Disclaimer : Jujutsu Kaisen by Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo Satoru X Ryomen Sukuna
Genre : Supernatural, Drama, Romance, Gore
PERINGATAN : Fanfic ini berisi banyak adegan kekerasan, immoral, adegan seksual dan dewasa. Jika ini bukan selera kalian, tolong nggak usah baca fanfic ini.
OOC (Out of Character), YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s)
You have been warned !
Fanfic ini terinspirasi dari sebuah post di group facebook yang menceritakan tentang lore Sukuna mengenai 'unwanted child'.
Author Note : Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
Sacrifice
.
.
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa Satoru sudah menginjak usia 18 tahun kini. Ia masih menjalani kehidupannya yang biasa bersama Sukuna. Hari itu hari ulang tahunnya, hari yang tak pernah ia rayakan dan menganggapnya seperti hari biasa saja. Salju sudah turun tebal sekali di area yang mereka datangi kini. Mereka berjalan menembus salju setinggi lutut Satoru. Padahal Satoru tumbuh menjadi bocah bongsor untuk seusianya sehingga dia termasuk tinggi.
"Uwaahh salju nya tinggi sekali," ucap Satoru sambil sedikit kesulitan berjalan menembus salju.
"Hng?" Sukuna melirik dan membopong Satoru ke lengannya seperti biasa.
"Lagian kenapa kita harus jalan sih, nggak bisa teleport saja langsung ke sana?" tanya Satoru.
"Ada talisman yang dipasang seseorang di gapura desa nya," balas Sukuna.
"Kau yang seorang raja kutukan tidak bisa menembusnya? Kau?" ucap Satoru sangsi.
Sukuna menyeringai. "Bisa. Tapi talisman itu seperti lonceng. Kalau kurusak, loncengnya akan tetap berbunyi, dan akan membuat masalah dengan para shaman lainnya, tidak hanya shaman yang memasangnya saja. Aku malas ribut. Keperluanku hanya dengan satu rumah penduduk, bukan seluruh shaman yang ada."
"Ooh, begitu," Satoru merapatkan syal nya. "Ngomong-ngomong, apa kriteriamu dalam memilih pengorbanan sih? Kau nggak selalu menerimanya, dan sekarang malah mau-maunya menerima dari satu orang saja."
"Aku memilih tergantung kekuatan kontrak yang muncul. Sama seperti yang terjadi padamu dulu."
"Begitu ya, dan kekuatan kontrak kali ini besar?"
"Ya. Lumayan."
Sukuna memasuki sebuah desa, ia menyimpan senjatanya, lalu menunduk memasuki gerbang itu.
Bzztt…!
"Urk…!" Satoru sempat merasakan ada sengatan listrik, tapi Sukuna segera memeluknya, melindunginya dengan empat tangan, dan Satoru tak merasakan sengatan itu lagi.
"..." Satoru terdiam di dalam pelukan Sukuna, ia melirik ke atas, tak melihat wajah raja kutukan itu karena ia berada di dalam perlindungannya. Wajah Satoru sedikit memerah, ia mendekatkan diri semakin dekat dan bersandar nyaman pada raja kutukan itu.
"Kita sudah sampai. Kau mau ikut atau menunggu di tempat lain?" tanya Sukuna seraya membuka pelukannya.
Satoru menatap keluar, mereka sudah berada di tengah perumahan penduduk.
Ssshhh…
Satoru sempat melihat kepulan asap dari tubuh Sukuna, ia menyentuh kulit itu, rasanya panas. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
"Ya, hanya efek dari talisman itu. Cuma talisman rendahan," balas Sukuna.
"Haha sasuga raja kutukan," Satoru menatap sekeliling. "Aku mau ke rumah yang ada perapiannya saja, ini dingin sekali," ia lalu turun dari gendongan Sukuna.
"Hey, biar kuantarkan."
"Tidak perlu, rumah sebelah itu loh, lihat ada perapiannya," tunjuk Satoru. "Nanti jemput aku di sana."
"Baiklah," Sukuna pun pergi ke arah lain.
Satoru masuk ke rumah itu seenaknya. Ada ruang perapian yang luas, perapiannya masih menyala. Di bagian tengah ruangan itu ada bagian yg dilubangi dan ditaruh perapian di sana, sehingga orang yang menikmati perapian tinggal berbaring nyaman di sekeliling perapian itu.
"Fuuhh…" Satoru menghangatkan badan dengan api itu. Setelah merasa cukup hangat, barulah ia duduk di tepi jendela, menghangatkan diri sambil menatap ke arah perginya Sukuna tadi.
Ia menghela nafas, melamun menatap malam. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah 9 tahun dia menghabiskan waktunya bersama Sukuna. Kalau dipikir lagi rasanya hampir mustahil Satoru memiliki kehidupannya yang sekarang, ia sudah siap mati di usia 9 tahun waktu itu. Siapa yang menyangka ia malah menikah dengan raja kutukan.
"Haha," Satoru tertawa kecil mengingat itu. Lalu pundung sendiri saat mengingat kembali 'malam pertama' nya bersama Sukuna, yang sepertinya menjadi malam terakhir juga. Malam di saat ia pertama kali mengetahui apa itu mimpi basah, dan dengan polosnya pergi ke dunia manusia untuk mencari info mengenai itu, lalu berakhir diajari Sukuna melakukan onani. Ia yang bersikeras melihat milik Sukuna, akhirnya trauma sendiri.
Bagaimana tidak. Ternyata Sukuna memiliki dua penis, yang ukurannya nyaris sebesar paha Satoru di usia itu. Satoru ingat ia membatu di tempat saat pertama kali melihat itu.
"Dan sampai sekarang kami tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu lagi," gerutu Satoru pada diri sendiri. "Aku juga terlalu naif sih. Waktu itu aku sempat berpikir, kalau sudah besar nanti aku akan bisa menaklukkannya. Tapi dipikir lagi, di usiaku sekarang ukuran tubuh kami juga tetap jauh berbeda. Dia tetap sangat besar. Heehh…" Satoru mengeluh, meletakkan kepalanya di frame jendela. "Apa seumur hidup aku akan jadi virgin ya, padahal sudah menikah."
Glotak…!
Terdengar suara sesuatu dari ruangan sebelah. Satoru menoleh dan melihat seorang bapak-bapak muncul. Ia tentu saja tampak kaget melihat Satoru.
"Siapa kau?! Sedang apa di rumahku!" ia mengacungkan besi panas yang tertancap di perapian.
"Hei hei, aku hanya numpang menghangatkan diri saja," protes Satoru.
"Halah, dasar maling kau ya!" dia bersiap menyerang, tapi tiba-tiba ia terhenti sambil memegangi dadanya. Setelah itu ia jatuh menimpa besi panas itu, membuat besi itu membakar tubuhnya yang terkena. Tapi dia sudah tak bergerak lagi, sudah mati. Dan di ruangan sebelah juga terdengar suara berdebam sama seperti saat pria itu jatuh. Juga di rumah sebelah, dan di sebelahnya lagi.
Satoru tersenyum. "Naruhodo, jadi begitu rupanya," ujarnya. Satoru mulai memahami kriteria Sukuna. Sepertinya persembahan yang kali ini, orang yang melakukan upacara menginginkan kematian massal seluruh penduduk desa, hal yang cukup besar.
Selama Satoru mengikuti Sukuna, yang sering Sukuna terima request nya adalah pembunuhan besar seperti ini, atau pengorbanan yang melibatkan anak kecil. Ia akan membawa jiwa anak kecil itu ke kastil tempat mereka akan bermain selamanya.
Meski begitu Satoru masih belum mengetahui apa alasan Sukuna melakukan itu. Kalau dipikir lagi…ia tidak mengetahui banyak tentang pengantinnya itu.
Tak…tak…
"Satoru…" panggilan Sukuna dan ketukan di dinding membangunkan Satoru dari lamunan.
"Ah, sudah selesai?" Satoru bergegas keluar dari rumah itu menghampiri Sukuna. Sukuna kembali membopongnya di lengan seperti biasa. "Kali ini kasusnya apa? Kenapa meminta membunuh semua penduduk?"
"Orang tua yang tak terima anak mereka dirundung sampai mati oleh anak-anak lainnya, sepertinya penduduk desa yang melihat juga tak ada yang menolong," balas Sukuna sambil berjalan menjauhi desa lewat jalur sebelumnya.
"Kau nggak membawa jiwa anaknya?"
"Dia sudah mati sebulan yang lalu. Orang tuanya sudah melakukan beberapa ritual tapi belum ada kutukan yang mampu melaksanakan tugasnya, karena penduduk desa menyewa shaman untuk melindungi desa mereka."
"Begitu rupanya," Ucap Satoru sebelum Sukuna kembali mendekap tubuhnya dengan empat tangan, mereka melewati gapura desa itu lagi. Setelah berjalan cukup jauh dari desa, barulah Sukuna membuka tangannya dan membopong Satoru seperti biasa.
"Hng?" ia menoleh ke arah Satoru.
"Apa?" tanya Satoru.
"Kau sudah membesar ya," satu tangan Sukuna mengacak rambut Satoru. "Kuingat dulu kau hampir tak lebih tinggi dari pundakku saat kugendong. Sekarang kau sudah lebih tinggi dari kepalaku.
"Haha, tapi tetap nggak akan tumbuh sebesar dirimu," Satoru memeluk Sukuna. Mereka lanjut jalan, sepertinya Sukuna menikmati jalan-jalan bersamanya.
"Ngomong-ngomong berapa umurmu sekarang?" tanya Sukuna.
"Hm, 18. Baru berganti hari ini."
"..." Sukuna mengernyitkan alis.
"Iya, ini hari ulang tahunku," cengir Satoru.
"Itu sesuatu yang dirayakan oleh manusia?"
"Ya, ada yang merayakannya. Tak seperti kutukan, hidup manusia terbatas. Karena itulah mereka merayakannya setiap tahun."
"Kau mau merayakannya?"
"Hmm…"
"Bagaimana cara manusia merayakannya?"
"Bagaimana ya. Sepertinya mengadakan pesta, lalu nanti kau dapat hadiah dari para tamu yang datang."
"Hm, mau kuundang para kutukan dan mengadakan pesta di istana?"
"Hahaha nggak deh, lagipula kado dari para kutukan juga kemungkinan tak akan berguna untukku ."
"Lalu bagaimana kau ingin merayakannya? Kau ingin apa?"
"Hmm apa ya, coba kupikir," Satoru berpikir sejenak. "Ah ya, aku tahu," Sukuna menghentikan langkahnya di dekat sungai yang membeku. Satoru menyentuh kedua pipi Sukuna, menatap ke arah wajahnya. "Aku ingin berduaan saja denganmu dan melakukan yang suami istri lakukan bersama."
"..." Sukuna terdiam sesaat lalu tertawa kecil. "Pfftt, kau belum menyerah soal itu."
"Ya mau bagaimana lagi. Kita sudah menikah loh, tapi tak pernah melakukan kegiatan suami istri," Satoru memeluk Sukuna dan menyandarkan tubuhnya ke kepala Sukuna.
"Baiklah kalau itu yang kau mau," balas Sukuna.
"Tapi kali ini kau ikut, oke. Jangan aku saja."
"Baiklah," balas Sukuna dan teleport kembali ke istana mereka.
.
.
Sukuna memastikan perapiannya menyala supaya suhu ruangan cukup hangat untuk Satoru. Ia lalu menghampiri Satoru yang sudah duduk di atas futon, melepas syal nya.
"Fufu, begini kan," goda Satoru, ia menurunkan kimono nya hingga melorot ke pundak, memperlihatkan leher dan pundaknya yang mulus.
Sukuna tersenyum kecil lalu meraih wajah Satoru, membelai pipinya lembut.
"Apa? Terpesona padaku?" goda Satoru.
Sukuna tersenyum. "Tentu saja, kau kan pengantinku."
Satoru tertawa. Ia lalu bangkit dan memeluk leher Sukuna. "Hey, biar kuajari satu hal padamu," ucapnya. Ia mendekatkan wajah ke Sukuna, lalu menyatukan bibir mereka. "Ini namanya ciuman. Dilakukan oleh sepasang kekasih atau suami istri yang saling mencintai."
Sukuna membopong tubuh Satoru dengan satu tangan bawahnya supaya Satoru tidak capek berdiri. "Wah, pengantinku sudah dewasa rupanya," balas Sukuna dan kembali menyatukan bibir mereka. Dua tangan Sukuna yang lain membuka pakaian Satoru. "Kau tidak dingin?"
"Tidak, ruangan ini cukup hangat. Dan kita akan melakukan hal yang membuatnya lebih panas lagi," Satoru juga menarik turun kimono Sukuna, membuat mulut di perut Sukuna nampak.
Lidah Sukuna yang di perut, menjulur untuk menjilat dada Satoru, membasahi nipple nya.
"Nnh…" Satoru mengerang pelan. Tubuhnya mulai panas. "Sukuna–..." panggilnya lalu melepaskan diri dari dekapan Sukuna. Ia menurunkan badan dan melepas obi Sukuna, membuka seluruh kimono nya. "Kubilang kali ini kita lakukan bersama."
Sukuna menyeringai. "Yakin kau tak akan ketakutan lagi seperti waktu itu?"
"Urusai," ucap Satoru malu.
Sukuna pun melepas seluruh pakaiannya, juga melepas pakaian Satoru.
Gulp…!
Satoru menelan ludah berat menatap tubuh bawah Sukuna yang tegak. Dulu melihatnya dalam keadaan lemas saja sudah sebesar itu, dan kini semakin besar saat kondisi tegak.
Satoru membalikkan tubuh memunggungi Sukuna, lalu naik ke belakang penis Sukuna, bersandar ke perutnya. "Apa ini sakit?" tanyanya karena kini bisa dikatakan ia duduk di pangkal penis Sukuna.
"Tidak, kau ini seringan bulu," seringai Sukuna.
"Khh…dasar kau ini," Satoru memegang penis Sukuna dengan kedua tangannya, seperti memegang batang pohon saja. Ia berusaha memanjakannya. "Penis yang satu kau lakukan sendiri ya," ucapnya.
"Pfftt…" Sukuna hanya terkikik kecil saja.
"Hmn…ahh," Satoru menggerakkan tubuhnya sendiri supaya penisnya menggesek penis Sukuna, ia condong ke depan, menjilat benda besar dan panas di tangannya itu.
Tangan Sukuna menyentuh tubuh Gojo, mengusap dadanya dan memainkan nipple nya, membuat Satoru semakin menggeliat nikmat. Lidah Sukuna yang di perut menjilat punggung Satoru, memberikan rangsangan lebih.
"Mmn…ahhh," Satoru mendesah saat satu tangan Sukuna meraih penis Satoru, membantunya melepaskan diri. "Mmn, hey, kau tak perlu melakukannya. Sesekali biar aku yang…mn, ahh…"
Sukuna tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. Ia melanjutkan kegiatannya, satu tangan lagi memegang penis miliknya yang bawah yang tak tersentuh oleh Satoru, mengocoknya. Ia bisa rasakan penis Satoru berkedut di dalam sentuhannya.
"Kufufu kau terangsang melihatku onani?" goda Sukuna.
"Ma-mana ada," bantah Satoru tak mengakui. Tapi tak bisa dipungkiri penisnya semakin berkedut tak sabar, matanya lekat menatap tangan Sukuna yang bergerak memanja penisnya sendiri.
"Nhhh…ahhh," Satoru mengerang saat Sukuna kembali memainkan nipple nya. "Ugh…" ia mulai tak tahan. "S-Sukuna…aku mau keluar."
"Keluarkan saja."
"Bagaimana denganmu?"
"Ya, aku juga akan melakukannya."
"Mn…baiklah…" Satoru memegang penis Sukuna sambil menikmati rangsangan yang diberikan Sukuna. "Sshhh…ikku…" ia menggeliut nikmat saat akhirnya klimaks. Sperma nya muncrat ke penis Sukuna dan sebagian besar di tangannya. Satoru terengah, ia bersandar penuh ke tubuh Sukuna.
Ia mendongak menatap Sukuna. "Kau…mau klimaks?"
"Ya," ucap Sukuna. Ia membaringkan Satoru ke bantal, lalu merangkak di atasnya. Ia mengocok kedua penisnya di atas tubuh Satoru. Wajah Satoru memanas melihat benda itu dari dekat. Begitu besar, dan cairan precum mengalir dari sana.
"Hmn…nn…" Sukuna mengerang kecil saat mencapai puncak kenikmatan, ia memejam dan menikmati klimaksnya.
Satoru terpesona pada wajah itu, ini pertama kalinya ia melihat wajah Sukuna saat merasakan puncak kenikmatan. Sperma Sukuna membanjiri tubuh Gojo, hampir menutupi seluruh tubuhnya.
"Ngh…astaga, banyak sekali," Satoru setengah bangun menatap tubuhnya yang banjir oleh sperma Sukuna. "Setelah ini mandikan aku, oke."
"Pfftt…" Sukuna membopong Gojo dan mencium singkat bibirnya. "Iya pengantinku," ucapnya kemudian.
.
Satoru kelelahan dan bahkan tertidur di pemandian. Sukuna menyelesaikan membasuh tubuh Satoru lalu membawanya kembali ke kamar. Ia mengganti futon mereka yang sudah berantakan dan basah oleh cairan mereka, lalu membaringkan Satoru di bantal.
Ia menatap wajah Satoru yang damai lalu tersenyum. Ia mengecup dahi Satoru lembut. "Selamat ulang tahun, pengantinku," bisiknya.
.
.
Karena tidur duluan, akhirnya Satoru terbangun di tengah malam. Ia menatap ke samping, Sukuna ada di sampingnya. Ia cukup terkejut, karena ia rasa ini pertama kalinya ia melihat Sukuna tidur. Biasanya Satoru selalu tidur duluan dan bangun terakhiran, sehingga Sukuna sudah tak ada di sampingnya.
Satoru menatap takjub pengantinnya itu. Ia bangun dengan perlahan, menatap wajah lelapnya. Satoru tersenyum. Ia benar-benar menikmati hidupnya sejak malam itu semua karena Sukuna. Ia tak peduli Sukuna kutukan sekalipun, Sukuna lah yang membuatnya bahagia.
Meski begitu…ada sedikit keresahan di hati Satoru, karena ia seolah tak mengerti sedikitpun tentang Sukuna. Ia hanya hidup bersama Sukuna, tapi tak tahu apapun tentang kutukan itu.
Satoru naik ke tubuh Sukuna dan tengkurap di atasnya, ia tatapi wajah Sukuna, ke bagian matanya. Ada empat mata di sana, dua di antaranya berada di sisi wajah sebelah kanan yang berbentuk layaknya topeng kayu.
"Aku ingin mengetahui tentangmu," ucap Satoru tiba-tiba, seolah spontan saja. "Tunjukkan padaku."
Seolah tersedot ke dalam ruang waktu, tiba-tiba Satoru seperti berada di waktu lain dan dimensi yang berbeda. Ia menatap tubuhnya, antara nyata dan tak nyata. Apa ia masuk ke dalam realm Sukuna? Satoru mengikuti saja alur yang membawanya masuk ke sana.
Ia melihat sebuah desa, ada sesuatu yang heboh sedang terjadi di sana. Seorang bayi terlahir secara kembar siam. Mereka memiliki dua tubuh yang saling menempel. Orang-orang terlihat riuh, menganggap itu kutukan, pertanda bencana dan semacamnya. Tapi orang tua bayi itu melindungi anaknya dan memilih pergi dari desa, hidup sendirian di tepi hutan.
Tapi suatu hari saat bencana melanda, penduduk desa kembali menyalahkan mereka, padahal mereka tak pernah mengusik apapun dari desa itu. Saat itu usia anak kembar siam mereka sudah sekitar 9 tahun, dan penduduk desa semakin ngeri melihat wujud mereka yang tak normal seperti manusia biasa.
Orang tua bocah itu dibunuh, dan sang bocah diarak warga. Mereka di bawa ke atas bukit, di masukkan ke dalam kandang yang ditaruh di bawah sebuah pohon besar, kedua tangan kaki mereka dipasung. Dan para penduduk desa meninggalkan bocah itu di sana.
Mereka ditinggalkan tanpa pernah diberi makanan, ditinggalkan untuk mati kelaparan. Hari berganti dan salah satu dari mereka mati. Untuk beberapa lama si kembar yang hidup menangisi saudaranya yang mati itu, tapi rasa lapar tak tertahan lama-lama membuatnya tak bisa menahan diri dan berakhir memakan bangkai saudaranya itu. Meski pada akhirnya seiring berjalannya waktu, ia meninggal juga karena tak ada yang menyelamatkan.
Bersamaan dengan itu musim berganti yang membuat desa kembali subur, pulih dari bencana. Penduduk desa menganggap bahwa itu adalah keberhasilan ritual penumbalan mereka. Mereka melihat bangkai anak kembar itu, lalu mengambilnya dan melumuri mereka dengan tanah liat dan balsem. Para penduduk membuat boneka terkutuk dari jasad mereka. Setelah itu ritual dilakukan kembali pada boneka terkutuk itu, dan dibuatkan semacam kuil untuk boneka tersebut. Mereka menempatkan boneka itu di dalam kuil dan mengunci energi nya dengan fuda.
Sejak saat itu, setiap penduduk menemukan anak kembar siam, mereka akan membawa anak itu ke tempat yang sama, memasung mereka, dan membiarkan mereka untuk mati kelaparan. Setelahnya membuat boneka terkutuk dan menempatkannya dalam kuil terkutuk tersebut.
Lambat laun, energy kutukan yang terkumpul begitu besar. Dari rasa kebencian, rasa dendam, rasa ketakutan, rasa marah dari semua bocah hasil pengorbanan itu, ditambah ritual gelap yang selalu dilakukan di sana, dari semua energy gelap yang terkumpul lahirlah sosok Ryomen Sukuna. Sosok kutukan yang lahir dari segala rasa dendam dan amarah anak-anak kembar siam yang dijadikan korban, juga energy gelap dari ritual pemujaan.
Saat awal bermanifest Sukuna tak berwujud seperti yang Satoru ketahui, dengan empat tangan dan mata, serta mulut besar di perutnya. Saat pertama bermanifest, wujud kutukan Ryomen Sukuna hanyalah wujud anak kecil bersurai pink pucat, dengan tato di sekujur badan.
Tapi seiring waktu, seiring penduduk mengetahui keberadaannya, dan mulai memuja serta takut padanya, sosok Sukuna kian bertambah besar. Di satu titik Satoru bisa melihat Sukuna saat berwujud seukuran manusia normal. Kekuatannya sudah semakin kuat saat itu. Pemujaan terhadapnya sudah semakin gelap, namun sudah bukan anak kembar siam lagi persembahan untuknya.
Anak kembar siam bukanlah sesuatu yang sering ditemui. Penduduk yang ketakutan mengorbankan apa saja yang mereka punya. Mulai dari hasil panen, hewan ternak, tumbal manusia dewasa, ibu hamil, semua mereka lakukan.
Tapi sosok Sukuna yang inti keberadaannya terlahir dari korban anak-anak ini, mulai memilih apa yang mau dilakukannya. Ia memakan persembahan yang diberikan, tapi untuk anak-anak, dia memperlakukan mereka sedikit lebih baik. Ia menguburkan jasad mereka selayaknya manusia, lalu menuntun jiwa mereka pergi.
Bukan ke nirwana memang, tapi ia menciptakan satu tempat sendiri di mana ia menaruh jiwa-jiwa mereka untuk bermain sepuasnya, sebagai anak seumuran mereka. Ingatan mereka tentang kehidupan di dunia memang sudah tak ada, tapi inti dari jiwa mereka masih ada karena Sukuna tak memakannya. Mereka akan tetap bisa menikmati kehidupan mereka di tempat yang Sukuna ciptakan.
Sukuna melanjutkan apa yang dilakukannya itu, hingga suatu hari ia bertemu Uraume. Dia adalah kakak seorang bocah yang akan ditumbalkan. Ia terbunuh saat mencoba melindungi adiknya itu. Sukuna membawa jiwa bocah itu seperti biasa, dan dia menjadikan Uraume sebagai tangan kanannya.
Ingatan Uraume memang tak ada lagi, tapi perlahan ia mendapatkan jiwanya kembali dan tak lagi kosong seperti saat baru meninggalkan raga nya. Membentuk pribadinya yang Satoru kenali saat ini.
Satoru kembali melangkah, ia ingin melihat lebih banyak lagi. Ia ingin melihat malam pertemuannya dengan Sukuna.
"Tunjukkan padaku," perintah Satoru, dan pemandangan kembali berubah, kali ini ke malam itu di mana ia dan Suguru dikorbankan oleh warga.
Malam itu Sukuna sebenarnya tak berminat datang, karena permintaan kontrak dari tetua itu begitu lemah. Tapi entah mengapa ia merasa ada yang memanggilnya untuk datang. Setelah ia mendatangi tempat itu barulah ia mengerti.
Ia melihat Satoru, bocah bermata istimewa. Sukuna bisa merasakan energy nya meningkat hanya dengan berada di dekatnya. Hingga saat Satoru meminta sesuatu darinya, menawarkan sebuah shibari, Sukuna bisa melihat sesuatu yang begitu terang dari shibari yang ditawarkan Satoru. Sangat berbeda dengan shibari lain yang pernah ia temui. Tanpa ragu ia pun menerima shibari itu, dan semua berlanjut seperti yang Satoru ketahui.
Mungkin satu yang Satoru tak ketahui. Yakni bahwa ia memiliki mata yang istimewa. Ia tidak tahu itu. Tapi semenjak shibari nya dengan Sukuna terbentuk, kemampuan istimewa mata nya seolah mengalir semua ke Sukuna. Ia seperti menjadi sumber energy bagi Sukuna, sedangkan ia sendiri sudah tak bisa menikmati semua keistimewaan itu tanpa Sukuna berada di sampingnya.
Mungkin karena itulah Sukuna memperlakukannya begitu baik. Mungkin karena Satoru adalah tambahan energi baginya.
"Sudah selesai mengintipnya?" suara menggelegar Sukuna membawa Satoru kembali ke dunia nyata. Ia membuka mata, dan melihat Sukuna sudah bangun dan kini menatap ke arahnya.
Satoru tersenyum, lalu merangkak maju dan mengecup bibir Sukuna. "Kau marah aku mengintip?"
"..." Sukuna tak menjawab. "Kau marah sekarang mengetahui aku memanfaatkanmu?"
Satoru tertawa kecil lalu mengecup pipi Sukuna kembali. "Kalau waktu bisa diputar ulang, aku akan tetap memilih pilihan yang sama. Menawarkan shibari itu padamu. Dan akan kupastikan kau menerima shibari nya."
Sukuna tersenyum lalu mendekap tubuh Satoru ke tubuhnya yang besar itu.
"Sukuna…" panggil Satoru manja.
"Mm hm?"
"Boleh perlihatkan wujudmu seperti yang kulihat di realm tadi?"
"..." Sukuna terlihat enggan.
"Ya ya ya ya?" rayu Satoru.
Sukuna menghela nafas lelah lalu bangun dan menurunkan Satoru. Ia membentuk segel dengan tangannya, dan kepulan asap muncul di sana. Beberapa saat kemudian saat asap menipis, Satoru bisa melihat wujud Sukuna yang ia lihat di realm tadi. Sukuna dalam wujud seukuran manusia normal, dengan hanya dua tangan saja, bukan empat. Wajahnya juga seperti manusia normal, tak ada bagian seperti topeng kayu di sana. Meski jumlah mata nya masih 4, dan seluruh tattoo Sukuna juga masih berada di sekujur tubuhnya.
"Sukunaaa~" Satoru langsung menubruk Sukuna sampai terbaring ke futon.
"Ghh kau ini," kesal Sukuna.
"Hehe, kalau yang ini bisa kupeluk," ucap Satoru dan tanpa persetujuan langsung mencium bibir Sukuna.
Sukuna menjambak rambut Satoru dan memundurkan kepalanya.
"Nggak suka?" tanya Satoru.
"Biar kuajari kau sesuatu," ibu jari Sukuna menyentuh bibir Satoru, membukanya. Setelah itu ia kembali menarik kepala Satoru turun untuk berciuman, kali ini dengan lidah mereka.
"Hmnn…" Satoru terbelalak saat pertama kali merasakan itu. Ia mundur, menatap Sukuna.
Sukuna menyeringai. "Kenapa? Tidak suka?" godanya. Detik berikutnya Satoru kembali menciumnya dengan lidah, kali ini begitu ganas.
"Sukuna…Sukuna…" nafas Satoru memburu, ia mencium bibir Sukuna lalu ke lehernya, dan turun hingga ke nipple nya.
"Kufufu, kau tiba-tiba langsung jago atau bagaimana?" goda Sukuna.
"Aku hanya menirumu, saat kau melakukannya padaku rasanya nikmat," Satoru mengecup nipple Sukuna, lalu menjilatnya. "Apa kau suka?"
"Fufu, ya lanjutkan," Sukuna menekan kepala Satoru turun. Untuk beberapa saat lidah Satoru bermain di sana, hingga Sukuna mengomando nya untuk turun. "Ke bawah lagi, Satoru."
"Hng?" Satoru menurut saja. Ia menjilat perut Sukuna, lalu semakin ke bawah, hingga ke bagian kejantanannya yang sudah tegak. Satoru tertawa kecil lalu mengocok benda itu. "Jumlahnya hanya satu nih," goda Satoru.
Satoru menjilat penis Sukuna, lalu memasukkannya ke dalam mulut. "Kakhi ingi mhuak (kali ini muat)," ucapnya dengan penis masih di dalam mulut. Ia menggerakkan mulutnya naik turun, memanja penis Sukuna.
"Lebih ke bawah," komando Sukuna.
"Ke sini?" Satoru menjilat ke pangkal kejantanan Sukuna.
"Bukan, ke bawah lagi."
Satoru mengernyit heran. "Ke…sini…?" ia menyentuh lubang Sukuna.
"Ya, pastikan licin dan mudah dimasuki."
Satoru terbelalak dan merangkak di atas tubuh Sukuna. "Su-Sukuna…itu maksudnya…"
Sukuna menepuk pelan pipi Satoru. "Kau bilang ingin melakukan seperti yang suami istri lakukan," satu tangan Sukuna yang bebas menyentuh penis Satoru, mengocoknya pelan. "Wah, kalau dalam ukuran manusia ternyata punyamu besar juga ya."
"Hish kau ini," wajah Satoru memerah.
"Pfftt…ya sudah, lakukan dengan baik. Pastikan kau bisa memasukinya dengan mudah."
Satoru mengangguk. Ia kembali menundukkan badan dan menjilat lubang Sukuna, ia juga menggunakan jarinya untuk masuk. Saat masuk itulah, ia membayangkan kalau miliknya nanti yang akan merasakan lubang basah dan ketat itu, membuat darah berdesir cepat ke kemaluannya dan membuatnya berkedut tak nyaman.
"Su-Sukuna…aku tak tahan lagi," Satoru kembali mengangkat tubuhnya menatap dengan tatapan memohon sambil memegangi penisnya.
"Fufu, ya, lakukan saja," Sukuna berpegangan ke leher Satoru, saat pengantinnya itu memajukan tubuh dan menuntun penisnya menuju lubang Sukuna.
"Hn…" Satoru mengerang tertahan saat ia mendorong masuk penisnya ke lubang Sukuna. Matanya lekat menatap pemandangan itu. Setelah kepala penisnya masuk, ia mendorong semakin dalam, ia merasakan penisnya ditelan oleh lubang Sukuna yang basah dan panas.
"Ngh…ahh…" Satoru semakin mendorong masuk hingga seluruh penisnya terbenam di sana. Ia menatap pemandangan itu tak berkedip untuk beberapa saat. Penisnya berkedut, mencoba merasakan bahwa yang dialaminya nyata.
"Kenapa? Ayo bergerak," ucap Sukuna, mulai menggerakkan tubuhnya. "Permainan tidak selesai hanya setelah kau masuk kan, bukankah sudah kuajari?"
"Hngh…ahhh," Satoru mendesah saat merasakan sensasi sex untuk pertama kalinya itu. "Ungh…Sukuna…" ia merangkak di atas tubuh Sukuna lalu mulai menggerakkan tubuh bawahnya. "Khh…ahh, nnn…ini enak sekali, aahhh, Sukuna…Sukuna…" ia meracau tak jelas, gerakannya tak teratur.
"Hey hey," Sukuna menjambak rambut Satoru, menarik kepalanya turun. "Bernafas dulu yang benar. Tarik nafasmu dan hembuskan, tenangkan dirimu. Aku tidak kemana-mana."
Satoru pun mulai tenang. Ia menarik nafas dan menghembuskannya seperti yang Sukuna katakan. Setelah itu barulah ia bergerak dengan tempo yang lebih teratur.
"Hmn…ahh…nn," ia mendesah keenakan. Ia mengangkat paha Sukuna naik dan menekannya ke bawah, setelah itu kembali memasukinya dengan tempo yang lebih cepat. "S-sial…ahh, ini enak sekali…" ia mendongak dan memejamkan mata sambil terus bergerak.
Sukuna menyeringai melihat itu. Ia lalu meraih nipple Satoru dan memilinnya.
"Hey–...!" Satoru tersentak.
"Kau bilang kau suka kalau aku melakukan ini."
"Mnh…ya…" Satoru terus bergerak dan semakin cepat. "Sukuna…Sukuna…aku mau keluar, mnh, ahhh…apa tak apa…keluar di sini?"
"Ya, lakukan saja. Kau ingin membuat bayi kan? Fufufu, begini suami istri membuat bayi."
"Hnghh…ahhh, begitu…ahh," Satoru mempercepat gerakannya dan akhirnya klimaks, mengeluarkan cairannya di dalam lubang Sukuna.
"Hosh…hosh…" ia terengah. Ia menurunkan tubuhnya untuk kemudian mencium bibir Sukuna. Tangannya beralih meraba dada Sukuna dan memilin nipple nya.
"Kau masih ingin?" tanya Sukuna di sela ciuman.
Satoru mengangguk. "Ini enak sekali, mnhch…bagaimana denganmu? Apa kau menikmatinya?"
"Ya, aku menikmatinya," balas Sukuna seraya memeluk Satoru, membawa ciuman mereka semakin panas.
Satoru kembali bergerak liar di dalam tubuh Sukuna, lidahnya masih bertaut dengan lidah Sukuna, dan tangannya memilin nipple Sukuna dengan erat.
"Mnh, lebih cepat," bisik Sukuna, dan Satoru pun menuruti itu. Sukuna mengocok penisnya sendiri dengan cepat. "Hngh…nn," tak berapa lama kemudian ia klimaks, spermanya membasahi tubuh mereka berdua, Satoru juga mencapai klimaksnya kembali di dalam tubuh Sukuna. Ia terengah, lalu ambruk ke atas tubuh Sukuna. Ia memeluk tubuh itu sambil menciumi lehernya.
Setelah cukup tenang, Satoru berguling ke samping dengan Sukuna tetap berada di pelukannya. Dalam wujud itu Satoru bahkan sedikit lebih tinggi dari Sukuna, ia mengecup puncak kepala pengantinnya itu.
"Sukuna, kau betulan bisa hamil?" tanya Satoru.
"Tentu saja tidak. Aku lelaki sama sepertimu," balas Sukuna.
"Oo begitu."
"Kecewa?"
Satoru menggeleng. "Aku juga nggak mau ada anak. Aku takut mereka akan berakhir menemui takdir tak menyenangkan seperti anak-anak itu. Cukup mereka saja…yang mengalami itu semua."
"...begitu…" Sukuna kemudian kembali ke wujud semula.
"Aaaah Sukunaaa…" rengek Satoru karena sekarang ukuran tubuhnya jauh lebih kecil dari Sukuna.
"Aku lelah, aku pakai wujud itu harus menggunakan kekuatanku, kau tahu," Sukuna mencubit hidung Satoru sampai memerah.
"Hmng, ya sudah," Satoru meringkuk di pelukan Sukuna. "Sekarang gantian kau yang peluk aku."
Sukuna tersenyum dan menurut saja memeluk tubuh pengantinnya itu. Keduanya diam untuk beberapa lama, Satoru juga mulai memejamkan mata.
"Satoru," panggil Sukuna kemudian.
"Ya?" balas Satoru bahkan tanpa membuka mata, tetap menyamankan diri di dalam pelukan Sukuna.
"Kau betulan tidak marah meski telah mengetahui aku memanfaatkanmu selama ini?"
Satoru tertawa kecil. "Kenapa marah. Kau memperlakukanku dengan baik, aku juga yang menawarkan diri untuk bersamamu," ia sedikit memundurkan tubuh untuk bisa menatap Sukuna. "Lagipula aku sama sekali tak sadar aku punya kemampuan istimewa. Memangnya mataku bagus ya?"
"Ya…" Sukuna membelai pipi Satoru. "Mungkin kau tak pernah diberitahu oleh keluargamu, atau mereka juga tidak tahu. Jadi kekuatanmu hanya tidur saja di dalam dirimu, tak diasah, bahkan tak pernah digunakan."
"Kau bisa memanfaatkannya?"
Sukuna mengangguk. "Shibari antara kutukan dan manusia, biasanya kutukan yang memiliki kontrak dengan manusia itu akan terus menyedot energi mereka. Kau pasti pernah lihat kan, beberapa orang yang meminta kekayaan, mereka mendapat keinginan mereka tersebut, tapi tubuh mereka lama-lama kering kerontang, dan berakhir mati lebih cepat. Hal itu berlaku hampir di semua shibari, tergantung durasi nya manusia itu akan bebas atau terus disedot energi nya.
Kalau sekedar kontrak satu kali untuk satu keinginan jangka pendek, biasanya kutukan hanya akan makan persembahan, tapi lebih dari itu, kutukan akan menghabisi energy manusianya sedikit demi sedikit.
Sama hal nya denganmu," Sukuna menatap Satoru dalam-dalam. "Hanya saja kau memiliki kekuatan mata itu, sehingga kau bisa bertahan selama ini bersamaku. Tapi resiko nya, kau hanyalah manusia biasa saat ini, kekuatan khusus mu sudah lenyap karena energimu aku yang gunakan."
"Begitu rupanya," Satoru beringsut naik berbaring ke lengan Sukuna yang dijadikan bantal oleh Sukuna, supaya wajah mereka bisa sejajar. "Sebenarnya kalau semisal kekuatanku diasah, aku bisa apa? Kekuatan apa yang kumiliki?"
"Hmm…apa ya. Kau bisa berbicara dan melihat kutukan, ah, kurasa yang ini kau paling sudah tahu. Kau sejak kecil bisa melihat mereka kan?"
"...ya, mungkin. Hanya saja karena tak ada yang memberitahuku, kukira mereka makhluk saja seperti manusia, atau hewan, pokoknya memang makhluk yang ada. Aku tak pernah tau ternyata mereka kutukan," balas Satoru. "Lalu apa lagi kekuatanku?"
"Kurasa teleport, juga melayang. Dan beberapa kekuatan untuk memusnahkan kutukan. Garis keturunanmu berasal dari keluarga pembasmi kutukan."
Satoru tertawa. "Jadi seharusnya kita bermusuhan kalau aku punya kekuatan itu."
"Ya, mungkin saja."
"Heeh, sudahlah. Sepertinya aku memang tidak butuh kekuatan itu. Kau pakai saja sesukamu," Satoru memeluk leher Sukuna, menempelkan kepala mereka.
"Meski kau jadi manusia biasa?"
"Mm hm," Satoru mengangguk. "Kau akan melindungiku kan?"
Sukuna tersenyum lalu mengecup puncak kepala Satoru.
.
~OoooOoooO~
.
Tahun berganti tahun tanpa terasa. Satoru baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 29 beberapa minggu yang lalu. Ia kini menatap keluar jendela di mana salju kembali menumpuk. Ya, ia memang meminta pemandangan luar istana seperti pemandangan dunia nyata, jadilah ia mendapati pemandangan salju juga.
"Satoru, aku mau pergi menerima persembahan, kau mau ikut?" tanya Sukuna.
"Ikut ikut," Satoru bangkit. "Ah, tapi buru-buru tidak? Aku ingin melihat Suguru dulu."
"Hng? Tumben."
"Ya, entah kenapa ingin melihatnya. Haha."
Sesuai permintaan Satoru, Sukuna pun mengantarnya ke istana tempat Suguru dan anak-anak itu bermain. Mereka tampak bahagia. Suguru masih sama seperti dulu, ia tidak bertambah dewasa. Mereka seolah terjebak di dalam gelembung waktu yang tidak bergerak.
Satoru berdiri di luar tembok transparan yang menghalanginya masuk. Ia pandangi wajah Suguru baik-baik, wajah yang kini tersenyum bahagia. Setelah itu barulah ia kembali ke Sukuna dan mengajaknya pergi.
.
Kali ini Sukuna membawa Satoru ke sebuah desa yang terlihat seperti desa miskin. Rumah-rumah penduduknya terlihat kumuh dan sederhana sekali.
"Uwah, kali ini apa? Meminta kekayaan?" tanya Satoru yang berada di gendongan Sukuna.
"Entahlah, kontraknya belum terbentuk, jadi aku belum tahu. Tapi energy yang kurasakan lumayan besar," Sukuna menatap ke salah satu rumah yang ada perapian menyala meski itu hanya dapur saja. "Kau mau menunggu di sana atau ikut aku?"
"Aku menunggu saja. Hissh ini dingin sekali," Satoru berniat turun dari gendongan Sukuna tapi Sukuna melarangnya.
"Biar kuantar kau ke sana," ucapnya.
"Haha, padahal hanya berjarak segini," tawa Satoru. Tapi ia menurut saja dan memilih memeluk pengantinnya itu.
Di dalam rumah itu ada seorang kakek tua yang sepertinya sedang sekarat berbaring di tempat tidurnya, tubuhnya kurus sekali. Saat melihat kedatangan Satoru, pria itu bahkan hanya melirik sebentar lalu mengabaikannya.
"Kau yakin tak apa?" tanya Sukuna.
"Ya, hanya pria tua diambang maut," balas Satoru. Ia turun dari gendongan Sukuna dan mendekat ke perapian. "Jemput aku di sini oke?"
"..." Sukuna tak langsung menjawab, hanya mengangguk pelan kemudian. Ia lalu pergi dari rumah itu menuju rumah yang sedang mengadakan ritual. Perasaan Sukuna sedikit tidak tenang. Satoru tak biasanya meminta melihat Suguru dulu seperti tadi. Tapi ya sudahlah, mungkin hanya perasaannya saja. Ia pun melanjutkan langkah.
Sepeninggal Sukuna, Satoru menghangatkan diri di tepi perapian. Ia sedikit heran pada tingkah Sukuna barusan. Biasanya Satoru pergi sendiri ke rumah yang dituju untuk menghangatkan diri, dan Sukuna membiarkannya. Lagipula jaraknya begitu dekat. Tapi baru kali ini Sukuna bersikeras untuk mengantarnya.
"Hihi, apa aku harus memberinya hadiah ya nanti," ujar Satoru. Ah ya, dia baru ingat bahwa hari ini tanggal 24 Desember, yang artinya besok adalah hari natal. "Mungkin aku akan merayakan natal bersamanya besok. Ya, sekali-kali tak apa kan."
Saat tengah bersantai itulah, Satoru mendengar derap langkah kaki dan derap kaki kuda. Sedikit terkejut, Satoru keluar rumah untuk melihat apa yang terjadi. Di luar, ia melihat rombongan orang menyebar, ada yang berjalan kaki, ada yang berkuda. Sepertinya mereka adalah rombongan bandit. Satoru melihat beberapa rumah dimasuki dan terdengar teriakan serta hantaman benda-benda.
"Geez, mau merampok ke desa yang kaya kenapa sih, padahal desa semiskin ini," ucap Satoru.
Drap…drap…!
Suara kaki kuda mendekat, lalu berhenti di depan Satoru dan meringkik karena dipaksa berhenti. Penunggangnya memakai zirah dan membawa pedang. Ia sempat bertemu mata dengan Satoru beberapa saat.
"Shimatta–..." Satoru berniat kabur, ia merogoh kimono nya mencari jimat teleport dari Sukuna, tapi ia baru sadar tadi ia datang bersama Sukuna sehingga ia pun tak membawa jimat itu.
Mengira Satoru mau mengambil senjata dan akan melakukan perlawanan, tanpa sepatah kata lagi, penunggang kuda itu menebas badan Satoru dengan pedang di tangannya. Setelah yakin luka yang dibuatnya fatal, ia pun meninggalkan Satoru di sana, menuju rumah selanjutnya.
"Ohok…" Satoru terbatuk darah, ia memegangi kerongkongannya yang tertebas hingga ke dada dan pinggang. Dengan langkah terseok, ia mencoba melangkah ke arah perginya Sukuna tadi. Tapi langkahnya berat sekali, pandangannya mulai kabur. Hanya beberapa belas meter saja ia berhasil melangkah, dan akhirnya ia ambruk di hamparan putih salju yang menyelimuti jalanan desa.
Satoru berbaring terlentang, melihat buliran Salju yang kembali turun. Ia bisa merasakan darahnya yang panas merembes keluar dari tubuhnya membasahi salju di sekeliling. Ia ingin berbicara, memanggil nama Sukuna, tapi yang ada darah mengisi tenggorokan, hanya menimbulkan suara mengorok seperti ayam disembelih.
Satoru pun hanya berbaring di sana tanpa bisa melakukan apapun. Ia hanya berharap…di saat-saat terakhirnya ia bisa melihat wajah Sukuna untuk yang terakhir kali.
.
Satoru seperti menunggu di waktu yang sangat lama, entah berapa lama. Suasana begitu hening, tak ada suara satupun. Hingga terdengar suara langkah kaki menembus salju, langkah yang ia kenali. Tak lama kemudian pandangan mata Satoru menangkap sosok yang ia kenali sebagai pengantinnya. Sukuna menatap Satoru dalam diam, lalu duduk di samping Satoru.
Satoru mencoba memanggil namanya, tapi tak bisa. Hanya ada suara mengerikan seperti tadi yang terdengar.
"Tak apa, tak perlu takut. Pelan-pelan saja, pergilah dengan tenang," ucap Sukuna dengan suara yang begitu tenang.
Tanpa sadar bibir Satoru tersenyum mendengar suara itu.
"Aku akan menemanimu Satoru, jadi tidak perlu takut. Pelan-pelan saja."
Satoru tersenyum. Perlahan pandangan mata nya kabur meski matanya masih terbuka. Hingga akhirnya pandangan matanya pun berubah gelap total, dan ia tak bisa lagi melihat dunia.
.
.
Sukuna melirik pengantinnya itu, sudah tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di sana. Ia menunggu. Ia tatap tubuh Satoru yang putih, menyatu dengan buliran salju yang turun semakin menutupi jasadnya. Rembesan darah mewarnai tubuhnya itu, cantik sekali. Mata birunya tetap terbuka meski tak ada cahaya kehidupan lagi di sana, dan bibirnya yang tersenyum meski tertutup dengan luapan darah dari sana.
Pyash…
Perlahan Sukuna melihat sependar cahaya dari tubuh Satoru, pendar cahaya yang perlahan berubah lebih jelas membentuk sosok Satoru seutuhnya, hanya saja sosok itu nyaris transparan. Sukuna diam saja, menunggu. Cukup lama sampai wujud itu bermanifest seutuhnya. Jiwa Satoru terkumpul, ia duduk, lalu berdiri dengan tatapan kosong menatap ke depan.
Sukuna bangkit, lalu menggandeng tangannya. Masih tak ada reaksi, Sukuna menunggu sesaat sampai Satoru menggerakkan matanya melirik Sukuna.
"Ayo jalan-jalan dulu, pemandangannya bagus di sini," ucap Sukuna yang tanpa menunggu jawaban, menggandeng Satoru melangkah dari sana.
"Uraume," panggilnya. Tak lama kemudian Uraume muncul.
"Ya, Tuan," ucapnya.
"Bawa jasadnya ke istana. Letakkan di dalam utsuwa di kamarku."
"Baik," balas Uraume.
Sukuna melanjutkan langkahnya sambil menggandeng Satoru, berjalan melewati salju. Hanya ada jejak langkah Sukuna yang tercetak di sana, tak ada jejak yang ditinggalkan Satoru. Belum.
"Ng…" Setelah berjalan cukup jauh, Satoru mulai bersuara. Tapi hanya itu. Mereka berjalan sampai ke sebuah danau beku. Berdiri di tepiannya, menatap danau yang luas itu dalam sunyi.
Satoru menoleh ke arah Sukuna lalu tersenyum. "Hai," ucapnya.
Sukuna hanya tersenyum tipis.
"Pemandangannya…indah ya," ucap Satoru terbata. Ia melangkah menuju danau, menapaki lapisan beku nya. "Wuaahh…" dan dia terpeleset, jatuh masih di tepian danau. Sukuna melirik melihat tubuh Satoru sudah bisa meninggalkan jejak di timbunan salju tempatnya jatuh tadi.
Sukuna tersenyum lalu membopong tubuh Satoru di lengannya.
"Haha, terimakasih," ucap Satoru. Sukuna kembali melangkah, kali ini meninggalkan danau kembali menuju hutan. "Kau siapa?" tanya Satoru.
"Pengantinmu," balas Sukuna.
"Begitu ya, pengantinku. Namamu?"
"Ryomen Sukuna."
"Ja~ Sukuna. Pengantinku. Aku Satoru. Gojo Satoru. Panggil saja aku Satoru."
"Ya."
"Sukuna, pengantinku. Kita mau ke mana?"
"Pulang, ke istana. Ke rumah kita."
"Rumah," Satoru tersenyum. "Rumah kita," ia menyandarkan tubuhnya ke tubuh Sukuna. "Kita akan hidup bersama?"
"Ya. Kita akan hidup bersama."
"Selamanya?"
"Selamanya. Kita berdua, di dalam keabadian."
"Selama-lama nya? Bersama?"
"Ya."
"Haha, kedengarannya bagus. Ayo kita hidup bersama, selama-lama-lamanya, di keabadian," ucapan Satoru menggema lalu tertelan kabut dingin yang juga menelan tubuh mereka. Hanya meninggalkan jejak mereka saja di salju yang putih itu. Jejak yang akan segera lenyap setelah tertimbun salju lagi, jejak yang menunjukkan ke arah mana mereka pergi. Menuju keabadian. Bersama.
.
.
.
~The End~
.
.
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
