Ketenangan Sejuk
Summary
Masa lalunya mungkin buruk, tapi semua itu berubah, semenjak kedatangan seseorang.
.
.
.
Disclaimer
Naruto dan Yosuga no Sora dimiliki oleh pemiliknya masing-masing. Author hanya meminjam mereka demi kepentingan fanfic ini.
.
.
Genre
Utama: Romance
Selingan: -
.
.
Pairing
[Uzumaki Naruto x Kasugano Sora]
.
.
Menjelang sore hari.
Pada taman ini, seorang anak perempuan terlihat duduk di ayunan, dan menangis sendirian tanpa ada (yang menemani). Entah apa yang terjadi pada anak ini, tapi satu hal pasti, dia sudah seperti itu selama beberapa saat.
Langkah kaki terdengar.
"Eh? Napa kamu nangis?"
Anak perempuan itu mengangkat wajahnya. Dia melihat seorang anak laki-laki dengan penampilan sederhana tampak cemas.
"A-Aku, aku diejek anak-anak lain karena tidak punya ayah dan ibu, dan mereka juga ngancurin istana pasirku."
Mungkin karena pemikirannya masih kecil, anak perempuan itu tidak memikirkan apakah aman berbicara dengan orang asing, dan memilih memberitahunya.
Terkejut, anak laki-laki itu memperhatikan tumpukan pasir di sisi lain taman, lalu beralih ke arahnya.
"Waah, mereka kejam sekali."
Anak perempuan itu mengangguk. Dia menyetujui perkataannya.
Berpikir sejenak, anak laki-laki itu mendapatkan ide.
"Mau kubantu benerin gak?"
"Eh? Y-Yang bener?"
"Iya."
Anak perempuan itu terdiam, perlahan tapi pasti, kebahagiaan nampak di wajahnya.
"Boleh."
Anak laki-laki itu senang.
"Kalau gitu ayo."
"Um."
Mereka membangun ulang istana pasir tersebut. Canda dan tawa mengiringi kegiatan mereka.
Malam hari tiba.
Pada bangunan tertentu di kota ini, dua orang terlihat keluar dari sana, satunya lelaki dan satunya lagi perempuan dengan rambut mencapai punggung. Mereka berjalan di trotoar sambil bergandengan tangan, dan kalau diperhatikan, terdapat semacam cincin pada masing-masing jari keduanya.
"Walau awalnya bikin was-was, tapi ending film nya cukup memuaskan."
"Yeah, apalagi bagian mereka bersatu lagi setelah berpisah karena bencana alam tsunami, itu bagian yang paling mengharukan menurutku."
"Sangat tepat."
Kemudian, gadis itu memperhatikan sesuatu, tepatnya pada sebuah toko aksesoris. Lelaki itu menyadari hal ini.
"Sora?"
"E-Eh? Ya, Naruto?"
Mereka adalah Naruto Uzumaki dan Sora Uzumaki(Kasugano). Teman masa kecil merangkap sepasang pasutri muda.
Setelah pertemuan keduanya dulu, Naruto dan Sora selalu bermain bersama, dan mereka berdua hampir tak bisa terpisahkan satu sama lain. Keduanya juga sering satu sekolah, hingga ke tahap mulai memahami apa itu 'perasaan', dan ikatan mereka berkembang menjadi seperti saat ini.
Namun, sebelum bertemu Naruto, Sora sempat mengalami kehidupan yang buruk, contohnya seperti kedua orang tuanya bercerai dan meninggalkan dia di panti asuhan.
Mendengar hal itu, Naruto bertekad kalau dirinya akan menjaga Sora, setidaknya sampai maut memisahkan mereka. Sora tentunya menangis karena terharu, dan ikut berjanji, kalau dirinya tak akan pernah meninggalkan sisi Naruto.
Naruto tersenyum.
"Kau mau ke dalam?"
Gadis itu nampak malu, tapi secara perlahan, dia mengangguk.
"Um."
"Baiklah."
Naruto dan Sora masuk ke dalam. Sejauh mata memandang, mereka melihat aneka aksesoris tersedia di sini, baik untuk gantungan kunci, casing komputer, dan masih banyak lagi. Tidak hanya itu, mereka juga memperhatikan ada produk lain di sini, seperti sofubi contohnya.
"Jadi, sudah ada rencana barang apa yang ingin kau beli?" tanya Naruto.
"Ada beberapa," jawab Sora.
Naruto mengangguk.
Dengan tenang, keduanya berkeliaran sambil mengamati keadaan sekitar, tidak lupa mengambil keranjang belanja terlebih dahulu. Mereka juga memperhatikan pegawai lain tengah sibuk melayani pelanggan berbeda.
Tak berselang lama.
Mereka berhenti tepat di area khusus, itu memperlihatkan banyak pita, gelang, dan barang imut lainnya. Sora meraih satu buah anting dan beralih pada Naruto.
"Apa anting ini keliatan bagus untukku?" tanya Sora.
"Aku percaya pada keimutanmu," jawab Naruto.
Nada bicaranya terdengar usil.
Sora memerah wajahnya, kemudian mengambil dua set anting dan meletakkan mereka ke keranjang.
"K-Kalau gitu, barang yang berikutnya."
Naruto hanya menyengir dan tidak mengatakan apapun.
Pemberhentian selanjutnya, mereka melihat aneka stiker, mulai dari kendaraan, bangunan wisata, atau wajah orang-orang terkenal. Namun, keduanya menyadari ada gambar stiker polos mungil tanpa motif apapun, dan itu terlihat cukup unik.
Seorang pegawai wanita datang menghampiri pasangan ini.
"Apa boleh saya bantu pencarian tuan dan nyonya?" tanya pegawai ini.
Nada bicaranya terdengar ramah.
Mereka merasa lega.
"Kebetulan, stiker yang ini kenapa polos ya? Apa ada maksud khusus?" tanya balik Naruto.
"Ah, stiker ini memang sengaja dibuat seperti itu, karena nantinya, gambar yang tertera adalah gambar wajah pelanggan yang membeli produk ini."
"Hooh, begitu rupanya."
Naruto beralih ke samping, tapi secara mengejutkan, dia sudah menghilang dari sisinya. Naruto menengok ke depan dan melihat istrinya itu sudah mulai menjauh bersama pegawai tadi.
"Di mana sesi pengambilan fotonya?"
"Sebelah sini, Nyonya."
Berhenti sebentar, Sora menatap Naruto, ekspresi keheranan nampak di wajahnya.
"Naruto, apa yang kau tunggu? Ayo."
Naruto (sweatdrop).
"Y-Yeah, aku akan menyusul."
Sora tersenyum.
"Bagus."
Mereka berdua mengikuti pegawai wanita itu.
.
.
.
"Stiker ini gak begitu buruk."
"Kau benar."
Tiba di rumah, Naruto dan Sora langsung mengganti pakaian dengan pakaian tidur, kemudian menata barang di kamar mereka.
Seperti saat ini, keduanya tampak mengamati stiker wajah mereka di dinding, tapi dalam bentuk chibi.
Naruto mengerutkan alis.
"Tapi, ada satu hal yang masih kurang dari gambar ini."
Sora kebingungan.
"Memangnya apa yang masih kurang?"
Naruto tersenyum ke arah istrinya itu.
"Mungkin… anak kita?"
Sora merona.
"M-Mou, bercanda juga ada batasnya." (Sora).
"Hehe, aku paham, aku paham." (Naruto).
Sora mengembungkan pipinya.
"Bener? Gak bohong?"
Naruto tertawa kecil.
"Aku beneran." Naruto menambahkan. "Tapi kalau kau masih gak percaya, apa yang harus aku lakukan sebagai jaminannya?"
Sora berpikir sejenak.
Dengan ekspresi malu-malu, dia memejamkan matanya, dan tampak bersiap melakukan sesuatu. Naruto menyadari arti dari tindakan Sora.
"Oh, baiklah."
Naruto mengecup bibir istrinya itu. Mereka berciuman dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tidak perlu waktu lama, keduanya berhenti berciuman, dan tersenyum satu sama lain.
"Karena hari sudah malam, mau langsung tidur?"
"Y-Yeah, tapi sebelum itu, umm…"
Naruto penasaran.
"Ya?"
Sora memainkan helai rambutnya secara malu-malu.
"Pas lagi bobo… boleh minta cium lagi?"
Naruto berkedip sebelum menyengir.
"Tentu saja boleh."
Sora berseri.
"Fufu, ehehe~"
Keduanya menikmati malam dengan damai.
END
A/N: Helloooooo reader-san sekalian? Gimana one-shot kali ini? Menyenangkan? Membosankan? Letakkan komentar kalian di tempat seharusnya :D
Sebenarnya ini permintaan dari seseorang, dan yeah, dengan sedikit perubahan latar belakang dan penghapusan unsur incus, moga kau suka :)
Terakhir…
Sampai jumpa di fanfic one-shot berikutnya :D
{Racemoon: Sign out}
.
.
.
Pada atraksi air ini, tepatnya di bangku penonton, satu keluarga tertentu nampak menikmati pertunjukkan (yang dilakukan) orang-orang hebat itu, khususnya putra mereka.
"Woaahh, lumba-lumba itu keren!"
Pria itu tersenyum.
"Kebetulan ayah kenal pemilik tempat ini. Nanti setelah acara selesai, kita bisa foto bareng lumba-lumba itu."
Wanita itu tertarik.
"Bukan ide yang buruk."
Sang anak gembira.
"Benarkah? Yeay!"
Naruto dan Sora tertawa kecil.
