Balas review:
Guest:
Woah, makasih support-nya, yah fanfic juga cuma buat sekedar hobi sih, tapi bukan berarti author gak serius dengan fanfic multi chap yg author buat, cuma ya karena jadwal up sudah ada, sebenarnya tinggal nunggu waktu aja sebelum author up chapter yang berikutnya, hehe :D
Elon:
Hmm, entahlah, liat aja nanti
Guest:
Waduh, nanti kayaknya, haha :D
Ewe:
Komentarmu menyentuh, tapi nama guest nya oi, yg sopan brother/sister, wkwk :D
Reply0:
Yoi dude, End? Tunggu tahun depan, mungkin dua tahun ke depan, wkwk :D
Faker:
Hoho, karna ini fanfic, power scaling yg akan keliatan bakal wadidaw dan jauh dari canon pastinya, wkwk :D
AegisNaked:
Sudah, tapi kayaknya gak tertarik dude, sorry ui
MFaizB:
Mantap, makasih support nya dude :D
Awkwk, ghidorah cuma salah satu dari sekian banyak monster/beast/eldritch gods/ yg akan muncul menjelang final nanti, hehe :D
Agam31p:
Wokeh! Terima kasih kata-kata baiknya :D
Megumin07:
Seep, chapter kali ini juga ada berkat saranmu ini, dan ya kalau dipikirkan lagi, momen ayah dan anak mereka memang harus sedikit ditonjolkan lagi sebelum masuk konflik yg lebih waduh ke depannya :D
Sesi balas review berakhir, dan yeah, PLUS ULTRA sekali review kalian, mantap! :D
Tanpa basa-basi lagi silakan membaca update chapter 15 di bawah ini :D
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seirei Ninja
Summary
Dengan kenyataan yang terungkap, ninja kuning itu harus berhadapan dengan ancaman lain, yang tidak hanya mengancam eksistensi Spirit, tapi juga alam semesta secara keseluruhan.
.
.
Disclaimer
Naruto dan Date a Live dimiliki oleh pemilik aslinya. Author hanya meminjam mereka untuk kepentingan fanfic ini.
.
.
Genre
Utama : Romance. Drama. Friendship. Harem.
Selingan : Humor. Family. Action. Supranatural.
Warning : Semi-OOC Naruto.
.
.
Chapter 15
Momen
.
.
.
Pagi hari tiba.
Banyak warga di Kota Tenguu memulai aktivitasnya saat ini. Beberapa di antaranya seperti pergi ke tempat kerja, membuka toko, atau berangkat menuju sekolah.
Di sisi lain, setelah menata koper di bagasi mobil, para Spirit berbincang sebentar dengan Naruto. Mereka berbicara di ruang tamu saat ini.
Namun, percakapan yang awalnya santai, tiba-tiba berubah menjadi serius karena satu fakta penting.
"DIA ANAKMU?!"
Naruto menggaruk pipinya.
"Y-Ya, itu kenyataannya." Naruto menambahkan. "Aku tahu ini terdengar aneh, tapi apa yang kubilang pada kalian sekarang benar adanya; kalau Hibiki adalah putriku."
Para Spirit berhasil menenangkan diri mereka. Tenka memulai percakapan lagi.
"Jadi… saat kau dan Hibiki bertemu semalam, kalian membahas ini?" tanya Tenka.
"Ya," jawab Naruto.
Kurumi tersenyum geli.
"Fufu, karena ini Naruto-san, kurasa mustahil dia berbohong."
Naruto tertawa canggung.
"Gak ada komen, Kurumi-chan, gak ada komen."
Maria menghembuskan nafas.
"Tetap saja… setelah semua yang terjadi, aku bisa paham mengapa kau memberitahu kami hal ini sekarang," ujar Maria.
Naruto mengangguk.
"Meski begitu, kalian jangan cemas, ke depannya juga aku berencana punya anak dengan kalian semua," kata Naruto.
Nada bicaranya terdengar serius.
Para Spirit salah tingkah.
"A-Ara ara, ufufu, Naruto-san pintar bicara sekali ya." (Kurumi).
"J-Jangan bicara hal semacam itu dengan mudah." (Maria).
"H-Hmph, dasar Naruto." (Tenka).
Naruto terkekeh.
"Aku tahu, tapi aku serius dengan kata-kataku barusan." Naruto masih bicara. "Maksudku, nama seperti Uzumaki Maria, Uzumaki Kurumi, Uzumaki Tenka, kedengarannya bagus di telinga, benar begitu?"
Ketiganya merona. Naruto menyengir saat melihat pemandangan ini.
Tak berselang lama.
Mobil itu melaju dengan kecepatan normal.
Dari kejauhan, Naruto sempat melambaikan tangannya, lalu kembali ke dalam rumah. Dia memasuki ruang tamu dan mereka tiba-tiba muncul lewat sistem teleportasi [Fraxinus].
Namun, jika ada yang berbeda, yaitu Nia dengan keadaan 'pingsan' di sofa.
"Jadi… selagi aku gak ada, apa yang terjadi di atas sana?" tanya Naruto.
Nada bicaranya terdengar penasaran.
Hibiki menggaruk pipinya.
"Err, sebenarnya gak ada hal aneh terjadi, cuma…"
"Cuma?"
"…Nia-san ikutan lotre online."
"…"
"…"
Naruto mengerutkan alis.
"Nia-chan, aku tahu kau cuma pura-pura pingsan, cepat bangun, dattebayo."
Nia membuka matanya. Gadis itu cemberut pada Naruto.
"Setidaknya tunjukkan belas kasihan pada cewek imut dan polos ini."
Naruto tersenyum.
"Ada jajan?"
Nia berbinar matanya.
"Enggak." (Nia).
"Jangan jajan." (Naruto).
"Huweee!" (Nia).
Kurama terkekeh.
"Meski bilang gitu, kau tetap akan membantu gadis Nia ini, bukan?"
'Apa perlu aku menjawab pertanyaan yang sudah pasti jawabannya?'
"Nah, itu gak perlu."
Naruto menahan senyumnya, beralih ke gadis itu, dia berbicara lagi.
"Pada gajimu berikutnya, nanti aku pinta bagianku, mengerti?"
Ekspresi Nia berubah dari sedih menjadi gembira. Dia langsung berdiri dan memeluk Naruto dengan antusias.
"Yeay~! Kau yang terbaik, Ruto-kun~" seru Nia.
Naruto menepuk pelan pundak gadis itu.
"Iya, iya, aku tahu." Naruto masih bicara. "Omong-omong, kalau kau masih terus begini, aku mungkin akan menciummu detik ini juga."
Nia refleks berhenti memeluk Naruto. Gadis itu salah tingkah.
"D-Dasar kau ini, bercanda juga ada batasnya."
Ninja itu terangkat sebelah alisnya.
"Siapa yang bilang kalau aku sedang bercanda?"
Nia memerah wajahnya.
"K-Kau… ugh!"
Dengan wajah kesal dan malu, dia pergi ke ruang dapur, meninggalkan pasangan ayah dan anak itu di sini.
Hibiki tertawa kecil.
"Kau kejam sekali, Yah."
Naruto terkekeh.
"Omong-omong, apa kau siap berangkat sekarang?"
Saat makan ramen semalam, keduanya membuat janji untuk berkemah seharian sebagai ayah serta anak, dan itu akan dimulai pagi ini juga.
Namun, karena ada kemungkinan mereka bertemu orang lain, Hibiki hanya bisa memanggil Naruto dengan nama, setidaknya sampai mereka tiba di perkemahan pribadi mereka.
Hibiki berkedip.
"Oh, uh… aku ganti baju dulu!"
Hibiki lenyap disertai hembusan angin.
Naruto (sweatdrop).
'Wah, putriku sudah jadi pelupa rupanya.'
"Buah gak akan jatuh jauh dari pohonnya. Benarkan, Naruto?"
'Berisik.'
Kurama terkekeh.
Menjelang siang hari.
Sebuah bus melaju di jalan raya. Banyak penumpang dari kalangan usia duduk dengan damai di sini.
Sementara itu, Hibiki memperhatikan peta digital di ponsel, dan terkadang memberikan tanda pada lokasi (yang terlihat) menarik.
Hibiki beralih ke samping.
"Ay-maksudku, Naruto-san, apa ada baiknya kita cari makan dulu saat pemberhentian berikutnya?"
Naruto tampak fokus membaca sesuatu di kotak pesan.
"Etoo, Naruto-san?"
"Huh? Oh tentu saja, kalau ada beruang lewat, nanti aku pukul dia."
Hibiki (sweatdrop).
"Enggak, aku gak bicara soal beruang, tapi restoran untuk kita makan siang."
Naruto berkedip. Dia tertawa gugup sambil menyimpan ponsel(nya) ke saku celana.
"O-Oh, maaf, sepertinya aku terlalu sibuk baca tadi." Naruto menambahkan. "Baiklah, turun dari sini kita langsung makan siang, setuju?"
"Setuju."
Lelaki itu puas.
Tak berselang lama.
Bus ini berhenti di halte. Para penumpang segera turun, dan setelah keluar, keduanya langsung berpisah dengan rombongan. Tujuan Naruto dan Hibiki saat ini adalah mengisi perut terlebih dahulu.
Sambil berjalan, keduanya memperhatikan jarang ada orang lewat, dan pada akhirnya berbincang layaknya keluarga.
"Omong-omong, tadi ayah lagi baca apa?" tanya Hibiki.
Nada bicaranya terdengar penasaran.
"Oh, cuma pesan dari penempa besi langganan ayah," jawab Naruto.
Hibiki berkedip.
"Penempa besi?"
Naruto mengerutkan alis.
"Apapun profesi seseorang, jangan suka menyindirnya."
Gadis itu tertawa gugup.
"Maaf, aku cuma terkejut saja." Dia menambahkan. "Memangnya ada keperluan apa ayah dengannya?"
"Oh, dia yang selama ini membuat peralatan ninja yang ayah butuhkan."
Hibiki penasaran.
"Dan dia langsung setuju? Gak ada pertanyaan?"
"Ayah sempat selamatkan nyawanya dari perampok dulu."
"Oh, pantas. Siapa namanya?"
"Elliot."
Hibiki berkedip, sekali, dua kali, lalu ketiga kali.
"O-Oh, begitu rupanya."
Tidak lama kemudian, keduanya berhenti tepat di depan suatu restoran, dan aroma menyenangkan bisa tercium dari sana.
Naruto dan Hibiki melirik satu sama lain.
"Kau siap?" tanya Naruto.
"Um," jawab Hibiki.
"Bagus."
Keduanya masuk ke dalam. Suasana tenang dan damai menyapa mereka berdua.
Di sisi lain, seorang koki nampak sedang mengaduk bumbu masakan di meja depan, mengangkat wajahnya lalu menunjukkan senyuman.
"Selamat datang…"
Naruto dan Hibiki langsung duduk. Air liur menetes dari mereka.
"…err, kalian mau okonomiyaki spesial?"
"Kami pesan 2," kata mereka bersamaan.
Koki itu berusaha tersenyum, tapi nada bicaranya terdengar gugup.
"B-Baik, tolong tunggu sebentar."
Keduanya hanya mengangguk.
.
.
.
"Makanan tadi enak sekali."
"Yeah, aku juga sampai nambah lagi."
"Itu berarti ayah tukang rakus."
"Seperti kau enggak saja."
"Hehe."
Pada tangga natural ini, Naruto dan Hibiki dengan santai melangkah naik, dan sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kelelahan pada mereka.
Naruto mengamati arloji selama beberapa saat.
"Huh, kita datang lebih cepat dari perkiraan jadwal," ujar Naruto.
"Eh? Memang ayah buat janji di jam berapa?" tanya Hibiki.
"Sekitar jam 1 siang."
"Heeh, kita sampai 20 menit lebih awal rupanya."
"Begitulah."
Tiba di puncak, mereka berjalan lagi menuju sebuah kantor dengan kesan alam pada arsitekturnya, lalu masuk ke dalam.
Seorang wanita berpakaian kasual nampak berdiri dibalik meja. Dia tersenyum pada keduanya.
"Selamat datang di Perkemahan Fuki. Apakah kalian datang untuk berkemah?" tanya wanita itu dengan ramah.
"Ah, maaf, sebenarnya kami sudah memesan tempat sebelumnya atas marga 'Uzumaki'," jawab Naruto.
Dia mengangguk.
"Baik, sebentar kuperik-ah, benar rupanya. Lokasi kemah kalian terletak pada spot no. 08, apa ada hal lain yang kalian butuhkan sebelum pergi?"
Naruto menggeleng.
"Tidak, terima kasih, tapi apa yang kami butuhkan sudah lebih dari cukup."
"Baik, tapi jika kalian berubah pikiran, kami siap membantu selama 24 jam."
Naruto dan Hibiki mengangguk. Mereka keluar dari tempat ini.
Saat berjalan menuju spotmereka, Hibiki memperhatikan area lain di peta perkemahan, itu diberikan oleh resepsionis wanita sebelumnya.
"Kalau kita berjalan ke utara dari sini, kita akan menemukan spot kemah umum... jadi pengen liat," ujar Hibiki.
"Setelah kita pasang tenda, kau bebas eksplor semaumu," kata Naruto.
"Eh? Beneran?"
"Sudah pasti."
"Yeah!"
Naruto tersenyum. Dia merasa senang ketika melihat putrinya begitu bahagia saat ini.
Setibanya di spotmereka, Naruto dan Hibiki meletakkan tas masing-masing di pohon terdekat, lalu secara perlahan mengeluarkan peralatan berkemah mereka.
Ninja itu beralih ke arah putrinya.
"Ayah mau ke toilet dulu. Tolong jaga barang-barang kita."
Hibiki mengacungkan ibu jarinya.
"Serahkan padaku, dattekana."
Naruto terkekeh sambil mengelus kepalanya.
"Anak pintar."
Hibiki menyengir saat diperlakukan seperti itu.
Setelah lelaki itu pergi, dia mendekati pintu besi khusus, membuka itu dan melihat banyak tumpukan batang kayu di dalamnya.
'Ah, ini salah satu kelebihan punya spot pribadi rupanya,' batin Hibiki.
Dia mengamati tenda (yang belum) terpasang, lalu, suatu ide terlintas di benaknya.
'Mungkin ada baiknya aku pasang duluan, dengan begitu ayah pasti akan senang.'
Hibiki tersenyum lebar.
Dari kejauhan, Naruto berjalan ke arah spot mereka berdua, dan ekspresi lega nampak di wajahnya.
'Untung toilet gak penuh tadi.'
"Padahal kalau kau mau, di semak-semak juga bisa," kata Kurama.
Naruto tercengang.
'Aku bukan manusia purba, Kurama,' balas Naruto.
"Bilang saja kau mau cari muka di hadapan putrimu."
'Jari tengah untukmu.'
Bijuu itu tertawa kecil.
Tak berselang lama.
Naruto tiba di tempat ini. Dia tercengang dengan kondisi putrinya sekarang.
"Laba-laba! Ada laba-laba! Laba-laba!"
Dengan kondisi terikat tali tenda, Hibiki berguling ke sana-kemari, sehingga wajahnya menabrak pohon dengan keras.
"Wadaw!"
Naruto (sweatdrop).
'Padahal aku cuma tinggal sebentar, kenapa bisa jadi begini?'
Menggeleng, dia menyadari kehadiran ayah itu, lalu tertawa gugup.
"Hai ayah… sedikit bantuan di sini? Kumohon?"
Naruto memijat pelipisnya.
Malam hari tiba.
Saat ini, Naruto dan Hibiki sedang mengamati langit gelap, tidak lupa kehangatan api unggun menemani mereka berdua.
"Padahal cuma ngeliat langit malam aja, tapi entah kenapa rasanya nyaman sekali," ujar Hibiki.
"Yah, mungkin itu karena efek dari minum coklat hangat tadi," kata Naruto.
Hibiki tertawa kecil.
"Ayah ini ada-ada saja."
Naruto terkekeh.
"Omong-omong, gimana nabe buatan ayah? Enak?"
"Enak, juga nyaman di perut."
Naruto puas.
"Aku senang kalau kau menyukainya."
Hibiki berseri. Dia teringat sesuatu.
"Ayah."
"Hm?"
"Bisa kau tunjukkan bentuk Rasengan padaku? Boleh ya? Ya?"
Naruto memperhatikan keadaan sekitar sebelum beralih pada putrinya. Dia mengangguk.
"Perhatikan ini."
Hibiki menunggu dengan sabar.
Membuka telapak tangannya, dia berkonsentrasi lalu pusaran energi muncul, dan itu perlahan mengambil wujud berupa bola.
Naruto tersenyum ke arah anaknya itu.
"Ini yang dinamakan Rasengan." Naruto menambahkan. "Apa yang kau lihat sekarang cuma bentuk dasar, kalau kau mau, kau bisa mengubah ukuran, atau memasukkan elemen, agar tingkat serangannya bertambah hingga berkali-kali lipat. Sampai sini paham?"
"Paham."
"Bagus."
Rasengan menghilang seketika.
Seakan penasaran, gadis itu membuka telapak tangannya, lalu perlahan pusaran energi tercipta. Namun, aliran pusaran itu nampak tak beraturan, dan getaran kecil terjadi karenanya.
Naruto mengerutkan alis.
"Mungkin ada baiknya kalau-"
"A-Aku bisa. Pasti bisa."
Hibiki berkonsentrasi lebih keras. Setetes keringat mengucur dari kening turun melewati dagunya.
Setelah beberapa saat, tekanan energi itu mulai terkendali, kemudian wujudnya berubah menjadi sama persis dengan Rasengan pada umumnya.
Akan tetapi, Rasengan versi ini menghilang dengan cepat, dan Hibiki berusaha mengatur nafasnya.
"R-Rupanya *hah* gak segampang *hah* keliatannya."
Naruto menyerahkan botol air minum pada Hibiki. Dia mengambil itu dari tenda mereka.
"Mungkin ini karena kau terlalu terbiasa dengan [Reiryoku]."
"Y-Ya, mungkin saja ayah benar."
Hibiki menghabiskan isi botol dalam sekejap.
Ninja itu menghela nafas.
"Kalau kau ingin ngelakuin hal yang sama, setidaknya jangan dilakukan secara mendadak, tunggu waktu yang tepat dulu," tegur Naruto.
Nada bicaranya terdengar lembut. Itu kontras dari pemilihan kata-katanya (yang tegas).
Hibiki tertawa gugup.
"Err, akan kuingat baik-baik nasehatnya, janji," ujar Hibiki.
Naruto tersenyum.
"Aku senang mendengarnya." Naruto menambahkan. "Omong-omong, apa kau ada pertanyaan terkait Rasengan? Atau mungkin kau ingin menanyakan hal lain?"
Hibiki berpikir sejenak.
"Pertanyaan… oh, um, siapa di antara kalian yang mengusulkan nama Hibiki? Ayah atau ibu?"
"Ibumu."
"Oh, kukira ayah."
"Menyebalkan memang, padahal nama Minako gak buruk amat kedengarannya."
Hibiki (sweatdrop).
'Wah, nasib baik namaku Hibiki kalau gitu,' batin Hibiki.
Gadis itu teringat sesuatu.
"Omong-omong, apakah ayah pernah ngelakuin hal buruk saat kecil dulu?"
Naruto menyeringai tipis.
"Kalau kau sangat ingin tahu. Duduk manis dan dengarkan baik-baik."
Hibiki mengangguk antusias.
"Oke!"
"Hoho, semangat yang bagus. Jadi dulu itu ayah pernah..."
Keduanya menghabiskan malam dengan suasana hangat. Layaknya keluarga normal pada umumnya.
T-B-C
A/N: Halllooo reader-san sekalian. Gimana chapter kali ini? Membosankan? Menyenangkan? Seperti biasa letakkan review di tempat seharusnya :)
Oh iya, khusus chapter ini, author mendedikasikannya untuk momen keluarga Naruto dan Hibiki, semua ini terjadi karena salah satu saran yang menarik di kotak review.
Banyak terima kasih untuk Megumin07, mantap :D
Eits, tapi kalian jangan khawatir, chapter 16 juga udah siap di up saat ini juga, nanti juga notifikasinya ada kok, hehe :D
Terakhir…
Sampai jumpa di chapter berikutnya :D
{Racemoon; Sign out}
