Sejak Atsushi-kun kemarin bilang bahwa Dazai-san hilang, Nagiko jadi selalu buru-buru mengecek ponselnya tiap kali ada notifikasi yang masuk ke gawainya. Semalaman ia membaca buku sambil berharap adanya kabar dari Si Maniak Bunuh Diri, sampai ia benar-benar tidak menggunakan obat bius yang ditawari Kak Akiko, tapi kabarnya tetap nihil.
Sudah lewat hari pun Nagiko masih was-was. Pukul enam pagi, ketika ia baru duduk di meja makan untuk sarapan, gawainya berdenting, tanda pesan masuk. Nagiko langsung menaruh lagi sumpit yang baru dipegangnya untuk meraih ponsel. Sangat berharap bahwa pesan yang masuk itu dari Dazai-san atau setidaknya kabar mengenai pemuda itu, tapi ternyata Kak Akiko-lah yang menghubunginya.
'Dari Kak Akiko,
Nagiko, kostum maid yang dulu pernah kukasih masih ada? Kalau masih, tolong nanti bawa ke kantor ya!'
Nagiko mengernyit, bingung kenapa Si Dokter menanyakan itu.
'Kepada Kak Akiko,
Akan kucari dulu habis sarapan.'
Jadi gadis itu langsung menyantap sarapan yang ia masak sendiri, setelahnya membereskan dapur. Nagiko kembali lagi ke kamarnya, membuka lemari baju dan mengambil dus yang ada di pojok dalam lemari. Dus itu berisi pakaiannya yang sudah tidak terpakai tapi sayang dibuang, seperti misalnya seragam sekolah—karena mengandung nilai sentimental. Kostum maid yang pernah dibelikan Kak Akiko sebenarnya juga hanya pernah dipakai sekali saja, yakni saat Dokter Perempuan itu memberikannya kostum tersebut lalu dicobanya. Nagiko tahu dia tidak akan mau mengenakannya lagi—dan sekarang juga tidak bakal muat—, tapi sepertinya itu pakaian yang mahal yang sayang kalau dibuang begitu saja, jadi gadis itu menyimpannya dalam dus.
Benar juga, kostum maid yang dicarinya ada di paling bawah dari dalam dus, terlipat rapi dan diberi plastik. Nagiko mengambil kostum itu, kemudian merapikan sisanya. Setelah itu ia bersih-bersih dan menyiapkan diri untuk ke kantor agensi.
.
.
Disclaimer: Bungou Stray Dogs adalah ciptaan Asagiri Kafka dan Harukawa Sango, The Pillow Book adalah karya Sei Shonagon, 'Kiyohara Nagiko' dipercaya sebagai salah satu kemungkinan nama asli dari Sei Shonagon, Author tidak mengambil keuntungan.
Warning: Agak slow burn, Dazai x OC, alur canon (manga, anime, novel), sebisa mungkin tidak mary-sue.
.
.
Osamu Dazai and His Sun
by Fei Mei
.
Chapter 8
.
.
Cklek.
"Selamat pagi—ada apa ini?"
Nagiko yang baru selesai memakaikan hiasan kepala maid di kepala Kyoka menoleh ke arah pintu. "Pagi, Atsushi-kun!"
Kak Akiko masih merapikan ujung kostum maid yang sedang dikenakan Kyoka sambil diperhatikan Kenji-kun. Junichiro malah asyik memotret Kyoka dari segala sisi, sedangkan Naomi malah bertepuk tangan kecil karena gemas.
"Nah, ini sudah bagus," kata Kak Akiko, menjauhkan tangannya dari rok maid lalu mundur, berkacak pinggang dan menatap bangga hasil 'karya'nya.
"Kyaaa! Ayo berputar sedikit!" bujuk Naomi riang.
Kyoka berputar tiga kali dengan sangat cepat, tapi ketika dia akan menghentikan putarannya, lambaian lapisan luar rok maidnya jadi tampak menggemaskan—Nagiko jadi paham kenapa Kak Akiko dan Ranpo-san dulu begitu gembira dan terharu sendiri saat keponakan bos mereka itu mengenakan kostum tersebut.
"Ah, tapi kalau ngapa-ngapain, mungkin tidak nyaman, ya, pakai itu …," ujar Junichiro, yang malu-malunya malah muncul setelah mengambil beberapa potret Kyoka di ponselnya.
"Tidak apa, aku cepat beradaptasi," jawab Kyoka datar.
Nagiko terkekeh. "Oh, bukan, maksudnya, orang-orang akan menatap aneh kalau ada gadis yang lalu-lalang sambil pakai itu."
"Setidaknya kita mendapat asupan untuk mata kita hari ini," ujar Kak Akiko sambil menyatukan kedua tangannya di depan hidung, seakan baru berterimakasih untuk makanan yang sudah dihabiskan.
Atsushi-kun melirik pintu ruang Presdir dan menjadi gugup. "Anu! Bukankah sebaiknya sekarang kamu ganti baju lagi, sebelum Pak Presdir tahu?!"
"Benar juga, ya!" balas Kenji-kun.
"Tapi bukannya Pak Fukuzawa diam-diam suka dengan yang begini—"
"—AAAAHH!" pekik Nagiko kencang, berusaha menyamarkan suara Kak Akiko. "Tidak! tidak usah diumbar!"
Kak Akiko tertawa lepas. Yah, sebenarnya perihal Paman Yukichi senang dengan hal yang manis dan imut itu bukanlah rahasia lagi. Bahkan, saat Nagiko mencoba pakaian maid itu dan berputar di hadapan Kak Akiko dan Ranpo-san kemudian ketahuan pamannya, mereka kira Sang Paman akan marah, tapi ternyata malah menjadi orang pertama yang berinisiatif mengambil foto dengan ponsel.
Tetapi karena ingin menuruti perkataan Atsushi-kun, Kyoka pun ke kamar mandi, tidak lama kemudian keluar dengan mengenakan kimono merahnya. Ia menaruh kostum maid itu di meja yang kosong dan mulai melipatnya dengan rapi, setelah itu menyodorkannya pada Nagiko karena tahu aslinya itu milik siapa.
Nagiko menggoyangkan kedua tangan di depannya sambil tersenyum. "Tidak usah, itu untukmu saja, soalnya aku juga tidak bakal pakai lagi, tidak muat juga sekarang."
Kyoka menatap lurus padanya, tapi Nagiko bisa melihat mata gadis yang lebih muda darinya itu tampak berbinar-binar walau wajahnya datar. "Benar boleh buatku?" Nagiko mengangguk, jadi Kyoka memeluk erat pakaian yang telah ia lipat itu sebelum kemudian memasukkannya ke plastik.
"Naomi sudah bawakan teeehh!" sahut Naomi, menaruh nampan berisi beberapa gelas di atas meja.
Itu memang kebiasaan Naomi, menyuguhkan minuman hangat seperti kopi atau teh di meja saat masih pagi, dan para staf yang sudah datang pagi-pagi bisa mengambilnya sendiri. Jadi selain minum teh saat sore dengan Paman Yukichi, Nagiko juga akan minum dengan rekan-rekannya hampir tiap pagi.
"Jadi, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Atsushi-kun saat mereka duduk di sofa untuk menyesap teh yang diseduh Naomi.
"Dia terlihat cocok mengenakan apa saja, sih," jawab Junichiro enteng.
"Enggak, bukan itu masalahnya—" Atsushi-kun menghentikan perkataannya, lalu menoleh ke Kunikida-san. "Kunikida-san …,"
Yang dipanggil pun balas menoleh dengan tatapan sebal. "Jangan melihatku seperti itu, Atsushi, aku sudah coba untuk menghentikan mereka!"
Atsushi-kun yang masih gugup kembali menoleh pada rekan-rekannya yang malah asyik minum teh sambil senyam-senyum melihat foto Kyoka di ponsel Junichiro dan Kak Akiko. "Apa tidak masalah? Dia, kan, masih seorang pembunuh …."
"Hmm, mungkin nanti akan ada masalah," balas Junichiro, masih terdengar santai.
"Tanizaki dan semua yang disini mungkin tidak akan keberatan, tapi seseorang yang mematuhi peraturan hukum seperti Ranpo-san—"
Nagiko langsung tersenyum dan memotong perkataan Si Anak Baru,"—soal itu jangan khawatir—"
Cklek.
"—AKU KEMBALI!" Panjang umur, Ranpo-san telah kembali datang ke kantor agensi setelah tadi buru-buru keluar untuk membeli jajanan.
Si Detektif Terhebat langsung menghampiri Kyoka dan memamerkan kantong belanjaannya. Ia merogoh salah satu di dalam kantong dan menyerahkannya dengan riang di tangan gadis itu.
"Ini permen yang bisa berubah warna ketika dicampur seperti yang kuceritakan padamu," jelas Ranpo-san semangat. "Campurlah dan lihat hasilnya!"
Junichiro terkekeh. "Sebenarnya Ranpo-san-lah yang paling senang di antara kita semua."
Nagiko mengangguk terkekeh juga melihat Kyoka mencampur permen yang diberikan Ranpo-san sambil si Detektif mengunyah pocky.
Kalau dipikir-pikir, walau cara bicaranya mungkin akan sering menyebalkan, tapi Ranpo-san memang mudah akrab dengan orang-orang yang lebih muda darinya, terutama jika perempuan. Bukan berarti Ranpo-san pecinta wanita, tapi memang karena biasanya Kaum Hawa suka cemilan dan jajanan manis, makanya bisa cocok berinteraksi dengan Ranpo-san. Saat awal Nagiko tinggal bersama pamannya pun, ia lebih dulu bisa dekat dengan Ranpo-san daripada dengan Kak Akiko.
Pintu ruang Presdir terbuka dan Paman Yukichi keluar dari ruangannya. Nagiko berdiri dan tersenyum, pamannya membalas dengan anggukan.
"Omong-omong," ujar Atsushi-kun yang masih menatap ke arah Ranpo-san dan Kyoka. "Kenapa dia bisa berada di kantor agensi?"
"Aku yang memanggilnya kesini," sahut Paman Yukichi. Atsushi-kun bergidik kaget, mungkin karena tidak sadar bosnya sudah disana.
Kunikida-san yang daritadi sibuk dengan kerjaannya di komputer, baru sadar juga pimpinannya sudah ada di antara mereka. Jadi Si Kacamata berdiri menghampiri bosnya. "Pak Presdir, dia adalah gadis yang saya laporkan kemarin."
Paman Yukichi mendelik pada Kunikida-san. "Bagaimana dengan status kepolisian militer dan kepolisian kota?"
"Mereka telah terbagi menjadi beberapa tim untuk menyelidiki, tapi identitasnya masih aman karena sikap hati-hati para Mafia," jawab Kunikida-san, lalu ia menghela pelan. "Hanya tinggal masalah waktu dimana namanya akan secara resmi masuk ke dalam daftar buronan."
Paman Yukichi menatap lurus gadis yang diselamatkan Atsushi-kun itu kemarin. "Namun situasinya akan berbeda jika ada aku sebagai penjaminmu."
Kyoka maju perlahan, menghampiri pimpinan kantor agensi. Ia mendongak membalas tatapan Paman Yukichi yang lebih tinggi darinya. "Tolong izinkan aku untuk tetap disini."
"Eh—" Atsushi-kun yang kaget agak melompat dari sofa, untungnya berhasil ditahan Junichiro sebelum benar jatuh ke lantai.
"Aku akan melakukan apa pun," lanjut Kyoka kemudian.
"Tapi—tidak bisa semudah itu—"
"Tidak perlu begitu," potong Kunikida-san. "Bukan karena kamu mantan Mafia ataupun kami tidak punya pekerjaan untukmu. Menyerah saja. Dunia ini tidak selembut itu."
Atsushi-kun menghampiri gadis itu. "Dia benar. Cepat atau lambat, Mafia akan menemukanmu jika kau disini. Kenapa kamu tidak bersembunyi di tempat yang lebih jauh?"
Masih dengan wajah datar gadis kecil itu menatap Paman Yukichi. "Aku tidak bisa melakukan apapun selain membunuh, itulah yang dia katakan. Mungkin memang begitu, tapi aku ingin membuktikan bahwa dia salah."
Si Bocah Harimau menatap Kyoka dan bosnya bergantian, sampai akhirnya dia menghadap Paman Yukichi dan membungkuk. "Saya mohon juga kepada Anda."
Nagiko diam-diam menarik perhatian Kyoka. Keponakan Presdir itu menggerakkan mulutnya, berkata 'ikuti gerakanku' tanpa suara pada gadis yang lebih muda darinya itu, karena dialah yang paling tahu kelemahan pamannya. Jadi Nagiko melipat tangan di depan dagunya, memasang wajah memelas. Kyoka yang melihat itu menirunya, dengan mata terpaku pada Paman Yukichi.
"Aku mohon …," cicit Kyoka.
"—diterima!" sahut Paman Yukichi.
"EH?!" Tentu saja yang menonton adegan ini langsung terkejut, kecuali Nagiko yang sudah tahu dia akan menang.
Paman Yukichi berbalik badan, beranjak kembali ke ruangannya. "Atsushi, kuserahkan dia kepadamu!"
Atsushi-kun, Kunikida-san, serta Tanizaki bersaudara masih terbengong-bengong karena heran, sedangkan Kyoka menghampiri Nagiko dan mengangguk sambil menggumam 'terima kasih' pelan. Gemas karena sikapnya cukup lebih hangat daripada saat mereka di Restoran Tachibana, Nagiko tersenyum dan menepuk pelan kepala gadis berkimono merah itu.
"Aku tahu rasanya memikirkan tidak punya tempat untuk kembali," kata Nagiko. "Yah, tapi masalahmu jauh lebih pelik dariku, sih."
"Tentang orang yang bernama Dazai itu—"
"—tidak apa-apa. Aku sebal, tapi aku paham. Lagipula, semua bilang dia akan baik-baik saja."
Kyoka mengangguk.
Tok tok!
Pintu kantor agensi terbuka, memperlihatkan dua orang dari kepolisian masuk membawa berkas.
"Maaf menganggu! Dokumen yang kami janjikan sudah dikirimkan!" kata yang perempuan.
"Oh, terima kasih banyak!" sahut Kenji-kun menghampiri polisi perempuan itu.
"Hmm? Bukankah kau Minoura yang menangkap anak buahnya sendiri?" tanya Ranpo-san yang bangkit dari tempat duduknya, menghampiri tamu mereka.
"Ukh—hari ini kami datang dengan tujuan yang berbeda, Tuan Detektif yang Terkenal," gumam polisi yang laki-laki. "Kami punya permintaan—hm?" Perkataan polisi terhenti ketika dia menangkap Kyoka di pandangan matanya. "Apakah gadis kecil itu pegawai disini?"
Diam-diam Nagiko langsung mengetuk pintu ruang pamannya dan masuk kesana. Melihat keponakannya yang tidak tersenyum seperti biasa, Paman Yukichi jadi mengernyit juga.
"Ada orang dari kepolisian datang untuk membawakan dokumen yang kita minta, tapi kemudian dia menanyakan soal Kyoka," lapor Nagiko. "Kita harus bilang apa?"
Paman Yukichi menggaruk dagunya, kemudian berdiri. "Baiklah, aku saja yang menangani itu."
Disitu, barulah Nagiko tersenyum, lalu mengekori pamannya keluar dari ruangan.
"—Yaaahh, mulanya, awalnya, semua ini dimulai karena aku mendapat permintaan dari kementrian untuk menjaga anak ini, tepatnya saat aku sedang melakukan tarian Cossack di ladang gandum—"
"—dia keponakanku," tegas Paman Yukichi, memotong cerita aneh Atsushi-kun.
"Keponakan?" tanya Polisi Laki-laki.
Paman Yukichi mengangguk tegas. "Keponakan."
Jangankan staf agensi yang lain, Nagiko pun juga kaget mendengarnya. Karena, kalau mau bilang 'keponakan', berarti harusnya jadi ada hubungan dengan Nagiko juga yang adalah keponakan Paman Yukichi juga, kan?
"Tapi…," Polisi Laki-laki itu jadi ragu, karena dari pihak kepolisian dan kementrian mungkin hanya tahu pokoknya Nagiko-lah keponakan Fukuzawa Yukichi.
Buru-buru Nagiko angkat suara juga sambil memegang bahu Kyoka. "Sepupuku, anak dari pamanku yang tertua."
Polisi Laki-laki itu memijit dagunya. "Aaahh, iya, Pak Fukuzawa kan, selain punya kakak perempuan, punya kakak laki-laki juga, ya…."
Nagiko mengangguk-angguk sambil tersenyum gugup.
"Maaf sudah bersikap lancang pada kalian," ujar polisi itu kemudian, membuat Nagiko diam-diam menghembus nafas lega.
.
.
Nagiko melirik ponselnya, menghela pelan saat melihat masih tidak ada kabar dari Dazai-san. Ini bukan masalah matanya sudah sangat pegal, melainkan dia hanya cemas saja—dan Nagiko bingung kenapa tidak ada orang di agensi yang memutuskan untuk melakukan penyelidikan mengenai anggota mereka satu itu. Maksudnya, kalau memang mereka percaya Dazai-san sedang melakukan hal penting, setidaknya berarti harus ada orang yang tahu kabarnya, kan? Kalau tidak, mana mereka tahu apa yang dilakukan Dazai-san itu berhasil atau tidak? Bisa saja, amit-amit pemuda itu malah benar terbunuh, kan?
Menghela, gadis itu menutup bukunya, ia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi untuk membaca apapun—sudah karena matanya berat, dia juga kepikiran jelek melulu soal Dazai-san. Jadi Nagiko memutuskan untuk mengambil obat bius yang disimpannya dari kemarin, bersiap menyuntikkan pada diri sendiri, karena sebelum pulang dari kantor tadi pamannya sudah menegur mengenai matanya tampak begitu lelah.
Ia duduk di ranjang, mengingat-ingat kalau ia telah membereskan semua yang ada di rumahnya agar dia bisa langsung terlelap. Setelah yakin, ia mengambil posisi untuk menyuntik dirinya sendiri. Bahaya sih, tapi Nagiko sudah diajari oleh Kak Akiko mengenai ini.
Ketika sudah tinggal beberapa mili lagi menyentuh kulitnya, Nagiko mendengar suara kunci dan pintu apartemennya terbuka. Bingung, ia menaruh alat suntiknya hati-hati di atas nakas, lalu keluar kamar.
"Paman?" tanya Nagiko, berpikir pamannya itu yang datang.
Tetapi bukan, yang membuka pintu apartemennya adalah seorang pemuda dengan lilitan perban pada leher dan kedua tangannya—yang dipakainya seperti fashion item wajib sehari-hari. Dazai Osamu.
Gadis itu mematung, tapi si pemuda malah terkekeh menghampirinya. "Sayangku, sebegitu kangen sampai speechless begitu?"
Nagiko langsung meninju dada Dazai-san sampai pemuda itu meringis. Itu bukan ringisan yang pura-pura seperti yang biasa keluar dari mulutnya tiap kali keponakan bosnya ini menghajarnya, tapi memang Dazai-san seolah menahan sakit disana.
"Menghilang begitu saja," geram gadis itu, lalu memukul laki-laki di hadapannya lagi. "Tidak ada kabar sama sekali." Ia memukul yang ketiga kalinya. "Aku jadi kepikiran!" Dan yang keempat.
"Aduh, kalau aku menghilang tanpa kabar bisa membuatmu memikirkan tentang aku, apa sebaiknya aku sering menghilang saja, ya?" goda Dazai-san.
Tapi Nagiko tidak bisa menerima godaan itu. Matanya sudah terlanjur berkaca-kaca dan ia menggigit bibirnya untuk menahan isakan. Dazai-san mungkin menyadari itu, makanya ia menangkap dan memegang erat tangan Nagiko yang tadi memukul tubuhnya.
"Aku pulang, Nagiko," gumam Dazai-san lembut.
.
.
.
.
Osamu membasuh tubuhnya pelan-pelan, terutama di dadanya. Tinju dari Nagiko memang lumayan terasa, tapi bukan itu alasan utama dia masih meringis diguyur air shower. Walau sudah lewat sehari, tapi bekas luka dan lebam tubuhnya dari tempat penyiksaan Mafia itu masih ada. Memang Osamu sudah terbiasa dengan sakit yang seperti itu, tapi yang namanya nyeri tetaplah nyeri.
Saat keluar dari bilik shower, ia sudah melihat baju bersihnya di meja kecil samping mesin cuci. Osamu tersenyum, ternyata sengambek-ngambeknya gadis itu, Nagiko masih mau mengambilkan dan menaruh baju bersihnya disana. Memang Osamu menyimpan beberapa stel pakaian di apartemen gadis itu, karena bagaimana pun dia sudah terbiasa menumpang mandi di malam hari dan kemudian paginya juga jika tidur disana. Tapi, biasanya pemuda itu sendirilah yang akan mengambil baju bersih dan menyiapkannya di depan bilik shower, kali ini dia kelupaan karena Nagiko sendiri yang mendorongnya untuk segera membersihkan diri disana.
Usai mengenakan baju dan keluar dari kamar mandi, ia menemukan Nagiko yang sudah ada di ruang makan, dengan semangkuk sup di meja. Osamu mengerjap. Gadis itu menyuruhnya duduk dengan dagu, jadi Osamu menurut.
Uap dari sup itu masih mengepul. Porsinya tidak banyak, jelas ini merupakan sisa dari yang dimakan tuan rumah ini dan baru dipanaskan, tapi cukup membuat perut pemuda itu berbunyi sedikit.
"Buatku?" tanya Osamu.
Nagiko mengangguk. "Kubeli tadi siang di Tachibana untuk makan malam, itu sisanya."
"Aih, Nagiko kayak esper, tahu banget aku belum makan dari kemarin!"
Mata gadis itu membulat. "Dari kemarin?"
"Jadi, aku dibawa ke bawah tanahnya markas Mafia," ujar Osamu sambil menyendok sup itu. "Setelah aku berhasil bebas, aku sibuk mencari informasi yang kita butuhkan. Habis itu aku minum sake setelah berhasil menyelinap di asrama anggota Mafia."
Gadis itu manyun. "Minum sake bisa, makan kok gak bisa."
Osamu mengunyah lalu menelan supnya, kemudian menyengir. "Kamar asrama yang kumasuki hanya punya sake."
Nagiko menghela. "Jadi? Informasi apa yang kali ini Dazai-san dapat?"
"Ah, oh ya, tentang Atsushi."
"Atsushi?" Nagiko mengernyit.
"Kepalanya dihargai 700.000 Yen, kan? Aku mencaritahu siapa yang memasang harga itu untuknya."
"… Dazai-san menemukan info tentang pelakunya?" Osamu mengangguk dan menyuap lagi. "Siapa?"
Setelah menelan, ia tersenyum kecil. "Mungkin sebaiknya kuberitahu besok saja, sekalian dengan yang lain juga." Nagiko manyun, tapi mengangguk juga. "Omong-omong, tumben sekali beli makan siang di Tachibana? Pak Fukuzawa mengajakmu kesana?"
Nagiko menggeleng. "Paman memintaku untuk membeli beberapa potong pakaian untuk Kyoka sambil mencari tempat tinggal sekitar kantor yang harganya terjangkau. Terus, sambil aku dan Kyoka jalan, dia lapar dan minta makan tahu di Tachibana. Karena memang Paman juga sudah memberi uang untuk makan siang, ya sudah."
Osamu menyeruput sisa kuah sup langsung dari mangkoknya, lalu mengambil tisu untuk mengelap mulutnya. "Kenapa dia tidak masuk asrama staf agensi?"
"Kan, sudah penuh! Kamar terakhir kan, sudah dihuni Atsushi!" jawab Nagiko.
Pemuda itu mengangguk-angguk, teringat bahwa dialah dalang dari tinggalnya Atsushi-kun di asrama itu. Staf agensi yang tinggal di asrama itu tidak perlu bayar uang sewa, karena gaji mereka sudah lebih dulu dipotong untuk biaya sewa tiap bulan. Ada beberapa staf yang tidak menggunakan fasilitas ini karena sudah terlanjur nyaman dengan tempat tinggal sendiri, seperti contohnya Pak Fukuzawa, Nagiko, Dokter Yosano, dan Ranpo-san.Saat awal Osamu masuk kantor agensi, dia juga punya kamar sendiri di asrama, tapi dua bulan lalu ia memutuskan untuk memberikan kamar itu untuk Kenji-kun yang baru datang dari desa, gara-gara Osamu sendiri juga jarang berada di bilik tersebut. Sejak dua bulan lalu itulah pemuda ini malah menyewa bilik apartemen yang jauh lebih murah dari harga sewa asrama staf—toh, dia juga hanya akan pakai ruangan itu sebagai tempat istirahat di malam hari saja. Kalau Osamu ingin tidur dengan lebih nyaman, dia tinggal berharap bahwa Nagiko ingin tidur dengannya malam itu—mau di apartemen ini maupun apartemennya sendiri, asal ada gadis itu, Osamu selalu bisa tidur dengan puas.
"Ah—" Osamu dapat ide. Membuat gadis yang duduk di hadapannya mengernyit. "Sudah dapat tempat tinggal untuk Kyoka?"
Nagiko menggeleng. "Untuk saat ini dia menginap di kantor, tidur di ranjang rawat Aki-nee."
Osamu mengambil ponselnya, mencari nomor telepon kantor, lalu menelepon.
"Dazai-san, jangan kasih ide aneh-aneh, deh," ujar Nagiko.
"Enggak, kok. Aku cuman bakal bilang ke Kyoka biar dia tinggal di tempatku saja, biar aku bisa tinggal di tempatmu tiap hari—BERCANDA NAGIIII!" Osamu langsung pura-pura bergidik ngeri saat Nagiko sudah mengambil selop dari kakinya untuk dilempar pada pemuda itu. "Ah—halo? Kyoka-chan?"
"Siapa?" tanya yang diseberang.
"Dazai Osamu, ingat?" ujar Osamu.
"… oh, kok, bisa tahu aku disini? Apa kau ingin membalas dendam?"
"Ah-hahaha, tidak, kok! Santai saja! Dan aku bisa tahu kau akan mengangkat telepon kantor karena Nagiko bilang kau ada disana!"
"Oh, jadi kamu sudah kembali pada Nagiko-san?"
"Begitulah~"
"… ada apa?"
"Kenapa kamu tidak tinggal di tempat Atsushi?"
"Eh?" Osamu bisa mendengar pernyataan kaget dari Kyoka-chan dan Nagiko bersamaan.
"Ruangannya Atsushi itu walau sudah tua, tapi cukup luas untuk ditinggali dua orang," kata Osamu kemudian.
"Apa tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, kok! Kurasa Atsushi tidak bakal keberatan, dan nanti aku yang akan memberitahu Pak Presdir tentang ini! Lagian, tidak baik gadis kecil sepertimu tinggal sendirian malam-malam di kantor. Kalau sama Atsushi, ada yang menjagai."
"Oke."
"Sip, hati-hati kesana, ya!" Lalu Osamu memutus sambungan telepon.
Nagiko menatapnya dengan sebal. "Tahu darimana Atsushi tidak bakal keberatan?"
Osamu tersenyum jahil. "Setidaknya untuk malam ini, Kyoka-chan tidak bakal tidur di kantor, itu bakal menyedihkan, tahu."
Gadis itu menghela, lalu bangun dari kursi, mengambil mangkok kotor. "Pokoknya, kalau nanti Paman ngomel, aku tidak mau tahu."
Pemuda itu terkekeh, menyaksikan punggung tuan rumah itu yang sedang mencuci alat makan yang habis dia pakai. "Habis ini mau langsung tidur?" Gadis itu menjawab dengan anggukan. "Oke, aku ke ranjang duluan ya~"
Osamu masuk ke kamar Nagiko. Hatinya meringis ketika melihat alat suntik di nakas samping ranjang. Pemuda itu tidak perlu bertanya untuk tahu isinya adalah obat bius. Sudah berapa malam gadis itu tidak terlelap? Empat hari? Lima hari? Yah, pokoknya mungkin sekitar dua malam kemarin itu hilangnya Osamu-lah penyebab gadis itu tidak bisa terlelap. Melihat kondisi kamar yang sudah rapi dan siap ditiduri, pemuda itu mengambil kesimpulan bahwa tadinya Nagiko sudah siap untuk memaksakan dirinya tertidur sebelum Osamu tiba.
Dengan hati-hati ia menyimpan alat suntik itu ke dalam laci nakas kanan, lalu duduk di pinggir ranjang empuk Nagiko. Ada tiga buku yang ditumpuk di pinggir nakas sebelah kiri, mungkin ketiga buku itulah yang menemani gadis itu selama setidaknya dua malam ini. Osamu meringis lagi mengingat bahwa Nagiko tahu bahwa membaca di malam hari akan membuat matanya semakin lelah, tapi gadis itu tampaknya sengaja melelahkan matanya di malam hari dengan harapan bisa terlelap sendirinya atau memudahkan dirinya untuk hilang kesadaran sesaat jika menubrukkan kepala ke dinding setelahnya. Osamu pernah melihat Nagiko melakukan hal ekstrim agar bisa terlelap saking frustasinya, dan jika ia tidak tahu apa-apa tentang gadis itu, mungkin ia akan berpikir bahwa Nagiko sedang melakukan percobaan untuk bunuh diri—
—sayangnya, Nagiko selalu langsung menusuk pinggang, atau menendang kaki, atau memukul lengannya tiap kali Osamu mengajak untuk bunuh diri bareng.
Beberapa saat menunggu, yang punya kamar hadir juga, naik ke ranjang.
"Selamat tidur, Nagiko," gumam Osamu pelan sambil tersenyum.
Gadis itu menggumam 'mm' pelan sambil menutup matanya. Mungkin lima detik setelahnya, Osamu tahu bahwa Nagiko telah terlelap. Terkekeh sebentar, Osamu menatap sayang gadis itu. Dia pikir, tubuh Nagiko pasti sudah lelah sekali. Gadis itu memang akan terlelap saat bersentuhan kulit dengan kulit dengan Osamu, tapi hanya jika kemauan Nagiko untuk tidur cukup besar. Makanya pemuda itu lumayan tersanjung karena saat Osamu menggenggam tangannya setelah meninjunya tadi, Nagiko tidak langsung terlelap, berarti mungkin arti keberadaan Osamu bagi gadis ini tidak hanya sekedar sebagai orang yang bisa membuatnya terlelap.
Posisi awal tidur mereka selalu sama: keduanya berbaring terlentang, dengan tangan Osamu mengenggam erat tangan gadis di sebelahnya. Tetapi tidak lama kemudian, Nagiko akan memiringkan tubuhnya menghadap Osamu, meringkuk dan masuk ke dekapan pemuda itu dengan sendirinya. Disitulah Osamu akan menyelinapkan tangannya ke pinggang gadis kesayangannya agar mereka sama-sama bisa mendapat posisi tidur yang nyaman. Pemuda itu bisa melihat bahwa pinggang dan kaki Nagiko sudah tidak ditutupi perban lagi, tapi ia rasa kedua luka besar itu akan tetap meninggalkan bekas disana jika Dokter Yosano tidak turun tangan dengan kemampuan khususnya.
Siklus awal tidur bersama keduanya tidak pernah berhenti sampai keduanya tidur berhadapan. Osamu memang pernah bilang pada teman tidurnya bahwa Nagiko-lah yang lebih dulu masuk ke pelukannya saat tidur, tapi pemuda itu tidak pernah mengatakan pada siapa pun apa yang selalu terjadi tiap kali gadis itu masuk ke pelukannya—oke, kecuali pada bosnya.
" —mama."
Ah, ini dia. Nagiko mulai merintih dan terisak dalam tidurnya. Kalau bukan 'mama', dia akan memanggil 'papa'nya.
Dalam pelukan Osamu, Nagiko meremas pinggir baju pemuda itu. "—mm, jangan pergi—"
Osamu membelai pelan kepala gadis itu, dan tidak lama kemudian isakannya mulai hilang. Nagiko mulai tenang, dan dengkuran halus mulai terdengar. Osamu menghembus nafas pelan, tersenyum pedih melihat gadis di pelukannya, lalu mencium keningnya.
"Aku disini, Nagiko, aku tidak kemana-mana."
.
.
Bersambung
.
.
'Even if the man doesn't come right out with his feelings, still the very fact that he's paying a visit must mean that he cares for you.' – The Pillow Book, Sei Shonagon
.
.
A/N: Di versi canon, Fukuzawa bilang ke Minoura bahwa Kyoka adalah cucunya. Tapi saat ngetik ini, Fei ngerasa aneh aja, jadinya Fei ubah menjadi 'keponakan'. Terus, mungkin ada yang belum ngeh, tapi Fei akan beberapa kali ganti-ganti POV, dan itu hanya akan ditandai dengan berubahnya nama panggilan dalam narasi dan sebisa mungkin dikasih garis pemisah saat ganti POV. Misal kalau sedang POV Nagiko, di narasi tentang Dazai dia akan sebut 'Dazai-san', sedangkan di POV Dazai maka di narasi tentang dirinya sendiri akan menjadi 'Osamu'. Jadi Fei gak akan tulis 'Nagiko's POV' dsb. Semoga paham ya.
Review?
