.~2016~.


Tanpa terasa matahari sudah mencapai puncak tahtanya. Sinarnya menerangi Kota Kuoh dengan sangat terang. Langit yang berada di atas kota itu terlihat sangat biru dan cerah, tanpa adanya awan.

Kemudian di Akademi Kuoh, bel akademi mulai berdentang dengan cukup keras, menandakan bahwa waktu istirahat makan siang telah dimulai. Semua guru dan murid pun akhirnya menghentikan sejenak kegiatan belajar-mengajar mereka untuk bisa beristirahat melepas penat.

Semua murid mulai tumpah ruah keluar dari kelas mereka dan menuju ke arah kafetaria akademi itu. Kafetaria itu terletak di gedung utama Akademi, berada tepat di bawah aula ballroom yang dimiliki oleh Akademi Kuoh. Luasnya kira-kira kurang lebih dua puluh lima meter persegi dan menampung kapasitas dua ribu murid dari seluruh angkatan.

Kafetaria itu memiliki beberapa konter di mana para murid ataupun guru dapat memilih jenis makanan yang akan mereka pilih, entah masakan Jepang modern, masakan India, masakan Italia hingga masakan Mexico. Apalagi harga-harga setiap masakan itu tergolong murah bagi para murid itu sehingga kafetaria itu tidak pernah tidak penuh oleh murid-murid yang membeli makanan.

"Ah, penuh seperti biasa." Seorang pemuda dengan penutup kepala dan mengenakan masker tampak mengeluh ketika baru saja tiba di kafetaria itu. Pemuda itu ialah Naruto yang baru saja menyelesaikan hukuman yang diberikan oleh ketua komite siswa kepadanya.

Pakaiannya basah kuyup karena keringat. Pelipis dan dahinya juga dipenuhi oleh keringat yang masih basah. Postur tubuhnya sedikit loyo dengan kedua pundaknya yang agak turun.

"Naruto!" Sebuah suara terdengar di telinga pemuda itu membuat pemuda itu menoleh. Ia bisa melihat sesosok gadis berambut putih tengah melambaikan tangannya ke arahnya, menyuruhnya untuk datang menghampirinya. Sesosok gadis lain juga duduk di sebelahnya, rambutnya yang berwarna merah kecokelatan terlihat dikuncir dua dengan gaya twintail. Naruto yang tidak punya pilihan lain pun segera menghampiri kedua gadis itu.

"Ada apa, Momo?" tanya Naruto kepada gadis itu.

"Kau habis mengerjakan hukuman dari Ketua Sona ya?" Bukannya menjawab pertanyaan Naruto, gadis itu malah bertanya balik.

Naruto memutar matanya malas. "Kau pasti sudah tahu jawabannya. Kenapa kau masih bertanya hah?"

Kedua gadis itu terkekeh mendengar perkataan Naruto. Gadis dengan rambut merah kecokelatan itu berkata kepada Naruto, "Memangnya kau kenapa sih sampai bisa telat seperti tadi? Tidak biasanya kau telat, apalagi kau berangkat bareng dengan Momo."

Naruto hanya mengangkat bahunya. "Kalian tidak perlu tahu."

"Jangan begitulah, Naruto." Gadis berambut merah kecokelatan itu sedikit merajuk ke Naruto. "Setidaknya bisikan ke aku saja sini, kalau kau tidak mau Momo tahu."

Gadis berambut putih yang disapa Momo tadi menyikut teman berambut merah kecokelatannya itu. "Apaan sih, Momo?" tukas gadis berambut merah kecokelatan itu.

"Kau yang kenapa, Tomoe?" Momo bertanya balik ke gadis itu. "Seenaknya saja ngomong begitu ke Naruto."

"Aku 'kan hanya penasaran. Kalau dia tidak mau cerita ke kamu, mending bisikan ke aku dong."

"Tapi 'kan-"

"Sudah-sudah." Naruto tampak melerai mereka. "Kalian ini ... sudah satu kelas, bareng-bareng jadi pengurus komite siswa, masih saja bertingkah kekanak-kanakan seperti itu."

Gadis yang dipanggil Momo tadi berusaha menyela, "Tapi 'kan-"

"Sudahlah, aku tidak mau berdebat. Aku sudah terlalu lelah untuk itu. Lebih baik aku antre makanan terlebih dahulu. Sampai jumpa." Setelah itu, Naruto segera mengantre pada suatu konter.

Kedua gadis itu terdiam mendengar perkataan Naruto. Kemudian, Momo malah menyikut ringan gadis di sebelahnya, "Kamu sih."

"Kok aku?" tukas gadis yang disapa Tomoe tadi. "Aku memang penasaran kenapa ia telat."

"Tapi, kamu bisa ngomong kalau 'kami' berdua sangat penasaran 'kan?"

"Kamu cemburu ya kalau kamu merasa semisal dia tiba-tiba dekat sama cewek lain?" Momo sedikit bersemu merah dan menjitak Tomoe.

"Aduh, Sakit Momo!"

"Biarin!" Momo merajuk sambil menolehkan wajahnya.

Sementara itu di salah satu sudut kafetaria, tampak tiga orang pemuda memandang ke arah kedua gadis itu dengan pandangan aneh. Pemuda pertama berperawakan tinggi mengenakan kemeja putih seragam akademi tanpa blazer, dengan rambut terpangkas habis alias botak. Pemuda kedua memiliki perawakan agak pendek, memiliki rambut pendek model bob berwarna hitam dan mengenakan kacamata bulat yang membingkai kedua matanya. Pemuda terakhir memiliki perawakan yang sedang, memiliki rambut cokelat jabrik dan mengenakan seragam akademi lengkap yang terbuka, menampakkan kaus polos berwarna merah di badannya.

Ketiga pemuda itu menatap ke arah kedua gadis itu dan kemudian menatap ke arah Naruto dengan pandangan iri.

"Sial, aku iri dengannya!" ujar pemuda botak kepada kedua temannya.

Pemuda berkacamata yang duduk di sebelahnya mengangguk kesal. "Benar! Mentang-mentang dia pintar dalam bermusik, dia bisa dekat dengan perempuan dengan mudah!"

"Betul itu! Padahal dia sangat aneh kalau dibandingkan dengan kita," timpal pemuda botak itu lagi. Kemudian, ia menoleh ke pemuda berambut cokelat yang duduk di sebelah kirinya. "Bukankah begitu, Issei!?"

Pemuda yang dipanggil Issei itu mengangguk mantap. "Kau benar! Dia salah satu penghalang misi suci kita! Kalian tahu apa yang harus kita lakukan!"

"Permalukan dia! Buat cewek-cewek ilfeel kepadanya!" Sorak-sorai ketiga pemuda itu membuat para pengunjung kafetaria itu-yang kebetulan kebanyakan dari mereka adalah perempuan-menatap mereka dengan pandangan ilfeel.

"Hei, jangan dekat-dekat mereka."

"Benar, mereka menjijikan."

"Kenapa mereka bisa masuk ke akademi ini sih?"

Naruto yang melihat ketiga pemuda itu dari balik antrean yang ia masuki hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Dasar, Trio mesum itu."


.

THE HALF VIOLIN PRINCE

I will protect the music in their soul, just like my father

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Highschool DxD by Ichiei Ishibumi

Kamen Rider Kiva by Toei Production

.

.

Summary : Seorang pemuda yang gemar bermain dan membuat biola muncul di Kuoh. Bagaimanakah caranya ia melindungi seluruh musik dari orang-orang di sekitarnya?

.

.

Chapter 2

.

.


Kembali menuju ke bagian depan akademi itu, tampak dua orang pria tengah duduk santai di pos penjaga. Kedua pria itu adalah Izumo dan Kotetsu yang kini kembali berjaga di pos itu. Namun, ada yang berbeda dari keduanya. Terlihat raut Izumo yang senang sambil melambaikan beberapa lembar uang di tangannya, sedangkan Kotetsu terlihat mendengus kesal.

"Ah, sial. Kenapa anak itu bisa terlambat sampai jam segini sih?" tukas Kotetsu dengan kesal.

"Makanya, kamu tidak usah berjudi lagi seperti itu. Sudah tahu kalau keberuntunganmu itu payah, masih saja nekat," balas Izumo sembari masih melambai-lambaikan uang hasil taruhan miliknya.

"Hah? Kau ngajak berantem?" Kotetsu sudah bersiap memukul kawan seperjuangannya itu sebelum akhirnya pandangannya menatap ke arah yang jauh. Ia melihat sosok pria berperawakan tinggi tengah menatapnya dengan dingin. Sontak hal itu membuat Kotetsu ketakutan dan mulai meringkuk ke bawah meja.

Izumo yang melihat kawannya yang tiba-tiba meringkuk merasa keheranan. "Kenapa kau tiba-tiba meringkuk seperti itu?" tanyanya.

"Ssshh!! Diam! Aku tidak ingin ketahuan olehnya!" seru Kotetsu yang masih meringkuk.

Izumo kembali terheran-heran. "Ketahuan oleh siapa sih?"

"Kau lihat pria berperawakan tinggi di ujung sana?" Izumo pun melihat ke arah yang dimaksud oleh kawannya itu. Namun, ia tidak melihat seseorang pun di sana.

Ia pun menarik kerah kawannya sambil berkata, "Apa sih yang kau takutkan? Aku tidak melihat siapa pun di ujung sana."

"Hah? Beneran?" Kotetsu keluar dari tempat persembunyiannya setelah Izumo berkata seperti itu. Ketika ia melihat ke arah di mana pria tadi berdiri, ia tidak menemukan siapa pun selain orang-orang yang berlalu lalang. Kotetsu pun menyandarkan tubuhnya pada kursi.

"Hah," desahnya lega. Izumo yang melihat tingkah laku kawannya ini hanya bisa menggelengkan kepala.

"Kau ini kenapa sih? Tadi ngajak berantem, sekarang malah ketakutan seperti itu."

Kotetsu mengelap keringat dingin yang sedari tadi menetes di dahinya, kemudian berkata kepada kawannya itu, "Aku tadi melihat seseorang yang terkenal dengan julukan 'Rentenir Kejam Berdarah Dingin'. Aku takut kalau ia mencariku dan menagih hutang kepadaku."

Izumo menganga mendengar perkataan Kotetsu. "Jangan bilang kau berhutang kepadanya karena kau cari uang untuk berjudi?" tanyanya kepada Kotetsu.

Kotetsu mengangguk. Izumo hanya bisa menepuk dahinya ketika melihat reaksi kawannya ini. "Ya ampun, memangnya kau berhutang kepadanya berapa sih?"

"Awalnya aku hanya berhutang sebesar dua puluh ribu yen, namun karena bunga yang besar diberikan oleh pak tua sialan itu, aku jadi berhutang kepadanya sebesar lima ratus juta yen," balas Kotetsu dengan kesal.

"Lima ratus juta!?" Izumo hanya bisa berteriak karena terkejut.

"Iya, lima ratus juta. Bayangkan kau jadi aku. Padahal aku cuma pinjam uang sebesar dua puluh ribu yen, tapi malah dapat hutang sedemikian besar," jawab Kotetsu lagi dengan kesal.

Izumo hanya bisa mengurutkan dahinya. "Bukannya sudah kubilang kalau kau tidak usah berjudi lagi? Kenapa kau tidak menggubris perkataanku?" tanyanya.

"Aku sudah berusaha, brother. Tapi tetap saja tidak bisa. Kau tahu sendiri kalau judi sama candunya dengan alkohol."

"Tapi 'kan –"

"Sudahlah. Aku tidak mau membahasnya lagi." Kotetsu pun beranjak dari kursinya. Izumo melihat kawannya itu dengan raut heran.

"Mau ke mana?" tanyanya.

"Aku mau ke toilet dulu, sekalian patroli. Kau tahu 'kan kalau sekalipun baru beberapa tahun sekolah ini diubah menjadi sekolah umum, anak-anak berandal mulai bermunculan di dalam sekolah. Hitung-hitung mengurangi beban Komite Siswa," balas Kotetsu.

Izumo hanya mengangguk pasrah. "Ya sudah, jangan lama-lama! Biar bisa gantian nantinya."

Kotetsu mengangkat tangannya, tanda bahwa ia menyetujui perkataan Izumo. Kemudian, ia berjalan keluar dari pos dan mulai pergi menuju ke toilet yang ada di dalam gedung akademi, meninggalkan Izumo yang berjaga sendirian di dalam pos.

Izumo tampak sibuk mengurusi beberapa berkas yang tadi sempat dititipkan kepada pos penjaga itu. Sesekali, ia menelepon melalui interkom untuk memberitahukan kepada staf yang ada di dalam gedung untuk mengambil berkas-berkas yang dititipkan tadi.

Pada saat ia tengah mengisi sesuatu di buku berkas miliknya, ia mendengar suara ketukan di jendela pos miliknya. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela dan melihat sosok pria dengan perawakan lumayan tinggi. Wajahnya terlihat tegas dengan bentuk wajah yang tirus, raut dan tatapan yang diberikan oleh pria itu sangat dingin. Pria itu mengenakan sebuah kemeja hitam berbalut jaket coat berwarna coklat krem berkerah tinggi. Rambutnya yang lurus pendek berwarna hitam terlihat ditutupi oleh topi cap berwarna abu-abu.

Sambil memasang raut wajah yang ramah, Izumo berkata kepada pria itu, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

"Aku mencari seseorang bernama Hagane Kotetsu." Pria itu berkata dengan nada datar. "Apakah ia ada di sini?"

"Ah, anda mencari kawan saya ternyata." Izumo mencoba membalasnya dengan ramah. "Kebetulan kawan saya sedang pergi ke kamar kecil sekaligus berpatroli. Kira-kira ada perlu apa ya dengan kawan saya?"

"Aku hanya ingin mengobrol dengannya sebentar." Pria itu kembali berkata dengan nada datar.

"Uh, dinginnya," batin Izumo. Kemudian, ia kembali berkata dengan ramah, "Kalau begitu, anda bisa menunggu kawan saya di sini. Mungkin sebentar lagi ia akan kembali ke mari."

Pria itu hanya mengangguk saja hingga Izumo memutuskan untuk membuka sedikit pintu gerbang akademi itu agar pria itu bisa masuk. Setelah itu, ia mempersilakan pria itu untuk duduk di salah satu kursi di pos itu sembari ia pun melanjutkan pekerjaannya yang sedikit tertunda.

Izumo melirik ke arah pria itu. Pria itu hanya menatap kosong dan datar ke arah gedung akademi, seolah-olah ia merupakan seorang pemangsa yang menantikan mangsa miliknya muncul di hadapannya. Izumo sedikit bergidik memikirkannya.

"Sebenarnya masalah apa yang kau buat, kawan?" batin Izumo dalam hati.

Tiba-tiba saja, pria itu berdiri secara mendadak hingga kursi yang ia duduki jatuh terjungkal ke belakang. Sontak hal itu mengagetkan Izumo. "Ada apa, Tuan?" tanyanya.

Pria itu tidak menanggapi perkataan Izumo, ia hanya melangkah pelan meninggalkan pos dan berjalan ke arah gedung akademi. Izumo keheranan melihat tingkah laku pria itu, namun selang berikutnya, ia melihat sosok Kotetsu tengah berjalan ke arah pos dari kejauhan.

"Apa pria itu tahu kalau Kotetsu sebentar lagi sampai ke pos, makanya dia memutuskan keluar dari pos untuk menghampirinya?" batin Izumo bertanya-tanya.

Sementara itu, Kotetsu tengah berjalan santai sambil bersiul dengan cukup keras. Ia baru saja selesai ke kamar mandi dan berpatroli keliling akademi, mencoba untuk menangkap siswa yang berusaha kabur dari jam pelajaran. Meskipun baru dua tahun saja akademi ini berubah dari akademi khusus perempuan yang ketat menjadi akademi umum, tapi tabiat murid-murid berandal pasti akan muncul di mana pun.

Ketika ia hampir sampai di pos, ia tiba-tiba terdiam sambil merinding ketakutan. Di depan sana, tampaklah sosok pria yang tadi ia lihat tengah berada di ujung jalan luar akademi kini menatap tajam ke arahnya. Pria itu menyunggingkan senyum dingin kepadanya.

"Sudah lama tidak berjumpa ya, Kotetsu." Suara datar nan dingin terdengar di telinga Kotetsu. Kotetsu semakin merinding ketakutan. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.

"P-pak Hanamura?" Kotetsu mengucapkan sebuah nama sambil sedikit terbata-bata.

Pria yang dipanggil Hanamura itu tetap mempertahankan senyum dinginnya. "Kau tahu 'kan mengapa aku ke mari?" tanyanya.

"S-saya minta tolong ke Pak Hanamura untuk memberikan saya tambahan waktu. S-s-saya berjanji akan melunasi hutang s-saya." Kotetsu jatuh berlutut sambil memohon kepada pria itu. Kata-katanya terdengar serak karena ketakutan.

Pria itu tidak menghiraukan perkataan Kotetsu. Matanya memberikan tatapan bengis ke arah Kotetsu. "Kesabaranku sudah habis, Kotetsu. Karena itu, kalau kau tidak bisa membayarku dengan uang, bayarlah dengan nyawamu."

Setelah itu, muncullah tato berbentuk taring berwarna-warni layaknya kaca mozaik di pipi dan dagu pria bernama Hanamura itu. Kotetsu yang melihat itu langsung merasa ketakutan.

"AHHHHHH!!!"

Sebuah teriakan keras bergema hingga mengagetkan hampir seluruh orang di akademi. Izumo yang tahu kalau itu adalah teriakan dari Kotetsu langsung menoleh dan melihat tubuh pria yang tadi mencari Kotetsu tengah berdiri di dekat sesuatu yang seperti tubuh manusia namun transparan layaknya kaca. Izumo langsung berjalan menghampiri pria itu.

"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi? Di mana kawan saya?" tanya Izumo yang keheranan.

Pria itu berbalik menampilkan wajah yang langsung membuat nyali Izumo langsung menciut. Wajah yang penuh dengan tato taring berwarna-warni layaknya kaca mozaik beserta tatapan bengis ditujukan ke arah Izumo.

"Kawan anda?" Kata-kata pria itu semakin membuat Izumo ketakutan. "Apakah kau mau bertemu dengannya sekarang?"


.

~.~

.


Beberapa saat sebelum kejadian itu terjadi, Naruto tengah berada di suatu ruangan di gedung lama akademi. Ruangan itu hampir sama seperti ruang workshop di rumahnya yang penuh dengan kayu-kayu, las dan beragam alat lainnya untuk membuat biola. Ruangan itu adalah ruangan khusus yang diberikan oleh Kepala Akademi Kuoh kepadanya atas prestasinya sebagai juara nasional dua tahun berturut-turut. Selain itu, semua biola yang dimiliki akademi diberikan kepadanya untuk dirawat dan ia mendapatkan uang karena itu, bahkan beberapa biola yang ia anggap gagal malah dibeli oleh kepala akademi ataupun murid-murid yang lain.

Pada saat ia di kantin tadi, ia mendapatkan permintaan dari salah satu anggota klub musik untuk mengecek biola miliknya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengeceknya setelah pamit ke Momo dan Tomoe.

Setelah masuk ke ruangan khusus miliknya, ia langsung mengganti seragamnya dengan sebuah kaus polos berwarna putih dan sebuah celemek kulit berwarna coklat. Ia melihat dengan teliti setiap sisi dari biola itu. Ia membawa biola itu ke dekat telinganya dan ia pun memetik senar-senar biola itu.

"Hm ... ternyata ada senar yang sumbang," katanya.

Ia pun mencoba untuk menyetel ulang senar itu agar nadanya bisa pas dengan nada yang seharusnya. Untung bagi Naruto, ia mewarisi pitch sempurna dari ayahnya sehingga ia tidak perlu menggunakan alat bantu untuk menyetel ulang senar-senar itu.

Akan tetapi, salah satu baut untuk menyetel senar biola itu sudah rusak. Naruto pun menaruh biola itu di atas meja dan mengambil alat-alat miliknya untuk membenarkannya. Tiba-tiba saja, seekor kelelawar mekanik terbang masuk melalui jendela ruangan itu dan hinggap di sebuah kandang mirip kandang burung, namun berbentuk seperti biola.

"Dapat orderan baru lagi, Naruto?" tanya kelelawar itu.

"Iya." Naruto menutup laci perkakas miliknya. "Kukira hanya perlu menyetel ulang senar-senar biola itu, tapi ternyata bautnya ada yang rusak jadi harus diganti."

"Ohh ..." Kelelawar itu terdiam sejenak, dan tiba-tiba ia berkata, "Oh ya, tadi pagi kau terlambat 'kan? Apa kau tadi tiba-tiba menemukan bahan baru untuk membuat Red Rose versimu sendiri?"

"Tidak," tukas Naruto sambil tersipu. "Aku hanya ... bertemu seseorang."

"Bertemu seseorang?" Kelelawar itu keheranan. "Tumben sekali kau tiba-tiba bertemu seseorang. Apakah kau sudah janjian sebelumnya?"

"Itu juga tidak." Naruto mengatakan hal itu sambil memperbaiki biola milik temannya itu. "Aku bertemu seseorang karena aku mencari sumber suara dari musik yang menarik perhatianku."

Kelelawar itu mangut-mangut saja. "Cewek ya?"

"Iya," jawab Naruto secara singkat.

"Jadi ... kau suka dia pada pandangan pertama ya?"

Naruto hampir saja menjatuhkan biola yang ia pegang setelah mendengar perkataan kelelawar itu. Naruto menatap kelelawar itu dengan pandangan kesal. "Apa maksudmu, Kivat?"

"Ayolah kawan." Kelelawar yang dipanggil Kivat itu sedikit terkikik pelan. "Kita sudah bersama sejak lama, jadi aku bisa menebak kalau kau ada sedikit rasa dengan perempuan itu."

"Bukan begitu, Kivat. Aku hanya tertarik dengan musik yang dia mainkan saja," tukas Naruto sambil kembali membetulkan biola itu. "Kau tahu 'kan tentang suatu hal yang kupegang selama ini?"

"Tentang 'Musik sejati adalah gambaran sejati hati seseorang' 'kan? Aku sudah tahu itu."

"Nah, aku hanya tertarik dengan musik yang ia mainkan. Terkadang lagu yang dikenal sebagai lagu gembira bisa menjadi lagu yang sedih jika aransemennya berubah bergantung pada musisi yang memainkannya," jelas Naruto.

"Ya ... ya ... terserah kau sajalah, Naruto." Kivat hanya memutar bola matanya dengan malas.

Namun tiba-tiba saja, sebuah suara dengungan seperti suara senar-senar biola yang bergetar terdengar di telinga Naruto dan Kivat. Naruto sedikit terkesiap.

"Itu ... suara Red Rose," kata Naruto.

"Aku juga merasakan hawa Fangire di dekat sini," tukas Kivat.

Naruto mengangguk. Kemudian, ia menoleh ke arah Kivat. "Ayo, Kivat."

"Siap."

Kemudian, keduanya pergi keluar dari ruangan itu. Di sisi lain akademi, dua orang perempuan juga merasakan hawa yang aneh di sekitar mereka. Yang pertama adalah Sona Sitri, Ketua Komite Siswa Akademi Kuoh yang kini tengah berada di ruang Komite Siswa, sedangkan yang satu lagi adalah Rias Gremory, seorang murid tahun ketiga dan juga sekaligus ketua dari Klub Persatuan Ilmu Gaib yang terletak di gedung lama tak jauh dari ruang bengkel milik Naruto.

Keduanya sontak terkejut ketika merasakan hawa aneh itu. "Ini ... hawa makhluk supranatural," batin mereka secara bersamaan.

Kembali ke Naruto. Kini, ia sudah ada di bawah pohon di halaman dekat gedung lama akademi. Ia melirik ke sana-kemari, memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang melihat dirinya. Setelah ia memastikan bahwa tidak ada siapa pun di sana, ia pun memanggil Kivat, "Kivat!"

Kivat pun terbang rendah mendekati Naruto sambil berkata, "Yosh ... waktunya beraksi."

Tangan kanan Naruto menangkap tubuh Kivat dan mengarahkannya ke tangan sebelah kirinya. Kivat pun membuka mulutnya

[BITE]

Kemudian, Kivat menggigit tangan kiri Naruto dan muncullah tato-tato berbentuk taring berwarna-warni seperti kaca mozaik, mulai dari tangan, kaki, badan hingga leher, pipi dan dagunya. Setelah itu, sebuah jejaring rantai muncul melingkari pinggang Naruto hingga membentuk sebuah sabuk berwarna merah darah.

Di kedua sisi samping sabuk itu terdapat wadah untuk menyimpan beberapa item berbentuk seperti peluit, sedangkan di bagian kepala sabuk itu berbentuk seperti ranting tempat hinggap seekor kelelawar. Naruto menjulurkan tangan kanannya ke depan sambil berkata, "Henshin!"

Setelah itu, ia menaruh Kivat di kepala sabuk itu layaknya seekor kelelawar yang menggantung pada sebuah ranting. Tiba-tiba, tubuh Naruto dililiti oleh jejaring rantai yang saling bertautan hingga menutupi seluruh badannya.

Tak lama kemudian, tubuh yang ditutupi rantai itu sedikit membengkak dan pecah, memunculkan sosok ksatria dengan armor gabungan berwarna hitam, merah dan perak. Helm ksatria itu memiliki motif layaknya kelelawar dengan bagian lensa matanya berwarna kuning terang. Rantai-rantai terlihat meliliti pelindung bahu dan kaki milik ksatria itu.[1]

Lalu akhirnya, Naruto yang kini telah berbalut baju armor ksatria bermotif kelelawar itu langsung berlari ke arah gedung baru akademi tanpa menyadari bahwa ternyata ada seseorang yang melihat transformasinya menjadi sosok ksatria itu.

Orang itu adalah seorang gadis berambut panjang berwarna biru kehitaman. Ia memiliki lekuk tubuh yang pasti membuat banyak gadis seumurannya akan berteriak iri kepadanya, meski tubuhnya ditutupi oleh seragam akademi itu. Parasnya yang cantik dengan matanya yang beriris warna oranye menatap sayu ke arah Naruto.

"Ara ... tidak kusangka seorang pemegang julukan Violin Prince dan Weird Prince memiliki rahasia seperti ini. Sebaiknya aku melaporkan hal ini kepada Ketua Rias," kata gadis itu.


.

To be Continued

.


Halo semuanya, kembali bersama saya, FI.Antonio no Emperor. Tak terasa sudah dua bulan lebih setelah terakhir mengupdate fic ini, semoga para readers sekalian masih menunggu kelanjutan dari fic ini. Chapter kali ini mulai memunculkan konflik pertama yang akan dihadapi oleh Naruto. Di mana seorang Fangire bernama Hanamura tanpa disangka mengincar salah seorang penjaga akademi tempat Naruto menimba ilmu.

Ngomong-ngomong bagi kalian yang belum tahu mengenai Fangire, akan kujelaskan juga pada Author note kali ini. Fangire merupakan makhluk supranatural yang memiliki karakteristik yang hampir sama seperti Vampire, hanya saja jika semua Vampire memiliki bentuk sejati berbentuk kelelawar, bentuk sejati dari Fangire ada bermacam-macam. Mulai dari kuda, laba-laba, dan lain-lain. Selain itu, Fangire menghisap esensi kehidupan manusia hingga tubuh manusia berubah menjadi seperti patung kaca, berbeda dengan Vampire yang hanya menghisap darah manusia.

Fangire merupakan makhluk fiksi yang dibuat oleh Toei Production untuk menjadi ras villain utama di serial Kamen Rider Kiva. Untuk lebih detailnya, akan disampaikan sepanjang alur cerita ini.

Dan bagi kalian yang menunggu Naruto berubah menjadi Kamen Rider Kiva, rasa penantian kalian terpuaskan di chapter ini. Namun ada seseorang yang mengetahui transformasi yang dilakukan Naruto. Siapakah dia? Pasti kalian kenal dengan sosok tersebut.

Chapter berikutnya akan menjadi debut action Naruto melawan Fangire di Akademi Kuoh, yang pastinya akan mengundang rasa penasaran dari kedua pewaris klan Iblis, yaitu Sona dan Rias. Ngomong-ngomong alur cerita dari fic ini akan mengambil alur semi-canon. Ada beberapa kejadian yang pastinya sama seperti alur sebenarnya dari Highschool DxD, namun tentu saja konflik Naruto sebagai Kiva juga akan tersaji di sini.

Mungkin itu saja dari saya, apabila ada kesalahan, saya mohon maaf sebesar-besarnya.

Akhir kata, sampai jumpa di chapter berikutnya.


[1] search di google dengan kata kunci 'penampilan sosok Kamen Rider Kiva'