Chapter 01
Half-elf
.
.
.
"Dasar half-elf rendahan, tidak tahu diri!"
Lucien tersentak pelan ketika satu lecutan keras mendera punggungnya, mengiringi bentakan kasar yang sama menyakitkannya itu. Seharusnya memang menyakitkan, tetapi Lucien sudah terbiasa. Baik makian maupun perilaku beberapa warga desa yang tega menyakiti tubuhnya.
Seperti saat ini. Fran, Kyle, dan Kim, tiga pemuda elf—ketiganya memiliki rambut panjang yang halus seperti umumnya kaum elf—yang tidak pernah membiarkannya hidup dengan tenang. Padahal Lucien sudah berusaha untuk mengabaikan, bahkan menghindar. Namun, mereka seperti tak bosan-bosan mengganggunya. Lucien sampai heran, memangnya mereka tidak ada pekerjaan lain yang lebih penting?
"... Ukh!"
Akhirnya Lucien membiarkan rintihan tertahan lolos dari bibirnya saat lecutan keras berikutnya kembali mendera. Barangkali dengan begitu mereka akan puas dan meninggalkannya. Akan tetapi, rasa sakit berikutnya tetap datang, susul-menyusul. Sementara sulur-sulur hijau dari pepohonan rimbun di sekitar, makin erat membelit seluruh tubuhnya.
Lucien sama sekali tidak bisa bergerak.
Pemuda itu mendengkus samar. Menyerah. Dia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya melemas. Kalau seperti ini, mereka takkan puas jika belum mencambuknya sampai pingsan.
Baiklah, kalau memang itu yang mereka inginkan.
Ketika Lucien sudah mulai merasakan kesadarannya terenggut perlahan oleh rasa sakit, sebuah suara lain bergema lantang. Meningkahi suara-suara lain yang terdengar sayup-sayup di seantero hutan.
"HEI! BERHENTI KALIAN!"
.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
"Mr. Love: Queen's Choice/Love & Producer" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Papergames/Elex©
Fan fiksi "Ethereal" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fan fiksi ini.
AU. Non-human!Characters. Maybe OOC. MC menggunakan nama "Noa".
WARNING! Rate T/T+ for some violence, coarse language, and probably blood.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
.
"Noa! Gawat, Noa!"
Gadis itu terdistraksi dari buku yang sedang dibacanya sambil duduk santai di teras rumah. Rambut cokelat lembutnya yang panjang mencapai pinggang, bergerak halus tertiup angin semilir, mengikuti gerak tubuhnya yang menoleh ke arah pagar kayu rendah yang terbuka lebar.
Adalah Minor yang barusan datang sambil berteriak. Di belakangnya ada Kiki yang berlari mengikuti. Keduanya—kawan-kawan baik Noa—tampak panik, bahkan ketika sudah tiba tepat di hadapan Noa.
"Noa, Noa! Gawat!"
"Gawat banget pokoknya!"
Kedua elf muda itu bicara sambung-menyambung dengan cepat.
"Ada apa?" Noa mengerutkan kening. "Kalian tenang dulu, tarik napas."
Muda-mudi itu mengikuti saran Noa. Butuh semenit penuh sampai keduanya benar-benar mampu menenangkan diri.
"Nah, sekarang ceritakan pelan-pelan," kata Noa lagi. "Ada apa? Apanya yang gawat?"
"Itu ... Lucien!"
Satu nama yang terucap dari mulut Kiki, sontak membuat detak jantung Noa menguat. Berbagai prasangka seketika berkecamuk di otaknya. Tak ayal, tiga sosok pemuda membayang di benaknya.
"Mereka bertiga mengganggunya lagi?" gadis itu bertanya. Sekelumit amarah membara di matanya.
"Aku juga tidak tahu," Minor yang menjawab. "Pokoknya, aku dan Kiki melihat Fran, Kyle, dan Kim mengikuti Lucien diam-diam, masuk ke dalam hutan."
"Noa, aku yakin mereka pasti punya niat jahat!" Kiki menambahkan dengan sorot khawatir di matanya.
"Oke, kita susul Lucien," Noa mengambil keputusan cepat. "Tapi hutan sangat luas. Kalian tahu mereka pergi ke arah mana?"
"Iya, tahu."
"Kalau begitu, ayo cepat!"
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Rasa gamang menyerang, begitu Noa menemukan sosok Lucien di dalam jangkauan pandangannya. Gadis itu melihat Lucien terikat kuat oleh sulur-sulur pepohonan, tertunduk lemah, seperti sudah hampir kehilangan kesadaran. Sementara satu sulur lain yang tampak lebih kokoh, bergerak liar di belakang Lucien, terus melecut punggung pemuda itu setiap beberapa detik berselang.
Tampak Kim yang tengah berdiri bersandar ke sebatang pohon sambil bersedekap. Tentu saja, Noa langsung tahu, pemuda berambut cokelat itulah yang mengendalikan tetumbuhan di sekitar situ. Sedangkan dua orang yang lain hanya menonton dengan senyum sinis menghiasi wajah mereka.
Noa meradang. Dipercepatnya langkah kaki yang sejak tadi dengan lincah berlari di antara pepohonan dan semak belukar, jauh meninggalkan Minor dan Kiki di belakang.
"HEI! BERHENTI KALIAN!"
Ketiga pemuda itu tersentak kaget mendengar seruan mendadak Noa. Kim masih mampu mempertahankan fokus terhadap tetumbuhan yang berada di dalam kendalinya. Namun, ketika dia melihat Noa sudah sangat dekat, cambukannya terhenti.
"Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan dia!" Noa menuntut marah.
Menghadapi Noa yang berkacak pinggang, hanya Kyle yang bergerak maju hingga ke hadapannya. Pemuda itu menatap Noa tajam di balik kacamatanya, dibalas yang bersangkutan tanpa gentar.
"Noa," katanya. "Kau jangan ikut campur."
"Aku jelas akan ikut campur, kalau kalian bertindak semena-mena seperti ini!"
Kali ini terdengar dengkus sinis dari Fran, sama sekali tidak ditutup-tutupi. Pemuda itu masih berdiri di tempatnya, tidak beranjak sedikit pun. Hanya matanya yang ikut menatap tajam ke arah Noa.
"Aku heran denganmu," katanya. "Untuk apa kau terus-terusan membela half-elf seperti dia?"
Half-elf.
Itu lagi. Hati Noa selalu tergelitik tiap kali menyaksikan diskriminasi terhadap para half-elf. Rasa keadilannya memberontak. Tidak di sini, ataupun di tempat-tempat lain, semuanya sama saja. Khususnya di kalangan elf yang menganggap kemurnian rasnya harus selalu dijaga. Walaupun dalam beberapa ratus tahun terakhir hal ini terus berkurang, tetapi tetap saja, akan selalu ada orang-orang yang memandang rendah terhadap kaum mereka.
"Apa tidak salah?" Noa maju selangkah. "Aku yang heran pada kalian. Apa kalian segitunya kurang kerjaan, sampai terus-terusan mengganggu Lucien? Memangnya kenapa kalau half-elf? Dia tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikan kalian, 'kan?"
Kekesalan memenuhi raut wajah Kyle seketika. "Kau ini—"
"Kyle, Fran," Kim yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba ikut bicara. "Sudahlah, ayo kita pergi. Tidak baik kalau kita terlibat pertengkaran dengan cucu Elder."
Walaupun tampak masih tidak terima, Kyle dan Fran akhirnya sepakat dengan Kim untuk meninggalkan tempat itu. Minor yang baru tiba dan berpapasan dengan mereka, sempat bergidik, sedikit khawatir akan terjadi perkelahian. Namun, ternyata mereka benar-benar pergi dengan damai kali ini. Minor pun segera menyusul Kiki yang sudah berada bersama Noa.
"Lucien!"
Noa bergegas menghampiri Lucien yang masih tertunduk, tidak bergerak. Sinar matahari menerobos melalui celah-celah dedaunan, jatuh pada rambut gelapnya yang hampir sama panjang dengan rambut Noa. Rambut yang halus dan lembut itu diikat longgar seperti biasa, menjuntai ke depan melalui bahu kirinya. Sedikit berantakan, berkat insiden yang baru saja terjadi.
"Lucien?"
Noa memanggil sekali lagi. Tangan kanannya bergerak meraih pipi kiri Lucien, mengangkat wajah pemuda itu sedikit. Dia benar-benar tidak sadarkan diri.
"Lucien ... Lucien, bangunlah ..."
"Noa, sebaiknya kita bawa Lucien kembali ke desa dulu," Kiki memberi saran.
Minor mengangguk setuju. Dia memandang berkeliling sejenak, tampak sedikit cemas.
"Kiki benar," sambungnya. "Lagi pula, di hutan ini juga ada binatang buas. Lebih aman kita pulang saja."
Noa setuju. Dibantu Kiki dan Minor, gadis itu melepaskan sulur-sulur yang masih mengikat Lucien. Kemudian membawanya kembali ke desa tempat tinggal mereka, tepat berbatasan dengan hutan.
.
oO)-=-=-=-o-=-=-=-(Oo
.
Lucien mengerang tertahan, merasakan sakit yang tajam memenuhi punggungnya. Rasanya bahkan lebih menyakitkan daripada yang terakhir diingatnya, ketika sulur-sulur itu mencambuknya tanpa henti.
Ah ... Iya, benar. Dia ingat tengah berada di hutan sendirian ketika tiga pemuda itu muncul lagi di hadapannya. Fran, Kyle, dan Kim. Tiga orang yang tak pernah berhenti berusaha membuatnya sengsara.
Lucien tidak terlalu memperhatikan apa saja yang mereka katakan kepadanya waktu itu. Baginya semua hanyalah omong kosong. Dari waktu ke waktu, sama saja. Mereka hanya mencari-cari alasan untuk mengganggunya. Lagi dan lagi.
Terus terang saja, Lucien sudah bosan dengan semua ini. Dia sudah muak. Mereka selalu saja mengulangi kata-kata yang sama. Dari dirinya yang dianggap ras rendahan, atau tidak tahu diri karena berani berakrab-akrab ria dengan cucu perempuan Elder satu-satunya.
Mereka hanya mencari pembenaran untuk bisa menyakitinya.
"... Lucien?"
Pemuda itu mendadak mendengar suara lembut memanggil namanya. Seiring kesadaran yang terus menguat, rasa sakit di punggungnya juga makin menjadi. Seraut wajah membayang di matanya, makin lama makin jelas. Sang pemilik suara yang masih terus memanggil-manggil namanya, yang membuatnya tanpa sadar berusaha menahan segala rintih kesakitan. Namun, kali ini, dia tidak sanggup.
"Lucien? Lucien!"
Gadis itu menggenggam tangan Lucien dengan hangat, berusaha menenangkannya.
"Tenanglah, aku baru saja mengobati lukamu," dia berkata lembut. "Obatnya memang perih, tapi nanti akan cepat sembuh. Sabar, ya ..."
Lucien berusaha menentramkan pernapasannya. Butuh beberapa saat lagi, hingga dia bisa benar-benar memfokuskan perhatian kepada gadis di hadapannya. Satu-satunya keberadaan yang tampak berwarna di matanya, sama seperti ibundanya dahulu.
"Noa ..."
Bisikan lirih terucap. Noa tersenyum, walau masih tampak cemas. Ia mengulurkan sebelah tangan, lantas membelai kening Lucien dengan sayang. Pemuda itu mendapati dirinya tengah terbaring miring di sebuah ranjang. Ia lantas memandang berkeliling. Keningnya berkerut sedikit.
"Ini ... rumahmu ...?" tanyanya.
"Iya, benar."
Lucien berusaha bangun, tetapi rasa sakit memaksanya kembali terbaring sembari merintih tertahan.
"Hei, jangan bangun dulu. Tubuhmu masih lemah," Noa berkata. "Sudah, istirahatlah di sini."
"Tapi ..."
"Tidak usah sungkan, Nak."
Sesosok elf tua berjalan perlahan memasuki kamar. Nyaris tanpa suara, sehingga mengagetkan Noa maupun Lucien. Aura kewibawaan dan kebijaksanaan seketika terasa dari elf yang seluruh rambutnya telah memutih itu.
"Kakek!" Noa berseru.
Dia segera menghampiri elf tua itu, membantunya untuk duduk di kursi tak jauh dari ranjang.
"Elder." Sembari memberi hormat sebisanya, Lucien berusaha bangkit, tetapi sang Elder memberi isyarat untuk mencegahnya. "Terima kasih, Elder dan Noa sudah merawat saya di sini."
Sang Elder—yang tak lain adalah Kakek Chuck—mengangguk pelan. "Hm. Kakek melarangmu pergi sebelum kondisimu membaik."
Lucien menatap Noa yang juga sedang memandangnya. Gadis itu hanya tersenyum. Pada akhirnya, Lucien hanya bisa menghela napas dan menerimanya.
"Tapi Kakek, tiga orang itu terus saja mengganggu Lucien!" Noa bersungut-sungut. "Apa kita tidak bisa melakukan sesuatu pada mereka?"
"Tentu saja bisa." Kakek Chuck tersenyum dan menepuk puncak kepala cucunya dengan lembut. "Tapi kita harus tanya Lucien dulu. Apakah dia memang membutuhkan bantuan?"
Kakek Chuck menatap Lucien tiba-tiba, sedikit mengejutkan pemuda itu. Noa ikut menatap Lucien dengan kening berkerut-kerut.
"Itu tidak perlu, Noa," kata Lucien. "Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Kata-kata yang tentu saja Noa tidak bisa menyetujuinya. Ia berkacak pinggang, menatap sengit ke arah Lucien. Pemuda itu hanya tersenyum, tahu kemarahan Noa sebenarnya bukan tertuju kepada dirinya.
"Apanya yang 'bisa menjaga diri'? Kamu sampai terluka seperti ini, masih berani bicara begitu?" Raut wajah Noa dipenuhi kekesalan. "Lagi pula ... kenapa kamu nggak pernah melawan, sih? Aku tahu, kamu mampu melakukannya!"
Lucien masih tersenyum, lantas menggeleng pelan. "Itu tidak akan menyelesaikan masalah. Malah bisa jadi akan menambahnya."
"Terus, kamu akan membiarkan mereka terus menyakitimu? Nggak masuk akal! Walaupun kamu nggak punya kekuatan khusus seperti elf pada umumnya, tapi kamu punya banyak keterampilan yang lain. Keahlian memanahmu tidak ada yang menandingi di desa ini. Kemampuan bertarungmu dengan tangan kosong juga di atas mereka bertiga. Aku yakin, kamu pasti bisa, 'kan, sesekali memberi mereka pelajaran!"
Lucien hanya tersenyum samar selama Noa meluapkan kekesalannya. Diam-diam pemuda itu merasakan dadanya berdesir pelan. Rasanya begitu hangat dan menyenangkan.
"Memangnya kali ini ada masalah apa lagi, sih?"
Pertanyaan mendadak Noa mengalihkan Lucien dari kembara kenangannya. Seketika ia kembali teringat, segala keributan hari ini berawal dari satu hal yang sebenarnya dia tidak menyangka akan diketahui oleh siapa pun. Apalagi Kyle, Kim, dan Fran.
Betul juga. Dari mana mereka tahu?
"Lucien! Aku bertanya padamu!"
Lucien nyaris tak bisa menahan tawa melihat Noa yang masih terus saja bersungut-sungut sembari mengerucutkan bibirnya.
"Sedang marah pun, kamu tetap manis."
Rona merah mewarnai pipi Noa seketika. Sementara, Lucien tersenyum sambil melihat ke arah lain.
"Kamu berani, ya, bicara begitu di depan kakekku."
Protes Noa sia-sia karena sang kakek malah ikut tertawa kecil. Alhasil, wajah gadis itu makin semerah kepiting rebus.
"Ja-Jangan mengalihkan pembicaraan!" Melihat senyum Lucien yang malah makin lebar sambil menatapnya, Noa makin salah tingkah. "Lucien, jawab pertanyaanku!"
Senyum pemuda itu perlahan memudar. Merasa tubuhnya sudah mulai kuat, Lucien bangkit perlahan. Lagi pula, rasa sakit di punggungnya juga sudah berangsur-angsur berkurang.
"Eh, hati-hati!"
Noa spontan bergerak mendekat, membantu Lucien hingga pemuda itu bisa duduk di tepi ranjang. Masih merasa sedikit cemas, Noa memutuskan untuk ikut duduk di samping Lucien.
"Fran, Kyle, dan Kim," Lucien memulai. "Mereka tidak suka karena mengetahui bahwa aku akan berpartisipasi di Ethereal Quest nanti."
Hening mengisi ruangan itu selama beberapa detik.
"Eh?"
Noa yang akhirnya memecah kesunyian. Ia menatap Lucien, lantas beralih menatap sang kakek. Namun, di ruangan ini tampaknya hanya dirinya yang merasa kaget.
"Ethereal Quest?" Noa kembali menatap Lucien. "Kamu serius?"
Lucien tersenyum. "Kamu berpikir aku tidak mampu? Karena aku hanya half-elf?"
"Bukan begitu! Tapi ... kenapa kamu nggak pernah memberitahuku?"
"Aku memang sudah lama memikirkannya, tapi baru saja kuputuskan."
Noa menghela napas dalam-dalam. Berbagai hal berkecamuk di benaknya silih berganti. Ethereal Quest, adalah ujian yang harus diikuti oleh semua bangsa elf, sebelum diakui sepenuhnya sebagai elf sejati. Tidak ada yang tahu seperti apa ujian itu, karena setiap elf yang sudah melewati ujian, dilarang menceritakannya kepada siapa pun.
Hanya saja, Noa mendengar bahwa setiap elf akan mendapatkan kekuatan sejatinya jika berhasil di dalam ujian ini. Dari yang didengar Noa—dan satu-satunya informasi valid yang beredar tentang Ethereal Quest, sumber kekuatan sejati ini berasal dari sesuatu yang disebut 'Ethereum'.
Noa tidak tahu apa itu Ethereum, atau bagaimana wujudnya. Yang dia tahu, bisa menemukan dan menyerap kekuatan Ethereum adalah keberuntungan terbesar bagi setiap elf yang mengikuti ujian.
Namun, tidak demikian halnya dengan half-elf. Noa sudah membaca banyak literatur kuno tentang Ethereum. Karena itu, dia tahu, para half-elf juga bisa mendapatkan keuntungan yang sama dengan bangsa elf pada umumnya dari Ethereum, jika mereka beruntung. Akan tetapi, jika tubuh mereka tidak mampu menahan kekuatan yang besar itu, maka ...
Noa menggeleng cepat, berusaha mengusir pemikiran mengerikan itu dari benaknya. Dia menentang tatapan Lucien, tetapi hanya menemukan keteguhan di dalam ekspresi maupun sorot mata pemuda itu.
"Tidak! Itu terlalu berbahaya untukmu!"
"Noa, aku sudah mengambil keputusan—"
"Pokoknya tidak!" Noa bangkit, lantas berdiri tepat di hadapan Lucien. Sorot matanya mengeras ketika menatap pemuda itu. "Aku tidak akan membiarkannya!"
Lucien menggeleng pelan. "Maaf, Noa, tapi kamu tidak bisa melarangku."
"Kh—" Noa mengepalkan kedua tangan erat-erat di sisi tubuhnya. "Kenapa? Kenapa kamu mau mengambil risiko sebesar itu? Nyawamu yang jadi taruhannya!"
Lucien tidak menjawab.
"Apa karena kamu menginginkan kekuatan?" Sepasang mata beriris cokelat madu itu mulai berkaca-kaca, masih menatap Lucien. "Kamu berharap akan mendapatkan kekuatan seperti umumnya kaum elf, setelah mendapatkan pengakuan sebagai elf sejati? Iya?"
Lucien tidak langsung menyahut, seolah tengah menimbang kata-katanya. "Noa ... kamu tidak tahu ... seperti apa rasanya hidup sebagai half-elf. Segala anugerah yang dimiliki kaum elf sejak lahir ... Apa menurutmu aku salah jika menginginkannya?"
Kali ini Noa tidak bisa menjawab. Sementara tatapan dari sepasang netra beriris lavender di hadapannya, sama sekali tak tergoyahkan. Tangan Noa yang terkepal pun mulai gemetar. Padahal dirinya hanya mencemaskan Lucien. Tapi kenapa ... Kenapa Lucien tidak mau mengerti?
"Lucien bodoh!"
Sambil berseru, Noa berkelebat pergi setengah berlari. Lucien yang memandangi kepergiannya, hanya bisa tersenyum tipis. Tampak sedih.
"Maafkan saya, Elder," katanya kemudian. "Saya sudah membuat cucu Anda menangis."
Elf tua itu tersenyum maklum.
"Noa memang keras kepala. Kamu harus bersabar menghadapinya, Nak." Kakek Chuck terkekeh pelan. "Melebihi kesabaranmu menghadapi ketiga pemuda itu."
Lucien mengangguk pelan, masih tersenyum.
"Jadi ... kamu benar-benar akan mengikuti Ethereal Quest?" Kakek Chuck menatap Lucien dengan sorot mata penuh kasih, sama seperti ketika beliau menatap cucunya sendiri. "Kamu benar-benar sudah yakin?"
"Ya." Lucien mengangguk, kembali menegaskan keputusannya. "Saya memohon izin kepada Anda, Elder."
Kakek Chuck mengulurkan tangan. Ditepuknya pundak Lucien dengan lembut.
"Jika memang itu keputusanmu, maka Kakek hanya bisa merestui." Jawaban sang pemimpin tertinggi segera melegakan Lucien. "Tapi ... omong-omong, sudah lama sekali, ya ... kamu tidak pernah lagi memanggil Kakek dengan sebutan 'Kakek Chuck'."
Mata Lucien melebar sejenak, sebelum ia menundukkan pandang. Kakek Chuck tersenyum maklum sembari menatap pemuda di hadapannya dengan lembut.
"Apa kamu tidak merasa bahwa kamu terlalu menahan diri, Nak?"
Lucien mengangkat wajah kembali, tetapi ia tak bicara sepatah kata pun. Tatapannya pun masih belum mau terarah kepada Kakek Chuck.
"Mungkin ... apa yang dikatakan Noa itu benar," sang elf tua melanjutkan kata-katanya. "Kamu tidak bisa terus-menerus diam."
Lucien masih membisu seribu bahasa.
"Apa yang kamu takutkan?"
Setitik emosi pelik menggoyahkan mata Lucien. Perlahan, ia pun menentang pandangan Kakek Chuck yang terarah lurus kepadanya. Elf tua itu mengulas senyum tipis, lantas sejenak menepuk pelan kepala Lucien, sama seperti ketika pemuda itu masih kecil.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan posisi Noa maupun Kakek. Lakukan saja apa pun yang perlu kamu lakukan."
Lucien menghela napas panjang. "Saya hanya ... tidak ingin membuat keributan yang tidak perlu."
"Hmm ... Kalau begitu, apakah kamu mengkhawatirkan 'tempatmu' di desa ini?"
Pemuda itu tersentak samar. Ia membuka mulutnya seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi kemudian menutupnya kembali. Lama ia hanya diam menatap sang Elder—yang tampak menunggu dengan sabar, hingga akhirnya menghela napas pelan.
"Elder—" Saat akhirnya bicara, ucapan Lucien terputus sedetik. "Kakek Chuck ... aku ... hanyalah pendatang di desa ini ..."
Cahaya di mata Kakek Chuck menghangat ketika Lucien tiba-tiba melepaskan segala formalitas di hadapannya. "Tidak, Nak. Kamu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari desa ini. Bukankah Kakek pernah mengatakan padamu? Kita adalah satu keluarga."
"Tapi, aku ..."
"Lucien ... Kamu sudah menjalin hubungan baik dengan warga di sini. Meskipun Kakek tahu, masih ada beberapa orang yang belum bisa menerimamu sepenuhnya. Akan tetapi, tempatmu adalah di sini. Kakek bisa menjamin bahwa hal itu tidak akan berubah sampai kapan pun, Nak."
Pemuda itu merasakan satu beban menyesakkan masih memberati dadanya. Satu rahasia yang masih disimpannya nyaris dari semua orang.
"Kakek Chuck ..." Suara Lucien sedikit bergetar ketika keheningan dua-tiga detik yang sebelumnya tercipta, kembali terpecahkan. "Bagaimana kalau ... fakta yang tetap kusembunyikan sampai detik ini tentang diriku ... sampai diketahui orang-orang? Bahwa aku adalah keturunan dark elf? Apakah menurut Kakek ... aku masih bisa berada di sini jika saat itu tiba?"
Sosok Fran, Kyle, dan Kim terbayang di benak Lucien tanpa ia menghendakinya. Sekarang saja mereka sudah sangat membencinya, hanya karena dirinya adalah half-elf. Apa jadinya jika mereka sampai tahu bahwa sesungguhnya Lucien juga memiliki darah dark elf di dalam tubuhnya?
"Aku tahu," Lucien berkata lagi. "Mungkin aku memang harus pergi suatu hari nanti. Tapi untuk saat ini, aku masih belum siap ... untuk kehilangan semuanya. Termasuk Kakek ... dan Noa. Satu-satunya keluarga yang kumiliki saat ini."
Pemuda itu merasakan sesak di dadanya makin menjadi. Ia berusaha menarik napas dalam-dalam, tapi tak juga merasakan kelegaan. Perlahan tapi pasti, ia pun menyadari, pemikiran akan kehilangan Noa jauh lebih menakutkan daripada hal buruk apa pun yang mungkin menimpanya.
"Nak." Suara Kakek Chuck yang tenang tanpa pernah kehilangan wibawanya, seolah membawa angin sejuk ke dalam hati Lucien. "Menurut Kakek, kamu terlalu banyak berpikir. Tidak perlu mengkhawatirkan hal yang belum terjadi, karena masa depan adalah misteri yang takkan pernah bisa kita prediksi dengan pasti."
Kakek Chuck bangkit berdiri perlahan, lantas menepuk bahu kanan Lucien dua kali.
"Sekarang, istirahatlah. Kakek tinggal, ya."
Lucien membaringkan diri kembali ke ranjang dalam posisi miring ke kiri, tak lama setelah pintu ditutup. Keheningan mengisi kamar yang dahulu juga pernah dihuni olehnya selama bertahun-tahun, sebelum dirinya memutuskan untuk pindah ke rumahnya sendiri di pinggiran desa sejak berusia lima belas tahun.
Entah apakah disebabkan rasa sakit dan lelah yang melemahkan tubuhnya, atau karena tempat ini memang terlalu nyaman, Lucien mulai merasakan kedua kelopak matanya memberat. Kesadarannya perlahan memudar, tetapi ia tak berusaha melawannya. Seiring satu kalimat yang pernah didengarnya dari seorang gadis cilik penuh warna di masa lalu, yang mendadak terngiang kembali di telinga.
"Kakak Lucien nggak sendirian."
.
.
.
Bersambung ...
.
.
.
* Author's Note *
.
Hai, haiii~! \(^o^)
Chapter 1 hadir menemani malam menuju liburan panjang.
Hmmm ... Apakah Lucien terasa OOC?
Lucien di sini mengalami kepahitan yang sama tetapi juga berada dalam situasi yang berbeda sekali dengan canon. Karena itulah, aku jadi ingin menunjukkan sisi-sisi lain yang tersembunyi, atau bahkan terlupakan, dalam diri Lucien.
Lalu, ada beberapa NPC yang muncul di sini. Trio Fran, Kyle, dan Kim aku ambil dari para Expert. Fran itu adalah Frankenstein. Mukanya cocok jadi antagonis, ahahah ...
Next chapter tahun depan, yaa~ 😂
/ditendang ke Mars/
.
Regards,
kurohimeNoir
23.12.2022
