Disclaimer: Bungou Stray Dogs adalah ciptaan Asagiri Kafka dan Harukawa Sango, The Pillow Book adalah karya Sei Shonagon, 'Kiyohara Nagiko' dipercaya sebagai salah satu kemungkinan nama asli dari Sei Shonagon, Author tidak mengambil keuntungan.
Warning: Agak slow burn, Dazai x OC, alur canon (manga, anime, novel), sebisa mungkin tidak mary-sue.
.
.
Osamu Dazai and His Sun
by Fei Mei
.
Chapter 7
.
.
Kunikida-san melaporkan semuanya seorang diri di ruangan Paman Yukichi, sedangkan Nagiko sudah kembali ke kursi kerjanya. Ranpo-san di sebelahnya sempat ngambek sebentar ketika dia tahu gadis itu baru kembali dari Restoran Tachibana. Nagiko meringis minta maaf, mengingat bahwa Detektif Terhebat tersebut sangat suka nasi kare yang ada disana, tapi karena harganya mahal jadinya Ranpo-san hanya bisa bersabar dengan nasi kare di Café Uzumaki sehari-harinya sambil berharap Paman Yukichi akan mengajaknya bertemu dengan klien atau orang penting yang mengundang bertemu di restoran tersebut.
Hampir setengah jam kemudian, Kunikida-san keluar dari Ruang Presdir lalu menghampiri meja Nagiko. "Nagiko, Pak Presdir memintamu ke ruangannya untuk minum teh, jadi sekalian bawakan tehnya."
Nagiko mengerjap. "Eh?"
"Aku hanya menyampaikan yang dikatakannya, jangan membuatnya menunggu lama," kata Kunikida-san kemudian.
Walau agak bingung, Nagiko menurut juga. Ia ke dapur, mengambil dua set cangkir dan kantong teh serta gula, lalu memasak air panas untuk dituang ke teko. Setelah selesai, ia ke ruangan pamannya.
"Paman?" panggil Nagiko saat ia membuka pintu.
Paman Yukichi mengangguk. "Masuklah." Lalu ia sendiri beranjak dari kursi kerja ke sofa.
Nagiko melangkah masuk, menaruh nampan berisi perabot yang ia bawa di atas meja tamu. "Tumben mengajakku minum lewat Kunikida-san," kata gadis itu sambil tersenyum.
"Hm, sekalian saja," balas Paman Yukichi. "Kunikida bilang tadi kamu panik."
Gadis itu sempat menghentikan tangannya yang sedang menyeduh teh sesaat sebelum ia mulai menyiapkan tehnya lagi. "Kyoka bilang Dazai-san dibawa oleh Mafia," katanya untuk kedua kalinya hari itu.
"Kunikida sudah melaporkan itu juga tadi," ujar Paman Yukichi.
"Jadi aku kaget dan cemas, itu saja, kok."
Paman Yukichi menghela. "Dazai akan selalu baik-baik saja sekalipun tampak sedang dalam bahaya bagi mata orang lain."
Nagiko mengangguk. "Kunikida-san juga sudah mengatakan yang sama, Paman, dan aku baik-baik saja sekarang." Gadis itu menaruh cangkir di depan pamannya. Pandangan mata Paman Yukichi tampak sangat tajam padanya, membuat Nagiko buru-buru duduk di sofa seberang pamannya. "Masih agak kepikiran, tapi aku percaya Dazai-san akan baik-baik saja lewat perkataan Paman dan Kunikida-san."
Bos Agensi Detektif Bersenjata itu mengambil cangkirnya, meniup pelan dan menyesap cairan yang ada di dalamnya. "Ah, ini teh yang biasa kamu seduh, kan?"
Gadis itu mengangguk semangat. "Aku punya stoknya di rumah, jadi tadi pagi kubawa saja sebagian untuk kutaruh di dapur kantor, soalnya yang kupesan online masih belum tiba."
Paman Yukichi ber-'mm' pelan. Nagiko tahu bahwa pamannya punya kebiasaan untuk menghirup aroma minuman hangat sebelum dinikmati, makanya ketika tahu pamannya senang dengan aroma teh merek ini, Nagiko memutuskan untuk menyeduh ini terus tiap mereka minum bersama.
"Nagiko," ucap pamannya sambil menaruh kembali cangkir di meja. "Kapan terakhir kali kamu tidur?"
"Hm? Ah, mungkin malam setelah Aki-nee mengoperasiku?" jawab Nagiko sambil mengingat-ingat.
"Itu … sekitar empat hari yang lalu, kan?" konklusi Paman Yukichi, dijawab anggukan keponakannya. "Berarti, seharusnya kelopak matamu sudah agak lelah sekarang, kan?"
Nagiko tersenyum kecut, mulai menyadari arah kecemasan pamannya. "Kalau darurat, aku akan minta dibius Aki-nee. Untuk saat ini, kalau kita mencari Dazai-san dengan motif agar aku bisa segera terlelap, bukankah jadi ada kemungkinan melakukan hal-hal dengan gegabah?"
"Itu benar, sih," gumam Paman Yukichi sambil menggaruk dagunya. "Lagipula, kalau mendadak hilang, Dazai biasanya akan menghubungi dengan entah bagaimana caranya, dan ternyata dia sedang mengerjakan sesuatu yang penting. Saat ini pun, kita sedang tidak begitu bisa fokus mencari anak itu."
"Eh? Kenapa?"
"Tadi, sebelum Kunikida melaporkan tentang Izumi Kyoka, aku mendapat telepon mengenai permintaan pengawalan staf kementrian. Mereka mendapat surat ancaman, dan sebenarnya itu bukan hal baru. Tapi, mendengar suara di telepon itu yang lebih cemas dari biasanya, aku menyuruh Kunikida untuk minta para staf agen kita untuk menyelidiki mengenai ancaman yang ditujukan ke kementrian, serta rute yang akan para staf lalui nanti malam. Dengan kata lain, agensi kita akan cukup sibuk malam ini dengan permintaan mendadak barusan."
Nagiko meringis mendengar penjelasan pamannya. "Paman, kalau di kantor sedang pada sibuk, kenapa kita malah minum teh disini?"
Mata Paman Yukichi menyipit pada gadis di hadapannya. "Kamu habis kena serangan panik, dan kau pikir aku akan bisa bekerja dengan baik jika mengawatirkan keponakanku?"
" … maaf, kalau begitu."
Bos ADB itu mulai melunak. "Tapi, sesuai perkataanku, ancaman di kementrian bukan hal baru, dan biasanya mudah kita tangani. Kemungkinan kita hanya akan sibuk mencari tahu latar belakang ancaman itu serta penanggulangannya. Tergantung dari bagaimana hasil penyelidikannya, mungkin kita hanya akan perlu mengirim beberapa staf agensi bersenjata di bawah pimpinan Kunikida dan Tanizaki."
"Paman—"
"—Permisi." Itu suara Naomi, anak itu membuka pintu Ruang Presdir dan melongokkan kepalanya ke dalam. "Maaf, boleh sebentar?"
"Masuklah," ujar Paman Yukichi.
Nagiko menepuk pelan jok sofa di sebelahnya, mengajak adik Junichiro itu duduk di sebelahnya, dan Naomi berjalan cepat untuk menuruti ajakannya.
"Maaf menganggu," ulang Naomi. "Tapi barusan Kakak kembali ke kantor, membawa kabar bahwa Atsushi diculik."
"Eh?" Nagiko kaget. "Kapan? Lalu, Kyoka?"
"Kejadiannya belum lama, jadi Kakak masih dengan mudah mendapat saksi mata yang menyaksikan Atsushi diserang Akutagawa dan dilempar masuk ke mobil boks besar, sedangkan Kyoka ditarik ke mobil van hitam," jawab Naomi. "Lalu, saat ini, Kakak sedang berselisih dengan Kunikida-san dan Ranpo-san tentang perlu atau tidaknya kita pergi mencari Atsushi, apalagi saat ini semua staf sedang mengurus kasus pengancaman kementrian."
"Untuk apa berselisih," ucap Paman Yukichi garang. "Atsushi adalah bagian dari kita sekarang, bukankah sudah jelas mana yang harus kita dahulukan?"
Lalu Bos ADB itu berdiri, berjalan keluar dari ruangannya, diikuti Nagiko, sedangkan Naomi dengan riangnya membukakan pintu untuk pimpinannya.
"Tapi, asal kita beri alasan yang sepantasnya—"
"—anu!" sahut Naomi yang keluar ruangan, memotong suara kakaknya. "Boleh saja kalau kalian mau memutuskannya dengan berlarut-larut berdebat soal 'hal yang masuk akal' atau 'hal yang semestinya' yang sangat kalian sukai itu, tapi—" Naomi memamerkan Paman Yukichi yang juga telah keluar dari ruangannya. "—bagaimana kalau beliau saja yang menggantikan kalian memutuskan?"
"PRESDIR?!" suara mayoritas staf laki-laki di kantor, tapi yang paling jelas terdengar adalah suara Kunikida-san dan Junichiro. Nagiko dan Naomi sampai agak terkikik di belakang bos ADB itu ketika melihat Ranpo-san yang sepertinya habis tidur-tiduran langsung buru-buru duduk tapi nyaris jatuh.
Kunikida-san langsung maju dan membungkuk dalam-dalam. "Saya mohon maaf. Setelah pekerjaan selesai, saya akan mengumpulkan informasi dengan Tanizaki—"
"—tidak perlu," potong Paman Yukichi galak, lalu maju ke tengah ruangan kantor. "Semuanya, dengar! Staf baru kita telah diculik, kerahkan semua staf untuk mengejarnya! Dan sampai kita berhasil membawanya kembali dengan selamat, semua pekerjaan yang ada disini ditangguhkan!"
"DITANGGUHKAN?!" Seluruh staf agensi berpaduansuara, tak terkecuali Nagiko dan Naomi.
"Apa tidak bagi dua tim saja?" usul Nagiko. Maksudnya, menyelamatkan Atsushi-kun sangat penting, tapi begitu juga dengan permintaan dari kementrian.
"Tidak, pokoknya semua staf mencari Atsushi!" tegas Paman Yukichi lagi.
"Tapi, permohonan untuk mengawal staf kementrian—"
"—aku yang akan menghubungi mereka." Bos ADB itu memotong perkataan Si Kacamata. "Jangan cemas. Pihak sana punya hutang padaku, cukup untuk membuat para staf berpangkat rendah itu bersedia menunggu."
"Presdir," panggil Ranpo-san. "Betulan gak masalah, nih?"
Paman Yukichi menoleh pada staf detektif tertua di kantor itu. "Apanya, Ranpo?"
"Kok, masih tanya? Kalau dipikir secara logis—"
"—rekan kita sedang dalam situasi sulit dan kita harus menolongnya," potong Paman Yukichi sambil menatap tajam Si Detektif Terhebat. "Apa ada logika lain di muka bumi ini yang lebih penting dari itu?"
Ranpo-san kicep. Semua orang di Agensi Detektif Bersenjata menghormati detektif satu itu, termasuk bosnya. Tapi, jika bahkan Paman Yukichi saja sudah berbicara dengan nada tersebut pada anggota pertama agensi itu, berarti ini serius.
Lalu Paman Yukichi menoleh pada Kunikida-san lagi. "Kunikida, bawa dia kembali dalam tiga jam!"
"Siap!"
Nagiko dan Naomi pun kembali ke meja masing-masing.
"Junichiro," panggil Nagiko. "Boleh tolong kulihat informasi yang kaudapat tentang diculiknya Atsushi?"
Pemuda itu menoleh dan menghampirinya, menyodorkan catatan yang walau tidak rapi tapi masih bisa dipahami. Nagiko mengernyit pada tulisan bahwa Atsushi-kun diserang di seberang kantor polisi. Gadis itu mengucapkan terima kasih dan mengembalikan catatan itu pada yang punya, lalu mulai mencari rekaman CCTV yang menyorot kantor polisi yang sesuai dengan catatan Junichiro.
Mungkin karena jarak jamnya belum terlalu jauh, cukup mudah bagi Nagiko untuk menemukan rekaman yang dicarinya. Bukan hanya gadis itu, pasti sudah ada juga staf lain yang lebih dulu mendapatkan rekamannya. Tapi, untuk jaga-jaga, pasti dibutuhkan orang lain untuk memeriksa adegan diserangnya Si Anak Baru.
"Ah, Kenji-kun," panggil Nagiko saat anak itu lewat di depan mejanya. "Sini sebentar."
Staf termuda ADB itu menurut menghampirinya. Nagiko memperlihatkan gambar mobil truk yang terlihat di rekaman. "Kamu punya banyak kenalan, apa kamu pernah melihat mobil seperti ini saat bertugas?"
Kenji-kun berpikir sejenak. "Hmm, kayaknya sebagian besar mobil truk yang besar modelnya begini, sih. Ah, tapi kurasa ukuran mobil seperti ini, kalau diservis, tidak bisa main di sembarang reparasi mobil, jadi aku bisa tanyakan ke tempat servis otomotif yang kutahu!"
"Bagus!" sahut Kunikida-san yang mondar-mandir sedaritadi. "Kenji, coba cari tahu tentang ini! Nagiko, cetak gambar mobilnya dan ikut Kenji keluar!"
"Baik!" jawab Kenji-kun dan Nagiko bersamaan.
.
.
Sekembalinya mereka ke kantor agensi, Kenji-kun dan Nagiko langsung melaporkan semua yang mereka dapatkan pada Kunikida-san—baik informasi yang Kenji-kun dapatkan dari tempat reparasi mobil, maupun seorang turis yang menjadi saksi mata baru yang Nagiko temukan saat mereka memutuskan untuk mencoba datang ke TKP sebelumnya.
Kunikida-san langsung meminta Junichiro untuk pergi ke Karma Transit, lalu memanggil para staf detektif yang ada masuk ke ruang rapat untuk menyusun semua informasi yang telah terkumpul. Si Kacamata menempel foto TKP dan beberapa lembar kertas berisi informasi kejadian sebelum menaruh foto polaroid truk di tengah meja rapat.
"Foto ini kebetulan diambil oleh turis yang menyaksikan penculikan itu," tutur Kunikida-san.
"Tipe truk yang ada dimana-mana ya," komentar Paman Yukichi.
"Benar," balas Kunikida-san. "Pelat nomornya pun pasti palsu. Tapi di Yokohama, jumlah tempat yang bisa memalsukan pelat seperti ini hanya terbatas. Kenji dan Nagiko sudah mendatangi tempat reparasi yang diketahui Kenji, dan mereka dengan senang hati memberitahunya." Setelah itu ia menyodorkan tumpukan beberapa lembar artikel ke tengah meja. "Pemilik truk itu adalah Karma Transit, perusahaan ekspedisi yang berangkat dari bisnis penyeludupan."
Paman Yukichi mengangguk. "Kalau tanya ke mereka, kita bisa tahu kemana dia diangkut, ya?"
"Benar," jawab Kunikida-san lagi. "Merekalah satu-satunya pihak yang mengetahui seluruh alur penculikan itu selain Mafia. Sekarang Tanizaki sedang menyelidikinya."
Tepat setelah mengatakan itu, ponsel Kunikida-san berbunyi. Ia merogoh ponselnya, lalu setelah melihat siapa yang meneleponnya, ia memberitahu rekan-rekannya bahwa itu dari Junichiro. Kunikida-san menerima telepon itu dan mengeluarkan suara si penelepon agar yang lain juga bisa mendengar.
"Setelah ini, saya akan menyusup," ujar Junichiro setengah berbisik.
"Bagaimana situasinya?" tanya Kunikida-san.
"Hening, seperti dasar danau," jawab pemuda itu, membuat Nagiko bingung. "Malah tak ada sedikit pun tanda-tanda kehidupan—AH!"
"Tanizaki?!"
Junichiro tidak menjawab, tapi Nagiko bisa mendengar suara derap kaki tanda orang yang sedang berlari. Gadis itu jadi was-was, berpikir jangan-jangan Junichiro ketahuan dan sedang dikejar, tapi suara derap itu terdengar hanya dari seseorang saja.
"KITA TERLAMBAT!" sahut Junichiro dengan terengah-engah. "Mereka ternyata selangkah lebih maju!"
"Oi! Apa yang terjadi?!" tanya Kunikida-san.
"Untuk membungkam mereka, semua staf telah dibunuh!" Sontak saja semua yang ada di ruang rapat mencebik. "Pasti Akutagawa! Sial!"
"Bagaimana ini? Satu-satunya petunjuk kita!" ujar Kak Akiko.
Paman Yukichi mengetuk pelan mejanya, tampak berpikir. Lalu pria paruh baya itu mengambil dua polaroid truk dan membawanya kepada Ranpo-san yang duduk di antara Nagiko dan Kenji-kun.
"Giliranmu," kata Paman Yukichi sambil menyerahkan dua foto itu pada Detektif Terhebat.
"Harus banget, nih?" tanya Ranpo-san malas.
Kunikida-san sampai menghela juga. "Ranpo-san, bisa tolong—"
"Ranpo," suara dingin Paman Yukichi terdengar lagi. "Kalau kau bisa membawa kembali Si Anak Baru itu dengan selamat—"
"—mau kasih bonus spesial? Promosi?" tantang Ranpo-san. "Gak butuh, paling-paling—"
"—aku akan memujimu," lanjut Paman Yukichi.
Pada saat itu, Ranpo-san langsung mematung, ia tidak lagi memutar-mutarkan topi atau menggoyangkan kakinya di atas meja atau kursinya sendiri. Kedua matanya terbelalak dan mulutnya terbuka. Sekitar lima detik kemudian, laki-laki itu langsung menggunakan topinya dengan semangat.
"KALAU PRESDIR MEMBUJUK SAMPAI SEJAUH ITU, APA BOLEH BUAT!" sahut Ranpo-san riang, sampai Kenji-kun bertepuk tangan.
Ranpo-san mengeluarkan kacamatanya, mengenakannya perlahan. Ia menatap kedua foto polaroid yang diserahkan Paman Yukichi dengan saksama, lalu ia melirik peta kota Yokohama yang telah terbuka sejak awal di tengah meja rapat. Kemudian Ranpo-san bangkit dari kursinya, menaiki meja dan hendak menunjuk sesuatu di peta.
"Atsushi sekarang berada disini," ucap Ranpo-san sambil menyentuh satu bagian dari peta.
"Laut?!" sahut staf lainnya di ruangan itu.
"Kecepatannya dua puluh knot ke arah Timur Tenggara, dan sekarang sedang melaju ke arah perairan internasional," jelas Ranpo-san. "Dia belum mati untuk sekarang, sih."
"Kapal, ya?!" konklusi Kunikida-san.
"Dia akan diangkut ke luar negeri?" tanya Paman Yukichi.
"Orang yang memasang hadiah untuk kepala Atsushi-kun ada di luar negeri?" tanya Nagiko.
"Celaka, kalau dia dibawa ke luar negeri, kita sudah tidak berdaya," keluh Kunikida-san.
Paman Yukichi merogoh saku bajunya, mendapatkan sebuah kunci lalu mengopernya pada Si Kacamata. "Di pelabuhan ada kapal cepat berukuran kecil milik agensi kita. Kalau berangkat sekarang, pasti masih keburu."
Kunikida-san mengangguk dan langsung berlari keluar ruang rapat.
.
.
Karena kasus penculikan Atsushi-kun hanya tinggal penyelamatannya saja, Paman Yukichi akhirnya memutuskan agar para staf agensi mulai kembali fokus ke kasus pengancaman staf kementrian. Hanya Kenji-kun yang secara khusus diminta untuk berjaga-jaga kalau Kunikida-san butuh bantuan.
Nagiko yang baru menyumbang setidaknya lima skenario yang mungkin terjadi sepanjang penjagaan staf kementrian kepada Kak Akiko yang menggantikan posisi Kunikida-san dalam kasus ini akhirnya memutuskan untuk melirik ponselnya lagi yang sudah beberapa saat tidak dia sentuh. Gadis itu sedikit kecewa karena masih tidak ada kabar dari Dazai-san, baik telepon balik ataupun balasan pesan. Walau bukan pertama kalinya pemuda itu menghilang, tapi kali ini berbeda karena Nagiko tahu Dazai-san sedang ditahan Mafia, apa pun alasannya.
"Nagiko," panggil Ranpo-san yang sedang malas-malasan di sebelahnya. "Jangan terlalu mikirin hal yang gak perlu."
"Eh?"
"Dazai itu orang penting untuk agensi kita, terlebih lagi untukmu. Tapi, hilangnya Dazai itu bukan hal penting, kita sudah kasihtahu kenapa, kan?"
'Karena Dazai-san tidak akan menghilang jika dia sendiri tidak membiarkannya dirinya menghilang,' pikir Nagiko dalam hati. Ia memahami logika kalimat tersebut, tapi dia tetap cemas. Lagipula, orang kalau jalan hati-hati dengan pelan saja masih ada kemungkinan terpeleset dan jatuh, kan?
Gadis itu memerhatikan sekitar isi kantor, sudah tidak sesibuk saat awal permintaan pengawalan staf kementrian itu datang. Tentu saja, karena saat ini Junichiro sudah pergi membawa beberapa orang tim agensi bersenjata untuk pergi mengawal, makanya orang-orang di kantor hanya perlu menilai skenario kemungkinan dan memantau kamera CCTV. Sebenarnya sekarang sudah bukan jam kantor lagi, tapi karena sedang mengurus dua kasus besar sekaligus, mereka semua terpaksa lembur.
Sekitar pukul delapan malam, telepon Kak Akiko berdering. Saat itu, lebih dari setengah pekerja kantor ADB telah kembali ke rumah masing-masing, dan Paman Yukichi pun telah mencabut sinyal darurat mengenai kedua kasus besar mereka. Lalu sekarang, ketika Kak Akiko menghela lega sambil mengatakan 'syukurlah', Nagiko tahu bahwa ada suatu hal baik yang didengar oleh Sang Dokter.
"Nagiko," panggil Kak Akiko sambil tersenyum setelah ia memutus panggilan teleponnya. "Atsushi dan Kyoka selamat, Kunikida sedang membawa mereka pulang ke kantor."
Nagiko ikut menghembus lega juga mendengarnya.
"Dia sudah menelepon Pak Presdir juga, jadi barusan Kunikida minta aku menyiapkan ranjang di kamar rawat," kata Kak Akiko lagi. "Tanizaki juga sudah mengirim pesan bahwa sekarang timnya sedang mengawal staf kementrian kembali ke gedung kementrian. Tolong jaga disini dulu, ya?"
Gadis yang lebih muda itu mengangguk. Nagiko tahu bahwa alasan Si Dokter memintanya berjaga, salah satu alasannya adalah karena keponakan Presdir tersebut tidak bakal tertidur ketika sedang jaga malam. Lagipula, Kak Akiko mungkin tidak bakal meminta Ranpo-san untuk berjaga karena … yah, Ranpo-san adalah Ranpo-san.
Setengah jam kemudian, Kunikida-san datang sambil memapah Atsushi-kun yang tidak sadarkan diri, sedangkan Kyoka hanya berjalan di sampingnya. Sadar bahwa Nagiko memerhatikan mereka, Kunikida-san dan Kyoka menyapa dengan anggukan kepala sebelum mereka ke ruang perawatan.
Tidak lama setelah itu, pintu kantor terbuka lagi, kali ini menampilkan Junichiro dan timnya dengan keadaan lusuh—mungkin karena kelelahan. Helaan lega langsung memenuhi isi kantor dari orang-orang yang masih ada disana, dan Naomi langsung melemparkan dirinya pada sang kakak untuk memeluk erat. Nagiko memutuskan untuk bangkit, mengetuk pintu ruang Presdir.
"Masuk," panggil yang di dalam, jadi Nagiko pun membuka pintunya dan melangkah masuk.
"Paman, Junichiro sudah kembali," lapor Nagiko.
Paman Yukichi mengangguk dan tersenyum. "Bagus." Kemudian dia berdiri, keluar dari ruangan, mendapati bahwa personel yang masih ada di kantor bisa dihitung jari—jika tidak menghitung tim Junichiro yang baru kembali serta yang ada di ruang rawat. "Kerja bagus hari ini, beristirahatlah dengan baik malam ini!"
"Terima kasih, Pak!" sahut para staf berpaduansuara.
Lalu si Bos menoleh pada keponakannya. "Mintalah obat tidur pada Yosano-sensei, Nagiko."
Nagiko tersenyum tipis. "Aku masih kuat, kok."
"Jangan memaksakan diri, ya."
"Enggaaak!" balas Nagiko. "Selamat istirahat, ya, Paman, tidur nyenyak."
"Mm."
Gadis itu tahu pamannya tidak bisa membalas perkataannya, karena, yah, Dazai-san tidak ada bersamanya untuk membuatnya tidur nyenyak.
.
.
Bersambung
.
.
