Malam mulai menyelimuti Kota Kuoh. Sinar mentari yang sebelumnya menyinari setiap sudut kota itu, kini mulai digantikan oleh gemerlapnya lampu-lampu yang terpasang di tiap gedung. Meski sang surya telah beranjak dari takhtanya, namun para penduduk kota itu masih melanjutkan aktivitasnya meski tidak terlalu banyak.

Tampak setiap orang berjalan beriringan menuju ke tempat tujuan mereka masing-masing. Ada yang kembali ke rumah, ada juga yang ingin berekreasi dengan rekan-rekannya di sebuah kafe atau tempat lainnya.

Hanya saja, hal itu tidak berlaku kepada seorang pria yang kini tengah berlarian di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang itu. Pria itu mengenakan kemeja yang tampak lusuh dan sebuah jaket tipis berwarna hitam. Ia berlari sambil terkadang menabrak orang secara tanpa sengaja. Sesekali ia melihat ke arah belakang, seolah-olah ia tengah dikejar sesuatu.

Malam semakin larut, namun pria itu masih terus berlari. Kakinya perlahan mulai kelelahan sehingga ia sering kali jatuh tersungkur. Tepat di pinggir sungai, pria itu memutuskan untuk berhenti berlari. Ia jatuh tersungkur di depan sebuah dinding dekat sungai itu.

"Hah ... hah ... sepertinya makhluk itu sudah tidak mengejarku sampai sini." Pria itu berbicara sambil mencoba mengatur nafasnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding dan melemaskan otot-otot tubuhnya yang kelelahan. Pandangannya sedikit berkunang-kunang dan mengabur.

Pria itu tidak menyadari bahwa siluet dari seseorang terlihat menghampirinya. Perawakan sosok itu tidak terlihat jelas dikarenakan sedikit kurangnya pencahayaan di tempat itu.

"Kau pikir bahwa kau bisa melarikan diri dariku, huh?" Sebuah suara sontak membuat pria yang tadi berlari itu menegang. Ia langsung menoleh dan melihat sosok siluet dari orang yang tadi menghampirinya.

Ketika sosok itu tiba di dekat pria tadi, maka terlihat dengan cukup jelas sosok pria berperawakan lumayan tinggi. Ia mengenakan kemeja rapi dan dibaluti sebuah coat berwarna krem dan topi. Wajahnya tampak tegas dan dingin. Ia menatap pria yang bersandar itu dengan tatapan tajam.

Pria yang bersandar itu memandang takut sosok pria yang berdiri di hadapannya. Ia tahu siapa pria di hadapannya ini. Pria di hadapannya itu memperkenalkan dirinya sebagai Tuan Hanamura, sesosok pria yang memberikan pinjaman uang yang sangat banyak kepadanya namun juga memberikan bunga yang besar. Ia sedikit terbantu dengan pinjaman yang ia berikan, tapi lama-kelamaan ia malah memiliki hutang yang sangat besar kepadanya.

Pria itu langsung memegang kaki Hanamura dan bersujud memohon kepadanya. "Tuan, maafkan saya. Bunganya terlalu besar sehingga usaha saya tidak cukup untuk membayar hutang-hutang itu. Berikanlah saya kesempatan untuk menebusnya."

"Bukankah bisnismu berkembang dengan sangat baik? Tapi bagaimana bisa kau mengatakan bahwa kau tidak bisa membayar bunganya?" tanya pria bernama Hanamura itu.

"Saya mohon, Tuan. Bunga yang anda berikan kepada saya terlalu banyak sehingga saya tidak sanggup untuk membayarnya," ujar pria yang bersandar itu.

Hanamura hanya terus memandang dingin sosok pria yang bersujud di hadapannya itu. Ia pun berbicara dengan suara berat, "Jika kau tidak bisa membayarnya dengan hartamu, maka bayarlah dengan nyawamu."

Tiba-tiba saja, seluruh tubuh Hanamura diselimuti tato berwarna-warni layaknya kaca mozaik hingga hanya sebatas pipi dan dagunya. Kemudian, sepasang taring transparan muncul di atas pria yang bersujud tadi. Sepasang taring itu langsung menggigit bahu pria tadi hingga tubuh pria itu menjadi transparan layaknya terbuat dari kaca.

Pria itu langsung terkapar tak berdaya setelah digigit oleh taring transparan tadi, sedangkan Hanamura melihat semuanya itu dengan pandangan datar dan dingin. Tanpa berlama-lama, Hanamura langsung meninggalkan tempat itu melalui arah ia datang tadi. Hanya saja, ia tidak menyadari bahwa tak jauh di belakangnya terdapat seorang pria muda yang tengah berjalan ke dekat tempat tadi.

Pria itu memiliki rambut pirang kecoklatan dan mengenakan setelan kemeja polos berwarna merah dengan salah satu ujungnya agak keluar dan celana panjang flanel berwarna hitam. Di tangan pria itu, ia menyandang sebuah tas biola.

Pria itu terus berjalan hingga ke tempat Hanamura tadi dan melihat ada sesosok yang ia perkirakan sebagai sosok pria dengan tubuh transparan layaknya kaca tengah tergeletak tak berdaya di pinggir jalan. Pria itu dengan rasa penasaran langsung menghampiri sosok tersebut.

Ia berjongkok sambil memandang tubuh pria itu dengan raut keheranan. "Bagaimana bisa pria itu menjadi seperti ini?"

Tidak ada yang menjawab pertanyaan pria itu. Hanya semilir angin yang berembus dan suara gemeresik dedaunan yang terdengar seakan-akan merekalah yang menjawab pertanyaan pria itu.


.

THE HALF VIOLIN PRINCE

I will protect the music in their soul, just like my father

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Highschool DxD by Ichiei Ishibumi

Kamen Rider Kiva by Toei Production

.

.

Summary : Seorang pemuda yang gemar bermain dan membuat biola muncul di Kuoh. Bagaimanakah caranya ia melindungi seluruh musik dari orang-orang di sekitarnya?

.

.

Prologue Arc

The Music of the pure heart

.

.


Pagi yang cerah mulai mewarnai Kota Kuoh. Orang-orang mulai mengawali aktivitas mereka di pagi itu. Tampak siswa-siswa berjalan beriringan menuju ke sekolah, para pedagang yang mulai membuka tokonya, serta orang-orang yang mengawali hari mereka dengan melakukan olahraga singkat di taman.

Kini tampak seorang siswi tengah berjalan riang menuju ke suatu tempat. Siswi itu memiliki rambut panjang berwarna putih yang cenderung ke arah warna perak, garis wajah yang cenderung ke manis, dan mata dengan iris berwarna biru kehijauan.

Siswi itu menghampiri sebuah rumah yang terlihat cukup besar. Dekorasi dan struktur bangunannya terlihat seperti sebuah vintage kontemporer ala Eropa. Pagarnya terlihat tinggi berwarna kehijauan. Rumah itu memiliki taman yang cukup indah, meski terlihat kurang nyaman karena banyaknya daun berserakan di sana.

Siswi itu masuk melalui pagar dan langsung mengetuk pintu rumah itu. "Naruto! Ayo bangun!" serunya.

Di dalam rumah itu, tepatnya di sebuah ruangan, terdapat seorang pemuda yang tertidur lelap. Ruangan tempat pemuda itu tertidur dipenuhi oleh banyak replika dan juga rangka-rangka biola yang tersebar di mana-mana. Bahkan pemuda itu tertidur dengan posisi duduk dan badan serta kepalanya tertelungkup di atas meja.

Di sudut ruangan itu terdapat sebuah etalase yang menampilkan sebuah biola yang sangat cantik. Ujung kayu senar bagian atasnya memiliki ukiran seperti kepala dan wajah seorang wanita. Di sudut ruangan yang lain, tampak sesuatu seperti kelelawar yang terbangun karena mendengar suara seruan siswi tadi.

"Sepertinya ada seseorang yang memanggil Naruto," gumam sesuatu seperti kelelawar itu. Kemudian, sesuatu itu terbang menghampiri pemuda yang masih tertidur itu.

"Hei bangun," ujarnya lagi sambil menggoyang-goyangkan badan pemuda itu dengan sayapnya.

Pemuda pirang itu terbangun sambil sedikit menggeliat. Ia membuka matanya secara perlahan dan sedikit menguap.

"Pagi, Kivat," katanya sambil masih menguap.

Kelelawar bernama Kivat atau Kivat the Third itu terbang dengan pelan. "Sebaiknya kau segera bersiap. Kau sudah ditunggu oleh Momo di depan," katanya.

Mata pemuda itu menatap ke arah jam dinding di ruangan itu, lalu sontak ia terkejut. "Sialan, sudah jam segini ternyata," ucapnya.

Pemuda itu pun langsung bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap. Begitulah keseharian dari pemuda bernama Kurenai Naruto itu. Meski ia telah berusia delapan belas tahun, ia sering bergadang untuk membuat biola yang indah, sama seperti buatan ayahnya.

Biola yang dimaksud adalah biola yang dipajang pada etalase di ujung ruangan itu. Ruangan tengah itu dipakai sebagai bengkel pembuatan biola. Di situlah pemuda itu mengerjakan biola buatannya setiap hari sepulang sekolah.

Kini tampaklah pemuda itu telah mengenakan seragam sekolahnya. Mungkin yang akan membuat kalian sedikit heran adalah ia mengenakan syal, sarung tangan, masker serta penutup kepala meskipun hari itu masih memasuki musim semi.

Ia melangkah ke pintu dan membukanya, namun ia menjumpai adalah siswi tadi yang masih tegak berdiri di depan pintu sambil memasang wajah cemberut.

"Terlambat bangun lagi?" katanya dengan ketus.

"Hehe, maafkan aku, Momo. Kemarin aku menemukan bahan yang bagus untuk memelitur kayu biolaku. Jadinya aku bekerja semalaman untuk mencobanya," ujar pemuda itu sambil sedikit cengengesan.

Siswi itu memasang wajah kesal. Siswi itu memiliki nama Hanakai Momo, murid kelas 2 dan juga sekretaris komite siswa dari akademi tempat mereka berdua belajar.

"Bagaimana hasilnya?" ujar siswi tadi masih dengan nada ketus.

Pemuda itu mulai menunjukkan wajah sedikit murung. "Sama saja, masih belum menyamai Bloody Rose buatan ayahku. Bahkan warnanya jadi terlihat sangat berbeda," tukasnya.

Momo hanya menggelengkan kepalanya. "Dasar kau ini, Naruto. Sudahlah ... lebih baik kita segera berangkat. Kita sudah hampir terlambat."

Keduanya pun segera bergegas menuju ke sekolah mereka, sebuah akademi yang boleh dibilang sangat terkenal seantero kota itu, Akademi Kuoh. Awalnya akademi itu merupakan akademi swasta khusus untuk perempuan, namun entah apa yang dipikirkan oleh para petinggi akademi itu sehingga mereka memutuskan untuk mengubah kebijakan itu menjadi sebuah akademi yang terbuka untuk umum 3 tahun yang lalu. Akibatnya, populasi laki-laki di akademi itu tergolong masih sangat sedikit dibandingkan populasi perempuan di sana, hampir kurang lebih 2 berbanding 8.

Sepasang remaja itu terus berlari untuk mengejar waktu, terlebih mengingat Ketua komite siswa dari Akademi Kuoh tidak sungkan-sungkan memberikan hukuman berat bagi mereka yang melanggar peraturan sekolah mereka. Namun ketika mereka melewati suatu taman, Naruto tiba-tiba berhenti mendadak. Ia tampak menoleh kesana-kemari.

"Kau kenapa, Naruto?" tanya Momo.

Pemuda itu menoleh sebentar ke arah Momo seraya berkata, "Maaf Momo, kau bisa berangkat dulu kan?"

"Memangnya kenapa?"

"Aku tidak bisa menjelaskannya. Tapi yang pasti, aku akan berangkat ke sekolah. Jadi, kau berangkatlah dulu," ujar Naruto.

"Tidak bisa. Kita sudah hampir terlambat, jadi kita lebih baik berangkat," tukas Momo.

Naruto tidak menggubris perkataan Momo tadi dan langsung berlari ke dalam taman itu. "Kamu berangkat saja, Momo! Biar hukuman itu aku tanggung sendiri!!" teriaknya sambil tetap berlari.

Momo hanya mendesah pasrah melihat itu. "Dasar," desah Momo sambil akhirnya terus berlari menuju ke sekolah.


.

.~.

.


Naruto terus berlari tanpa mengenal arah. Ia hanya bisa mengandalkan insting dan pendengarannya saja. Tadi saat ia melewati taman itu, ia mendengar sebuah suara yang sedikit menarik hatinya. Suara alunan biola yang entah mengapa terdengar lembut namun menggugah hati.

Ia berhenti sambil sedikit terengah-engah. Suara itu kembali terdengar di telinganya membuat ia kembali menoleh mencari asal suara itu.

Di dekat air pancur, tampaklah seorang gadis berpakaian seragam sekolah yang sedikit berbeda dengan dirinya tengah memainkan sebuah biola. Gadis itu terlihat memejamkan matanya sambil tubuhnya ikut bergerak mengikuti irama yang ia hasilkan menggunakan biola itu.

Angin berembus dengan pelan, menyibakkan sedikit rambut hitam milik gadis itu. Cahaya matahari tampak memantul ke arah kolam air pancur itu, menambah kecantikan gadis itu ketika dilihat dari jauh.

Naruto yang berhasil mencapai tempat itu hanya bisa tertegun sejenak melihat pemandangan tersebut. Ia terdiam sambil menikmati alunan lagu yang dibawakan oleh gadis itu. Matanya tidak bisa lepas dari gadis itu.

Kemudian, gadis itu memainkan bagian koda dari lagu yang ia mainkan. Setelah itu, ia menurunkan biolanya dari pundaknya dan membuka matanya. Suara tepuk tangan yang tiba-tiba terdengar sedikit mengejutkan gadis itu. Ia menoleh dan mendapati Naruto yang tengah bergerak mendekatinya.

"Maaf jika aku mengganggumu," kata pemuda itu.

Gadis itu bergerak tergesa-gesa meraih tas biola yang tergeletak di dekat kakinya, seperti hendak lari dari tempat itu.

Naruto langsung panik. "E-eh, aku tidak bermaksud melakukan hal aneh-aneh kepadamu. Aku hanya tertarik dengan lagu yang kau mainkan. Fur Elise 'kan?"

Gadis itu terdiam dan mengangguk kecil. Ia masih memandang takut-takut ke arah Naruto. "Siapa kamu?" tanyanya.

"Namaku Naruto, Kurenai Naruto. Maaf, kalau aku menakutimu," ujar Naruto pelan.

"Siapa yang tidak takut ketika ada seorang pria aneh dengan penutup kepala, sarung tangan dan juga masker tiba-tiba menghampirimu?" tukas gadis itu.

Naruto sedikit tertohok mendengar hal itu. Tidak bisa dipungkiri kalau penampilannya ini bisa mengundang kecurigaan bagi siapa pun yang melihatnya. Bahkan, ia pernah dicurigai sebagai stalker dan dilaporkan ke polisi.

"Maafkan aku, Nona. Ada keadaan tertentu yang mengharuskanku untuk menggunakan semua ini."

Gadis itu hanya menatap aneh pemuda di depannya itu. "Kau aneh."

Naruto kembali tertohok mendengar kata-kata itu. Meskipun biasanya dia sudah terbiasa dengan tatapan aneh dari teman-temannya, tidak bisa dipungkiri kalau perkataan orang lain selain teman-temannya masih bisa membekas di hatinya.

Gadis itu hanya bisa terkikik geli melihat tingkah laku Naruto. "Kau benar-benar aneh."

"Sudahlah, kau tidak perlu mengatakan hal itu lagi." Naruto berkata sambil menundukkan kepala. "Itu sedikit menyakitkan kau tahu."

"Baiklah-baiklah." Gadis itu menghentikan tawanya. Kemudian, ia menatap ke arah Naruto. "Kalau boleh tahu, kenapa kau menghampiriku seperti tadi?"

Naruto mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan itu. Ia tersenyum di balik maskernya dan berkata, "Seperti yang kukatakan tadi, aku ke mari karena tertarik dengan permainan biolamu. Kebetulan aku juga seorang pemain dan pembuat biola."

Gadis itu menatap Naruto lekat-lekat dari atas sampai ke bawah. "Kau seorang siswa akademi dan juga pembuat biola?" tanyanya.

Pemuda itu menggaruk kepalanya. "Well ... ini proyek yang sama seperti proyek yang ditinggalkan ayahku. Jadi sesekali di waktu luang, aku mencari bahan untuk membuat biola yang bagus," balasnya.

Gadis itu mengangguk, menerima jawaban dari Naruto. Kemudian, ia memberikan biola miliknya ke Naruto. Pemuda itu memasang wajah heran.

"Kenapa kau memberikan biolamu kepadaku?" tanya Naruto.

"Aku hanya ingin mendengarkan permainanmu. Kau bilang kau juga seorang pemain biola bukan?" kata gadis itu.

Mendengar itu, Naruto hanya mengangguk dan menaruh tas ranselnya agar tidak mengganggunya dalam bermain biola. Setelah itu, ia menerima biola serta busurnya dari gadis itu. Kemudian, ia meletakkan biola itu di pundaknya dan menyandarkan dagunya pada sandaran dagu pada biola itu. Lalu, ia menaruh busur biola itu pada senar dan mulai menggesek biola itu.

Ia memainkan lagu yang pernah diajarkan oleh ibunya[1]. Kata ibunya, lagu itu diciptakan oleh ayahnya ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya. Lagu itu mengalun dengan lembut diikuti oleh suara gemeresik angin yang berembus di sekitarnya.

Gadis itu terkesima dengan permainan Naruto. Dia tidak pernah mendengar lagu itu sebelumnya, namun ia bisa membandingkan kalau lagu itu sama bagusnya dengan lagu-lagu yang dibuat oleh komposer-komposer terkenal. Naruto terus menggesek biola itu dengan percaya diri. Ia seperti meluapkan apa yang ada di dalam hatinya ketika memainkan biola itu.

Tak lama berselang, Naruto menyelesaikan permainan biolanya. Gadis itu memberikan tepuk tangan bagi pemuda itu.

"Permainanmu bagus juga, Pemuda-san. Kalau boleh tahu, apa judul lagu yang kau mainkan itu?" tanya gadis itu.

"Aku tidak pernah tahu judul lagu ini. Ayahku yang membuat lagu ini tapi tidak pernah memberitahukan judulnya kepada ibuku. Aku hanya diajarkan nadanya saja oleh ibuku," balas Naruto.

Gadis itu menaikkan alis matanya. "Kalau memang ayahmu yang membuat lagu itu, mengapa beliau tidak mengajarkannya sendiri kepadamu?" tanyanya.

Naruto tertunduk mendengar itu. Dengan lirih, ia berkata, "Ayahku meninggal ketika aku tengah berada di dalam kandungan. Ketika aku bertanya, mengapa ayah meninggal, ibuku tidak pernah menjawab."

Gadis itu tertunduk sedih mendengar perkataan Naruto. "Maaf," katanya lirih, "aku tidak bermaksud untuk membuatmu sedih."

Naruto menggeleng. "Tidak apa-apa kok. Ibuku pernah mengutip perkataan ayahku, 'Terkadang ketika sulit untuk mengungkapkan perasaan hati melalui kata-kata, hanya musik yang bisa menyampaikan apa yang dirasakan hati'. Jadi, aku terkadang melampiaskannya ke permainan biolaku untuk meluapkan rasa rindu dan keingintahuanku tentang ayahku," jelasnya.

Gadis itu hanya mengangguk kecil. Kemudian, ia melihat ke arah langit. "Matahari sudah cukup tinggi, tapi kenapa kau tidak segera berangkat sekolah?"

Naruto melirik ke arah langit dan juga arlojinya. Wajahnya mulai menunjukkan raut panik. "Waduh, aku sudah sangat terlambat. Lebih baik, aku segera berangkat."

Kemudian, ia mengambil tas ranselnya yang tergeletak tak jauh dari kakinya. "Ngomong-ngomong, kau juga siswi akademi bukan? Kenapa kau juga tidak berangkat jam segini?" tanya Naruto.

Gadis itu hanya terkekeh kecil. "Aku ada lomba siang ini di luar kota. Jadi, aku sudah izin sedari pagi untuk tidak berangkat, dan kebetulan aku ingin berlatih dahulu di sini sebelum berangkat untuk lomba itu," katanya.

"Begitukah." Naruto hanya bisa mangut-mangut saja. Kemudian, ia pun berbalik dan berkata, "Kalau begitu, aku pamit dulu, ano ..."

"Yuuma, Amano Yuuma. Itu namaku," kata gadis itu.

"Ah, kalau begitu, aku pamit dulu, Amano-san. Senang bertemu denganmu," kata Naruto yang kemudian segera berlari keluar taman itu.

Gadis bernama Amano Yuuma itu hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku Naruto itu. Dengan lirih, ia berkata, "Senang bertemu denganmu juga, Kurenai-kun."

Setelah mengatakan hal demikian, gadis itu menghilang tanpa jejak. Tas ransel, biola maupun tas biola yang dimiliki oleh gadis itu ikut menghilang tanpa jejak.

Yang tersisa di tempat itu, hanyalah sehelai bulu burung berwarna hitam.


.

To be Continued

.


Halo semuanya, kembali lagi bersama dengan saya, FI. Antonio no Emperor. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya akan membuat fic baru yang akan menggantikan The Two-in-One Detective yang hilang drafnya. Masih dengan konsep yang sama seperti TTIOD, di mana menggabungkan cerita kamen rider dengan Highschool DxD, kali ini saya menggunakan Kamen Rider Kiva sebagai dasar ceritanya.

Cerita kali ini akan kebanyakan mengarah ke genre drama dan romance, karena bagi beberapa yang mungkin sudah menonton serial Kamen Rider Kiva tahu bahwa serial ini juga lebih condong ke arah drama dan romance selain ke arah action. Ini menjadi pertama kalinya saya mencoba untuk membuat cerita romance, kalau semisal dirasa kurang oleh para pembaca sekalian, saya mohon saran dan bimbingannya.

Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya.


[1]Silahkan para pembaca sekalian mendengarkan lagu ost Otoya Theme Song Violin untuk bisa memahami lagu yang dimainkan oleh Naruto pada chapter ini.