Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo Satoru X Fushiguro Megumi
Genre : Drama, Supernatural, Romance
Warning : OOC (Out of Character), iya di fanfic ini sengaja OOC, nggak terlalu mirip sama Manga/Anime, demi plot.
YAOI, BL, RATED M, Semi Canon, maybe typo (s)
You have been warned !
This fic inspired from manhwa The Ordinary Lifestyle Of A Universal Guide by Kang Yoonwoo
A/N : Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
Kiseki no Hiiraa
.
.
"Ohayou gozaimasu," sapa Megumi saat ia memasuki lantai tempat kantornya berada.
"Ohayou," balas Suzuna dan security yang ada di sana. Megumi meraih log book untuk mengisi daftar hadir nya hari itu, bisa ia lihat kalau dialah healer yang pertama datang karena belum ada healer lain yang mengisi log book itu.
"Ano, Fushiguro-Sensei, apa kau sudah baik-baik saja? Kupikir hari ini kau akan beristirahat total di rumah," tanya Suzuna.
"Iya, aku baik. Ini sedikit memalukan, kemarin katanya aku tidur seharian setelah pasien terakhirku itu ya. Aku bahkan tidak bangun saat dicek kesehatan," Megumi mengusap tengkuknya dengan pipi sedikit memerah.
"Ya tapi wajar saja kan mengingat apa yang terjadi. Ado-Sensei sangat cemas loh. Ah, beliau meminta untuk bertemu, katanya suruh memberitahu jika Anda sudah masuk. Boleh saya hubungi beliau sekarang? Atau nanti saja?"
"Hee, begitu ternyata. Iya hubungi saja, aku akan ke ruanganku untuk bersiap-siap. Kau bisa mengarahkan Ado-Sensei ke sana."
"Baik."
Megumi menutup log book lalu berjalan menuju ruang kerjanya. Langkah kakinya menggema di lantai ruangan kosong yang ada di depan kantor.
Cklik…
Ia membuka pintu ruang kerja. Ia lepas coat nya untuk ia gantung di dekat ranjang, lalu berganti dengan jas putih panjang. Saat masih bersiap itulah Ado-Sensei menghampiri. Beliau adalah wanita paruh baya dengan rambut ikal seleher, kacamata bulat menghias di atas hidungnya yang mancung.
"Fushiguro-Sensei, bagaimana keadaanmu?" wanita itu langsung menghambur ke arah Megumi, memegang lengannya dari atas sampai bawah seperti memeriksa kondisi Megumi.
"Ado-Sensei, saya baik-baik saja," ucap Megumi.
"Tch, heeeeh," Ado tampak menghela nafas lelah, memijit dahinya yang berkerut. "Seharusnya aku tidak mengiyakan saat mereka meminta healer lain asal cepat saja."
"Sungguh, ini tidak apa-apa. Justru saya sangat beruntung mendapat pengalaman berharga seperti ini," Megumi menenangkan. "Saya jadi lebih percaya diri dengan kemampuan saya.
"Hmm," Ado menatap memicing ke arah Megumi. "Kau tidak perlu berusaha sopan untuk menutupi kelalaianku. Justru kalau kau sekarang sedang menghadap kepala divisi untuk membawa masalah ini ke atas, sudah merupakan hal wajar."
Megumi sweatdrop. "Tidak tidak, saya tidak akan melakukannya," ucap Megumi. "Saya serius. Saya…merasa beruntung dengan kejadian kemarin. Justru saya yang harus minta maaf karena setelah itu saya istirahat tanpa menerima pasien lain lagi, padahal masih jam piket."
Ado mengibaskan tangannya. "Tak masalah. Istirahat adalah privilege healer setelah melakukan sesi heal. Apalagi kasus kemarin itu harusnya di luar expertise mu. Juga kemarin pasien di B tidak terlalu banyak, bisa dialihkan ke healer lain yang bertugas."
"Begitu, syukurlah," balas Megumi.
Ado menghela nafas panjang sekali lagi. Ditatapnya Megumi dengan serius. "Kau yakin sudah tidak apa-apa?"
Megumi mengangguk. "Iya, saya yakin. Kondisi saya juga sudah pulih karena istirahat kemarin dan semalaman. Saya sudah bisa bekerja seperti biasa hari ini."
Ado mengangguk. "Baiklah. Kondisi tubuhmu kau yang paling tahu," Ado mengibaskan tangannya. "Tapi aku tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi kedepannya," ia pun membalikkan tubuh dan melangkah meninggalkan ruangan Megumi.
.
Suasana hari itu tidak terlalu ramai. Sejak pagi Megumi baru menangani 3 pasien saja. Ia menghabiskan waktu dengan membaca jurnal mengenai healer. Ia ingin lebih mendalami dunia itu dan meningkatkan diri. Saat tengah membaca itulah samar ia mendengar kegaduhan di luar. Ada apa? Tapi kenapa Suzuna tidak menghubungi?
Saat heran begitu, barulah ponsel Megumi bergetar. Tapi ia juga heran kenapa Suzuna menggunakan chat pribadi, tidak menggunakan intercom kantor.
'Fushiguro-Sensei, Gojo Satoru datang lagi, bilang ingin menemui Anda. Dan Ado-Sensei sedang mengomel untuk melarangnya. Bagaimana ini?'
Megumi terbelalak membaca chat itu. Ia pun bergegas keluar ruangan, di depan resepsionis, tampak Ado-Sensei tengah mengomel dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Sudah saya bilang tidak akan saya izinkan lagi. Anda harus mendapat penanganan dari healer level 1," omel Ado.
Megumi belum melihat Gojo dari posisinya, jadi ia pun segera keluar ruangan.
"Permisi, apa yang sedang terjadi," ucap Megumi saat keluar pintu. Dan di sana, di dekat meja security, Megumi melihat sosok yang membuatnya pangling. Siapa? Gojo?
Megumi memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ya, kalau dari perawakannya, itu Gojo. Cowok jangkung bersurai putih yang kemarin. Tapi kini penampilannya beda sekali. Ia memakai celana hitam yang cocok sekali dengan postur tubuhnya, ia mengenakan turtle neck abu-abu dibalut dengan cardigan warna hitam. Rambutnya yang kemarin berantakan kini tersisir rapi. Wajah yang kemarin penuh kekesalan dan kemarahan, kini tersenyum begitu melihat Megumi muncul.
"Megumi-Sensei," senyumnya begitu melihat Megumi keluar dari pintu.
Kyuuunnn…
Jantung Megumi langsung berdegup tak karuan, wajahnya memanas. Serius itu Gojo? Memangnya ada manusia dengan wajah semanis itu? Angel, sosok di hadapannya pasti Angel, bukan manusia.
"Ano, apakah aku boleh melakukan sesi heal lagi dengan Megumi-Sensei," Gojo melangkah mendekat lalu meraih tangan Megumi, seolah memohon.
"I-itu…" Megumi kikuk, masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.
"Hei !" para security berusaha menarik Gojo, tapi entah bagaimana mereka sama sekali tak bisa menyentuh Gojo. Tangan mereka terulur, tapi tak menggapai Gojo. Mungkin itu kemampuan istimewa nya.
"Aku, sejak kemarin kepikiran Megumi-Sensei terus. Baru kali ini aku merasa cocok dengan heal seseorang. Selama ini aku tak pernah merasakan apapun selama heal, tak ada efek sama sekali. Tapi baru kali ini aku merasakan heal yang betulan," oceh Gojo.
"Sudah saya bilang saya tidak mengizinkan! Fushiguro-Sensei masih healer kelas 2, terlalu berat bagi dia untuk menangani Anda yang special grade," omel Ado. Tapi bergeming pun tidak, Gojo bahkan seolah tak mendengar omelan Ado. Tatapannya tetap ke arah Megumi dan tangannya masih menggenggam kedua tangan Megumi.
Megumi hanya bisa sweatdrop. Sepertinya hanya dia yang bisa menyelesaikan masalah ini.
"Ado-Sensei, apa tidak bisa saya menerima pasien ini?" tanya Megumi. "Saya akan lebih berhati-hati."
"Fushiguro-Sensei, apa yang Anda bicarakan. Apa Anda lupa dengan kejadian kemarin," omel Ado.
"Kemarin adalah murni kesalahan saya. Saya tidak menakar kemampuan saya dan bertindak gegabah menggunakan seluruh kemampuan saya. Kali ini saya akan lebih menahan diri. Saya tidak akan mengerahkan seluruh energy saya, secukupnya saja," bela Megumi.
"..." Ado menatap tak setuju. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Menghela nafas beberapa kali, akhirnya Ado mengangguk. "Tapi kalau hal seperti kemarin terjadi lagi, saya akan memasukkan beliau ke daftar blacklist rumah sakit ini," tunjuk Ado pada Gojo dengan kepalanya.
"Baik," balas Megumi, ia melepaskan genggaman tangan Gojo. "Mari silahkan masuk, Gojo-san," Megumi mempersilahkan. Gojo pun menurut, ia melangkah mengikuti Megumi.
"Arigatou, Megumi-Sensei," ucap Gojo.
"Tidak masalah," balas Megumi. "Lagipula…" sebenarnya Megumi masih penasaran dengan Gojo. Kenapa bisa energy nya serumit ini, kenapa Gojo bisa bertahan meski tak pernah mendapatkan heal, kenapa tak ada heal yang bisa menyentuh energy Gojo. Semuanya. Megumi penasaran dengan semuanya.
"Hmm?" tanya Gojo.
"Ah, bukan apa-apa. Ayo kita ngobrol di dalam saja."
Mereka masuk ke ruangan Megumi, duduk di kursi untuk heal. Megumi membuka kembali file Gojo, dan kembali menatap angka 2 jam 38 menit di sana. Ia masih sedikit tak percaya hal kemarin betulan terjadi.
"Gojo-san, sebelum mulai, apa kau tidak keberatan aku menanyakan beberapa hal?" tanya Megumi.
"Iya, tentu saja," balas Gojo.
Megumi mengetuk pelan data Gojo. "Di sini tertulis heal rata-rata yang kau lakukan sekitar 5 menit. Apakah yang terjadi merupakan hal seperti kemarin saat pertama aku melakukan heal padamu?"
Gojo mengangguk. "Ya, biasanya begitu. Lalu healer yang menanganiku akan mengatakan bahwa sesi heal nya sudah selesai. Kau adalah orang pertama yang mengatakan bahwa heal nya tidak bekerja, dan meminta untuk melakukannya sekali lagi," ucap Gojo. "Selama ini, aku sama sekali tidak tahu seperti apa heal yang 'bekerja', aku baru paham itu setelah heal kedua mu kemarin. Aku merasakan sesuatu, energy kutukan di dalam tubuhku seperti disentuh oleh energy mu. Apakah heal seharusnya begitu?"
Megumi mengangguk. "Iya, seharusnya begitu. Jika yang terjadi seperti heal kita yang pertama, itu sama sekali tidak ada yang terjadi. Aku tidak menyentuh, bahkan melihat aliran energy kutukanmu pun tidak."
"Souka…begitu rupanya. Jadi selama ini mereka…" Gojo tak melanjutkan ucapannya. Tapi tatapannya terlihat sayu. Megumi hanya diam, mengerti. Bagaimana tidak. Pria di hadapannya ini telah dibohongi oleh healer selama hidupnya. Meski Megumi juga mengerti sih, karena pertama kali ia melakukan heal ia juga gagal melakukannya. Tapi bukan berarti ia akan mengatakan heal nya sudah selesai jika seperti itu, ia akan tetap menulis bahwa heal nya tidak bekerja, meski taruhannya adalah karir sebagai healer.
"Jadi, apakah aku boleh melakukan sesi heal lagi denganmu, Megumi-Sensei," ekspresi Gojo berubah ceria kembali.
"Iya, ayo lakukan. Tapi kali ini, aku tidak akan terlalu memaksakan diri seperti kemarin. Kau mungkin akan merasakan efek yang lebih kecil dibanding kemarin," Megumi meletakkan kembali data Gojo ke meja.
"Iya tidak masalah. Aku juga tidak ingin di blacklist oleh rumah sakit ini. Nanti aku tidak bisa bertemu Megumi-Sensei lagi," senyum Gojo.
Deg…
Megumi langsung memalingkan muka. Megumi tahu Gojo memiliki paras rupawan, tapi saat dia tersenyum, damage nya lebih tidak terbendung lagi.
"Ehm, baiklah, ayo mulai," Megumi mengulurkan tangannya.
"Iya," Gojo memajukan kursi ke arah Megumi, lalu menarik bajunya naik.
"Eh?" Megumi bingung. Tapi ia lalu ingat bahwa kemarin dia melakukannya dengan menyentuh dada Gojo, bukan di tangan. "A–...o-oh, ya," seketika Megumi kikuk. Ia pun mengulurkan tangan untuk masuk ke balik baju Gojo. Entah kenapa ia merasa malu. "Kau siap?" ia mendongak setelah merasa tangannya berada di atas jantung Gojo.
"Ya," balas Gojo.
Dan saat itulah Megumi baru sadar kalau wajah mereka berada di jarak yang cukup dekat. Di jarak itu Megumi baru menyadari kalau Gojo benar-benar tampan. Alis dan bulu matanya berwarna putih, sama seperti rambutnya. Iris biru cemerlangnya masih menarik perhatian, lalu bibirnya berwarna pink menggoda. Apa itu warna alaminya? Mungkin karena kulit Gojo sangat putih, sehingga bibir yang berwarna pink muda itu jadi terlihat memikat sekali untuk dipandang.
"Megumi-Sensei?" panggil Gojo yang segera membuat Megumi tersadar ke dunia nyata.
"Y-ya, akan segera kumulai," Megumi mengerjap seraya menggeleng pelan. Konsentrasi, Megumi, omelnya pada diri sendiri. Megumi menarik nafas panjang, menghembuskannya, lalu menarik nafas lagi dan perlahan sambil memejamkan mata, berkonsentrasi.
Mungkin karena ia sudah melakukan itu kemarin, kali ini Megumi lebih mudah menemukan aliran energy Gojo. Ia menemukan seutas benang energy itu, bahkan kali ini ukurannya lebih besar. Dengan mudah Megumi meraihnya, menggenggam erat benang cahaya itu.
Perlahan Megumi mulai mengalirkan energy heal nya pada Gojo. Perasaan sejuk mulai menjalar, perasaan nyaman menyelimuti, lalu…
Sniff…
Entah perasaan Megumi saja atau memang benar adanya, ia merasa indera penciumannya menangkap aroma sesuatu. Seperti aroma bunga, atau madu, atau mint, Megumi tak begitu mengerti. Tapi aroma itu begitu manis, begitu menenangkan.
Perasaan nikmat mulai menjalar di tubuh Megumi. Perasaan yang untuk pertama kali ia rasakan. Ia merasa tubuhnya diselimuti sesuatu yang lembut, dan tubuhnya dimanja untuk merasakan sesuatu yang nikmat. Megumi tak ingin berhenti merasakan itu.
Klak…
"Megumi-Sensei," panggilan Gojo membuat Megumi membuka mata seketika. Aliran energy mereka terputus, sesi heal pun terhenti. Megumi menatap Gojo yang tersenyum ke arahnya, tangan Gojo terulur ke samping, menekan tombol off pada timer yang kini menunjuk angka satu jam.
"Aku tidak ingin kau berlebihan menggunakan kekuatanmu seperti kemarin, jadi maaf, aku dengan lancang mematikan timer nya dan memutuskan koneksi kita," jelas Gojo.
"Ya…tidak masalah," balas Megumi. Ia melepas tangannya dari dada Gojo, lalu memundurkan kursi. Saat ia menatap ke bawah itulah, ia terbelalak saat melihat tubuh bawahnya menggunduk. Ia ereksi.
Set…
Ia langsung merapatkan jas putihnya supaya menutupi bagian tubuh itu. 'Damn…' batin Megumi. Ia tahu ia merasa nikmat, tapi baru kali ini ia mengalami reaksi demikian. Ia jadi merasa mesum, ia merasa sama dengan pasien-pasiennya yang bisa terangsang selama sesi heal, lalu melakukan pelecehan terhadapnya. Bedanya saat ini Megumi lah yang berada di posisi pasien tersebut.
Dengan kikuk Megumi meraih bolpoin dan data Gojo, lalu mulai menulis di sana.
"Gojo Satoru-san, sesi heal pada tanggal xx bulan xx, selama 1 jam 09 menit," Megumi tetap berusaha profesional. Ia lalu menyerahkan kertas data yang ia harus berikan pada pasien.
Gojo menerima kertas itu. "Arigatou," ucap Gojo.
"Ah, bagaimana dengan heal tadi?" meski malu, Megumi tetap penasaran dengan hasilnya. Jangan bilang hanya dia yang merasa keenakan, sementara Gojo merasa biasa saja, atau bahkan tak merasakan efek apapun seperti heal palsu nya yang biasa.
Tapi di luar dugaan, Gojo menutup sebagian wajahnya dengan kertas yang ia pegang. "Tadi…enak sekali," ucap Gojo, wajahnya yang putih terlihat sekali bersemu, membuat wajah Megumi ikut memanas karena nya. Untuk beberapa lama keduanya diam dengan wajah berasap masing-masing.
"Ka-kalau begitu, kita selesaikan sesi heal kali ini. Terimakasih banyak," Megumi memecah keheningan awkward itu.
"Ya," balas Gojo, tapi ia belum bangkit dari kursinya. "Ano, Megumi-Sensei. Apa…besok masih boleh melakukan heal denganmu?" tanya Gojo.
Megumi terdiam. Ia sadar bahwa heal tadi juga hanya sedikit yang ia lakukan. Bahkan aliran energy Gojo yang baru bisa ia genggam hanya sebesar tali saja. Tidak seperti pada pasien lain yang ia bisa dengan mudah mengakses ke segala penjuru aliran energy.
"Ya, jika Anda berkenan, Gojo-san. Seperti yang Anda tahu, saya hanya heal kelas 2, kemampuan saya tak sebaik itu. Jadi mungkin Anda hanya sedikit saja merasakan efek heal dari saya. Saya tahu aliran energy Anda belum sepenuhnya stabil."
"Tidak apa, perlahan saja. Sedikit demi sedikit, daripada tidak tersentuh sama sekali seperti selama ini," ucap Gojo dengan tatapan sayu yang membuat dada Megumi sedikit sakit. "Ja~, kalau begitu sampai besok Megumi-Sensei. Terimakasih banyak," Gojo pun pamit dan meninggalkan ruangan Megumi.
Megumi menarik nafas panjang sepeninggal Gojo. Ia bersyukur heal kali ini berjalan lancar, bahkan lebih baik dari hari kemarin. Megumi merasa energy nya terkuras, tapi tidak separah kemarin. Mungkin berkat Gojo juga yang memaksa berhenti, karena kalau tidak, mungkin Megumi akan terus melakukannya sampai energy nya habis seperti yang lalu. Selain itu…
Megumi kembali melirik daerah selangkangannya yang masih menggunduk.
"Sepertinya aku masih punya banyak energy kalau tubuhku bisa bereaksi begini," gumam Megumi. Tapi yah, sepertinya butuh beberapa waktu untuk menenangkan diri sebelum ia bisa menemui pasien selanjutnya. Kalau ada sih. Bukankah dari pagi sepi? Jadi mungkin setelah ini juga belum akan ada pasien.
"..." tangan Megumi bergerak menuju daerah selatan tubuhnya, meremas benda itu pelan. Tapi ia lalu segera menjauhkan tangan. "Dasar gila. Ini di kantor, di jam kerja, Fushiguro Megumi!" omelnya pada diri sendiri. Akhirnya ia lebih memilih melanjutkan membaca jurnal sambil menunggu pasien selanjutnya.
.
~OoooOoooO~
.
"Tadaima," suasana rumah sepi saat Megumi pulang kerja. Sepertinya Toji sedang menjalankan misi. Megumi masuk ke kamar, menaruh tas di meja, lalu membaringkan badan di ranjang. Kejadian hari ini kembali mengisi kepalanya. Ia…baru kali ini sampai terangsang saat melakukan heal.
Ia tahu beberapa pasiennya ada yang demikian, dan karena rasa itu dua arah, dari sisi Megumi juga merasa nikmat, tapi sebatas itu, ia belum pernah merasa senikmat itu sampai terangsang sedemikian rupa. Ia berpikir, mungkin hal semacam itulah yang bisa mengantar sesi heal ke arah ciuman, atau berhubungan sex. Ia dengar sesi heal dengan metode itu akan sangat efektif.
"Ugh…" memikirkan itu tubuh Megumi kembali bereaksi. Tapi tak apa kan, dia sudah berada di rumah, di kamarnya sendiri.
Tangan Megumi bergerak ke arah selangkangannya, meremas benda di sana hingga perlahan mengeras. "Hm…ngh," Megumi menutup mulutnya sendiri dengan punggung tangan saat kenikmatan mulai ia rasakan.
Megumi membuka resleting celananya, menurunkan boxer hingga penisnya bebas. Benda itu sudah tegak sempurna. Megumi meremas benda itu, lalu mulai mengocoknya pelan. Ia kembali mengingat rasa nikmat yang ia rasakan ketika melakukan heal dengan Gojo.
"Hngh…ahh," desahan lolos dari bibir Megumi. Kini ia menggunakan kedua tangan untuk memanja penisnya itu yang sudah banjir precum. "G-Gojo-san…" tanpa sadar nama itu terselip dari bibir Megumi. "Hngh, ahh…nn…hampir…" Megumi mempercepat gerakan tangannya saat merasa hampir klimaks. "Nn, aahh, aa–..."
Klak…
"Tadaima," terdengar pintu depan terbuka dan suara Toji mengucap salam.
Sontak Megumi pun langsung duduk dan membetulkan pemakaian celananya. "O-Okaeri," balasnya dengan gugup. Ia bergegas membenahi pakaiannya lalu membuka pintu kamar sekedar menampakkan diri.
"Oh, kau sudah pulang. Padahal kukira aku yang akan duluan, haha," ucap Toji.
"Yeah, tadi tidak terlalu banyak pasien, jadi aku bisa pulang segera setelah jam kerjaku selesai," balas Megumi.
"Hng?" Toji menatap Megumi yang tampak terengah. "Kau kenapa berkeringat begitu?"
"O-oh, iya, cuaca hari ini panas sekali ya kan. Dan aku juga baru sampai, jadi masih lelah habis jalan kaki," kilah Megumi.
"Yeah, benar juga sih, aku juga gerah. Kau atau aku yang mandi duluan?"
"Kau duluan saja Tou-san. Aku mendinginkan badan dulu."
"Baiklah kalau begitu," Toji pun melangkah pergi.
Megumi menghela nafas lelah seraya menutup kembali pintu kamar. Ia menatap kejantanannya yang sudah lemas. Mood nya sudah tak ada lagi. "Sudahlah," ucapnya pasrah dan memilih untuk ganti baju saja.
.
~OoooOoooO~
.
Ado-Sensei kembali menemui Megumi keesokan harinya. Memastikan keadaan Megumi. Meski sudah Megumi jelaskan bahwa kondisinya baik, sepertinya healer senior itu masih tetap khawatir padanya.
"Apalagi nanti kau bilang akan melakukan sesi heal lagi dengannya. Kau yakin baik-baik saja?" tanya Ado.
"Iya Sensei, sekarang aku membatasi waktunya sehingga tidak akan berlebihan lagi seperti yang pertama," kilah Megumi, meski sedikit berbohong karena kemarin yang membatasi waktu adalah Gojo.
"Heeh, baiklah kalau begitu. Pokoknya hati-hati saja," akhirnya Ado pun mengalah dan pergi meninggalkan Megumi. Kini giliran Megumi lah yang sedikit khawatir. Ia tidak tahu wajah seperti apa yang akan ia tunjukkan pada Gojo mengingat kemarin ia sempat onani sambil memanggil nama Gojo.
"Dasar gila," umpat Megumi pada diri sendiri.
Menjelang jam istirahat siang, Megumi tinggal menerima satu pasien lagi yang ternyata adalah Gojo. Sepertinya kali ini sedikit lebih siang dari kemarin.
"Selamat siang Sensei," sapa Gojo dengan senyuman manis.
"Selamat siang, Gojo-san," balas Megumi.
"Maaf sedikit terlambat, tadi pagi aku mengurus sesuatu dulu," ucap Gojo seraya duduk di kursi pasien. "Masih ada waktu kan, sebelum istirahat siang?"
"Iya, masih ada waktu kok. Ah, mengingat hal kemarin, aku jadi kepikiran, mungkin kali ini aku akan mengeset timer nya mundur saja bukan maju. Jadi sekalian membatasi waktu. Akan kubatasi selama 1 jam sesi kali ini. Bagaimana?"
"Iya tak masalah."
"Kalau begitu kemarilah, akan kutekan tombol start saat aku sudah siap dengan heal nya saja."
Gojo pun memajukan kursi lalu membuka kancing kemeja nya. Ya, kali ini ia memakai kemeja hitam, jadi ia membuka kancing kemeja itu supaya Megumi bisa menyentuh dadanya.
Gulp…
Megumi sedikit tersipu akan itu. Entah ia yang belum terbiasa melakukan heal dengan cara ini, atau karena ia ingat kejadian kemarin. "Kalau begitu kumulai ya."
Megumi pun menekan tombol start, lalu mulai memejamkan mata dan berkonsentrasi. Lagi, kali ini lebih mudah dari yang kemarin. Seolah Megumi mulai terbiasa, atau Gojo yang mulai bisa membuka diri untuk energy nya disentuh oleh orang lain.
Kali ini aliran energy yang dapat Megumi lihat sebesar jalan setapak. Ia menapaki energy itu, lalu berkonsentrasi, mengalirkan energy heal nya pada Gojo.
Kembali perasaan nikmat itu Megumi rasakan. Perasaan nikmat seolah tubuhnya disentuh, diselimuti sesuatu. Dan kenikmatan itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Megumi sadar kejantanannya ereksi, tapi mau bagaimana lagi, ia tak bisa menahan kenikmatan itu.
Pip pip pip pip…
Hingga akhirnya timer pun berbunyi tanda waktu sudah mundur ke angka 0. Tapi Megumi merasa enggan melepaskan ikatan mereka.
"Sensei…" panggil Gojo.
"Nnh…" suara Gojo seperti menggelitik di telinga Megumi.
"Megumi-Sensei, waktu nya…sudah selesai," tangan Gojo meraih tangan Megumi di dadanya, menggenggam tangan itu. Tubuhnya condong ke arah Megumi. "Sensei…" bisiknya di dekat telinga Megumi. Satu tangan Gojo menyentuh paha Megumi, sedikit meremasnya.
"Ngh aah," tapi cukup untuk membuat Megumi bereaksi.
Tangan Gojo mengusap ke arah paha dalam Megumi, lalu ke arah…
Set…
Tapi akhirnya Gojo menjauhkan diri. Ia memundurkan kursi. "Sesi heal nya, sudah selesai, Sensei," ucap Gojo.
Nafas Megumi terengah, ia berusaha menormalkan nafasnya. "Ya," balas Megumi setelah sedikit lebih tenang. "Gomen," Megumi meraih bolpoint dan file Gojo, menulis seperti biasa. Saat menatap ke bawah barulah ia melihat bahwa bagian selangkangannya sedikit basah. Ia memakai celana warna abu-abu muda saat itu, jadi basahannya lumayan terlihat.
'Kuso,' batin Megumi seraya menggunakan jas putihnya untuk menutupi benda itu. Ia segera menyelesaikan menulis data heal hari itu, lalu memberikan data pasien pada Gojo.
"Terimakasih banyak," ia menyudahi sesi heal itu.
Gojo mengangguk lalu menerima data itu dan pamit, pergi dari ruangan Megumi. Sepeninggal Gojo, Megumi langsung menutup pintu, menguncinya, lalu menutup juga tirai-tirai jendela. Ini sudah jam istirahat siang, jadi seharusnya tak masalah ia melakukan itu.
Dengan tergesa Megumi melepas sabuk lalu menurunkan resleting celananya. "Ngh, aahh, haahh…" ia langsung meraih kejantanannya yang rasanya sudah mau meledak. "Ugh…fuck…aahhh, ssshhhh," Megumi mendesis nikmat. Wajahnya mendongak penuh saat merasa tak tahan lagi. Tangannya bergerak cepat, detik berikutnya cairan putih kental banjir di ujung penis Megumi. Megumi berusaha menampungnya dengan kedua tangan, tapi lolos dan berujung banjir hingga berjatuhan ke lantai.
"Fuck…" umpat Megumi masih meremas pelan penisnya. Ia masih ereksi, tapi sudah lebih bisa menguasai diri. Ia berjalan ke arah ranjang tempatnya istirahat, ia naik ke sana lalu duduk bersandar ke dinding. Tangannya kembali mengocok benda yang masih keras itu.
"Ssshh…nhh, haahh," ia mendesah keenakan. Tapi entah mengapa kali ini ia merasa kurang. Ia butuh sesuatu yang lebih, tapi apa.
Gasp…
Ia tersentak saat tanpa sengaja sperma nya yang tadi, mengalir ke bawah sampai melewati lubangnya. Ia merasakan sensasi geli, dan lubangnya berdenyut tak nyaman. Megumi…ingin menyentuh lubang itu.
"Gila, yang benar saja," umpat Megumi. Ia lanjut mengocok penisnya, tapi setelah cukup lama ia merasa tidak bisa klimaks. Ia terdiam, perlahan…jemarinya turun untuk menyentuh lubang bawahnya. Hanya satu jari, ia menyentuh dan menekan-nekan permukaan lubang itu. Lubangnya berdenyut, dan Megumi pun memasukkan satu jarinya ke sana, hanya bagian ujung, satu ruas jari saja. Ada sensasi aneh saat Megumi merasakan itu.
"Ungh…ahh…" ia mulai mendesah heboh saat jarinya keluar masuk di sana. Megumi berganti posisi menungging, menenggelamkan wajahnya ke bantal. Satu tangannya mengocok penis, satu tangannya memasuki lubang kenikmatannya dengan satu jari.
"Nghh…aahhh, ouugh…nnhh, aaahh," Megumi mendesah. Ia mengingat kembali sensasi nikmat barusan yang ia rasakan bersama Gojo. Suara Gojo yang memanggil namanya, lalu…sentuhan Gojo di pahanya. Meremas pelan, lalu bergeser lembut. Andai saja tangan Gojo tadi bergerak lebih dekat, menyentuh area sensitif nya yang sudah tegang. Pasti rasanya akan…
"AAAHHH…aaaahhhhh…" Megumi klimaks saat memikirkan itu. Lubangnya mengapit erat jemari yang ada di sana, dan spermanya muncrat, banjir mengenai sampai dada nya. "Uogh…ahhh," Megumi masih mendesah pelan, menuntaskan hasratnya. Ia lalu ambruk, terengah. Ia tatap tangannya yang basa belepotan cairan putih. Yang tadi itu nikmat sekali.
"Kau sudah gila, Fushiguro Megumi," guman Megumi pada diri sendiri.
.
~OoooOoooO~
.
Megumi merasa seperti sampah saat berangkat kerja keesokan harinya. Dalam hati ia berharap bahwa hari ini Gojo tak akan datang. Kemarin Gojo tak mengatakan hari ini akan datang kan? Kalau begitu semoga saja tidak. Karena Megumi merasa sama sekali tak punya muka untuk bertemu jujutsushi itu.
Dan benar saja, sampai lewat jam makan siang, tak ada tanda-tanda kehadiran Gojo. Meskipun ada rasa lega, Megumi sedikit kecewa juga tanpa alasan yang jelas.
Keesokan harinya saat Megumi menjalani tugas seperti biasa, Suzuna menghampiri. "Sensei, Anda dipanggil oleh kepala divisi. Pasien Anda akan saya alihkan dulu ke healer lain," ucap Suzuna.
Megumi mengerutkan alis. Kepala divisi? Kenapa? Megumi sedikit berdebar. Apa jangan-jangan ia mendapat masalah karena berani menangani Gojo yang seorang special grade?
Dengan langkah sedikit nervous Megumi pun menghadap ke ruangan kepala divisi.
"Permisi," ia mengetuk sebelum memasuki ruangan yang pintunya setengah terbuka itu.
"Ah, silahkan masuk, Fushiguro-Sensei," ucap kepala divisi.
Saat Megumi masuk, ia melihat seseorang duduk bersama kepala divisi. Ia seorang pria bersetelan hitam rapi dan berkacamata.
"Silahkan duduk. Perkenalkan, beliau Kiyotaka Ijichi-san, dari Jujutsushi HQ Tokyo."
Dada Megumi berdesir. Dari HQ? Mau apa orang dari HQ berada di sana untuk menemuinya? Apa ia mau dituntut karena memperlakukan Gojo dengan tidak baik?
Meski berpikiran kalut, Megumi menyalami pria yang tampak sopan itu. Megumi ikut saja menanggapi saat kepala divisi mengangkat obrolan basa-basi di antara mereka, hingga akhirnya ia pun mengatakan ada kepentingan apa pertemuan kali ini.
"Jadi Kiyotaka-san datang ke sini dengan maksud untuk merekrutmu sebagai healer di HQ Tokyo," jelas kepala divisi yang sontak membuat mata Megumi terbelalak. Bagaimana tidak. Headquarter Jujutsushi ingin merekrut nya?
"Itu…sungguhan?" tanya Megumi tak percaya.
"Benar. Ini proposal kami untuk Anda pertimbangkan," ucap Ijichi memberikan sebuah file pada Megumi. "Kami menyediakan fasilitas paviliun, cafetaria 24 jam, dan beberapa fasilitas lain, silahkan dibaca datanya. Lalu untuk tunjangannya, bla bla bla…" Ijichi menjelaskan berbagai macam hal, tapi Megumi tak begitu fokus mendengarkan. Ia masih gemetar hanya dengan kalimat HQ Jujutsushi ingin merekrut nya.
Di sana adalah pusat kegiatan jujutsushi. Bisa masuk ke sana adalah hal yang sangat sulit, hanya orang-orang berkemampuan di atas rata-rata yang kemungkinan diterima di sana. HQ berisi orang-orang hebat, mulai dari jujutsushi nya dan juga para healer nya. Semuanya. Dan Megumi mendapat privilege dengan mendapat undangan pribadi untuk bergabung dengan mereka? Megumi tengah ter mind-blowing saat ini.
"Jika masih ada yang ingin ditanyakan, silahkan," Ijichi menyudahi penjelasannya.
"..." Megumi terdiam. Tentu saja ia ingin menerima tawaran itu, tapi ada satu hal yang menahannya. "Ano, bisakah saya pikirkan dulu beberapa hari?" tanya Megumi.
"Iya, tidak masalah," Ijichi merogoh sakunya. "Anda bisa menghubungi saya di nomor ini jika sudah memutuskan," ia menyerahkan sebuah kartu nama kepada Megumi.
"Arigatou," balas Megumi seraya menerima benda itu.
.
~OoooOoooO~
.
Hari belum terlalu sore saat Megumi keluar dari rumah sakit. Ia menatap langit biru yang sudah agak berwarna jingga. Tokyo ya…Jujutsushi HQ. Ia ingin ke sana, tapi…bagaimana dengan ayahnya? Kalau ia pergi, maka ia akan meninggalkan Toji sendirian.
Kling…
Megumi menghentikan langkah saat ponselnya berdenting pelan. Ia meraih benda itu, ada chat dari Toji.
'Sudah selesai kerja? Cuacanya bagus. Mau jalan-jalan? Aku sedang di danau kota,' chat Toji sambil mengirimkan foto pemandangan danau dan pakan angsa yang ada di tangannya.
Megumi tersenyum. Ia pun membelokkan langkah untuk menuju taman kota. Ia mencari tempat yang ada di foto yang Toji kirimkan. Tak berapa lama ia pun melihat ayahnya di kejauhan, tengah memberikan makanan kepada induk angsa yang tengah mengasuh anak-anaknya.
"Kau sudah selesai misi?" tanya Megumi sembari mengambil pakan angsa dan ikut memberi makan.
"Iya, hari ini misinya gampang. Sudah sejak siang aku berada di rumah," balas Toji.
Untuk beberapa lama keduanya diam, menikmati suasana sore yang indah itu. Mereka duduk di tepian danau yang dindingnya miring, tempat orang-orang bersantai menikmati pemandangan sore.
"Malam ini mau menu apa?" tanya Toji memecah keheningan.
"..." Megumi tak menjawab. "Tou-san," alih-alih menjawab, Megumi memanggil ayahnya itu. "Kalau…aku direkrut oleh HQ Tokyo bagaimana?" akhirnya Megumi mengatakan itu.
Toji tampak terkejut, tapi lalu tersenyum dan mengacak rambut Megumi. "Tou-san bangga padamu," ucapnya. "Kau tahu, di sana tempat orang-orang hebat. Dan kau direkrut oleh tempat itu? Wah, apa aku harus meneriakkannya pada semua orang ya, kalau puteraku direkrut Tokyo HQ," ia menolehkan kepala dan setengah membalikkan badan. Tapi sebelum ia mulai berteriak, Megumi langsung membungkam mulut ayahnya dengan dua telapak tangan.
"Hah, yang benar saja! Jangan menarik perhatian," omel Megumi dengan wajah memerah.
"Heh, tapi ini sesuatu yang membanggakan, harus dipamerkan dong."
"Tapi tidak usah teriak-teriak di taman kota juga!"
"Hahahah," Toji tertawa mendengar itu. Mata Megumi menyipit. Ia sebenarnya tahu Toji pasti akan setuju dengan hal ini, tapi Megumi sendirilah yang merasa tak yakin meninggalkan ayahnya sendirian. Mereka hanya memiliki satu sama lain. Yang Megumi dengar dari ayahnya, kedua orang tua Megumi adalah anak tunggal sehingga mereka tidak memiliki kerabat lain, orang tua mereka juga sudah lama meninggal sehingga Megumi tak punya kakek ataupun nenek. Benar-benar tinggal berdua saja. Dan kini Megumi harus pindah kota demi pekerjaannya. Ia merasa tak yakin.
"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Toji seolah membaca ekspresi Megumi.
"...kau akan sendirian di rumah," balas Megumi.
"Pfftt…" Toji tertawa kecil. "Bagaimana kalau aku tak sendirian di rumah?"
"..." Megumi terdiam, lalu terbelalak saat menangkap maksud Toji. Selama ini Toji memang tak pernah membawa wanita ke rumah, tapi bagaimana kalau itu semua Toji lakukan karena ada Megumi di sana?
"T-Tou-san–..." Megumi memijit pelipisnya. Toji hanya tertawa.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh," balas Toji. "Aku hanya bilang bagaimana kalau aku tak sendirian. Apa itu akan membuatmu lebih tenang?"
Megumi terdiam, ia menatap langit senja di hadapannya. "Ya, kurasa tak apa," balas Megumi kemudian. Ia lalu menoleh untuk menatap Toji. Ia sudah berusia 20 tahun sekarang, dan tak pernah sekalipun ia melihat Toji dekat dengan wanita. Ia menyayangi mendiang ibunya, dan ia tahu Toji juga pasti menyayangi mantan isterinya itu. Tapi waktu sudah berlalu begitu lama, Megumi rasa tak masalah jika Toji ingin memiliki pendamping hidup baru. Toh bukan berarti ia dan Toji akan membuang dan melupakan mendiang ibu Megumi.
"Tapi carilah pasangan yang baik-baik. Jangan asal memilih. Dan kalau bisa cari yang seperti Kaa-san," ucap Megumi.
"Pfftr…kau ini bicara apa sih," Toji merangkul Megumi. "Padahal aku hanya bilang kalau. Dan aku juga tak menyebutkan apapun soal isteri baru."
Megumi hanya menghela nafas mendengar itu.
.
~OoooOoooO~
.
Akhirnya Megumi pun menerima penawaran itu. Ia segera mengurus semuanya, mulai dari surat pemutusan kontrak dengan rumah sakitnya saat ini, juga dokumen-dokumen lainnya yang ia perlukan. Ia juga sempatkan mengajak rekan-rekan kerjanya untuk makan malam sebagai pesta perpisahan.
Hingga akhirnya hari kepindahan itu pun tiba. Megumi tengah melakukan packing pagi itu. Mobil jemputan dari HQ akan tiba jam 10 nanti mereka bilang. Dan saat ini Megumi tinggal mengepak barang-barang terakhir yang belum masuk ke koper. Sementara barang lainnya sudah ia pack sejak kemarin.
"Kau yakin sudah tidak ada yang tertinggal?" tanya Toji yang duduk di kursi dekat meja kerja Megumi. Ia hanya duduk menatap putranya packing.
"Iya, sudah semua. Lagipula kalau ada yang ketinggalan bisa dikirimkan lewat jasa antar kan," ucap Megumi, menyeletingkan tas nya.
"Kau baik-baik di sana," pesan Toji. "Dan kalau jujutsushi sialan itu membuat masalah lagi denganmu, katakan padaku. Biar kuhajar dia. Mau special grade atau apa, kalau berani macam-macam dengan puteraku…"
Megumi tertawa kecil mendengar itu. "Sudah kubilang tidak apa-apa. Aku sudah menemukan metode yang tepat untuk menangani heal nya. Lagipula berkat dia juga aku dapat rekomendasi masuk HQ. Aku harusnya berterima kasih."
"Halah, dia melakukan ini juga palingan supaya dia lebih mudah mendapat heal darimu. Dia hanya memanfaatkanmu," Toji mengibaskan tangannya.
Megumi duduk di tepi ranjangnya menghadap ke arah Toji. "Memang sih. Tapi kalau bicara memanfaatkan, bukankah aku sama saja. Aku memanfaatkan koneksi dengannya untuk bisa direkrut oleh HQ. Bagaimana kedengarannya?"
"HAAH? Yang benar saja. Kau direkrut karena memang kemampuanmu bagus," omel Toji.
Megumi tertawa kecil menanggapi itu. "Yeah, kurasa membanggakan juga, kemampuanku diakui oleh jujutsushi special grade. Aku jadi merasa sedikit istimewa."
"..." Toji terdiam. Ia bangkit dari kursinya untuk menghampiri Megumi, menepuk kepalanya. "Kau memang istimewa. Kau tidak perlu pengakuan dari siapapun untuk merasa demikian."
Megumi tersenyum. "Arigatou, Tou-san."
.
.
Jam sepuluh kurang, mobil jemputan Megumi datang. Ia pun menggotong barang-barangnya ke mobil dibantu oleh Toji.
"Aku akan sering menelfon. Kau jaga diri baik-baik, Tou-san," Megumi memeluk Toji sebelum masuk ke mobil.
"Iya, tenang saja. Lagipula tidak akan lama aku sendirian di sini," balas Toji.
Megumi hanya tertawa kecil mendengar itu. Ia menepuk punggung Toji beberapa kali sebelum melepas pelukan dan masuk ke mobil. Meninggalkan Toji yang melambai dari halaman rumahnya.
Megumi menghela nafas saat rumahnya tak nampak lagi. Ia duduk di samping jendela menatap pemandangan luar. Ia raih earpods, lalu menyalakan musik. Perjalanannya akan lumayan panjang sampai ke Tokyo HQ.
.
~OoooOoooO~
.
Matahari sudah mendekati garis cakrawala saat mobil yang dinaiki Megumi memasuki kawasan HQ.
'Woaahh,' Megumi berdecak kagum saat melihat kawasan HQ yang begitu megah.
Mobil berhenti di parkiran HQ, di sana sudah ada Ijichi yang menyambut kedatangannya. "Selamat datang di Tokyo HQ," Ijichi menyalami Megumi.
"Terimakasih banyak," balas Megumi.
"Anda pasti lelah setelah perjalanan jauh. Mari saya antar ke unit Anda," sambut Ijichi. Megumi berbalik berniat untuk mengambil barang-barangnya, tapi ternyata barang-barang itu sudah diangkut oleh beberapa petugas. Megumi pun berjalan mengikuti Ijichi, diikuti petugas yang membawa barang-barang Megumi.
Megumi takjub saat ia dibawa ke sebuah area di mana tampak jejeran paviliun di sana. Antar paviliun berjarak sekitar 5 meter, dipisahkan oleh jalanan berpaving dan taman-taman kecil di halaman setiap paviliun.
"Ini unit untuk Anda, untuk malam ini beristirahatlah. Besok barulah Anda akan diperkenalkan dengan divisi healer HQ," ucap Ijichi. Ia lalu menggesek sebuah kartu di pintu paviliun, dan menekan kode nya untuk membuka pintu, menyuruh para petugas menaruh barang-barang Megumi di dalam. Setelah para petugas pergi, Ijichi menyerahkan kartu itu pada Megumi.
"Ini akses untuk unit Anda. Saat ini kode nya masih default dari angka 1-6, Anda bisa menggantinya sendiri nanti."
"Baik, terimakasih banyak," Megumi menerima kartu itu. Setelah Ijichi pamit, Megumi memasuki paviliun nya itu. Ia nyaris menahan nafas menatap sekeliling ruangan. Ini serius dia mendapatkan fasilitas semacam ini? Dia masih setengah tak percaya.
Megumi berjalan melewati lorong dari arah pintu. Jadi tembok di sisi kanan adalah dinding untuk kamar, ada dua pintu untuk kamar itu, satu menghadap ke lorong, satu menghadap ruangan di sebelahnya yang difungsikan sebagai ruang santai. Ada TV dan sofa di sana. Megumi memasuki kamarnya, benar-benar luas untuk ukuran 1 orang. Di sana sudah ada meja sekaligus kursi kerja, ranjangnya luas, kamar mandi di dalam kamar, lalu ada closet. Ya, kloset yang luas, bukan sekedar lemari pakaian. Tapi dia disediakan kloset untuk pakaian-pakaiannya.
"Gila," ucap Megumi sambil melongok ke dalam kloset. Ada tempat menghanger baju yang cukup tinggi, mungkin untuk jas healernya yang panjang. Ada rak untuk tas, rak untuk sepatu, hanger dasi, rak pakaian, tempat untuk menyetrika, lalu ada semacam meja bulat memanjang yang rendah di tengah ruangan, sepertinya untuk tempat duduk jika ia memakai sepatu. Dan di bagian bawah-bawah meja tersebut juga memiliki pintu-pintu yang artinya bisa digunakan untuk menaruh sesuatu.
Megumi menggeleng sambil berdecak kagum. Ia kembali ke kamarnya, menjajal kursi kerja yang begitu nyaman. Lalu tentu saja ranjang. Ia berbaring di sana. Nyaman sekali. Setelah itu ia bangkit, melongok kamar mandi nya. Ada wastafel, toilet, counter untuk menaruh peralatan mandi, lalu disekat dengan kaca buram adalah tempat untuk shower yang memiliki setting untuk air dingin dan air hangat, juga ada rak cukup tinggi di dinding yang berseberangan dengan shower berisi tumpukan handuk bersih.
"Wow," gumam Megumi.
Ia lalu keluar kamar. Menjajal sofa ruang tengah yang nyaman. Ia nyalakan TV sekedar supaya tak terlalu sepi. Ia lalu melanjutkan berkeliling.
Tembok yang tadi ada di sebelah kiri lorong, berhadapan dengan kamar, tak memiliki pintu di bagian lorong, karena pintunya ada di sisi kanan dan itu merupakan pintu kaca yang mengisi nyaris seluruh dinding bagian kanan. Tempat itu adalah ruang makan serta dapur. Di sisi kiri ruangan tersebut adalah meja makan, lalu di sisi kanan barulah dapur, lengkap dengan counter. Di sana juga disediakan kompor, kulkas, oven, rak gantung untuk menaruh peralatan. Benar-benar langkap.
Setelah memastikan fasilitas di dapur bisa digunakan, Megumi keluar dari ruangan menuju ruang sebelahnya yang ternyata adalah kamar mandi utama. Tempat itu luas, ada counter serta rak handuk di sana, bahkan ada bathtub juga.
"Gila, ini betulan fasilitas untukku, ck ck ck," Megumi menggeleng tak percaya. Ia melirik kran air panas, lalu menengok ke kanan ke kiri seolah ada saja orang di sana padahal tidak. Megumi lalu tersenyum. Ia mulai menanggalkan bajunya seraya memasuki kamar mandi. Ia nyalakan keran air hangat ke bathtub, lalu berbaring di sana sambil menunggu air mengisi bathtub itu. "Ah, nyaman sekali, " ucapnya.
.
Setelah menghabiskan waktu yang mungkin terlalu lama di kamar mandi, Megumi kembali ke kamar sambil mengelap rambutnya, ia memakai bathrobe, dan meninggalkan pakaian kotornya yang tengah digiling di mesin cuci. Ia membongkar koper, lalu memakai pakaian. Setelah itu ia mulai membongkar barang-barangnya untuk ia tata di kamar barunya itu.
"Psstt…hey, tetangga baru. Sudah tiba ternyata," seseorang menyapa saat Megumi berniat membawa pakaiannya ke closet. Ia pun menaruh tumpukan pakaiannya ke ranjang lalu beralih menuju jendela, membukanya. Di paviliun sebelah yang jaraknya kurang lebih 5 meter itu, jendela kamarnya juga terbuka, ada seorang cowok bersurai pinkish dengan undercut coklat tua yang tengah tersenyum ke arahnya. "Yo," sapanya riang. "Kau healer baru itu ya. Namamu?"
"Fushiguro Megumi," balas Megumi.
"Aku Itadori Yuuji. Healer juga. Salam kenal. Kita bertetangga mulai saat ini."
Megumi tersenyum mendapat sambutan ramah itu.
"Kau sudah makan?" tanya Yuuji.
Megumi menggeleng.
"Mau makan di paviliun atau ke kantin?"
Megumi sempat terbelalak. Mereka baru kenal kan, dan sudah langsung diajak makan bersama saja. Tapi…tak apa kan. Megumi masih baru, justru kebetulan kalau ada yang menunjukkan bagaimana hal-hal bekerja di sana.
"Kantin. Aku ingin mencoba makanannya," balas Megumi.
"Oke," balas Yuuji. "Kau mau selesaikan itu dulu?" tunjuk Yuuji pada tumpukan pakaian Megumi.
"Ah, nanti saja. Aku lapar."
"Haha, oke oke. Kalau begitu ayo pergi sekarang. Ketemu di depan ya."
Megumi mengangguk. Mereka lalu menutup jendela kamar masing-masing. Megumi menatap tumpukan bajunya, ia raih celana panjang karena ia hanya mengenakan celana santai pendek saat ini. Setelah memakai celana itu, ia meraih dompet, lalu ponsel, ia masukkan ke saku celana, dan bergegas keluar paviliun.
Ia menatap pintu paviliun nya, menatap kartu akses yang tadi diberikan Ijichi. "Ng…?" ia sweatdrop. Apa ia harus melakukan sesuatu untuk menguncinya?
"Ayo," Yuuji menghampiri dari paviliun sebelah. "Hng?" Yuuji menatap Megumi yang terlihat bingung. "Ada apa? Ada barangmu yang ketinggalan, kau mau masuk lagi?"
"Ah, tidak. Ini…mengunci pintu…bagaimana?" meski sedikit malu Megumi menanyakan itu juga.
"Oooooohhh, ah, iya juga ya, kau masih baru di sini. Hahahaha, lucu juga," tawa Yuuji.
'Jangan tertawa!' omel Megumi dalam hati.
"Itu sudah otomatis terkunci kalau sudah tertutup kok. Ah, paling kalau kau mau mengganti passcode nya. Kau baru dapat kartu itu kan, pasti passcode nya masih default 1-6."
Megumi mengangguk.
"Sini kuajari, kau harus segera mengganti passcode mu. Masukkan kartu mu di sebelah sini. Masukkan saja, jangan digesek," tunjuk Yuuji ke bagian kecil di sebelah panel angka yang tadi Ijichi gunakan untuk menggesek kartu. Megumi melakukan apa yang diperintahkan Yuuji, dan melihat layarnya aktif, ada beberapa opsi terpampang di sana. Sepertinya dari situ Megumi sudah paham apa yang bisa ia lakukan.
Ia memilih opsi untuk mengganti passcode, lalu memasukkan kode baru.
"Aku tidak lihat kok, tidak lihat," ucap Yuuji membalikkan badan sambil menutup mata.
"Pfftt…kau lihat pun tidak akan bisa buka kalau tak punya kartuku kan," ucap Megumi.
"Kalau aku mencurinya darimu bagaimana."
"Itu…"
"Hahahaha kau ini lucu," tawa Yuuji.
"Oke, sudah selesai," ucap Megumi. Yuuji kembali berbalik.
"Tidak cek saldo sekalian?" tanya Yuuji.
"Cek saldo?"
"Iya, di sini kartu itu bisa dikatakan serba guna. Untuk access masuk, presensi, untuk bayar makanan juga di kantin. Kau bisa mengisi saldo ke kartu itu, nanti saat bayar di kantin cukup scan saja. Kujelaskan ini karena kau masih baru, siapa tahu belum dijelaskan oleh manajer, soalnya bahkan tadi kau bingung cara mengunci pintu."
"...oh, begitu ya. Coba ku cek dulu," ucap Megumi. "Karena aku baru datang, mungkin saldo nya 0 ya. Cara isinya bagaimana? Transfer bisa?" tanya Megumi sambil menekan-nekan opsi di layar.
"Iya bisa. Itu juga bisa kau sambungkan ke ponsel mu loh. Banyak juga opsi yang bisa diakses hanya lewat ponsel. Sambungkan saja sekalian."
Megumi mengangguk. Saat akhirnya ia bisa melihat saldo yang ada di kartu itu, Megumi terkejut. Ia tidak salah kan membaca angka nya?
"Woaah, saldo mu full ternyata," ucap Yuuji saat ikutan melihat layar itu. "Tapi apa ini tidak terlalu banyak? Ini hanya biaya makan 1 bulan loh, bulan depan sudah akan diisi lagi. Atau memang makanmu banyak?"
"Ah, uh…itu…" Megumi sendiri sebenarnya tak tahu. Ia baru tahu kartu nya sudah terisi saldo. Apa gaji nya dibayar dimuka? Ia belum sempat cek rekening nya sih. Jangan-jangan memang sudah ada uang masuk tapi dia yang belum sadar.
"He, apa kau juga belum tau bagaimana saldomu terisi?" tambah Yuuji.
Megumi mengangguk dengan wajah sedikit memerah. Yuuji kembali tertawa.
"Ah, souka souka," ucapnya sambil mengusap air di ujung mata. "Benar juga ya, lama sekali aku tidak memiliki kouhai seperti ini. Harus kujelaskan baik-baik dari hal basic," ia masih terkikik pelan.
"Jadi kau itu bisa mengatur sendiri nominal yang akan kau gunakan untuk saldo makan. Misal kau mengaturnya menjadi xxx yen, ini di opsi ini," Yuuji sambil menunjukkan caranya. "Nanti, setiap bulan, dari keseluruhan gajimu, maka sejumlah xxx yen akan masuk ke saldo makan mu, otomatis masuk, begitu. Makanya kalau kau mengatur nominal sebesar ini ke saldo makanmu, bulan depan saat kau menerima gaji lagi, sejumlah xxx juga akan otomatis masuk lagi ke saldo itu. Sayang kan kalau kebanyakan. Mana kartu ini hanya bisa digunakan di dalam HQ. Kalau kau pergi makan di luar tentu saja tak bisa pakai kartu ini," jelas Yuuji.
"Oh, tapi bisa kau matikan sementara juga sih. Kalau saldo mu masih sisa banyak di akhir bulan, 0 kan saja saldo untuk biaya makan bulan selanjutnya, supaya sisa saldo makan mu terpakai. Nanti kalau ternyata kurang, bisa isi manual sambil menunggu bulan selanjutnya."
"Souka," ucap Megumi sambil mulai mengatur opsi nya.
"Kalau aku sih kupakai sistem otomatis ini, biar nyaman. Jadi jatah makanku satu bulan sudah terjamin. Sisanya kalau aku mau habiskan gaji ku pun aku masih bisa makan sebulan ini, tidak perlu khawatir lagi kelaparan," cengir Yuuji.
Megumi mengangguk mengerti. "Aku sudah selesai," ucap Megumi setelah yakin semuanya beres.
"Nice, kau bisa langsung cabut saja kartunya kok, akan langsung mati setelah kartu aksesnya tidak ada."
Megumi mengangguk. Ia pun mencabut kartu itu dan benar layarnya langsung mati.
"Ya sudah, ayo ke kantin, aku sudah kelaparan," Yuuji mulai melangkah diikuti Megumi.
.
.
.
~ To be Continue ~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
