Disclaimer : Naruto dimiliki oleh Masashi Kishimoto, dan Sword Art Online dimiliki oleh Reki Kawahara. Saya hanya pembuat plot dan beberapa unsur tambahan di fanfict ini saja, Peace.

"Blablabla..." Percakapan Normal.

"Blablabla..." Percakapan dalam hati.


"Jadi biar ku ulang? Kou-aniki sedang melakukan perjalanan bisnis di suatu tempat. Karena Kamu bosan, Kamu meminjam NerveGear milik kakak mu untuk mencoba Sword Art Online karena kamu tertarik dengan cerita kakak mu waktu beta test kemarin. Celakanya Kamu, lebih tepatnya kita, terjebak juga di permainan gila ini. Dan Kau pergi keluar dari kota pertama untuk menaikkan level agar menjadi kuat. Dan semalam kamu lupa membawa senjata cadangan, dan hampir dibunuh oleh monster itu. Ternyata bukan keberuntungan ku saja yang buruk hahaha." Kata Naruto sambil tertawa.

Asuna yang mendengarkan Naruto menceritakan hal yang memalukan baginya dan menertawainya hanya bisa menahan amarah dengan wajah yang memerah. Namun sepertinya penahan amarahnya jebol saking besarnya emosinya sekarang. Dia ingin segera menutup mulut kepala durian yang duduk di depannya itu.

"D-DIAM, kepala Duren! Bisakah kau lebih simpati kepadaku? Aku hampir saja mati tahu!" Kata Asuna.

"Maaf-maaf, hanya saja melihat nasib mu membuat ku tertawa." Kata Naruto yang mencoba meredakan tawanya.

Asuna langsung mencubit pinggang Naruto yang masih menertawakannya.

"ARGH, OK AKU MINTA MAAF. Duh sakit sekali, bisakah kau melakukannya dengan pelan?" Kata Naruto.

"MANA SAKIT?! Orang di sini kita tidak bisa merasakan sakit." Kata Asuna mendengar omong kosong Naruto.

"Oh iya, Aku lupa hehehe." Kata Naruto sambil menggaruk kepalanya.

Asuna yang mendengar itu hanya cemberut dan mengalihkan kepalanya.

"Tapi Aku bersyukur Aku tepat waktu menyelamatkanmu…" Kata Naruto sambil tersenyum.

Asuna langsung memusatkan perhatiannya ke Naruto.

"Andai saja Aku tidak mengambil jalan di situ, Aku pasti tidak akan memaafkan diriku. Aku tidak ingin kehilangan mu dan Aku juga tidak ingin membuat hati Kou-aniki menjadi sedih. Baru kali ini Aku bersyukur untuk ikut masuk di game ini." Kata Naruto yang menatap ke tanah memikirkan apa yang akan terjadi jika dia mengambil jalan tadi atau dia mengabaikan teriakan Asuna.

Asuna pun juga ikut merenungkan apa yang barusan dikatakan Naruto. Seandainya bukan karena Naruto, dia mungkin sudah tidak ada di dunia ini maupun di dunia nyata. Dia tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi. Bisa saja dia minta bantuan, dan orang yang membantunya memiliki niat lain.

Ini sudah berkali-kalinya dia bersyukur ada Naruto. Bukan hanya karena dia menyelamatkannya. Tapi karena dia sudah ada di dalam kehidupannya.

"Hei Naruto." Sahut Asuna

"Ya?" Balas Naruto.

"Terima kasih." Kata Asuna sambil memegang tangan Naruto.

"Ehm…ok, Aku juga senang kok bisa membantumu." Kata Naruto yang mencoba menahan malunya karena dipegang Asuna.

Lama saling bertatap, akhirnya Asuna sadar dan langsung melepas tangan Naruto, memalingkan wajah untuk menutup rasa malunya. Naruto juga memalingkan wajahnya untuk menutup wajahnya yang memerah. Tiba-tiba ada suara perut keroncongan yang memecah suasana canggung itu. tapi tidak untuk Asuna.

'Perut bodoh! Sempat-sempatnya berbunyi…' Kata Asuna yang mukanya tambah merah.

Mereka berdua saling bertatapan dan tiba-tiba tertawa, merasa lucu akan kejadian tadi. Mereka tertawa selepas-lepasnya tanpa menghiraukan kemungkinan orang-orang yang akan menatap mereka. Setidaknya ini adalah momen di mana mereka bisa melupakan masalah mereka.

Setelah puas tertawa, Naruto langsung mengeluarkan rotinya dan menawarkan satu kepada Asuna. Sambil mengucapkan terima kasih, Asuna mengambil roti itu dari tangannya. Mereka mengucapkan selamat makan dan mulai makan bersama.

"Ini hambar." Kata Asuna

"Hei jangan begitu, setidaknya kita bisa makan." Kata Naruto.

"Tapi ini memang hambar, Naruto." Kata Asuna yang mengomentari roti yang memang hambar.

"Aku tahu. Bagaimana kalau begini? Kau ikut denganku untuk selesaikan satu quest. Hadiah quest ini adalah Krim yang lezat. Kau bisa mencampurnya dengan roti agar tambah nikmat." Kata Naruto yang baru mengingat krim lezat itu.

"Benarkah? Ternyata ada seperti itu ya…" Kata Asuna.

"Tentu, apalagi kalau kamu mengambil dan meningkatkan skill [Cooking] mu. Beuh… Kau bisa buat makanan yang lezat dan menjadi chef terkenal di Aincrad." Kata Naruto

"Eh? Skill [Cooking]? Hal yang seperti itu ada juga?"

"Oh jelas. Di SAO terdapat berbagai jenis skill lainnya seperti [Fishing], [Carpentry]…." Kata Naruto yang mulai menceritakan berbagai skill yang ada di SAO.

Asuna pun mendengarkan cerita Naruto sambil memakan rotinya. Roti yang hambar itu tidak terasa hambar lagi, malah tambah nikmat, ketika mereka saling berbincang. Sesekali Asuna bertanya kepada Naruto mengenai beberapa hal dan dengan kesanggupannya, Naruto akan menjawabnya.

Tidak terasa Matahari mulai terbit lagi menandakan hari baru telah dimulai. Mereka pergi mengecek apa-apa saja di Medai Village. Mereka menandai lokasi-lokasi seperti toko, blacksmith, penginapan, pemberi quest dan sebagainya. Setelah keliling-keliling di desa, Asuna ingin menanyakan sesuatu ke Naruto.

"Hei Naruto." Kata Asuna.

"Ya?" balas Naruto.

"Aku ingin bertanya, tujuan mu ke sini itu untuk apa?" Kata Asuna.

"Oh itu, Aku sedang mencari harta karun." Kata Naruto.

"HARTA KAR-" teriak Asuna yang langsung dihentikan oleh Naruto.

"Shh…nggak usah teriak-teriak kau tahu." Kata Naruto menekankan apa yang dimaksudnya.

Melihat Asuna yang mengangguk, Naruto lalu melepaskan tangannya.

"Hah… seperti yang kukatakan Aku sedang mencari harta karun. Dan kau jangan berteriak lagi, aku tidak ingin mendapatkan perhatian dari orang-orang yang tidak diinginkan." Kata Naruto.

"Iya, Aku minta maaf. Tapi … Memangnya harta karunnya benar-benar ada?" Tanya Asuna.

"Entah, Aku hanya baru mendapatkan petunjuknya saja." Kata Naruto.

"Oh, ok… kalau begitu Aku ikut dengan mu." Kata Asuna dengan penuh keyakinan.

Naruto yang mendengar kata Asuna hanya menaikkan alisnya.

"H-hei apa maksud wajahmu itu? Aku ini kuat kau tahu. Kamu lihatkan waktu Aku bertarung." Kata Asuna mencoba meyakinkan Naruto.

Naruto yang mendengar langsung berpikir.

'Bener juga sih, untuk pemula, dia lumayan bisa untuk menjaga dirinya. Hmm…ikut? Tidak? Ikut? Tidak? Hah… ya sudahlah, nanti kalau Aku tidak mengajaknya pasti Aku akan dibunuh sama dia.' Batin Naruto.

"Baiklah." Kata Naruto yang menyerah terhadap permintaan Asuna.

"Yey! Tenang saja Aku tidak akan membebanimu." Kata Asuna.

"Tapi…" Lanjut Naruto.

"Hmm?" Tanya Asuna dengan penuh heran.

"…Kamu udah level berapa sekarang?" Tanya Naruto.

"Ehm… Aku sudah level 9. Memang kenapa? Bukannya kau level segitu juga?" Kata Asuna yang menganggap Naruto juga berada di level nya.

'Sudah level 9? Jadi sedikit di atas rata-rata.' Batin Naruto mengingat rata-rata level para player sekarang itu level 7 sampai level 8.

"Hei beri tahu aku level mu juga dong. Masa Kamu tahu level ku tapi Aku tidak tahu level mu." Tekan Asuna.

"14." Kata Naruto.

"Hmm?" Tanya Asuna yang tidak mendengar perkataan Naruto.

"Level ku level 14, sedikit lagi jadi level 15." Beritahu Naruto mengenai levelnya.

"Eh?...EEEH?! E-empat belas? Kau habiskan seluruh waktumu untuk naik level?" Kata Asuna yang kaget akan kekuatan Naruto jauh diatas rata-rata.

"Hmm ya bisa dibilang begi-" Kata Naruto sambil mengangguk tapi kerah nya langsung ditarik oleh Asuna.

"Cepat beritahu Aku caranya! T-tidak, ajari Aku caranya. Ajak Aku sebagai teman party mu lagi. Kau tidak bisa kabur dari ku, Naruto." Kata Asuna yang mencengkram erat kerah Naruto.

"Gugh…Kau menarik ku terlalu kencang. Dan untuk permintaan mu itu…hmm...bagaimana ya…" Kata Naruto.

Asuna yang mendengar itu langsung melepas cengkaramannya. Naruto melihat Asuna tiba-tiba menundukkan wajahnya. Naruto langsung panik karena sudah mengucapkan kata yang salah. Tidak lama kemudian Asuna mengangkat wajahnya dengan menggunakan jurus andalan para makhluk dengan wajah yang imut, Puppy eyes.

'Tahan Naruto, tahan. Kau bisa menahannya, Naruto. Ingat latihan mu selama ini, Naruto. Dia hanya mencoba melemahkan imanmu. Dia hany-.' Batin Naruto mencoba menahan akan efek dari Puppy Eyes nya Asuna tetapi dia akhirnya menyerah.

"B-baik lah, duh. Aku akan mengajak mu jadi teman party ku lagi." Kata Naruto yang menyerah dengan jurusnya Asuna.

Tidak mendengar balasan dari Asuna, Naruto langsung melanjutkannya.

"D-dan ya Aku akan mengajari mu cara naik level secara cepat." Kata Naruto lagi.

"Makasih, Naruto. Kamu memang yang terbaik." Kata Asuna sambil memberikan senyumannya.

Mendengar kata terima kasih dan melihat senyuman Asuna, membuat wajah Naruto memerah. Dia langsung membalikkan badannya dan berjalan menuju ke toko.

"Y-ya sudah kalau begitu kita pergi ke toko dan blacksmith untuk beli persiapan perjalan kita." Kata Naruto yang mendahului Asuna.

"H-hei tunggu Aku, Naruto." Kata Asuna yang mulai mengejar Naruto.


Sekarang mereka berada di tengah hutan, sebelah barat Medai Village. Sebelumnya Naruto meng-restock apa-apa saja yang dibutuhkannya seperti potion dan antidote. Selain itu dia pergi menemani Asuna untuk membeli senjata di blacksmith. Naruto sempat menawarkan pedangnya, tapi Asuna menolak karena telah meminta banyak hal dari Naruto. Karena tidak ingin memaksakan kehendaknya, Naruto mebiarkannya. Lagipula bagi Asuna, potion dan Antidote yang dibelikan oleh Naruto sudah cukup.

Setelah membeli senjata dengan cadangannya, mereka pergi ke pemberi quest. Quest "A Boar Tusk" ini menyuruh mereka untuk mengumpulkan 50 Wild Boar Tusk. Kurang lebih sama lah dengan quest nya yang kemarin. Wild Boar sendiri merupakan monster versi lebih kuat nya Frenzy Boar .

Hanya saja jika dibandingkan dengan Red Dire Wolf , Red Dire Wolf lebih kuat dan cepat dibanding Wild Boar , kecuali babi liar itu menggunakan skill [Rage]. Tetapi Wild Boar memiliki HP yang lebih besar dibandingkan dengan serigala itu. ini merupakan latihan yang cocok bagi Asuna untuk meningkatkan skills nya.

Setelah berdiskusi dengan Asuna mengenai stats dan skills, Naruto jadi tahu Asuna merupakan tipe yang mengandalkan kecepatan dan kelincahan dari cara dia mendistribusikan stats nya.

Stats Asuna adalah 15 STR dan 19 AGI Walaupun Asuna cara membagikannya lebih seimbang daripada dia karena Asuna adalah pengguna [One-Handed Sword].

Skill Asuna Sendiri, seperti yang dikatakan sebelumnya, yakni [One-Handed Sword], [Parry], dan [Armor Piercer]. Pilihan yang bijak pikir Naruto. Ketika dia menanyakan tentang mods, Asuna memberitahunya dia belum memasang apa-apa.

Naruto memberi saran, karena [One-Handed Sword] nya sudah mencapai 189, maka yang diambil adalah [Quick Change], [Shorten Sword Skills Cooldown] dan [Increase Critical Hit I Chance]. Selanjutnya [Parry]. Di level 204, Naruto menyarankan untuk mengambil [Redirect I], [Redirect II], [Redirect III] dan [Repel I]. Terakhir [Armor Pierce]. Di level 134, di mana Naruto iri melihatnya namun diprotes oleh Asuna, Naruto menyarankan mengambil [Increase Critical Hit Chance I] dan [Increase Critical Hit Chance II].

Naruto memberi tahu alasan dia menyarankan hal itu dan Asuna pun mengerti dan mengikuti kata-katanya.

Setelah itu beres Naruto memberi tahu mengenai monster yang dihadapinya. Kali ini Naruto akan menjadi umpan dan defense sedangkan Asuna adalah pengeksekusinya. Naruto ingin Asuna fokus untuk lebih utama meningkatkan skill [One-Handed Sword] lalu [Parry]. [Armor Pierce] sendiri akan ikut naik level bersama [One-Handed Sword], tergantung apa yang dilawannya.

Setelah itu mereka pun pergi ke tempat tujuan di waktu sore hari. Dia tidak ingin terlalu berlama-lama di malam hari karena tujuan utama mereka adalah meningkatkan level dan skills Asuna. Bisa berbahaya jika mereka terlalu banyak.

Sambil berjalan Naruto menjelaskan lebih detail lagi mengenai sistem party kepada Asuna seperti Hit Point Bar, pembagian Exp, Cor dan loot, last hit dan sebagainya. Dalam party, kamu bisa melihat nama dan hit point bar temanmu. Asuna melihat namanya dan nama "Menma" dibawahnya. Melihat ini membuat sang gadis menaikkan alisnya, tapi Naruto mengatakan untuk mengabaikannya.

Exp yang didapat tidak dibagi dan semua mendapatkan nilai yang sama, Cor dibagi secara merata dan loot dibagi secara acak. Di SAO tidak ada battle log atau pengumuman untuk mengetahui siapa dapat loot apa. Untuk last hit sendiri terkhususkan untuk boss battle saja yang di mana mereka yang melakukannya akan mendapatkan rare drop.

Terus ada teknik untuk party yang bernama switch. Switch sendiri sebenarnya bukan skills yang ada di sistem SAO, bisa dianggap sebagai improvisasi, di mana mereka akan menyerang secara bergantian dengan menyebut "Switch" sebagai kodenya. Hal ini dikarenakan jeda serangan yang cukup sedikit, AI yang tidak cukup cepat untuk beradaptasi akan gaya bertarung lawan, serta pre-motion dan post-motion dari [Sword skill] itu sendiri.

Berbicara [Sword Skills], Naruto mencatat dikepalanya untuk menggunakan variasi [Sword Skills] karena sebenarnya berbahaya jika bertarung tanpa menggunakan [Sword Skills]. Alasannya adalah menggunakan [Sword Skills] sendiri akan melakukan serangan dengan kekuatan dan kecepatan yang mustahil dibandingkan melakukannya seperti biasa

Dan terakhir jumlah maksimal party adalah 6 orang, dan 8 party atau grup dapat membentuk 1 kelompok raid yang cukup untuk melawan boss.

Kembali ke masa sekarang, mereka akhirnya melihat babi yang di maksud di tengah tanah lapang yang cukup luas. Mereka berdua saling memastikan untuk siap menghadapi babi-babi itu. Ketika sudah siap, Naruto mengambil batu dan melempari babi itu untuk menarik perhatiannya.

Sesudah menangkap perhatian babi itu, Naruto siap-siap [Parry] dan Asuna siap-siap menghabisinya. Sesekali Naruto membantu Asuna melukai babi-babi itu karena HP nya yang lumayan tinggi. Sesekali mereka juga switch untuk membiasakan diri bekerja sama. Selain itu Naruto mengingatkan Asuna untuk tetap waspada terhadap daerah sekitar dan menjaga jarak. Pertarungan ini mulai sengit karena sudah malam.

Seperti biasa jumlah spawn mereka jadi meningkat. Tetapi Naruto berusaha untuk tetap menjaga Asuna agar tidak kewalahan menghadapi jumlah dari babi-babi kuat ini. Sesekali Naruto mencoba [Sword Skills] yang belum pernah di cobanya seperti [Gattling Thrust], di mana dia menusuk secara bertubi-tubi. [Uplift], di mana dia menyerang dari bawah ke atas, menerbangkan lawannya. [River Splash], di mana dia melakukan serangan ayunan tombak yang seperti aliran sungai. Dan [Vertical Cut], di mana dia melakukan beberapa serangan ayunan secara vertikal.

Semakin lama Asuna semakin terbiasa dengan pola serangan babi itu, jadi bisa menghindar dan menghadapinya dengan mudah. Tebas, tangkis, dan tusuk divariasikan untuk mengalahkan babi liar ini. Asuna langsung menggunakan [Sword Skills] [V Slash], di mana dia melakukan tebasan membentuk "V", membunuh babi liar itu.

Merasa ada yang menyerangnya, dia langsung menghindarinya tetapi terkena serangan dari babi kedua, membuatnya terluka dan terlempar.

"ASUNA!" Teriak Naruto melihat keadaan Asuna.

Naruto langsung menggunakan [Circle Slash] untuk melempar babi-babi yang mengelilinganya dan berlari mendekati Asuna.

"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Naruto.

"Iya, Aku tidak apa-apa. Hanya saja Aku tidak melihat babi menyebalkan itu menyerangku." Jawab Asuna.

"Syukurlah. Sekarang bangun, pertarungannya belum selesai." Kata Naruto.

"Baik, Naruto." Kata Asuna.

Naruto pun membantu Asuna bangkit dan mereka kembali dalam posisi siaga. Naruto mengganti senjatanya menjadi pedang. Bersamaan, Naruto dan Asuna menggunakan [Thrust] menusuk babi terdekat. Naruto membiarkan Asuna menghabisi babi-babi itu. Naruto dan Asuna melompat ke belakang agar tidak dikerumuni. Satu-persatu babi-babi itu terlibas oleh duo pengguna pedang ini. Hanya cahaya bulan dan suara pertarungan yang menemani mereka.


Lama kelamaan bulan bergerak dan sekarang berada tepat di atas mereka. Asuna mulai sangat lelah dan Naruto menyadari hal itu. Sebenarnya quest mereka sudah selesai, tetapi Asuna memintanya untuk berlama-lama lagi agar bisa meningkatkan level dan skill nya. Mengerti akan pentingnya istirahat, Naruto lalu memanggil Asuna.

"Asuna sebaiknya latihan kita kali ini sampai di sini saja. Kita harus pulang dan menyetor quest item ini." Kata Naruto.

"T-tapi Aku masih kuat kok. Tolong sebentar lagi, sebentaar saja." Kata Asuna.

"Tidak, Asuna. Kau sudah lelah. Jika kita terus begini, malah akan mencelakai daripada menguntungkan kita. Aku janji besok Aku akan menemani mu latihan lagi." Kata Naruto berusaha membujuk Asuna.

"T-tapi…hah… baiklah." Kata Asuna yang mulai mundur dari tempat itu.

Naruto mengangguk melihat Asuna sudah mau berhenti melanjutkan latihan mereka. Mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu agar tidak dikejar oleh kumpulan Wild Boar itu. Mereka istirahat sejenak untuk minum potion dan memakan roti mereka. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Ketika berjalan, Naruto sadar cara jalan Asuna yang sedikit aneh. Dia siap-siap jika Asuna tiba-tiba saja terjatuh. Dan benar perkataannya, tubuh Asuna mulai mengarah condong ke depan. Dengan sigap, Naruto langsung menahan dan menggendong Asuna di punggungnya.

Asuna sebenarnya malu digendong, tapi dia sangat lelah untuk terus berjalan. Untung Naruto dengan sigap menahannya dan menggendongnya. Asuna mengeratkan pelukannya agar tidak jatuh dari Naruto.

"Maaf Aku merepotkanmu." Kata Asuna akan situasi mereka saat ini.

"Maa…Maa… ini biasa-biasa saja kok. Lagipula Kamu tidak berat kok." Kata Naruto.

"Kau tahu, Naruto? Aku terlalu lelah untuk membalas kata-katamu tadi." Kata Asuna.

"Hehehe, tapi memang benar Kamu tidak berat kok." Kata Naruto.

"Benarkah?" Tanya Asuna.

"Mhmm." Kata Naruto sambil mengangguk.

Setelah itu mereka diam dan tak ada satu pun yang memulai percakapan lagi. Hingga Asuna melakukannya.

"Naruto." Kata Asuna.

"Ya?" Kata Naruto.

"J-jika Aku bangun nanti… Kau akan tetap ada bersamaku kan?" Tanya Asuna.

"Tentu." Jawab Naruto.

"Kita akan menjalankan quest bersama lagi kan?" Tanya Asuna.

"Iya." Kata Naruto.

"Kita akan berburu harta karun itu sama-sama kan?" Tanya Asuna.

"hehehe Iya." Jawab Naruto.

"K-kita akan menyelesaikan permainan ini dan kembali ke rumah sama-sama kan?" Tanya Asuna.

"Pasti." Kata Naruto.

"Janji?" Tanya Asuna yang tambah mengeratkan tangannya.

"Atas nama ibu dan ayahku, Aku janji." Kata Naruto memberikan janjinya.

"hehehe, Kamu nggak usah…sejauh…itu…" Kata Asuna mengenai kata Naruto yang agak berlebihan.

Naruto mendengar suara ngorok dari Asuna yang tertidur. Sepertinya Asuna sangat lelah pikir Naruto.

'Aku berjanji, Asuna. Aku akan membawamu kembali pulang ke rumahmu. Selamat malam dan mimpi yang indah, Putri tidur. Kerja bagus untuk hari ini.' Batin Naruto melihat muka polos Asuna yang tertidur.

Naruto berjalan sambil menikmati malam yang tenang ini, mencoba memberikan tidur yang nyenyak untuk Asuna.


"Hoam..."

Suara menguap Asuna mengisi taman desa Medai di malam ini. Dia terbangun karena Naruto ingin menyetor quest nya. Dia melihat Naruto sedang berbicara dengan NPC itu. Entah apa yang mereka katakan, tapi sepertinya Naruto telah selesai dengan urusannya. Dia melihat notifikasi quest itu dan mendapatkan exp lumayan sehingga dia bisa naik ke level 11 dan jumlah Cor yang tidak sedikit. Setelah mengkonfirmasi notifikasi itu, dia melihat Naruto yang berjalan ke arahnya.

"Heh…apakah kamu masih mengantuk?" Tanya Naruto sambil cengir.

"Iya. Engh… Pertarungan tadi sangat membuatku lelah." Kata Asuna yang mulai berdiri dari duduknya dan merenggangkan badannya.

"Hmm… yang penting kedepannya Kamu harus ingat untuk jaga istirahat. Kamu tidak maukan ketika bertarung tiba-tiba kamu pingsan." Kata Naruto yang mulai berjalan ke arah penginapan.

"Iya, Aku akan mengingatnya. Tapi Aku ingin cepat-cepat jadi kuat sepertimu." Kata Asuna yang berjalan di sampingnya.

"Hehehe nggak usah terburu-buru. Meskipun begitu, Aku juga tetap menjaga istirahat dan makan juga tahu." Kata Naruto.

"Hmm… oh iya apakah Kamu naik level?" Tanya Asuna.

"Iya, Kamu?" Tanya balik Naruto.

"Iya, Aku juga. Ajarin Aku dong cara membaginya." Pinta Asuna.

"Menurutku Kamu sudah tahu dasarnya. Tapi baiklah, tapi kita membahasnya nanti di kamar." Kata Naruto yang tidak menyadari apa yang dikatakannya.

Mendengar perkataan Naruto, membuat pipi Asuna memerah. Ini pertama kalinya dia membawa masuk laki-laki selain keluarganya ke kamarnya. Ya meskipun ini bukan kamar sebenarnya tapi tetap aja sama. Asuna langsung memukul kepala Naruto.

"Argh…Salahku apa sih?" Tanya Naruto

"D-dasar bodoh." Kata Asuna yang mulai percepat jalannya.

"Huh? O-oi, tunggu Aku." Kata Naruto yang mulai mengejar Asuna.


Setelah membayar biaya sewaan. Mereka pun akhirnya masuk di kamar Naruto. Naruto masih tidak tahu kenapa Asuna memukulnya tadi. Tetapi dia tidak ingin menanyakannya sekarang. Dia langsung duduk di kursi sedangkan Asuna duduk di Kasur. Dia melihat wajah Asuna memerah dan Naruto yang melihatnya, bingung mau bilang apa. Tapi dia memberanikan diri karena dia adalah Uzumaki Naruto.

"Em…Apakah Aku melakukan kesalahan, Asuna?" Tanya Naruto sambil menggaruk kepalanya.

"T-tidak kok." Kata Asuna.

"Trus?" Lanjut tanya Naruto.

"H-hanya saja…" Kata Asuna.

"Hmm?" Tanya Naruto.

Asuna mengatakan sesuatu tetapi Naruto tidak bisa mendengarnya karena suaranya yang kecil.

"Aku tidak bisa mendengarmu, Asuna." Kata Naruto.

Asuna memperbesar suaranya tetapi Naruto tetap tidak mendengarnya.

"Aku masih tidak bisa mendengarmu, Asuna." Kata Naruto.

"…Aku bilang ini pertama kali ku bersama laki-laki SELAIN KELUARGAKU DI KAMAR." Kata Asuna yang langsung menutup mulutnya karena teriak.

"Oh…O-OH!" Kata Naruto yang mulai sadar akan keadaan mereka sekarang.

Wajah Naruto langsung memerah dan keduanya pun tidak berani berbicara. Merasa ada hal penting dan ingin menghilangkan suasana canggung ini, Naruto beranikan diri mematahkan suasana hening ini.

"Ehem… bukankah Kamu ingin menanyakanku sesuatu." Kata Naruto.

"O-oh iya, maaf Aku lupa." Kata Asuna yang lupa akan tujuan utamanya.

Mereka pun membuka main menu mereka dan melihat stats dan skill mereka. Seperti yang diberitahu tadi Asuna naik ke level 11, dan Naruto sekarang naik ke level 15. Naruto mengusulkan bertanya kedepannya Asuna akan menggunakan senjata apa, agar bisa menyesuaikan stats dan gaya bertarungnya.

"Apakah Kamu punya saran?" Tanya Asuna.

"Hmm… sebenarnya itu tergantung dari kamu sih. Tapi biar kujelaskan saja. Selain [One-Handed Sword] ada 4 jenis [Weapon Skills] lain yang tersedia di awal yaitu [One-Handed Curved Blade], [One-Handed Axe], [One-Handed Dagger], dan [One-Handed War Hammer]. [Weapon Skills] akan memiliki cabang jika levelnya sudah lumayan. Mungkin sekitaran 300 atau lebih, untuk bisa membukanya." Kata Naruto

"[One-Handed Sword] sendiri punya dua cabang yakni [One-Handed Rapier] dan [Two-Handed Sword]. [One-Handed Rapier] sendiri, seperti namanya, menggunakan Rapier, di mana mereka mengandalkan kecepatan dan memberikan damage yang lumayan atau tinggi secara bertubi-tubi. Rapier juga salah satu senjata yang memiliki kesempatan Critical Hit yang tinggi selain tombak dan tentunya lebih ringan daripada tombak. Cocok untuk jadi DPS." Lanjut Naruto.

"Em… DPS itu apa?" tanya Asuna.

"DPS itu singkatan untuk Damage per Second, di mana player tersebut bertugas memberikan damage yang tinggi dalam waktu yang singkat." Kata Naruto.

Asuna mengangguk mendengarkan hal itu.

"Meskipun memiliki kecepatan dan memberikan damage yang tinggi, Rapier memiliki durability yang rendah dibanding dua lainnya yang ku sebut tadi, mungkin hanya lebih tinggi daripada Dagger saja. Yang kedua adalah [Two-Handed Straight Sword]. Yang ini menggunakan pedang yang besar yang memerlukan dua tangan untuk menggunakannya. Aliran ini memberikan damage yang tinggi juga, dan rata-rata durability senjatanya sangat bagus. Tapi kelemahan dari aliran ini adalah pergerakannya yang lambat. Jika melawan musuh yang sangat cepat dengan damage yang lumayan, pasti mereka akan kalah. Tapi tetap saja mereka adalah lawan yang berbahaya. Sekali dua kali kamu kena, nyawamu bisa melayang." Kata Naruto.

Asuna mengangguk dan mengingat informasi itu baik-baik di kepalanya.

"Terus yang lainnya?" Tanya Asuna.

"Cabang dari [One-Handed Curve Blade] adalah [Katana], tapi setahuku itu termasuk extra skill. Terus [One-Handed Axe] ada dua yakni [Two-Handed Assault Spear] yang menggunakan tombak, dan [Two-Handed Battleaxe] yang menggunakan kapak besar. [One-Handed Warhammer] adalah [Mace]. Dan [One-Handed Dagger] sendiri kayaknya [Blade Throwing], Aku kurang tahu mengenai [One-Handed Dagger]."

Asuna menyimpan baik-baik infonya, tetapi ada satu hal terlintas di kepalanya.

"Ah, Aku ingin bertanya. Kenapa Kamu menggunakan tombak dan pedang?" Tanya Asuna.

"Pedang adalah senjata awal ku waktu beta test. Tetapi ketika Aku mendengar tombak, aku langsung menggantinya. Mempelajari dua aliran itu tidak salah" Kata Naruto.

"Hmm… tapi, kok Kamu bisa dapat tombak dengan cepat? Apakah mencapai level 300 secepat itu?" Tanya Asuna.

"Eh… tidak juga, Aku setidaknya butuh kurang lebih 4 hari untuk mencapai level 300." Jawab Naruto.

"He… Dan Kamu melarangku tadi untuk latihan melanjutkan latihan." Kata Asuna yang cemberut.

"Nggak salah kok untuk latihan lebih. Hanya saja tadi kamu sudah sangat kelelahan, akan berbahaya jika dilanjutkan." Kata Naruto.

Sebenarnya Naruto merahasiakan skill [Two-Handed Assault Spear] nya ini dari publik. Inilah juga salah satu alasan kenapa dia mengambil skill pedang juga. Tapi sepertinya jika Asuna yang tahu sepertinya tidak apa-apa. Lagipula ini untuk menghindari Asuna mempertanyakan tombaknya di tengah kerumunan dalam waktu yang dekat.

"Asuna." Kata Naruto dengan wajah serius.

"I-iya?" Kata Asuna Kaget melihat perubahan sikap Naruto.

"Hal yang akan kuberitahu kepadamu ini tidak boleh diketahui oleh siapa-siapa." Kata Naruto.

"Baik." Kata Asuna.

"Hmm bagaimana ya caranya ku ceritakannya. Sebenarnya Aku merahasiakan skill [Two-Handed Assault Spear] ku ini. Aku juga tidak tahu alasan kenapa aku mendapatkan [Two-Handed Assault Spear]. Asumsi ku sementara ini ialah Aku mendapatkan ini karena Aku lah yang pertama menguasai [Two-Handed Assault Spear] ini pada saat beta test kemarin. Aku tidak punya alasan selain ini mengenai kenapa aku bisa mendapatkan skill ini. Aku merahasiakan ini juga karena, seperti Kamu, pasti banyak yang mempertanyakan skill ku ini. Banyak yang akan mengincarku karena menuduhku berbuat curang atau mengira Aku adalah sekutu dari Kayaba-san. Namun sebenarnya aku sendiri tidak tahu kenapa Aku mendapatkannya. Sumpah." Kata Naruto dengan muka yang tulus.

"Em…baiklah Aku akan menjaga rahasia mu. Tapi bagaimana Kamu akan menyembunyikannya? Bukannya kamu sering memakainya?" Tanya Asuna.

"Ya, Aku mengerti maksudmu. Tapi selain dipertempuran, apakah Kamu melihatku membawa tombak?" Tanya balik Naruto.

"Eh… Tidak." Jawab Asuna.

"Nah. Aku tidak pernah membawa dan memperlihatkan senjata ini secara publik, setidaknya sampai waktu yang lumrah untuk bisa mendapatkannya. Mungkin kurang lebih 1 minggu." Kata Naruto

Asuna mengangguk mengerti cara Naruto.

"Lagipula, selain Kamu, Aku tidak pernah melakukan quest bersama dengan yang lain." Kata Naruto.

Entah mengapa Asuna merasa senang dengan hal itu.

"Tapi kembali lagi, apakah Kamu sudah punya rencana untuk kedepannya?" Tanya Naruto.

"Ya, sepertinya Aku akan mengambil [One-Handed Rapier] nanti." Kata Asuna.

"Ok, Kalau begitu sebarkan saja dengan perbandingan 3:7 di mana 3 untuk STR dan 7 untuk AGI."

"Baiklah." Kata Asuna yang mulai membagikan poinnya.

Stats nya yang di level 9, 15 STR dan 19 AGI, sekarang di level 11 berubah menjadi 15 STR dan 25 AGI. Naruto Juga mengubah Stats nya di level 14 yang 20 STR dan 29 AGI, di level 15 menjadi 21 STR dan 31 AGI.

Asuna Mengecek skills nya di mana [One-Handed Sword] mencapai 213, [Parry] mencapai 224 dan [Armor Pierce] mencapai 150. Asuna mengambil mod [Increase Critical Hit Chance II] untuk [One-Handed Sword], dan untuk [Armor Pierce], dia mengambil [Increase Critical Hit Chance III].

Naruto melihat skills [Two-Handed Assault Spears] sudah mencapai 318, [One-Handed Sword] mencapai 310, [Parry] mencapai 331, dan [Armor Pierce] mencapai 117. Naruto memilih [Increase Critical Hit Chance IV] untuk [One-Handed Sword], di mana merupakan tingkatan tertinggi [Increase Critical Hit Chance] dengan besar kesempatan 75%. Untuk [Armor Pierce], dia mengambil [Increase Critical Hit Chance II]. Setelah itu Asuna pamit ke kamarnya ingin tidur dan saling mengucapkan selamat malam.

Tetapi ketika mau tidur, mereka jadi tidak bisa tertidur mengingat kejadian tadi.

'Ya Tuhan, Apa yang terjadi padaku?' Batin mereka berdua.


"Selamat Pagi."

"Hoam…Selamat Pagi."

Asuna yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Naruto sudah menunggunya di depan kamarnya. Setelah itu, mereka keluar dari penginapan untuk mengisi kembali persediaan yang biasanya dibawa seperti potion, Antidote dan roti sebelum mereka keluar mencari harta karun. Naruto mengajaknya ke blacksmith untuk melihat armor dan senjata lain. Tetapi karena tidak ada yang menarik, waktu mereka di blacksmith singkat saja. Lagipula belum ada senjata mereka yang perlu di-repair.

Setelah itu mereka keluar ke utara desa Medai menuju ke gua tempat harta karun itu berada. Agar perjalanan ini tidak kosong, Naruto menanyakan apa saja yang dilakukan Asuna beberapa hari kemarin, sebelum bertemu Naruto.

"Jadi, Asuna." Kata Naruto.

"Hmm?" Tanya Asuna.

"Beberapa hari kemarin ini Kamu ngapain saja? Tentunya sebelum bertemu dengan ku." Tanya Naruto.

"Hmm… setelah pengumuman itu, Aku tinggal satu harian di kota pertama. Baru keesokan harinya Aku mulai memberanikan diri untuk keluar buat naikkan level. Aku tinggal di sana kurang lebih tiga hari lalu akhirnya keluar ke tempat yang lebih jauh." Kata Asuna yang menceritakan pengalamannya.

"Hmm, jadi begitu. Masuk akal juga jika yang lainnya melakukan hal yang sama." Kata Naruto.

"Terus Kamu Naruto? Apa yang kamu lakukan beberapa hari kemarin?" Tanya balik Asuna.

"Setelah mendengar pemberitahuan itu, Aku langsung pergi ke Horunka Village, yang di mana dekat dengan kota pertama. Aku ke sana untuk menaikkan level dan mencari pedang yang kuat. Beberapa hari Aku tinggal di sana untuk grinding dan mengerjakan quest. Sebenarnya Aku menemukan petunjuk harta karun ini karena beruntung mendapatkan di tempat quest ku. Setelah itu Aku melanjutkan perjalanan ku ke Medai Village dan di tengah perjalanan, akhirnya kita bertemu deh." Naruto menjelaskan ceritanya.

"Oh… apakah pedang yang kau maksud itu yang kau pakai sekarang?" Tanya Asuna mengenai pedang yang dibawanya.

"Ya, betul. Pedang ini bernama Anneal Blade. Menurutku pedang ini lumayan bagus, di mana Aku bisa menggunakannya sampai ke lantai 3 atau bahkan lantai 5." Kata Naruto mengenai Anneal Blade.

"Wow… pantasan kamu kuat sekali." Kata Asuna.

"Hehehe, tidak juga. Aku masih perlu latihan lagi untuk mengambil gelar itu." Kata Naruto.

"Nggak usah merendahkan diri, Naruto." Kata Asuna.

"Hei, apa yang ku katakan memang benar kok." Kata Naruto.

"itu Nggak benar." Kata Asuna.

"lah? Emang Iya kok." Kata Naruto.

"Nggak, kamu hanya merendahkan diri saja." Kata Asuna.

"Emang Iya." Kata Naruto.

"Nggak."

"Iya."

"Nggak."

"Iya."

"Nggak."

"Iy- hmm?"

"Ngg- hei, kenapa kamu berhenti?"

Dan ya, Naruto memang menghentikan jalannya. Asuna yang melihatnya langsung bertanya-tanya. Wajah Naruto mulai serius, dan itu membuat Asuna tambah heran.

"Asuna, sebaiknya kau jaga-jaga dan tingkatkan waspadamu." Kata Naruto.

"Hmm? Memang kenapa Naruto?" Tanya Asuna.

Naruto terdiam sementara. Menunngu munculnya monster keluar. Biasanya monster langsung keluar jika seorang player sudah berada di daerahnya. Tapi karena tidak ada orang dan mempercayai insting nya. Naruto langsung memancing suara yang didengarnya itu.

"Siapa pun yang ada di sana, keluar dari persembunyianmu." Kata Naruto.

"Em… Kamu berbicara dengan siapa, Naruto?" Tanya Asuna yang mulai khawatir.

Tidak lama mereka berdiri, keluar lima orang dari semak-semak. Mereka semuanya pria. Melihat dari ekspresi mereka sepertinya menginginkan sesuatu darinya.

'Jadi perampok ya.' Batin Naruto.

"Wah kawan-kawan sepertinya kita ketahuan." Kata salah satu dari mereka yang kemungkinan pemimpinnya.

'Tipikal' Batin Naruto.

"Apa mau kalian?" Tanya Naruto.

"Hmm apa mau kami? Bagaimana kalau Kamu menyerahkan hartamu? Atau lebih baik, bagaiamana kalau Kamu menyerahkan gadis itu? Hahahaha" Kata Pemimpin itu tertawa bersama rekan-rekannya.

Naruto yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya dan Asuna langsung memegang pedangnya.

"Oh ternyata para pengemis ya? Aku tidak menyangka Kalian harus menghabiskan uang kalian hanya untuk membeli NerveGear. Apakah Kalian harus tidak makan enam bulan dan hanya mengganjalnya dengan obat maag saja hanya untuk membeli NerveGear? Kamu tidak perlu menyiksa diri kalian kalau memang tidak mampu." Kata Naruto dengan nada mengejek.

"APA MAKSUDMU, BANGSAT?!" Kata salah satu dari mereka.

"Apa Kamu tuli atau tidak sekolah hah? Aku sudah menjelaskannya sejelas-jelasnya dan Kamu sendiri tidak mengerti. Aku mengira hanya orang-orang yang mampu yang bisa membeli game ini." Lanjut Naruto mengejek mereka.

"N-naruto…" Kata Asuna yang melihat suasananya makin memanas.

"Tenang kawan-kawan. Dia hanya mencoba buat kita marah." Kata Pemimpin perampok itu.

"Tuh dengerin kekasih mu. Udah sana, pergi 'puaskan' dia sebagai bentuk terima kasih kepadanya." Kata Naruto dengan seringainya.

Dan kata-kata Naruto sangat efektif. Naruto dan Asuna bisa melihat muka jengkel para perampok itu.

"Kau tahu, nak. Kamu membuat ku kesal sekarang. Sebaiknya Kau segera minta maaf dan berikan saja semua harta mu. Kalau tidak, Kamu dan gadis mu itu akan mati. Tidak, kamu akan melihat gadis itu kami jamah dulu sampai kami puas sebelum kami membunuh mu." Kata pemimpin mereka.

"Kenapa? Apakah kekasih-kekasih mu yang di situ tidak bisa memuaskan mu?" Kata Naruto dengan seringainya.

"BAIKLAH, SEPERTINYA KAU BENAR-BENAR INGIN MATI. SEMUANYA, BUNUH DIA DAN SISAKAN GADIS ITU UNTUKKU." Perintah pemimpin perampok ke kelompoknya itu.

"Asuna, ayo ikuti Aku." Kata Naruto yang langsung menarik Asuna ke tengah hutan di sebelah kanan mereka.

"B-baik." Kata Asuna.

"KEJAR MEREKA, JANGAN SAMPAI MEREKA LOLOS." Kata pemimpin mereka yang ikut mengejar Naruto dan Asuna bersama kelompoknya.

Naruto dan Asuna berlari ke tengah hutan dan dibelakangnya kelompok perampok itu mengejar mereka. Dengan kecepatan dan kelincahan mereka, Naruto bisa membuat jarak yang cukup aman dari para perampok itu.

Dia tidak ingin kabur dari mereka. Dia hanya ingin melemahkan dan melawan mereka di tempat yang lain saja. Sesekali dia melihat ke belakang untuk memastikan tidak ada orang tambahan yang mengejar mereka.

Tidak lama kemudian, dia melihat tanah lapang di depannya. Dia segera berhenti untuk menghadapi mereka.

"Sekarang mau lari ke mana kau?" Kata Pemimpin sambil menyeringai itu.

Naruto melihat mereka agak lelah mengejar dirinya dan Asuna. Dia juga melihat keadaan Asuna, tapi dia tidak kelihatan kelelahan. Sekarang dia mengembalikan perhatiannya ke perampok itu.

"Kau sebut itu lari, kakek-kakek di tempat tinggal ku bisa berjalan secepat kau tahu." Kata Naruto.

"Bos, Apakah kita akan menyerangnya sekarang?" Kata salah satu perampok yang mulai gregetan dengan Naruto.

"Iy-"

"Bagaimana kalau tahun depan saja, hmm? Ya iyalah sekarang." Kata Naruto yang memotong perkataan pemimpin mereka.

Mereka langsung marah dan dengan teriakan pemimpin mereka, mereka pun bergerak menyerang Naruto dan Asuna.

"Asuna, bersiap-siaplah dan ingat apa yang sudah kuajarkan." Kata Naruto.

"Baik." Kata Asuna yang mengeluarkan pedangnya.

Naruto dan Asuna pun siap-siap melawan perampok-perampok itu. Perampok pertama menyoba menyerang Naruto, namun berhasil ditangkis dan melemparnya ke Asuna. Asuna langsung menebas perampok dan Naruto menambah luka kepadanya. Selanjutnya Naruto menendang perampok itu kesamping mereka.

Naruto tidak sadar bahwa ada perampok kedua yang ingin menebas Naruto, tetapi berhasil ditahan oleh Asuna. Naruto yang sadar langsung menusuk dan menendang perampok kedua itu jatuh ke teman-teman mereka.

Pemimpin perampok yang kesal melihat itu langsung maju dan mempersiapkan [Sword Skills] nya. Naruto dan Asuna sadar akan skill yang akan digunakan pemimpin perampok itu dan bersiap-siap menghindar. Pemimpin Itu mengeluarkan [Thrust] dan mengarahkannya ke Naruto, tetapi berhasil dihindarinya. Naruto tidak segera menyerang pemimpin mereka karena jarak mereka. Hal ini dilakukan karena Naruto juga mengamankan jaraknya dengan Asuna agar bisa bertukar menghadapi kelompok lainnya.

Naruto dan Asuna saling membelakangi menunggu serangan dari lawannya. Salah satu perampok itu mulai jalan duluan di ikuti oleh pemimpinnya. Naruto tahu mereka mencoba untuk menyusahkan mereka dengan menyerang mereka dari dua arah.

Dengan mempersiapkan [Three Strike], Naruto memberi kode kepada Asuna. Asuna mengerti dan menangkis serangan perampok tadi. Ketika pemimpin mereka sudah dekat, Naruto langsung melepaskan skill nya lalu menyerang Pemimipin itu lalu perampok tadi dan serangan terakhir diberikan kepada pemimpin mereka. Asuna langsung menambahkan serangan ke pemimpin mereka lalu Naruto menendang pemimpin itu kembali ke teman-teman mereka.

Melihat mereka menggunakan potion, Naruto dan Asuna siap-siap untuk ronde ke dua.

Setelah darah mereka penuh, para perampok itu kembali menyerang duo pengguna pedang. Mereka mencoba untuk double team masing-masing Naruto dan Asuna. Naruto tidak terlalu kewalahan dengan serangan mereka berdua, tapi Asuna agak kewalahan.

Tidak ingin lama-lama, Naruto langsung menggunakan [V Slash] menebas kedua orang itu lalu pergi membantu Asuna. Asuna berhasil melukai dan mendorong satu lawannya, tetapi tidak menyadari kawan dari lawannya itu. Tetapi Naruto berhasil menangkis dengan waktu yang tepat, dilanjut oleh [Thrust] dari Asuna menyerang perampok itu bersama perampok lainnya yang ada dibelakangnya.

Naruto Mendorong perampok yang di dekatnya dan menyerang balik teman perampok yang mencoba menyerangnya. Asuna menangkis dan menebas perampok yang menyerangnya.

Pemimpin perampok itu lalu maju menyerang Asuna. Asuna yang mendengar ada yang mendekatinya langsung siap-siap menghadapi ancaman itu. Dia saling bertukar serangan dengan pemimpin perampok itu, namun dia mudah menekan lawannya yang lebih lemah dibandingnya. Asuna langsung melukai pemipin itu ditambah oleh Naruto dan diakhiri oleh serangan mereka berdua. Setelah itu Naruto menendangnya.

Para perampok itu kembali minum potion mereka sampai darah mereka penuh. Mereka mengubah rencana mereka melawan Naruto dan Asuna. Pemimpinnya dan satu perampok akan menghadapi Asuna, dan 3 lainnya akan hadapi Naruto.

Mereka pun langsung maju menjalankan tugas masing-masing. Naruto dan Asuna yang melihat mereka kembali menyerang, mempersiapkan diri untuk ronde berikutnya. Melawan 3 orang perampok ini mudah saja bagi Naruto, tetapi Asuna agak kesulitan dengan lawannya. Naruto [Parry] dan langsung menyerang perampok bodoh yang mencoba melukainya. Sedangkan Asuna mulai ditekan, menyimbangi serangannya.

Beberapa serangan mengenai Asuna, membuat perhatian Naruto teralihkan. Tiga serangan mengenai Naruto membuatnya terluka. Dia langsung memperlihatkan muka marahnya ke tiga perampok itu.

"H-hei ada apa? K-kamu marah hah?" Tanya salah satu perampok yang ketakutan mencoba melawan Naruto.

Mungkin hanya imajinasi mereka, tapi mereka melihat mata Naruto jadi merah dan irisnya menipis seperti monster. Mereka langsung terpaku takut melawan predator yang ada di depannya. Naruto yang marah langsung menghancurkan senjata mereka dan menyerang mereka hingga sekarat.

Setelah membuat darah mereka kuning, hampir merah, dan salah satu Tangan dan kaki mereka buntung, Naruto langsung mengejar kedua orang yang melawan Asuna.

Mendengar jeritan kelompoknya, membuat pemimpin dan salah satu teman mereka teralihkan perhatiannya. Menggunakan kesempatan ini, Asuna langsung menggunakan [V Slash], melukai mereka, dilanjut oleh Naruto yang menhancurkan senjata mereka dan membuat mereka sekarat.

Para perampok itu merasakan kematian mereka dengan melihat Naruto. Mereka mencoba kabur tapi Naruto tetap mengikuti mereka. Mereka sangat ketakutan melihat Naruto sekarang. Mereka melihat malaikat pencabut nyawa yang mengikuti Naruto dibelakangnya. Apalagi muka Naruto yang sangat dingin saat ini.

"B-bos kita tidak ada potion lagi." Kata Salah satu perampok itu yang mencoba kabur.

Mendengar itu, Pemimpinnya juga sadar dia sudah tidak ada potion. Dia melihat Naruto semakin mendekat dan merasakan kematian semakin mendekatinya juga.

"T-tolong ampuni kami!" Kata Salah satu perampok itu.

"A-akan kami berikan semua harta kami. T-tolong ampuni nyawa kami." Kata pemimpin mereka.

Namun seakan tidak mendengar, Naruto tetap berjalan dan ingin menghabisi mereka. Tidak ada ampun bagi mereka menurutnya. Ketika dia mengangkat pedang, tiba-tiba dia merasakan tangan satunya dipegang.

"HII!!!" Jerit mereka takut akan dihabisi.

Naruto langsung menghentikan gerakannya, dan mengarahkan pedangnya ke pemimpinnya.

"Pergi dari sini. Jika kalian kudapati lagi, Aku akan membuat kalian bertemu dengan Tuhan secepat kilat, kalian mengerti?" Kata Naruto mengancam mereka.

Mereka mengangguk dan Naruto berbalik meninggalkan mereka. Asuna yang dari tadi khawatir akan Naruto pun mulai berjalan mengikutinya meninggalkan para perampok itu dengan nasib mereka. Dia menghentikan Naruto karena dia tidak ingin membuat Naruto membunuh atas kelemahannya.


Setelah lama berjalan, akhirnya Naruto dan Asuna sampai di tempat tujuan mereka. Mereka tidak berbicara sepatah kata pun kecuali saat bertarung dengan monster yang menghalangi nya tadi. Itupun hanya arahan Naruto ketika bertarung, jadi tidak terhitung.

Sebelum Naruto masuk ke gua, dia menghentikan jalannya. Asuna juga ikut menghentikan jalannya. Mereka berdua diam tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Namun Naruto akhirnya memulainya karena ini juga akibat ulahnya.

"Maaf." Kata Naruto.

"Hmm?" Tanya Asuna yang tidak mendengarnya.

"A-aku minta maaf atas tindakan ku tadi." Kata Naruto yang tidak berani menghadapi Asuna.

"Oh…" Kata Asuna yang mengerti arah pembicaraan Naruto.

Asuna berjalan ke depan Naruto dan berdiri menghadapinya. Dia melihat Naruto memalingkan wajahnya. Dia pun mengarahkan wajah Naruto agar menghadapinya. Dia memegang salah satu pipi Naruto, membuat Naruto merasakan kehangatan dan le mbutnya tangan Asuna.

"Tidak apa-apa kok, Naruto." Kata Asuna dengan senyuman.

"T-tapi…"

"Aku tahu. Aku tahu waktu itu kamu sangat marah. Dan Aku berterima kasih telah peduli dan menolongku. Lagipula yang salah adalah Aku karena tidak memperhatikan." Kata Asuna.

"K-kau tidak salah, kok, Yang salah itu a-"

"Hehehe kalau begitu kita berdua salah, bagaimana?" potong Asuna.

Naruto yang mendengar itu terdiam dan menatap bola mata Asuna.

"Bagaimana kalau begini? Untuk menebus kesalahan kita, kita harus menjadi lebih kuat, ok?" Tawar Asuna.

"Y-ya kau benar. Aku berjanji akan menjadi lebih kuat lagi ke depannya." Kata Naruto yang mulai memberikan cengirannya.

Melihat wajah Naruto seperti biasa membuat Asuna jadi tersenyum.

"Aku juga berjanji akan menjadi lebih kuat ke depannya. Dan kita akan pulang sama-sama." Kata Asuna memberikan janjinya."

Setelah itu mereka berdua saling berjanji, mereka bersiap-siap terlebih dahulu sebelum memasuki gua berisi harta karun itu. level skills Asuna untuk [One-Handed Sword] mencapai 250, [Parry] mencapai 243, dan [Armor Pierce] 182. Dia mengambil mod [Increase Critical Hit Chance III] untuk [One-Handed Sword].

Sedangkan Naruto level [Two-Handed Assault Spear] nya mencapai 330, [One-Handed Sword] mencapai 336, [Parry] mencapai 359, dan [Armor Pierce] mencapai 150. Dia mengambil mod [Increase Knockback Effect II] Untuk [Parry] dan [Increase Critical Hit Chance III] untuk [Armor Pierce]. Setelah itu mereka masuk ke dalam gua.


AN : Yo, Fool di sini. Saya harap kalian menyukai chapter ini. Terima kasih kepada Enchanter no Shiroe atas masukannya. Terima kasih juga VicenteVanCoco04, Rida - kun, Namikaze cloud (guest) dan lainnya atas supportnya. Terima kasih juga buat yang udah Favorite dan Follow cerita ini.

Honestly, I'm suprise there's a foreigner who read this. But anyway, I'm still appreciate it for that.

Mungkin itu saja kali ini, sampai jumpa di chapter berikutnya. Peace