Perang cawan suci ke 6 dimenangkan oleh sosok pemuda yang tak sengaja ikut ke dalam pertempuran tersebut, Naruto Uzumaki. Dia hanya pemuda yatim piatu yang tiba-tiba memanggil sosok pahlawan dari masa lampau.
Yah itu hanya segelintir peristiwa yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Naruto tak tahu harus bereaksi apa setelah dia memenangkan perang cawan suci itu.
Naruto menatap ke langit, dia saat ini berada di balkon apartemennya. Dia melamun di balkon, ini sudah sebulan setelah dia memenangkan perang cawan suci.
"Mau kopi?"
Naruto mendengar suara feminim yang ada di belakangnya, lamunannya buyar seketika. Dia menoleh ke belakang dan melihat sosok wanita dewasa yang memakai kaos putih polos serta memakai celana dalam saja.
Wanita itu mempunyai rambut pirang panjang yang dia kuncir kuda, wanita itu tersenyum tipis pada Naruto, dia membawa dua buah gelas berisi kopi.
Naruto tersenyum, namun senyuman itu menyiratkan sebuah perasaan sedih, wanita itu tahu jika Naruto sedang memikirkan sesuatu.
"Sebagai servant, aku wajib mengetahui apa yang sedang kamu pikirkan."
"Lancer... Arthuria... Aku... Entahlah, aku sedang memikirkan apa..."
Arthuria memiringkan kepalanya. "Kau hanya bingung dan gelisah."
"Benarkah?"
Arthuria menyesap kopi yang dia buat barusan, kedua matanya terus melihat sang master yang sedang berdiri sambil membawa gelas berisi kopi itu. "Kau tak sengaja ikut perang cawan, dan juga menang. Memang banyak korban manusia tak bersalah yang tewas, jangan menyalahkan dirimu sendiri Master." Arthuria meletakkan gelas yang berisi kopi miliknya di meja yang ada di sebelah Naruto, wanita pirang itu berjalan mendekatinya. "Kau sudah menang master, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Tak ada lagi korban yang berjatuhan."
"Kau memang benar, tapi..."
"Memang penyesalan selalu ada, tapi kita tak bisa terus menoleh ke belakang, master."
Naruto menggigit bibir bawahnya, dia meletakkan gelas kopi yang diberikan Arthuria di meja.
Wanita itu tersenyum tipis, dia menatap Naruto yang terus menyesali perang cawan itu. "Master... Aku, Arthuria Pendragon, akan selalu bersamamu." Arthuria terus mendekati Naruto hingga tubuh mereka saling menempel.
Naruto secara reflek memeluk pinggul Arthuria. "Kau tau jika aku lemah dengan hal ini."
"Hal apa?" Arthuria tersenyum, dia memeluk leher Naruto. Wanita itu kemudian mencium bibir Naruto dengan lembut, Naruto sendiri membalas ciuman itu.
Keduanya saling berpagut untuk beberapa saat.
...
..
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Fate Series by Nasu Kinoko/Type-moon
Warning: OOC, AU, Typo, Lemon, Lime, Smut.
Pairing: Naruto x Arthuria Pendragon/Lancer.
...
..
After Holy Grail War.
...
..
...
Enjoy it!
Selama perang cawan suci, Naruto dan Lancer (Arthuria) selalu bersama dimana pun mereka berada. Naruto juga menghindari konflik dengan Servant atau Master lain yang berpartisipasi dalam perang tersebut.
Naruto beruntung karena perang cawan kali ini tak ada campur aduk dari pihak lain, serta cawan itu sendiri tak terkontaminasi oleh sesuatu.
Perang itu benar-benar merenggut nyawa banyak orang, terlebih Naruto dan Lancer tak membuat pergerakan yang signifikan saat itu, dia hanya mengandalkan keberuntungan saja.
Selama perang, hubungan antara Master dan Servant antara mereka berdua semakin dekat, Arthuria dengan trauma masa lalu tentang perang Camelot, dan Naruto dengan kesedihannya akan perang cawan.
Hubungan itu terus berkembang hingga mereka berhadapan dengan Master terakhir dari perang itu, keduanya sudah berjuang dengan keras setelah melalui peperangan yang panjang.
Dan satu hal yang Naruto pegang sampai perang itu berakhir, dia tak membunuh Master yang sudah tak punya Servant, atau kalah dalam pertarungan.
"Aku masih tak menyangka jika kau meminta untuk menjadikanku manusia seutuhnya." Arthuria berkomentar, dia saat ini tengah duduk di atas paha Naruto. "Sudah satu bulan lamanya, dan sepertinya aku harus menemukan pekerjaan supaya kau tak kerepotan."
Naruto menenggelamkan wajahnya ke belahan dada Arthuria yang besar itu. "Tak usah, biar aku yang bekerja."
"Kau benar-benar keras kepala, Master." Arthuria mencium rambut pirang Naruto, dia mengelus kepala pemuda itu dengan lembut. "Kau masih muda, dan sudah sangat keras kepala, seperti ini."
Naruto hanya tertawa di belahan dada Arthuria. Namun, tawanya terhenti digantikan dengan sebuah senyuman sedihnya. Arthuria yang melihat senyum seduh itu langsung menatap Naruto, dia kemudian mendorong kepala Naruto, dan menatapnya dalam-dalam, sebelum pada akhirnya Arthuria mencium bibir Naruto.
Lidah Arthuria mulai merangsek masuk ke dalam mulut Naruto, dia mengabsen gigi Naruto, lalu mencari lidah Naruto. Ciuman keduanya semakin intens, tetapi mereka harus mengakhiri ciuman tersebut.
Naruto menarik dirinya, dia menatap wajah Arthuria yang sedang menatap balik dirinya. Tangannya terangkat menyentuh pipi merah wanita itu, Naruto mengelus lembut pipi merah Arthuria.
"Mari lanjutkan di dalam."
Arthuria mengangguk, kemudian beranjak dari atas paha Naruto, keduanya berjalan masuk ke dalam apartemen dari luar balkon apartemen Naruto.
Mereka kembali berciuman mesra, kedua tangan Naruto merambat ke bawah, dia menyentuh dua pantat seksi Arthuria, kemudian meremasnya lembut. Naruto memasukkan lidahnya ke dalam mulut Arthuria, tubuh wanita itu sedikit tersentak saat lidah Naruto merangsek masuk ke dalam mulutnya.
Tubuh Arthuria terasa seperti tersengat listrik, lalu mulai melemah. Wanita itu menarik dirinya, dia mengambil napas sebanyak mungkin.
"Belum terbiasa?"
"Bu-bukan, aku... Aku tak tahu kenapa aku selalu tak kuat saat berciuman denganmu..." ujar Arthuria, dia meletakkan dagunya di atas bahu Naruto. "Hnggghhh..." Arthuria mendesah saat Naruto kembali meremas pantatnya. "Kau... Kau suka sekali meremas tubuhku..."
"..."
"Dasar." Arthuria kemudian mencium leher Naruto, memberikan beberapa bercak merah di sekitar leher aNaruto, wanita itu menggigitnya pelan, lalu menghisapnya. "Tanda kepemilikan dariku."
Naruto hanya tersenyum meringis menanggapi pernyataan dari Arthuria barusan. Di dalam hati dia senang karena bercak merah itu.
"Yang di bawah sudah bangun."
Arthuria melepas pelukannya, dia kemudian berjongkok tepat di depan gundukan celana Naruto. Wanita itu mendongak menatap Naruto dengan senyuman menggodanya, kemudian dia menurunkan celana panjang Naruto dan membiarkan benda Naruto yang sudah ereksi itu keluar.
Arthuria menggenggam benda milik Naruto, dia merasakan panas dari benda besar itu. Wanita itu pun mulai menggerakan tangannya naik turun, dia melihat raut wajah Naruto yang tengah memenjamkan kedua matanya menikmati handjob yang diberikan Arthuria.
Arthuria kemudian mengapit penis Naruto di antara belahan dada besarnya, dia juga memberikan saliva di atas penis Naruto, membuat tubuh pemuda pirang itu bergetar merasakannya.
"Ughhh..."
Arthuria menggerakan payudaranya naik turun dengan gerakan pelan, penis Naruto keluar masuk di belahan dada Arthuria. Pemuda pirang itu menggigit bibir bawahnya saat dirinya mendapatkan Titjob dari Arthuria.
Dia beberapa kali merasakan hal ini, namun kenikmatan itu tak dapat dia artikan sampai sekarang.
"Ahhh... Si-sial..."
Kedua mata biru Naruto melihat Arthuria sedang mencium ujung penisnya, lidah Arthuria bermain-main di ujung penis Naruto.
Naruto dibuat tak kuasa dengan hal tersebut, sementara Arthuria terus menggerakkan kedua payudaranya naik turun.
"Bagaimana?"
"Ka-kau tahu... Ka-kalau aku... Akh! Tak bisaah... Berkomentar..."
"Bilang saja kalau enak, Naruto."
Naruto menggigit bibir bawahnya merasakan betapa empuknya payudara Arthuria. Wanita itu pun melepas kedua payudaranya, kemudian menggenggam penis Naruto.
Arthuria mengocoknya pelan, sebelum akhirnya mendekatkan dirinya ke penis Naruto, lidahnya menjulur keluar dan mulai menjilati penis itu.
Arthuria menjilatinya dari atas hingga ke bawah, tangannya yang lain memainkan buah zakar Naruto. Dia melakukannya dengan sangat lembut, membuat tubuh Naruto merinding merasakannya.
Penis Naruto terlihat mengkilap karena liur Arthuria, wanita itu pun membuka mulutnya lebar-lebar, dan memasukkan penis Naruto ke dalam mulut Arthuria.
Arthuria menggerakan kepalanya naik turun, kali ini Naruto benar-benar dibuat tak karuan saat dia diberikan Blowjob oleh Arthuria.
"Ughh..." Dia menahan desahan nikmatnya. "Be-berhenti! A-aku keluar akh!"
Arthuria terkejut merasakan benda cair hangat yang masuk memenuhi mulutnya, namun dia menelan semua cairan putih Naruto.
Arthuria tersenyum kecil setelah dia menarik dirinya. "Bagaimana?" Naruto tak menjawabnya sama sekali. "Aku anggap kau ingin ke tahap selanjutnya."
-o0o-
Naruto melihat Arthuria yang membelakanginya serta mulai melepas pakaiannya.
Tubuh Arthuria dipeluk oleh Naruto dari belakang. Wanita itu sedikit terkejut disertai dengan wajahnya yang merona hebat, dia melirik ke belakang untuk melihat Naruto yang tengah menempelkan dagu pada bahunya.
"Naruto, apa yang kau lakukan?"
"Aku? Aku hanya memeluk 'Istri'ku."
Arthuria menggigit bibir bawahnya mendengar suara Naruto yang mengalun di telinganya. "Na-naru..."
Naruto seolah tak mendengarkan perkataan Arthuria barusan, pemuda pirang tersebut memeluk Arthuria sembari menciumi leher nya. Kedua tangannya mengelus perut datar Arthuria.
Tubuh Arthuria merinding merasakan perlakuan Naruto pada dirinya, dia menggigit bibir bawahnya saat perut serta lehernya terus dirangsang oleh Masternya itu.
Kedua tangan Naruto meremas kedua payudara Arthuria dengan pelan, wanita itu menggigit bibir bawahnya merasakan remasan yang diberikan oleh Naruto.
"Arthuria, payudaramu besar," ujar Naruto sembari terus menciumi leher Arthuria, kedua tangannya terus meremas payudara Arthuria serta memainkan puting susu Arthuria
Jari telunjuk Naruto memainkan puting susu itu membuat tubuh Arthuria menegang merasakannya, Arthuria menggigit bibir bawahnya saat Naruto terus merangsang puting susunya.
"Na-Naruto...hnng..."
"Ada apa?"
Arthuria merasakan jika area bawahnya mulai basah akibat rangsangan yang diberikan Naruto, tubuhnya benar-benar tak kuat.
Naruto menghentikan kegiatannya, namun kedua tangannya masih menyentuh payudara Arthuria .
"Naruto..." Arthuria menoleh ke belakang, dia berbalik dan melihat wajah masternya yang tersenyum tipis pada dirinya. Arthuria tanpa sadar mendekatkan bibirnya pada bibir Naruto, dia mencium bibir pemuda pirang itu.
Kedua mata Arthuria sudah terbutakan oleh nafsunya, wanita itu menarik bibirnya, kemudian berbalik menghadap Naruto. Kedua tangannya memeluk leher pemuda itu, lalu kembali mencium bibir Naruto.
Naruto merasakan jika Arthuria mulai agresif saat menciumnya. Wanita itu seolah ingin mendominasi jalannya ciuman tersebut, Namun Naruto tàk membiarkannya begitu saja, dia mendorong tubuh Arthuria hingga pinggulnya menabrak pinggiran meja dapur.
Salah satu tangan Naruto merambat ke belakang, tepat ke pantat seksi Arthuria. Dia meremasnya dengan pelan membuat tubuh wanita itu terperanjat saat merasakan remasan Naruto barusan.
Arthuria menarik ciumannya, dia mulai menciumi leher Naruto dan berusaha mendominasi tubuh masternya itu. Namun, tentu saja itu tak akan bisa.
Naruto mengangkat kaki Arthuria, dia mulai menabrakkan penisnya ke area kewanitaan Arthuria, menggeseknya pelan membuat wanita itu terperanjat merasakannya.
"Tu-tungg-ngahhh...!"
Naruto segera mengarahkan penisnya ke vagina Arthuria, dia mendorong pinggulnya dengan pelan. Naruto mendesis nikmat karena penisnya ditekan oleh dinding vagina Arthuria.
Wanita itu mendongak menatap langit-langit ruangan itu, wajahnya merona hebat dengan napas yang terengah-engah.
"Aku masukkan."
Naruto terus mendorong pinggulnya hingga semua penisnya masuk ke dalam tubuh Arthuria, wanita itu mengeratkan pelukannya terhadap Naruto, tubuh Arthuria bergetar merasakan penis Naruto berada di dalam tubuhnya.
Pinggul Naruto bergerak maju dan mundur dengan pelan. "Nggahhh!" Erangan nikmat keluar dari mulut Arthuria, dia menenggelamkan wajahnya ke leher Naruto untuk meredam erangannya.
Naruto sendiri menikmati bagaimana dinding vagina Arthuria mengapit penisnya di dalam sana. Dia terus menggerakkan pinggulnya, kali ini dia menambah kecepatan gerakan pinggulnya.
"Hnnggg!" Arthuria mengerang kembali, dia tak bisa menahan erangan tersebut. Pelukannya semakin erat pada Naruto saat penis itu keluar masuk di dalam tubuhnya. "Na-naruto..."
Naruto pun mencium leher Arthuria, dan memberikan beberapa bercak merah di sekitar leher wanita cantik itu.
"Buat aku hamil!"
Naruto menaikkan kedua alisnya mendengar permintaan Arthuria, dan dia semakin mempercepat gerakan pinggulnya.
"Nggahh... Ahhh...!"
Erangan Arthuria semakin keras saat Naruto menusuk vaginanya dengan cepat. "Aku keluar!"
"Hnggghhh!"
Naruto mengeluarkan spermanya, dia menenggelamkan penisnya di vagina Arthuria.
...
..
...
Naruto duduk di sofanya, dia menatap pantat Arthuria yang sedang mengarahkan penisnya untuk masuk ke dalam vagina wanita pirang itu.
Arthuria tersenyum menggoda, tangannya memegang penis Naruto, sementara pinggulnya turun dengan pelan, seolah dia ingin menggoda pemuda pirang itu.
Pinggul Arthuria semakin turun hingga penis Naruto masuk ke dalam vaginanya, dia menggigit bibir bawahnya merasakan penis Naruto yang sedang ereksi.
"Nggaahh!"
Arthuria menggoda Naruto dengan menggoyangkan pantat seksinya, dia kembali memberikan senyuman menggoda pada Naruto.
"Arthuria!"
"Ada apa, hm? Hngghh..."
Naruto yang tak tahan pun memegang pinggul seksi Arthuria, dia mendorong pinggul Arthuria naik dan turun. Arthuria terkejut merasakannya.
"Dasar... Tak sabaran..."
"Salahmu menggodaku."
Arthuria pun ikut menggerakkan pinggulnya naik turun, dia merasakan jika sesuatu mulai masuk ke dalam lubang analnya.
"Naruto? Angghhh! Ka-kau... Ahhh..."
Jari telunjuk Naruto masuk ke dalam lubang belakang Arthuria, bergerak keluar masuk di tambah dengan penis Naruto yang ada di dalam tubuhnya.
Arthuria merasa jika kedua puting susunya sudah sangat keras akibat rangsangan Naruto.
"Kenapa berhenti?"
"Ka-kau..."
"Oh, kau tak tahan ya?" Naruto menggerakan pinggulnya naik turun, Arthuria langsung mendongak terkejut dengan wajah yang sangat merona. "Bagaimana?"
"E-enak..."
Naruto menarik jarinya, dia kemudian menarik tubuh Arthuria agar dia menyandarkan punggungnya ke dada Naruto, kedua tangan Naruto bergerak ke bagian bawah lutut Arthuria dan mengangkatnya, membuat kedua kaki Arthuria terbuka.
"I-ini memalukan Naruto!"
Naruto tak memperdulikannya, dia semakin mempercepat gerakan pinggulnya naik turun. Arthuria semakin mengerang keras saat Naruto menggerakkan penisnya dengan cepat.
"Na-naruto aku keluar!"
"Keluarkan bersama-sama!"
Arthuria menggigit bibir bawahnya, dia merasakan jika dirinya klimaks karena penis Naruto.
...
..
...
Beberapa jam kemudian, Naruto memeluk Arthuria di atas sofa dengan selimut yang menutupi tubuh telanjang mereka.
Dia masih memikirkan hal-hal yang sebenarnya tak perlu dia pikirkan.
"Masih memikirkan itu?"
"Hm."
Arthuria mencium pipi Naruto. "Kau sudah punya aku, master. Tak usah khawatir."
Naruto tersenyum mendengarnya. "Baik-baik, aku akan mencoba menghilangkan pemikiran itu "
Arthuria tersenyum tipis, dia kemudian mencium sekilas bibir Naruto. "Aku mencintaimu."
"Aku juga Arthuria."
...
..
.
End!
