Prolog
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
"Mr. Love: Queen's Choice/Love & Producer" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Papergames/Elex©
Fan fiksi "Ethereal" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fan fiksi ini.
AU. Maybe OOC.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
"... cien ... Lucien ..."
Sepasang netra bulat beriris lavender itu terbuka perlahan. Sang bocah tujuh tahun pemiliknya merintih pelan, tatkala merasakan tubuh mungilnya dihantam rasa sakit menekan. Namun, dirasakannya kehangatan yang membuatnya berusaha menajamkan penglihatannya yang kabur.
Ia melihat seorang wanita cantik berambut panjang—warna rambut cokelat tua yang sama persis dengan rambut bocah itu, tengah merengkuhnya di dalam pelukan. Sebelah tangannya memancarkan cahaya redup keemasan, menyentuh dada sang bocah.
"Ibu ..."
Panggilan lemah anak itu memancing sang wanita berkuping runcing untuk tersenyum. Wajahnya yang dipenuhi kecemasan, kini terhias secercah kelegaan.
"Lucien?" ucapnya lembut. "Lucien bisa lihat Ibu? Bisa dengar suara Ibu, Nak?"
Anak itu mengangguk pelan. "Ibu ... Kenapa warna Ibu ... pudar?"
Kali ini, sang ibu tersentak kaget. "Apa?"
"Kenapa di sekeliling Ibu ... tidak ada warna?" Anak itu memandang berkeliling, lantas mencoba melihat tubuhnya sendiri. "Kenapa semuanya ... jadi tidak berwarna? Cuma Ibu yang berwarna."
Sang ibu terkesiap. Matanya yang sewarna dengan milik putranya, perlahan digenangi air mata.
"Ibu ... Kenapa Ibu menangis?" anak itu bertanya lagi.
"Lucien—" Suara wanita itu tercekat. "Lucien ingat? Ada orang jahat yang menyerang kita, lalu Ibu membawamu lari. Tapi ... orang jahat itu berhasil menyerangmu dengan sihir."
Bocah bernama Lucien itu mencoba mengingat-ingat. Memang benar. Ketika ia dan ibunya berusaha meloloskan diri dari para pengejarnya, lantas masuk ke dalam hutan, salah satu dari orang-orang berjubah hitam itu menembakkan sihir serangan kepadanya. Saat itu, Lucien langsung merasakan sakit yang amat sangat mencengkeram jantungnya. Rasa sakit yang menekan pun seolah meremas seluruh tubuhnya.
Setelah itu, ibunya membuka portal sihir untuk berteleportasi. Dan di saat yang bersamaan, cahaya terenggut sepenuhnya dari mata Lucien, walaupun ia masih membuka mata. Kemudian, ia tidak ingat apa-apa lagi.
"Lucien ... tidak bisa melihat gara-gara sihir itu ya, Bu?" Anak itu menarik kesimpulan sendiri, sementara ibunya hanya mengangguk. "Lalu ... Ibu menolong Lucien ... dengan sihir penyembuhan?"
"Anakku, Ibu sudah menggunakan sihir penyembuhan tertinggi untuk menyelamatkanmu." Wanita itu berusaha untuk terdengar tegar. "Tapi ... sihir yang menyerangmu terlalu kuat."
Sepasang mata bening itu menatap ibundanya dengan penuh keteguhan. "Jadi ... sekarang Lucien tidak bisa lihat warna lagi?"
Sang ibu masih berusaha menahan isakannya. "Maafkan Ibu, Nak ..."
Lucien menggeleng, lalu tersenyum kepada ibunya. "Ibu nggak salah. Kenapa minta maaf? Yang salah orang-orang itu."
Anak itu terdiam. Tatapannya menyelidik ke dalam mata ibunya.
"Ibu ... Kenapa orang-orang itu mengejar kita?" tanyanya kemudian. "Apa karena kita berdarah dark elf?"
Sang ibu mengangguk pelan. Kebencian terhadap dark elf telah menyebar luas di benua ini selama berabad-abad. Meskipun dirinya hanyalah setengah elf dan setengah dark elf. Dan putranya pun memiliki darah manusia dari ayahnya. Namun, mereka tetap dikejar sebagai keturunan dark elf. Karena itulah, selama bertahun-tahun, keluarga mereka harus terus hidup berpindah-pindah dan bersembunyi.
"Lucien, sayangku, dengarkan Ibu," wanita itu berkata lembut. "Setelah ini, Lucien harus pergi ke suatu tempat. Nanti Lucien akan bertemu seseorang yang bernama Kakek Chuck. Jangan khawatir, beliau orang yang sangat baik."
Anak itu terdiam sedetik, dengan mata bening memandang ibunya. "Maksud Ibu apa? Ibu juga ikut, 'kan?"
Sang Ibu menggeleng, membuat putranya sontak dilanda kesedihan.
"Jadi ... kita akan berpisah?" Lucien bertanya lagi, sementara ibunya hanya mampu menjawab dengan anggukan. "Lucien akan tinggal bersama orang lain? Tidak ada Ibu ... dan Ayah juga?"
"Iya, Nak." Pelupuk mata wanita itu kembali tergenang, sementara ia telah menghentikan sihir penyembuhannya. "Lucien tahu ... Kakek Chuck punya seorang cucu perempuan. Umurnya lebih kecil darimu. Dia anak yang manis dan berhati lembut. Kalian pasti bisa berteman baik. Nanti Lucien juga harus menjaganya ... ya?"
Lucien mengangguk. Mata anak itu pun mulai berkaca-kaca.
"Ibu." Perlahan, Lucien menegakkan tubuhnya. Masih ada sekilas rasa sakit terasa di sana-sini, nyaris di sekujur tubuhnya, tapi ia sudah merasa jauh lebih baik. "Ayah bagaimana?"
"Ayah—"
Ucapan sang ibu terputus. Ia menghela napas dalam-dalam. Namun, dadanya tetap terasa sesak oleh tekanan perasaan.
"Mungkin ... Ayah sekarang sudah menjadi bintang."
Mata Lucien membulat ketika mendengar kalimat itu terucap dari mulut ibunya. Air mata pun mulai menggenang di pelupuknya.
"Ayah akan selalu melihat dan mendoakan kita dari atas sana," sang ibu berkata lagi.
"Terus ... Ibu mau ke mana?"
Wanita ayu itu menggeleng. "Untuk sekarang, lebih baik Lucien tidak usah tahu."
"Kenapa?"
Sang Ibu hanya tersenyum. Ia mengulurkan kedua lengan, kemudian merengkuh putra semata wayangnya ke dalam satu pelukan hangat. Lucien balas memeluk sang ibu. Anak itu mulai terisak pelan, sementara pelukannya menjadi makin erat. Seolah ia tak rela untuk melepaskannya.
"Sayangku, permata hati Ibu dan Ayah." Sang ibu melepaskan pelukan itu pelan-pelan, berusaha mengeraskan hati. "Lucien ... harus hidup dengan bahagia ... ya?"
Sang ibu mengulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala putranya sejenak. Lantas tangan itu mulai memancarkan cahaya hangat yang membuat Lucien merasa nyaman, sekaligus mengantuk. Senyum sendu ibunya adalah hal terakhir yang dilihat Lucien, sebelum kantuk luar biasa menyerangnya tanpa mampu ditahan lagi.
Ketika terbangun, Lucien mendapati dirinya berada di tempat asing. Ia bangkit dalam posisi duduk, lantas memandang berkeliling dalam kebingungan. Barusan ia terbaring di tanah, beralaskan selimut tebal. Tubuhnya pun tertutup selimut lain yang lebih tipis. Sepertinya ia ada di dalam sebuah tenda. Di sekitarnya hanya ada sedikit sekali barang. Baru saja anak itu bermaksud mencari ibunya, ia menyadari bahwa tangannya tengah menggenggam sesuatu.
Sebuah kalung berliontin ametis.
"Kamu sudah bangun, Nak?"
Lucien tersentak saat sebuah suara asing tiba-tiba memasuki pendengarannya. Seorang lelaki tua masuk dan langsung menghampirinya. Seluruh rambut lelaki itu telah memutih. Begitu pula janggutnya yang sama panjang dengan rambutnya. Di belakang lelaki tua itu masih ada seseorang yang mengikutinya. Seorang pria paruh baya berambut kelabu panjang dengan senyum lembut menenangkan.
Lucien melihat kedua orang asing itu memiliki daun telinga runcing, wajah rupawan andaipun telah termakan usia, juga aura yang mengundang kekaguman, sama seperti ibunya. Ciri khas yang hanya dimiliki kaum elf.
Lelaki tua itu duduk di dekat Lucien. Ia tersenyum ketika menyadari anak itu masih bersikap sangat waspada terhadapnya. Tangan mungilnya pun menggenggam kalung erat-erat, dan tampak bergetar samar.
"Jangan takut, Nak," kata lelaki tua itu, sama lembut dengan senyumnya yang tak memudar. "Namamu Lucien, bukan?"
Lucien kecil hanya mengangguk.
"Ibumu sudah menitipkanmu padaku." Ucapan sang lelaki tua kali ini menarik perhatian Lucien. "Panggil saja kakek tua ini 'Kakek Chuck'."
"Jadi Kakek ini ... Kakek Chuck yang dikatakan Ibu?" akhirnya Lucien mau bicara meski dengan suara kecil. "Apa Lucien benar-benar harus tinggal bersama Kakek Chuck?"
"Iya, benar. Kenapa? Apa kamu tidak mau?"
Anak itu terdiam lama sambil menunduk. Pandangannya jatuh kepada kalung liontin yang merupakan milik ibunya. Dia tahu, selama ini sang ibu selalu menjaga benda itu baik-baik. Pikiran kanak-kanaknya kini dipenuhi kecamuk, mengapa benda penting itu bisa ada di tangannya? Apakah sang ibu yang telah memberikan kalung itu kepadanya? Apakah sekarang dirinya yang harus menjaga benda itu?
Apakah ini berarti perpisahan untuk selamanya?
"Kamu tahu kalung apa itu, Nak?" tiba-tiba Kakek Chuck bertanya, seolah tahu apa yang dipikirkan Lucien.
Anak itu tersentak. Netra lavendernya yang bening itu kini terangkat, menatap Kakek Chuck dengan sorot penuh pertanyaan.
"Ini milik Ibu," Lucien menjawab lugas.
"Oh, begitu." Kakek Chuck mengulurkan tangan, ditepuknya kepala Lucien yang masih nyaris tak berkedip menatapnya. "Tapi apa kamu tahu, apa makna kalung itu?"
Anak itu memiringkan kepalanya sejenak, lantas menggeleng pelan.
"Elder, apa harus diceritakan sekarang?" Untuk pertama kalinya, pria paruh baya di belakang Kakek Chuck bicara. Nadanya dipenuhi hormat, hingga Lucien pun langsung merasa bahwa Kakek Chuck bukanlah orang sembarangan. "Anak ini masih terlalu kecil. Apa tidak sebaiknya—"
"Mills," Kakek Chuck memotong tanpa menoleh. "Lucien berhak untuk tahu."
Pria bernama Mills itu hanya mengangguk sedikit, masih dengan penuh hormat.
"Nak," Kakek Chuck kembali berbicara kepada Lucien. "Apa kamu tahu bahwa ibumu memiliki darah elf dan dark elf di dalam tubuhnya?"
Lucien mengangguk pelan.
"Apa kamu juga tahu ... bahwa hubungan dark elf dengan banyak makhluk lain ... tidak terlalu baik?"
Lucien menatap mata Kakek Chuck, seolah sedang mempertimbangkan jawabannya. "Banyak yang bilang, dark elf itu makhluk jahat."
"Hm ... Kamu tahu kenapa?"
"Kata Ibu, dark elf menggunakan sihir kegelapan. Karena itulah, para elf yang lain tidak menyukai mereka." Lucien diam sejenak, seperti memikirkan sesuatu. "Lalu ... Ayah bilang, manusia mengagumi elf, tapi takut pada dark elf."
"Benar, seperti itulah kira-kira hubungan tiga kaum yang berkaitan dengan dirimu." Tepukan lembut di kepala kembali diterima Lucien dari Kakek Chuck. "Karena itulah, para dark elf memilih menyembunyikan diri dari peradaban. Hampir tidak pernah berurusan dengan dunia luar."
"Tapi ... kakek dan nenek Lucien adalah pasangan dark elf dan elf."
Ucapan polos bocah itu memancing Kakek Chuck untuk terkekeh lembut. "Benar sekali. Ada beberapa orang yang tidak peduli dengan hal-hal seperti itu."
"Ibu bilang, Lucien adalah bukti bahwa Ayah dan Ibu saling mencintai," anak itu berkata lagi. "Apa itu artinya, kakek dan nenek Lucien juga saling mencintai?"
"Tentu. Cinta bisa menjadi jembatan bagi setiap perbedaan. Cinta juga merupakan kekuatan untuk mengatasi setiap rintangan. Kelak, kamu pasti akan mengerti, Nak."
"Ibu juga bilang begitu." Lucien kecil memiringkan kepalanya. Sorot mata beriris lavender itu masih dipenuhi pertanyaan. "Apa Kakek Chuck kenal dengan kakek dan nenek Lucien?"
Kali ini, Kakek Chuck bertukar pandang sejenak dengan Mills. Bercerita tentang kedua orang itu berarti akan menyentuh topik yang cukup berat. Kakek Chuck pun kembali memusatkan perhatian sepenuhnya kepada Lucien.
"Ya, tentu Kakek mengenal mereka. Kakekmu, yaitu ayahanda dari ibumu, adalah Elder dari para dark elf."
"Elder?" Lucien pernah mendengar istilah ini dari sang ibu, walaupun beliau hampir tidak pernah menyinggung soal kakek maupun neneknya. "Bukankah 'Elder' itu pemimpin kaum elf?"
"Betul."
Lucien beralih menatap Mills. "Tadi Paman ini memanggil Kakek Chuck dengan sebutan 'Elder'. Apakah Kakek Chuck juga pemimpin para elf?"
Kakek Chuck terkekeh pelan ketika tatapan Lucien kembali terfokus kepadanya. Baru berbincang sebentar saja, sudah terlihat bahwa Lucien adalah anak yang sangat cerdas dan cepat tanggap.
"Kalau begitu, harusnya Lucien panggil 'Elder' juga, ya?" bocah itu bertanya lagi. "Tidak sopan kalau panggil 'Kakek Chuck'."
"Tidak perlu, Nak. Kamu boleh memanggil 'Kakek Chuck'." Sepasang netra tua yang teduh itu menatap Lucien dengan kasih sayang yang nyata. "Sebab ... nenekmu dari pihak ibumu ... adalah adik kandung Kakek."
"Oh ..."
Sepasang mata Lucien membulat. Informasi kali ini sedikit tidak disangkanya.
"Dan itu artinya," Kakek Chuck bicara dengan nada begitu lembut, "kita masih satu keluarga."
Lucien menundukkan kepalanya. Kalung berliontin ametis itu kembali memenuhi pandangannya. Saat ini, ia memang sudah tak bisa melihat warna apa pun lagi. Namun, ia masih ingat dengan jelas, keindahan tiada tara yang terpancar dari liontin ametis milik ibunya ini. Kerinduannya pun mendadak membuncah, kepada ibu dan juga ayahnya.
"Kakek Chuck ... Ibu bilang, Ayah sudah menjadi bintang ... Apa Ibu juga menjadi bintang?"
Lucien mengangkat wajahnya. Sepasang netra lavender itu tampak berkaca-kaca. Terbayang kembali di benaknya, ketika rumah mereka yang mungil dan hangat mendadak diserang oleh sekelompok orang berpakaian dan bertudung serba hitam di malam hari. Sang ayah melindungi istri dan anaknya hingga bisa keluar rumah dengan selamat.
Lucien tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Ia hanya ingat, ketika ibunya sedang merapal mantra untuk berteleportasi, rumah mereka mulai dilalap kobaran api yang membesar dengan begitu cepatnya. Dan ayahnya tidak pernah keluar lagi.
Kakek Chuck menatap Lucien dalam diam selama detik-detik singkat yang terasa panjang. Matanya diselimuti duka. Pria tua itu menghela napas dalam-dalam.
"Maaf, Nak ... Kakek tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Kakek benar-benar berharap, ibumu akan baik-baik saja."
"Jadi Kakek Chuck tidak tahu Ibu di mana?"
Sang pria tua menggeleng sedih. "Dia langsung pergi dengan teleportasi setelah menitipkanmu pada Kakek, dan juga memberikan kalung itu padamu."
Lucien kecil mendekap kalung ametis itu ke dadanya. Sementara Kakek Chuck kembali menepuk kepalanya dengan lembut.
"Kalung itu adalah pemberian kakek dan nenekmu untuk ibumu. Sebuah talisman yang memberikan keselamatan dan keberuntungan bagi pemiliknya. Itu adalah pusaka yang sangat berharga. Jagalah baik-baik."
Lucien kecil hanya mengangguk. Air mata mengalir di pipinya tanpa suara, tanpa ia menginginkannya. Kakek Chuck yang melihat itu pun tersentak samar, lantas mendekatkan dirinya ke sisi anak itu.
"Mulai sekarang, kamu akan tinggal bersama dengan Kakek dan cucu perempuan Kakek. Keluarga barumu."
"Lucien akan ikut ke rumah Kakek?"
"Iya, tapi tidak sekarang. Kakek dan Paman Mills sebenarnya sedang melakukan perjalanan penting saat ibumu tiba-tiba mengadakan kontak dengan kami. Jadi ... kamu ikut Kakek dulu, ya? Baru setelah itu kita pulang."
"Hm."
Lucien kembali menunduk. Begitu banyak yang terjadi hari ini. Ia ingat, sepanjang pagi ini, sang ayah masih mengajaknya memancing dan berburu di hutan. Dan di sore harinya, sang ibu mengajarinya memanah dengan sabar seperti biasa. Lucien sudah merasa makin mahir dan bertekad sebentar lagi akan membuat sang ibu bangga padanya.
Kemudian, tiba-tiba saja segalanya terenggut paksa. Tiba-tiba saja seorang anak harus kehilangan dunianya.
"Anakku, jangan takut pada kegelapan, dan jangan silau pada cahaya."
Suara lembut sang ibu terngiang kembali di telinga Lucien, seperti ketika ia mengucapkan satu kalimat nasihat itu kepada putranya hampir setiap malam sebelum tidur. Lucien selalu bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan 'kegelapan', dan apa yang dimaksud dengan 'cahaya'. Ia pernah menanyakannya, tetapi sang ibu tak pernah menjawab. Dan kini takkan ada lagi yang bisa memberikan jawaban itu untuknya.
"Lucien."
Panggilan lembut Kakek Chuck menarik Lucien dari kecamuk pikirannya. Anak itu mengangkat wajah dan melihat Kakek Chuck tersenyum kepadanya.
"Sekarang sudah larut malam. Tidurlah."
Anak itu mengangguk patuh. Ia sedikit kaget ketika Kakek Chuck perlahan mengulurkan kedua lengan dan merengkuh tubuh mungilnya. Kehangatan itu membuat Lucien cukup merasa nyaman untuk tidak menolaknya.
"Selamat tidur, Nak."
Untuk pertama kalinya, Lucien kecil membiarkan dirinya tenggelam di dalam pelukan seseorang selain ayah dan ibunya.
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
* Author's Note *
.
Hai, haiii~! \(^o^)
Akhirnyaaa Noir bisa menulis fic fantasy lagi sebelum tahun ini berakhir. Rencananya sih, cerita ini nggak akan terlalu panjang. Tapi coba lihat ini, baru Prolog udah tembus 2K+ kata, dooong ... Padahal niatnya cuma sekitar 1K+ aja ... T.T
/pundung di pojokan
Eniwei, semoga pembaca bisa menikmati cerita ini, karena author juga sangat menikmati saat menulis dan merancang keseluruhan ceritanya~ 👀✨
.
Regards,
kurohimeNoir
17.12.2022
