Warn : Hati-hati sakit mata


"Meskipun kami telah jatuh dari kasih karunia Ayah, jangan pernah anggap remeh jenis kami. Pastikan saja suatu saat dimasa yang mendatang, kalian akan siap menanggung akibat apa yang telah kalian lakukan kepada kami!"

Kokabiel - Angel of The Stars.


Dia tidak bisa berfikir lagi.

Tidak bisa menerima apa yang telah terjadi pada dirinya sendiri.

Pada awalnya dia mengira bahwa dia bisa menghadapi manusia fana yang telah bertanggung jawab atas pembasmian beberapa anak buahnya dengan mudah.

Tapi tidak...

Disini, dimana didalam barrier yang telah dia ciptakan khusus untuk dirinya memberi beberapa pelajaran, sekaligus melihat seberapa kuat makhluk fana yang dihadapinya.

Dia tercabik-cabik...

Dia kalah oleh kekuatan yang diketahuinya sebagai chakra yang digunakan oleh beberapa Youkai, yang anehnya dapat digunakan oleh manusia didepannya.

Seakan-akan itu hal yang wajar ketika melihatnya menggunakan chakra secara lebih efisien; bahkan lebih efisien dari beberapa Youkai kuat yang pernah dilawannya.

Dia tidak pernah berfikir bahwa dia akan berantakan hanya untuk melawan seseorang, yang tanpa Artefak Ayahnya yang disebut Sacred Gear.

Sial, bahkan hanya beberapa makhluk yang bisa mengalahkannya, bahkan hanya berfikir seimbang dengannya itu sudah termasuk sangat beruntung.

Tapi disini, bukti telah tertoreh didepannya.

Manusia ini kuat, bahkan bisa dikatakan jika dia lebih kuat dari seseorang dengan Sacred Gear. Tidak bisa dibiarkan, manusia didepannya telah masuk sebagai ancaman serius untuknya dimasa depan. Dimasa dimana dia akan memulai segalanya dari awal lagi, dan dia tidak akan membiarkan ancaman didepannya mengganggunya untuk ambisinya.

Pada awalnya ketika beberapa anak buahnya yang tidak berguna hilang kontak dari laporan, dia tidak pernah berfikir untuk lebih peduli lagi. Tapi tetap, semakin tahun berlalu, semakin banyak dia kehilangan bawahan yang dapat dia gunakan untuk ambisinya dimasa depan, bahkan beberapa dari mereka adalah Kejatuhan yang kuat untuk sedikitnya.

Dan ketika dia tahu jika beberapa bawahannya menghilang disatu kawasan semakin menambah ketidaktenangannya, dan dia mulai beberapa penyelidikan menggunakan beberapa bawahannya, dan berhasil. Meski awalnya dia ragu, ragu ketika menemukan jika itu hanyalah manusia tanpa Sacred Gear, tapi aura tentangnya tidak bisa membohonginya. Itu menegaskan jika manusia tersebut memiliki sumber kekuatan yang lain, yang masuk pada pikiran awalnya adalah mungkin dia manusia reinkarnasi, seperti anggota Fraksi Pahlawan; yang dari diketahuinya bahwa pemimpin dan anggota Fraksi tersebut adalah orang-orang reinkarnasi dari pahlawan masa lalu.

Sungguh betapa salahnya dia...

Dia tidak tahu jika manusia didepannya bukanlah reinkarnasi pahlawan masa lalu, bahkan dia yakin jika tidak ada pahlawan manusia dimasa lalu tidak ada yang bisa menggunakan chakra. Karena seperti fakta mutlak yang banya diketahui didunia supranatural, chakra hanya untuk diperuntukan untuk para Youkai.

Bukti telah dikuatkan ketika dia menemukan beberapa aliran aura yang mengitari hutan kuoh beberapa bulan belakangan, itu terasa lebih murni dari hari ke hari. Dan dari situ dia menemukan lalu lalang manusia tersebut di beberapa bagian hutan, yang mulai diikutinya hingga sekarang.

Yang mengembalikannya pada pertanyaan awalnya, 'bagaimana' dan 'siapa' sebenarnya manusia yang dilawannya ini...


Terengah-engah dan berdarah dibeberapa sisi...

Itu yang dialami oleh Kokabiel saat ini, dia salah satu Cadre Grigori, salah satu kekuatan yang cukup diwaspadai saat Great War bersama beberapa petinggi yang lain saat itu, babak belur ketika dipertemukan dengan kekuatan yang dipertunjukan oleh manusia didepannya.

Yang dilihatnya sekarang adalah bahwa, energi yang diketahuinya sebagai chakra tersebut seakan tak berkurang secuilpun, bahkan dia tahu jika manusia itu mengerahkan semuanya, dia telah menghilang dari awal.

Apapun yang dilakukannya seakan tak berarti sedikitpun bagi manusia itu, dia yang dikatakan sebagai ahli pedang pun tidak bisa menyamai berbagai benturan kekuatan dengannya.

Dia yang awalnya ingin mengevaluasi malah berganti seperti dirinya sendiri yang meminta evaluasi kepada manusia didepannya.

Semuanya tidak berarti apa-apa...

Menyedihkan...

Hanya itu yang terlintas dibenaknya ketika dia melirik dirinya sendiri yang penuh luka, sedangkan manusia didepannya masih sehat bugar, bahkan tergores pun tidak. Segila apa pertarungan yang pernah dilaluinya. Bahkan kecepatan yang digunakannya tak berarti apa-apa ketika pirang didepannya dengan reflek yang seakan hanyalah sekedar omong kosong bisa menghindari semuanya.

Bahkan hanya dengan satu tangan masih tidak bisa meninggalkan secuil goresan pun.

"Sudah? Hanya itu yang bisa kau lakukan?"

Suara datar yang berasal dari pirang didepannya berhasil menaikkan amarahnya, yang sedari tadi sudah menumpuk sepanjang pertarungan berlangsung. Dia harus tetap tenang, dia adalah salah satu petinggi Grigori yang suatu saat akan dibawanya untuk menduduki puncak dunia supranatural. Persetan dengan Azazel dan obsesinya dengan Sacred Gear, yang menurutnya sangat melenceng dari apa yang diinginkannya untuk jenis mereka.

Mengatur nafas sebentar, lalu dia menegakkan kembali tubuhnya, "Kuakui kau kuat, Ningen." Dia mulai memandang dengan lebih tajam pada blondie didepannya. Mengangkat satu tangannya, tak selang sedetik ratusan tombak tercipta dengan dengungan yang cukup memekakkan telinga. "Tapi masih bisakah kau menghindari yang satu ini?!"

Tangan yang terangkat diturunkan, dan seakan-akan diberi aba-aba. Ratusan tombak yang diciptakannya meluncur kebawah, mengarah pada satu tempat, dan itu tepat pada manusia pirang didepannya.

Dan ketika tombak pertama tepat satu meter jaraknya untuk mengenai manusia tersebut, Kokabiel melihat kilatan merah mempesona berkibar terang pada mata yang terlihat pada pirang didepannya.


Bosan...

Naruto benar-benar bosan.

Dia kira akan mendapatkan sesuatu yang bagus mengingat berapa jumlah sayap yang dilihatnya dari Kejatuhan didepannya. Ternyata hal itu hanyalah angan-angan semata. Untung barang belanja masih aman dari tombak nyasar yang dilemparkan secara brutal ketika dia menaruhnya dipinggir jalan, Kuro pun tahu bahaya yang akan ditimbulkan pertarungan yang menyebabkannya menyingkir pada kontak awal pertarungan.

Berfikir untuk mengumpat pun sepertinya percuma ketika mendapati dirinya dengan segala kesialan yang percuma menimpanya.

"Yah, tapi dibalik kesialanmu kau masih mempunyai keberuntungan bersamaku!"

Keringat Naruto turun ketika mendengar seruan semangat dari Choumei.

"Kupikir keberuntungannya hanya keluar ketika dia memasuki suatu tempat judi saja, dan itu bahkan sebelum dia bertemu denganmu." Kurama menyangkal, "ingatkan aku ketika kau dipaksa untuk memasuki tempat judi oleh ayah baptismu? Kau hampir membuat tempat itu tutup jika tidak dihentikan oleh staf rumah judi itu?"

'Kumohon, jangan ingatkan aku tentang itu...'

"Ya! Tapi semenjak bertemu denganku keberuntungan Naruto bertambah!"

"Dan mana yang bisa kau jadikan bukti untuk itu?"

"Uuh, dia selamat dari kepungan para wanita di onsen ketika dia salah masuk ke pemandian wanita?" Gumaman tidak yakin berasal dari Choumei.

Wajah Naruto memerah ketika mengingat hal memalukan tersebut, meski dia telah melihat beberapa tubuh wanitaーsalahkan ayah baptisnya yang selalu menggunakan dirinya sebagai bahan penelitian, ketika mereka beberapa kali berada di rumah bordil dalam perjalanan pelatihan yang dilaluinya. Tetap saja dia tidak terbiasa hingga sekarang, dia masih laki-laki normal bung!

"Bukankah itu karena dia kebetulan juga menggunakan sharingan untuk menghindari amukan?"

"Eh? Apa iya?"

"..."

Keheningan memenuhi ruang dalam kepalanya untuk beberapa waktu. Sial, tapi dia yakin bahwa Kurama sedang mengarahkan tatapan ikan mati pada Choumei.

'Erm, teman-teman, bisakah kalian diam untuk beberapa saat? Aku sedang sibuk disini...'

"Nah, itu pertarunganmu kit, jangan pedulikan kami."

Tanda centang muncul dikepala Naruto, 'Bagaimana aku bisa tidak peduli jika suara kalian menembus dalam kepalaku?!'

"Kit..." Kurama menggeram pelan, "lupakah kau apa guna dari Link? Kau bisa memutuskan Link kita untuk sementara."

Ekspresi kesadaran muncul diwajah Naruto, 'O-oh... M-maafkan aku, aku lupa.'

"Dan disini kau tidak ingin dipanggil idiot."

'Diam, bola bulu!'

"Bukankah lebih baik kau segera mengakhiri ini? Aku sungguh bosan melihat pertukaran yang menyedihkan ini, kau tahu."

'Akupun juga mulai bosan, sialan!'

"Lalu apa?! Segera saja akhiri semua ini dan pulang kerumah, Nak!"

'Baik baik, Shukaku. Aku tahu.'

Memutar mata malas dan segera mengakhiri link mereka, tatapannya kembali kepada Kejatuhan yang menyebut dirinya Kokabiel.

"Sudah? Hanya itu yang bisa kau lakukan?"

Provokasinya terbukti berguna ketika melihat wajah lawan didepannya memerah karena marah, tapi itu tak lama ketika dia melihatnya mengatur nafas sesaat dan mulai tenang.

Mulai bersiap ketika dia melihat Kokabiel mengangkat satu tangannya dan fluktuasi energinya meningkat.

"Kuakui kau kuat, Ningen." Mengangkat alisnya ketika melihatnya berbicara seakan ingin mengakhiri pertarungan dengan serangan penghabisan yang sangat dirinya kenal. Oh sungguh sialan, tebakannya terjawab ketika dengungan mulai menggema disertai dengan terciptanya ratusan tombak yang memenuhi langit malam. "Tapi masih bisakah kau menghindari yang satu ini?!"

Hujan tombak membuatnya bersiap dengan memompa sejumlah chakra kearah matanya, yang membuatnya berubah dari mata sehitam arang menjadi merah dengan ornamen bagai bintang segi enam.


Boom...

Jantung Kokabiel berdetak kencang bagai irama yang mengalir ketika menunggu redanya sekumpulan debu tempat manusia didepannya berada, berharap serangannya memberi dampak. Tapi seakan takdir menertawakannya, dia bisa melihat beberapa kilauan ungu redup didalam debu. Dan ketika debu itu menghilang sepenuhnya, terungkaplah kilauan ungu tadi berasal dari lawannya yang sama sekali tidak terluka, kilauan ungu yang sama yang membentuk sesuatu yang menyerupai tulang rusuk melindungi lawannya dari ledakan yang tercipta dari hujan tombaknya.

Berkeringat deras ketika menemui jalan buntu, tidak mengira jika serangan yang pastinya bisa membuat beberapa iblis kelas atas bahkan sekelas Maou akan terluka bisa dihalau seakan itu bukanlah hal yang membahayakan, bahkan manusia tersebut tidak bergeser se-inchi pun.

Tatapan tajam dari mata tunggal yang terlihat dari Naruto seakan menjadi sebuah bentuk peringatan tertentu bagi Kokabiel, ledakan kecil kekuatan dari Naruto mengalir yang membuat Kokabiel sekilas melihat permata ungu metalik yang tersembunyi dibalik rambut yang menutupi mata kirinya. Dan dia mendengar sesuatu diucapkan dari mulutnya, sesuatu atau sebuah nama yang sangat amat dikenalnya sebagai salah satu pemimpin utama Shinto.

"Amaterasu"

Perasaan yang semula hangat menjadi panas, mengalahkan panas yang pernah dideranya tercipta di tangan kirinya. Jeritannya pun mengisi malam yang sebelumnya sunyi.

Dia melihatnya, Kokabiel melihat tangan kirinya terbakar dengan hebat oleh api hitam. Mencoba mengirim sapuan energipun percuma ketika melihat api itu seakan memang berasal dari tangannya, mengambil keputusan cepat namun beresiko, dia pun segera membuat pedang cahaya dan segera memotong tangan kirinya hingga ke pangkal lengan, melompat mundur menjauh dari jangkauan api itu, dia berakhir berlutut dengan aliran darah dari hasil menghilangnya satu lengannya.

Naruto hanya melihat dengan malas adegan didepannya. "Kau mendapatkan beberapa rasa hormat dariku, Gagak Elf." Berbicara pelan pada Kokabiel, dia melanjutkan, "tidak banyak orang yang akan melakukan hal nekat sepertimu, kecuali beberapa orang tentunya. Biasanya mereka hanya berusaha memadamkan api yang ternyata tidak bisa mereka padamkan hingga berakhir menjadi debu, kau tahu?"

Kokabiel membeku ketika menerima fakta tersebut, secercah rasa bangga terselip ketika mendengar hal itu, tapi perkataan selanjutnya malah membuat dirinya menggigil ketika membayangkan dirinya menjadi debu jika melakukan apa yang dilakukan korban sebelum dirinya.

"Api hitam apa itu?" Pertanyaan dengan suara lemah yang lolos dari Kokabiel cukup untuk sampai pada Naruto yang masih memandangnya.

"Api hitam, yang kami kenal sebagai Amaterasu, api neraka, api tertinggi dari elemen api, atau api yang membakar segalanya hingga menjadi debu, bahkan jika itu sesama api. Kau cukup beruntung jika lolos darinya."

'Kami? Jangan bilang jika masih ada yang bisa menggunakan api yang terbukti berbahaya tersebut selain dia?' Kernyitan tercipta di dahi Kokabiel ketika menangkap keanehan yang sangat jelas dari kalimatnya. 'Jika memang benar ada beberapa orang yang sama bisa mengendalikan api itu, maka rencanaku terbukti akan terhambat jika bertemu mereka sebagai lawan dalam waktu dekat.'

Meringis mencoba untuk berdiri, 'aku harus menemukan cara bagaimana untuk mengalahkannya tanpa terkena api itu.'

"Untuk kali ini akan kubiarkan kemenangan menjadi milikmu, Ningen. Tapi jangan harap dipertemuan selanjutnya kau tetap memegang kemenangan."

Peringatan tersebut bagai angin lalu ketika sampai pada Naruto, dia terlalu malas mendengarkan ocehan yang terbukti membosankan di tiap pertemuan dengan beberapa lawan yang kabur ketika menghadapinya.

Kokabiel yang melihatnya pun merasa ingin menghabisi manusia tersebut ketika ancamannya terbukti tidak didengarkan. Tapi dia tahu, dia tahu bahwa tidak mungkin untuk mengalahkannya untuk sekarang bahkan dikondisi prima nya pun dia masih ragu. Tapi saat rencananya telah dijalankan, jangan harap dia akan kalah.

Hembusan angin tercipta ketika sayapnya sekali lagi terlihat untuk dunia, dia berbalik dan mulai membentangkan sayapnya. Melirik kebelakang untuk terakhir kalinya, mata yang mulai dinaungi kebencian yang lebih kelam tercipta yang diarahkannya pada Naruto yang tetap diam, semburan anginpun menjadi tanda menghilangnya Kokabiel beserta retaknya sesuatu yang Naruto kenali sebagai Kekkai ketika melihat Kokabiel hilang ditelan gelapnya malam Kuoh.

Untuk beberapa saat Naruto tetap berdiri diam dan mengalihkan pandangannya pada sisa tangan yang masih terbakar, sebelum mulai berjalan menuju beberapa kantong belanja yang tergeletak dipinggir jalan. Memungutnya dan melihat seandainya ada beberapa yang hilang, dia mengangkat bahu ketika menemukannya utuh tanpa kekurangan apapun, dan mulai berjalan pulang.

Mengabaikan mata abu-abu dengan pupil celah yang mengintipnya dari awal pertarungan didalam retakan yang mengambang dilangit.


"Kau lihat itu, Vali?"

Suara berasal dari seorang pria jangkung dengan perawakan di pertengahan 20-an dengan rambut hitam disertai poni pirang, janggut hitamnya menghias permukaan wajahnya. Kimono hitam yang marak dikenakan oleh rata-rata orang jepang membalut tubuhnya.

"Aku tidak buta untuk melihat itu, Azazel!"

Berbicara dengannya adalah Vali, murid sekaligus putra asuh Azazel. Seorang pemuda tampan 168cm berambut perak, bermata coklat, mengenakan kemeja V-neck hijau tua dengan jaket kulit hitam berkerah tinggi di atasnya. Dia juga mengenakan jeans burgundy dengan rantai perak terkulai di atasnya dan kulit hitam dengan tiga pita melingkari betis kanannya, dan sepatu hitam dengan gesper hitam.

Saat ini mereka berada diatas gedung pencakar langit, yang berjarak sekitar seratus meter dari tempat bekas pertarungan yang sebelumnya terjadi.

"Hmhm, aku tahu dia kuat, tapi aku tak menyangka jika dia bahkan bisa menendang pantat Kokabiel tanpa usaha." Mengadopsi pose berfikir, Azazel bergumam pada diri sendiri, yang sayangnya gumaman tersebut terdengar jelas oleh Vali.

"Kau mengenalnya?"

Tersadar ketika mendapat pertanyaan yang ditujukan untuknya, "Aku? Tidak. Aku hanya tahu beberapa tentang dirinya." Berhenti sebentar dan kembali melanjutkan, "aku mendapat beberapa laporan dari Shemhazai tentang beberapa pembangkang yang menghilang dari radar pengintaian."

Vali mendengus ketika mendengarnya, "Hmph, kukira kau mengenalnya."

Alis Azazel terangkat sebelah ketika pandangannya mengarah ke Vali. "Atau apa? Kau ingin aku mempertemukanmu dengannya dan membuatnya melawanmu?" Dia mendengus keras, "maaf saja, itu tidak mungkin. Bahkan aku ragu mendekatinya, tapi untuk kedepannya mungkin aku bisa berbicara dengannya mengenai beberapa hal."

"Dan mengapa kau begitu yakin dengan itu?"

"Tidak lihatkah kau tentang tingkah lakunya beberapa waktu ini? Dia hanya memusnahkan beberapa Kejatuhan yang membangkang dan iblis liar saja, Nak." Azazel menjawab dengan keyakinan penuh.

Mendengar itu Vali hanya memalingkan mukanya menghindari tatapan Azazel. "Hmp, aku tidak peduli dengan itu. Yang kupedulikan hanya melihat seberapa kuatnya dia ketika datang dipertarungan yang akan kita jalani."

Azazel hanya menunjukan tatapan mati pada Vali, "harusnya aku tahu jika itu hanya berguna untuk memuaskan rasa bertarungmu. Harus kau tahu Vali, kau harusnya menikmati masa mudamu dengan beberapa gadis seusiamu, daripada bertarung yang suatu saat akan membuatmu kehilangan nyawa."

Nasihat Azazel terbukti sia-sia ketika dia melihat Vali mengambil langkah berbalik dan mulai menjauh, sayap mekanik biru keperakan keluar dari punggungnya menandakan dia akan segera meninggalkan tempat mereka mengobrol, hanya untuk berhenti sesaat.

"Dan harus kau ingat juga. Aku tidak peduli dengan hal remeh seperti itu, Azazel." Dengan itu dia terbang meninggalkan Azazel yang tetap duduk diam melihat kepergiannya.

Menghela nafas lelah, dia mulai memperbaiki posisi duduknya yang dirasa nyaman dan mulai memikirkan beberapa misteri tambahan yang didapatnya.

'Aku masih tidak bisa mengidentifikasi mata merahnya, dan sekarang bertambah dengan adanya api hitam yang tidak bisa dipadamkan.' Mengurut keningnya, dia mulai mengalihkan direksinya ke langit malam.

"Hahh, semua ini menambah pusing kepalaku, sepertinya aku membutuhkan beberapa minuman dengan beberapa gadis yang tersedia malam ini."


"Aku pulang."

Salam seperti biasa ketika dia menemukan kenyamanan tersendiri saat memasuki rumahnya. Langkah kakinya membawanya ke dapur untuk meletakkan beberapa bahan makanan dilemari pendingin, dia mendapati Kuro menatapnya dimeja makan.

"Kau kucing kecil yang baik bukan?" Mengambil piring kecil dan mulai mengisinya dengan beberapa daging, tidak lupa juga menuang susu dalam mangkuk kecil yang tersedia sebelum mengembalikan sisanya menuju pendingin.

Dia mulai duduk dikursi dapur yang tersedia dan mulai menatap lahapnya Kuro menghabiskan segala yang disediakannya. Tangannya mulai menjalari tubuh hitam Kuro dan mulai mengelus bulu lembutnya, menghasilkan beberapa dengkuran senang dari empunya.

"Kenapa kau melepasnya?"

Pertanyaan dari Kurama yang berasal dari dalam kepalanya menghentikan sejenak kegiatan yang sedang dijalaninya, sebelum melanjutkannya lagi.

'Ingat apa yang dikatakannya saat pertama kali kita bertemu?'

"Jika tidak salah sesuatu tentang 'Ancaman untukku dimasa depan'"? Kurama membalas bingung, "bukankah itu hal normal untuk mereka orang lemah menemukan seseorang yang lebih kuat dari mereka?"

'Itu mungkin tidak salah.' Balas Naruto, 'tapi tidakkah kau merasa jika aktivitas mereka semakin ramai terjadi di Kuoh? Dan bahkan dia yang sebagai pemimpin kelompok itu yang membuntuti?'

"Jadi begitu, dengan kata lain maksudmu akan ada hal yang akan terjadi menimpa kawasan ini?"

"Kalian tidak berfikir ini kebetulan bukan?" Suara Matatabi menimpali.

'Kau sepertinya mendapatkan apa yang ku maksudkan.' Naruto menjawab dengan senyuman.

"Hey! Bisa beritahukan apa yang sedang kalian bicarakan? Jangan meninggalkanku dengan kegelapan, Sialan!" Teriakan marah berasal dari Shukaku membuat keringat Naruto turun.

"Yah, aku tidak akan menyangkal apapun mengingat otakmu hanyalah sekumpulan pasir berkedut." Ejekan Kurama menghasilkan teriakan tidak terima dari Shukaku dan berakhir dengan tantangan yang terlempar darinya.

"Bisakah kalian diam untuk sebentar!" Matatabi yang seakan bosan langsung membungkam kedua Bijuu yang saling bertengkar tersebut. "Yang kami maksud disini adalah, tidak mungkin jika aktivitas mereka hanya ramai disatu wilayah, ditambah dengan adanya sesuatu atau seseorang seperti Naruto yang selalu menghabisi anak buahnya disatu wilayah tetap, hingga membuat atasannya yang menyelidiki sendiri. Dia bilang tentang ancaman dimasa depan dan tentunya itu berarti dia memiliki rencana besar yang akan dilakukannya dalam beberapa waktu kedepan, dan biasanya dimana bos nya berada, maka disitulah akhir dari rencananya berjalan."

"Dan tidakkah kau merasa aneh jika kita bisa menebak, tentang Kuoh yang menjadi incaran terakhir?" Kurama menimpali, "Kuoh adalah Wilayah yang dipimpin oleh dua rumah iblis, Gremory dan Sitri." Berhenti sejenak sebelum dia melanjutkan lagi, "Yang berarti rencana akhirnya adalah mengincar dua pewaris keluarga tersebut. Entah itu untuk sesuatu yang pastinya berakhir buruk, mengingat ras-nya yang bersimpangan."

"Jadi maksud kalian, Gagak itu mengincar sesuatu yang menargetkan dua pewaris?" Shukaku bertanya saat kesadaranny mendapatkan gambaran yang diberikan.

"Benar." Matatabi menjawab, "dan yang kubingungkan, mengapa kau tidak segera menghentikannya, Naruto?"

Naruto menghela nafas sesaat, 'maafkan aku, bukan maksudku begitu. Aku hanya merasa jika hal ini akan memicu sesuatu yang lebih besar kedepannya.'

Para Bijuu diam ketika mendengarnya, seakan tidak ingin melanjutkan percakapan tersebut.

"Meong!"

Kesadaran menghantamnya ketika mendengar suara Kuro, dia melihat bahwa kucing tersebut telah menyelesaikan makannya.

Meraihnya dalam dekapan hangat, dia membawanya kedalam kamarnya. Meletakkan kucing tersebut di tempat tidur.

"Kau tunggu disini, aku akan pergi mandi sebentar."

"Meong."

Mendengar jawaban, dia segera lekas menuju kamar mandi dan melakukan kegiatan mandinya. Tak berselang lama dia keluar dengan hanya mengenakan celana olahraga, tak lupa pula dengan rambutnya yang basah tertutup handuk, yang masih diusapkan ke rambutnya bertujuan untuk segera mengeringkan rambut yang basah.

Segera menjatuhkan diri pada lembutnya kasur dan menemukan kenyamanan menuju alam mimpi.


Pagi Berikutnya...


Disebuah air terjun yang mengalir deras, terdapat beberapa pecahan besar puing-puing berserakan, terdapat pula patung yang saling berhadapan. Tempat yang sangat indah, indah sebelum kehancuran dari pertarungan yang terjadi menelan keindahan tersebut.

Disana, didasar air terjun tersebut terdapat dua orang yang saling berhadapan, seakan mewakilinya. Berdiri berhadapan dengan keadaan yang sangat menyedihkan, dimana masing-masing dari mereka compang-camping dengan tubuh penuh luka.

"Menyingkir dari jalanku, Naruto!"

Terengah-engah dengan beberapa darah segar yang masih mengalir dikepala dan beberapa lebam diwajah, Naruto menjawab. "Aku tidak akan membiarkanmu dengan ideologi bengkokmu, Sasuke!"

Sasuke mendengus keras, "kau keras kepala!"

Keadaan Sasuke pun tak berbeda jauh dengan Naruto, dimana darah dan lebam terlihat disekujur tubuhnya.

"Dan seperti itulah aku." Masih dengan nafas tersengal, dia melanjutkan. "Aku akan membawamu pulang, seperti janjiku pada Itachi. Bahkan jika aku harus mematahkan beberapa tulangmu untuk membawamu kembali, aku akan melakukannya."

"Jika memang itu yang kau inginkan, maka lebih baik kau mati."

Kicauan mulai terdengar ketika tangan kirinya diselimuti oleh percikan petir, bersiap mengeksekusi jurusnya kepada lawan didepannya. Seperti yang pernah dilakukannya dulu. Ya dulu, dulu ketika mereka masih berumur 13 tahun. Disini, ditempat yang sama yang sekali lagi akan menjadi tempat terakhir dia berjumpa dengan sahabatーtidak... saudaranya.

Tak berbeda dengan Sasuke, Naruto mengadahkan tangan kanannya. Dan disitu dia mulai menumpahkan titik-titik chakra yang dapat diambilnya, yang menghasilkan putaran kecil chakra. Membayangkan beberapa kilasan masa lalunya, pertemuan, perpisahan, dan ikatan yang dibuatnya, hingga tanpa disadarinya putaran chakra tersebut semakin membesar.

Mereka berlari untuk menentukan pertemuan, yang akan menjadi akhir dari salah satu jalan yang dipercayai masing-masing dari mereka.

"NARUTO!"

"SASUKE!"

Ring... Ring...

Membuka mata perlahan, Naruto mendudukan dirinya sambil mengusap matanya, menghilangkan beberapa kotoran mata. Melihat jam yang menunjukan pukul 07:15.

Dia segera berdiri, berjalan menuju kamar mandi melakukan rutinitas paginya. Setelah selesai dia segera mengganti setelannya menjadi sepasang jaket olahraga hitam dengan celananya yang serasi dengan atasannya.

Berjalan keluar dari kamar, tidak sadar dengan menghilangnya selimut dan penghuni yang lain.

Menuju dapur berniat membuat sarapan untuk dirinya sendiri.

Hanya untuk membeku diam dengan mulut menganga ketika melihat pemandangan didepannya.

"Ohayou~"

Tersadar dari terkejutnya, hanya satu kata yang terucap sebagai gumaman sebagai balasannya.

"Oh sial."

"Nya~?"


Terima kasih untuk reviewnya, senang jika kalian menikmati karya abal-abal saya.

Seperti yang tercantum di Bio saya, update saya tidak akan menentu karena ini hanyalah ketikan ketika saya ingin menghabiskan waktu. Jadi mohon maaf bila updatenya bisa membuat berkarat bagi anda yang menunggunya.

Yang bisa saya katakan hanya, saya akan berusaha fokus pada cerita ini dan menyelesaikannya.

Hanya itu yang bisa saya katakan, sekali lagi terima kasih atas reviewnya.

06-06-2023