赤い糸
Gray-man (c) Hoshino Katsura
Story by Chesee-ssu
Rate: T
Warning: standar applied
Saya tidak mendapat keuntungan apapun dalam pembuatan fanfiksi ini, kecuali kepuasan batin melihat otp saya berlayar XD /ga
Semua terjadi begitu saja dalam sekejap.
Separuh bangunan Kuro no Kyoudan hancur, orang kocar-kacir, teriakan menggema sampai merusak telinga.
Noah mulai menyerang markas Kuro no Kyoudan. Ada banyak bom yang dipasang sehingga menyebabkan markas ini hancur sebagian. Tak ada yang memprediksi hal ini sebelumnya, Komui pun berpikir jika parah Noah akan menyerang beberapa minggu lagi.
Namun, perang ya perang. Tak ada yang tahu kapan pastinya. Saat ini, Lenalee yang berderai air mata tengah bertarung dengan pria tambun berkulit abu-abu.
Lavi baru pertama kali melihat pria tersebut. Namun, di sela-sela pertarungan, pria itu masih sempat-sempatnya memakan permen.
Sedangkan Lenalee, menghadapi pria itu penuh benci dan amarah. Gadis itu berapi-api setelah melihat Komui ditikam oleh kaum mereka. Bertubi-tubi gadis itu melayangkan tendangan sampai Lavi tak bisa melihatnya.
"Pria itu namanya Skinn, kalau kau mau tahu."
Lavi berbalik, matanya yang sehijau daun menangkap raut wajah Tyki yang tersenyum manis. Menyapanya dengan berkata, "Yo, Gantai-kun," tak lupa dengan tangan kanannya yang melambai riang.
"Tyki," sebut Lavi hampir seperti berbisik. Meski begitu tangannya siaga menggenggam erat innocence miliknya. Walau tahu kalau melawan pria itu sama saja cari mati.
Mata itu menatapnya perlahan, guratan tipis membentuk senyum yang membuat Lavi merinding sebadan-badan.
Tatapan mata itu, bukanlah yang biasa Lavi lihat.
Sekarang, keduanya benar-benar berada di jalan yang berseberangan. Ada nyeri yang terasa saat sang penerus Bookman menyadari bahwa dirinya harus berhadapan dengan pasangan hidupnya cepat atau lambat.
Ah ... ini benar-benar menyebalkan.
Lavi benar-benar benci takdirnya.
Sepertinya Tyki sendiri tak berkata apa-apa, hanya tersenyum tipis sebelum memulai serangan dengan ledakan ribuan golem kupu-kupu yang menghampirinya.
Begitu sayang rasanya ketika kupu-kupu itu Lavi hancurkan dengan hiban miliknya. Sayap kupu-kupu itu hangus lalu melebur bersama angin.
Lavi terpental beberapa meter setelah terkena tendangan dari Tyki. Melihat pandangan pria tersebut, si rambut oranye mendecih.
Bisa-bisanya dia melakukan hal ini, memangnya dia tidak ingat apa kalau beberapa waktu yang lalu mereka makan rusa Kuro no Kyoudan?
Seperti orang asing saja.
Karena Tyki nampaknya tidak menahan diri untuk menyiksanya, mengapa dia juga tidak melakukan hal yang sama?
Sang Noah of Pleasure serius untuk menghancurkannya.
Jadi, Lavi juga serius untuk menghancurkan pria itu juga.
"Hm ... sepertinya Tyki melakukan tugasnya dengan baik," Road tersenyum lebar, beralih tatapan ke arah Allen yang jadi musuhnya.
"Ah, aku ingin sekali bermain dengan boneka kesayanganku," ujar gadis berambut pendek itu sembari melihat Lenalee yang masih bertarung melawan Skinn. "Namun, sepertinya gadis itu masih kesal karena Paman Skinn membuat kakaknya tidak sadarkan diri."
Terbang tanpa aba-aba, Road kini sudah berada di depan wajah Allen. "Tapi, sepertinya bertarung denganmu juga tidak buruk. Kau cukup kuat karena aku tidak bisa masuk ke dalam mimpimu."
"Lepaskan Krory," pinta Allen dengan nada memerintah. Tatapan pemuda berambut abu-abu itu membuat Road tersenyum lebar.
Dilihatnya pria yang berada di dalam kotak, sedang tak sadarkan diri. Oh, ya, kalau Road tidak salah ingat, pria ini juga pernah jadi korban keganasannya sewaktu di Paris.
"Tentu saja aku bisa melepaskannya, asal ...," Road tersenyum lebar, "kau bisa membuatku terhibur, Allen Walker."
Disaat Allen menyerang, Road masih sempat melihat ke arah pertarungan Tyki dan Lavi.
Memori lama perlahan memutar dalam pikirannya.
"Kau akan melihatnya, meski aku mencintainya, aku akan selalu memilih keluargaku dibanding murid Bookman."
Road menatap Tyki penuh keraguan. "Meski itu artinya kau harus membunuhnya dengan tanganmu?"
Anggukan mantap Tyki berikan pada sang keponakan. "Meski itu artinya aku harus membunuhnya."
Road tersenyum puas.
Yah, setidaknya Tyki tidak membohonginya.
"Hehehe, nggak kena! Nggak kena!"
Kanda mendecih, mengapa diantara banyak musuh, dia harus kembali berhadapan dengan kedua bocah kematian ini, sih?
Kesal, sekali lagi Kanda menyerang kembar beda rupa tersebut. Sama seperti sebelumnya, semuanya sia-sia.
"Sabar, Kanda," ujar Marie yang juga bersama dengan Kanda, membantu pria itu menghadapi Jasdero dan Devitto.
"Cih," ujar Kanda sekali lagi, meski begitu dirinya ikut menenangkan diri.
Menghadapi dua bocah ini sama sekali tak menyenangkan, membuat pria ini kesal sampai ubun-ubun.
"Marie," Kanda akhirnya mendekati pria tersebut. "Apa kau punya rencana?"
Akhirnya Kanda mau bekerja sama. Sungguh sebuah mukjizat. Namun, tentu saja Marie memahami mengapa pria penyendiri penyuka soba itu akhirnya memilih untuk gencatan senjata.
Mereka terlalu banyak mengeluarkan tenaga, sedangkan lawan mereka nampak baik-baik saja. Semisal mereka sudah menghabisi Jasdero dan Devitto, bukan berarti pertarungan sudah berakhir.
Dibandingkan pasukan lawan yang memiliki banyak armada, Kuro no Kyoudan kekurangan exorcist. Ada para Finder dan juga staf divisi sains, tapi tentu saja mereka tak memiliki kemampuan bertarung yang memadai seperti para exorcist.
Beberapa staf divisi sains sudah pergi ke tempat aman bersama para Finder. Mereka juga mengontak Kuro no Kyoudan cabang lainnya untuk membantu pertempuran ini.
Marie mengangguk, dia memikirkan beberapa rencana, tapi menurutnya, yang satu ini lebih bagus dibanding yang lainnya.
"Aku punya. Mau dengar?"
Kanda mengangguk sembari meneruskan serangan beruntun ke arah si kembar Noah. "Katakan."
Timothy berlari sembari membawa tas yang Bookman berikan padanya.
Tadi, ketika penyerangan para akuma dan Noah dimulai, Timothy sempat bersama dengan Bookman di perpustakaan.
Sepertinya si kakek tua mengetahui penyerangan tersebut, sehingga menyuruh Timothy untuk kabur dan membawa berkas-berkas yang sedang Bookman tulis. Menyuruhnya menjauh dari pertarungan karena pada dasarnya dia masih belum resmi menjadi murid Bookman.
Karena Lavi sendiri pun masih jadi murid Bookman, jadi Timothy bisa dibilang tidak dianggap sebagai penerus selanjutnya.
Di bawah perintah para Finder, Timothy menuruti ucapan mereka untuk sampai ke tempat yang aman.
Dipegangnya erat tas berisi data-data yang diberikan oleh Bookman.
Ketika merasakan tepukan ringan di bahunya, Timothy menoleh.
Sang koki, Jeryy, menatapnya lembut sembari tersenyum lebar.
"Jangan khawatir, Our Lovely Lavi dan Bookman pasti akan baik-baik saja," ujar si rambut ungu sembari mengelus lembut kepala Timothy. "Tenang saja. Mereka pasti akan selamat."
Ternyata Jeryy tak hanya bisa membuat dan memberikannya makanan enak, tapi juga bisa membuatnya merasa lega hanya dari beberapa ucapan.
Timothy pun mengangguk. Dia ingin meyakini bahwa ke depannya Bookman dan Lavi akan baik-baik saja.
Ah, tentu saja Timothy mendoakan exorcist yang lain juga agar selamat.
Karena baginya, Kuro no Kyoudan sudah seperti rumah baginya.
Lulubell melihat kekacauan dari atas. Semua orang bertarung satu sama lain, akuma terus-menerus menyerang para eksorsis yang sepertinya mulai kelelahan.
Dari sini pun, nampak jelas kalau Noah akan memenangkan peperangan ini.
Matanya bergulir, menatap ke arah di mana Tyki sedang bertarung dengan pemuda berambutt merah.
Sepertinya dia familiar dengan sosok itu.
Ah ... dia pernah melihatnya di Paris, bersama dua temannya yang lain.
Jadi dia pasangan benang merahnya Tyki, pikir Lulubell dalam hati, memindai exorcist tersebut dari atas sampai bawah.
"Tak ada yang menarik," gumam Lulubell. Karena memang di matanya, pemuda itu biasa saja.
Gadis itu kembali menyimak pertarungan Tyki dan soulmatenya. Setelah beberapa lama mengamati, Lulubell menyadari satu hal.
Tyki, tidak benar-benar ingin menyerang pemuda itu.
Gadis itu membuang napasnya. "Hahhh, inilah kenapa aku tidak menyukai cinta."
Setelahnya Lulubell menghilang dengan cepat.
a/n: hm hm owo ya dah lah ya wkwkwk udah 20 yey, mangat diriku.
