Seirei Ninja

Summary

Dengan kenyataan yang terungkap, ninja kuning itu harus berhadapan dengan ancaman lain, yang tidak hanya mengancam eksistensi Spirit, tapi juga alam semesta secara keseluruhan.

.

.

Disclaimer

Naruto dan Date a Live dimiliki oleh pemilik aslinya. Author hanya meminjam mereka untuk kepentingan fanfic ini.

.

.

Genre

Utama : Romance. Drama. Friendship. Harem.

Selingan : Humor. Family. Action. Supranatural.

Warning : Semi-OOC Naruto.

.

.

Chapter 16

Lembar Penebusan

(Part I)

.

.

.

"Hmm, perawatan mesin kapal sudah, sistem juga dalam keadaan baik, dan kapasitas [Maryoku] yang tersimpan juga lebih dari cukup, terus…"

Pada kapal ini, tepatnya dalam lab khusus, Nia terlihat sedang memperhatikan monitor (yang menampilkan) struktur [Fraxinus] secara keseluruhan. Dia melakukan itu sambil duduk dan ditemani gelas kopi.

"…kita main game, mwehehe."

Nia membuka racing game di tab lain.

Usai mengaktifkan gamepad lewat bluetooth, dia bermain dengan ekspresi puas, terlebih lagi sudah tak ada komandan tertentu (yang melarang) pemakaian internet secara berlebihan.

Mobil player one melaju dengan kencang. Sementara itu, banyak kendaraan lawan berusaha mendahului player one, tapi usaha mereka selalu berakhir dengan kegagalan.

Nia tertawa kecil.

"Heh, dasar para amatiran."

Melalui tikungan tajam, mobil player one mendadak ditabrak mobil player lain, sehingga dua kendaraan itu menghantam pembatas sebelum jatuh ke jurang.

Nia tercengang.

"Son of a-"

Dia langsung menampar pipinya.

"Bird! Yeah, Bird!"

Nia melihat opsi continue di layar. Dia menarik nafas kemudian membuangnya perlahan.

"Bersiaplah para pemain sialan... karena aku Honjou Nia, gak akan berhenti sampai meraih kemenangan!"

Setelah melewati dua lap, mobil playerone mencapai garis finish, itu disusul dengan mobil dari player lain juga.

Nia meletakkan gamepad dengan ekspresi puas di wajahnya.

"Hehe, berhasil juga akhirnya…"

Dia menguap sejenak.

"…haah, ngantuknya, padahal sudah minum kopi, tapi masih saja terasa ngantuk."

Menutup game, dia membuka ponsel dan melihat ada pesan masuk, itu berisikan foto dua orang (yang sedang) berkemah.

Nia tertawa kecil.

'Dasar duo ayah dan anak itu,' batin Nia.

Dari perkataan Hibiki sendiri, Nia mengetahui kalau dia dan Naruto mempunyai hubungan darah, hal ini tentu saja membuatnya terkejut saat mendengar info tersebut.

Meski begitu, Nia tidak ambil pusing dengan kenyataan ini, dan menerima kebenaran tanpa perlu berpikir lebih lanjut.

'Huh, kalau dipikirkan lagi, Hibiki-chan kasihan juga karena baru sekarang dia bisa menghabiskan waktu dengan ayahnya,' pikir Nia.

Meski orang tuanya sudah tiada, Nia menyadari kalau masa kecilnya itu bahagia, dan ini dikarenakan ayah dan ibunya membesarkannya dengan baik.

Maka dari itu, saat melihat kebersamaan Naruto dan Hibiki melalui foto tersebut, dia ikut merasa senang atas mereka.

'Tapi… meski begitu…'

Ekspresi gadis itu berubah menjadi tidak nyaman.

Untuk beberapa alasan, setiap kali dia berada di dekat para Spirit, entah mengapa ada keinginan aneh untuk melukai mereka. Hanya saja perasaan ini selalu reda jika ada Naruto di sisinya.

Namun, karena alasan ini pula, Nia berpikir kalau dirinya tidak layak bersanding dengan Naruto. Karenanya, dia selalu menahan perasaannya selama ini, walau itu berarti menyakiti hatinya dalam proses.

Nia tersenyum kecil.

'Haah, lagi-lagi aku menyimpan rahasia lagi dari Naruto-kun, padahal kalau aku bilang padanya… pasti dia mau membantuku menemukan solusinya.'

Nia meraih gelas dan melihat isinya.

"Huh, aku kehabisan kopi rupanya."

Nia beranjak dari kursi lalu mendekati mesin kopi. Selesai, dia kembali duduk, dan minum sejenak.

"Haah, ini baru rasanya hidup," ujar Nia.

Gadis itu minum lagi sambil menyaksikan video hiburan. Setelah kopinya habis, dia beralih pada jam digital di ponselnya, dan memikirkan hal lain.

"Hmm… karena gak ada yang jaga rumah, mungkin ada baiknya aku segera pulang," guman Nia.

Nia memejamkan matanya.

Perlahan, cahaya menyelimuti raga perempuan ini, lalu dirinya lenyap dari lab.


Menjelang siang hari.

Sebuah kendaraan umum berhenti di halte ini. Beberapa penumpang mulai turun, dua di antara mereka adalah Naruto serta Hibiki, keduanya mengenakan pakaian bersih dan tampak segar. Duo ayah-anak itu melangkah beriringan dan berniat ke rumah para Spirit.

Naruto memperhatikan panggilan tidak terjawab di ponsel(nya).

"Ini aneh, Nia-chan jarang sekali mengabaikan panggilan dariku," kata Naruto.

"Mungkin dia sedang sibuk dengan aktivitasnya yang lain," ujar Hibiki.

"Hmm, mungkin kau benar."

Tak berselang lama.

Keduanya memasuki area rumah ini. Salah satu dari mereka menekan bel.

"Sebentar!"

Pintu ini terbuka dari dalam.

Nia menggosok matanya sejenak lalu menatap keduanya. Dia mengerutkan alis.

"Oh, maaf, tapi seingatku aku gak pesan pizza untuk sarapan," ujar Nia.

Mereka (sweatdrop).

"Dan seingatku lagi, ini sudah siang dan kami juga bukan tukang pizza, dattebayo," balas Naruto.

Gadis itu berkedip selama beberapa saat.

"Uh, apa yang-oh, Naruto-kun dan Hibiki-chan rupanya! Masuk, masuk."

Pintu ini ditutup dari dalam.

Mereka bertiga melangkah di lorong. Nia menggaruk pipinya.

"Err, aku minta maaf soal tadi, biasa, kebiasaan orang bangun tidur, hehe."

Hibiki mengerutkan alis.

"Umm, memangnya kau tidur jam berapa, Nia-san?"

Nia berpikir sejenak.

"Jam 4." (Nia).

"Waduh." (Hibiki).

Ketiganya tiba di ruang tengah. Sejauh mata memandang, kondisi area ini begitu berantakan, dengan sampah bekas makanan ringan dan minuman soda di mana-mana. Mereka juga melihat mesin konsol tergeletak di lantai dengan posisi terbalik.

Naruto dan Hibiki meletakkan tas mereka di samping sofa. Keduanya nampak tercengang saat ini.

"…kau habis ngelakuin pesta atau apa, Nia-chan?"

Nia tertawa gugup.

"Yah habisnya aku gak ada kegiatan lain, mau tidur juga susah walau udah minum kopi, jadi… aku putuskan main game, abis itu ketiduran deh." Nia menambahkan. "Tapi kalian duduk santai saja di sofa, biar kubereskan ini semua-eh?"

Seluruh area ruangan ini mendadak bersih.

Beralih ke samping, dia melihat duo anak dan ayah itu menepuk tangan mereka seakan menghilangkan debu, ekspresi puas juga nampak dari wajah mereka.

"…akan kubuatkan makan siang untuk kalian. Tolong tunggu sebentar."

Nia menuju ruang dapur.

Naruto dan Hibiki melirik satu sama lain.

"Tos?"

"Tos."

Mereka tos sambil menyengir lebar.

Beberapa saat berlalu.

Nia kembali ke ruang tengah bersama sebuah nampan. Dia meletakkan nampan di meja lalu menata tiga piring berisi nasi kari.

"Aku belum belanja lagi, tapi uhh, silakan dinikmati."

Naruto terkekeh.

"Ini juga lebih dari cukup. Benar begitu, Hibiki?"

Hibiki mengangguk.

"Yup."

Nia lega.

Mereka makan siang seraya menyaksikan film aksi di televisi.

"Apa-apaan film ini? Katanya aksi, tapi kenapa kebanyakan komedinya?"

Dia keheranan.

'Kurama, hampir setengah jam kita liat adu tembak antara penjahat melawan polisi, dan kau bilang itu semua cuma komedi?'

Bijuu itu mendengus.

"Gak ada pesta darah yang melimpah, itu masalahnya."

'Kalau ini film zombie, kau pasti gak akan protes.'

"Hoho, sudah pasti itu."

Naruto (sweatdrop).

Setelah film berakhir, ketiganya meletakkan bekas makan mereka ke wastafel, dan semua itu langsung dibersihkan Hibiki.

Nia beralih ke samping.

"Jadi… kau siap berangkat?" tanya Nia.

Nada bicaranya terdengar humoris.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya balik Naruto.

"Karena secara teknis, di ruangan ini cuma kau doang yang belum pernah ke sana."

Naruto menengok ke arah putrinya itu.

Hibiki hanya tersenyum gugup.

Naruto kembali menatap Nia.

"Baiklah… aku paham sekarang." Naruto masih bicara. "Jadi, kita akan berangkat sekarang? Atau kau ada keperluan lain yang harus diurus dulu?"

Gadis itu mengendus lengan bajunya. Dia menatap mereka dengan ekspresi canggung.

"Err, kalian keberatan menunggu selama setengah jam? Atau mungkin lebih? Ya? Kumohon?"

Naruto dan Hibiki perlahan mengangguk. Nia merasa lega.

"Rasanya tenang sekali. Kalau gitu aku mau mandi dulu."

Nia pergi ke ruangan lain.

Sementara itu, Naruto dan Hibiki mengamati mesin konsol, lalu suatu ide terlintas di benak mereka.

"Yang kalah…"

"...ambilkan donat."

Keduanya menyeringai satu sama lain.


Pada ketinggian ini.

Sebuah kapal nampak terbang dengan kecepatan normal. Kendaraan high-tech itu memuat beberapa orang di dalamnya.

"Hmm, enggak, ini juga..."

Nia mengamati layar hologram sambil duduk. Tangan gadis itu begitu aktif menekan keyboard.

Sementara itu, Naruto mengamati keadaan di luar sana dengan ekspresi tenang, tapi berbanding terbalik dengan pemikirannya.

'Apa menurutmu ini saat yang tepat, Kurama?'

"Pastinya. Apalagi mengabaikan perasaannya terlalu lama bukan hal baik menurutku."

Lelaki itu secara sekilas mengamati Nia (yang tampak sibuk). Dia kembali menatap kaca.

'Yah, kau ada benarnya juga.'

Kenyataannya, dia memang menyadari perasaan Nia cukup lama, tapi belum bisa bertindak karena kesibukan lain; salah satunya urusan Spirit.

Namun, karena saat ini suasana terlihat mendukung, maka ada baiknya dia segera mengangkat topik ini kepadanya.

'Inilah dia.'

Naruto menghampiri gadis itu.

"Nia-chan," panggil Naruto.

"Hm?" respon Nia.

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."

Nia berhenti mengetik. Dia beralih ke arahnya.

"Uh, soal apa, Naruto-kun?" tanya Nia.

Nada bicaranya terdengar penasaran.

Naruto tersenyum.

"Aku sudah lama sadar kau punya perasaan padaku."

Nia merona dan asap mengepul dari telinganya.

"A-Awawawawawawawawa..."

Dia (sweatdrop).

'Wah, aku gak mengira reaksinya akan sejauh ini, dattebayo,' pikir Naruto.

Setelah beberapa saat, ekspresi wajah gadis itu normal lagi, dan pura-pura batuk.

"Yah... terus, apa yang mau kau lakukan dengan fakta itu?"

"Eh? Kau gak menolak hal ini?"

Nia mengangkat bahu.

"Cepat atau lambat kebenaran akan terbongkar juga pada akhirnya." Nia masih bicara. "Jadi ketimbang menunda hal yang sia-sia, akan lebih baik mengaku dari awal."

Bijuu itu berkedip.

"Huh, cewek ini ada benarnya juga."

Naruto tertawa gugup.

'Nia-chan memang seperti ini sih.'

Gadis itu keheranan.

"Kenapa kau ketawa?"

Naruto tersadar.

"Ah, gak ada apa-apa." Naruto menambahkan. "Omong-omong, mengenai yang kita bahas tadi..."

"...apa kau yakin?"

"Huh?"

Nia terdiam sejenak. Mungkin dia mencoba merangkai kata-katanya.

"Maksudku... aku bukan Spirit, kau tahu?"

"..."

"Nia-chan."

"Eh? Y-Ya?"

"Apa aku pernah bilang... kalau tipeku harus Spirit?" Naruto menambahkan. "Bahkan saat ketemu Mio-chan pertama kali, aku saja gak tahu kalau dia adalah Spirit, ingat?"

Nia merasa malu.

'O-Oh, benar juga, kita bahkan belum lama ini ngeliat kilas balik memori Naruto-kun,' batin Nia.

Naruto berdeham.

"Tapi uh, semua ini kembali pada keputusanmu, jadi aku gak akan memaksa atau sejenisnya."

"..."

"Um, kalau benar gitu, maukah kau tunggu keputusanku nanti?" Nia menambahkan. "Bukan berarti aku gak mau, tapi ini semua terlalu mendadak... dan rasanya aneh kalau ngejawabnya sekarang."

Ninja itu mengangguk.

"Bukan masalah, ambil waktumu sebanyak mungkin. Tapi..."

"Tapi?"

Naruto mengembangkan senyuman.

"...kalau kau perlu bantuan apapun, panggil aku."

Nia berkedip. Gadis itu berseri.

"Makasih, Naruto-kun."

"Sama-sama."

Pintu besi ini terbuka secara otomatis.

Hibiki berjalan masuk dengan membawa sekotak donat.

Pintu besi itu tertutup lagi.

Naruto penasaran.

"Lama juga. Tadi kau ngapain dulu?" (Naruto).

"Keasikan streaming video." (Hibiki).

"Pantas." (Naruto).

Naruto menerima kotak tersebut. Dia mengelus rambut putrinya itu sambil tersenyum.

"Anak pintar."

"Ehehe."

Nia tertarik.

"Oh, boleh aku minta satu?"

"Ambil saja."

"Seep."

Mereka makan dengan tenang.

Nia menghabiskan donatnya lalu berkedip.

"Huh, jadi pengen minum."

Nia menekan kombinasi huruf di keyboard. Itu menghilang beserta dengan layar hologramnya.

"Aku mau ke dapur. Kalian mau sekalian kubawakan minuman juga?" tawar Nia.

"Rasa jeruk," sahut Naruto.

"Kopi dingin," ujar Hibiki.

"Oke."

Nia berjalan melewati pintu ini sebelum menutup lagi.

Sementara itu, dia mengamati arloji di tangannya, kemudian beralih pada Naruto.

"Ada baiknya kita pergi sekarang, Yah."

Naruto ekspresinya serius.

"Ayo."

"Um."

Tak berselang lama.

Nia kembali dengan plastik berisi beberapa minuman. Dia mengamati 'Naruto' dan 'Hibiki' hanya berdiri diam saja.

Gadis itu kebingungan.

"Kalian gak mau ambil minuman kalian?" tanya Nia.

'Naruto' dan 'Hibiki' terkejut.

"Eh? O-Oh, benar, kami mau minum… benar, minum…"

Nia mengerutkan alis, tapi kemudian mengangkat bahu.

'Nah, mungkin mereka seperti itu karena durasi perjalanan kami yang cukup lama,' batin Nia.

Dengan pemikiran itu, dia kembali duduk di kursi(nya), dan kembali mengawasi kondisi kapal lewat monitor.

'Naruto' dan 'Hibiki' terlihat tenang, tapi dalam hati mereka, ada jeritan (yang berusaha) ditahan saat ini.

'Boss! Cepat kembali!' batin keduanya.

.

.

.

Kawanan burung nampak beterbangan dengan bebas. Mereka asik mengepakkan sayap mereka tanpa peduli dengan apapun.

Meski begitu, dalam sekejap, para makhluk udara ini memutar sayap demi menghindari gerakan cepat seseorang. Bukan hanya itu saja, mereka juga melihat kalau orang ini ditemani manusia betina lain, atau lebih tepatnya ditemani putrinya.

Namun, ketimbang berlari, gadis itu lebih memilih terbang dengan ritme kecepatan lebih cepat dari langkah ayahnya. Terkadang aksi perempuan ini menghasilkan gelombang kejut yang menghempaskan air dalam jumlah banyak.

Mereka sudah seperti ini selama dua puluh menit.

"Hibiki! Apa kau yakin jalan ini sudah benar?!"

"Ya! Kita tinggal lurus saja!"

"Oke!"

Beberapa saat berlalu.

Mereka melihat wilayah laut di depan sana diselimuti awan hitam. Ninja itu langsung mengingat sesuatu.

"Seharusnya kita bawa payung tadi!" (Naruto).

"Jangan sekarang, ayah!" (Hibiki).

"Maaf!" (Naruto).

Berhenti tepat di titik tengah, mereka mengamati keadaan sekitar, dan sejauh mata memandang hanya melihat kumpulan awan hitam saja di atas.

"Jadi… apa selanjutnya? Apa di sekitar sini ada jalur masuk mistis atau semacamnya mungkin?" tanya Naruto.

Nada bicaranya terdengar penasaran.

Hibiki mendarat dan menginjakkan kakinya di lantas es padat. Itu tercipta dari pemikirannya.

"Sekarang? Kita tunggu," jawab Hibiki.

"Tunggu apa?"

"Hmm, aku sendiri gak tahu, tapi ibu bilang kita gak perlu ngelakuin apapun pas tiba di sini."

Naruto mengangguk.

Keheningan menyelimuti suasana mereka.

"…"

"…"

"Err, Hibiki? Apa kau yakin dengan ini?"

"Y-Ya, tentu saja."

Lima menit terlewat. Tak ada peristiwa apapun.

"…"

"…"

Naruto mengerutkan alis.

"Mungkin sebaiknya kita-"

Semuanya berubah menjadi kilat.


Sebuah mobil melaju di jalan ini. Kendaraan itu memuat beberapa orang di dalamnya.

Tenka mengamati keadaan di luar sana. Keramaian di daerah Eropa ini terasa menarik bagi Spirit itu.

"Huh, suasana kota ini... jauh berbeda dari Tenguu," komentar Tenka.

Maria tertawa kecil.

"Definisi 'Selamat datang di luar negeri.' sekarang dirasakan olehmu," ujar Maria.

Kurumi tersenyum tipis.

"Fufu, tapi kalau boleh jujur, aku lebih menyukai suasana di Menara Eiffel." (Kurumi).

"Eh? Kau pernah ke sana juga?" (Maria).

"Maria-san, Maria-san, kalau menurutmu aku cuma berkeliaran di Jepang selama 30 tahun, itu malah lebih aneh lagi." (Kurumi).

Spirit itu tertawa gugup.

"Oh, dengan kemampuan perpindahan bayanganmu, masuk akal kalau jarak bukan masalah untukmu."

"Ya… setidaknya, sampai Naruto-san menyegel kekuatanku."

Dia mengangguk paham.

Beberapa saat berlalu.

Mobil ini memasuki area parkir. Penumpang (yang ada) di dalam kendaraan itu keluar dan bergegas masuk ke hotel ini.

Ketiganya melewati kerumunan pegawai hotel maupun pengunjung biasa.

Seorang resepsionis tersenyum pada mereka.

"Selamat datang di Hotel Arihpes. Ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan itu dengan ramah.

"Ah, iya, kebetulan kami sudah memesan kamar atas nama Miss. Asahiko," jelas Maria.

Resepsionis itu mengangguk dan mencari nama (yang dimaksud) di monitor. Setelah beberapa saat, dia menarik laci meja tertentu dan mengambil kartu kunci, lalu menekan bel.

Seorang pegawai hotel pria datang dan dia mengadu pandangan pada resepsionis itu. Mereka saling mengangguk, dan setelahnya, pegawai itu membawakan barang-barang para Spirit ke lantai atas lewat lift karyawan.

Dia menyerahkan sebuah kartu kunci pada Maria.

"Semoga istirahatmu menyenangkan, Miss. Asahiko."

Maria tersenyum.

"Banyak terima kasih."

Ketiganya pergi ke suatu arah dan Maria menekan tombol khusus. Mereka masuk ke dalam saat pintu khusus ini terbuka.

Lift perlahan naik.

Tenka penasaran.

"Jadi, sebelum pergi ke markas pusat, kita simpan tas dulu di kamar hotel ini?" tanya Tenka.

"Yup, tapi meski begitu... sebenarnya, kita sudah sampai di markas pusat," jawab Maria.

Tenka kebingungan.

"Bentar, kau bilang apa tadi?"

Maria berseri.

"Jangan khawatir. Kalian akan paham nanti juga."

Kurumi mengusap dagunya. Spirit itu memikirkan sesuatu.

'Hotel Arihpes… Arihpes… tunggu sebentar…'

Spirit itu menyeringai tipis. Hal ini menarik perhatian Tenka.

"Ada apa, Kurumi?"

"Fufu, Tenka-san, kalau kau putar nama Arihpes, maka akan jadi apa itu?"

Tenka mengerutkan alis.

"Arihpes… bentar, Sephira? Itu yang kau maksud, Maria?"

Maria tersenyum simpul.

"Apalagi memangnya?"

Kurumi tertawa kecil sementara Tenka tersenyum lebar.

Pintu lift terbuka.

Mereka keluar lalu berjalan ke pintu kamar tertentu. Ketiganya melihat seorang pegawai hotel tengah menunggu dengan barang-barang mereka.

"Mohon maaf, tapi bolehkah saya pinjam kartu kuncinya, Miss. Asahiko?"

Maria mengangguk dan meminjamkan kartu kuncinya.

"Banyak terima kasih."

Dia mengarahkan kartu kunci pada sensor pintu, bunyi 'klik' terdengar tidak lama kemudian. Pegawai hotel itu membuka pintu lalu memindahkan barang-barang mereka ke dalam. Selesai, dia keluar ruangan, dan menyerahkan lagi kartu kunci itu pada Maria.

"Jika Nyonya Spirit sekalian perlu sesuatu, tolong hubungi bagian resepsionis, karena kami [Ratatoskr] akan selalu siap membantu kalian," ujar karyawan itu dengan senyuman.

Maria tersenyum.

"Kami mengapresiasi itu, juga terima kasih sebelumnya."

Dia mengangguk sebelum pergi menjauh.

Mereka memasuki kamar hotel ini. Merasa diperhatikan, dia menyadari pandangan Spirit lain, dan hanya bisa tersenyum.

"Lihat? Kita memang sudah tiba di markas pusat… tepatnya, di bagian paling bawah."

Kurumi mengamati keadaan sekitar.

"Jadi, boleh kuanggap ada jalan rahasia khusus di sini?" tanya Kurumi.

"Oh, aku juga penasaran soal itu," sahut Tenka.

Ketimbang menjawab, Maria menghampiri sebuah patung wajah, lalu menyelipkan jarinya ke celah lubang hidung.

Maria mengambil langkah mundur.

Perlahan, patung wajah ini membuka bibirnya, itu menunjukkan pusaran kecil di dalam mulutnya.

"Nah, lewat sini, kita bisa langsung ke…"

"Pfft…"

Maria menyadari Kurumi dan Tenka sedang menahan tawa mereka. Dia mengerutkan alis.

"Ada apa dengan kalian?"

"M-Maaf, tapi… tombol rahasianya… ada di lubang hidung… jadi pfft ahahahaha!"

Kedua Spirit itu tak mampu menahan tawanya lagi. Sementara itu, Maria memerah wajahnya, antara merasa malu dan kesal pada mereka (yang membuat) sistem tersembunyi semacam itu.

'Kalau dipikirkan lagi, kenapa tim teknisi malah ngebuat sensor rahasianya di lubang hidung? Kenapa?!'

Tenka dan Kurumi berhenti tertawa pada akhirnya.

"J-Jadi, ehem, kita cuma langsung masuk saja, benar begitu, Maria-san?" tanya Kurumi.

Maria menarik nafas lalu membuangnya.

"Benar... ayo."

Tenka dan Kurumi mengangguk.

Mereka bertiga mendekati patung wajah itu sebelum terserap.

Setelah mereka tiada, pusaran kecil itu perlahan menghilang, dan patung wajah ini menutup mulutnya dengan rapat.

.

.

.

Ada banyak patung wajah di sini, setiap kali mekanisme uniknya terbuka, orang-orang tiba-tiba keluar dari sana.

Hal serupa terjadi pada salah satu patung wajah ini. Saat mulutnya terbuka, ketiga Spirit ini langsung muncul, dan dua di antaranya menggeleng sedikit.

Maria tertawa gugup.

"Maaf, aku harusnya kasih peringatan dulu tadi."

"Ara, ini cuma hal kecil-hm?"

"Um, itu bukan masalah-huh?"

Tenka dan Kurumi terkesan dengan apa (yang dilihat) mereka sekarang.

Tempat ini begitu luas dengan banyak orang berkeliaran. Semuanya memakai seragam khusus dan terlihat bekerja sesuai profesinya masing-masing. Ada bagian mekanik, pengantaran suku cadang, divisi militer, dan masih banyak lagi.

Suara feminim terdengar keras.

[Diulangi. Simulasi uji coba senjata mesin nano akan dimulai dalam waktu 10 detik lagi. Diulangi. Simulasi uji coba senjata mesin nano akan dimulai dalam waktu 10 detik lagi. Sekian. Terima kasih].

Tenka tertarik dengan itu.

'Mesin... nano?'

Di sisi lain, Kurumi tidak sengaja melihat sejumlah kucing robotik terbang dengan jet kecil, dan tampak mengantar amplop surat ke orang-orang di sini.

'Meski bukan kucing asli, tapi bagaimanapun... itu tetap Neko-san.'

Kurumi berbinar matanya.

Maria menatap curiga Spirit lainnya.

"Kalian ngapain bengong terus? Ayo." (Maria).

"Eh? A-Ah, maaf, Maria-san." (Kurumi).

"K-Kau benar, ayo." (Tenka).

Ketiganya berjalan di antara kerumunan. Kurumi dan Tenka memperhatikan lautan awan di luar kaca.

'Atas awan? Hmph, menarik.'

'Ara, ufufu, kita lumayan tinggi juga.'

Mengamati hal lain, keduanya melihat banyak kendaraan udara terkadang melintasi jendela, salah satunya adalah jet. Mereka juga sempat mendengar beberapa percakapan menarik saat melewati orang-orang.

"Ada yang liat sepatuku gak?!"

"Yang kuminta dokumen soal energi plasma! Bukan daging cincang!"

"Kutang siapa yang jatuh di wajahku ini?!"

Ketiganya (sweatdrop).

Lalu, di sebelah sana, Tenka melihat beberapa tim nampak menciptakan sejumlah kerangka robotik khusus (yang menyerupai) makhluk pra-sejarah.

Dia tertarik.

"Maria, apa yang sedang mereka buat?"

Maria berkedip.

"Huh? Oh, itu salah satu proyek lama buatan organisasi, kalau gak salah namanya…"

"Predacon."

Mereka beralih ke belakang.

Di hadapan ketiganya, berdiri beberapa orang, salah satu di antaranya seorang pria berambut pirang mengenakan kacamata.

"Aku bisa jelaskan lebih lanjut, tapi pertama-tama; selamat datang di [Ratatoskr]," sambut pria itu.

Maria berseri.

"Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda di sini, Mr. Wood-maaf, Elliot-san," ujar Maria.

Elliot Woodman tersenyum.


Duo ayah-anak itu membuka kelopak matanya. Mereka melirik satu sama lain.

"…"

"…"

"WAHAHAHAHA RAMBUTMU JADI KRIBO!"

"AWKWKWKWKW MUKA AYAH GOSONG!"

Naruto dan Hibiki menertawai penampilan masing-masing.

Setelah merasa cukup, mereka berhenti tertawa, dan mengamati keadaan sekitar. Mereka menyadari kalau mereka sedang berada di suatu gua saat ini.

"Harus kuakui… tadi itu cara perpindahan yang buruk."

"Y-Yeah, aku setuju denganmu, Yah."

Naruto dan Hibiki mengambil posisi duduk.

"Omong-omong, kau baik-baik saja?"

"Cuma sensasi kejut, gak ada luka bakar atau sejenisnya."

Naruto lega.

"Mau lanjut? Atau istirahat dulu?"

"Mungkin akan lebih baik kalau kita langsung lanjut. Takutnya semakin lama kita di sini, semakin Nia-san sadar kalau 'kita' yang di dekatnya sekarang cuma sekedar klon."

"Pendapat yang bagus."

Hibiki berseri.

Keduanya meneruskan perjalanan. Beruntung, lorong gua ini mempunyai sistem penerangan dalam bentuk kristal zamrud, dan mereka tertanam di tiap lapisan dinding batu.

"Walau gak lama, sepertinya kalian sudah benar-benar bertingkah seperti keluarga pada umumnya."

Naruto menahan senyumnya.

'Kurasa itu yang disebut dengan… ikatan darah, mungkin?'

"Kau ada benarnya juga, tapi aku lega gak semua kebodohanmu diwariskan ke putrimu."

'Oi!'

Bijuu itu terkekeh.

"Dan terakhir, aku mau tidur, jadi jangan ganggu aku."

'Terserah kau saja, dattebayo.'

"Zzzz…"

Naruto (sweatdrop).

'Wah, dia benar-benar tidur rupanya,' batin Naruto.

Hibiki mengamati ekspresi ayahnya itu.

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu, Yah?" tanya Hibiki.

Nada bicaranya terdengar penasaran.

"Huh? Oh, enggak ada, tadi ayah cuma baru selesai bicara sama partner ayah," jawab Naruto.

Gadis itu mengangguk dan tidak mengatakan apapun lagi.

Naruto teringat sesuatu.

"Omong-omong, apa yang diajarkan ibumu saat kalian masih bersama?"

Hibiki berkedip.

"Oh, uh, selain pengendalian energi [Reiryoku], ibu pernah bilang kalau aku mampu ngelakuin apa yang ibu lakukan, tapi dalam skala yang lebih kecil."

"Gitu rupanya."

Beberapa saat kemudian.

Naruto dan Hibiki melihat ada dinding air di depan sana. Itu nampak berkilauan dan kaya dengan warna.

"Err, kita cuma perlu melewati ini aja, bukan?"

"Y-Ya, seharusnya begitu."

Naruto dan Hibiki menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Mereka berjalan lurus sampai melewati fenomena unik tersebut. Setelah melakukan itu, keduanya memperhatikan penampilan mereka bersih lagi, dan kering tanpa sensasi basah sama sekali.

"Cuma ibumu yang suka begini." (Naruto).

"Hehe." (Hibiki).

Keduanya berjalan lagi sampai tiba di suatu ruangan. Bila diperhatikan dari atas, tempat ini mempunyai bentuk lingkaran penuh, dengan seluruh permukaan baik dinding atau lantai terbuat dari batu. Mereka juga memperhatikan sejumlah obor api biru terletak di beberapa sudut ruangan.

Lalu, keduanya mengamati sebuah peti hitam dengan tulisan rumit, dan itu terletak di bagian tengah ruangan. Namun, jika ada hal yang menarik lagi, yaitu sebuah portal cahaya nampak di samping peti.

Hibiki tersadar.

"Oh, aku baru ingat, kalau gak salah ibu pernah bilang kalau portal ini bisa membawa kita ke tujuan yang kita inginkan, tapi cuma bisa sekali pakai."

Naruto berkedip.

"Oh, kita bisa kembali ke [Fraxinus] dengan cepat kalau gitu."

"Yup."

Duo ayah-anak itu mendekat dan menyentuh sisi peti tersebut.

Semuanya berubah menjadi cahaya seketika.

.

.

.

"Huh?"

"Huh?"

Naruto dan Hibiki kebingungan. Keduanya mengamati keadaan sekitar dan menyadari satu hal penting.

Saat ini, mereka terlihat melayang di angkasa luas, tapi untuk beberapa alasan keduanya merasakan ada 'pijakan' di bawah kaki mereka.

Tak hanya itu, di sini juga tak ada rupa planet, bintang, atau objek antariksa lainnya. Semua ini hening dan juga kosong.

"Um... kalian siapa?"

Keduanya beralih ke belakang.

Seorang gadis berambut hitam panjang dengan iris mata hijau terlihat dalam penglihatan mereka. Dia mengenakan pakaian sederhana berupa toga berwarna putih.

Namun, ada satu hal yang mengejutkan mereka berdua, yaitu rupa wajah perempuan ini mirip dengan seseorang.

"Kau… Carmerra… benar?" tanya Hibiki.

Carmerra terkejut lalu tersenyum lebar.

"Yup! Itulah aku, si cantik Carmerra-w-wahh!"

Dia mendadak bersujud di hadapan Hibiki. Mereka berdua terkejut dengan sikap perempuan ini.

"M-Maafkan hamba karena tidak menyapamu duluan, Nona Spirit."

Hibiki gelagapan.

"P-Pertama-tama, tolong berdiri dulu."

Carmerra menuruti permintaan gadis itu.

"Dan kedua, umm, aku bukan Spirit yang kau cari, melainkan anaknya."

Suara feminim lain terdengar.

"Awalnya aku ngerasa cemas, tapi aku senang dalam jangka waktu yang sebentar kalian berdua bisa langsung rukun."

Mereka memutar badan ke belakang dan melihat Mio. Spirit asal mula itu tampak muncul dari ketiadaan.

Naruto berkedip lalu mendadak tersenyum.

"Kebetulan kau ada di sini, Mio-chan."

"Hm? Memangnya ada a-eh?"

Mio terkejut saat lelaki itu memeluknya dari belakang. Senyum malu-malu nampak di wajah Spirit itu.

"S-Sayang, apa sebegitu rindunya kamu sama-"

Naruto langsung membanting Mio dengan keras.

"-ugyaa!"

Hibiki bertepuk tangan dengan keras. Dia tampak menyadari alasan Naruto melakukan itu.

"Bravo, ayah! Bravo!"

Mio meringis dan mencoba berdiri.

"K-Kenapa? Kenapa kau tega ngelakuin hal ini padaku?"

Naruto dan Hibiki menatap tajam dia.

"Petir," sahut keduanya bersamaan.

Mio berkedip. Spirit itu menyengir.

"Oh, putriku kena juga rupanya, ini sepadan kalau gitu."

Carmerra terkejut.

"P-Putri? Nona Spirit, kalau gitu perempuan ini…"

Mio mengelus lembut rambut Hibiki.

"Yup. Dia putriku."

Hibiki merasa malu saat menepis tangan ibunya itu.

"B-Bu, jangan keseringan ngelakuin itu padaku."

Mio melirik ke arah Naruto.

"Lihat? Anak kita manis sekali, bukan?" (Mio).

"Itu terlalu fakta." (Naruto).

"M-Muu, jangan ayah juga." (Hibiki).

Naruto dan Mio tertawa kecil. Hibiki cemberut dengan tingkah orang tuanya.

Di sisi lain, Carmerra memperhatikan lelaki itu, lalu teringat sesuatu.

"Oh, jadi kau yang dibicarakan Nona Spirit waktu itu."

Naruto penasaran.

"Bisa kau jelaskan lebih lanjut?"

Carmerra mengangguk dengan antusias.

"Aku lupa harinya kapan, tapi di era kami, Nona Spirit tiba-tiba mendapatkan penglihatan tentang seseorang, dan mulai melatih dirinya dalam kegiatan rumah tangga seperti memasak, posisi-"

Naruto dan Mio refleks menutup telinga putri mereka. Hibiki kebingungan mengapa diperlakukan seperti itu.

"-kamasutra, terus-"

Keduanya berhenti menutup telinga Hibiki.

"-mengasuh anak," tambah Carmerra.

Naruto berkedip.

"Jadi… secara gak langsung, kau sudah lama menguntitku dari sangat jauh… benar begitu, Mio-chan?" tanya Naruto.

"Yup, benar sekali," jawab Mio.

Nada bicaranya terdengar santai. Itu seakan tak ada hal aneh dari tindakannya.

"Huh, keren."

Gadis Hyuuga tertentu pernah melakukan hal serupa tapi dalam jarak dekat. Maka dari itu, dia sama sekali tidak terganggu, hanya terkesan saja.

Mio angkat bicara.

"Sekarang, mari kita bahas alasan kenapa kalian bisa di sini, tapi sebelumnya…"

Dia mengibaskan lengannya. Seorang gadis tiba-tiba muncul di sini.

"…ada seseorang yang juga harus ikut hadir."

Gadis itu terkejut saat melihat mereka berdua.

"T-Tunggu sebentar, kalian ngapain di sini? Eh? Terus yang bersamaku di kapal siapa?!"

Naruto tertawa gugup.

"Mereka adalah klon dengan teknik Henge, dan mengenai kenapa kami di sini... ceritanya panjang, Nia-chan." Naruto menambahkan. "Dan kalau kau belum tahu, kenalkan dua cewek ini adalah Mio-chan… Spirit pertama, dan temannya, Carmerra."

Nia berkedip.

"Oh, wow... boleh kupanggil kau dengan Mio-chan juga?"

"Sesukamu saja."

"Keren-eh?"

Nia tercengang. Karena saat ini, dia melihat suasana angkasa di sekitarnya, dan itu membuatnya hampir terkena serangan jantung.

"A-Apa yang-"

Mio tertawa geli.

"Jangan khawatir, nyatanya kesadaran kita sedang berada dalam semesta di artefak buatanku dan ini aman." (Mio).

"O-Oh, syukur kala-eh, kau bilang apa tadi?" (Nia).

"Fufu, bukan apa-apa." (Mio).

Nia berkedip beberapa kali lalu mengangkat bahu. Dia beralih ke Carmerra dan merasa terkejut. Hal serupa juga dirasakan Carmerra.

"Kau… bagaimana bisa mukamu mirip denganku?" tanya Nia.

"Y-Ya, aku juga… sama kagetnya sepertimu," kata Carmerra.

Sementara itu, Mio mengamati keduanya sambil tersenyum, tapi pemikirannya berkata lain.

'Melihat sinkronisasi keduanya, apa mungkin… tapi kalau benar, itu berarti Carmerra sudah…'

Nia angkat bicara.

"Jadi, um, kenapa aku, dan semuanya ada di sini?"

Mio tersadar.

"Oh, kita akan menyaksikan reka ulang beberapa adegan pada zaman kuno, karena ini menyangkut… ancaman yang akan kita hadapi nanti."

Nia mengerutkan alis.

"Uh, ini terkait Spirit yang sangat membenci umat manusia, bukan? Sebagai Spirit pertama, kau sendiri yang kasih tahu info ini pada Maria-chan."

Mio terdiam. Dia tampak memikirkan kata-katanya.

"Aku… keliru." Mio menambahkan. "Ancaman yang kau maksud adalah Carmerra, tapi seperti yang kau lihat, dia keliatan masih waras saja."

Carmerra menahan tangisnya.

"Nona Spirit…"

Nia melebarkan matanya.

"W-Woah, jadi kau ingin bilang kita harus... berhadapan dengan makhluk entah apa ini, dan itu lebih mengerikan darinya?!" (Nia).

"Aku gak mengerikan! Kalian jahat!" (Carmerra).

Carmerra benar-benar menangis. Hibiki menyerahkan tisu kepadanya.

"Mau?"

"T-Terima kasih, auhuhu."

Naruto (sweatdrop).

Menggeleng, dia menatap Mio, lalu beralih pada Nia.

"Sama sepertimu, aku juga penasaran dengan yang dibicarakan Mio-chan, terlebih lagi info penting ini terlalu mendadak dibahasnya," ujar Naruto.

Hibiki mengangguk. Dia menyetujui perkataan ayahnya.

Mio tersenyum.

"Mungkin ada baiknya aku segera menunjukkan ini sekarang juga."

Dia menjentikkan jarinya. Suasana di sekitar mereka berubah.

Ketimbang hening, kali ini teriakan dan raungan terdengar jelas, dan itu berasal dari para monster dengan jenis dan ukuran berbeda-beda hampir memenuhi alam semesta ini. Namun, di antara mereka, ada (yang terlihat) menonjol, yaitu serigala hitam supermasif.

Mio berkedip.

"Oh, sebelum kalian penasaran, pertarungan ini terjadi sebelum umat manusia kuno muncul, dan yang ada cuma Spirit, galaksi, bintang, planet, sistem tata surya, dan objek semesta lain." Mio menambahkan. "Omong-omong, nama makhluk yang terlihat lebih sangar dari lainnya adalah Carcharoth.

"Dia sedikit menyebalkan, dan eksistensinya cukup tebal bahkan setelah kuserang dengan alam semesta yang kukompres lebih kecil."

Tak ada jawaban.

Karena baik Nia dan Naruto menatap Mio dengan pandangan aneh. Hanya Hibiki dan Carmerra tetap fokus ke adegan itu, tapi yang satu masih mengusap air mata, dan satunya lagi tersenyum gugup.

"Kenapa... kalian melihatku seperti itu?" tanya Mio.

Nada bicaranya terdengar penasaran.

Nia matanya menyipit.

"Cheat."

"Enggak, kemampuanku bukan cheat, Nia."

"Cheat!"

Mio (sweatdrop).

"O-Oh, baiklah, aku cheat kalau gitu."

Sementara itu, Naruto menggaruk pipinya, dan tertawa gugup.

"Err, begini, Mio-chan, kau baru saja buat alam semesta… lalu diubah jadi serangan?" kata Naruto.

"Bukannya aku sudah pernah bilang kalau aku bisa ngelakuin itu?" sahut Mio.

"B-Benar, tapi bagian yang itu-enggak, lupakan."

Mio berkedip dan kembali melihat ke depan.

"Nah, kalau gak ada pertanyaan lagi, mari kita fokus dengan kejadian yang sedang terjadi."

Naruto dan Nia perlahan mengangguk. Keduanya ikut mengamati peperangan besar ini sama seperti yang lainnya.

Para monster ini tampak menyerang sosok perempuan bercahaya. Walau seorang diri, dia nampak tenang, dan fokus menghadapi semua lawannya. Setiap kali ada kumpulan monster yang mendekat, dia langsung menciptakan banyak serangan, beberapa di antaranya seperti tembakan kuasar dan gelembung yang menghasilkan ledakan galaksi.

Namun, saat menghadapi Carcharoth, dia menciptakan alam semesta yang dikompres menyamai ukuran pluto dan menghantamnya dengan itu.

Kurama tercengang.

"Kita memang pernah melewati perang, tapi apa yang kita lihat sekarang… ini sangat gila!"

Naruto menelan ludah saat mengamati Spirit asal-mula itu. Dia tahu kalau Mio itu memang kuat, hanya saja tidak sekuat ini.

Merasa diperhatikan, Mio beralih ke samping, dan kepalanya dimiringkan.

"Hm? Sekarang apalagi, Naruto?" tanya Mio.

"Huh? O-Oh, enggak, aku cuma berpikir… kau tambah manis saja gitu," ujar Naruto.

"Penyelamatan yang bagus."

Mio senang lalu memeluk lengannya.

"Hehe, makasih sayang." (Mio).

"A-Ahaha, sama-sama." (Naruto).

Hibiki terkesan.

'Dulu ibu memang pernah menceritakan kejadian ini, tapi ketegangannya lebih terasa kalau ngeliat secara langsung.'

Carmerra meringis.

'Nona Spirit, jadi sebelum kami ada, kau berjuang seorang diri demi mempertahankan semesta ini. Kau… benar-benar hebat.'

Nia melongo. Pemikiran gadis itu sedang kosong saat ini.

Kemudian, saat menyadari pertarungan ini tak akan selesai dalam waktu dekat, gadis bercahaya ini mengangkat salah satu tangannya ke atas.

"Ain."

Cahaya dengan intensitas tinggi menyelimuti alam semesta. Tidak lama setelahnya, para monster tadi lenyap tanpa menyisakan sisa, dan hanya menyisakan sosok perempuan bercahaya itu saja.

Namun, perempuan bercahaya itu memutar badan, dan melihat beberapa kristal dengan warna biru, crimson, kelabu, dan ungu muncul dari ketiadaan. Dia tersenyum tipis.

"Begitu, sama sepertiku, kalian secara alami juga ikut terlahir dari semesta ini. Jadi itu berarti... aku saudara tertua kalian, hihi."

Naruto berkedip.

"Oh, jadi ini yang kau maksud dengan 'alami' pada saat kita membahas Senshi-maaf, [Kristal Spiral] maksudku." (Naruto).

"100 untukmu." (Mio).

Adegan ini berubah. Ketimbang luar angkasa, kali ini mereka melihat keramaian pada suatu wilayah padang pasir, terdapat banyak pillar tinggi dan piramida di sini. Mereka juga melihat kerumunan warga berkeliaran dengan toga putih.

Mio dan Carmerra tersenyum melankolis.

"Nona Spirit…"

"Yeah, aku paham, Carmerra, paham sekali."

Putri mereka penasaran.

"Jadi, ini daerah para manusia kuno, Bu?" tanya Hibiki.

"Yup, namanya R'lyeh," jawab Mio.

Nia bersiul. Pemikiran gadis itu berjalan lagi.

"Aku telah banyak membuat asumsi mengenai keadaan lingkungan orang-orang terdahulu, tapi ini… jauh melebihi perkiraanku," ungkap Nia dengan kagum.

Naruto tidak banyak bicara, tapi di satu sisi, dia juga terkesan saat ini.

Tidak lama kemudian.

Semua orang di area ini memperhatikan seseorang, dan tanpa pikir panjang, mereka langsung menyingkir dari jalan. Orang yang dimaksud adalah seorang gadis berambut biru pucat dengan iris biru. Dia mengenakan toga putih dengan fitur tambahan berupa tudung di sekitar kepalanya.

Para warga senang ketika melihat gadis itu.

"Nona Spirit, selamat sore."

"Sore."

"Kecantikanmu mengesankan seperti biasanya, Nona Spirit."

"Hihi, kamu juga sama cantiknya, Rhea."

Sekelompok anak kecil tiba-tiba mendekati Spirit. Mereka membawa sesuatu.

"Nona Spirit! Nona Spirit! Ini ada buah-buahan untukmu!"

Spirit tersenyum.

"Terima kasih, anak-anak baik."

Anak-anak itu cengengesan.

Naruto mengerutkan alis.

"Ini perasaanku saja, atau kau memang gak punya nama saat di era ini?" tanya Naruto.

Carmerra tertawa gugup.

"Um, Tuan Naruto, mengenai hal ini, itu karena Nona Spirit telah membimbing kami dalam banyak hal." Carmerra menambahkan. "Atas alasan ini juga kami lebih nyaman memanggilnya dengan sebutan rasnya, ketimbang membuatkannya nama. Karena… anggap saja, itu seperti bentuk penghormatan kami kepadanya."

Mio menghela nafas.

"Meski aku senang kau membahas itu, tapi kalau dipikirkan lagi, ada baiknya kau mulai panggil aku dengan sebutan namaku, yaitu 'Mio'."

"E-Eh? Tapi hal semacam itu…"

"Carmerra."

"Hiiih! Baiklah, Nona Mio!"

Naruto tersadar saat mengetahui ini.

"Oh, pantas saat kita bertemu dulu, kau tiba-tiba ingin kubuatkan nama," ujar Naruto.

"Salah satu momen spesialku," sahut Mio.

Hibiki dan Nia tidak mengatakan apapun. Keduanya sekarang lebih nyaman mendengarkan.

Mereka menyadari adegan telah berubah.

Malam hari tiba.

Pada puncak gunung tertentu, Spirit dan Carmerra duduk di atas batu besar, dan keduanya tampak mengamati sebuah kuil megah.

Spirit angkat bicara.

"Carmerra," ujar Spirit.

"Ya, Nona Spirit?" respon Carmerra.

Spirit terdiam sebentar. Pipi entitas ini memerah dan senyum malu-malu nampak di wajahnya.

Hibiki menyengir. Mio menyadari hal ini dan tertawa gugup.

"Iya deh, ibu ngaku keliatan lucu, puas kamu?" (Mio).

"Hehe." (Hibiki).

Mereka hanya tersenyum saat melihat interaksi keduanya.

"Um, begini..."

Carmerra menunggu dengan sabar. Gadis itu berpikir kalau mungkin dia berusaha merangkai kata-kata yang tepat.

"Aku… sudah putuskan, bulan depan aku akan pergi menemuinya di dunia sana."

Naruto penasaran.

"Mio-chan, kalau boleh aku tahu... seberapa jauh untukmu agar bisa sampai di alam semestaku?" tanya Naruto.

Ketiganya tertarik. Terutama Nia.

Mio berkedip lalu tersenyum.

"Pertanyaan bagus, saat pertama kali aku ke sana, aku harus berpindah melewati 50 alam semesta agar bisa sampai."

Hibiki dan Carmerra terkesan.

"Itu keren, Bu!"

"Seperti yang kuharapkan darimu, Nona Spi-Mio!"

Naruto perlahan berkedip.

"O-Oh, terus saat kau kembali ke semesta ini?" (Naruto).

"120." (Mio).

"Loh? Bukan 50 juga?" (Naruto).

Kurama tercengang.

Nia menggeleng.

"Naruto-kun, bahkan tanpa kita sadari, sebenarnya gak sedikit alam semesta lain di luar sana yang baru muncul dan sedang berkembang sekarang. Jadi wajar mengapa jarak antar semesta semakin lama akan semakin jauh."

"Oh, pantas, dattebayo."

Mio tersenyum. Dia tampak mengapresiasi jawaban gadis itu.

Nia mengusap dagunya.

"Omong-omong, boleh aku ikut bertanya juga?" sahut Nia.

"Tentu saja boleh, ajukanlah," balas Mio.

Nia senang.

"Makasih. Jadi, um, apa ada perbedaan jauh antara menciptakan semesta, mereset, dan melewati yang sudah ada sebelumnya?"

Mio mengangguk.

"Sederhananya, butuh energi cukup besar untuk membuat satu semesta atau mereset kerusakannya, dan energi lebih kecil jika cuma melewati yang sudah ada sebelumnya. Malah sangat kecil lagi kalau yang berpindah hanya esensi spiritual; salah satu contohnya jiwa."

Mio sempat mengamati lelaki itu dengan senyuman. Naruto tertawa gugup saat diperhatikan seperti itu.

"Yah, saat kau berpindah ke dunia ini..."

'Berisik, Kurama.'

"Ceh, kau gak seru."

Nia mengangguk.

"Gitu rupanya. Makasih, Mio-chan."

"Sama-sama. Apa ada yang mau bertanya lagi?"

Mereka menggeleng. Mio mengangguk.

"Oh, ya sudah kalau gitu."

Kelimanya beralih ke adegan ini.

Carmerra berbinar matanya.

"Yeah! Akhirnya! Itu berita bagus, Nona Spirit…"

Carmerra terdengar khawatir.

"…bentar, terus gimana sama yang lainnya? Maksudku, kalau misalnya kau tiada, siapa yang akan mengawasi kami?"

Spirit tersenyum.

"Aku sudah menduga kau akan bicara seperti itu."

Dia membuka telapak tangannya, lalu sebuah kristal bercahaya muncul dari ketiadaan, itu memancarkan sinar abu-abu (yang menawan).

Carmerra terkejut.

"M-Mustahil, jangan bilang ini…"

"Ya, ini persis seperti yang kau pikirkan." Spirit menambahkan. "Dan karena ini momen yang tepat, aku akan mengatakan ini padamu; maukah kau jadi manusia pertama yang menjadi Spirit, dan membantuku dalam perkembangan umat manusia?"

Dia terdiam, lalu dengan ekspresi girang, dirinya mengangguk.

"H-Hamba siap!"

Spirit puas.

"Kebetulan [Rasiel] juga menginginkan hal ini, jadi… pejamkan matamu."

Carmerra matanya terpejam.

Kemudian, [Rasiel] terbang ke arah Carmerra, lalu menyelimutinya dengan sinar kelabu sebelum meredup. Carmerra saat ini mempunyai penampilan (yang mirip) dengan biarawati. Warna pakaian ini merujuk pada tinta dengan kain luar semi-transparan, garis emas mengitari area pinggang pakaian, dan sepatu bot bertali.

Nia menyengir ke arah Carmerra.

"[Astral Dress] yang kau punya bagus juga."

Carmerra ikut menyengir.

"Hehe, makasih banyak."

Kurama terkekeh.

"Heh, kurasa ini yang disebut dengan pertemanan lewat kepribadian."

Naruto hanya tersenyum.

Carmerra berkedip.

"Ini… rasanya bagus, tapi bisa gak kembalikan pakaianku jadi semula?"

Cahaya menyelimuti gadis itu lagi, setelah beberapa saat, itu menunjukkan penampilan Carmerra (yang sebelumnya).

Spirit mengangguk.

"Untuk permulaan, kau cuma bisa memakai sebagian kekuatannya, tapi ke depannya hal ini akan berubah." Dia menambahkan. "Dan sebelum pergi, aku akan mengamati gimana kau menangani tugasku sampai bisa, mengerti?"

"Mengerti!"

"Bagus."

Perlahan, pakaian yang dikenakan Spirit berubah, itu menjadi gaun dengan warna putih.

Naruto berkedip.

"Oh, jadi ini momen pertama kali kau pakai pakaian itu."

Mio berseri.

"Yup, dan masih jadi baju favoritku hingga sekarang."

Carmerra berbinar matanya.

"Waah, itu cocok untukmu, Nona Spirit."

Spirit gembira.

"Hihi, makasih pujiannya, Carmerra."

"Hehe, tapi ngomong-ngomong... pakaian apa itu?"

Spirit mengubah pakaiannya menjadi toga lagi. Dia menggaruk pipinya.

"Salah satu jenis pakaian yang akan muncul di masa depan, dan khusus pertemuan ini, aku berencana memakai itu nanti... itu mengingatkanku, menurutmu apa yang harus kulakukan saat bertemu dengannya?"

Carmerra berpikir sejenak.

"Oh, kau pura-pura aja mau buah, nanti pasti diambilin, udah itu baru deh buat janji ketemuan lagi. Mudahkan?"

"Boleh juga. Makasih sarannya, Carmerra."

"Hehe, sama-sama nona Spirit."

Mereka tersenyum satu sama lain.

Naruto (sweatdrop).

"Jadi... sebelum kita bertemu, kau benar-benar mempersiapkan dirimu rupanya."

Mio menyengir ke arahnya tanpa dosa.

Nia hanya menggeleng.

"Ada-ada saja."

Hibiki menghela nafas. Dia tersenyum pada Carmerra.

"Tapi aku senang ibu punya teman yang baik," kata Hibiki.

Carmerra ikut tersenyum.

"Banyak makasih atas pujiannya, Nona Hibiki," jawab Carmerra.

Adegan telah berubah.

Keramaian masih terlihat di wilayah ini. Siang hari tiba menggantikan pagi hari.

Sementara itu, Carmerra nampak melayang dengan [Rasiel] yang terbuka, dia memikirkan sejenak kegiatan berikutnya.

"Membuat ruang bawah tanah yang terletak pada dimensi lain? Sudah. Menciptakan banyak golem buat menambang? Juga sudah. Membasmi kawanan megalodon dan beberapa dino nakal? Itu juga sudah."

Dia menutup [Rasiel]. Itu lenyap seketika.

"Hmm, sekarang apalagi…"

Carmerra tiba-tiba batuk. Gadis itu mengamati telapak tangannya dan terkejut dengan cairah merah yang dilihatnya sekarang.

"D-Darah?"

Nia meringis.

"Itu… terlihat sakit."

Carmerra terdiam.

Mio tampak tidak nyaman.

"Aku yang dulu… dapat dikatakan sangat egois."

"Nona Mio, tapi ini sudah lama terjadi."

"Memang benar, tapi itu gak mengubah fakta, bukan?"

Hibiki berniat angkat bicara, tapi saat melihat ayahnya menggeleng, pada akhirnya dia memilih diam.

Carmerra merasakan pening di kepalanya, tapi dirinya berusaha mengabaikan hal itu.

"T-Tolong..."

Mio matanya menyipit.

"Naruto, apa kau masih ingat percakapan kita sebelumnya?"

Naruto terdiam sebentar. Dia mengangguk.

"Ya. Kenapa memangnya?"

"Rupanya teorimu terbukti benar. Dan peristiwa yang akan kita saksikan ini akan membuktikannya."

Carmerra mendengarkan dengan penasaran. Hal serupa dialami Nia dan Hibiki.

"Apa maksudmu, Nona Spirit?" tanya Carmerra.

"Carmerra, ingatanmu mungkin masih kabur, tapi ini alasan mengapa kau bisa sampai menimbulkan kekacauan besar pada waktu itu," ujar Mio.

"Eh? O-Oh, baiklah."

Naruto mengerutkan alis.

'Aku punya firasat buruk soal ini.'

"Terkait kekacauan? Itu sudah pasti."

'Dan boleh aku mengira kau suka yang semacam ini, Kurama?' balas Naruto.

Bijuu itu mencibir.

"Untuk hiburan seperti film gak masalah, tapi kalau terjadi di dunia nyata, kedamai-maksudku, aku gak akan bisa tidur nyenyak, gak akan bisa tidur nyenyak."

'Jadi begitu... dasar tsundere.'

"Ceh, berisik."

Naruto menahan senyumnya.

Menyadari keadaan darurat, Carmerra perlahan turun, dan melihat seorang pria tua terluka di bagian perut.

"W-Woah, tunggu sebentar, akan kusembuhkan lukamu."

Melalui pikirannya, [Rasiel] muncul dengan halaman terbuka, dan Carmerra segera mencari halaman tertentu.

Namun, tanpa disadari olehnya, pria itu menyeringai memperlihatkan gigi taring dengan iris matanya berubah menjadi hitam.

"Nah, ketemu-eh?"

Carmerra memuntahkan darah segar, matanya melebar, terlebih lagi ketika dirinya melihat tangan pria itu melubangi [Rasiel] sekaligus menembus perutnya. Dia juga memperhatikan perubahan pada mulut dan iris mata pria ini yang tampak mengerikan.

Naruto menyipitkan matanya.

'Kurama?'

"Tajam dan mata hitam. Sudah kuingat."

'Bagus.'

Pria itu terkekeh.

"Terima kasih, dan sisanya… mengamuklah."

Dia diselimuti aura hitam dan lenyap begitu saja.

Di sisi lain, [Rasiel] tergeletak tak berdaya di tanah, lalu berubah menjadi kristal dengan cahaya redup.

Sementara itu, Carmerra berusaha mengatakan sesuatu, tapi kawanan ular hitam keluar dengan cepat dari lubang di perutnya.

"Agh... agh..."

Carmerra menengadah dan bola matanya pecah.

"...ARRRRRRRRRRRGGGGHHHHH"

Carmerra terdiam.

"Jadi... begitu rupanya."

Merasa diperhatikan, dia menyadari pandangan khawatir dari mereka, dan itu membuatnya senang.

"Terima kasih, tapi aku baik-baik saja, sungguh."

Naruto tersenyum.

"Kalau kau perlu teman bicara, kami atau yang lain, pasti akan mau mendengarkan," ujar Naruto.

Nia dan Hibiki mengangguk.

"Benar," sahut Nia.

"Sudah pasti itu," ujar Hibiki.

Mio berseri.

"Agak aneh kalau aku gak ngelakuin hal sama."

Carmerra terharu.

"Dari lubuk hatiku terdalam, aku berterima kasih... atas kebaikan kalian."

Mereka tersenyum. Kelimanya menyadari adegan telah berubah lagi.

Kali ini, banyak ular raksasa tumbuh begitu besar, dan hampir menyelimutisektor observable universe itu sendiri. Mereka telah melahap lebih dari satu triliun galaksi saat berkembang.

Cahaya ini muncul dan memperlihatkan seseorang. Mio terkejut.

"A-Apa, apaan ini…"

Para ular raksasa itu menyadari kehadiran Mio, dan tanpa ragu, mereka langsung bergerak serta berniat melahapnya hidup-hidup.

Mio bereaksi dengan cepat.

"Ain."

Cahaya penuh menyapu bersih mereka semua hingga tak ada sisa. Namun, gadis itu bisa melihat dari jauh raga seseorang yang dikenalinya dekat bumi, akan tetapi diselimuti hawa hitam yang mencekam.

"Carmerra!"

"▅▅▅▅▃▃▃▃▂▂▂▂▂▃▃▃▃▅▅"

Carmerra merespon dengan suara mengerikan.

Dengan cepat, hawa hitam di sekitarnya mengambil bentuk lingkaran, itu menembakkan energi hitam melebihi kuasar.

Menyadari hal ini, Mio mengarahkan telapak tangannya, dan menembakkan energi putih yang melesat sangat cepat.

Ledakan supermasif terjadi. Adu serangan ini menciptakan gesekan keras (yang mengiris) lapisan terluar maupun terdalam di alam semesta.

"Ugh!"

Mio hampir terpukul mundur, tapi segera menghasilkan penghalang energi agar mengurangi kerusakan pada dirinya.

Seakan belum cukup, kumpulan hawa hitam itu mengambil bentuk lain yakni lubang hitam, dan langsung mengisap lebih cepat dari yang dapat diikuti kecepatan cahaya. Itu menyerap hukum kausalitas, unsur, materi, alasan, bahkan ruang-waktu jika tak segera dihentikan.

Mio serius.

"Untuk sekarang, aku harus menghentikan amukannya dulu," gumam Mio.

Mio membuka lebar tangannya.

Di saat bersamaan, replika lautan muncul dan membesar dari ukuran yang seharusnya, lalu menghantam Carmerra. Dengan cepat, Mio menyatukan telapak tangannya, lalu pembekuan melampaui kenyataan terjadi pada Carmerra. Tak ada pergerakan lain darinya usai itu.

Mio puas.

"Sebelum hal buruk terjadi lagi, ada baiknya aku memindahkannya ke tempat yang aman."

Saat dia berkonsentrasi, segera semua itu berubah menjadi sebuah peti dengan ukiran kuno, dan objek tersebut masuk ke dalam sebuah portal yang dibuatnya.

Kemudian, dia memperhatikan banyak retakan, kehancuran lingkungan kosmik, dan luka gesekan di alam semesta luas ini.

"..."

"Bahkan.. saat aku berhasil mereset ini semua, itu akan menguras cukup banyak [Reiryoku] yang kumiliki sekarang, dan agar bisa kembali lagi ke sana.. aku harus memulihkan kekuatanku dan itu butuh waktu lama, yang berarti..."

Mio meneteskan air matanya. Spirit itu mengusap perutnya dengan ekspresi bersalah.

"Maaf *hiks* maafkan mama *hiks* karena kesalahan mama, kau harus tumbuh besar tanpa ayahmu di sisimu *hiks* maaf… maaf..."

Hibiki merasakan dadanya sesak. Seingatnya, Mio tidak pernah kasih tahu kejadian (yang ini) kepadanya, dan saat mengingat momen di mana dirinya membentak ibunya, rasa bersalah di hatinya tumbuh berkali-kali lipat.

Merasakan pundaknya disentuh, dia menengok ke samping, dan melihat Mio dan Naruto tersenyum.

"Kau masih belum tahu apa-apa waktu itu," kata Naruto.

"Dan gak peduli berapa kali, ibu akan bilang ini lagi dan lagi; kalau ibu sudah lama memaafkanmu," ujar Mio.

Hibiki tersentuh dan perlahan mengangguk.

"Um."

Nia merasa prihatin, tapi di satu sisi, senang ketika melihat kebersamaan keluarga ini.

Carmerra terdiam sebentar. Dia tampak memikirkan sesuatu dan entah apa itu.

Kemudian, dia mengusap air matanya, dan memikirkan langkah berikutnya.

"B-Benar, aku harus ke bumi dan menemui yang lain sekarang."

Mio lenyap seketika.

Adegan telah berubah. Mereka tercengang saat melihat itu.

"Nona Mio…"

"Kau waktu itu gak sadar dengan perbuatanmu, jadi bukan masalah besar, Carmerra."

Carmerra berniat bicara lagi, tapi menahan niatnya karena menyadari hal tersebut tidak akan mengubah pemikiran Mio.

Spirit itu muncul di dekat bumi. Dia langsung melayang turun melewati atmosfer.

Kemudian, usai mendarat pada lokasi tertentu, dia melebarkan matanya.

Nia tercengang.

"Ini... mengerikan."

Keempatnya hanya terdiam saat mendengar kata-kata gadis itu.

"A-Apa yang…"

Situasi di R'lyeh begitu kacau. Banyak piramida maupun pillar yang runtuh dan kebakaran terjadi di mana-mana. Seakan belum cukup, dia juga melihat banyak mayat manusia dengan kondisi mengenaskan seperti badan setengah tiada, kepala pecah memperlihatkan isi otak, atau kolam darah dengan raga anak-anak.

"Semuanya…"

Mio merasa kakinya lemas, tapi dirinya sekuat tenaga untuk tetap berdiri, dan menggeleng.

"E-Enggak, demi putriku, aku gak boleh putus asa, tapi pertama-tama…"

Mio mengangkat tangannya ke atas.

Semua bangunan runtuh menyatu dan utuh dalam waktu singkat. Kumpulan awan juga mulai bermunculan di langit dan menurunkan hujan ke area kebakaran. Tidak hanya itu, semua mayat terangkat, dibersihkan, dikembalikan anggota badannya yang tiada sebelum dimasukkan ke peti mati khusus. Mio melakukan itu semua dengan konsentrasi penuh.

"…beban yang dipikul pasanganmu yang ini berat sekali, Naruto."

Naruto terdiam sejenak. Dia mengamati Spirit itu.

Merasa diperhatikan, Mio menatap balik, dan hanya tersenyum lalu kembali beralih ke adegan (yang terjadi).

Kemudian, dia merasakan sesuatu, dan seketika dari kejauhan sebuah kristal terbang mendekatinya. Spirit itu terkejut.

"[Rasiel]? Kenapa kau gak bersama Carme..."

Kristal itu menyala kecil lalu sinarnya redup. Mio menangkap objek tersebut sebelum mengenai tanah.

"Kebencian… umat manusia…?" gumam Mio.

Dia tersentak.

"Begitu, apa mungkin... Carmerra jadi Spirit yang diselimuti kebencian, dan dia lepas kendali karena gak mampu mengendalikan kekuatannya?"

Mio mengelus pelipisnya.

"Ugh, harga diriku." (Mio).

"Dan aku mengira kau gak punya itu." (Naruto).

"Berisik, sayang." (Mio).

Ketiganya tersenyum geli.

"Ini gak aneh, Mio-chan, terlebih lagi kau bahkan belum pernah ketemu sama dalang dibalik penyerangan Carmerra-san, jadi wajar kau malah memikirkan skenario lain," ujar Nia.

Nada bicaranya terdengar humoris. Namun, jika diperhatikan, dia berusaha mencairkan suasana.

Mio menghela nafas.

"Kau ada benarnya juga, Nia."

Naruto mengerutkan alis. Ninja itu memikirkan sesuatu saat ini.

'Apa mungkin... enggak, besar atau kecil, kemungkinannya masih tetap ada... Kurama?'

"Aku berpikir sama."

Carmerra memperhatikan lelaki itu.

"Tuan Naruto, kau sedang memikirkan apa?" tanya Carmerra.

"Hm? Oh, aku cuma berpikir... kalau invasi monster-monster itu saat momen kelahiran para Spirit, apakah kemungkinan ulah dari pelaku sama yang menyerang Carmerra?" kata Naruto.

Mio tersentak.

"T-Tapi hal semacam itu… bentar, kalau dipikirkan lagi, dugaanmu bisa saja benar."

Carmerra terkejut.

"Itu… bukan pemikiran yang buruk, Tuan Naruto."

Hibiki berkedip.

"Heeh, ayah bisa pintar juga rupanya." (Hibiki).

"Oi." (Naruto).

"Hehe, damai, damai." (Hibiki).

Menggeleng, dia memejamkan mata, dan kristal itu menghilang dengan cepat.

"Untuk sementara waktu, pulihkan dirimu dulu, [Rasiel]," gumam Mio.

Dia melihat tanah mendadak terbelah dan banyak bangunan naik ke permukaan. Banyak orang langsung keluar dan menghampiri Spirit itu dengan sukacita.

""Nona Spirit!""

""Nona!"'

Spirit itu terkejut, tapi di satu sisi, ikut merasa gembira. Mio juga memperhatikan ada sekitar seratus orang (yang masih) hidup.

"Semuanya, a-aku senang masih ada yang selamat di sini."

Mereka semua mengangguk. Salah satunya berbicara.

"Nona Spirit, mengenai Carmerra…"

Mio berpikir sejenak. Dia berpikir untuk mendengar opini lain terkait hal ini.

"Aku tahu ini terdengar aneh, tapi... apa kalian, tahu penyebabnya mengapa dia seperti itu?"

Seorang wanita tua berbicara.

"K-Kami juga gak tahu, ini semua terjadi begitu saja…"

Dia berhenti bicara saat mengamati Spirit itu dengan jelas.

"Y-Ya ampun, Nona Spirit, kau hamil?! Siapa ayahnya?!"

Mio dan Hibiki menunjuk lelaki itu.

"Dia," ujar Mio.

"Ini orangnya," kata Hibiki.

Naruto tertawa kecil.

"Dasar, ada-ada saja kalian ini."

Duo ibu-anak itu menyengir.

Nia menggeleng sementara Carmerra hanya tersenyum.

Mereka terkejut mendengar hal ini. Namun, ekspresi kebahagiaan nampak di wajah orang-orang, tapi itu berubah menjadi kekhawatiran saat Mio tidak merespon apapun.

"Nama ayahnya… Naruto Uzumaki, tapi karena aku merasakan bahaya di sini, aku… memutuskan untuk meninggalkannya."

Orang-orang terkejut. Raut wajah bersalah nampak di wajah mereka.

"N-Nona Spirit, kami… kami minta maaf," ujar seorang pria (yang mewakili semuanya).

Mio menggeleng.

"Itu bukan masalah, Gerard Woodman... tapi jika kalian mau, agar kalian dapat menikmati hidup lagi ke depannya, perihal semua ini..."

Wanita tertentu menyela.

"T-Tunggu sebentar. Nona Spirit, terlepas dari apa yang telah terjadi, biar bagaimanapun... kau dan yang lain tetap sejarah terpenting masa ini. Dan kami... ingin, keturunan kami nanti tetap mengetahuinya," jelas wanita itu.

Jika diperhatikan, kebanyakan orang di sini nampak tidak nyaman, dan hanya sebagian kecil saja yang (mengangguk).

Spirit itu memahami artinya.

"Aku mengerti, kau ada benarnya juga, Elena Mathers."

Seseorang dari kerumunan ini mengangkat tangannya.

"Um, gak seperti mereka bersepuluh, kalau kami ingin... ngelupain kejadian ini, Nona Spirit," kata pria ini.

Mereka mengabaikan pandangan tidak percaya dari sebagian kecil orang di sini.

Mio mengangguk.

"Akan kulakukan saat reset. Jangan khawatir." Mio menambahkan. "Dan bagi mereka yang ingin mengingat semua ini, aku punya permintaan, maukah kalian mendengarkanku?"

Sepuluh orang ini mengangguk cepat.

"Terima kasih, mengenai permintaanku, ada kemungkinan di masa depan nanti, umat manusia baru gak akan seramah umat manusia kini dalam perihal Spirit, jadi aku ingin kalian… atau keturunan kalian, untuk menyiapkan diri terkait hal itu."

"Kami mengerti, Nona Spirit."

"Ya!"

"Pasti itu!"

Secara mengejutkan, tiga [Kristal Sephira] lain tiba-tiba muncul di hadapan semuanya, dan mereka memancarkan cahaya kecil.

Spirit itu terkejut.

"Aku mengerti, kalau itu keinginan kalian, aku gak akan melarangnya." Dia menambahkan. "Tapi khusus kau berdua, bisakah… jangan berikan kekuatan penuh kalian, pada manusia yang kalian pikir cocok jadi Spirit?"

Seakan paham, kristal crimson dan biru itu pecah menjadi beberapa bagian, dan lapisan terbesar mereka langsung mendekatinya. Mio mengenggam itu sambil tersenyum.

"Makasih [Zafkiel], [Michael], sekarang kalian boleh pergi."

Dua serpihan [Kristal Sephira] itu lenyap. Mereka dalam perjalanan menuju masa depan saat ini.

Sementara itu, Mio mengamati kristal dengan warna ungu ini, dan mengangguk.

"Ada dimensi khusus yang sudah kubuat dengan pikiranku. Jika kau ke sana dan menunggu dalam waktu lama, kau akan bisa berkembang menjadi individu, seperti yang kau inginkan."

Kristal ungu itu bersinar lebih terang lalu lenyap begitu saja.

Mio merasakan sesuatu. Dia mengamati tangannya memudar tapi hanya sesaat.

Tak ada jawaban. Mereka hanya terdiam tanpa mengatakan apapun.

Banyak orang di sini menahan tangisnya saat melihat hal tersebut. Bahkan raut wajah penyesalan nampak di sebagian besar orang di sini.

Mio beralih ke arah semuanya.

"Saat reset dimulai, aku akan pergi jauh memulihkan kekuatanku, jadi..."

Dia tersenyum simpul.

"...selamat tinggal... semuanya."

Spirit itu mengangkat satu tangannya.

Alam semesta berputar cepat, semua kehancuran yang terjadi direset, dan utuh seperti semula.

Di saat fenomena itu terjadi, Mio menghilang dari pandangan mereka, dan meninggalkan sinar kunang-kunang di udara.

Cahaya menyinari penglihatan kelimanya.


Saat cahaya redup, beberapa dari mereka memperhatikan kondisi sekitar sama seperti mereka masuk; yaitu angkasa hening tanpa ada objek apapun.

"…"

"…"

Gadis itu beralih ke arahnya.

"Kurasa ada baiknya aku segera kembali ke [Fraxinus]. Jadi um… bisa kembalikan kesadaranku lagi? Kumohon?" pinta Nia.

Mio mengangguk.

"Serahkan padaku, tapi jika ini membuatmu lebih baik, 1 menit di luar sana sama dengan 1 jam di sini," jelas Mio.

Nia bernafas lega.

"Oh, bagus kalau gitu… omong-omong, ini berarti Carmerra akan ikut dengan kita ke markas pusat, bukan?"

Naruto berkedip dan mengangguk.

"Seharusnya begitu." (Naruto).

"Sempurna." (Nia).

Gadis itu menyengir ke arah Carmerra.

"Dan lihat saja nanti, Carmerra, kau akan suka dengan era modern, apalagi game-nya."

Carmerra tersenyum lalu berkedip.

"Game?"

Mio teringat sesuatu. Dia meletakkan tangannya di kening Carmerra sebelum menurunkan tangannya.

"Nah, informasi dasar seharusnya lebih dari cukup untuk saat ini."

Carmerra berkedip selama beberapa saat.

"Oh, begitu… um, aku mengerti, kedengarannya menarik, Nia."

Nia tersenyum lebar.

"Mantap."

Gadis itu lenyap seketika.

Carmerra mengamati ketiganya.

"Um, semuanya, aku merasa kalau aku akan bangun duluan, jadi kutunggu kalian di luar sana."

Mereka mengangguk.

Carmerra sempat berseri lalu menghilang.

Kurama menguap.

"Dan aku akan tidur, jadi jangan bangunkan aku."

'Bukankah itu memang kegiatan rutinmu?'

"Berisik."

Ninja itu menahan senyumnya.

Mio beralih ke arah Naruto dan Hibiki.

"Aku masih harus menangani [Kristal Spiral]. Nanti aku akan menyusul kalian ke [Ratatoskr]," kata Mio.

Naruto berseri.

"Itu bukan masalah. Benar begitu, Hibiki?"

Hibiki mengangguk.

"Yup."

Mio tersenyum.

"Aku lega mendengarnya."

Tak lama kemudian.

Naruto dan Hibiki menghilang dari sini. Spirit itu mengamati sekitar.

"Dan sekarang, kembali pada kegiatanku yang lain," gumam Mio.

Mio lenyap seketika.


Nia membuka matanya dan mengamati keadaan ruang main bridge.

"Huh, kurasa karena tugasnya sudah selesai, mereka dibatalkan transformasinya oleh Naruto-kun," gumam Nia.

Nia menguap sejenak.

"Haah, mungkin minum kopi lagi bukan ide-"

"▃▃▅▅"

"-BURUK?!"

Nia refleks berdiri dan memperhatikan sekelilingnya.

"…"

Gadis itu duduk lagi.

"Ada baiknya… aku kurangi nonton film horror mulai dari sekarang," gumam Nia.

Sebuah portal nampak tercipta. Tiga orang melompat turun sebelum itu tertutup.

"Daann, kalian pun datang, ada oleh-oleh?" tanya Nia.

Nada bicaranya terdengar bercanda.

Naruto mengangguk.

"Hibiki."

"Siap, Pak."

Hibiki menarik sesuatu dari ketiadaan dan meletakkan barang tersebut ke lantai. Itu adalah sebuah peti bekas Carmerra.

"…aku cuma bercanda."

Duo ayah-anak itu menyengir. Hibiki mengibaskan lengannya dan peti itu lenyap.

Carmerra keheranan.

"Uh, apa interaksi semacam ini normal?"

Nia menghela nafas.

"Sayangnya begitu. Sudahlah kita teruskan perjalanan."

Ketiganya mengangguk.

Perjalanan mereka ke [Ratatoskr] dimulai lagi.

T-B-C

A/N: Halllooo reader-san sekalian. Gimana chapter kali ini? Membosankan? Menyenangkan? Seperti biasa letakkan review di tempat seharusnya :D

Well, mengingat chapter 15 lebih sedikit word nya, maka author putuskan untuk up sekalian chapter 16 ini, wkwk.

Hmm, kalau kalian perhatikan, jelas ada hal yang gak beres dengan Nia, tapi entah kenapa Naruto bahkan Mio aja gak sadar. Aneh sekali :D

Oh iya, kalau sebelumnya kilas balik dari sudut pandang Naruto, kali ini lebih ke kilas balik lewat sudut pandang Mio, di antaranya seperti kemunculan awal Spirit, wilayah tempat hidup umat manusia kuno alias R'lyeh, keputusan berat yang harus diambil Mio, dan lain-lain.

Sekedar info juga, Mio versi fic ini cuma punya satu [Angel], gak seperti canon yang punya tiga [Angel], tapi ya bagi kalian yang sudah baca kilas baliknya, itu bukan masalah seharusnya :D

Well, soal deskripsi sektor kosmik dan sejenisnya, sebagian riset, tapi ada penambahan info fiksi(buatan) agar sesuai dengan fanfic ini :)

Terakhir…

Sampai jumpa di chapter berikutnya :D

{Racemoon - Sign out}