MAELSTROM SAGA : DAWN AND TWILIGHT

There are times that sun rises. But after it rises, it will fall

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Other characters originally mine except Kadoya Tsukasa and his buddies. They belong to Toei Production

.

.

Summary : Menjelang akhir dari Pohon Dunia, Sang Cahaya akan menjelma. Imbas perbuatan yang tak bijaksana. Dua saudara melebarkan sayapnya, hingga mencapai pusat dari sembilan dunia. Janganlah kalian ke barat, Wahai Dua Saudara. Sang Ular telah mengintai membawa petaka. Yang terkecil memadamkan cahaya, bawa dunia ke dalam salju abadi. -THE BERSERKER.

.

.

Chapter 1

.

.


Benua Norðurslétta adalah salah satu benua dengan iklim yang keras. Dengan gunung-gunung tinggi menjulang berada di dataran utara benua ini serta badai salju yang terkadang menghantam benua ini selama delapan bulan berturut-turut membuat benua ini menjadi benua paling dingin di Midgard. Dataran ini dipenuhi dengan tebing dan lembah-lembah berbatuan yang curam.

Selain karena kontur alamnya yang cukup ekstrim, benua ini juga menjadi salah satu benua yang berbatasan dengan Jotünheim, atau Negeri Para Jötnar, membuat konflik kadang tidak dapat terhindari antara manusia dengan para Jötnar.

Di benua inilah, kami terlahir. Benua yang penuh dengan konflik ini adalah tempat di mana kami berasal. Aku, Sasuke McFadden, merupakan seorang anak dari wakil Kepala Desa dan Klan Vindbylgja, Kagami McFadden, sedangkan kawanku, Naruto Vindbylgja, adalah anak dari Kepala Desa dan Klan Vindbylgja, Jiraiya Vindbylgja.

Desa Klan Vindbylgja adalah desa yang terletak di daratan sebelah selatan benua Norðurslétta, berdekatan dengan laut Norðurskautshaf. Desa kami tidak hanya terkenal sebagai Desa para pejuang maupun pemburu, namun juga Desa para pelaut yang handal. Aku dan Naruto bisa dibilang tumbuh bersama, karena bagaimana pun juga, hubungan kedua orang tua kami sangat dekat.

Hingga suatu kejadian yang menakjubkan terjadi pada saat kami berusia lima tahun. Pada saat itu, aku tengah berlatih pedang dengan kakakku, Shisui McFadden, di halaman belakang rumah kami. Aku yang tengah mengayunkan pedang kayu sesuai instruksi kakakku tiba-tiba dikejutkan oleh suara teriakan keras dan cempreng dari arah rumahku.

"Sasuke!!"

Sontak saja, peganganku pada gagang pedang yang kubawa terlepas pada saat aku mengayunkan pedang dan pedang itu terlempar ke arah seorang anak berambut pirang pendek yang langsung berlutut menghindari pedang kayu itu.

"Oi, Sas! Kau mau mencoba untuk membunuhku ya!?" teriak anak berambut pirang itu setelah berhasil menghindari pedang itu.

"Kau sendiri yang mengagetkanku, malah kau yang menyalahkanku." Aku mendengus dan menjawab dengan kesal. Anak itu hanya bisa menyengir tanpa dosa setelah mendengar itu.

"Hehehe, maafkan aku. Aku hanya bersemangat saja."

"Semangatmu yang berlebihan bisa membawa petaka bagi dirimu sendiri, Naruto," kataku.

"Sudahlah, Sas." Kakakku mencoba untuk menenangkanku yang sudah agak kesal dengan tingkah Naruto. Kemudian, ia melihat ke arah Naruto dan berkata, "Memangnya ada apa, Naruto? Kenapa kau tiba-tiba bersemangat sampai segitunya?"

Anak berambut pirang itu terkekeh pelan dan menjawab, "Sebentar lagi, aku akan mendapatkan adik, Kak." Matanya berbinar terang ketika mengucapkan hal itu. "Aku tidak sabar bertemu dengannya."

Sekali lagi, aku mendengus. "Serius, Naruto? Kau jadi berlebihan begini karena masalah itu?" kataku dengan nada sedikit mengejek.

Kata-kataku tentu saja menyulut amarah kawan pirangku itu. "Hei! Kau tidak tahu rasanya ketika kau mendapat kabar kalau kau akan memiliki seorang adik, jadi kau tidak boleh mengejekku seperti itu!"

"Itu benar, Sas." Kak Shisui juga ikut menimpali. "Ada suatu kesenangan tersendiri ketika kamu mendapatkan kabar bahwa akan menjadi seorang kakak. Kau mungkin tidak akan pernah bisa merasakan itu."

"Terserah kalian sajalah." Aku memasang wajah bosan dan berjalan menuju pedang kayu yang terlempar tadi. Dari ujung mataku, aku bisa melihat kalau Kak Shisui hanya menggelengkan kepalanya saja.

"Jadi ..." Aku bisa mendengar kalau Kak Shisui sedikit memenggal kata-katanya. "... bagaimana kau bisa tahu bahwa kau akan mendapatkan seorang adik, Naruto?"

Kemudian, di sela-sela aku melanjutkan latihanku, aku mendengarkan Naruto bercerita apa yang ia lihat dan dengar sebelum ia berlari kemari.

Ia menceritakan bagaimana ia tengah memancing di bantaran sungai dekat desa. Lalu, ia bercerita bahwa ada sepasang pria dan wanita menghampirinya ketika ia masih asyik memancing. Ia menggambarkan bahwa Sang Pria memiliki usia yang cukup tua dan mengenakan jubah hitam yang agak kusam. Wajah pria itu memiliki garis wajah yang tegas dan bijaksana, dengan salah satu matanya ditutupi oleh perban. Rambutnya yang berwarna hitam dengan sedikit uban sedikit menutupi wajah dan matanya yang diperban.

Kemudian, ia menceritakan sosok wanita yang mendampingi pria itu. Wanita itu memiliki rambut coklat yang terurai panjang dan paras yang cantik. Ia bercerita bahwa wanita itu seperti berusia lebih muda dari Sang Pria. Wanita itu digambarkannya tengah mengenakan jubah berwarna putih kelabu yang menimbulkan kesan yang misterius baginya.

Kedua orang itu bercerita bahwa mereka menghampirinya karena ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Ia yang merasa tidak percaya karena tidak pernah mengenali mereka pun sempat beradu argumen dengan mereka, namun pada akhirnya ia mengantarkan mereka ke rumahnya.

Sepasang pria dan wanita itu akhirnya bertemu dengan kedua orang tuanya. Lalu, mereka meminta kedua orang tuanya untuk memberikan waktu sebentar untuk membicarakan sesuatu dengan mereka. Awalnya kedua orang tuanya tidak percaya, namun akhirnya Paman Jiraiya membawa pasangan itu ke ruang kerjanya.

Ia yang penasaran dengan pembicaraan dari sepasang pria dan wanita itu dengan kedua orang tuanya, memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka. Dan ia pun mendengar bahwa dalam beberapa bulan lagi, ibunya akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Dan setelah itu, ia berlari sambil melompat kesenangan.

Setelah Naruto selesai menceritakan semua itu dengan nada senang dan semangat, aku tidak mendengar satu kata pun keluar dari mulut kakakku. Aku menghentikan latihanku dan melihat tubuh kakakku yang sedikit mematung. Wajahnya terlihat sedikit syok dan tidak fokus. Matanya seperti memandang kosong suatu hal.

Aku yang keheranan langsung menyarungkan pedang kayuku dan menghampiri kakakku. Aku bisa melihat kalau Naruto juga keheranan melihat kakakku. Kami pun menggoyangkan tangannya untuk menyadarkannya. "Kak Shisui," kataku.

Seketika Kak Shisui mengerjapkan matanya dan silau matanya mulai terlihat kembali. Ia menaruh tangannya di atas kepalanya sambil sedikit menggeleng.

"Kenapa kak? Apa kakak pusing?" tanyaku ketika melihat tingkah Kak Shisui.

"Tidak apa, Sasuke." Kak Shisui menjawab dengan pelan. "Aku baik-baik saja."

Kemudian, ia melihat ke arah Naruto dan berkata, "Apakah deskripsimu tentang kedua orang itu benar, Naruto? Terutama tentang sosok pria dengan perban yang menutupi matanya?"

Naruto mengangguk. "Itu benar kak. Apakah ada masalah?" tanyanya.

"Tidak ... tapi jika itu benar, maka ..." Kami mendengar Kak Shisui mulai meracau sesuatu yang tidak bisa kami pahami. Kemudian, Kak Shisui menggeleng lagi dan berkata, "Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi. Lalu, selamat ya Naruto. Mulai sekarang kau akan menjadi seorang kakak."

Naruto hanya mengangguk semangat. Kemudian, ia berpamitan dengan kami untuk kembali bantaran sungai untuk mengambil alat pancingnya yang tertinggal. Sepeninggalnya Naruto dari sini, aku bisa mendengar Kak Shisui bergumam pelan, "Angin besar akan menghantam desa. Entah ini baik atau buruk."

Aku yang tidak mengerti apa yang Kak Shisui gumamkan langsung menanyakannya, "Apa yang kau maksud kak?"

"Suatu saat, kau akan tahu, Sasuke." Kak Shisui hanya menjawab demikian dan masuk ke dalam rumah.

Aku hanya bisa mengangkat bahuku, berusaha untuk tidak memedulikan perkataan Kak Shisui tadi. Namun aku tidak tahu, bahwa kata-kata itu akan berdampak sangat besar di masa depan nanti.


.

~Maelstrom Saga : Dawn and Twilight~

.


Dua tahun kemudian, desa kami mengadakan sebuah perayaan besar. Hal ini sudah biasa terjadi di desa kami, ketika sebuah keluarga akan memiliki seorang anak atau anggota keluarga baru dan mereka sudah mencapai usia dua tahun, maka kami semua yang ada di desa akan merayakan sebuah perayaan besar bersama-sama.

Aku melihat beberapa ornamen-ornamen yang digantung di rumah-rumah atau di jalanan. Hiasan yang diukir dengan huruf rune 'ᚠ'. Fehu, huruf yang melambangkan Freyr serta awal atau kelahiran.

Beberapa orang kulihat tengah bercengkerama dengan senang hati. Ada yang tengah asyik mengobrol satu sama lain, ada yang tengah membawa daging buruan untuk dibawa ke Paviliun Utama, dan masih banyak lagi yang tidak bisa kusebutkan satu persatu.

Aku dengan santai berjalan ke arah Paviliun Utama. Gedung itu sudah penuh sesak dengan berbagai orang. Aku bergerak menyusuri dinding samping sambil menghindari beberapa orang yang entah bagaimana sudah memabukkan diri ke dalam beberapa gelas Alé.

"Sasuke! Ke mari!" Aku mendengar suara seseorang memanggilku dan melihat sepasang pemuda-pemudi yang tengah duduk di sebuah peti kayu.

Sang pemuda memiliki wajah sedikit tirus dengan mata yang tajam. Rambutnya hitam lurus namun pendek. Ia mengenakan sebuah jaket kulit berbulu yang sepertinya terbuat dari rambut beruang. Sepasang tato berbentuk taring hitam berada di kedua pipinya.

Sedang sang perempuan memiliki wajah yang sedikit bulat dengan sepasang tato berbentuk taring berwarna merah di kedua pipinya. Rambutnya yang berwarna cokelat jabrik tampak melambai-lambai mengikuti gerakan kepala perempuan itu. Ia mengenakan sebuah baju kain dari kulit rusa serta sebuah pelindung dada tipis dari besi.

Mereka adalah Tsubasa Radulf dan Tsume Radulf, sering dikenal sebagai Taring Kembar Keluarga Radulf. Di antara anak seumuranku, mereka yang tergolong paling sering melakukan perburuan bersama dengan keluarga mereka sehingga kemampuan bertarung mereka tidak main-main.

Aku akhirnya menghampiri mereka karena hanya merekalah yang kukenal sekarang ini.

"Hai," kataku singkat.

"Kebiasaan sekali eh." Aku bisa mendengar Tsume hanya mendengus kesal.

"Sudahlah, Tsume. Sasuke memang sering begitu," kata Tsubasa.

Aku pun melirik kesana-kemari, mencari sesuatu yang biasanya akan ikut hadir bersama dengan si Taring Kembar ini. "Ngomong-ngomong, mana Rudeus? Jarang sekali kalian muncul tanpa serigala kalian itu," tanyaku.

Yap, Rudeus adalah sesuatu yang kucari tadi. Dia adalah partner serigala yang dimiliki pasangan muda-mudi ini. Hal ini juga menjadikan spesialisasi dari keluarga Radulf, yaitu kemampuan untuk menjinakkan serigala. Nama mereka sendiri berarti 'Penasihat Serigala', yang menyebabkan mereka memiliki hubungan baik dengan para serigala.

"Rudeus? Dia tengah berburu bersama ayah dan juga Skaŕd, ayahnya," Tsubasa menjawabku.

Aku mengangguk ketika suara sorak-sorai bergema di seluruh ruangan. Kami bertiga melihat sesosok pria dan wanita keluar dari sebuah ruangan dan tengah berdiri di depan dua buah kursi takhta di ujung ruangan. Pria itu memiliki rambut berwarna putih keperakan dengan sebuah coretan berwarna merah di kedua ujung matanya.

Pria itu mengenakan mantel berbulu yang terbuat dari rambut serigala serta kulit babi hutan. Tubuhnya yang jangkung dilindungi dengan baju pelindung yang terbuat dari baja yang tebal dan terlihat berat. Sebuah kapak perang tersemat di punggungnya.

Di sebelahnya berdiri seorang wanita yang cantik nan jelita, rambutnya yang berwarna pirang panjang terurai hingga sepinggangnya. Matanya yang berwarna coklat tampak menenangkan serta sebuah tanda berbentuk berlian terlihat di dahinya. Wanita itu mengenakan sebuah pakaian yang terbuat dari gabungan antara kulit rusa terbaik dengan kain berwarna hijau. Di pangkuannya, terlihat sosok bayi yang dibungkus dengan kain berwarna hijau cerah.

Kedua orang itu adalah pasangan pemimpin dari desa ini, Jiraiya Vindbylgja dan istrinya, Tsunade Bohidlr. Keduanya memimpin desa ini dengan sangat baik. Jiraiya Vindbylgja, pahlawan yang berhasil mengalahkan Hilndagr, salah satu raja dari Jotnar gunung yang menginvasi wilayah Midgard.

Sedangkan Tsunade Bohidlr terkenal sebagai pemanah serta tabib yang handal. Pada perang invasi bangsa Jotnar ke benua Norðurslétta, beliau memimpin pasukan pemanah di medan perang bersamaan dengan menjadi medis yang handal. Banyak orang mengatakan bahwa pasangan itu sebagai jelmaan dari Odin maupun Freyja itu sendiri.

"Mana Naruto? Aku tidak melihatnya." Suara Tsume sedikit membuyarkan lamunanku. Aku melihat ke arah takhta dan melihat bahwa sahabatku tidak ada di sana.

"Kau benar."

Aku menengok kesana-kemari dan masih tidak mendapati sahabatku itu. Ribuan orang bersorak riuh rendah ketika melihat Sang Pemimpin beserta istrinya, ada yang mengangkat gelas besar penuh berisi minuman beralkohol, ada yang mengangkat perisai kayu yang mereka bawa.

"Apa kita cari saja dia?" tanya Tsubasa.

"Ide yang bagus," timpal Tsume. Aku pun mengangguk setuju.

Kami bertiga pun segera pergi sambil menghindari kerumunan orang yang semakin bertambah. Aku terpaksa meliuk-liukkan tubuhku untuk bisa keluar dari ruang aula itu.

Sesampainya di luar, aku melihat banyak orang yang juga agak berdesak-desakan untuk melihat kemunculan Sang Pemimpin beserta istrinya. Aku hanya bisa mengikuti Tsume dan Tsubasa ke suatu tempat di pinggir desa.

"Jadi, ada yang tahu di mana Naruto berada?" tanya Tsume yang sedikit terengah-engah.

Aku dan Tsubasa saling menengok satu sama lain dan menggeleng. Aku menatap kembali ke arah desa.

"Sepertinya tidak mungkin Naruto kelayapan di dalam desa karena sekarang sedang ramai dan orang-orang pasti menyadarinya kalau ia sendirian," kataku.

"Berarti suatu tempat yang tidak ada di dalam desa ya?" timpal Tsubasa.

Kami bertiga berpikir keras mencari di mana Naruto berada. Ketika aku melihat ke arah timur di mana sungai berada, aku pun mengingat sesuatu.

"Ah, aku ingat kalau Naruto sempat membangun sebuah tenda kecil di dekat sungai. Katanya ia membangun tenda itu untuk tidur kalau-kalau ia ketiduran saat memancing," jawabku.

"Bisa jadi, ia ada di sana. Lebih baik kita segera menuju ke sana," ujar Tsume.

Aku segera memandu Tsume dan Tsubasa untuk menyusuri sungai yang ada di sebelah timur desa. Kami melewati beberapa pepohonan sebelum akhirnya kami menemukan sebuah tenda sederhana yang berada di pinggir sungai, yang terdiri atas sebuah atap dan sebuah dinding tipis yang terbuat dari kulit babi hutan dan tersampirkan pada beberapa ranting pohon yang diikat kuat dengan akar tanaman.

Di dalam tenda itu, kami melihat sosok pirang yang dengan santainya tertidur di dalamnya. Sosok itu mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit rusa terbaik sedangkan mantel berbulunya dibuat dari rambut serigala perak yang khas sekali di benua ini. Ia mengenakan baju pelindung tipis yang terbuat dari jalinan rantai besi yang disatukan. Di dekatnya, sebuah tongkat pancing tampak terjulur ke arah sungai lengkap dengan jorannya.

Dengan kesal, aku menendang tubuh sosok pirang itu. "Hei bangun!" hardikku.

Mata anak berambut pirang itu mengerjap sebentar. Ia sedikit meregangkan badannya dan mengusap wajahnya. "Hei kawan? Ada apa ini?" Pertanyaan yang ia lontarkan sontak membuat kami bertiga kesal.

"Kau lupa kalau hari ini ada upacara penyambutan adikmu sebagai keluarga baru!?" Tsume mulai melonjak-lonjak karena marah. "Malah enak-enak tidur di sini?"

Mata anak berambut pirang itu sontak terbelalak. "Aku lupa!!" Ia pun langsung membereskan joran serta alat pancing miliknya dan memasukkannya ke dalam peti. Kemudian, ia merapikan sedikit pakaiannya.

"Sudah, ayo kembali!" katanya.

Karena kami tidak memiliki banyak waktu lagi, kami langsung bergegas menuju desa, berlari menyusuri hutan bersalju yang ada di pinggir desa secepat yang kami bisa.

Tiba-tiba saja, aku merasa bahwa udaranya semakin mendingin. Uap dari nafasku dapat kulihat dengan sangat jelas. Langit yang awalnya cerah, tiba-tiba saja mulai ditutupi oleh awan.

"Ada apa ini?" Tsume mulai bertanya-tanya di sebelahku. "Kenapa cuacanya mulai berubah seperti ini?"

"Kau benar." Naruto juga ikut berkomentar. "Apa yang terjadi?"

"Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Pohon Dunia," kata Tsubasa, "atau mungkin ada sesuatu yang terjadi di Asgard atau cabang lain dari kesembilan dunia yang akhirnya mempengaruhi keseluruhan Pohon Dunia."

"Apapun itu, kita mungkin akan tahu jawabannya nanti saat kita sampai ke desa," timpalku. Mataku tetap fokus ke arah jalan menuju desa. "Siapa tahu Sang Pelihat bisa menjawab apa yang sebenarnya terjadi."

Kami pun mempercepat langkah kami. Sesampainya kami di pintu gerbang desa, kami tidak melihat satu orang pun yang berada di jalanan desa. Hal ini sangat kontras dengan keadaan sebelum kami meninggalkan desa yang sangat penuh sesak dengan orang-orang.

"Permisi!!" Tsume berteriak dengan keras. "Hei!"

Tapi sepertinya tidak ada satu orang pun yang mendengar teriakan Tsume, hingga kami mendengar suara sesuatu yang terjatuh dari ketinggian.

"Suara apa itu?" tanya Naruto.

"Sebaiknya kita periksa," jawabku.

Kami memeriksa sesuatu yang jatuh tadi dan menemukan seorang anak laki-laki yang seusia dengan kami. Anak itu memiliki rambut jabrik yang dikuncir ke atas serta wajah tirus yang selalu menunjukkan raut malas. Ia mengenakan pakaian gabungan kain berwarna hijau dengan kulit rusa.

"Shika?" Naruto menyebutkan nama dari anak itu dengan heran, "Kok kau ada di sini?" tanyanya.

Anak yang dipanggil Shika itu hanya mengelus kepalanya yang membentur tanah. "Sedang mencoba untuk tidur di sini, mumpung yang lain tengah berada di Alun-Alun Altar Pemujaan," katanya.

Kemudian ia malah berkata lagi, "Kalian sendiri kenapa malah di sini? Bukannya kalian seharusnya sudah ada di alun-alun sedari tadi?"

Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba saja sebuah cahaya terang muncul dari salah satu sudut desa. Cahaya itu bersinar sangat terang hingga sampai menyorot ke langit. Aku dan yang lain tampak takjub dan keheranan melihat fenomena itu.

"Bukankah itu arah dari Alun-Alun Altar Pemujaan?" tanya Tsubasa.

"Benar." Aku menjawab singkat. "Lebih baik kita bergegas ke sana."

Aku pun melihat ke anak dengan raut malas itu. "Kau juga harus ikut, Shika."

Shika, atau namanya lengkapnya Shikaku Alvis, hanya bisa pasrah. "Baiklah," jawabnya.

Kami langsung berlari ke arah Alun-Alun Altar Pemujaan. Alun-Alun Altar Pemujaan berada di ujung timur laut desa. Tempatnya terdiri atas lapangan alun-alun yang luas serta altar pemujaan yang berada di atas sebuah tebing batu. Untuk sampai di altar pemujaan, orang harus menaiki tangga yang dipahat langsung pada tebing batu. Konon para leluhur beserta kepala desa yang pertama harus memecah tebing batu itu selama seratus hari untuk bisa mengubah tebing itu menjadi tangga menuju altar pemujaan.

Sesampainya kami di sana, kami melihat orang-orang berdesak-desakan di alun-alun sambil menatap takjub ke arah altar pemujaan. Cahaya yang kami lihat tadi ternyata memang berasal dari altar pemujaan, namun kami tidak bisa melihat apa yang terjadi di altar pemujaan. Mau tidak mau, kami pun berjalan memotong kerumunan itu untuk bisa sampai di kaki tangga altar.

Sampai di kaki tangga, aku hanya bisa memandang takjub apa yang terjadi di dekat altar. Aku melihat sosok Jiraiya Vindbylgja dan istrinya, Tsunade Bohidlr, tengah terkejut di samping seorang wanita tua dengan pakaian kain panjang lurus berwarna putih kusam dan ornamen-ornamen tertentu yang menggambarkan dirinya seorang pendeta wanita. Tubuh wanita itu dipenuhi dengan tato-tato runic berwarna putih.

Di pangkuan tangan wanita itu, terlihat seorang bayi laki-laki yang terbungkus dengan kain berwarna hijau. Bayi itu memancarkan cahaya terang yang tadi kami lihat dari kejauhan. Di belakang wanita tua itu, aku bisa melihat tiga sosok wanita tua namun tampak cantik. Mata mereka ditutupi oleh kain berwarna putih dan mereka mengenakan kain panjang putih.

Tidak hanya aku, namun keempat kawanku yang datang bersamaku mau tidak mau memandang mereka dengan takjub. Bahkan aku bisa melihat Naruto yang tidak bisa berkata apa-apa.

"S-siapa mereka? S-siapa ketiga wanita yang berada di belakang Sang Pelihat?" tanya Naruto dengan tergagap.

Aku mau menjawab pertanyaannya, namun suara berwibawa seorang wanita terdengar menggema ke seluruh alun-alun. "Naruto Vindbylgja," kata suara itu. "Naiklah ke altar pemujaan."

Aku bisa merasakan kalau Naruto merinding hebat ketika mendengar suara itu. Aku hanya menepuk pundaknya dan berkata, "Naiklah. Siapa tahu ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan kepadamu dan kedua orangtuamu."

Ia mengangguk dan pelan-pelan menaiki tangga menuju altar itu. Aku hanya melihatnya dalam diam sebelum aku mendengar suara bisikan dari Tsume, "Sas, apa kau mengetahui siapa ketiga wanita itu?"

"Aku tidak yakin," bisikku. "Tapi firasatku mengatakan kalau mereka adalah Para Norn."

Aku melihat ke arah Shikaku. "Kau berpikiran sama denganku 'kan?"

Ia mengangguk. "Hanya itu pemikiran logis dari apa yang kita lihat sekarang," jawabnya.

Aku juga menyetujui pendapat Shikaku. Para Norn adalah Pengrajut Takdir dari Sembilan Dunia. Legenda mengatakan bahwa ketiganya melambangkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Semua makhluk menghormati mereka, terlebih Sang Bapa Kesembilan Dunia dan Penguasa Asgard, Odin.

Aku melihat bahwa Naruto sudah sampai di altar pemujaan dan menghadap Sang Pelihat dan Para Norn. Kemudian, aku mendengar salah satu dari Norn itu berkata, "Semua sudah berkumpul."

Kemudian, Para Norn menengadahkan tangan mereka dan kedua puluh empat huruf rune mulai beterbangan di udara. Mulut mereka mulai berbicara dan mengeluarkan suara gabungan dari anak-anak hingga orang tua, pria dan wanita.


.

Menjelang akhir dari Pohon Dunia, Sang Cahaya akan menjelma.

Imbas perbuatan yang tak bijaksana.

Dua saudara melebarkan sayapnya, hingga mencapai pusat dari sembilan dunia.

Janganlah kalian ke barat, Wahai Dua Saudara.

Sang Ular telah mengintai membawa petaka.

Yang terkecil memadamkan cahaya, bawa dunia ke dalam salju abadi.

.


Setelah berkata demikian, ketiga sosok wanita itu perlahan menghilang dan langit kembali cerah. Tidak ada satu pun orang yang bersuara. Semuanya masih terdiam mendengar perkataan Para Norn.

Dan kata-kata dari Sang Pengrajut Takdir menjadi awal dari segala hal yang mempengaruhi takdir Naruto dan saudaranya.


.

To be Continued

.


Halo semuanya, kembali bersama saya FI.Antonio no Emperor. Kali ini saya kembali melanjutkan kisah dari Maelstrom Saga : Dawn and Twilight. Chapter kali ini mengisahkan tentang kelahiran saudara Naruto, yakni Minato. Di fic ini, Naruto dan Sasuke akan berada di angkatan Minato kalau di anime dan manga Naruto.

Kisah seputar kelahiran Minato diliputi oleh sedikit misteri karena kemunculan dua sosok misterius serta kata-kata dari Sang Pengrajut Takdir dari Mitologi Nordik. Untuk chapter depan, akan mengisahkan Naruto dan Minato yang sudah beranjak remaja dan konflik yang akan mereka temui nantinya.

Akhir kata, semoga chapter ini memuaskan kalian, para readers sekalian dan sampai jumpa di chapter selanjutnya.