang seharusnya kalian tahu—sadar kalau ayahku tidak akan melakukan hal yang tak perlu—",
Tekanan spritual Kazui semakin memberat hingga membuat hampir semua orang yang menyembunyikan keberadaan mereka tumbang tak sadarkan diri satu per satu.
"—jika kau butuh pengganti, kalian bisa gunakan jasad dari raja quincy yang sudah kalian simpan disuatu tempat, meminta bantuan kapten 12 yang aneh itu untuk menstabilkannya—",
Merasa tak ada halangan lagi, Kazui melangkah meninggalkan Ichibei dan ruangan tersebut.
"—ayahku orang yang baik, ia memang hidup sesuai dengan arti namanya… "dia yang melindungi", atau pelindung nomor satu..", Kazui berhenti sejenak di pintu untuk melihat kembali Ichibe yang masih diam ditempatnya.
"ia akan selalu melindungi orang terkasihnya, tanpa memikirkan dirinya sendiri… dan sekarang, aku ingin ia berhenti…", kedua matanya kembali normal dan lambat laun tekanan spiritual dan panas yang menyesakkan mulai menghilang.
"jika kalian masih bersikeras untuk mengambil ayahku, aku takkan segan untuk membunuh kalian…", lanjutnya datar dan meninggalkan tempat tersebut.
Setelah kepergian remaja tersebut, satu per satu orang-orang disana mulai bangun dan Ichibe meminta mereka untuk membersihkan ruangan tersebut.
"kau yakin membiarkannya membawa Kurosaki Ichigo?", tanya seorang wanita yang memasuki ruangan tersebut diikuti dengan tiga orang lainnya dibelakangnya.
"melihat apa yang ia lakukan selama menuju kemari, lebih baik biarkan saja… dan seperti yang kalian dengar, ia sudah tahu hal yang sebenarnya—", ia menoleh ke arah wanita yang memiliki enam tangan prostetik di tubuhnya.
"—Senjumaru, tolong letakkan kembali jasad raja quincy yang disimpan sebelumnya", tanpa berucap wanita itu melakukan titahnya.
"anak yang menyeramkan…", gumam seorang pria dengan rambut pompadour besar sambil menggigit stik kecil dimulutnya.
"bukankah jelas? yo~ Kazui adalah anak Go-Ichi yang merupakan sosok hybrid semua ras yo~! Jadi tidak aneh jika ia sangat kuat dan mungkin melebihi ayahnya, yeah!", sahut pria berkulit hitam yang mengenakan kacamata kuning dengan bernada.
"kurasa wajar saja dengan apa yang dilakukan Kazui-chan… ia sangat merindukan ayahnya, bahkan dulu memohon-mohon agar Ichigo-chan tidak pergi meninggalkannya", kali ini seorang wanita gempal berambut pink berucap dengan sedih.
Ichibe menghela napasnya pelan.
"kau benar…",
--• D•C •--
Selama perjalanan kembali pulang, Kazui bersenandung pelan sambil mengeratkan gendongannya. Akhirnya, setelah sepuluh tahun, ayahnya kembali pulang ke rumah.
Ia mengingat dengan jelas, tangisan ibu-nya, kedua bibinya, keputus asaan dari Kon, kesedihan tak merelakan dari kakeknya, ia ingat bagaimana ayahnya dibawa paksa oleh salah satu kenalannya… salah satu teman shinigami-nya.
Ia ingin marah, ia ingin memaki, ia ingin menghajar orang itu..
Ia ingin membunuhnya…
Namun, ia tak bisa..
Ia tak ingin melihat tangisan sahabat enerjiknya jika ia tahu, jika ia melihat dirinya membunuh kedua orang tuanya.
Selama sepuluh tahun, ia berlatih dengan paman Kisuke, bibi Yoruichi, dan beberapa kenalan ayahnya yang masih menetap di dunia manusia. Ia mencari semua informasi yang berkaitan dengan ayahnya, yang berkaitan dengan shinigami, dan perang yang melibatkan ayah dan ibunya.
Mengetahui semuanya, ia ingin mengutuk para shinigami, quincy dan masalah mereka yang menyeret ayahnya.
Ia menghela napasnya, menenangkan diri karena tujuan utamanya kini sudah tercapai. ia menyusuri Soul Society, mengabaikan kondisi tempat tersebut yang porak poranda.
"hei, ayah.. begitu ayah bangun, aku ingin bercerita banyak hal yang ayah lewatkan", ucapnya riang dan kini ia tiba di senkaimon dengan seorang pria berambut pirang pucat yang tertutupi bucket hat hijau-putih, mengenakan mantel gelap menutupi kemeja hijau gelap dan celananya, dan sandal geta di kedua kakinya.
"selamat datang kembali, Kazui-kun!", sapanya riang sambil memegang kipas menutupi bagian mulutnya.
"dan kulihat, kau berhasil membawa ayahmu", lanjutnya sambil melihat sosok yang dibawa remaja tersebut.
"tentu saja, aku berlatih dan mengumpulkan informasi selama 10 tahun terakhir untuk membawa pulang ayah dari tempat ini..", ucap Kazui tersenyum lembut kepada sosok yang belum bangun dari lelapnya.
"..mereka memiliki jasad Yhwach—anak dari Reio—yang bisa digunakan sebagai pengganti Reio tedahulu, namun mereka mengambil ayah dan membuatnya menjadi pasak tiga dunia ini..", lanjutnya dengan nada datar dan terkesan dingin membuat pria pirang tersebut sedikit merinding.
"ayahmu adalah sosok yang istimewa, Kazui-kun.. ia memiliki potensi yang tidak terbatas karena dalam dirinya terdapat campuran dari semua ras—shinigami, quincy, human, hollow—dan membuat para petinggi Soul Society merasa terancam akan kehadirannya yang tidak berada dalam genggaman mereka..",
Ia merasakan hawa panas yang menguar dari tubuh remaja tersebut, namun lambat laun menghilang setelah Kazui menghela napasnya sejenak.
"ayo kita kembali, paman Kisuke…", pria itu menatap sejenak wajah Kazui, kemudian kepada Ichigo yang belum sadar di gendongan remaja tersebut.
Penyesalan, rasa bersalah yang sangat mendalam menggerogoti dirinya. Ia gagal untuk melindungi murid kesayangannya yang dibawa paksa oleh mereka dulu..
Ia dengan senang hati membantu Kazui saat anak itu ingin membawa pulang Ichigo.
"baiklah, ayo kita kembali", ia menutup kipasnya dan mengaktifkan portal untuk kembali pulang.
Kazui menoleh kebelakang sejenak, melihat datar ke arah reruntuhan Soul Society, dan kembali tersenyum kepada Ichigo.
"aku merindukanmu, ayah…",
.
.
Fin
