Disclaimer : Naruto dimiliki oleh Masashi Kishimoto, dan Sword Art Online dimiliki oleh Reki Kawahara. Saya hanya pembuat plot dan beberapa unsur tambahan di fanfict ini saja, Peace.
"Blablabla..." Percakapan Normal.
"Blablabla..." Percakapan dalam hati.
Dua orang sedang berjalan di koridor rumah sakit menuju ke kamar seseorang. Rupa kedua orang ini sangat kontras, apalagi dari warna rambut mereka. Pertama seorang pria berambut jabrik hitam dengan kulit putih dan mata berwarna hitam. Dia sedang memakai baju kaos orange di dalam dan hoodie hitam di luar, jeans dan sepatu sneakers. Di lehernya tergantung sebuah kacamata, sebuah goggle lebih tepatnya.
Temannya yang satunya seorang pria berambut jabrik berwarna perak dengan kulit putih dan mata berwarna hitam ke abu-abuan. Di wajahnya terpasang masker. Dia sedang memakai kemeja putih, celana kain berwarna hitam dan sepatu kulit. Ekspresi mereka saat ini juga sangat berbeda. Di mana si perak terlihat tenang dan si hitam terlihat agak murung.
Melihat temannya yang murung, si perak ingin mencoba mengalihkan perhatian temannya. Dia tahu bagaimana perasaan sahabatnya ini. Bagaimana tidak, orang yang disayangi mereka sedang berada dalam musibah. Sudah kurang lebih tiga hari orang yang dimaksud itu berada di rumah sakit. Alasan orang itu masuk rumah sakit juga bukanlah karena alasan biasa. Orang yang dia maksud itu masuk rumah sakit itu karena game.
Ya, game. Kegiatan yang harusnya menyenangkan dan penghilang stress menjadi malapetaka. Dia tidak mengelak, bahwa bermain game itu bisa membahayakan. Tapi itu dikarenakan kebiasaan manusia yang melupakan waktu untuk merawat diri mereka, bukan game nya secara langsung. Tapi kali ini penyebab masalahnya adalah game nya itu sendiri.
6 November 2022, lebih tepatnya jam 13.00, game Sword Art Online secara resmi mengaktifkan server mereka. 10.000 orang yang telah membeli game beserta alat nya secara berbondong-bondong masuk dan bermain game revolusioner itu. Namun di pukul 17.20 di hari yang sama, diberitakan game revolusioner itu berubah menjadi game yang mematikan.
Saat ini 300 orang lebih sudah meninggal akibat game itu. Sebagian meninggal akibat melepaskan helm bernama NerveGear yang menjadi alat bermain game itu, sisanya diketahui meninggal akibat meninggal di dalam game dengan berbagai penyebab yang belum diketahui.
Di saat bersamaan Kayaba Akihiko, Sang pembuat NerveGear dan Sword Art Online itu sendiri, tidak dapat ditemukan. Sudah berbagai rekan kerja dan staff Argus ditanya oleh kepolisian, namun tidak ada yang mengetahuinya. Mereka sempat diminta untuk coba menghentikan game ini, bahkan ada yang rela untuk membayar mereka mahal dan menghabiskan seluruh hartanya demi menyelamatkan keluarga dan teman yang mereka sayangi.
Namun bagaimanapun caranya mereka mencoba, mau dibayar berapapun mereka, mereka tidak bisa game tersebut karena yang hanya bisa memiliki akses untuk itu hanyalah Kayaba Akihiko itu sendiri. Dan jika dilakukan secara paksa, maka akan memberikan risiko yang besar. Di mana seluruh pemain SAO itu akan meninggal secara bersamaan.
Dengan menghilangnya Kayaba Akihiko, semuanya hanya bisa berharap ada yang bisa menyelesaikan permainan gila itu. Pemerintahan Jepang dan pihak Argus itu sendiri segera membantu korban dengan memindahkan mereka ke rumah sakit yang sudah ditentukan. Selain itu pihak kepolisian juga mencoba mencari keberadaan Kayaba Akihiko. Mereka berdua sebagai anggota dari kepolisian itu sendiri bekerja keras mencari sang jenius gila itu.
Namun saat ini mereka ingin istirahat sejenak dan melihat keadaan orang yang sudah mereka anggap sebagai adik. Namun sebelum itu…
"Kau tenang saja, Obito. Naruto adalah anak yang kuat dan cerdas. Dia pasti bisa bertahan di game itu. Lagi pula di antara kita semua, kita tahu yang paling ahli nya bermain video game itu kan dia. Kamu masih ingatkan ketika uang kita habis untuk membelikannya ramen ketika kita menerima tantangannya." Kata Si Perak.
Mendengar itu, Obito yang tadinya murung langsung tertawa mendengar itu. Dia langsung teringat kembali betapa jengkelnya Si Perak ketika uangnya juga ikut habis karena menerima tantangan Naruto. Dia masih ingat malam itu malam Minggu. Mereka yang lelah menyelesaikan pekerjaan mereka dari kantor, langsung pergi mengunjungi adik mereka itu. Mereka bermain sampai malam dan hanya berhenti sesaat karena Naruto lupa makan dan bibi nya tahu hal itu.
Salah satu hal yang mereka tahu adalah jangan pernah menghalangi bibi nya Naruto ketika marah. Meskipun sekarang bekerja di kepolisian, mereka lebih memilih melawan para kriminal maupun mafia dari pada kena "tepukan kasih sayang" bibi nya Naruto. Mengingat hal itu membuatnya tersenyum kembali.
"Ya ya, Aku masih ingat itu kok, Kakashi. Sampai-sampai kau tidak mau berbicara kepadaku beberapa hari dan bersumpah untuk tidak menerima tantangan Naruto lagi. Meski begitu aku lebih memilih Naruto berada di sini, bersama kita, daripada terjebak di game itu. Aku tidak tahu harus bersyukur atau menyesal tidak masuk ke game itu. Setidaknya jika Aku berada di dalam, Aku bisa menjaganya." Kata Obito dengan perasaan sedih.
"Ya, Aku mengerti dan juga sempat berpikir begitu. Yang hanya bisa kita lakukan sekarang adalah berharap game ini cepat selesai dan Naruto bisa kembali ke kita semua. Ayo, cepat usap air matamu. Kamu tidak mau kan dilihat Naruto dalam keadaan sedih. Lagipula, apa Aku harus memanggil Rin untuk memelukmu supaya kau tenang?" Kata Kakashi sambil bercanda.
Mendengar kata temannya dan mengingat pacarnya, langsung membuat pipi Obito memerah.
"Tuh lihat, muka mu seperti orang mesum sekarang. Lagipula Aku hanya bilang memeluk, bukan 'esek-esek'. Jadi hentikan wajah mesummu itu." Kata Kakashi sambal berjalan mendahului temannya.
"Oi, Apa maksudmu itu, Kakashi?! Yang mesum diantara kita itu adalah kau dasar orang mesum sembunyi-sembunyi. Lagipula belum tentu Aku langsung memikirkan 'esek-esek', dasar orang-orangan sawah. A-aku hanya mengingat wajah Rin saja kok." Kata Obito dengan pipi merah mengingat wajah pacarnya.
"Kalau mesum, ya mesum aja, nggak usah mengelak lah, Obito. Nanti Aku kasih tahu Rin loh di mana Kamu menyimpan 'koleksi-koleksi' mu dan kau pernah memperlihatkan Naruto beberapa 'koleksimu'." Kata Kakashi
Naruto yang sedang berbelanja di SAO langsung bersin. Dia langsung melihat sekililing, mencari siapa yang membicarakan tentang dirinya. Setelah dia tidak dapat, dia berpikir pasti salah satu dari Aniki nya yang membicarakannya.
"Kamu gila apa?! Bisa-bisa mati Aku dibunuh Rin. Apalagi kalau sampai Nona Tsunade tahu. Aku lebih rela berhadapan seribu iblis daripada merasakan 'Neraka' nya." Kata Obito yang langsung bergidik ngeri membayangkan nasibnya kalau sampai ketahuan tingkah bodohnya oleh bibi nya Naruto.
"Kemungkinan terbesar itu terjadi sih… tapi siapa tahu Rin langsung menghukummu dengan 'cara lain'?!" Kata Kakashi sambil menggerakkan alisnya.
"Kalau itu sih Aku juga pengen hehehe" Kata Obito dengan muka mesum nya.
"Ya sudah, buruan jalan. Kamarnya sudah dekat." Kata Kakashi.
"Oi tunggu Aku." Kata Obito.
Setelah beberapa saat, Kakashi berbicara lagi.
"Kau tahu, Aku berubah pikiran. Sebaiknya Kau pulang saja sana. Kamu itu pengaruh buruk untuk Naruto." Kata Kakashi.
"Oi, yang pengaruh buruk itu Kau, dasar tukang mesum." Kata Obito
Orang-orang yang mendengarnya hanya bisa memperhatikan dengan muka bengong dan heran dengan percakapan aneh bin absurd itu.
Sesampai mereka depan pintu kamar Naruto, mereka melihat ada seseorang berada di kamar Naruto. Kakashi menatap Obito dengan tatapan bertanya. Obito hanya mengangkat bahu dan memberikan kode untuk mengetuk pintu.
"Iya, Siapa?" kata seorang pria berada di kamar Naruto.
"Ini Saya, Kakashi, sama Obito, Keishikan." Kata Kakashi memberitahu sang komisaris senior.
"Masuk lah, Kakashi." Kata Komisaris senior itu.
Mereka berdua pun masuk dan tidak lupa menutup pintu. Mereka berjalan melihat dua orang. Salah satu nya adalah seorang remaja berambut jabrik berwarna kuning pirang, dengan guratan tiga garis di pipinya. Saat ini remaja itu memakai helm yang dikenal sebagai NerveGear, pakaian pasien rumah sakit dengan tangan diinfus.
Satunya lagi adalah seorang pria tua, sekitar 40-an lebih, dengan rambut jabrik putih yang panjang sampai ke pundak namun diikat. Di wajahnya terdapat garis merah yang turun di matanya sampai ke pipi nya, seperti Kabuki, dan ada kutil di sisi kiri hidungnya. Dia memakai jas biru gelap dengan dalaman kemeja putih dan celana kain berwarna biru gelap serta memakai sepatu kulit hitam.
Mereka berdua adalah Uzumaki Naruto dan Jiraiya, salah satu wali Naruto.
Jiraiya sedang memegang tangan yang terinfusnya Naruto dan memandang wajahnya yang seperti tidur dengan tenang. Memegang erat seakan tidak ingin kehilangannya. Walaupun menampakkan wajah yang tenang, Kakashi dan Obito tahu apa yang dirasakan oleh pria itu. Bagaimana tidak, mereka juga merasakan hal yang sama. Setelah beberapa lama, Jiraiya menaruh kembali tangan Naruto dan mengarahkan perhatiannya ke kedua pemuda itu.
"Bagaimana Kabar Kalian, Kakashi? Obito?" tanya Jiraiya dengan senyuman.
"Kami sehat-sehat saja. Keishikan." Kata Kakashi dengan hormat.
"Hei hei, kita ini sedang di luar kantor. Kalian bisa santai saja dengan memanggilku Jiraiya." Kata Jiraiya mencoba mencairkan suasana.
"Anda sendiri bagaimana, Ero-Keishikan?" Tanya Obito.
"Oi, bisakah Kau sedikit lebih hormat kepadaku? Kakashi, pukul kepalanya." Kata Jiraiya dengan tatapan datar.
Kakashi yang mendengar perintah atasannya langsung saja memukul kepala Obito. Obito yang dipukul langsung menjerit kesakitan.
"Argh, apa salahku?!" Tanya Obito.
"Aku hanya melaksanakan perintah atasanku." Jawab Kakashi sambil memberinya tatapan datar.
"Hah… setidaknya sekarang Aku sudah tahu di mana penyebab Naruto memanggilku Ero-sennin. Untuk menjawab pertanyaan mu Obito, Aku sehat-sehat saja." Jawab Jiraiya mengenai pertanyaan Obito tadi.
"Hanya saja Aku lebih senang kalau bukan karena kondisi saat ini." Kata Jiraiya melihat Naruto.
Mereka melihat Naruto dengan wajahnya yang tenang seperti tertidur saat ini. Namun mereka juga khawatir, bagaimana keadaan Naruto di sana. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia aman-aman saja? Apakah dia sedang berjuang melawan monster? Mereka tidak tahu. Hanya menambah pertanyaan di kepala mereka jika memikirkan hal ini.
Suasana yang biasanya rame karena Naruto menjadi sepi ketika terjebak di game itu. Selain mengobrak-abrik komputer dan beberapa barang elektronik lainnya atau mengerjakan "proyek" nya, pasti Naruto akan bersenang-senang bersama mereka baik itu bercakap, bermain, atau saling menjahili. Jiraiya jadi tertawa bila mengingat ketika Naruto menjahili Jiraiya.
Saat itu ada seorang gadis cantik lewat dihadapan mereka. Naruto yang mengambil foto ketika rok gadis itu terangkat oleh angin, malah Jiraiya yang kena tamparannya. Ya karena Naruto memasang wajah polosnya dan mengatakan dia disuruh oleh Jiraya. Apalagi smartphone yang dipakai untuk mengambil foto itu adalah miliknya Jiraiya. Walaupun terdapat bekas tangan merah di pipi, setidaknya dia mendapatkan foto gadis seksi dengan pantat yang aduhai dengan dalaman yang menggoda iman manusia.
Mengingat itu Jiraiya langsung tertawa mesum. Kakashi dan Obito langsung konek apa yang dipikirkan atasan mereka itu.
'Pasti dia berpikir mesum lagi. Ketawanya mirip Obito/Kakashi lagi.' Batin mereka berdua.
Jiraiya yang sadar akan tingkahnya langsung melihat kedua bawahannya. Dia menunggu komentar pedas dari bawahannya itu dengan tatapan datar. Kedua orang yang diperhatikan itu langsung memalingkan wajah dan bersiul.
Tiba-tiba mereka berdua mendengar ketukan pintu. Langsung saja Jiraiya menyahutnya.
"Iya, Siapa?" Tanya Jiraiya.
"Ini Aku, Jiraiya." Jawab seorang Wanita.
Tiga orang yang mendengar itu langsung tegang mendengar suaranya. Jiraiya yang tadinya duduk langsung berdiri. Masing-masing orang itu mengambil posisi dan memperbaiki postur berdiri nya. Lalu pintu itu terbuka menunjukkan 5 orang.
Orang pertama adalah seorang Wanita yang memiliki rambut pirang panjang yang diikat. Berkulit putih dan mata berwarna coklat. Salah satu yang menonjol adalah ukuran dadanya. Dia sekarang memakai pakaian dokter. Orang kedua adalah seorang gadis berambut coklat sebahu. Berkulit putih dan mata berwarna coklat. Dia juga memakai pakaian dokter. Di tangannya ada sebuah papan, kertas dan pulpen.
"Selamat datang, Tsunade-sama!" Kata ketiga pria itu sambil membungkuk.
"Hai, Rin-chan." Kata Obito yang langsung berdiri sambil melambaikan tangan.
Melihat tingkah bodoh mereka ini membuat Tsunade memijit kepalanya. Rin yang melihat pecarnya, Obito, langsung membalas lambaian tangannya. Obito yang sadar ada Tsunade langsung kembali membungkuk.
"Hentikan tingkah bodoh kalian. Aku kesini ingin memeriksa Naruto dan dia juga kedatangan tamu."Kata Tsunade.
Mereka bertiga langsung berdiri dan melihat siapa tamu Naruto. Mereka melihat ada Seorang Pria dan Wanita dan juga seorang bocah seumuran Naruto. Pria itu memiliki rambut yang diikat seperti nanas, berkulit coklat dan mata berwarna hitam bekas luka dan jenggot ada di wajahnya. Yang Wanita memiliki rambut panjang sepunggung yang disisir ke belakang dan diikat, berkulit putih dan mata berwarna hitam. Yang bocah mirip seperti pria, hanya saja dia lebih muda dan tidak memiliki jenggot dan bekas luka. Dari pakaian mereka agak formal yang dimana pria itu memakai jas dan kemeja, wanita itu memakai dress dan bocah itu seperti memakai seragam sekolah.
Mereka adalah satu keluarga yakni Shikaku sang ayah, Yoshino sang ibu, dan Shikamaru sang anak.
Yoshino hanya memberikan mereka wajah senyum. Shikaku dan Shikamaru mencoba untuk tenang dan tidak tegang. Mereka tahu alasan tingkah tiga pria tadi, karena mereka sendiri punya orang yang begitu juga.
"Yo, Bagaimana kabar kalian?" Tanya Jiraiya.
"Kami baik-baik saja, Jiraiya-san. Anda sendiri bagaimana?" Balas Yoshino.
"Hahaha, Tidak usah seformal itu, Yoshino. Panggil saja aku Jiraiya. Dan ya Aku baik-baik saja." Jawab Jiraiya.
"Keishicho." Sahut Kakashi ke sang komisioner.
"Kakashi." Sahut balik Shikaku.
"Yo Shikamaru bagaimana kabarmu? Kau sudah kelas berapa sekarang?" Tanya Obito.
"Merepotkan… Anda tahu sendirikan Aku satu sekolah dengan Naruto. Aku juga satu kelas dengannya" Jawab Shikamaru.
"Oh iya lupa heheheh." Kata Obito dengan malu.
"Oh iya Aku akan keluar berbicara sebentar dengan Shikaku. Lagipula kalian perlu ruangan juga kan?" Kata Jiraiya.
"Kalau begitu Aku akan ikut." Kata Kakashi.
"Kau Obito?" Tanya Jiraiya.
"Eh… Aku di sini saja." Jawab Obito.
"Ya sudah kalau begitu." Kata Jiraiya.
"Jangan ganggu Rin, Obito." Kata Kakashi.
"Aku tahu kok!"Kata Obito dengan kesal.
Lalu Ketiga pria itu keluar, meninggalkan 5 orang lainnya di kamar. Setelah pintunya tertutup, Tsunade dan Rin langsung mengerjakan tugas mereka. Tsunade menganalisis keadaan Naruto dan Rin mencatat data-datanya. Tiga orang lainnya hanya memperhatikan mereka bekerja.
Yoshino memegang tangan Shikamaru dengan erat. Shikamaru yang merasakan hal tersebut hanya memperhatikan wajah Yoshino sebentar lalu mengembalikan perhatiannya ke Naruto. Dia tahu apa yang dirasakan ibunya itu. Bisa jadi bukan Naruto yang berada di ranjang itu, tetapi dia. Entah apa yang akan terjadi jika dirinya yang berada di situ. Bukannya Yoshino mendoakan agar Naruto lah berada di posisi itu.
Naruto juga merupakan anak yang baik yang disayangi Yoshino tetapi dia tidak ingin juga putra kandungnya lah yang berada di posisi itu.
Tsunade dan Rin mencoba fokus untuk melaksanakan tugas mereka, terutama Tsunade. Dia lah yang mengambil dan merawat Naruto ketika ayahnya meninggal. Ibu Naruto, yang merupakan keluarga Tsunade juga, meninggal ketika Naruto dilahirkan. Ayahnya meninggal waktu Naruto masih berumur 5 tahun. Bocah malang itu harus melihat kematian ayahnya yang dibunuh oleh seorang pembunuh bayaran yang disuruh oleh para politikus kotor.
Ayahnya yang bekerja di kepolisian divisi Cybercrime menjadi penghalang berbahaya bagi mereka, apalagi dia sudah banyak memberi dedikasi kepada instansi lain dalam memberantas kriminal melalui keahliannya dalam teknologi. Jiraiya yang depresi atas meninggalnya murid didikannya itu tidak mampu untuk merawat Naruto. Ada beberapa tahun dia mencoba menghindari Naruto karena rasa bersalahnya yang mendalam.
Maka dari itu Tsunade langsung mengambil Naruto, karena sebagai dokter dan wanita, ada pengertian dan perasaan yang kuat untuk merawat Naruto yang masih kecil. Dia mencoba sekuat tenaga dalam membesarkan dan memberikan kebahagian kepada Naruto. Bersama Shizune, yang juga tinggal bersamanya, mereka hidup layaknya keluarga kecil dalam rumah mereka. Memang terkadang ada saat Tsunade jengkel dengan Naruto, apalagi ketika sudah berhubungan dengan hobi teknologinya, pasti Tsunade akan memarahinya karena sering lupa waktu.
'Hah… ibu dan anak sama saja.' Batin Tsunade.
Jika mereka tidak mengenal ibunya, pasti mereka mengira kegemaran dan keahlian teknologi nya Naruto turun dari ayahnya. Ya Walaupun ada benarnya, tetapi yang lebih maniak dan ahli adalah Kushina, ibu Naruto. Karena kekaguman akan keahlian dan terhipnotisnya akan sifat dan rupanyalah yang membuat Minato, ayah Naruto, jatuh cinta kepadanya. Dan saat itulah seorang bocah cantik yang pemalu mencoba mendapatkan hati si gadis tomboy.
Tidak terasa pemeriksaannya telah selesai. Walaupun ini sedang bekerja, dia tetap mencium tangan Naruto sambil berdoa akan keselamatannya. Dia berusaha menahan air mata nya untuk tidak jatuh, namun tetap saja akan begitu walaupun dia menahannya sekuat tenaga. Dia berdoa sesegera mungkin keluarganya kembali ke pelukannya. Sudah berkali-kali dia melihat kematian orang yang disayanginya.
Tiba-tiba ada elusan dibelakang punggungnya. Dia melihat Yoshino dengan wajah senyum, mencoba untuk tidak memperlihatkan kesedihannya, mengelus belakangnya untuk menenangkannya. Dia pun segera mundur dan memberikan ruang untuk Yoshino dan Shikamaru melihat keadaan Naruto. Yoshino yang mengerti maksud Tsunade segera memanggil Shikamaru untuk mendekat. Shikamaru pun berjalan mendekati ranjang Naruto.
"Merepotkan… Kau terlihat tidur dengan nyenyak sekali Naruto." Kata Shikamaru sambil tertawa hambar.
"Aku iri dengan mu bisa tidur seperti itu. Kau tahu kan ibuku akan menghabisi ku jika ketahuan bermalas-malasan." Kata Shikamaru.
Shikamaru tahu apa yang dikatakannya tidak akan didengar oleh Naruto. Tapi saat dia melihat senyumnya Naruto, dia berharap Naruto bisa mendengarkan apa yang dikatakannya.
"Aku tahu Kau sedang berjuang di sana. Kau pasti sedang mencari info tempat grinding yang bagus, senjata terkuat, cara naikkan level dengan cepat, spot dengan pemandangan terindah agar kau bisa mengajakku suatu saat untuk bermalas-malasan." Kata Shikamaru mencoba menahan air matanya.
Tiga perempuan di ruang itu hanya sedikit mengerti apa percakapan Shikamaru. Obito yang mengerti hanya cengir saja sambil menunduk.
"Kau tahu di sekolah sangat membosankan tanpa ocehan mu. Aku dengar juga adik Kou-san, Asuna, terjebak di sana. Aku berharap Kau bertemu dengannya dan menyelamatkannya juga. Heh… ternyata memang rejeki tidak ke mana." Kata Shikamaru sambil menyeringai mengingat tingkah Naruto jika ketemu dengan Yuuki Asuna.
Tsunade, Yoshino dan Rin hanya menaikkan alisnya mendengar itu. Mereka langsung mengalihkan kepalanya ke Obito yang tertawa mendengarnya.
"Aku tahu ini gila dan tidak logis, tapi Aku percaya Kau bisa menyelesaikan semua ini, Naruto. Aku percaya padamu." Kata Shikamaru dengan percaya diri.
"Ya, mungkin itu saja dulu. Mungkin Aku akan mengunjungi mu terus walaupun itu mengganggu waktu bermalas-malasku, dan itu sangat merepotkan. Jadi nanti kalau Kau kembali, Kau harus ganti rugi." Kata Shikamaru.
Setelah itu Shikamaru mundur dan mengangguk kepalanya ke ibunya menandakan urusannya selesai. Tapi sebelum pulang, Yoshino ingin mengatakan sesuatu ke Naruto juga.
"Cepatlah pulang, Naruto. Kami di sini sangat merindukanmu." Kata Yoshino.
Setelah itu mereka berdua mundur. Sambil menunggu yang lainnya kembali, Yoshino berbicara sebentar dengan Tsunade. Shikamaru berbicara dengan Obito dan Rin. Ketika Kakashi, Jiraiya, dan Shikaku kembali, Shikaku dan sekeluarga pamit pulang duluan. Kebetulan juga Tsunade dan Rin harus ke ruangan lain untuk mengecek pasien lain.
Maka dari itu Shikaku, Yoshino dan Shikamaru pulang, sedangkan Tsunade dan Rin lanjut kerja. Ketika Kakashi ingin pulang juga, Obito mengusulkan diri untuk menjaga Naruto hari ini agar Jiraiya bisa menyelesaikan beberapa kerjaannya. Awalnya Jiraiya tidak mau, tapi karena pekerjaannya yang menumpuk dan Obito juga meyakinkannya, maka dia akhirnya pergi juga. Sekarang tinggal Obito sendiri bersama Naruto.
"Heh… Kouichi ya… kira-kira bagaimana kabarnya ya, Naruto?"
Setelah berbelanja equipment dan meng-enchance senjata terbarunya, Anneal Blade, kini Naruto kembali pergi menjelajah mencari quest dan grinding. Anneal Blade sendiri adalah nama pedang yang diberikan oleh Nyonya NPC sebagai bentuk terima kasihnya telah mendapatkan bahan obat untuk putrinya. Dia ikut melihat sembuhnya Agatha, putri dari Nyonya itu.
Melihat itu dia mengingat bibi dan nee-chan nya yang merupakan seorang dokter. Perasaan homesick pun menghampirinya. Dia berharap mereka baik-baik saja. Dia berjanji akan bertambah kuat dan akan cepat menyelesaikan game gila ini, dan bisa berkumpul lagi bersama keluarga dan teman-temannya.
Setelah melihat itu dia mengobrol sebentar dengan mereka dan mengucapkan terima kasih setelah diberikan Anneal Blade. Dia berjanji akan menjadi lebih kuat dan akan bertemu mereka lagi. Mereka hanya tersenyum dan mendoakan akan ke suksesannya. Setelah mendapatkan Anneal Blade, dia pergi grinding lagi selama 3 hari terakhir untuk menaikkan level dan menjual hasil loot buat meng-enchance senjatanya di Blacksmith.
Enchancement adalah salah satu fitur di mana para pemain bisa membawa senjata mereka untuk diperkuat. Ada lima stats yang menjadi parameter enchancement, yakni Sharpness, Quickness, Accuracy, Heaviness and Durability. Masing-masing adalah parameter untuk ketajaman yang menambah damage, kecepatan serangan, Akurasi untuk Critical Hit, Berat dan Ketahanan senjata itu sendiri. Biasanya senjata yang ter-enchance akan menunjukkan total dari enchancement nya, dengan contoh Anneal Blade nya yang tertulis Anneal Blade(5).
Jika di [Appraisal], maka (5) ini akan terjabar secara detail menjadi seperti Anneal Blade(2S3D) yang berarti 2 Sharpness dan 3 Durability. Yang tidak dimengerti oleh Naruto adalah Heaviness. Apakah ini menambah berat atau mengurangi berat? Kalau menambah berat, terus gunanya buat apa? Kalau mengurangi berat, bukannya sama saja dengan Quickness? Naruto bisa mencari lebih tahu nanti, karena saat ini memikirkannya hanya menambah pertanyaan di kepalanya saja.
Karena belum ada player yang memiliki skills menempa yang tinggi dan dapat dipercaya, maka dia mau tidak mau harus mencari NPC. Biasa nya menggunakan jasa blacksmith NPC itu lebih mahal dibanding dengan player. Dan juga dia tidak bisa negoisasi karena mereka langsung memunculkan nilai tetap sesuai arahan sistem. Tetapi karena hasil jualannya yang banyak, dia bisa menutupi biayanya tanpa merugikan dirinya.
Sesekali dia singgah mencari info Lore untuk mendapatkan informasi buat memperkuat dirinya, quest dan strategi untuk melawan musuh. Dia berinteraksi dengan NPC baik di toko, blacksmith, penginapan dan sebagainya. Selain berinteraksi, dia juga mencari info di item baik yang didapat maupun di jual oleh toko. Setelah mencari-cari akhirnya dia menemukan pemberi quest. Nama quest nya adalah "Wolf's Package".
Quest nya simple hanya mengumpulkan Red Dire Wolf Canine sebanyak 50 biji. Red Dire Wolf sendiri sama dengan Dire Wolf secara penampilan, kecuali warna nya yang merah. Yang membedakan adalah cuman kekuatan dan kecepatanya yang lebih besar dibanding Dire Wolf biasa. Selain itu mereka bisa menggunakan [Howl], yang di mana akan memanggil kawan-kawannya. Kurang lebih mereka bisa meningkatkan respawn mereka.
Tapi ini lah yang sangat dibutuhkan Naruto. Karena pasti perlu melawan lawan yang kuat untuk menjadi lebih kuat. Sederhananya kau harus terbiasa dengan tantangan besar yang menghadapi agar menjadi orang yang hebat. Tapi dia ingin melihat sebentar, apakah quest ini bisa di lakukan berulang-ulang atau tidak.
Seperti biasa, sebelum berangkat untuk menjalankan quest, Naruto selalu mengecek inventory nya terlebih dahulu. Naruto habis memperbaiki Iron Spear nya, yang di mana didapatkan di kota awal dan membeli satu lagi untuk cadangan. Dia tidak mendapatkan tombak yang lebih bagus, karena tombak yang dia incar ada di lantai 2. Makanya dia akan mencoba mencari tombak yang lebih bagus melalui quest dan loot dari monster. Dia mengecek stats dan skills nya.
Setelah 3 hari, akhirnya Naruto bisa mencapai Level 13, yang di mana dia mulai bisa merasakan perlambatan naik level nya. Dia punya asumsi bahwa Level tertinggi yang bisa dicapai lantai 1 adalah level 22. Ini bukan berarti di lantai 1 mustahil untuk naik ke level 23, hanya saja akan memakan waktu lumayan lama sehingga tidak sepadan dengan waktu yang terbuang.
Dia mendistribusikan stats yang hasilnya ialah 19 STR dan 27 AGI. Selanjutnya [Weapon Skills]. [Two Handed Assault Spear] Sekarang mencapai 293, [One-Handed Sword] mencapai 278, dan [Parry] mencapai 306. Untuk slot ketiga, dia mengambil skill [Armor Pierce] yang sekarang mencapai 84.
Untuk mod sendiri, sesuai janjinya, dia mengambil [Increase Critical Hit Chance I], yang meningkatkan kesempatan Critical Hit sebesar 15%, [Swift III] dan [Swift IV], Yang merupakan tingkatan terakhir [Swift] di mana akan meningkatkan kecepatan dan kelincahan sebesar 95% untuk [Two-Handed Assault Spears]. Untuk [One-Handed Sword] dia mengambil [Shorten Sword Skill Cooldown], yang di mana akan mengurangi cooldown dari [Sword Skill] sebesar 60%, [Increase Critical Hit Chance I], [Increase Critical Hit Chance II] dan [Increase Critical Hit Chance III].
Untuk [Parry] dia mengambil [Redirect II], [Redirect III], dan [Redirect IV], yang merupakan tingkatan terakhir [Redirect] di mana akan mengurangi kerusakan pada senjata sebesar 80%, [Repel I] yang akan mengembalikan damage lawan sebesar 20%, dan [Increase Knockback Effect I], yang di mana akan menambahkan kesempatan untuk memberikan efek stun sebesar 25% dan tumble 15% kepada lawan . Dan terakhir [Armor Pierce] dia juga mengambil [Increase Critical Hit Chance I].
Setelah dia mempersiapkan diri, akhirnya dia berangkat. Dikatakan bahwa tempat quest nya ada di tengah hutan yang penuh dengan reruntuhan. Konon, reruntuhan itu adalah rumah bangsawan yang telah lama hancur karena diserang monster. Mengetahui hal ini, Naruto langsung mencatat di kepalanya akan kemungkinan munculnya harta karun.
Tempat berada di barat laut dari Horunka Village dan agak jauh dari desa. Maka dari itu dia juga membeli 3 potion dan 2 antidote lagi untuk jaga-jaga. Dia mengeluarkan sepotong roti yang juga dia beli untuk mengganjal laparnya karena perjalanannya kali ini agak jauh. Setelah rotinya habis, dia pun langsung berlari dengan kencang untuk menyingkat waktu perjalanannya.
Saat ini dia merasa sudah dekat dengan tempat yang dimaksud di quest itu. Dan seperti biasa dia pasti akan dihalangi beberapa kumpulan monster di perjalanan tadi. Memanfaatkan hal itu, dia langsung mengetes Anneal Blade nya. Dan hasilnya sangat memuaskan.
Dengan tambahan sharpness, monster-monster yang dihadapinya dilibas dan mati seketika. Dan durability nya membuat pedangnya memiliki tambahan ketahanan, jadi ini membuat Naruto untuk tidak buru-buru mencari pengganti dalam waktu yang lama. Menurutnya apa yang didengar Naruto mengenai pedang ini benar. Pedang ini bisa dipakai kemungkinan hingga lantai 3 dan tertinggi di lantai 5. Tapi menurutnya di lantai 4 mungkin sudah ada senjata yang lebih kuat dari pada pedang ini.
Skill [Parry] juga meningkat jadi 312, dan [One-Handed Sword] jadi 283. [Armor Pierce] nya naik menjadi 89. Menurutnya peningkatan ini hanya sedikit saja. Mungkin perlu monster dengan armor yang kuat untuk lebih efektif meningkatkannya, setidaknya itu menurutnya.
Kenapa dia merasa sudah dekat dengan tempat yang dimaksud, karena di depannya dia melihat tanah kosong yang luas dan terdapat sisa-sisa reruntuhan. Tadi juga sempat melewati bebatuan jadi menurutnya dia sudah berada di jalur yang benar. Dia melihat ada beberapa, mungkin tiga sampai empat Red Dire Wolf , tetapi hanya ada satu kelompok saja. Jadi dia akan mencoba menghadapi dan memanfaatkan [Howl] Red Dire Wolf untuk meningkatkan spawn monster.
Setelah mengecek lagi equipment nya, Naruto mengambil batu dan melempar ke arah pohon di bagian kiri tanah lapang itu. Seperti serigala pada umumnya, Red Dire Wolf langsung mendengar dentuman batu tadi dan berubah ke posisi menyerang. Naruto pun memperhatikan mereka. Tetapi karena tidak bergerak, maka Naruto mencoba melempar batu sekali lagi ke daerah yang sama. Setelah beberapa lama, Naruto dapat menyimpulkan bahwa meskipun perhatian mereka teralihkan, mereka tidak akan meninggalkan tempat reruntuhan itu. Maka dari itu dia memakai tombaknya untuk mendapatkan tambahan kecepatan dan menyerang mereka secara tiba-tiba.
Melempar batu sekali lagi lalu perhatian mereka teralihkan, Naruto langsung berlari kencang dan mengambil kesempatan untuk membunuh satu serigala itu. Berhasil membunuh satu dan melukai satu lagi, akhirnya Naruto menghindar karena kawan serigala itu sudah menyadari dan mulai menyerangnya. Dia tidak akan membunuh dan hanya akan [Parry] serangan lawannya. Dia terus [Parry] serangan serigala itu dan menunggu mereka menggunakan [Howl] untuk memanggil kawanan mereka. Sesekali dia memberikan damage, namun tidak sampai membuat mereka mati.
Tidak lama setelah itu akhirnya salah satu dari mereka menggunakan [Howl], dan muncul dua Red Dire Wolf lagi.
'Cih, ini mah masih kurang.' Batin Naruto.
Sambil [Parry] dan menjaga jarak, dia menunggu serigala yang lain untuk menggunakan [Howl]. Akhirnya dua serigala itu menggunakan [Howl] dan akhirnya muncul lima Red Dire Wolf . Naruto mengambil asumsi bahwa [Howl] hanya bisa memanggil serigala lain dengan maksimal sebanyak tiga ekor. Sekarang dia berhadapan dengan 10 Red Dire Wolf. Mungkin dia bisa menunggu hingga mereka sampai 15 lalu dia akan menyerang balik.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya total mereka menjadi 22. Beruntung atau celakanya dia, secara bersamaan empat serigala menggunakan [Howl] dan muncul 12 lagi Red Dire Wolf . Merasa adrenalin nya mulai terpacu, Naruto langsung menyerang balik kawanan serigala itu. Dia menangkis dan menyerang balik kawanan serigala itu.
Menurutnya mungkin di level 8 dia pasti akan kewalahan dan darahnya sudah berwarna kuning jika menghadapi jenis dan jumlah serigala ini. Tapi Naruto sudah level 13, jadi ini tidaklah terlalu mewalahkan dia.
Dia langsung membunuh 3 serigala yang sudah dia buat sekarat. Dia terus mengingatkan dirinya untuk menyisakan 2 serigala agar mereka dapat menggunakan [Howl]. Memasang kuda-kuda, dia menggunakan [Circle Slash] untuk menyerang empat yang mencoba melompati nya. Kempat serigala itu terlempar dan 2 di antara nya hancur seketika. Naruto langsung [Parry] serangan serigala pertama dan menusuk serigala dua dan terakhir menganyunkan tombaknya membuat serigala kedua mati dan serigala ketiga terlempar.
Di saat dia membunuh dua serigala lagi, dia mendengar 2 serigala lainnya menggunakan [Howl] dan muncul 4 serigala lagi. Sekarang jumlahnya kembali menjadi 18 kembali. Keempat serigala itu berlari ke dia dengan gerakan zig-zag. Dia langsung menggunakan [Pierce] dan melepasnya di saat mereka berjejeran. Untungnya Naruto tidak harus menunggu lama, dia langsung menerobos dan membuat sekarat keempat serigala itu. Langsung saja Naruto menghabisi mereka yang sekarat. Naruto melompat untuk membuat jarak dari kerumunan serigala itu.
'13.' Batin Naruto menghitung serigala yang sudah dibunuh.
Naruto menggangti equipmentnya dengan Anneal Blade(5) nya dan bersiap-siap menghadapi kerumunan serigala itu. Dia memasang kuda-kuda untuk skill [Three Strike]. Dia akan menggunakannya di dua serigala saja. Naruto langsung mendekati dua serigala terdekat dan menyerang serigala pertama dan serigala kedua, diakhiri menghabisi serigala pertama.
'14' Batin Naruto Yang menhabisi Serigala tadi.
Naruto langsung menyerang serigala yang sekarat dan mulai menghabisi serigala-serigala lainnya.
'15…16…17…18…19…20…21…22…23…24…25!' batin Naruto yang menghabisi serigala-serigala itu.
Sudah setengah dari jumlah yang dia butuhkan untuk menyelesaikan quest. Seperti janjinya dia menyisahkan dua serigala terakhir untuk ronde kedua. Dia melompat mundur lagi menunggu mereka menggunakan [Howl] dan melanjutkan perburuannya.
Setelah Naruto mengalahkan 50 Red Dire Wolf dan memastikan loot yang diperlukannya sudah cukup, dia pun langsung mencari kemungkinan adanya harta karun. Setelah lama mencari dibalik bebatuan, akhirnya dia mendapatkan botol yang berisi kertas. Dia pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke desa.
Sesampai di desa. Dia langsung menyetor item untuk menyelesaikan quest nya. Dia tidak mendapat item tapi setidaknya exp untuk se-level nya dan Cor juga cukup banyak. Dia menemukan bahwa quest ini bisa dilakukan lagi, tetapi dia tidak akan mengambilnya karena ingin membaca isi kertas dalam botol tersebut. Tapi dia akan kembali ke penginapan, tidak ingin ada orang lain yang melihatnya. Karena kemungkinan mereka pasti akan merampoknya atau paling tidak mendahuluinya untuk mengambil harta karun itu.
Sebenarnya Naruto tidak takut untuk menghadapi player lain. Hanya saja dia kalau dia ingin melawan dan membuat sekarat mereka, dia tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan menyerangnya lagi. Paling tidak ada semacam penjara lah untuk mereka. Karena mereka jika berkeliaran, mereka bisa mengumpulkan kekuatan, memanggil teman, atau memberi informasi ini ke kelompok yang lebih berbahaya. Dan pilihan terakhir yakni membunuh mereka.
Dia lebih memilih untuk menghindarinya kalau bisa. Bukan hanya karena masalah moral, tapi ada penalty tersendiri bagi seorang pembunuh player atau istilahnya Player Killer. Seorang pembunuh akan mengalami perubahan pada permata yang ada diatas kepala mereka. Keadaan paling aman adalah warna hijau yang berarti pemain ini aman dan tidak berbahaya bagi player lain. Semakin sering membunuh player lain, maka permata itu akan berubah dari hijau menjadi jingga. Walaupun dia tidak terlalu peduli akan reputasinya, tapi kehilangan kesempatan untuk kerja sama itu adalah sangat merepotkan.
Shikamaru bersin merasa ada yang menggunakan kata andalannya.
Sesampainya di kamarnya, Dia mengecek stats dan skills nya. Dia melihat sekarang level nya sudah level 14 dan exp nya terisi hampir setengah untuk naik ke level berikutnya. Sesudah didistribusi, statsnya sekarang 20 STR dan 29 AGI. Selanjutnya skills. [Two-Handed Assault Spears] nya sudah mencapai 303, [One-Handed Sword] mencapai 294, [Parry] mencapai 320, dan [Armor Pierce] mencapai 95. Dia mengambil mod [Increase Critical Hit Chance II] yang meningkatkan kesempatan Critical Hit sebesar 30%,
Setelah itu dia mengeluarkan kertas yang ada dibotol. Dan memang benar ada sebuah harta karun yang berada di dalam gua. Tapi gua ini sangat jauh kalau dari desa Horunka. Gua itu lebih dekat dengan sebuah desa yang bernama Medai Village. Desa itu berada di sebelah timur laut dari desa horunka dan gua nya ada di timur laut desa itu. Tapi karena sudah malam, dia akan tidur 3 sampai 4 jam lalu berangkat ke desa Medai.
Naruto berjalan di tengah hutan sedang menuju desa Medai. Perjalanannya hanya dibantu oleh cahaya bulan dan bintang. Tak lupa juga dia meningkatkan fokus nya jikalau ada monster-monster yang mencoba menyergap nya seperti tadi. Dengan pedang Anneal Blade nya, dia bisa lolos dan membasmi monster-monster itu dengan mudah. Lumayan lah untuk menambah exp dan Cor nya.
Tidak lama kemudian dia mendengar sebuah suara orang bertarung di dalam hutan. Suara itu seperti seorang perempuan. Dia tidak ada niatan untuk mencari lebih dalam suara itu. Karena bisa jadi ini hanya perangkap para perampok untuk menjebak player polos dan lugu untuk diambil hartanya. Namun ketika mendengar suara jeritan, dia langsung berhenti bergerak. Dia memperhitungkan apakah harus ke sana atau tidak.
Tapi karena ini adalah Naruto yang terkadang melakukan tingkah bodoh, dia langsung pergi ke sana.
Seorang gadis mencoba menghindar serangan monster Red Dire Wolf. Senjatanya hancur karena melawan dan menangkis serangan monster-monster ini. Dia lupa untuk mempersiapkan senjata cadangan jika sedang berpergian. Dia mencoba berteriak siapa tahu ada yang bisa mendengarnya. Dia tidak mau mati. Dia ingin bertahan hidup. Dia ingin kembali ke kehidupan seperti biasanya lagi. Dia ingin keluar dari game ini. Namun monster serigala merah itu semakin mendekat.
Tiba-tiba dia melihat bayangan yang melewatinya. Bayangan itu berbentuk seperti orang dan menusuk serigala yang ada di dekatnya dan membuat serigala itu terlempar. Dia melihat serigala itu kembali berdiri dan orang itu langsung menebasnya hingga mati.
Naruto yang baru saja menghentikan [Howl] serigala itu. Sebenarnya melawan Red Dire Wolf itu gampang. Hanya saja dia tidak mau membahayakan nyawa gadis di belakangnya itu. Dia pun mengembalikan pedangnya ke sarungnya kembali. Tiba-tiba dia mendengar suara gadis itu.
"Terima kasih, sudah menyelamatkan nyawaku." Kata gadis itu.
Naruto yang mendengar itu merasa tidak asing dengan suaranya. Tapi mungkin itu hanya perasaannya saja.
"Ya tidak apa-apa. Lagipula Kau tidak perlu berterima ka…sih…" Kata Naruto yang membalikkan badan dan melihat gadis itu.
Hanya keheningan malam dan cahaya bulan menemani kedua orang itu. Mata kedua orang itu terbelalak kaget karena saling mengenal orang yang ada di depannya. Sambil menunjuk dan berteriak bersamaan.
"NARUTO?!"
"ASUNA?!"
AN : Yo, Fool di sini. Saya harap kalian menyukai chapter kali ini. Di chapter lalu , ada yang mengatakan bentuk paragrafnya membosankan, jadi saya coba perbaiki di chapter ini. Terima kasih kepada Dimas Kurosaki, sudah kasih tahu hal ini. Jika para pembaca masih merasa ada yang kurang di bagian paragraf maupun struktur penulisan lainnya, tolong jangan sungkan-sungkan untuk beri tahu saya. Itu saja mungkin. Sampai bertemu di chapter berikutnya. Peace
