Match for each other

.

.

.

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Match for each other © Voly Ichi Yama

Warning : AU! Typo(s), Yaoi, BL, Male Pregnancy/mpreg

Pair : AkaKi

Genre : Romance, Slice of Life

Rating : M

.

.

Apa jadinya jika seorang Akashi Seijuurou digabungkan dengan seorang Kise Ryouta?

Mungkin istilah Iblis Kecil tidaklah cukup.

.

.

.

Mungkin istilah kelahiran iblis kecil ketika dua setan bersama adalah frasa yang tepat untuk mengungkapkan situasi yang dialami oleh Kuroko Tetsuya saat ini, ah━ ralat, Kagami Tetsuya lebih tepatnya.

Mendapati kapten basket semasa SMP-nya (Akashi Seijuurou) kini menikah dengan rekan sesama pemain basket mereka (yang sekarang dikenal dengan Akashi Ryouta) tentu sebuah kebahagiaan bagi Tetsuya (selain hal itu juga berlaku untuknya, namun kesampingkan cerita mengenai diri sendiri), dan melihat hubungan mereka yang begitu baik bahkan setelah sepuluh tahun bersama.

Hal yang tak kalah membahagiakan adalah ketika keduanya dikaruniai penerus, seakan belum lengkap kebahagiaan yang mereka dapat, keduanya menambah anak kembar dalam daftar kartu keluarga mereka. Sepasang kembar laki-laki dengan tampilan layaknya orang tua mereka, sang adik begitu mirip seorang Seijuurou, dan yang lebih tua beberapa menit begitu mirip dengan Ryouta.

Manis sekali keduanya, setidaknya sampai mereka tumbuh besar dan perangai si kembar benar-benar salinan dari kedua orang tua mereka.

Sebagai mantan member dari Generasi Keajaiban, Tetsuya dan Kagami Taiga adalah pasangan yang paling sering menjadi korban penitipan si kembar, oleh sang kapten dan si rekan yang super sibuk itu. Dalihnya adalah kedua pasangan Kagami adalah orang yang paling tidak berbahaya dan mungkin orang yang tidak akan memberikan ajaran-ajaran sesat pada kedua anak Akashi.

Jangankan memberikan ajaran sesat, menolak pun keduanya tidak sampai hati dan tidak memiliki keberanian. Taiga sudah pernah berurusan dengan kepala keluarga Akashi itu dulu semasa mereka masih di SMA, pertemuan pertama yang begitu membekas membuatnya berpikir ulang untuk menolak permintaan sang kapten dari Vorpal Swords tersebut, dan tidak sampai hati adalah yang Tetsuya alami ketika Ryouta meminta tolong padanya.

Kedua kembar Akashi Seita dan Akashi Seitarou bukanlah anak nakal, bahkan keduanya begitu manis saat datang pada orang-orang yang mereka sukai, namun keisengan dan kejailan keduanya benar-benar tiada tandingan.

Masih segar dalam ingatan Tetsuya ketika ada seorang anak lelaki bermarga Fujiwara mengganggu Seita sang kakak, dan keduanya benar-benar memberikan pembalasan yang begitu pahit pada si kecil Fujiwara, mungkin ungkapan mata dibalas mata dan gigi dibalas gigi tidaklah cukup untuk ungkapkan pembalasan dendam dari si kembar Akashi.

Menciptakan trauma bahkan membentuk pribadi baru pada seorang Fujiwara berhasil mereka lakukan hanya dalam kurun waktu satu minggu. Bukannya Tetsuya tidak tahu mengenai hal itu, namun bagaimana guru-guru lain berpihak pada si kembar, Tetsuya tahu bahwa percuma untuk dirinya angkat bicara, jadilah ia diskusikan hal ini pada kedua orang tua si kembar.

Dan jawaban keduanya sungguh mengejutkan. Seijuurou sudah tentu tidak melihat kesalahan pada kedua anaknya, dan Ryouta beranggapan jika Fujiwara kecil pantas untuk mendapatkan itu semua. Kadang Tetsuya lupa darimana kedua anak itu mewarisi sifat seperti ini. Sudah jelas dari kedua orang tuanya.

Benar, kedua orang tuanya.

Seijuurou tidak pernah salah dari personanya yang tegas dan kejam, sementara Ryouta yang jauh lebih licik berhasil menyembunyikan itu semua dibalik sikap polos dan cerianya. Tidak terlihat, namun saat keduanya berada di lapangan basket, semua fasad itu terbuka jelas.

"Paman Tetsu."

Panggil suara riang yang berlari ke arahnya, Tetsuya segera menurunkan pandangannya, menemukan seorang bocah kuning yang dibelakangnya ada sang adik, mendekat pada sosoknya. Dengan senyum Tetsuya menjawab, membiarkan si pirang kecil melanjutkan kalimatnya.

"Ayah, dia sangat sayang Papa ya?"

Kedua bola biru hanya bisa mengedip beberapa kali, bergantian menatap sepasang emas dan rubi. Ada raut terkejut dari Tetsuya untuk sepersekian detik, tidak menyangka jika Akashi muda menanyakan hal demikian.

Dan Tetsuya mengangguk mantap.

"Mau Paman ceritakan? Bagaimana sayangnya Tou-sannya Seita-kun dan Tarou-kun pada Papa?"

Kedua anak itu saling pandang sebelum mendekat dan duduk di samping Tetsuya, tampak kilat-kilat penuh harap terlihat dari dua pasang bola mata tersebut.

Lagi, geli Tetsuya menemukan itu semua. Memang mereka lucu sekali, dan begitulah, Tetsuya pun memulai kisahnya.

.

.

.

.

Langit tengah bertabur bintang saat itu, begitu indah dan menenangkan, namun raut khawatir terlihat jelas pada muka si kepala merah, bahkan tidak berhenti dirinya mondar-mandir di depan pintu kamarnya.

Tidak ada yang angkat suara, karena ekspresi serupa pun tergambar jelas pada wajah tiap kepala di lorong sana.

"Aka… Seijuurou."

Seorang pria dengan rambut berwarna hijau keluar dari pintu yang sedari tadi menjadi objek beberapa orang, Akashi Seijuurou pun, yang sedari tadi mondar-mandir cepat menghampirinya.

"Bagaimana?"

Tanya pewaris tunggal tersebut, raut serius Midorima Shintarou membuatnya tidak bisa tenang.

"Masuklah."

Begitu Shintarou berucap, segera Seijuurou menghambur ke dalam, dan pemandangan pertama yang dirinya lihat cukup untuk membuat jantungnya berhenti sepersekian detik.

Peluh dan rintih kesakitan dari pujaan hati benar-benar menghancurkan hati, terlihat sahabat berambut biru mereka cukup kesulitan untuk mengarahkan kekasih hatinya.

"Ryouta-kun… ayo tarik napasnya… pelan-pelan…"

Sambil si biru praktikkan bagaimana menarik napas, berkat pengajaran sang nenek, Kuroko Tetsuya memiliki pengalaman yang cukup baik sebagai asisten seorang dokter kandungan saat ada pasien melahirkan. Setidaknya sang nenek sudah cukup baik dalam mengajari sebelum pergi untuk selamanya. Berkat itupun, dia berkesempatan untuk mendampingi Shintarou dalam proses melahirkan seorang Akashi Ryouta.

Seijuurou membatalkan niat untuk melarikan Ryouta ke rumah sakit, dan sebelum dokter kandungan mencapai kediamannya, keberadaan Shintarou beserta Tetsuya cukup membantu. Dengan langkah cepat si merah mendekat, ia berada di sisi sebelah Ryouta dan menggenggam tangannya. Erat.

"Ryouta."

Lembut ia memanggil, tatapan penuh cinta dan kasih ia berikan pada si pirang yang masih berusaha mengambil napasnya, "Lihat aku." begitu Seijuurou berkata, mengambil alih fokus si pirang dari rasa sakit yang sedari tadi menghantui.

Tubuhnya sakit, napasnya sulit diambil, seakan ada pedang yang membelah dua dirinya, air mata dan keringat sudah membanjir, bahkan bau darah mulai tercium, namun Ryouta dengan kesadaran yang masih tersisa terus mengikuti bagaimana sang suami mempraktikkan tarikan napas, pelan dan pelan, genggaman terus dipererat satu sama lain, saling memandang antara hazel dan rubi, sampai kemudian terdengar tangis melengking. Membuat lega beberapa kepala yang masih menunggu di luar.

"Kise! Tetap sadar!"

Shintarou segera berteriak ketika dilihat Ryouta akan kehilangan kesadarannya, Seijuurou pun kembali menggenggam erat tangan Ryouta.

"Ryouta, Ryouta ayo, ayo, lihat aku, lihat aku." Sebisa mungkin ia pertahankan intonasinya, menutupi rasa panik ketika Tetsuya selimuti bayi dengan surat kekuningan dengan handuk yang telah mereka siapkan. Cantik sekali bayi laki-laki itu, bulu mata lentik layaknya seorang Ryouta.

Merasakan genggaman tangannya mengerat, Ryouta kembali menarik kesadaran, matanya kembali dibuka saat dilihatnya Seijuurou sekali lagi membimbingnya dalam praktik bernapas, jerit pilu dan sakit kembali terdengar, rasa sakit seakan dirinya dibelah menjadi dua kembali terasa, dan air mata, peluh serta anyir darah kembali menyeruak.

Sakit, sakit sekali. Ryouta berusaha keras untuk kelahiran anak kedua mereka. Dan kembali suara tangis nyaring terdengar, bersahutan dengan bayi yang masih berada di dalam gendongan Tetsuya.

Pelan, kesadaran Ryouta pergi, namun masih berusaha ia pertahankan saat Seijuurou memeluk tubuhnya, mengusap kepalanya perlahan dan membisikkan kalimat yang ciptakan senyum pada Ryouta.

"Terima kasih… terima kasih… Ryouta sudah berjuang… terima kasih…"

Lirih, penuh kasih ia ucapkan, seakan keputusasaan dan harap bercampur jadi satu, menciptakan sesak yang bahkan sanggup keluarkan isak tangis seorang Akashi Seijuurou. Hanya Ryouta yang bisa buatnya begini, hanya si pirang seterang mentari yang dapat meruntuhkan pertahanan seorang Kaisar.

Hanya Ryouta.

Dan kedua Tetsuya maupun Shintarou kembali jadi saksi hidup untuk hubungan keduanya.

"Sei…cchi… teri…ma…ka…sih…"

.

.

.

.

"Uh maksud Paman, Tou-san menangis?"

"Yakin itu Tou-san kami…?"

"Tapi, melihat dia segera memeluk Papa ketimbang kedua anaknya yang baru lahir… dia pasti Tou-san yang sedang sangat sadar."

Komentar kedua Akashi muda sukses ciptakan butiran peluh imajiner yang sebesar jagung jatuh dari kening Tetsuya. Benar-benar keduanya gagal menahan untuk tidak berkomentar pedas pada ayah mereka.

"Tapi kedua orang tua kalian itu juga begitu mencintai kalian."

"Geli sekali aku membayangkan Tou-san mencintaiku." Kembali komentar pedas dilayangkan oleh seorang Seitarou, dan segera mendapat dukungan berupa dua kali anggukan oleh kakak kembarnya.

"Paman tahu tidak, kami pernah bertengkar sama Tou-san loh, dan Tou-san uh… benar-benar tidak mau mengalah!"

Seita menambahkan, dan dilanjutkan kembali oleh si bungsu, "Untung Papa datang dan segera mengomeli Tou-san. Sepertinya kami berhasil memang dari Tou-san saat itu!"

Lagi keringat imajiner sebesar biji-biji jagung berjatuhan dari kening tetsuya, persaingan dalam perebutan cinta sang Papa memang sering dijadikan kompetisi dalam keluarga kecil Akashi, dan Tetsuya hafal betul apa yang terjadi, si kembar begitu sering bercerita saat berada dalam pengawasan mereka.

"Kalian ini, ah tapi sepertinya harus kita akhiri sesi bercerita kali ini, sudah waktunya kalian untuk tidur siang."

Dan Tetsuya pun memutuskan untuk mengakhiri setengah hari mereka saat ini. Lelah juga mengawasi si kembar yang sedang aktif-aktifnya, ia akan pastikan bahwa pasangan Akashi harus membayarnya dengan bayaran lebih kali ini.

"EEHHH!"

Dan protes singkat 'pun terjadi, sebelum keduanya berakhir menuruti perkataan pengasuhnya kali ini.

.

.

.

.

.

Napas berderu kencang, saling memburu saat peluh di sana-sini. Seorang pria dengan kepala pirang erat memejamkan mata, merasakan sensasi yang memenuhi bagian bawahnya. Sementara pria lain dengan surat merah kembali ukirkan senyum puas, menurunkan diri dan kembali menggoda kekasih hatinya.

Desah masih mengisi ruang, Seijuurou, pria dengan rambut merah itu masih betah dalam menggoda kekasih hatinya, memainkan puting kanan si pirang dengan jemari saat yang kiri dikulum penuh nafsu. Lidahnya ikut bermain di sana, turun perlahan, mengabsen tiap titik pada kulit putih milik Ryouta.

Ada bercak merah di sana, tanda kemerahan akibat kecup dan gigit, tanda kepemilikan yang tidak pernah bosan ia tanam. Seijuurou jelas memanjakan Ryouta dengan baik, namun ketika Ryouta merasakan kenikmatan dari bagian atas, tengah serta bawahnya, saat cairan pre-cum keluar dengan intensitas yang lebih banyak, saat ia hampir mencapai ejakulasinya━━

"UG━━!"

━━jerit tertahan, tepat sebelum si pirang melepaskannya, Seijuurou sudah menutup ujung kejantanan Ryouta, mengukir senyum nakal saat Ryouta melotot galak padanya.

Sialan sekali kepala keluarga Akashi satu ini.

Dalam beberapa detik keduanya hanya adu tatap, yang di atas menyeringai seakan menunggu sesuatu, sementara yang di bawah masih tidak terima dengan apa yang baru saja ia terima.

Bagaimana mungkin Seijuurou melakukan hal semacam ini setelah sekian lama?

Dengan perutnya yang semakin tidak nyaman, terlebih saat Seijuurou menekan titik di antara perut dan selangkangannya, membuat kedua dinding di bawah sana semakin mengeratkan cengkraman pada kejantanan yang masih menghujam titik manis miliknya. Ryouta menyerah, melempar kepala pada bantal (yang entah seperti apa bentuknya sekarang) ia frustasi.

Seijuurou benar-benar tidak punya belas kasihan.

Sudah seperti setan saja!

Pekik Ryouta dalam hati, tidak disuarankan namun berhasil membuat Seijuurou berbisik padanya.

"Memang seperti apa yang akan dilakukan oleh ayahnya setan?"

Ingin rasanya si pirang menangis, ungkapkan rasa kesal yang tidak ada habisnya. Teringat ia akan kejadian kemarin malam, yang membuat mereka mengirim si kembar ke kediaman Kagami di pagi buta.

Pasalnya kemarin malam, saat keluarga mereka kembali melakukan rutinitas berupa pertengkaran kecil, dan ketika Seijuurou dengan kekesalan yang memuncak melontarkan kalimat "Dasar anak setan." yang kemudian dijawab dengan "Kalau begitu Seicchi setannya dong?" oleh Ryouta, dengan penuh senyum saat kedua tangannya terbentang, bertujuan untuk bertahan di sisi si kembar, saat itulah Seijuurou menyimpan dendam.

Atau kecemburuan lebih tepatnya, anak nakal harus terima hukuman, kalimat yang sering Seijuurou ucapkan ketika Ryouta bertindak terlalu jauh.

Namun terlepas dari semuanya, kesal dan cemburu, keegoisan dalam bentuk ingin memiliki, mengikat bahkan mengurung, bernarlah berbanding lurus dengan keinginan untuk didominasi dan terima hukuman semacam ini.

Perpaduan dua sosok sadisme dan masokhisme, titel yang telah lama mereka tanggalkan, memanglah belum lekang oleh waktu.

Sayu kedua iris madu menatap sepasang rubi di atasnya, air mata mulai keluar, ia menyerah, dan dengan pilu memohon pada pria di atasnya.

"Sei… cchi… ku…mohon…"

Dan seringai itu kembali di sana. Senang dengan keinginan yang terpenuhi.

━━━━━━━━━━━━━━━━SELESAI━━━━━━━━━━━━━━━━

a/n: Halo! Akhirnya saya kembali menuliskan kapal ini setelah sekian lama, sama seperti sebelumnya, dua kapal ini benar-benar obat untuk hari-hari yang melelahkan :) Kemudian, terima kasih sudah membaca sampai di sini, semoga hari-hari kalian semua jadi lebih berwarna dan lebih bahagia! Sampai ketemu di lain cerita!