As Long As It's You
Boboiboy Galaxy Fanfiction by Aprilia Hidayatul
all of characters belong Monsta Studio
Genre : Romance, Marriage Life
Pairs : Halilintar x Yaya
Warning : OOC! GAJE AND ETC!
Lyan is Original Character!
~•~•~
"Menurutmu, aku harus bersikap bagaimana?"
Seorang perempuan dengan kerudung pashmina merah muda membungkus kepalanya bertanya, menatap pria yang merupakan suaminya dengan pandangan kosong.
Sedangkan suaminya, Halilintar, hanya dapat terdiam.
Jujur saja, Halilintar tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika saat Yaya bertanya demikian. Meski itu bukan pertama kali, tetap saja hatinya berdenyut. Oleh karena itu, ia menahan diri dan lebih memilih menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.
Tentu saja Yaya heran. Matanya itu berkedip dua kali kemudian memandang pria itu. Bukan memberi jawaban atas pertanyaannya, kenapa dia dipeluk? Begitu tanya Yaya dalam benaknya. Namun, tak ia lontarkan apalagi saat momen seperti ini. Maka dari itu, ia pun balas memeluk sang pria dan membenamkan kepalanya di dada itu.
Seolah sebuah mantra, perasaan kosong dalam hatinya lenyap begitu saja. Tanpa sadar ia telah mendapatkan sebuah jawaban. Pelukan Halilintar memang berguna.
Mungkin, kalau aku melupakan sesuatu lagi nanti, hanya perlu memeluknya untuk kembali mengingat, pikir Yaya dalam hati sembari menyamankan diri.
Ia sesekali menggosokkan wajah pada kemeja merah maroon itu. Pelukannya semakin erat. Bahkan tidak sadar bahwa pria yang memeluknya tertegun, tetapi tak lama kemudian muncul sebuah kurva kecil di bibir tipisnya.
Walaupun sebenarnya sikap Halilintar yang berinisiatif sendiri untuk memeluk terasa aneh, entah kenapa Yaya justru senang. Dalam kepalanya saat ini berputar beberapa gambaran di mana dulu selalu dia yang memulai lebih dulu dalam hal keromantisan. Pria bermata merah delima itu terlalu kaku dan punya kegengsian tinggi, sehingga mengharuskan dirinya untuk menyerang.
Sedikit tidak biasa, tetapi Yaya senang. Setidaknya Halilintar hanya akan bereaksi menggemaskan setiap kali dia melakukan itu. Ah, betapa lucunya suami kaku dan dinginnya itu ketika malu.
"Lintar, kalau semisalnya aku lupa lagi nanti, maukah kau terus memberikanku pelukan?"
Halilintar terdiam sebentar, lalu mengangguk. "Mn."
"Husband! Kau yang terbaik!" pekik Yaya senang.
Halilintar tersenyum tipis. Melihat raut senang dan bahagia Yaya membuat hatinya perlahan menjadi lebih baik. Dalam hati ia berjanji akan terus membuat bibir merah muda istrinya terus melengkungkan kurva indah karena bahagia.
"Kau juga," balas Halilintar.
Aura musim semi tampak terpancar luar dari keduanya. Orang-orang yang berada di sekitar taman tersebut memandang keduanya gemas dan lembut, seakan merasa ikut senang akan kebahagiaan itu. Namun, tidak dengan dua orang ini. Mereka justru melayangkan tatapan kesal dan kesal.
Itu Otoi dan Lyan, adik serta sepupu Yaya. Mereka berdua berlagak muntah ketika melihat pemandangan tak tahu malu tersebut.
"Astaga, pemandangan apa yang sudah kulihat? Gelembung merah muda macam apa yang berada di sekitar mereka itu?" ujar Otoi dengan wajah kaku.
"Haruskah kita menendang Kak Hali dan mengambil kembali Kak Yaya?" Lyan kelihatannya masih belum terima jika pria tampan seperti Halilintar mencuri kakak sepupunya.
Seharusnya, setelah kejadian itu dia meminta orang tuanya untuk membawa Yaya ke Shanghai supaya tidak bertemu Halilintar. Lyan masih kesal karena akibat dari sikap Halilintar dulu membuat Yaya menjadi seperti sekarang. Mudah melupakan apa pun yang dilakukannya.
Otoi menyahut, "Jika kita melakukan itu, aku khawatir Kak Yaya justru akan semakin lama untuk kembali pulih. Bagaimanapun juga, keberadaan Kak Hali adalah obat terbaik baginya."
Lyan terdiam sejenak. "Kau benar." Lalu, ia merasakan jika bahunya ditepuk seseorang.
"Kalian sedang apa?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja menepuk bahu Lyan, mengakibatkan pemuda lima belas tahun itu terkejut.
Lyan melotot. "Kau hampir saja membuatku mati jantungan, Kak Taufan!"
Sedangkan orang yang dimaksud malah memamerkan cengiran lebar.
"Sudahlah, kenapa setiap kalian bertemu akan selalu ada pertengkaran. Dan kau Kak Taufan, tidak malu bertengkar dengan yang lebih muda?"
Suara lembut dan tegas itu mengalihkan perhatian mereka bertiga. Seorang pemuda yang serupa dengan Taufan dan Halilintar, tetapi memiliki mata bermanik emas. Dia adalah Boboiboy Gempa. Kembar ketiga tertua dari tujuh bersaudara.
Menurut Lyan dan Otoi, Gempa merupakan sosok yang lembut dan sangat baik. Ia menjadi penengah diantara Halilintar dan Taufan. Terkadang, Otoi pernah berpikir bahwa pemuda itu yang akan menjadi kakak iparnya. Namun, takdir berkata lain. Ternyata jodoh kakaknya adalah Halilintar.
Bahkan, semua orang tidak bisa memisahkan kedua insan tersebut. Meskipun berbagai cobaan melanda hubungan mereka.
Benang merah yang mengikat keduanya terlampau erat dan kuat.
Taufan cemberut. "Kenapa jadi aku yang dimarahi? Aku hanya bertanya apa yang sedang mereka lakukan di sini. Itu saja," cetusnya.
Satu alis Gempa naik, kemudian menatap dua remaja di depannya dengan sorot bertanya.
Tahu akan arti dari tatapan tersebut, Otoi segera memberi isyarat untuk melihat ke arah yang ditunjuk. Taufan dan Gempa mengikuti arah tersebut dan mendapati sebuah pemandangan langka.
Dia melihat kakak kembar tertua sedang memeluk seorang perempuan. Bahkan, pelukan tersebut terlalu intim.
Hanya ada satu orang yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Halilintar.
"Itu Kak Hali dan Yaya, ya?" tebak Taufan.
Lyan mengangguk. "Mn." Ia menatap kedua saudara kembar itu. "Bawa kembali kakak kalian. Aku masih tidak terima kalau dia yang mengambil kak Yaya."
"Kau seperti petani yang kehilangan kubisnya karena dicuri oleh babi," ujar Taufan sambil tersenyum mengejek. Tidak peduli kalau barusan dia menyebut kakaknya babi. Adik durhaka memang.
"Dia mencuri perhatian kak Yaya dariku!" Ekspresi Lyan saat ini seperti anak kecil yang merajuk dengan bibir mengerucut.
Gempa menggeleng pelan. "Sudah, sudah. Kalian jangan bertengkar—" Belum dia menyelesaikan perkataannya, suara dingin seseorang menginterupsi.
"Sedang apa kalian di sini?"
"Kak Hali/Kak Halilintar!"
Empat orang berteriak menyerukan penyebutan berbeda. Halilintar menautkan alisnya heran, tetapi tidak mengubah ekspresi dinginnya. Sebelah tangannya masih berada di pinggang Yaya, memeluk perempuan itu posesif.
"Kalian terkejut seakan terciduk telah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya," cetus Yaya.
Mereka berempat menggeleng secara bersamaan, menyanggah ucapan Yaya. Perempuan itu masih tampak belum percaya, tetapi enggan untuk memikirkannya. Ia kembali membenamkan diri dalam pelukan Halilintar.
"Ya sudah, aku tidak peduli. Lintar, ayo pulang. Aku ingin kau memasakkanku sesuatu di rumah. Mari buat tiramisu cake!" ujar Yaya.
"Mn. Apa pun untukmu, Yaya." Halilintar mengalihkan pandanganku pada mereka berempat dengan tatapan dingin. "Kami pulang duluan. Oh ya, jangan lupa untuk menemuiku di aula utama keluarga nanti malam. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian berempat," katanya dingin kemudian berlalu bersama Yaya.
Sedangkan mereka berempat berdiri mematung.
"Kak Gempa, apa kau tahu maksud dari ucapan kak Hali?"
Gempa mengangguk kaku. "Mn."
"Apa itu sesuatu yang buruk?" Sekali lagi Lyan bertanya masih dengan tatapan kosong.
"Bisa dibilang begitu."
"Tanganku yang malang, kau harus berlelah diri karena akan menyalin begitu banyak halaman buku peraturan," keluh Taufan dengan sorot menyedihkan.
"Menyalin?" Otoi bertanya bingung. Meskipun sudah mengenal lama keluarga Elemental, ia baru tahu dengan adanya buku peraturan.
"Mn. Itu hukuman bagi siapa pun yang melakukan pelanggaran dari aturan keluarga," jelas Gempa.
"Tapi kami berdua bukan dari keluarga Elemental!" seru Lyan tersadar.
"Tetapi kakak kalian menikah dengan anak tertua dari keluarga kami. Otomatis kalian juga termasuk," cetus Taufan.
"Alasan macam apa itu!!"
•••
Malam hari kediaman Elemental, Halilintar telah menghukum keempat orang yang melanggar peraturan keluarga, yaitu dilarang mengintip seseorang. Mereka diharuskan untuk menyalin buku setebal dua senti itu sebanyak tiga kali. Tentu saja hal tersebut mendapat protes dari yang bersangkutan, tetapi diabaikan sama sekali oleh Halilintar.
Setelah meminta Ais, sang adik kelima memantau mereka, Halilintar kembali ke kediamannya yang berada di sayap timur mansion.
Langkah kakinya sangat teratur dan cepat. Perasaan tidak sabar bertemu seseorang di sana menggebu.
Benar saja. Ketika pintu kediaman terbuka, Halilintar menemukan seseorang sedang duduk memandang keluar halaman, melihat bulan yang telah naik lumayan tinggi. Rambut panjang sehitam tinta itu terjuntai ke bawah tertiup angin pelan. Memberikan kesan lembut dan anggun.
Sebenarnya Halilintar ingin menegur. Ia tidak rela jika sosok itu membiarkan rambutnya terlihat bebas. Namun, ketika mengingat bahwa di sayap timur mansion ini tak ada seorang pun selain mereka, Halilintar mengurungkan niat tersebut. Ia berjalan menghampiri sosok itu dan memeluknya dari belakang.
Sosok itu tersentak. "Eh? Lintar, kau baru kembali?"
"Mn. Aku kembali, Aya."
Yaya tertawa pelan. Sebuah ingatan kembali muncul di kepalanya, memperlihatkan sepasang perempuan dan lelaki saling bercengkerama. Posisi mereka persis seperti sekarang, si lelaki memeluk dari belakang, menaruh dagunya pada bahu mungil si perempuan.
Yaya tahu siapa mereka. Itu adalah dia dan Halilintar!
Seulas senyum sendu muncul di bibirnya. "Lintar."
Halilintar bergumam. "Mn?"
"Terima kasih dan maafkan aku. Tidak tahu sampai kapan kondisi ini berulang, tapi kuharap kau selalu ada bersamaku. Meskipun aku akan selalu melupakan hal yang terjadi hari ini pada keesokan harinya. Selama ada kau di sampingku, mungkin bukan masalah. Entah bagaimana perasaan kita sangat kuat sehingga ketika aku lupa pun, rasa familier saat bersamamu selalu ada," jelasnya sambil menyandarkan kepala pada dada Halilintar.
Halilintar semakin mengeratkan pelukannya dan mencium bahu sang istri.
"Kita adalah pasangan takdir," ucapnya. "Sejauh dan sebanyak apa pun rintangan, tidak ada bisa memisahkan kita selamanya."
"Lintar, aku mencintaimu."
"Mencintai Aya juga."
Biarkanlah kejadian lampau yang pernah membuat Yaya nyaris kehilangan nyawanya. Halilintar bersyukur karena perempuan itu masih ada tepat di depan matanya dan kini berada dalam pelukan hangatnya.
Penyesalan untuk kejadian itu terkadang membayangi, terlebih karena hal itu pula Yaya mudah melupakan kejadian hanya dalam satu hari. Termasuk lupa akan fakta bahwa dia telah menikah dengan Halilintar. Itu bukan masalah besar meskipun membuat hati Halilintar berdenyut sakit, selama dia masih bersama Yaya, dia akan kuat.
Dan selama itu pula, Halilintar akan terus mengingatkan Yaya mengenai hubungan dan perasaan cinta mereka.
Bagi Halilintar, Yaya adalah kehidupannya.
.
.
.
.
.
.
.
FIN
Hanya cerita sederhana karena aku lagi kangen sama Halilintar dan Yaya, our savage couple hahahaha
