Sinar terik nan panas dari cahaya matahari. Bersinar terang dihamparan luas angkasa biru. Para kawanan awan hanya terdiri dari beberapa saja. Melintasi luasnya langit sembari melindungi dataran bawah akan terangnya sinar terik. Angin berhembus agak kencang membawa beberapa benda kecil seperti debu dan daun pohon. Di cuaca seterik ini, angin yang berhembus tidak cukup untuk menghilangkan rasa panas.

Seperti biasa cuaca hari ini cerah seperti biasanya. Entah karena musimnya atau ada seseorang yang sengaja mengatur cuaca. Tentunya, disini itu bukanlah hal aneh.

Inilah Gensokyo...

Sebuah tempat kehidupan tersembunyi, dimana lokasi ini terhalang oleh sebuah penghalang mistis. Membuatnya sulit sekali untuk ditemukan. Sebuah tempat ideal, dimana manusia dan mahluk lain seperti peri, siluman, bahkan dewapun hidup bersama disini dengan damai.

Untuk menjaga ketentraman tempat ini dari dunia luar, seorang Miko dari Kuil Hakurei bertugas untuk menjaga penghalang tersebut agar tak dimasuki oleh sembarang orang. Ia juga bertugas untuk menjaga ketenangan tempat ini bilamana terjadi sebuah masalah, entah itu dikarenakan oleh manusia atau Youkai sekalipun.

Dialah Hakurei Reimu. Seorang gadis berumur 16 tahun dimana ia mempunyai tugas menjaga kedamaian tempat ini. Dia adalah seorang gadis cantik berambut hitam pekat, dimana rambutnya diikat oleh sebuah pita berukuran cukup besar. Memakai baju Miko beraksen merah dan putih. Ia juga terkadang membawa tongkat Miko miliknya ketika terjadi sesuatu di Gensokyo.

Untuk sekarang, ia sedang membersihkan kuil sekaligus rumah miliknya. Karena ini musim panas, tentu saja banyak sekali sampah berserakan di halaman rumah, seperti daun kering atau ranting pohon. Tapi ketika tidak ada kerjaan, ia lebih memilih untuk tiduran dirumah. Menghabiskan satu hari untuk bersantai saja, tanpa melakukan apapun.

Tapi sekarang, ia tak bisa bersantai. Layaknya sebuah tradisi ataupun kebiasaan. Tiap musim panas akan selalu diadakan pesta makan-makan dan minum bersama para penghuni Gensokyo. Karena itulah kuil ini menjadi ramai dikunjungi, baik oleh manusia dan Youkai sekalipun. Karena itulah, saat ini ia begitu sibuk seorang diri disini. Belum selesai membersihkan halaman kuil, ia juga harus mempersiapkan segala sesuatu untuk acara nanti.

"~Haaa... musim panas kali ini begitu melelahkan. Sudah panas juga tak ada satupun orang mau membantuku. Mungkin acara makan-makan itu harus diundur, atau mungkin dibatalkan."

Keluh kesah Reimu pada dirinya sendiri. Ketika menyadari ia harus mengurus segala sesuatunya seorang diri. Bahkan tak ada satupun manusia ataupun Youkai mau sukarela mengulurkan tangan untuk membantu. Tak terhitung berapa kali ia menghembuskan nafas lelah. Tongkat sapu didalam genggamannya sekarang sudah beralih fungsi menjadi tempat sandaran.

Tak lama, wajah muramnya langsung berubah terkejut ketika ia merasakan sebuah kehadiran seseorang, lebih tepatnya seorang Youkai. Disampingnya, ia melihat ribuan partikel cahaya berterbangan. Partikel itu menyatu dan mulai memadat hingga membentuk sebuah sosok seorang manusia.

Dia adalah seorang pria, dimana parasnya sungguh tampan dan menawan. Iris safir berwarna biru itu menatap tajam, tapi tidak menimbulkan aura menakutkan. Malahan tatapan itu seakan mencoba melihat dalam-dalam pada seseorang. Rambut pirang miliknya begitu runcing, dimana sebagian poni miliknya hampir menutupi mata. Terlebih sepasang telinga rubah milik pemuda ini, seolah menjeleskan jika dia adalah seorang Youkai Rubah.

Pemuda ini datang membawa satu pack berisi 6 botol sake. Kedatangannya semata-semata atas titah dari sang master untuk membantu Reimu mengurus pesta perjamuan nanti. Karena itu, botol berisi sake ini sangatlah penting untuk memeriahkan acara perjamuan.

"Aku datang atas perintah dari Yukari-sama untuk memberikan sake ini padamu. Aku harap sake pemberian dari Yukari-sama bisa membantu memeriahkan acara perjamuan nanti." Ucap pemuda tersebut tanpa merubah sedikitpun emosi wajahnya.

Reimu semula terkejut akan kedatangan pemuda ini namun langsung kembali memasang wajah masam. Ternyata dia, Shikigami baru milik Yukari. Yah setidaknya ia cukup bersyukur ada seorang Youkai mau datang untuk membantu dirinya. Walau sekedar memberi sajian minuman.

"Oh ternyata kau rupanya. Maaf, bisa kau taruh itu ke gudang disebelah sana." Tunjuk Reimu pada sebuah bangunan tak jauh ditempatnya.

Tak menunggu waktu lama, pemuda tersebut langsung menurut dan pergi menuju bangunan disana. Reimu sendiri tak tahu sudah berapa lama pria tersebut tinggal di Gensokyo. Ia tahu pemuda ini ketika Yukari datang kepadanya, membawa seseorang, dimana kala itu Reimu tak tahu mengenai pemuda ini. Perkenalan diantara mereka juga tidaklah terlalu berkesan. Bagi Reimu sendiri, dia adalah seorang pria loyal dan patuh pada majikannya. Reimu tahu itu dari sorot mata serta tingkah lakunya.

Tapi yah itu tidak penting. Reimu hanya berharap ada uluran tangan untuk membantu pekerjaannya. Ia seorang Miko, dimana ia mempunyai kewajiban untuk membersihkan kuil sekaligus rumahnya. Tapi sekarang, mengingat pekerjaanya ini begitu memakan waktu dan ia sedikit malas untuk melakukannya. Reimu lebih mengharapkan adanya kehadiran seseorang, entah itu seorang manusia atau Youkai sekalipun. Membantu dirinya untuk membereskan halaman, agar ia segera bisa langsung mempersiapkan segala sesuatu untuk pesta perjamuan nanti.

"Tunggu, Apa kau bisa membantuku disini?"

"Ha'i?"

"Yah kaupun pasti tahu, membereskan tempat ini seorang diri akan memakan waktu begitu lama dan itu sangat melelahkan, apa kau bisa membantuku?"

Reimu langsung saja menyodorkan sapu dalam genggamannya pada pemuda bersurai pirang ini. Iris Onyx keabuan Reimu yang malas, menatap cukup lama menuju iris biru Safir yang tajam. Reimu sendiri tak tahu, apakah permintaanya ini akan ditolak oleh satu-satunya Youkai berjenis kelamin pria di Gensokyo.

"Baiklah. Aku hanya perlu membersihkan seluruh halaman ini'kan?"

Mendengar itu Reimu hanya mengangguk pelan. Pemuda tersebut lantas langsung mengambil sapu itu dari tangan Reimu. Asal tahu saja bukanlah hal aneh di Gensokyo bila suatu hal sulit dapat terselesaikan begitu cepat, dalam hitungan detik. Bahkan bagi Reimu sendiri, ia tak tahu harus bersikap apa akan pemandangan mengenai halaman kuil miliknya. Sebelumnya banyak sekali sampah seperti daun kering dan ranting pohon berserakan disekitar halaman. Namun kini sudah bersih tanpa adanya satupun sampah tersisa. Begitu sapu digenggamannya langsung berada ditangan Youkai pria ini, Reimu langsung meregangkan seluruh tubuh miliknya agar peradaran darah miliknya mengalir lancar. Dan ketika ia membuka mata, ia sudah disuguhi pemandangan seperti ini.

"Cepat banget ya." Ucap Reimu Sweetdrop mengetahui jika pekerjaan merepotkan ini akan berakhir beberapa detik saja.

Setelah memberikan gagang sapu itu pada Reimu pemuda itu lantas kembali pergi dari Kuil Reimu. Ia pergi dengan tubuh terselimuti oleh cahaya, kemudian melesat cepat menuju langit biru luas. Reimu hanya memandang malas akan kepergian pemuda itu dari kuil miliknya.

"Hmmm... Shikigami baru milik Yukari, Yakumo Rei. Seorang Kitsune Youkai dengan kemampuan memanipulasi cahaya dan bisa bergerak secepat cahaya. Aku tak tahu dimana Yukari menemukan pria ini dan sudah berapa lama ia menjadi seorang Shikigami. Yaa sudahlah. Setidaknya dia sudah mau membantuku membereskan tempat ini."

Sedikit penjelesan dari Reimu akan pemuda bernama Yakumo Rei tadi. Seorang Shikigami baru milik Yukari, dimana Reimu masih belum mengetahui lebih dalam akan pria ini. Lagipula entah ini suatu mukjizat atau sebuah pertanda. Pasalnya hampir semua manusia dan Youkai di Gensokyo adalah wanita. Dan akhirnya ada satu laki-laki hadir untuk mengisi kekosongan tersebut. Yah, Reimu sendiri tak begitu ambil pusing akan hal ini. Ia juga tak terlalu tertarik akan pria bersurai pirang tadi. Ia berterima kasih padanya karena sudah mau meringankan pekerjaannya. Saatnya kembali bersantai, itulah yang akan dilakukan Reimu sekarang. Lagipula acara makan-makan itu masih ada waktu sekitar 2 hari lagi.

Disclaimer: Masashi Kishimoto dan ZUN

Shikigami: Yakumo Rei

Genre: Adventure, Supernatural, Family dan lainnya.

Main Chara: Yukari, Ran, Naruto.

Rate: T

Warning: AU, OOC, Typo bertebaran, Bashing chara, alur terlalu cepat dan kesalahan lainnya.

Enjoy It!


Naruto Pov

Dalam hidupku ini, aku begitu putus asa. Ketika berada disebuah pulau seorang diri hingga terbaring menahan rasa lapar tiada henti. Terbesit dalam benakku, unt uk mengakhiri kehidupanku ini sekarang juga. Melepaskan semua rasa sakit dan penderitaan ini, dimana akhirnya aku akan terbebas dari kehidupan penuh penderitaan. Hingga akhirnya, mata ini tak kuat untuk terus menatap kejamnya kehidupan. Aku merasa semua beban dalam hidupku hilang saat itu juga. Ketika sang kegelapan datang dan langsung menyelimuti diriku.

Akan tetapi, sebuah cahaya teramat terang dan menyilaukan datang. Mengusir semua kegelapan yang ada. Cahaya kedatangannya begitu terang, membuatku terpana akan cahaya indah miliknya.

Aku terbangun. Mata ini kuyakini akan terpejam untuk selamanya, kembali terbuka. Mata ini yang semula redup mulai menampakkan kembali sinar kehidupan. Aku kembali terbangun, tanpa merasakan sakit apapun dalam tubuhku. Sejenak aku terdiam disana, merasa aneh akan situasi sekarang ini. Hingga aku tahu apa yang terjadi padaku. Sekarang ini, aku bukanlah lagi seorang manusia.

Youkai...

Itulah diriku sekarang.

Tapi mengapa, bahkan dalam wujud baruku ini hidupku seperti tak berubah. Masih saja seorang diri. Aku kemudian berpikir, bagaimana jika aku pergi saja dari pulau ini dan mencoba mencari kehidupan. Tapi aku tahu satu hal, tak ada tempat untuk seorang Youkai. Anak kecil sepertiku tahu akan hal itu. Dan lagi-lagi, aku kembali putus asa akan kehidupanku.

Namun itu semua tak berlangsung lama. Terpaku akan kesendirian dipulau ini, dimana kembali meratapi nasib akan kehidupan baru yang tak banyak berubah. Dia datang. Seorang wanita cantik bersurai pirang panjang. Mempunyai iris mata berwarna violet cerah seindah permata. Aku sempat mempertanyakan kehadirannya dipulau ini, namun itu tak berlangsung lama. Sesaat aku menganggapnya sebagai seorang manusia, tapi anggapan itu langsung kutepis begitu saja

Ia sama sepertiku. Wanita cantik dimana aku sempat menyangkanya sebagai manusia, adalah Youkai. Dia datang kepulau ini bersama seorang anak perempuan. Dia terlihat seumuran denganku, atau mungkin usianya sekitar 3 tahun lebih tua dariku. Mempunyai surai pirang serta iris mata berwarna kuning keemasan. Dia sama sepertiku, seorang Kitsune Youkai dimana dia mempunyai 4 ekor rubah.

Yakumo Yukari, seorang Youkai dimana mempunyai kemampuan memanipulasi batas dunia, serta Shikigami miliknya yang bernama Yakumo Ran. Yakumo Yukari, tanpa memandang jenis dan bagaimana asal-usulku, mau menjadikan diriku ini sebagai Shikigami miliknya. Menjadi satu keluarga bersama beliau.

Semenjak saat itu...

...

..

.

Hidupku berubah.

Aku tak tahu, berapa lama waktu berlalu diantara aku dan beliau. Terhitung aku bersama beliau sudah melakukan banyak sekali perjalanan. Aku juga tak tahu berapa kali aku singgah disuatu tempat. Bahkan jika tempat itu bukanlah sembarang tempat. Perjalanan antar dimensi bersama beliau, membuat ku sedikit tahu akan sebagian rahasia alam semesta.

Dalam perjalan itu aku juga berlatih banyak hal dari Shikigami pertama, Yakumo Ran. Sama seperti diriku, dia juga seorang Youkai berjenis rubah. Perbedaan diantara kami berdua bisa dilihat dari jumlah ekor. Jika aku melihat dari sudut pandang lain, Ran-sama itu bagaikan seorang senior handal. Tingkat kemampuan Ran-sama juga begitu tinggi serta pemahaman beliau dalam menganalisis segala sesuatu tak bisa diremehkan. Melihat itu semua aku menyadari jika pandanganku pada Ran-sama sedikit kurang ajar.

Sadar akan hal itu aku berpikir untuk merubah cara pandangku terhadap Ran-sama. Dimana sebelumnya aku memanggilnya sebagai seorang senpai. Walaupun perhormatan terbesar kuberikan pada Yukari-sama, tapi bukan berarti Ran-sama tidak berhak untuk diperlakukan seperti itu. Malahan aku berpikir itu pantas untuknya. Mengingat kembali semua hal diantara aku dan Ran-sama, tentang semua pembelajaran dan latihan yang dia ajarkan padaku. Aku rasa itu memang tak salah.

Karena pemikiran ini, aku mulai menambahan akhiran –sama pada beliau, seperti halnya aku memanggil majikanku dengan akhiran –sama….

Dan itu berakhir dengan penolakan tegas dari beliau.

Aku tak mengerti kenapa beliau menolak. Bukankah sebutan itu rasanya begitu cocok. Tapi kenapa Ran-sama menolaknya. Aku sempat bertanya kepada Ran-sama, kenapa ia tak mau jika aku memanggilnya dengan hormat. Agak penasaran memang kenapa Ran-sama menolak sebutan itu secara tegas.

Namun ketika mendengar penjelasannya, aku bisa sedikit mengerti. Tapi disisi lain aku juga tak bisa menerimanya. Ran-sama hanya berkata jika sebutan itu sangat tidak cocok untuk seseorang seperti dirinya. Lagipula memanggil dirinya seperti itu dirasa tak cocok, ia masih mempunyai kekurangan dan tak pantas dipanggil seperti itu, bahkan olehku.

Aku sebenarnya ingin berkata bahwa Ran-sama tak memiliki kekurangan. Bakat, kemampuan, serta kekuatan miliknya, sama sekali tak perlu diragukan. Karena itu Ran-sama sama sekali tak mempunyai kekurangan. Namun mendengar penolakan tegas dari beliau barusan, membuatku tak bisa mengungkapkan pendapatku ini.

Kami akhirnya sedikit berdebat. Perdebatan ini dipicu olehku karena aku sedikit bersikeras untuk memanggil beliau dengan akhiran –sama. Jikalau memang tak pantas, setidaknya masih ada beberapa panggilan hormat untuknya, seperti guru misalnya. Namun aku tak paham kenapa Ran-sama terus menolak. Apapun pendapatku, apapun panggilan hormat untuk beliau, semuanya secara tegas ditolak. Melihat ini aku berpikir jika Ran-sama memang tak mau diperlakukan begitu hormat seperti Yukari-sama. Tidak, itu tidak boleh. Bahkan jika Ran-sama seorang Shikigami sama sepertiku, namun bagiku Ran-sama mempunyai kasta berbeda.

Kupikir jika perdebatan ini tak akan cepat selesai. Bisa saja semua ini hanya akan menemui titik buntu dan tak akan menemui jalan keluar. Namun siapa sangka, ucapan itu akan keluar begitu saja. Tak terbesit didalam pikiranku, malah hal seperti itu seakan tak akan terjadi. Sempat terdiam ketika mendengarnya, namun aku tahu ucapan lembut itu bukanlah sebuah ilusi.

"Rei, kau tak perlu bersikap penuh hormat kepadaku sama halnya terhadap Yukari-sama. Lagipula kita berdua ini adalah sama. Seorang Shikigami dan Youkai rubah. Umur kita juga bahkan tak terlalu jauh. Maka dari itu, kau tak perlu bersikap penuh hormat kepadaku."

Aku masih tak merubah sikapku bahkan saat Ran-sama menolak panggilan hormat dariku. Aku bisa melihat tatapan lembut nan tajam dari iris matanya ketika mengutarakan penolakannya. Melihat itu, jika aku kurang terlatih, sikap tenangku bisa saja goyah. Namun, entah kenapa tiba-tiba sikap Ran-sama agak berubah.

"Kau tahu Rei. Aku memikirkan kembali akan semua waktu yang telah kita lalui bersama. Ketika pertama kali kita bertemu, saat kau mulai menjadi Shikigami, saat kita belajar dan berlatih bersama. Menghabiskan beberapa ratus tahun bersamamu, membuatku sadar akan satu hal. Rei, sebenarnya aku lebih suka jika kau menganggapku sebagai seorang kakak. Bukanlah sebagai seseorang yang begitu dihormati. Menghabiskan banyak waktu bersamamu, membuatku berpikir jika aku mempunyai seorang adik. Rei, aku akan senang jika kau bisa memanggilku Nee-san".

Aku tertegun begitu mendengar Ran-sama mengutarakan pendapatnya. Wajah yang tenang dan anggun miliknya tiba-tiba berubah. Aku bisa melihat semburat merah dikedua pipinya ketika beliau mengatakan keinginannya barusan. Seorang kakak. Ran-sama ingin aku memanggilnya seperti itu.

"H-hal seperti itu, Ran-sama itu sangat tidak sopan. Aku tak bisa memanggil anda dengan panggilan dekat seperti itu."

Tentu saja, aku tak langsung bisa menerima keinginan Ran-sama begitu saja. Aku langsung memberikan penolakan tegas, walau sedikit tergagap. Karena bagiku, sikap seperti itu sangat tak sopan dan kurang beretika. Derajat Ran-sama begitu tinggi dariku. Bisa dikatakan satu tingkat dibawah Yukari-sama. Karena itu aku tak bisa menerima keinginan Ran-sama untuk memanggilnya dengan sebutan Nee-san.

Mendengar penolakanku. Aku melihat raut kekecewaan dari Ran-sama dimana beliau sedikit menghela nafas. Melihat itu, tubuhku merasa tak bisa tenang. Jantungku bahkan berdegup lebih kencang.

"Rei, yang barusan itu sungguh membuatku kecewa. Seharusnya kau langsung menerima usulanku begitu saja tanpa perlu menolak dengan tegas. Kau tak tahu berapa lama aku…"

Raut wajahku yang semula tenang langsung berubah. Aku terkejut mendengar kekecewaan dari Ran-sama akan penolakanku untuk memanggilnya seorang kakak. Iris safirku membulat dan perasaan tak tenang langsung menyerang diriku. Dihadapkan pada kata-kata penuh kekecewaan dari beliau, membuatku sangat tak nyaman. Untuk ucapan di akhir, aku tak bisa mendengarnya dengan jelas.

"Bu-bukan begitu, Ran-sama. Bukan berarti aku tidak mau. Ini seperti aku tak memahami batasanku sebagai seorang Shikigami. Aku hanya tak ingin berperilaku tak sopan dan kurang ajar pada anda."

"Bahkan jika aku sendiri yang memintamu untuk melakukannya?"

"Kalau untuk itu aku…"

Aku tak tahu harus berkata apa lagi kepada Ran-sama. Itu benar saja jika Ran-sama sendiri yang memintanya. Akan tetapi, aku yang seorang Shikigami merasa enggan untuk melewati batas. Aku tahu Ran-sama ini bukanlah masterku. Tetapi karena beliau ini adalah seorang Shikigami dari master yang sama, membuatku sadar akan adanya beberapa perbedaan antara aku dan beliau. Membuatku berpikir untuk berperilaku lebih dekat dari biasanya sungguh tak bisa kulakukan.

"Rei, apa memang begitu sulit, memintamu untuk menganggapku seorang kakak. Dan juga apakah memang sesulit itu, untukmu memanggilku sebagai seorang kakak."

"Itu…"

Tetap saja aku tak bisa memberikan penjelasan lainnya pada Ran-sama. Sampai membuat Ran-sama meminta seperti itu, membuatku merasa sangat bersalah. Apa yang harus kulakukan.

"Biarlah, jika kau memang enggan untuk mengabulkan-"

"Bukan seperti itu Ran-sama!"

Tepat ketika Ran-sama akan mengalah pada keinginannya untuk dianggap seorang kakak, saat itu juga sikap tenangku berubah tiba-tiba. Aku dengan cepat menyanggah kata-kata dari Ran-sama barusan. Melihat perubahan tiba-tiba pada diriku, Ran-sama juga menunjukan raut terkejut.

Sadar akan perubahan tiba-tiba dariku, aku lantas menenangkan diriku. Sedikit mengambil nafas dan membuangnya, serta mengatur detak jantungku yang tidak karuan. Mendapatkan kembali ketenanganku, aku akhirnya mengutarakan isi pikiranku.

"Ran-sama, sejujurnya, jauh didalam lubuk hatiku aku melihat anda sebagai sosok yang hebat seperti Yukari-sama. Kekuatan beserta keterampilan anda begitu memukau. Selama berada dalam bimbingan anda, aku sadar ada satu hal lagi yang kulihat dalam diri anda. Sosok seorang kakak. Anda yang begitu cekatan dan terampil dalam membimbingku. Tak lupa sosok anda yang begitu ramah namun bisa menjadi tegas bila perlu. Sekian waktu yang kuhabiskan bersama anda, membuatku berpikir jika anda adalah Kakakku."

"Kalau begitu Rei-"

"Tetapi! Aku adalah Shikigami Yukari-sama, begitupun juga anda. Aku sadar akan posisiku yang mana lebih rendah dari anda. Pikiranku yang menganggap anda sebagai kakakku terkesan menghina anda. Oleh karena itu aku memendam pemikiran ini jauh-jauh didalam diriku. Sosok Ran-sama sebagai guru dan seniorku, yang mana kuanggap sebagai kakakku."

Akhirnya aku mengatakan isi hatiku. Perasaan gundah dari dalam lubuk hatiku akan sosok Ran-sama dimana mulai terlihat sebagai seorang Kakak. Itu benar. Seorang kakak yang benar-benar sempurna, bila harus kukatakan. Aku sendiri pernah mempunyai seorang kakak ketika masih menjadi manusia. Tetapi, hubungan kami sendiri tidak sedekat itu untuk mengetahui akan diri masing-masing. Aku tak tahu apakah dia benar-benar seorang kakak yang baik atau sebaliknya.

Bahkan setelah mengatakan semua ini aku masih belum bisa membuat diriku tenang. Tak tahu apakah Ran-sama akan tetap memaksaku untuk memanggilnya sebagai kakak. Jika itu terjadi aku tak tahu harus menerimanya atau tetap menolak. Sejujurnya aku tetap menyukai hubungan layaknya seorang guru dan murid, ataupun seorang senior dan junior. Dengan begitu aku bisa membuktikan jika diriku pantas untuk menyandang gelar sebagai seorang Shikigami milik Yukari-sama dan juga murid dari Ran-sama.

Berpikir jika pembicaraan ini akan tetap berlanjut aku mencoba untuk mencari jawaban lain yang sekiranya bisa diterima oleh Ran-sama. Itu yang kupikirkan. Tetapi melihat wajah Ran-sama sekarang, melupakan sejenak akan pikiranku. Itu adalah ekspresi yang jarang diperlihatkan oleh Ran-sama. Wajah itu menunjukan sebuah senyum lembut dan begitu tenang. Serta iris kuning milik Ran-sama terlihat lebih lembut ketimbang biasanya.

Tak lama Ran-sama mulai melangkah mendekati diriku. Dalam setiap langkahnya aku hanya bisa melihatnya dalam diam, ketika Ran-sama mulai mendekati jarak diantara kita. Sekarang posisi antara aku dan beliau saling berhadapan satu sama lain. Perlahan tangan beliau yang biasanya sering disatukan diantara perut terlepas. Dengan lembut tangan lentik milik Ran-sama kemudian memegang salah satu tanganku dengan kedua tangannya. Kuharap tangan milikku yang sedikit bergetar tidak membuat Ran-sama menjadi tak nyaman.

"Aku tak tahu harus membalas seperti apa, pada isi hatimu yang barusan kau ungkapkan. Tetapi, aku bisa yakin pada satu hal, bahwa kau memang melihatku sebagai seorang kakak. Aku sangat senang jika jauh didalam lubuk hatimu kau melihatku seperti itu. Disatu sisi, aku juga sedikit kecewa karena kau tak mau memanggilku Nee-san."

Aku memilih diam mendengarkan setiap kata-kata yang diucapkan oleh Ran-sama. Seperti yang sudah diduga jika Ran-sama sendiri masih mempunyai kekecewaan karena aku tak mau memanggilnya Nee-san. Maafkan aku Ran-sama, aku masih tak bisa untuk memanggil anda seperti itu.

"Tapi tak apa, Rei. Bisa mendengar isi hatimu cukup membuatku puas. Kali ini aku akan mengalah pada keputusanmu. Tetapi, aku akan tetap menunggu sampai kau bisa memanggilku Nee-san tanpa ada perasaan bersalah didalam dirimu. Aku benar-benar menantikannya."

Aku kembali tertegun pada keinginan kuat dari Ran-sama untuk tetap meyuruhku memanggil dirinya sebagai kakak. Tetapi aku juga sama seperti Ran-sama yang ingin tetap menunjukan rasa hormat sebagaimana aku menghormati masterku.

"Ran-sama…"

Aku hanya bisa memanggil beliau dalam ketertegunanku melihat paras Ran-sama sekarang. Sungguh hangat dan menenangkan. Seperti halnya perwujudan seorang kakak yang akan terus mendukung adiknya. Aku sadar akan keinginan teguh dari Ran-sama untuk tidak menyerah akan keputusannya. Dengan kata lain Ran-sama memberikan aku waktu bagiku untuk bisa memanggilnya kakak. Aku tak tahu apakah aku benar-benar bisa memanggilnya seperti itu.

Hari itu perdebatan kecil diantara kami berakhir dengan kemenanganku. Tidak bukan begitu. Ini bukan sesuatu yang pantas disebut sebagai kemenangan. Ini hanyalah jangka waktu sampai aku bisa memanggil Ran-sama dengan sebutan kakak. Untuk hal seperti ini aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri untuk memanggil beliau dengan kakak atau terus memanggilnya dengan tambahan –sama. Aku sempat berpikir untuk mendiskusikan hal ini dengan Yukari-sama, tetapi aku langsung mengurungkan niat tersebut. Ini bukanlah suatu hal yang mana Yukari-sama perlu untuk turun tangan. Ini murni adalah masalahku. Maka aku harus menyelesaikannya sendiri.

Naruto POV end.

Hari dimana pembicaraan diantara Rei dan Ran sudah berlalu. Sebuah perdebatan kecil antara Ran yang ingin dipanggil seorang kakak, dan Rei yang tetap bersikeras untuk memanggil beliau dengan hormat. Setelah mengutarakan isi hatinya, Ran sendiri memilih untuk menerima itu dan mengalah akan kainginan kecil. Tetapi ia tidak menyerah dan akan tetap membujuk Rei agar senantiasa memanggilnya kakak dan berhenti memberikannya sikap penuh hormat.

Semenjak kejadian dihari itu tak ada perubahaan berarti diantara mereka berdua. Entah itu Rei sendiri akan merasa canggung ketika melihat Ran. Setiap harinya berjalan seperti biasa dengan rutinitas yang sama. Seperti berlatih menggunakan sihir dan spellcard, mengunjungi suatu tempat bersama sang majikan, ataupun menghabiskan setiap harinya bersama para penghuni lain Gensokyo.

Pada dasarnya hal, setelah perdebatan itu merupakan hal yang wajar saja jika Ran maupun Rei merasa canggung ketika berada bersama. Seperti tergagap ketika berbicara atau sedikit melakukan tindakan ceroboh. Jika secara tak langsung bisa saja enggan untuk melihat satu sama lain.

Tetapi hal tersebut tidak terjadi diantara mereka berdua, entah itu Ran maupun Rei. Sikap mereka cenderung sama seperti biasanya. Jika ada perubahan mungkin itu ada pada Ran yang lebih lunak kepada Rei, lebih sering menunjukan senyum kepadanya. Untuk Rei sendiri, ia mencoba sebaik mungkin itu bertingkah seperti biasanya. Patuh dan penuh hormat. Tetapi ada kalanya ia sendiri menjadi lebih lunak. Mungkin karena pembicaraan mereka sebelumnya.

Itulah yang terjadi kepada mereka berdua. Segala sesuatunya berjalan seperti tak ada masalah. Untuk Yukari sendiri, melihat mereka berdua tampak berbeda dari sebelumnya. Ia yakin jika terjadi sesuatu diantara mereka. Yukari sedikit penasaran dan ingin tahu akan hal apa yang terjadi diantara mereka. Tapi ia tak keberatan, walau entah kenapa ia agak merasa tertinggal. Malah ia sendiri bersyukur jika hubungan mereka berdua menjadi lebih dekat.

Bagi Rei sendiri, ia tetap menjaga perilakunya untuk tetap patuh dan penuh hormat. Tapi meski begitu Rei sendiri mencoba yang terbaik untuk membenahi dirinya ketika berada dihapadan Ran. Rei dulu selalu memasang wajah serius dan terkesan dingin. Namun terkadang ia juga memperlihatkan ekspresi yang lebih lembut dan mencoba sedikit berekspresi. Melihat ini, Ran sendiri tertawa dalam hati dan sedikit menunjukan senyum kecil terhadap Rei. Melihatnya seperti ini malah membuat Ran sendiri sering menggodanya untuk langsung saja memanggilnya kakak ketimbang menggunakan akhiran –sama. Setelah diberitahu seperti itu sikap Rei sendiri menjadi kalang kabut. Kemudian ia langsung memutuskan untuk kembali seperti biasanya.

Berbicara mengenai kehidupan Rei di Gensokyo, bisa dibilang biasa-biasa saja. Sama seperti beberapa Youkai maupun manusia disini. Rei cenderung menghabiskan waktu menjalankan rutinitasnya secara tetap. Seperti berjalan-jalan di setiap tempat di Gensokyo ataupun berlatih bersama dengan Ran untuk memperdalam kemampuan. Jika mempunyai waktu luang Rei biasanya akan menghabiskannya untuk mengunjungi beberapa kenalan dan menyapa mereka.

Rei tidak sendiri, ia akan ditemani oleh seorang anak perempuan dengan umur berkisar 7 tahun. Tentunya dia adalah seorang Youkai sama seperti Rei. Youkai dengan tipe Nekomata dimana mempunyai 2 helai ekor. Nama dari Youkai ini adalah Chen, dan dia merupakan seorang Shikigami yang mana dipanggil oleh Ran. Dengan kata lain Ran adalah master dari Chen. Sebenarnya ini agak mengejutkan. Seorang Shikigami mampu melakukan kontrak untuk menjadi master dari Shikigami itu sendiri. Melihat ini, Rei sendiri tak terlalu memikirkan semua ketidakmungkinan tersebut. Ia tahu kemampuan dari gurunya sangatlah tinggi, hal seperti ini tidaklah sulit untuk Ran.

Ran sendiri memerintahkan Chen untuk menghormati Yukari sebagai master tertinggi diantara mereka bertiga. Terbesit didalam pikiran Ran untuk menggoda Rei dimana ia memerintahkan Chen untuk memanggil Rei sebagai kakak. Chen yang saat itu yang belum tahu apa-apa lantas mengiyakan saja. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama ketika ia menyadari jika aura dari Rei sendiri hampir sama seperti masternya. Karena itu Chen akhirnya melupakan kejadian itu dan langsung memanggil Rei dengan akhiran –sama. Meski masih terlihat muda, tapi Chen sendiri mempunyai kecerdasan lebih tinggi untuk anak seumurannya. Karena itu ia paham betul apa itu yang namanya rasa salah.

Untunglah bagi Rei karena Chen tak memanggilnya sebagai kakak.

Hal itu memang sudah berlalu agak lama dan menjadi sebuah kenangan lucu untuk diingat. Bukan berarti Rei sendiri tidak suka dipanggil kakak oleh Chen. Rei hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada Chen setelahnya. Karena itu dengan inisiatif sendiri Rei meminta Chen untuk memanggilnya menggunakan nama saja.

Chen sendiri, sebagai seorang Youkai dengan usia yang bisa dikatakan paling muda. Dia tidak jauh berbeda dari gadis kebanyakan. Begitu bersemangat serta riang dan gembira. Gambaran umum seorang anak kecil seusianya. Melihat tingkah Chen seperti ini Rei sendiri tidak merasa keberatan. Ia agak memakluminya karena usianya yang masih muda. Ia sendiri tak lupa untuk memberinya sedikit pembelajaran dan saran agar kedepannya ia bisa sedikit mandiri.

Untuk sekarang Rei sendiri tak akan menggubris tingkah anak kecil yang dimiliki oleh Chen. Seperti halnya bergandengan tangan layaknya anak dan orang tua, ataupun berpangku diatas tubuh Rei. Chen sendiri memang senang jika ia bisa berada dipangkuan pundak Rei. Disamping tak perlu berjalan, Chen sendiri bisa melihat pemandangan dari sudut pandang yang lebih tinggi.

Sadar akan tingkah manja dari Chen, Rei sendiri memilih untuk membiarkannya. Ia sendiri memang tak terganggu dan entah kenapa ada perasaan nyaman didalam dirinya. Terlebih Chen sendiri juga suka bermain dengan ekor miliknya, entah itu melilitkannya dileher ataupun memeluknya dengan erat. Melihat tingkah manja Chen seperti itu juga rasanya seperti menambah suasana baru disekitar Rei.

Baiklah. Bersama dengan Chen, kali ini Rei akan menghabiskan waktu dengan pergi ke beberapa tempat.

Ngomong-ngmomong. Berbicara mengenai sang master, Yakumo Yukari. Terhitung agak lama dimana beliau mengerjakan tugasnya. Bukan tanpa alasan kenapa Yukari jarang sekali untuk menghabiskan waktu bersama mereka. Ini dikarenakan tugasnya sebagai Youkai untuk menjaga perbatasan Gensokyo dan dunia luar. Jika dia tak memenuhi tugasnya, maka Kekkai pelindung Gensokyo akan menghilang. Dan bisa saja hal buruk terjadi bila ia melalaikan tugasnya.

Gensokyo sendiri terdiri dari berbagai jenis mahluk hidup, mulai dari manusia, penyihir, Vampir, Youkai bahkan dewa. Setiap kehidupan disini juga bukan berarti damai seterusnya, terkadang ada beberapa insiden pernah terjadi di Gensokyo, seperti terlambatnya musim semi atau saat langit berubah menjadi merah darah. Untungnya semua insiden itu bisa diatasi oleh seorang Miko dari kuil Hakurei.

Untuk sekarang insiden seperti itu tidak lagi terjadi, tapi bukan berarti kelak insiden serupa tak akan terjadi. Pasti selalu ada, entah itu manusia atau Youkai kelak akan mengganggu kedamaian ditanah ini. Tapi untuk sekarang kedamaian masih tetap terjaga.

Shikigami: Yakumo Rei

Acara perjamuan akhirnya dimulai. Lokasi perjamuan saat ini berada di kuil Hakurei, otomatis Reimu saat ini menjadi tuan rumah untuk mengurus segala macam kebutuhan. Entah itu mulai dari makanan, tempat serta minuman. Seakan menjadi hal wajib untuk disajikan, sake merupakan minuman yang harus ada. Bahkan terkadang jumlahnya sedikit diluar perkiraan. Jikalau lebih dari perkiraan terkadang jumlah sake tersebut bisa saja kurang. Mengingat banyak sekali tamu serta kegemaran mereka terhadap sake, bukan tak aneh jika jumlah tersebut bisa dikatakan kurang.

Acara ini sendiri digelar pada malam hari. Tak peduli jika malam itu begitu gelap mengingat Gensokyo sebagian besar wilayahnya adalah hutan. Jikapun kegelapan menutupi setiap tempat, sinar bulan dari Gensokyo cenderung bersinar lebih terang ketimbang didunia luar. Itu sudah cukup untuk memberikan sinar terang dalam menerangi gelapnya malam. Lagipula Sake akan terasa nikmat diminum dimalam hari bersama sang bulan.

Meski memang nikmat, tapi tidak dengan keadaan Reimu sekarang.

Ia tahu sake sendiri merupakan minuman favorit setiap orang, termasuk dirinya. Tapi akan lebih nikmat lagi jika minuman itu disajikan oleh seseorang. Ia yang biasanya leha-leha didalam kuil harus menjadi kuli angkut. Membawa beberapa rak berisi botol sake serta hidangan yang akan disiapkan. Tak aneh jika ia mengeraskan wajahnya guna menahan beban dari sake yang sedang ia bawa.

Ia berharap setidaknya ada 2 orang lebih mau membantu dirinya membawa rak-rak ini. Terhitung ia sudah beberapa kali bolak-balik dari ruang kuli ketempat penyimpanan. Maka tak aneh jika ia berwajah masam. Disampingnya ada salah satu Yokai dengan dua tanduk agak panjang, bertubuh kecil dimana membawa beberapa wadah bundar yang berisi sushi. Dia membawa wadah itu menggunakan satu tangan sementara tangan satunya lagi memegang botol sake. Terlihat dia sendiri juga sudah cukup mabuk berkat botol ditangannya.

"Oi Suika, kau juga bantu aku membawa beberapa lagi muatan dibelakang sana. Kau itu Oni bukan. Kau pasti punya kekuatan lebih besar untuk membawa barang lebih banyak."

"Jangan anggap aku sebagai tukang kuli seenaknya, Reimu. Kau juga seharusnya bersyukur aku sendiri mau mengulurkan tangan. Sudah tugasmu sebagai pengurus dari kuil ini. Tapi yaa, aku tak keberatan untuk membawa beberapa botol sake disana, asal aku langsung minum salah satu dari mereka, Gimana."

"Jangan harap. Aku sendiri baru meminum beberapa teguk saja dan harus kembali untuk mengambil lagi. Karena kau yang mau membantuku, aku sengaja tak menyuruhmu untuk membawa sake ini. Yang ada malah langsung habis sebelum sempat disajikan."

"Dasar Reimu pelit. Ayolah hanya satu botol saja. Aku mohon."

Keluh kesah Reimu membawa rak sake ditemani oleh satu-satunya Youkai yang mau membantunya. Reimu tinggal seorang diri disini, berbeda dari kuil lain dimana ditinggali lebih dari satu orang. Contohnya kuil Moriya yang mana baru saja mendapatkan seorang Miko dari dunia luar. Mengingat Kanako disana sebagai dewa yang disembah, maka tak ayal jika kuil itu sendiri mempunyai orang untuk disuruh. Sementara Reimu, ia harus melakukan ini itunya seorang diri.

Selain Suika ia tak bisa menemukan seseorang untuk diminta tolong. Ada temannya seorang penyihir bernama Marisa dimana Reimu mungkin bisa meminta tolong padanya. Tapi Reimu tahu, Marisa sendiri seolah senang melihat Reimu tersiksa seorang diri dalam menyiapkan pesta perjamuan. Untuk itu Marisa sengaja pergi dari Reimu dan akan datang begitu pesta sudah dimulai. Sialan, lihat saja akan ia ganti sake yang dia minum dengan air tawar, pikir Reimu mengingat wajah menjengkelkan Marisa.

Didalam keterpurukannya, Reimu memikirkan kembali seorang Youkai yang sudah membantunya membersihkan halaman. Sosok pemuda berambut pirang dengan tatapan tajam. Meski wajahnya cenderung agak dingin tapi dia mau membantu Reimu tanpa sungkan.

Reimu tak tahu apakah dia juga akan datang ke pesta perjamuan. Mengingat mayoritas, tidak semua tamu adalah wanita. Apa dia juga akan datang ikut serta. Reimu tak tahu kapan pastinya tapi ia belum pernah melihat pemuda ini berada di pesta perjamuan. Jika yang datang adalah Yukari maka itu hal yang wajar. Tapi bagaimana dengan pemuda ini. Jika memang dia tak akan hadir, setidaknya Reimu harap ia berada disini untuk membantunya menyiapkan pesta.

Sampai didepan pintu geser, Suika yang tidak membawa barang berat membuka pintu. Mereka berdua langsung disambut oleh pemandangan para tamu yang begitu asik menikmati makanan serta sake yang sudah dihidangkan. Reimu yakin jika sake yang barusan ia bawa sebelumnya hanya tersisa botolnya saja. Kemudian ia melihat seorang penyihir berambut pirang disana yang mana balas melihatnya dengan wajah senyum tanpa masalah.

"Oh Reimu, Suika. Ayo cepat bawa lagi sake dan makanannya. Kau lihat sendiri'kan jika sake disini masih kurang. Jangan lupa aku minta juga belut bakar dan sate ayamnya."

Melihatnya membuat darah Reimu langsung mendidih. Urat kemarahan juga terlihat didaerah dahinya.

"Lu tuh harusnya bantuin juga napa. Malah langsung senang-senang sendiri seenaknya. Gue juga mau minum sake sialan."

Bentak Reimu kepada Marisa yang asik meminum sake serta melahap cemilan yang ada. Suika sendiri yang udah ogah membantu Reimu langsung saja menyimpan bawaannya. Bergabung bersama para tamu lainnya dan langsung meminum sake yang masih tersisa ditangannya. Melihat semua orang asik Reimu mau tak mau harus mengalah kepada semuanya. Lihat saja, jika kuil lain mengadakan pesta ia sendiri tak akan tanggung-tanggung dalam menghabiskan semua makanan yand ada.

Sementara Reimu mendecak kesal kearah Marisa, pemuda yang sempat dipikirkan oleh Reimu saat ini juga berada dalam kesulitan. Berada dijalan menuju kuil Hakurei, Rei tampak berhenti sejenak sembari sorot matanya menengok kearah kuil. Tampilan dirinya tampak berbeda, dimana ia terlihat membawa barang cukup banyak. Dua rak sake berjumlah 6 botol dengan ukuran besar dan sebuah peti berukuran besar berada dipunggugnya. Peti yang dibawa Rei berisi berbagai macam makanan yang sengaja dibawa untuk menambah komoditas Reimu diacara perjamuan.

Dua hari yang lalu Rei sendiri sudah memberikan satu rak sake untuk Reimu. Itu seharusnya sudah cukup untuk membantu menambah pasokan minuman. Tetapi, atas titah dari sang master, Rei akhirnya kembali membawa tambahan minuman dan makanan. Itulah alasan kenapa dia membawa begitu banyak barang. Seharusnya Rei menggunakan gerobak untuk mempermudah membawa barang yang banyak. Namun ia tak melakukan itu. Alih-alih untuk meringankan bawaan ia memilih jalan keras dimana memanggul semuanya.

Ia berhenti disini bukan karena lelah dan tak sanggup membawa seluruh bawaannya. Rei berada dalam posisi bimbang dimana ia berpikir apa harus menghadiri acara pesta perjamuan atau tidak. Dari apa yang ia tahu, acara perjamuan ini tak jauh berbeda dari acara-acara lain dimana semua orang berkumpul dan makan bersama. Seperti yang sering dilakukan oleh para manusia. Tidak ada masalah untuk berkumpul bersama, makan bersama serta bercanda gurau bersama.

Masalah utama yang ia pikirkan adalah para tamu undangan. Mereka semua wanita, semua. Tak ada satu pun tamu undangan laki-laki. Dengan keseluruhan tamu undangan adalah wanita, Rei berpikir jika acara ini memang dikhususkan untuk kalangan wanita. Tetapi, atas titah sang master, Yukari, dimana dia berkata pada Rei untuk ikut serta diacara perjamuan, tak lupa sembari membawa tambahan makanan.

Atas titah dari sang master dimana Rei sekarang berada dalam posisi yang sulit. Ia tak bisa menolak satupun perintah dari masternya. Jika sang master memberikan perintah, seberat apapun itu akan ia laksanakan. Rei tak akan mempunyai pemikiran untuk meragukan ataupun menolak perintah dari Yukari. Jika dirinya hanya sekedar datang untuk memberikan tambahan makanan kemudian langsung melenggang pergi begitu saja. Ia takut jika perbuatannya itu hanya akan mencoreng nama baik Yukari.

"Memikirkannya malah membuatku semakin tak tenang. Maka tak ada pilihan lain selain melakukannya."

Yakin akan keputusannya Rei kembali berjalan menuju kuil Hakurei.

Tidak berlangsung lama untuk sampai dikuil Hakurei dimana pesta berlangsung. Rei sudah berada didepan gerbang masuk kuil. Hanya perlu melangkah sedikit lagi untuk tiba diruang perjamuan. Ia kembali terdiam sejenak akan keputusannya, tapi tak lama. Menuju ruangan kuil dimana pesta sedang berlangsung. Rei sampai disebuah pintu dimana bisa terdengar hirup pikuk para tamu. Lagi-lagi terdiam akan posisinya sebagai Youkai berjenis kelamin pria. Setelah sejauh ini mana mungkin ia kembali begitu saja.

"Kuharap Chen ada disini menemaniku."

Menahan rak sake menggunakan salah satu tangan, Rei kemudian melakukan hal yang sopan ketika berkunjung ke rumah seseorang.

Tok! Tok! Tok!

Itu benar Rei memilih untuk mengetuk pintu tersebut ketimbang langsung membukanya tanpa permisi. Entah Reimu ataupun orang lain akan mendengarnya.

"Masuk saja. Jangan sungkan."

Dari suaranya itu pasti Reimu, tapi kenapa harus terdengar ogah-ogahan.

Menerima izin dari pemilik kuil. Rei lantas membuka pintu itu lebar-lebar. Suasana hirup pikuk yang tadinya meriah tiba-tiba langsung berubah seketika. Tepat kemunculannya memasuki pesta perjamuan, segala aktivitas pembicaraan langsung terhenti dan fokus mereka langsung teralihkan kepadanya. Reimu yang ada disana juga melihatnya dengan terkejut. Seperti yang sudah diduga hal seperti ini pasti terjadi.

Dalam keterkejutan semua orang, Rei menyusuri melalui pandangan untuk sekiranya menemukan beberapa tamu yang ia kenal. Kebetulan beberapa entitas yang ia kenal turut hadir. Mulai dari hantu berambut pink yang gemar makan banyak beserta pengasuhnya yang seorang manusia setengah hantu. Seorang penyihir energik yang suka mengakhiri setiap ucapannya menggunakan satu kata khas. Tengu gagak yang gemar memotret untuk mencari berita, entah kenapa wajahnya sendiri lebih terkejut dari yang lainnya. Dia juga datang bersama salah satu temannya yang merupakan Tengu anjing. Dua Oni dimana mempunyai perbedaan yang signifikan, khususnya ukuran tubuh mereka. Ia ingat Rei pernah ditantang untuk bertarung oleh oni berperawakan besar untuk membuktikan kekuatannya. Serta terakhir dimana ia sendiri tak yakin untuk menemuinya adalah seorang dewi berambut biru.

Rei mengenal mereka tetapi bukan berarti ia dekat untuk bisa disebut sebagai sahabat karib. Hanya sebatas kenal bertukar sapa, tidak lebih dari itu.

Mempertahankan ekspresi seriusnya, Rei lantas bicara untuk mencairkan suasana yang membeku seketika.

"Ada tambahan beberapa botol sake dan makanan yang dikirim Yukari-sama. Melihat pesta perjamuan yang begitu meriah, aku yakin persediaanmu sendiri tidaklah cukup'kan, Reimu."

"Kau itu memang cepat paham ya. Kau seharusnya datang lebih cepat dan memberiku bantuan. Aku sudah muak bolak-balik kesana untuk mengambil persediaan."

"itu sudah menjadi tanggung jawabmu."

Rei membalas singkat pada sikap malas Reimu. Walau faktanya itu memang benar jika dia sendiri kerepotan menyiapkan semua ini.

"Dimana Yukari dan yang lainnya. Apa mereka tak akan datang?"

"Beliau memiliki sedikit urusan dan akan datang terlambat. Juga, tolong jangan memanggil Yukari-sama seperti itu."

Rei sendiri tahu jika miko Hakurei ini adalah teman dekat sang master. Tapi ia tak suka bagaimana Reimu memanggil yukari menggunakan nada seperti itu. Ucapannya tadi terdengar begitu remeh dan menganggap jika Yukari adalah orang yang berkompeten. Karena itu Rei meminta Reimu untuk mengoreksi panggilannya tadi. Tentunya Reimu mengabaikan apa yang dikatakan Rei tadi. Itu agak membuatnya kesal.

Sedikit perbincangan antara Reimu dan Rei sebagai pembuka keterkejutan para tamu lain. Pembicaraan itu sendiri hanya terdiri dari ungkapan kekesalan Reimu akan pesta perjamuan. Mendengar hal itu tak membuat Rei merasa kasihan. Ia juga belum tentu mau membantunya jika ia datang lebih awal.

"INI BERITA BESAAARRR!"

Lamunan semua orang yang berpikir kepada Rei ataupun yang memperhatikan dirinya tiba-tiba teralihkan pada suara teriakan. Itu adalah teriakan yang sangat keras dan berhasil mengalihkan seluruh pandangan kearah dirinya. Suara teriakan itu berasal dari Tengu gagak dengan kamera ditangannya. Dari teriakannya itu dia langsung merangsak maju kearah Rei selayaknya wartawan mau mewawancarai seorang artis terkenal.

"Tak kusangka jika seorang Youkai yang menjadi topik pembicaraan akan menunjukan dirinya. Sebagai satu-satunya Youkai berjenis kelamin pria di Gensokyo, ini akan menjadi topik yang panas. Sebagai wartawan dari koran Bunbunmaru, aku Shameimaru Aya tak akan diam saja. Tolong berikan beberapa komentarnya sebagai satu-satunya Youkai pria."

"Oi! Berhenti memotretku terus-terusan. Itu mengganggu. Lagipula aku yakin ada satu atau dua lainnya Youkai laki-laki sepertiku. Ini bukanlah sesuatu untuk diperbincangkan"

"Oya kau tidak tahu? Tentu saja hanya kaulah satu-satunya Youkai pria di Gensokyo. Selama ribuan tahun dalam sejarah Gensokyo hanya kau saja yang tercatat sebagai satu-satunya Youkai pria."

"Entah kenapa aku merasa cemas."

Mencoba percaya diri dan yakin jika dirinya bukanlah satu-satunya Youkai laki-laki disini. Tetapi mendengar perkataan dari Tengu gagak didepannya membuat Rei menjadi sedikit gelisah. Wajah seriusnya tiba-tiba berubah lesu. Tak tahu harus mengomentari apa akan fakta yang dikatakan oleh gadis tukang koran. Rei berharap kedepannya ia bisa menemukan Youkai pria seperti dirinya.

"Terlebih lagi, menjadi satu-satunya Youkai pria pastinya membuatmu terlihat sangat beruntung bukan. Bagaimana rasanya, untuk dikelilingi oleh para wanita cantik disekelilingmu. Dari apa yang kutahu, para pria selalu mendambakan untuk dikelilingi oleh para wanita'kan."

Mendengar gagak ini membicarakan sesuatu yang terdengar buruk, Rei memilih untuk memandanganya dingin dan jijik akan opini yang ia utarakan. Mencapnya sebagai pria bejat dimana sangat senang dikelilingi oleh para wanita. Itu sungguh tercela. Sayang seribu sayang karena Rei tak pernah memiliki pemikiran seperti itu. Karenanya tatapan dingin dan jijik sudah menggambarkan perasaannya akan perkataan si gadis gagak.

"Atau mungkin kau sudah menaruh mata pada-"

"Lebih dari itu akan kuhajar kau!"

Rei langsung saja memotong apa yang akan dikatakan selanjutnya. Ia tak perlu menebak untuk bisa tahu mengenai ucapan selanjtunya yang akan ia katakan. Mendengar Rei mendengus kesal kearahnya, lantas membuat Aya sedikit mundur. Ia paham betul akan aura tak mengenakan yang keluar darinya untuk sesaat.

"Uwaaa seram seram. Yah kita simpan untuk nanti komentar tentang dirimu. Karena kita sudah bertemu, ada hal yang ingin kukatakan secara pribadi."

Wajah antusiasnya tiba-tiba hilang. Tengu itu tak lama menundukan wajahnya, ekspresinya entah kenapa tak terlihat jelas. Melihat ini Rei merasakan sesuatu merepotkan akan datang dari gadis ini.

"Yakumo Rei! Aku menantangmu untuk bertanding!"

Lihat'kan. Hal yang merepotkan langsung datang begitu saja tanpa diminta. Lagipula kenapa harus bertanding disaat semua orang sedang menikmati pesta. Rei tak tahu apa yang dipikirkan oleh gadis Tengu ini. Jika itu adalah pertandingan ringan untuk memeriahkan acara maka boleh saja. Tapi dari deklarasinya barusan, Rei yakin jika itu bukan pertandingan kecil. Terlebih kenapa harus ia yang diajak sementara ia sendiri baru datang.

"Pertandingan? Disaat seperti ini? Kau pasti bercanda'kan."

"Aku serius. Kali ini aku pasti akan mendapatkan gelarku kembali sebagai Youkai tercepat diseluruh Gensokyo. Aku tak akan diam begitu saja ketika gelarku yang tercepat beralih padamu."

Jadi itu masalahnya. Rei ingat jika ia dulu pernah melakukan sedikit percobaan untuk mengukur kecepatannya. Jarak tempuh yang diambil adalah dari ujung Gensokyo ke ujung lainnya. Kebetulan saat itu ia berpapasan dengan si gadis gagak, Aya. Rei yakin jika dia sendiri sudah memperhatikannya cukup lama. Tahu apa yang dilakukan Rei, Aya mencoba berinisiatif untuk memperlihatkan kecepatannya dalam mencapai ujung lain dari Gensokyo. Rekornya sebagai yang tercepat belum terkalahkan. Ketika Aya mengambil inisiatif ini, ia menyesali keputusannya karena sudah menantang Rei dalam adu kecepatan. Sejak kekalahannya itu, Aya membagi jadwalnya sebagai jurnalis dan menyisihkan sebagian waktunya untuk melakukan latihan khusus demi menaikan kecepatannya. Kali ini ia yakin bisa mengalahkan rubah didepannya.

Salah satu tamu undangan berambut pirang dengan topi hitam, yang mendengar pembicaraan diantara mereka berdua tampak tertarik untuk mengetahui lebih lanjut. Marisa tak tahu jika rekor kecepatan milik Aya sudah dikalahkan oleh pria disana.

"Oi Reimu, apa yang dikatakan tukang koran itu benar. Siapa sangka jika si tukang koran akan dikalahkan oleh pria ini."

"Begitulah. Terakhir kali mereka melakukannya di halaman kuilku. Aku tak mengira akan menjadi saksi dadakan untuk melihat pertandingan paling singkat diantara mereka."

"Hee. Jadi apa yang dilakukannya sampai bisa mengalahkan si tukang koran."

"Kau itu tidak tahu ya. Kemampuan utama dari pria itu adalah memanipulasi cahaya. Dengan kata lain dia juga bisa bergerak cepat layaknya cahaya."

"Eh, beneran?!. Pantas saja si tukang koran bisa kalah."

Sedikit hal yang Reimu ketahui akan kemampuan dari Rei. Seperti yang ia katakan, kemampuan milik Rei adalah memanipulasi cahaya. Dengan kemampuannya itu, dia bisa memanipulasinya sebagai bentuk serangan, pertahanan, ataupun percepatan. Bukan hanya itu saja, dia sendiri bahkan mampu memanipulasi matahari. Dimana membuatnya bersinar lebih terang ataupun membuatnya menjadi agak redup. Menyadari kemampuannya, Reimu yakin masih banyak hal yang belum ditunjukan oleh pemuda ini. Terlebih kemampuannya itu untuk mengatur langit sudah seperti dewa saja.

Kembali pada Rei dimana dia tertahan karena tingkah menyebalkan dari gadis bersurai hitam. Mereka lupa jika ia sendiri sedang membawa muatan dikedua tangan dan punggungnya. Ia bahkan melihat Reimu sudah bergabung untuk minum bersama kawanannya. Enggan untuk membantunya menghentikan tukang koran yang terus saja meracau. Apa ini, dia sengaja membiarkan dirinya dicerca pertanyaan dan keinginan oleh si tukang koran. Apa ini juga bentuk balas dendam darinya.

Biarlah, Rei tak ingin mengambil pusing akan sikap Reimu yang seperti itu. Karenanya Rei sendiri yang harus mengambil inisiatif.

"Oi Reimu, apa kau tak ingin menghentikan tukang koran ini. Apa kau lupa mengenai barang bawaanku."

Sadar akan perkataan dari Rei, Reimu sendiri agak tersentak mengingat jika dia datang kesini untuk membawakan makanan tambahan serta sake. Tetapi, sebelum dia sempat bertindak tampaknya tamu lain sudah mendahului dirinya. Itu adalah Suika, seorang Oni. Dia datang kearah Aya dan langsung menyeretnya untuk bergabung bersamanya.

"Oi Tengu, daripada kau terus mengoceh lebih baik bergabung bersama kami. Ada beberapa sake yang tersisa untuk kau teguk."

"Ah tunggu. Aku masih belum selesai. Oi lepaskan…."

Akhirnya tenang. Untuk itu Rei langsung saja melepaskan barang bawaan miliknya. Dua rak berisi 6 botol sake berukuran besar tak lupa kotak besar berisi makanan dipunggunya. Isinya sendiri bermacam-macam. Mulai dari makanan mentah seperti sushi dan sashimi, makanan bakar seperti ikan dan beberapa kentang manis, serta makanan yang digoreng dalam minyak panas. Berkat Jutsu dari Rei makanan ini tampak masih segar dan seperti baru dibuat.

"Sake ini terasa nikmat…."

"Oooh yang ini juga terasa enak…"

"Sushi dan Sashimi ini juga begitu enak dan segar…"

"Ini, ini dan Ini. Semuanya terlihat lezat…"

Sepertinya ada yang mengambil jatah lebih banyak. Rei yakin pasti wanita itu yang melakukannya. Biarlah, untuk itulah ia membawa banyak.

Kali ini Reimu tidak membantu, melainkan mengambil satu botol sake dan makanan yang dibawa oleh Rei. Itu karena para tamu lainnya juga bergerak secara inisiatif untuk mengambilnya sendiri. Tentunya yang menjadi incaran utama adalah sake, dan untuk makanan masih ada sisa sampai nanti. Tak lupa Rei menyisakan bagian khusus untuk sang master. Ia tak ingin jika sang master datang tetapi makanan yang tersedia sudah habis.

Selesai membagikan makanan serta Sake kesemua tamu, yang perlu dilakukan Rei sekarang adalah menunggu sang master sampai beliau datang ke pesta perjamuan. Akan tetapi karena ia sudah berada disini, ia ingin bertanya satu hal. Rei tak tahu harus berkata pada siapa mengenai kondisinya. Mengingat ini adalah kuil Hakurei dan Reimu adalah tuan rumah, ia rasa tak apa untuk bertanya padanya. Rei sendiri sudah cukup kenal dengan Reimu serta reputasinya sebagai Miko dari kuil Hakurei sendiri juga bukan semboyan belaka. Untuk itu akan ia katakan padanya.

"Reimu, ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Mengenai pesta perjamuan… apa aku boleh bergabung dalam pesta perjamuan."

Lagi, suasana ramai dalam menikmati makanan dan sake, harus terdiam kembali akan pertanyaan yang dilontarkan oleh Rei. Mengenai apa bolehnya ia bergabung dalam acara ini. Karena kondisi dirinya sebagai Youkai pria membuatnya berada dalam situasi yang agak rumit. Karena keseluruhan tamu dari acara ini adalah wanita, apa seorang pria diijinkan untuk bergabung atau tidak.

Mendengar itu Reimu juga tak tahu harus menjawab apa akan pertanyaan simpel yang diberikan oleh Rei. Mengizinkan dia untuk bergabung dalam acara perjamuan atau tidak. Tunggu dulu, ia sendiri tak bisa memutuskan. Hal ini perlu didiskusikan bersama para tamu lainnya, dan seharusnya itu dilakukan beberapa hari sebelum acara. Untuk itu Reimu tampak berpikir sangat dalam sampai wajahnya terlihat bingung sendiri. Melihat ini Rei yakin jika hal itu bukan sesuatu yang bisa diputuskan oleh Reimu. Bahkan jika dia sendiri adalah tuan rumah dari pesta perjamuan ini.

"Jika memang tak bisa, aku ta-"

"Tidak apa'kan. Aku sama sekali tak keberatan."

Sebuah suara tak jauh darisana langsung memotong perkataan Rei. Melihat kearah suara, Rei melihat sosok wanita dewasa disisi lain ruangan. Dari perawakan serta aura yang terpancar darinya, Rei tahu betul jika dia bukan sembarang wanita. Dia, Yasaka Kanako, adalah seorang Dewi dari kuil Moriya. Dia memperlihatkan senyum penuh rasa percaya diri dan terkesan ramah. Melihat itu, Rei sendiri memilih untuk bersikap biasa. Tapi didalam dirinya Rei merasakan sedikit guncangan dari tatapan milik dewi itu. Ia rasa hal ini ada hubungannya dengan kejadian beberapa waktu lalu.

"Tidak perlu terlalu kaku dan juga sopan. Dipesta perjamuan, yang kau butuhkan hanyalah menikmati makanan dan minum sake sepuasnya. Tidak perlu memikirkan hal yang merepotkan." Ucap Kanako kepada Rei menyuruhnya sedikit santai dan menikmati pesta perjamuan.

"Lagipula, setelah kau repot-repot membawa makanan dan minuman. Bukankah tidak sopan bagi tuan rumah untuk langsung menyuruhmu pergi, bukankah begitu Miko dari Hakurei. Aku yakin majikanmu juga tak akan senang bila hal tersebut dilakukan oleh tuan rumah'kan."

Ucapan Kanako agak lantang mengingat jika diruangan itu suasananya berada dalam keadaan senyap. Reimu sendiri hanya mengiyakan pendapat Kanako sembari memalingkan muka. Penjelasannya memang terdengar wajar, tetapi membuat Rei bergabung dengan pesta perjamuan itu beda lagi cerita. Ia tak ingin mengambil keputusan yang mana ia sendiri tak bisa memilih.

Karena itu, Kanako yang paham pemikiran Reimu tentang Rei membuatnya mengambil keputusan. Ia sendiri yang memilih pertama menyetujui Rei untuk ikut bergabung. Sebagai seorang Dewi, ia perlu sedikit untuk menaikan citra miliknya. Siapa tahu dengan ini penganutnya bertambah. Tetapi Kanako perlu memberikan dorongan untuk semua tamu yang ada. Pendapatnya sendiri belum cukup untuk membuat Rei bergabung.

"Ini bisa menjadi langkah awal untuk masa depan Gensokyo, dimana suatu hari akan datang bagi Youkai pria untuk bergabung bersama. Oleh karena itu… kalian semua yang ada disini, apa kalian setuju untuk mengizinkan pria ini bergabung dalam pesta perjamuan. Tentunya hal itu termasuk akan pesta perjamuan di lain hari. Katakanlah sekarang juga. Setuju atau tidak."

Karisma sebagai seorang Dewi membuatnya bisa berkata keras. Untuk itu dia mengumumkan niatnya untuk membuat Rei bisa bergabung dan berbaur bersama yang lainnya. Kanako tak tahu apa semua orang akan setuju pada usulan yang ia katakan. Semisalnya ada beberapa yang menolak maka ia perlu menggunakan cara lain untuk membuat mereka berkata iya. Semoga saja tak ada yang menolak.

"Aku setuju kok untuk Rei-kun ikut bergabung. Apalagi dia sudah membawa banyak sekali makanan dan sake untuk kita." Ucap seorang wanita berambut merah muda, dimana ditempat duduknya banyak sekali makanan yang ia ambil.

"Aku juga setuju kok ~ze. Ini juga merupakan pengalaman yang bagus untuk menerima tamu dari laki-laki ~ze." Marisa ikut menimpali dan setuju akan saran dari Kanako.

"Aku juga setuju. Aku penasaran akan kekuatan dari Youkai pria, dan itu pantas untuk kucoba." Kali ini datang dari seorang Oni bertubuh besar dengan tanduk runcing didahinya. Ia kemudian meminum sake dari wadah ditangannya sembari tatapannya menatap tajam kearah Rei.

Beberapa tamu lainnya kemudian mengeluarkan pendapat mereka tentang mengizinkan Rei bergabung. Satu, dua, tidak semuanya mengatakan pendapat mereka. Mendengar pendapat semua tamu yang ada, Kanako tersenyum lebar menunjukan kebanggannya karena pendapat seluruh tamu adalah setuju.

"Kalau begitu sudah diputuskan. Yakumo Rei, kau diizinkan untuk bergabung bersama kami dalam pesta perjamuan."

Meski agak tak nyaman berada dihadapan dewi ini, tapi karena sifat dewi ini juga ia bisa mengusir rasa canggungnya untuk berada dipesta perjamuan. Demi masa depan Gensokyo, itulah yang dikatakan olehnya. Hal ini terdengar rancu karena masa depan seperti apa yang akan dicapai dibawah keinginan Kanako. Apa salah satunya mengenai Youkai pria.

"Aku ucapkan terima kasihku untuk anda, Kanako-dono. Berkat anda rasa khawatirku pada pesta perjamuan sudah hilang. Ah tidak, mungkin aku juga harus berterima kasih pada Reimu karena sudah menyelenggarakan pesta perjamuan."

Rei sedikit membungkuk menunjukan sedikit hormat, mengingat stasus wanita didepannya sebagai seorang Dewi. Berbeda dengan Reimu dimana dia cukup dekat untuk memanggilnya tanpa tambahan hormat. Melihat itu Kanako sendiri tak menghilangkan senyum bangga dirinya sebagai sosok yang tertinggi disini. Sedangkan Reimu, yah sepertinya dia sama seperti sebelumnya menatap Rei dengan tatapan malas.

"Jangan sungkan. Lagipula Lebih banyak lebih meriah."

"Oh! Tak kusangka hal itu akan keluar dari Miko Hakurei sendiri."

Rei bisa paham apa yang akan dikatakan oleh Kanako sendiri mempunyai nada ejekan. Hal itu didasarkan pada kondisi keuangan dari Kuil ini sendiri. Dengan kata lain, dia miskin.

Deklarasi dari Kanako dan persetujuan semua tamu yang hadir, pesta kembali berlanjut dengan meriah. Selayaknya merayakan momen baru untuk tamu spesial yang hadir. Tidak, Rei sendiri tidak sespesial itu. Ini hanya karena kondisi dari Gensokyo sendiri karena belum ada Youkai pria. Tetapi ia senang jika semua tamu mau menerimanya dengan tangan terbuka.

Apa mungkin hal ini sengaja dilakukan oleh Yukari untuk menyuruh Rei pergi lebih dulu kepesta perjamuan. Agar ia bisa diterima oleh semua orang dan ikut berbaur bersama mereka. Jika memang benar, maka ia sangat berterima kasih pada beliau. Walau sejujurnya Rei tak keberatan bahkan jika dirinya hanya mempunyai sedikit kenalan. Tapi mungkin, hal itulah yang tak diinginkan oleh sang tuan untuk Rei tidak berbaur bersama yang lainnya.

"Ooh! Ini bagus. Sang Youkai pria akhirnya bisa diterima dalam pesta. Dan apakah dia akan melingkarkan tangannya pada seseorang yang benar-benar menarik minat dirinya. Ini bisa menjadi topik yang hangat untuk ditulis."

Gumam aya melihat bagaimana pesta menjadi antusias kembali. Namun sayang, hal itu sendiri terdengar jelas oleh telinga rubah Rei.

"Jika kau menulis sesuatu yang tak benar tentangku, aku bersumpah akan menghancurkan kamera mu itu."

Dihadapi kata-kata yang begitu tajam dari pemuda didepannya membuat nyali Aya sedikit ciut. Ia tak ingin mencari gara-gara sampai ia kehilangan sobat terdekatnya. Oleh karena itu ia memilih untuk menyerah saja.

Sampai sang master di tiba, ia sendiri akan menikmati pesta kali pertama pesta perjamuan dalam beberapa ratus tahu.

..

.

TBC.