Disclaimer : Jujutsu Kaisen by Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo Satoru X Ryomen Sukuna
Genre : Supernatural, Drama, Romance, Gore
PERINGATAN : Fanfic ini berisi banyak adegan kekerasan, immoral, adegan seksual dan dewasa. Jika ini bukan selera kalian, tolong nggak usah baca fanfic ini.
OOC (Out of Character), YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, AU (Alternate Universe), maybe typo (s)
You have been warned !
Fanfic ini terinspirasi dari sebuah post di group facebook yang menceritakan tentang lore Sukuna mengenai 'unwanted child'.
Author Note : Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
.
.
Sacrifice
.
.
Satoru berbaring di sebuah futon yang empuk. Dia berbaring terlentang menatap langit-langit kamar yang tinggi. Ia melamun. Ditatapnya tangan kecilnya, ia gerakkan, terasa nyata sekali. Ini bukan mimpi kan? Ya, bukan mimpi. Dia masih hidup, jiwanya tidak diambil atau dimakan atau apapun. Dia hidup.
Dia bahkan diberikan kamar sendiri, diberi makanan enak kapanpun ia mau. Ia bahkan boleh makan jajanan saja semau dia, tak ada yang melarang. Padahal dia sudah bersiap, dia sudah memantapkan diri menukar jiwa nya malam itu.
"Tapi kenapa malah begini!" Satoru bangkit dan melempar bantal sampai ke dinding kamar.
"Hai, apa kau memanggil, Satoru-sama," Uraume langsung muncul, duduk bersimpuh di depan pintu. Seorang pelayan yang siap melayani Satoru kapanpun ia mau.
"Sukuna di mana?!" omel Satoru.
"Sukuna-sama ada di ruang kerja nya."
"HAH? Ruang kerja? Kerja?!"
"Benar, apakah ada masalah?"
"Di mana? Aku mau ketemu!"
"Baik, mari saya antar," Uraume memajukan tangannya seperti gesture mau menggendong.
"Aku bisa jalan sendiri! Aku bukan anak kecil!" wajah Satoru memerah.
"Baiklah kalau begitu," Uraume pun berjalan menjauh diikuti Satoru.
Satu hal yang membuat Satoru yakin bahwa ini nyata adalah keadaan kastil. Di luar bangunan kastil hanyalah gelap, ada asap tebal menyelimuti di sekeliling. Selain hal itu semuanya terlihat normal. Tempat itu tak jauh beda dengan mansion Gojo, bangunan dengan ciri khas jepang.
"Kita sudah sampai," ucap Uraume di depan sebuah pintu. "Sukuna-sama, Satoru-sama ing–..." belum selesai ucapan Uraume, Satoru sudah duluan membuka pintu geser itu dengan paksa.
"Sukunaaaa," panggilnya keras. Di dalam sana terlihat Sukuna yang tengah duduk di atas tatami berhadapan dengan meja besar yang rendah, di meja itu berisikan tumpukan kertas. Ya. Tumpukan kertas. Terkadang Satoru tak paham lagi dia ada di dunia mana.
"Hng?" Sukuna menghentikan pekerjaannya untuk menatap Satoru. "Ada apa bocah?" tanya Sukuna dan menggerakkan satu tangan sebagai isyarat Uraume untuk pergi.
"Permisi," Uraume pamit dan menutup pintu.
"Harusnya tidak begini!" omel Satoru sambil mendekat ke arah Sukuna dengan langkah yang dihentak hentakkan.
"Apanya yang tidak begini?" tanya Sukuna, ia menopang dagu dengan salah satu tangannya.
"Malam itu, malam itu aku sudah mempersiapkan diri. Aku menjual jiwaku padamu," ucap Satoru. "Tapi kenapa malah begini. Aku hidup di mansion mewah, makanan banyak, hidup sesukaku. Apa-apan ini?!"
"Hah? Apa maksudmu bocah? Kau ada yang tidak puas dengan pelayanan Uraume atau apa?"
"Bukan begitu! Tapi maksudku…ettoo, seperti…kau memakan jiwaku, atau menjadikanku budak, atau semacam itu. Pokoknya yang seperti kutukan jahat lakukan."
Sukuna menghela nafas dan menatap mati bocah di hadapannya. Tapi ia lalu menyeringai. "Souka, begitu ya," ia lalu meraih tubuh Satoru dan menggendongnya mendekat. Ia gunakan masing-masing tangannya untuk memegangi kedua tangan dan kaki Satoru, merentangkannya di hadapan Sukuna.
"Begitu ya, jadi kau ingin kumakan hah?" ucap Sukuna dengan muka mengerikan.
"Ugh…uwaaahhh…" Satoru menjerit, apalagi saat melihat mulut besar di perut Sukuna terbuka lebar, menampilkan taring dan lidah yang menjulur panjang. Sukuna mendekatkan tubuh Satoru menuju mulutnya itu. "AAAAA, AAAAA," teriak Satoru, lidah Sukuna terjulur lalu menjilat, menggelitik Satoru di bagian ketiak dan perutnya.
"Haha…ahahahahhaah," mau tak mau Satoru pun tertawa geli. "Hen… hahahaha… hentikan, hentikan… hahahaha."
Bletak!
Tangan kecil Satoru menimpuk kepala Sukuna. Bocah itu menatap marah seperti anak kucing, sementara Sukuna hanya menatap datar.
"Kau ini jangan main-main, kau ini sebenarnya kutukan apa sih!" omel Satoru.
Sukuna mendudukkan Satoru di pahanya, satu tangannya tetap memegangi Satoru supaya tak jatuh.
"Geez, jadi maumu apa sih?" tanya Sukuna.
"Ya…ya…aku tak tahu. Kenapa…kau malah memperlakukanku dengan baik. Kau kan kutukan."
"Jadi kau mau aku memperlakukanmu dengan buruk? Begitu?"
"Bu-bukan begitu…tapi, bukannya seharusnya…semacam itu?"
Sukuna menghela nafas lelah. "Ya lagipula apa yang bisa dilakukan bocah sepertimu. Pelayanku sudah banyak. Bocah juga disuruh apa-apa paling tidak beres kerjaannya. Jadi kau main saja sana. Kau butuh mainan baru?"
Satoru hanya manyun
Bibir mungilnya terlihat manis sekali.
"Baiklah, jadi yang kau inginkan bagaimana?" Sukuna menatap lelah pada bocah itu. "Karena shibari yang kau buat malam itu, kau mengikat jiwamu dalam keabadian bersamaku. Tidak semudah itu melepas shibari yang ada, pasti ada konsekuensi nya," ucap Sukuna.
"Eh? Sekuat itu?" Satoru menatap Sukuna dengan mata besarnya.
"Ya. Sekuat itu. Meskipun yang membuat shibari adalah bocah ingusan sepertimu, tapi kau menawarkan seluruh jiwa dan waktu mu sebagai kontrak, meski aku yang memilih menerima shibari itu juga sih. Aku bisa saja tak menerima itu, tapi melihat kondisi malam itu, apa kau mau aku menolak shibari darimu?" seringai Sukuna.
Satoru menggeleng cepat, tanpa sadar tangannya mencengkeram dada Sukuna, matanya menatap kutukan itu. "Arigatou…arigatou sudah menerima shibari ku malam itu. Arigatou…" ulang Satoru dengan suara bergetar. Kepalanya tertunduk kini. "Aku tidak bisa apa-apa malam itu. Aku hanya bisa melihat Suguru…hiks…hiks…" Satoru mulai terisak.
Sukuna menghela nafas pendek, ditepuk-tepuknya pelan kepala Satoru yang masih sesenggukan. Hingga setelah cukup lama, bocah itu tertidur karena kelelahan setelah menangis.
Sukuna tetap memeluknya dengan dua lengan, sementara dua lengan lagi melanjutkan pekerjaan.
.
.
Semenjak hari itu Satoru jadi sering menemani Sukuna bekerja. Meski kadang dia hanya rusuh saja di sana. Lari-larian, main dengan kucing berekor tiga, atau duduk dan berguling-guling di pangkuan Sukuna.
"Hey hey, kau kerja apa sih? Kenapa kutukan kerja?" tanya Satoru.
"Yeah, sama saja, di realm ini juga semuanya perlu diatur. Kau pasti pernah dengar kan, biasanya gunung ini dikuasai oleh ini, atau danau ini penguasanya ini, yang seperti itu. Itu ada hierarki nya, tidak berjalan begitu saja," jawab Sukuna.
"Ooh begitu. Dan kau raja nya?"
"Ya, bisa dibilang begitu."
Sukuna melanjutkan pekerjaan, Satoru tampak bosan tak melakukan apa-apa. Sukuna melirik Satoru dengan dua mata nya, melihat bocah itu hanya memain-mainkan pembatas buku di tangan.
"Kenapa kau nggak pergi main saja dengan Uraume atau yang lain?" tanya Sukuna.
"Nggak ah. Mereka serem. Yang nggak serem Uraume saja."
Sukuna menarik sebelah bibir. "Aku tidak seram?"
"..." seketika Satoru terdiam, gerakan tangannya juga berhenti memainkan pembatas buku. Iya ya, dilihat dari manapun Sukuna itu menyeramkan. Tapi kenapa ia tidak takut? Ia malah nyaman berada di pangkuan Sukuna.
"Nggak," jawab Satoru polos pada akhirnya.
Sukuna hanya mendengus kecil lalu melanjutkan pekerjaan, sementara Satoru lanjut main sampai akhirnya terlelap karena bosan.
.
.
Satoru baru saja selesai mandi dan sedang dipakaikan baju oleh Uraume saat Sukuna menghampiri, ia berdiri di ambang pintu.
"Hey, kau bilang kau bosan kan di istana terus?" ucap Sukuna.
"Mm hm," Satoru mengangguk.
"Nanti malam mau ikut? Ini malam bulan purnama, siapa tahu kau ingin menemaniku bekerja di luar istana."
Deg…
Satoru terdiam. Ia mengerti arti kata itu. Malam bulan purnama…malam yang sama di mana kejadian yang membuat Satoru terikat dengan Sukuna terjadi. Ritual…pengorbanan…
"Ya," jawab Satoru pada akhirnya.
Sukuna menyeringai. "Kau yakin? Aku tidak akan menuruti kalau kau minta pulang."
"Ya…" balas Satoru lagi.
Malam pun tiba. Sukuna sudah bersiap pergi. Uraume memakaikan baju hangat ke Satoru, memakaikan topi bulu lucu juga.
"Sudah," ucap Uraume setelah selesai. Sukuna mendekati Satoru, dibopongnya bocah itu seperti bulu, begitu ringan ia dudukkan di salah satu lengan.
"Siap?" tanya Sukuna.
Satoru mengangguk. Ia memeluk Sukuna dan mengikuti saja raja kutukan itu.
Mereka pergi ke sebuah puncak gunung, lagi-lagi ada altar di sana, juga orang-orang yang sedang melakukan upacara. Seorang anak perempuan diseret paksa menuju altar, ia menangis, meronta, tapi tak ada yang peduli.
Krrtt…
Tangan kecil Satoru mencengkeram tubuh Sukuna. Apa kejadian yang sama seperti malam itu akan terjadi?
Tapi sepertinya berbeda. Upacaranya sedikit berbeda, perlakuan mereka juga sedikit berbeda. Kali ini mereka langsung membunuh gadis itu, mereka menancapkan pisau ke perutnya hingga gadis itu meninggal, lalu menampung darah si gadis dalam sebuah bejana.
Sang tetua upacara mengucapkan mantra mantra pemujaan, kemudian mengungkapkan apa kemauannya. Sama seperti desa Satoru saat itu, mereka mengharapkan datangnya hujan. Setelah ucapan keinginan itu dilontarkan, muncul seberkas cahaya dari dalam bejana. Satoru memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas, di dalam cahaya itu nampak seperti sebuah kertas melayang. Tapi ia memperhatikan sekeliling, sepertinya orang-orang itu tak ada yang melihatnya, bahkan sang tetua yang memegang bejana itu.
"Itulah kontrak yang muncul dalam upacara ini," jelas Sukuna. "Hanya bangsa kutukan saja yang bisa melihat," Sukuna membawa Satoru mendekat ke bejana itu lalu meraih kertas tersebut, menunjukkannya ke Satoru.
"Bisa dibilang ini surat kontrak. Kalau aku mau menerima kontrak ini, aku tinggal menandainya, membentuk shibari. Jika shibari sudah terbentuk, aku harus mengabulkan permintaan yang tertulis di kontrak. Setelah itu kontrak baru bisa selesai dan shibari nya pun lepas."
"Apa malam itu juga seperti ini? Denganku?" tanya Satoru.
"Ya. Sama."
"Kenapa waktu itu kau tidak memilih menerima kontrak dari tetua nya saja?"
"Heh, kau mungkin tidak sadar, tapi malam itu mereka belum mengucapkan kemauan mereka, baru mengucapkan kalimat pemanggilan. Dan yang pertama meminta dengan keinginan paling kuat adalah dirimu. Kontrak yang pertama muncul adalah darimu."
"Kontrak…dariku…" Satoru terdiam sesaat. "Tunggu, pertama? Apa itu artinya bisa ada yang kedua, ketiga dan yang lain?"
"Ya, bisa. Ah, coba lihat saja," tunjuk Sukuna pada kerumunan warga yang lain.
Satoru terbelalak. Ia baru menyadari ada beberapa kertas lain muncul dari mereka, tapi cahaya nya lebih redup.
"Selama upacara persembahan, keinginan dari orang yang mengikuti upacara muncul sebagai kontrak. Tapi ada yang keinginannya besar, ada yang tipis saja keinginannya. Meski begitu efek nya sama, dan bebas aku mau menerima kontrak yang mana," Sukuna menghampiri kontrak dari warga yang lain, meraih kertas-kertas itu. "Aku bisa saja lebih memilih melakukan shibari dengan salah satu orang di sini yang keinginannya kecil sekalipun."
"Jadi…malam itu kau memilih untuk menerima shibari dariku?"
Sukuna menyeringai menatap Satoru. "Kau tidak tahu seberapa terangnya shibari yang kau munculkan malam itu. Kau meminta dengan mempertaruhkan segala jiwa dan ragamu untuk shibari itu, seolah tak peduli lagi apa yang akan diambil darimu jika keinginanmu terpenuhi."
"Ya, aku memang sudah tak peduli lagi malam itu. Aku benar-benar hanya ingin mereka mati," jawab Satoru.
Sukuna tertawa mendengar itu, ia lalu menandai shibari dari tetua tadi, dan sebuah rantai tipis muncul dari kertas shibari itu, menghubungkan Sukuna dengan si tetua. Setelahnya Sukuna mengarahkan tombaknya ke langit, seketika awan hitam mulai bergumul menaungi desa di bawah sana.
"Waaah upacaranya berhasil, lihat, awan mendung, kita akan segera mendapat hujan," para penduduk itu bersorak gembira.
Petir menyambar dan air hujan turun membasahi desa tersebut, rantai yang menghubungan Sukuna dengan si tetua kini lenyap, hancur bersama kertas kontrak tadi.
"Yah, hujannya akan berlangsung selama beberapa lama," ucap Sukuna menyelesaikan tugasnya. "Waktunya menerima bayaranku."
"Apa bayaranmu?" tanya Satoru.
"Ya persembahan nya dong," Sukuna berjalan menghampiri altar di mana mayat gadis itu berada.
"Apa kau akan memakannya?"
"Pffftt…hahahaha," Sukuna kembali tertawa. "Kenapa kau seperti terpaku sekali bahwa aku akan memakan persembahanku."
"Ya karena kau kutukan kan?!"
"Ya, tapi apa aku memakanmu? Kau juga hasil persembahan loh, oleh dirimu sendiri."
"Aaack, ya itu. Kan aku tanya, kenapa kau malah membawaku ke istanamu, merawatku, bukannya memakanku," Satoru mulai tantrum lagi.
"Heeeh," Sukuna menghela nafas lelah. "Kau sudah menawarkan seluruh jiwa dan ragamu untukku, jadi suka suka aku mau kuapakan. Mau kumakan sekarang, atau menunggumu sedikit lebih besar baru kumakan biar lebih kenyang."
Satoru merinding. "Ja-jadi kau menungguku besar dulu sebelum mau memakanku?"
Sukuna menyeringai seram. "Ya. Kau menyesal?"
Satoru meneguk ludah berat, tapi lalu menggeleng. "Aku sudah siap. Aku sudah puas orang-orang itu mati, aku tak ada permintaan lagi."
"Pfftt…begitu, baiklah. Aku tak sabar menunggumu dewasa untuk segera memakanmu," tawa Sukuna. Untuk beberapa saat kemudian mereka hanya diam di sana.
"Kita menunggu apa?" tanya Satoru.
Sukuna hanya melirik dan tersenyum tanpa jawaban. Tak lama kemudian, dari tubuh mati itu, jiwa bocah tersebut bangkit, tanpa luka, tanpa tangis. Ia terlihat layaknya bocah yang tak berdosa. Sukuna lalu meraih tangan bocah itu dan menggandengnya, mengajaknya melangkah.
"Kau mau membawanya kemana?" tanya Satoru.
Sukuna melirik bocah albino itu lalu tersenyum. "Kurasa kau akan terkejut, tapi kuharap kau sudah siap."
Satoru tak mengerti arti ucapan itu, tapi ia menurut saja saat digendong Sukuna memasuki sebuah portal, bocah persembahan itu masih digandeng Sukuna.
Ada cahaya terang yang muncul sehingga Satoru harus memejamkan mata. Saat ia membuka mata kembali, ia sudah berada di realm Sukuna, hanya saja bukan di istana yang biasa ia tinggali.
Ada sebuah kastil di depan sana, kastil yang tampak gelap, dan suasana di sekeliling juga sama seperti yang ada di istana Sukuna. Gelap dan penuh kepulan asap. Sukuna menuntun bocah perempuan itu menuju gerbang kastil. Dari sana terlihat pemandangan halaman kastil, di sana banyak sekali bocah bocah kecil seumuran Satoru dan bocah persembahan itu.
"Waah," bocah persembahan itu tampak ceria, lalu melepaskan gandengan tangan Sukuna dan berlari memasuki gerbang, ikut bergabung dan bermain bersama bocah lainnya.
"..." Satoru terdiam menatap itu. "Apa ini…para korban persembahan semua?" tanyanya.
Sukuna tak menjawab, seolah mengiyakan dalam diam. Satoru masih menatap ke arah bocah-bocah itu sampai ia melihat sosok yang dikenalinya, dan ia pun terbelalak.
"Suguru…!" panggilnya. Ia turun dari gendongan Sukuna sampai ia terjatuh, tapi ia tak peduli, ia berlari menuju gerbang, tapi ia tak bisa masuk, seolah ada dinding transparan yang menahannya. "Suguru…! Suguru…!" ia memanggil sambil memukul-mukul dinding itu.
Suguru sama sekali tak menoleh, ia tampak gembira bermain dengan teman-teman sebayanya.
Satoru menatap ke arah Sukuna. "Aku ingin masuk…biarkan aku masuk!" ucapnya.
"Boleh, tapi kau harus mati dulu," ucap Sukuna dengan dua tangan terlipat di depan dada.
"Eh…?" Satoru terperangah.
"Kau terikat shibari denganku, shibari yang mengikat raga dan jiwamu untuk selamanya bersamaku. Jika kau melepas shibari nya, kau akan mati. Dan kau akan bisa bergabung dengan temanmu itu," ucap Sukuna.
"Kalau begitu aku mau," ucap Satoru bersemangat.
"Dan memory mu dari kehidupan sebelumnya juga akan terhapus."
"...eh…"
"Ya, seperti bocah tadi. Seperti temanmu itu juga. Semua bocah yang ada di sana, mereka tak memiliki memory kehidupan mereka yang sebelumnya. Mereka hanya memiliki rasa bahagia dan akan bermain selamanya di tempat ini."
"..." Seketika Satoru ragu. Ia pun menurunkan tangannya dari dinding transparan itu, lalu berbalik berjalan ke arah Sukuna dengan kepala tertunduk. "Kalau mereka ada di sini, apa yang lain juga ada? Kau tahu, orang orang yang mengikuti upacara."
"Ya. Kau mau mengunjungi mereka?"
Satoru mengangguk. Sukuna kembali membopong Satoru, dan mereka pergi ke tempat lain. Sukuna membawa Satoru ke sebuah tempat yang mirip penjara bawah tanah, seperti di dalam goa. Di sana Satoru bisa melihat orang-orang tersiksa, ada yang saling tikam, ada yang mencakar tubuh mereka sampai kulit dan daging mereka mengelupas, sampai usus mereka terburai, tapi mereka semua tetap hidup dan mereka menjerit kesakitan.
"Mereka orang-orang yang melanggar atau memutus shibari secara sepihak tidak sesuai aturan, atau juga orang yang mati dalam keterlibatan mereka dengan upacara hitam, seperti yang terjadi di malam itu bersamamu," jelas Sukuna.
Satoru menatap ke satu titik di mana ia mengenali beberapa pria. Mereka adalah orang-orang yang memperkosa Suguru, juga tetua upacara. Mereka tengah menguliti kulit mereka sendiri dan memakannya.
Mata Satoru menajam, ia berpegangan erat pada Sukuna.
"Kalau begitu tidak perlu. Aku tidak mau ingatanku terhapus. Aku ingin rasa benci ini terus kuingat, perlakuan apa yang sudah mereka lakukan kepada Suguru. Akan kuingat sampai kapanpun."
Sukuna menyeringai melihat raut penuh kebencian di wajah Satoru.
"Kalau begitu ayo kita kembali, ke istanaku," ucap Sukuna.
.
.
Semenjak hari itu, Satoru jadi sering diajak Sukuna untuk menghadiri upacara-upacara pengorbanan yang lainnya. Membuat Satoru banyak melihat seberapa kotor dan kejamnya kelakuan manusia. Beberapa dari mereka benar-benar lebih rendah dari binatang.
"Ne Sukuna," panggil Satoru suatu hari saat mereka barusan selesai dengan satu upacara penumbalan lagi.
"Mm hm?" balas Sukuna.
"Kau kan hanya sekali dua kali datang ke upacara pengorbanan begini. Tapi aku yakin banyak yang melakukan upacara ini di malam bulan purnama kan? Yang tidak kau datangi itu upacaranya gagal?"
"Tidak juga sih. Ada kutukan lain yang hadir untuk memenuhi kontrak, kutukan yang levelnya di bawahku. Mereka nantinya akan memberikan laporan padaku. Kau tahu tumpukan laporan di mejaku kan? Ya dari mereka mereka itu," jawab Sukuna.
"Heee, begitu rupanya. Jadi yang lain juga bisa."
"Tentu saja, cara manusia menjalin kontrak dengan kutukan ya memang begitu. Lewat pengorbanan atau lewat shibari lainnya. Lagipula tidak semua kontrak sebesar yang biasa kita tangani. Ada kontrak dari manusia yang sekedar menginginkan kekayaan atau jabatan. Yang begitu diurus oleh kutukan kelas rendahan juga bisa."
"Eehh? Pesugihan maksudnya?"
Sukuna tertawa. "Oh, jadi manusia menyebutnya dengan pesugihan?"
"Iya, yang memberikan sesaji begitu."
"Mm hm, ya intinya kan sama. Ada upacara, ada persembahan, ada kontrak yang terjadi dengan kutukan. Semua tergantung jumlah persembahan dan seberapa yang bisa didapat dari persembahan itu. Serta tergantung kutukannya mau menerima atau tidak."
"Oooo begitu. Lalu kalau untuk pesugihan itu biasanya persembahannya apa? Bukan manusia kan?"
"Ada juga yang manusia, tapi biasanya itu skala besar. Kalau sekedar dia mendapat kekayaan dengan mengambil uang tetangga nya ya, paling kutukan kelas teri diberikan daging hewan sudah mau mereka."
"Eww, jadi benar kutukan makan bangkai? Kok aku nggak pernah melihatmu makan?"
Sukuna menyeringai. "Kau serius ingin melihatku makan? Aku tak yakin kau masih akan memiliki nafsu makan setelah melihatnya."
"Ugh…" wajah Satoru membiru. "Nggak jadi deh," jawabnya yang kembali membuat Sukuna tertawa. Mereka berjalan kembali ke istana. "Oh, atau kau mau kutugasi mengambil beberapa laporan? Bukankah kau sendiri yang bilang harusnya kau jadi budakku atau apa, pfftt…"
Satoru menggembungkan pipi kesal digoda begitu, tapi ia lalu menjawab. "Tugas apa memang?"
"Ya, seperti yang kubilang tadi. Tidak semua persembahan aku yang mendatangi kan, ada kutukan lain yang melakukan hal yang sama lalu memberikan laporan. Tapi tentu saja, tidak semua kutukan menurut memberikan laporan sehingga kadang aku harus menjemput ke sana, kadang Uraume atau bawahanku yang lain. Kau mau lakukan? Daripada kau teriak bosan terus dan menggangguku kerja."
"Hish…" Satoru memeluk Sukuna kesal. Ia terdiam, tapi ia lalu mengangguk. "Boleh deh. Cuma ambil laporan kan?"
Sukuna tersenyum. "Ya," balasnya.
.
Sesuai percakapan mereka waktu itu, beberapa hari kemudian Sukuna menyuruh Gojo untuk menjemput laporan dari salah satu kutukan.
Sukuna membekali Satoru dengan sebuah jimat untuk transportasi, ia menjelaskan bagaimana cara pakainya. Lalu nama kutukan yang harus ia kunjungi.
"Kau siap?" tanya Sukuna.
"Oke," Satoru pun mempraktekkan apa yang diajarkan Sukuna, dan ia seketika teleport pergi dari kastil.
"Uraume," panggil Sukuna.
"Hai," seperti biasa Uraume muncul dengan cepat.
"Kawal dia."
"Baik Sukuna-sama," Uraume pun lenyap dari hadapan Sukuna.
.
"Ugh…di sini bukan ya," teleport pertama Satoru membuatnya nyasar dari tempat yang dituju. "Apa aku salah menggunakannya ya? Salah mantra kah?" ucapnya ragu.
Uraume yang sudah menyusul hanya sembunyi di semak sambil mengawasi.
"Kucoba lagi deh," Satoru mencoba lagi, tapi ia malah kembali ke tempat yang sama.
Uraume hanya sweatdrop, ia tahu Satoru salah menggunakannya, tapi ia biarkan saja. Biar Satoru belajar sendiri. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Satoru sampai di tempat yang dituju. Sebuah pohon willow besar di tepi danau.
"Anoo…permisi, Mizudo-san?" panggil Satoru. Tak ada jawaban. "Mizudo oiii, Mizudooo…"
"Diamlah!" sesosok wanita berekor ular muncul dan menyabetkan ekornya ke tanah dihadapan Satoru sampai ia terpental.
"Uwaahh…!"
"Keh, mau apa bocah ke sini. Kau mau kumakan, bocah? Kikikikikik," tawa kutukan itu mengerikan.
"Nggak, aku diminta ambil laporan. Sama Sukuna," Satoru bangun sambil menepuk bajunya yang kotor.
"Huh? Memangnya kau siapa? Dan juga, jangan seenaknya menyebut nama Sukuna-sama, bocah tengik," ia kembali menyerang Satoru, kali ini Satoru mengangkat tangannya untuk melindungi diri, dan jimat itu masih ia pegang. Seketika ekor wanita itu berhenti di udara dan seolah ada petir yang menyerangnya. "Uwaaahhhhh…" ia menjerit kesakitan untuk beberapa lama.
Satoru menatap jimat itu, lalu menonaktifkannya. Barulah wanita ular itu berhenti menjerit.
"Ampun, baiklah, tunggu sebentar," wanita itu segera masuk ke dalam danau.
Satoru menyeringai menatap jimat di tangannya. "Hehe, keren juga," ucapnya. Tak berapa lama wanita itu kembali membawa laporan yang dimaksud. Uraume yang melihat itu dari kejauhan, tersenyum. Ia menghubungi Sukuna dan mengatakan jika semua berjalan lancar.
.
Setelah keberhasilan tugasnya itu, Satoru jadi sering ditugasi keluar untuk melakukan sesuatu oleh Sukuna. Satoru sih tak keberatan, dia bosan di istana terus. Jadi mendapat tugas begitu malah membuatnya senang bisa jalan-jalan. Dia juga jadi bertemu berbagai macam kutukan, dan kenal baik beberapa dari mereka. Ada yang galak seperti wanita ular itu, tapi ada juga yang bersahabat.
.
.
Waktu terus berganti, Satoru sudah menginjak usia 12 tahun kini. Ia masih hidup di realm Sukuna, dan sesekali ikut Sukuna menghadiri upacara, sesekali ia ditugasi mengambil laporan dari kutukan.
Hari itu ia sedang ditugasi mengambil laporan, dan karena kutukan kali itu bersahabat, ia bisa dengan mudah menyelesaikan tugas. Ia sudah mau kembali saat mendengar keramaian di kejauhan, sepertinya sedang ada festival di desa terdekat.
"..." terdiam sejenak, Satoru memutuskan untuk mendatangi festival itu. Ia teleport ke dekat desa, setelahnya berjalan kaki menuju festival. Ia memasuki keramaian, sudah lama sekali ia tak berada di kerumunan manusia. Ya kecuali bersama Sukuna saat menghadiri upacara persembahan sih. Tapi yang festival begini, terakhir saat kasus bersama Suguru dulu.
Satoru berjalan melewati jalanan festival, melihat jajanan dan mainan di sana.
"Hei nak, kau mau beli jajan," seorang pedagang menawari Satoru. Satoru menoleh, ia menengok kanan kiri, memastikan ia yang dipanggil. "Iya kau, rambut putih. Warna rambutmu aneh sekali, kau bukan orang sini ya?"
"Ya…" saat masih dalam keadaan bingung, ada orang lewat yang tanpa sengaja menabraknya sampai jimat miliknya jatuh. Buru-buru Satoru mengambil jimat itu kembali.
"Ah, maaf, aku tidak sengaja," ucap mereka. "Apa itu rusak? Harus ganti berapa?"
"Tidak rusak kok, tidak apa-apa," jawab Satoru. Ia mundur. "Kalau begitu saya pamit dulu," setelahnya ia berjalan dengan langkah cepat. Ia sempat menabrak beberapa orang, meski mereka tak sampai jatuh. "Maaf, maaf," ucapnya sambil lalu.
Ia meninggalkan festival menuju tepi hutan, ia terengah dengan tangan menumpu di lutut, lalu kembali menegakkan badan dan menatap ke arah festival. Satoru ganti menatap kedua tangannya, membolak baliknya. Apa…dia terlihat? Orang orang itu kenapa bisa melihatnya?
Selama ini saat ia ikut dengan Sukuna ke upacara persembahan, orang-orang di sana tak melihatnya. Jadi ia pikir ia sudah menjadi makhluk dunia seberang dan tak kasat mata. Tapi kenapa orang orang di festival bisa melihat bahkan menyentuhnya?
Masih di tengah kebingungan, Satoru menatap langit. Bulan purnama ada di atas kepalanya. Ia ingin memastikan sesuatu. Ia pun teleport menuju sebuah puncak gunung berapi. Di sana sedang diadakan upacara penumbalan, tapi ia tahu Sukuna tidak akan datang ke sana karena Sukuna menghadiri tempat lain malam ini.
"Jogo-sama, kami meminta supaya gunung berapi ini tidak menumpahkan laharnya menuju desa kami," sang tetua sudah memulai permintaanya. Satoru melihat seorang wanita hamil diikat dan tergeletak di dekat kaki si tetua, sepertinya dialah yang menjadi persembahan.
Sesosok kutukan bermata satu dan berkepala mirip gunung vulcano menyeringai di depan si tetua meski tak ada yang melihat. Kutukan yang dipanggil Jogo itu melihat kontrak yang muncul dari si tetua, sepertinya mau menyanggupi permintaan tersebut. Ia meraih kontrak itu dan menandainya, membuat rantai kontrak muncul menghubungkan dia dengan tetua. Ia lalu menjentikkan jarinya hingga dupa yang berada di bejana terbakar habis.
"Dupanya terbakar, persembahan kita diterima," ucap tetua disambut gembira warga. Setelah itu mereka pun menyudahi upacara dan bergegas turun gunung, meninggalkan wanita hamil tadi tetap di sana. Wanita itu tampak masih sadar, tapi pergerakannya lemah sekali.
Satoru ingin melihat lebih dekat, jadi ia sedikit maju, membuatnya terlihat dari jalanan.
"Nak, kau sedang apa di sini?" tanya seorang warga yang tadi ikut upacara saat mereka tengah mulai berjalan turun. Satoru diam saja. Yang jelas kini ia tahu, kalau tak ada Sukuna, Satoru bisa terlihat oleh manusia biasa.
"Ssh, jangan disapa. Mungkin dia penunggu gunung juga," bisik rekannya. "Mana ada anak kecil di gunung seperti ini."
"Ah, benar juga," mereka pun melanjutkan turun gunung dan mengabaikan Satoru.
Satoru kembali menatap Jogo, kutukan itu menyeringai, lalu tanpa ampun mencabik perempuan tersebut, di bagian perutnya, sampai terkoyak dan janin yang ia kandung tercabik dari sana. Dengan lahap Jogo mengunyah janin itu, membiarkan sang ibu menangis merintih karena ia masih hidup.
Satoru menatap nanar, alisnya menukik tajam. Kenapa Jogo melakukan itu? Sukuna sama sekali tak pernah memakan persembahannya, apalagi mencabik begitu.
Satoru terus menunggu, mungkin ia akan melihat Jogo menuntun jiwa mereka nanti. Tapi ia salah. Setelah memakan habis janin itu, ia ganti memakan perut sang ibu sampai berlubang besar, hanya perutnya saja. Setelah itu ia melemparkan tubuh sang ibu ke kawah gunung berapi, membuat lava nya menyembur ke atas, tapi segera ia redakan kembali.
Dari semburan lava itu muncul jiwa bayi dan si ibu, Jogo menggerakkan jarinya seperti gesture mendekat. Kedua jiwa itu mendekat. Tapi bukannya menuntun, Jogo malah memakan jiwa tersebut. Ya. Memakannya.
Satoru menatap dengan mata terbuka lebar. Kenapa ini bisa terjadi? Sukuna tak pernah melakukan itu. Tapi kenapa Jogo melakukannya?
"Hm?" Jogo menoleh saat menyadari tatapan dari Satoru. Dengan sigap Satoru teleport meninggalkan tempat itu, kembali ke istana Sukuna.
"Sukuna…Sukuna…" panggil Satoru begitu tiba di sana. Ia mencari Sukuna dan menemukannya di halaman samping, sepertinya ia juga baru kembali.
"Ada apa, bocah," tanya Sukuna.
"Anu, itu, kan tadi…"
"Hey, tenang dulu. Kau ini kenapa," Sukuna menepuk pelan kepala Satoru.
Satoru menarik nafas dan menghembuskannya beberapa kali. Setelah cukup tenang barulah Sukuna membopong bocah itu masuk, lalu memberikannya minum. Ia duduk sambil memangku Satoru yang masih memegang cangkir itu.
"Jadi, apa yang terjadi?" tanya Sukuna. Ia menopang wajah dengan satu tangan seperti biasa.
"Tadi aku ke desa, sedang ada festival," cerita Satoru.
Sukuna menyeringai. "Oh ya? Lalu apa? Kau mau cerita kau beli cemilan atau mainan baru?"
"Bukan itu," Satoru menggembungkan pipi, manis sekali. "Itu, orang-orang bisa melihatku. Kenapa?"
"Hah? Apanya yang kenapa?"
"Iya, kupikir aku tidak terlihat karena sudah jadi bagian dari duniamu. Tapi aku masih bisa terlihat."
"Hahahaha," Sukuna tertawa, ia mengambil cangkir di tangan Satoru dan meletakkannya di meja. "Kau pikir kau bukan manusia? Kau ini manusia, bocah," tunjuk Sukuna ke dada Satoru. "Jadi tentu saja mereka bisa melihatmu. Kau juga belum mati, kau seutuhnya masih manusia hidup."
"Eh? Bagaimana bisa? Setelah melakukan shibari denganmu kupikir kau membawaku ke realm ini, dan aku sudah mati."
"Kau melakukan shibari menggunakan seluruh jiwa dan ragamu, yang artinya tubuhmu juga. Kau masuk ke realm ini seutuhnya, bukan jiwa saja atau raga saja, tapi seutuhnya manusia. Kau hanya berpindah realm saja."
"Eh…jadi…"
Sukuna menghela nafas. "Baiklah, kutanya. Selama ini apa kau pernah melihatku atau Uraume, atau siapapun makan makanan seperti yang kau makan?"
Satoru menggeleng.
"Ya itu karena memang makanan kami berbeda. Bukan seperti makananmu itu."
"Tunggu…jadi selama ini…makanan yang kumakan itu nyata makanan manusia?"
"Tentu saja. Makanan yang kau makan, pakaian yang kau kenakan, kamar dan selimut, semuanya itu nyata. Uraume yang kusuruh mengambilnya dari dunia manusia untukmu."
"Sou…ka…begitu…ya…" Satoru tampak masih mencerna apa yang terjadi.
"..." Sukuna terdiam menatap wajah bocah itu yang tampak masih bingung. "Apa kau berpikir untuk tinggal di dunia manusia? Setelah mengetahui semua ini?"
Sebenarnya Sukuna sedikit khawatir itu terjadi. Meski ia lalu membantah, memangnya kenapa kalau Satoru tinggal di dunia manusia? Ia bisa mengunjunginya kapan saja. Tapi…entahlah, ada rasa berat saat Sukuna memikirkan itu. Apa mungkin karena ia sudah terbiasa dengan keberadaan bocah itu di istana nya.
"Hah? Untuk apa?" tapi jawaban Satoru menghilangkan kekhawatirannya. Satoru bahkan memasang muka seperti enggan sekali mendengar itu. "Untuk apa tinggal di dunia manusia saat aku bisa melakukan apa saja di sini, ditambah…aku harus hidup bersama orang-orang menjengkelkan begitu? Ugh, lebih baik aku mati dan hilang ingatan seperti Suguru daripada hidup bersama mereka."
Sukuna tercengang mendapat jawaban itu, membuatnya tertawa kemudian. "Bocah ini," ucapnya seraya mengacak rambut Satoru.
"Hmngh…" Satoru memejam saat diacak rambutnya itu. Setelahnya ia menatap Sukuna dalam diam.
"Apa?" tanya Sukuna.
"..." tatapan Satoru teralih. "Atau…kau yang sudah tak menginginkanku berada di sini?"
Sukuna kembali tercengang dengan respon Satoru. Ia kembali tertawa, ia bopong Satoru dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"H-hey, turunkan aku," omel Satoru.
"Heeeeh, omoshiroi," ucap Sukuna setelah puas tertawa. "Tidak, tinggallah di sini. Bukankah shibari darimu menyatakan bahwa kau terikat denganku di keabadian? Kau akan hidup di sini, dan mati di sini, lalu melanjutkan kehidupan setelah matimu di sini."
Satoru tersenyum lalu mengangguk. Sukuna kembali menggendong Satoru dan kali ini melangkah menuju kamar bocah itu. "Oh ya, ada satu lagi," ucap Satoru.
"Apa?"
"Tadi aku melihat upacara persembahan di sebuah gunung, kutukan yang ada di sana namanya Jogo."
"Mm hm. Lalu?"
"Dia memakan tumbalnya. Tubuhnya dirobek, lalu dimakan. Setelah itu jiwa mereka dimakan juga."
"Oooh."
"Itu gambaran yang kupikirkan dulu akan terjadi padaku. Kupikir kutukan itu ya akan makan korban nya, bahkan jiwa nya juga. Tapi kau tak pernah melakukan itu, jadi kupikir mungkin bukan seperti apa yang kubayangkan. Tapi setelah melihat Jogo, aku tahu ternyata dugaanku benar. Kutukan memakan manusia, bahkan jiwa nya."
"Yeah, setiap kutukan punya cara masing-masing," Sukuna membuka pintu kamar dan memasuki kamar Satoru. Ia menurunkan bocah itu di lantai tatami yang hangat.
"Kenapa kau tak melakukannya. Memakan persembahan, lalu jiwanya juga. Kau malah menuntun mereka ke tempat itu."
"...sudah kubilang setiap kutukan memiliki cara masing-masing. Tidak perlu kau pusingkan," Sukuna kembali mengacak rambut Satoru. "Sudahlah, tidur bocah, kau pasti lelah," setelahnya Sukuna pergi meninggalkan kamar Satoru.
.
.
Semenjak kejadian itu Satoru jadi penasaran dengan kutukan lainnya. Setiap malam bulan purnama ia mendatangi tempat persembahan yang tidak didatangi Sukuna, lalu menyaksikan upacara yang ada. Upacaranya memang berbeda satu dengan yang lain, tapi kurang lebih sistemnya sama. Dan yang jelas…perlakuan kutukan pada persembahan juga sama. Mereka memakan persembahan mereka, baik raga maupun jiwa nya. Satoru belum menemukan satupun kutukan yang memperlakukan persembahannya seperti Sukuna.
Setelah mendatangi sebuah upacara, Satoru memutuskan pergi ke suatu tempat sebelum kembali ke istana Sukuna. Ia teleport ke tempat itu, ke tempat di mana upacara penumbalan Suguru terjadi. Di sana kosong, tak ada apa-apa. Tapi Satoru masih mencari entah apa. Ia berkeliling dan mengamati sekitar. Sampai akhirnya ia berjalan ke bagian belakang pohon beringin, ke bagian yang berlawanan arah dengan lubang besar itu.
Di sana ia terkejut, ada semacam tanah lapang yang tak begitu luas di area belakang pohon. Satoru melihat beberapa batu kecil yang tertata rapi, berjejer merata di sana. Mata Satoru menyipit, sepertinya ia tahu itu apa.
"Uraume," panggilnya.
Tak berapa lama Uraume muncul. "Ya, Satoru-sama?"
Satoru berjongkok di depan sebuah batu yang di bagian depan batu itu tanahnya masih sedikit meninggi dibanding yang lain.
"Apa jasad Suguru tertanam di sini?"
"..." Uraume tak langsung menjawab. "Ya…" ucapnya kemudian. "Begitu juga para persembahan lainnya. Batu batu itu adalah nisan."
"..." Satoru mengusap batu di hadapannya. "Ne Uraume," panggil Satoru kembali.
"Ya, Satoru-sama?"
"..." Satoru terdiam, ia menatap langit malam yang cerah. "Kenapa…Sukuna melakukan semua ini?"
"..." Uraume tak menjawab. "Bukan hak saya menceritakan tentang tuan saya," jawabnya kemudian.
"...begitu ya," Satoru pun bangkit. "Ya sudah, ayo kembali ke istana."
.
.
.
~To be Continue~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
